• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.6 Landasan Teori

1.6.2 Macam Frasa

Ramlan (1983: 124-148) mengklasifikasikan frasa menjadi dua, yaitu berdasarkan distribusi unsurnya dan distribusi kategori frasanya. Dalam kategori frasa, Ramlan juga menjelaskan hubungan makna antarunsur pada frasa. Chaer (2011: 302-303) mengklasifikasikan frasa berdasarkan kedudukan kedua unsur yang membentuknya serta berdasarkan fungsi dan jenisnya. Berdasarkan kedudukan kedua unsur yang membentuknya, frasa diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu frasa setara, frasa bertingkat, dan frasa terpadu. Berdasarkan fungsi dan jenisnya, frasa dibedakan menjadi empat macam, yaitu frasa benda, frasa kerja, frasa sifat, serta frasa depan dan frasa keterangan.

Masih banyak ahli yang mengklasifikasikan frasa dengan cara yang berbeda-beda. Namun, fokus penelitian ini adalah frasa endosentris yang terdiri atas nomina dan adjektiva. Maka peneliti hanya akan mengulas macam frasa berdasarkan distribusi unsur dan kategorinya. Peneliti menggunakan pendapat Ramlan sebagai referensi utama dan melengkapinya dengan pendapat Chaer serta beberapa tambahan penjelasan dari ahli yang lain.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, frasa diklasifikasikan menjadi dua kriteria, yaitu berdasarkan distribusi unsurnya dan distribusi kategorinya. Berdasarkan distribusi unsurnya, frasa dibedakan menjadi dua macam, yaitu frasa eksosentris dan endosentris. Berdasarkan kategorinya, frasa dibedakan menjadi enam macam, yaitu frasa nominal (benda), frasa verbal (kerja), frasa bilangan (numeral), frasa keterangan (adverbial), frasa kata depan (preposisional), dan frasa adjektival (sifat). Berikut adalah pemaparan mengenai macam frasa berdasarkan kedua kriteria tersebut.

1.6.2.1 Berdasarkan Distribusi Unsurnya

Berdasarkan distribusi unsurnya, frasa dibedakan menjadi dua macam, yaitu frasa eksosentris dan frasa endosentris. Dalam penelitian ini, peneliti akan lebih fokus dalam menjelaskan frasa endosentris.

1.6.2.1.1 Frasa Eksosentris

Menurut Ramlan (1983: 125), frasa eksosentris merupakan frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Menurut Arifin dan Junaiyah (2009: 19), frasa eksosentris merupakan frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua

komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi. Frasa eksosentris memiliki dua komponen yaitu berperangkai preposisi partikel dan bersumbu. Frasa yang memiliki komponen berpartikel preposisi partikel disebut frasa preposisional atau frasa eksosentris direktif. Sementara itu frasa yang berperangkai lain disebut frasa eksosentris nondirektif (Arifin dan Junaiyah, 2009: 19).

1.6.2.1.2 Frasa Endosentris

Ramlan (1983: 125) mengungkapkan bahwa frasa endosentris merupakan frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua maupun salah satu dari unsurnya. Menurut Arifin dan Junaiyah (2009: 20-21), frasa endosentris merupakan frasa yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya. Frasa tiga orang mahasiswa dalam klausa tiga orang mahasiswa sedang menulis puisi baru di kelas mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik dengan unsur tiga orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Berikut adalah jajaran persamaan distribusi tersebut.

(3) tiga orang mahasiswa sedang menulis puisi baru di kelas (3a) tiga orang sedang menulis puisi baru di kelas (3b) mahasiswa sedang menulis puisi baru di kelas (4) tiga orang mahasiswa sedang menulis puisi baru di kelas (4a) tiga orang mahasiswa menulis puisi baru di kelas (5) tiga orang mahasiswa sedang menulis puisi baru di kelas (5a) tiga orang mahasiswa sedang menulis puisi di kelas

Begitu juga frasa sedang menulis memiliki distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu unsur menulis. Selain itu, frasa puisi baru memiliki persamaan

distribusi dengan unsurnya, yaitu puisi. Maka, dapat dikatakan bahwa unsur yang menjadi pusat tidak dapat dihilangkan, tetapi unsur yang menjadi penjelas dapat dihilangkan.

