BAB II TINJAUAN PUSTAKA
YO G YAK ARTA
2. M ekanisme Pemberian Restitu si K epada K orban Tindak Pidana
Pasal 71D ayat (1) U ndang-Undang Perlindungan A nak m enya takan
bahwa setiap anak yang m enjadi korban sebaga im ana dim aksud dalam pasal 59
ayat (2) huruf b, huruf d, huruf f, huruf h, huruf i, dan huruf j berhak m engajukan
ke pengadila n berupa hak atas restitusi yang m enjadi ta nggung jawab pela ku
kejahatan. Pasal 59 yang dim aksud da lam Pasal 71D ayat (1) antara la in: a nak
yang berhadapan dengan hukum (ABH), anak yang dieksploitasi secara
ekonom idan/a tau seksua l, anak yang m enjadi korba n pornografi, anak korban
penculikan, penjualandan/atau perda gangan, anak korba n kekerasan fisik
dan/atau psikis, dan ana k korban keja hatan seksua l. M aka, anak korba n kejaha tan
kekerasan seksual term asuk dalam daftar anak yang berhak m enda patkan ha k atas
restitusi. Kem udian ayat (2) m enyatakan bahwa ketentuan le bih lanjut m engenai
pelaksanaan restitusi sebagaim ana dim aksud pada ayat (1) dia tur dengan
133Hasil wawancara dengan Hariarti Pudyastuti, S.Psi. sebagai Kepala Subbid KHPP Bidang Perlindun gan Hak Perempuan (PHP ) Yogyakarta pada Rabu 07/06/2017
134Hasil wawancara dengan Hariarti Pudyastuti, S.Psi. sebagai Kepala Subbid KHPP Bidang Perlindun gan Hak Perempuan (PHP ) Yogyakarta pada Rabu 07/06/2017
Peraturan Pem erintah, yaitu PP Nom or 44 Tahun 2008 tentang Pem berian
Kom pensasi, Restitusi, dan Bantuan kepada Saksi dan Korban .
a. Pem berian restitusi kepa da korban tindak pidana
Sebelum berlakunya Undang-U ndang tentang perlindungan saksi dan
korban dan peraturan pe laksananya, perm ohona n ganti kerugian oleh korban
tinda k pidana diatur dalam Pasal 98 Kitab Undang -U ndang Hukum Acara
Pidana (KUHAP) yang isinya berbunyi: jika sua tu perbua tan yang m en jadi
dasar dakwaan di dalam suatu pem eriksaan perkara pidana oleh pengadilan
negeri m enim bulkan kerugian ba gi ora ng la in, m aka hakim ketua sidang a tas
perm intaan orang itu dapat m enetapkan untuk m enggabungkan perkar a
gugatan ganti kerugian kepada perkara pida na itu. Perm intaan pengga bungan
perkara diajukan selam bat-lam ba tnya sebelum penuntut um um m engajukan
tuntutan pidana. Apabila penuntut um um tidak hadir, m aka perm intaan
diajukan sebelum hakim m enja tuhkan putusa n. Atas perm intaan
penggabunga n perkara gugatan pada perkara pidana, penga dila n negeri a kan
m enim bang tentang kewenangannya untuk m engadili gugatan tersebut serta
kebenaran dasar gugatan dan hukum an penggantian biaya yang dikeluarkan
oleh piha k yang dirugikan. Apabila tidak diajukan perm ohonan
penggabunga n perkara gugatan pa da perkara pidana, korban a tau keluarga
dapat m engajukan tuntutan ganti kerugia n dalam persidangan terpisah yakni
m elalui gugatan perdata.135
135Hasil wawancara dengan Kejaksaan Tinggi Kota Yogyakarta oleh Tri Ratnawati, S.H. sebagaiJaksa Fungsional di Kejaksaan Tinggi Yogyakarta pada hari Kamis tanggal 27/4/2017
Dalam perkem bangannya m engenai perm ohonan ganti kerugian oleh
korban tindak pidana kem udia n diatur dalam peraturan perundang -undangan
yakni U ndang-Undang Perlindungan Saksi da n Korban serta P P Nom or 44
Tahun 2008. Pasal 20 PP Nom or 44 Ta hun 2008 m enyata kan korban tindak
pidana berhak m em peroleh restitusi. Perm ohonan untuk m em peroleh restitusi
diajukan oleh korban, keluarga, atau kuasanya dengan surat kua sa khusus
kepada pengadilan m elalui Lem baga Perlindungan Saksi dan K orban (LPSK).
Pengajuan perm ohonan restitusi da pat dia jukan se belum atau sete lah pelaku
dinya takan bersala h berdasarkan putusa n pengadilan yang berkekua tan
hukum tetap. Artinya, pe ngajuan restitusi dapat diajukan dalam proses
persidangan atau diluar persidangan.
