• Tidak ada hasil yang ditemukan

M ARI K ITA M ENGUNJUNGI T ANJUNG P INANG !

Dalam dokumen KOMPAK. (Komunikasi Pemersatu Antar Kita) (Halaman 39-42)

E

STHER

,D

ENISE DAN

I

CE

Pada pagi hari jam 9, tanggal 28 Februari, kami berkumpul di Terminal Feri Tanah Merah. Siswa-siswa dari kelas BI 3, BI 4 & BI 6 akan pergi ke Pulau Bintan sehari, mengunjungi kota utamanya, kota Tanjung Pinang.

Setelah prosedur-prosedur yang lancar di pabean, kami naik feri selama 2 jam dan sambil itu, kami lewat beberapa pulau yang saling mirip. Cuaca hari itu baik sekali dan juga cerah. Tapi di geladak kapal, angin agak kencang sampai rambut orang yang ke geladak semua berantakan.

Tiba di Pelabuhan Tanjung Pinang (Port Sri Bintan Pura), pemandu wisata kami, Ariyanto, pertama-tama berkata untuk menyimpan paspor dengan hati-hati. Sesudah semua siswa berkumpul, kami menuju ke tempat penitipan mobil naik bis wisata ke Restoran Sangkuriang makan siang.

Kelompok mahasiswa NUS mengisi separuh restoran yang kami datangi. Pelayan di sana ramah dan makanannya bermacam-macam dan enak. Masakan-masakan termasuk sayur tumis, sayur asam, ayam goreng, ikan, cumi-cumi dan tahu. Banyak sekali! Kami makan sampai kenyang. Lalu, kami naik bis wisata lagi ke pabrik tempe.

Sekitar jam 1:30 (jam Indonesia), kami tiba di toko Keripik tempe. Toko tempe itu dibuka sejak 1996. Sekarang, ada 16 orang pekerja bekerja di toko tempe itu. Setiap hari, toko tempe bukanya jam tujuh pagi dan tutupnya jam empat sore kecuali hari minggu. Di toko tempe ada banyak macam-macam tempe seperti keripik bayang, keripik kacang, tempe pisang dan lain-lain lagi. Harga tempenya tidak mahal, kira-kira Rp10,000 sebungkus, lagipula tempenya enak sekali. Oleh karena itu, banyak turis senang membeli tempe sebagai oleh-oleh. Terutama ibu-ibu kelas kami membeli banyak bungkus tempe. Tapi, ingat Ibu, tempe itu tidak sehat karena kolesterolnya tinggi!

Di belakang toko ada sebuah dapur untuk membuat tempe. Toko tempe itu adalah perusahaan keluarga, jadi kebanyakan pekerjanya dari keluarga s Contohnya, Nani dan Tempu, mereka adalah sepupu sudah bekerja di toko tempe itu selama tiga tahun. Menurut mereka, mereka senang bekerja di toko tempe karena pekerjaan di toko tempe tidak sulit. Lagipu mereka tidak perlu membuat tempe sendiri, mereka hanya memotong dan menggoreng saja. Untuk ibu-ibu yang bekerja di sana, mereka senang sebab suka makan tempe.

ama. dan

la,

Bos toko tempe masih muda dan orangnya ramah sekali. Dia bilang, mula-mula perusahaannya susah sekali. Mereka menjual tempe di toko kecil dan tidak laku karena tempenya tebal dan keras. Meskipun perusahaannya susah, dia tidak berputus asa. Jadi dia coba membuat tempe yang lebih enak. Dia memotong tempenya sampai tipis supaya itu lebih lembut dan juga lebih mudah digoreng. Sekarang, tempenya tidak hanya tipis, lembut dan enak tapi juga laku sekali di luar negeri.

Setelah kunjungan pabrik tempe, kami berkunjung ke pabrik bunga plastik, teh dan kecap. Semua pabrik diolah sama satu pemilik pabrik.

Dari kunjungan, kami belajar cara-cara memproduksikan bunga plastik dan membungkus teh dan kecap. Kami juga diberitahu oleh pegawai bagaimana bikin bunga itu yang akan diekspor ke luar negeri ke tempat-tempat seperti Singapura dan Hawaii.

Kami mendapat informasi tentang pabrik dan cara-cara produksi dari wawancara dengan pegawai-pegawai. Kebanyakan yang bekerja di situ adalah wanita karena pekerjaannya tidak berat. Pegawai lelaki yang kerja di situ mengangkuti kardus yang berat. Yang kerja di situ rata-rata masih muda. Salah satu yang kami wawancarai adalah seorang pegawai yang bernama Murima. Umurnya tujuh belas tahun dan menyatakan bahwa dia sudah bekerja di pabrik bunga plastik tiga tahun.

Mereka senang bekerja di pabrik itu karena merasa santai dan tidak bosan, sebab mereka sering berganti tugas setiap bulan. Gaji mereka rata-rata dua ribu empat ratus sehari. Pekerjaan mulai jam delapan pagi sampai jam tiga sore; enam hari seminggu dari

Waktu kami tahu gajinya hanya dua ribu empat ratus sehari, kami merasa kaget. Kok gajinya sedikit sekali? Murima bilang gajinya cukup karena biaya hidup di sana tidak tinggi.

Dari observasi kami, pegawai pabrik selalu mempraktekan ilmu kesehatan. Contohnya adalah pegawai pabrik harus memakai seragam yang bersih. Selain itu, kalau rambutnya panjang, harus diikat.

Setelah mengunjungi pabrik, kami boleh beli barang-barang yang dibikin di pabrik. Kami tidak begitu tertarik pada barang-barang itu jadi tidak belanja banyak. Tempat berikut ini adalah Mal Ramayana.

Mal Ramayana rupanya agak sepi. Barangkali hari itu hari Jum’at, orang-orang masih sedang bekerja. Mal itu luasnya besar dan ada dua lantai. Toko-tokonya banyak – ada yang menjual baju, buku, makanan, tas, VCD, dan lain lain. Dan juga ada arcade, salon, dan sebuah tempat untuk memotret orang! Walaupun barang-barang di mal itu murah, tapi qualitasnya tidak begitu baik. Kebanyakan mahasiswa NUS langsung pergi ke toko buku di sana untuk membeli kamus Bahasa Indonesia. Kalau dibandingkan dengan kamus Bahasa Indonesia yang dijual di Singapura, kamus dijual di mal itu lebih murah dan pilihannya lebih banyak. Kami tinggal di mal itu agak lama – orang Singapura memang senang berbelanja.

Pada jam 6:30, kami berangkat secara buru-buru supaya naik feri terakhir hari itu. Ketika naik feri, langit sudah agak gelap. Malam itu laut berombak besar, membuat kapal laut tergoyang-goyang dan beberapa orang mabuk laut. Akhirnya, waktu kembali ke Terminal Feri Tanah Merah lagi, sudah jam 9 lebih. Semua orang sudah merasa lelah.

Kami merasa senang bisa mengunjungi Tanjung Pinang walaupun perjalanan itu sedikit tergesa-gesa. Tapi, kami masih mengharapkan kesempatan pergi ke tempat yang lain di Indonesia yang indah.

Dalam dokumen KOMPAK. (Komunikasi Pemersatu Antar Kita) (Halaman 39-42)

Dokumen terkait