Dalam PP Nom or 44 Tahun 2008 korban m engajukan perm ohonan
restitusi tida k secara langsung kepada penuntut um um pada saat persida ngan,
m elainkan m elalui LPSK. Korban terlebih dahulu m engajukan perm ohonan
restitusi kepada LPSK yang dibuat secara tertulis sesuai ke tentua n dalam
peraturan perundang-unda ngan. Perm ohonan restitusi sekurang-kurangnya
m em uat identitas pem ohon, uraian tentang tindak pidana, identitas pelaku
tinda k pidana, uraian kerugian yang nyata -nyata diderita, dan bentuk restitusi
yang dim inta.136 Perm ohonan restitusi terse but harus dilam piri ide ntitas korban dan bukti kerugian ya ng diderita da n disahkan pe jabat yang
berwenang, bukti biaya yang dikeluarkan selam a perawatan atau pengoba tan
yang disahkan oleh instansi a tau pihak ya ng m e lakukan perawata n, fotokopi
surat kem atian da lam hal korban m eningga l dunia, surat keterangan
kepolisia n Negara Republik Indonesia yang m enunjukkan pem ohon sebaga i
korban tindak pida na, surat keterangan hubungan ke luarga apabila
perm ohonan dia jukan oleh keluarga dan surat kuasa khusus apabila
perm ohonan restitusi diajukan oleh kuasa korba n atau kuasa keluarga.137
LPSK akan m em eriksa kelengkapan perm ohonan re stitusi, kekurang
lengkapa n perm ohonan akan diberitahukan secara tertulis kepada pem ohon
agar dilengkap i dalam jangka waktu 14 hari sejak tanggal diterim anya
pem beritahuan tersebut.138 Setelah perm ohonan dinyatakan lengkap, LPSK segera m elakukan pem eriksaan substa ntif dengan m em inta keterangan kepada
korban, keluarga, atau kuasanya dan pelaku tindak pidana.139 Hasil pem eriksaan perm ohonan restitusi sela njutnya diteta pkan dengan keputusan
LPSK disertai dengan pertim banga nnya dan rekom enda si untuk m engabulkan
atau m enolak perm ohonan restitusi tersebut.140
1) Pengajuan perm ohonan restitusi ya ng dilakukan da lam proses
persidangan
Pengaturan m engenai pengajuan perm ohonan restitusi yang
dilakukan pada proses persidangan dalam PP Nom or 44 Tahun 2008 tidak
jauh berbeda dengan Pasal 98 KU HAP. Sam a halnya dengan penga turan
137 Pasal 22 ayat (2)Peraturan Pe merintah Nomo r 44 Tahun 2008
138 Pasal 23 ayat (1), (2) dan (3)Peratu ran Pemerintah Nom or 44 Tahun 2008
139 Pasal 24 dan 25 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomo r 44 Tahun 2008
dalam Pasal 98, Pasal 28 PP Nom or 44 Tahun 2008 m engatu r bahwa
perm ohonan restitusi diajukan sebelum pem bacaan tuntu tan oleh Jaksa
Penuntut Um um . LPSK m enyam paikan perm ohonan beserta keputusan
dan pertim ba ngannya kepada penuntut um um . Kem udian penuntut um um
akan m encantum kan perm ohonan restitusi beserta keputu san dan
pertim banga n LPSK di da lam tuntuta nnya. Putusan penga dila n akan
disam paikan kepada LPSK dalam jangka waktu paling lam bat 7 hari
terhitung sejak tanggal putusan, kem udian LPSK akan m enyam pa ikan
salina n putusan kepada korban, keluarga atau kuasanya d an pelaku tindak
pidana dalam jangka waktu paling lam ba t 7 hari sejak tanggal m enerim a
putusan.141
2) Pengajuan perm ohonan restitusi yang dilakukan setela h proses
persidangan
Perm ohonan restitusi yang dilakuka n setelah proses persida ngan
diajukan berdasarka n putusan pengadilan yang te lah m em peroleh kekuatan
hukum tetap da n pelaku tindak pidana dinyataka n bersalah.142 LPSK m enyam paikan perm ohonan restitusi beserta keputusan dan
pertim banga nnya kepa da pengadilan yang berwenang.143 Pengadilan m em eriksa dan m enetapka n perm ohonan restitusi dalam jangka waktu
paling lam bat 30 hari sejak tanggal perm ohonan diterim a.144 Penetapan
141 Pasal 30 Peraturan Pemerintah 44 Tahun 2008
142 Pasal 28 ayat 1Peraturan Pemerintah Nom or 44 Tahun 2008
143 Ibid.
pengadilan tersebut disam paikan kepada LPSK dalam jangka wa ktu paling
lam bat 7 hari sejak tanggal pene tapan, kem udian sa lina nnya akan
disam paikan kepada korban, keluarga atau kuasanya dan kepada pelaku
tinda k pida na paling lam bat 7 hari seja k tanggal diterim anya penetapa n.145 Pelaku tindak pidana da n atau pihak ketiga m elaksanakan
penetapan ata u putusan pengadilan da lam jangka waktu paling lam bat 30
hari terhitung sejak tangga l salinan pene tapan atau putusan pe ngadilan
diterim a.146 Pelaksanaan restitusi dilaporkan kepa da pengadilan dan LPSK.147 Selanjutnya LPSK m em buat berita acara pelaksanaan penetapan pengadilan dan kem udia n akan dium um kan pa da papan peng um um an
pengadilan.148 Apabila pela ku tinda k pida na dan atau pihak ketiga m elam paui jangka waktu 30 hari dalam m elaksanakan pem berian restitusi
kepada korba n, m aka korban, keluarga atau kuasanya dapat m elaporkan
hal tersebut kepa da pengadilan yang m enetapkan perm ohonan restitusi dan
LPSK.149 Kem udian penga dila n akan m em erintahkan ke pada pelaku tinda k pidana dan atau pihak ketiga untuk m elaksa nakan pem berian
restitusi dalam jangka wa ktu pa ling lam bat 14 hari seja k tanggal perintah
diterim a.150 Pem berian restitusi dapat dila kukan secara bertahap. Setiap tahapan pelaksanaan atau keterlam batan pelaksanaan harus dilaporkan
145 Pasal 29 ayat 2 dan 3Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
146 Pasal 31 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomo r 44 Tahun 2008
147 Pasal 31 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomo r 44 Tahun 2008
148 Pasal 31 ayat 3 dan ayat 4 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
149 Pasal 32 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomo r 44 Tahun 2008
korban, keluarga atau kuasanya kepada pe ngadilan yang m eneta pkan
perm ohonan restitusi.151
b. Pem berian Kom pensasi Kepada Korban T inda k Pidana
Pasal 2 ayat (1) PP Nom or 44 Tahun 2008 m enyatakan korban
pelanggaran hak asasi m anusia yang berat berhak m em peroleh kom pensasi.
Perm ohonan untuk m em peroleh kom pensasi diajuka n ole h korba n, keluarga,
atau kuasanya dengan surat kuasa khusus kepada pengadilan m elalui LP SK.
Pengajuan perm ohonan kom pen sasi da pat dilakukan pada saat dilakukan
penyelidikan pela nggaran hak asasi m anusia (HAM ) berat a tau sebe lum
dibacakan tuntutan oleh penuntut um um .
Dalam PP Nom or 44 Tahun 2008 korban m engajukan perm ohonan
kom pensa si tidak secara langsung kepada penuntut um um pada saat
persidangan, m elainkan m elalui LPSK. Korban terlebih dahulu m engajukan
perm ohonan kom pensa si kepa da LPSK yang dibuat secara tertulis sesua i
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. Perm ohonan kom pensasi
sekurang-kurangnya m em uat identita s pem ohon, uraian tentang peristiwa
pelanggaran HAM yang berat, identita s pelaku pelanggaran pelanggaran
HAM yang berat, uraian tentang kerugian yang nyata -nya ta diderita, dan
bentuk kom pensa si yang dim inta.152 Perm ohonan kom pensasi tersebut harus dilam piri fotokopi identita s korban yang disahkan oleh peja bat yang
berwenang dan bukti kerugian yang diderita oleh korban dan keluarga yang
151 Pasal 33 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
diderita dan disahkan pejabat ya ng berwenang , bukti biaya yang dikeluarkan
selam a perawatan atau pengobatan ya ng disahka n oleh instansi a tau pihak
yang m elakukan perawatan, fotokopi surat kem atian dalam hal korban
m eningga l dunia, surat keteranga n Kom isi Nasiona l Hak Asasi M anusia yang
m enunjukkan pem ohon sebagai korban tindak pidana, fotokopi pu tusan
pengadilan H AM dalam hal perkara pe langgaran HAM berat tela h diputuskan
oleh pengadilan yang telah m em peroleh kekuatan hukum tetap, surat
keterangan hubungan keluarga apabila perm ohona n diajukan oleh keluarga
dan surat kuasa khusus apabila perm ohonan kom pensasi dia jukan oleh kuasa
korban atau kuasa keluarga.153 LPSK segera m elakukan pem eriksaan substantif dengan m em inta keterangan kepada korban, keluarga, atau
kuasanya dan pihak lain yang terkait.154 Apabila korban, ke luarga, atau kuasanya tidak hadir m em berikan keterangan dalam waktu 3 (tiga) hari
berturut-turut tanpa alasan yang sah, m aka perm ohonan yang diajukan
dianggap ditarik kem bali kem udian LPSK a kan m em beritahukan kepada
pihak-pihak pem ohon terkait penarikan perm ohona n.155 Hasil pem eriksaan perm ohonan kom pe nsasi selanjutnya diteta pkan denga n keputusan LPSK
diserta i denga n pertim bangannya dan rekom endasi untuk m engabulkan a tau
m enolak perm ohona n kom pensasi tersebut.156 Sam a halnya seperti pem berian restitusi, LPSK turut m enentukan apakah korban tinda k p idana berhak
153 Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
154 Pasal 6 dan 7 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
155 Pasal 8 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
m endapatkan ganti kerugian berupa kom pensa si atau tidak. Apabila
berdasarkan pertim bangannya LPSK m em utuskan untuk m enolak
perm ohonan kom pensa si dari korban tindak pidana m aka perm ohonan
tersebut tidak akan diteruskan ke pengadilan HAM yang be rat.
Tata cara pengajuan perm ohonan kom pensasi dilakukan da lam proses
pengadilan perkara HAM yang berat m enurut PP Nom or 44 Tahun 2008
yakni LPSK m enyam paikan perm ohonan kom pensasi beserta keputusan dan
pertim banga nnya kepada pengadilan HAM , ketentua n tersebut juga berlaku
bagi perm ohonan kom pensa si yang dilakukan setela h keputusan pengadilan
HAM yang berat dan telah m endapatka n kekuatan hukum tetap.157 Apabila LPSK berpendapa t bahwa pem eriksaan perm ohonan kom pensasi perlu
dilakukan bersam a-sam a dengan pokok perkara pelanggaran HAM berat,
m aka perm ohonan disam paikan kepa da Jaksa A gung . Hal ini berarti
perm ohonan kom pensa si dapat dilakukan bersam a an dengan pokok perkara
pelanggaran HAM yang berat atau dilakukan setela h adanya putusan
pengadilan HAM ya ng berat dan telah m endapa tkan ke kuatan hukum tetap.
Salinan surat pe ngantar penyam paian berkas perm ohonan kem udian
disam paikan kepada korban, keluarga, atau kuasanya dan kepada instansi
pem erintah terkait.158 Pengadila n HAM m em eriksa dan m enetapkan perm ohonan kom pensa si dalam jangka waktu paling lam bat 30 hari terhitung
sejak tangga l perm ohonan diterim a , penetapan pengadilan HAM disam paikan
157 Pasal 10 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
kepada LPSK paling lam bat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tangga l penetapan,
kem udian LPSK m enyam pa ikan sa linan penetapan pengadilan kepada
korban, keluarga, atau kuasanya paling lam bat 7 (tujuh) hari sejak tangga l
m enerim a penetapan.159
LPSK m elaksanakan penetapan penga dilan HAM m engenai pem berian
kom pensa si denga n m em buat berita acara pelaksanaan penetapan pengadilan
HAM kepada instansi pem erintah terkait kem udian instansi pem erintah
m elaksanakan pem berian kom pensasi paling lam bat 30 hari sejak berita acara
pelaksanaan diterim a.160 M enyangkut pem biayaan dan perhitungan keua ngan negara, pelaksanaannya dilakukan oleh Departem en Keuangan sete lah
koordinasi denga n instansi pem erintah terka it la innya.161 Pelaksanaan pem berian kom pe nsasi dilaporka n ole h instansi pem erintah terkait kepada
ketua pengadilan HAM , salinan tanda bukti pelaksa naan kem udian
disam paikan kepada korban, keluarga atau kua sanya denga n tem busa n kepada
LPSK dan penuntut um um , lalu setelah pe ngadilan HAM m enerim a tanda
bukti kem udian m engum um kan pela ksanaan pem ber ia n kom pensasi pada
papan pengum um an pengadilan yang bersangkuta n.162 Pem berian kom pensa si dilakukan secara bertahap. Dalam hal terjadi keterlam batan pem berian
kom pensa si pada setiap tahapan pe laksanaan, korban, keluarga, atau kuasa nya
harus m elaporkan kepada penga dila n HAM yang m enetapkan atau
159 Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
160 Pasal 15 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
161 Pasal 15 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008
m em utuskan perm ohonan kom pe nsasi.163 LPSK m enyam paikan kutipan putusan pengadilan H AM kepada instansi pem erintah sesuai dengan am ar
putusan dan pelaksa naan putusa n pengadilan HAM m engenai pem berian
kom pensa si dilakuka n oleh Jaksa Agung sesuai denga n ketentuan perunda ng
-undangan.164
B. Pelaksan aan Pemulihan Anak K orban Tindak Pidana K ejahatan