Ramlan (1983: 125-128) membedakan frasa endosentris menjadi tiga macam, yaitu frasa endosentris yang koordinatif, frasa endosentris yang atributif, dan frasa endosentris yang apositif.

a. Frasa Endosentris yang Koordinatif

Menurut Ramlan (1983: 126), frasa endosentris yang koordinatif terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraan tersebut dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur tersebut dihubungkan dengan kata penghubung atau konjungsi dan atau atau.

Contoh:

(6) suami istri (7) ayah ibu (8) kakak adik (9) empat lima (hari)

(10) pembinaan dan pengembangan (11) belajar atau bekerja

(12) tinggi atau rendah

Frasa tersebut biasa disebut frasa berinduk jamak karena mempunyai unsur pusat (UP) lebih dari satu. Misalnya, pada contoh (10) pembinaan dan pengembangan, kedua kata tersebut merupakan unsur pusat (UP).

Menurut Arifin dan Junaiyah (2009: 25), frasa endosentris yang koordinatif merupakan frasa endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel, seperti dan, ke, tetapi, ataupun konjungsi korelatif, seperti baik … maupun dan makin … makin. Kategori frasa yang koordinatif sesuai dengan kategori komponennya.

Contoh:

(13) kaya atau miskin, kaya ataupun miskin, kaya dan miskin; dari, untuk, dan oleh rakyat; untuk dan atas nama klien; pintar tetapi congkak (14) baik hitam maupun putih, entah suka atau tidak (suka), makin pagi

makin baik, makin tua makin bermutu

Berdasarkan contoh di atas, kata yang dapat digabungkan hanya kata yang berkategori sama, seperti hitam-putih, tua-bermutu, suka-(tidak) suka, dan pagi-baik. Jika tidak menggunakan partikel, gabungan tersebut dinamakan frasa parataktis, seperti tua muda, besar kecil, hilir mudik, keluar masuk, pulang pergi, naik turun, makan minum, ibu bapak, dan kaya miskin.

b. Frasa Endosentris yang Atributif

Menurut Ramlan (1983: 126), frasa endosentris yang atributif terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Oleh karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung atau konjungsi dan atau atau.

Contoh:

(15) pelatihan satu bulan (16) sekolah swasta (17) baju baru (18) halaman luas (19) buku itu

(20) pagi ini

(21) sedang membaca (22) sangat bahagia

Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa tersebut merupakan unsur pusat (UP), yaitu unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frasa serta secara semantik merupakan unsur yang terpenting, sedangkan unsur yang lainnya merupakan atribut (Atr). Frasa endosentris yang atributif biasa disebut frasa berinduk tunggal karena hanya memiliki satu unsur pusat (UP). Misalnya, pada contoh (17) baju baru, yang menjadi unsur pusat (UP) hanya kata baju.

c. Frasa Endosentris yang Apositif

Menurut Ramlan (1983: 127), frasa endosentris yang apositif memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan frasa endosentris yang koordinatif maupun frasa endosentris yang atributif. Misalnya, pada frasa Adi, anak Pak Wahyu unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu, yaitu unsur anak Pak Wahyu, sama dengan unsur lainnya, yaitu sama dengan unsur Adi. Oleh karena itu, unsur anak Pak Wahyu dapat menggantikan unsur Adi. Berikut adalah penjabarannya.

(23) Adi, anak Pak Wahyu, sedang membaca (23a) Adi, sedang membaca (23b) anak Pak Wahyu sedang membaca

Unsur Adi merupakan UP, sedangkan unsur anak Pak Wahyu merupakan aposisi (Ap). Berikut adalah beberapa contoh lain dari frasa endosentris yang apositif.

Contoh:

(24) Bali, pulau dewata (25) Indonesia, tanah airku (26) Bapak Jokowi, Presiden RI 1.6.2.2 Berdasarkan Kategorinya

Berdasarkan distribusi kategorinya, frasa dibedakan menjadi enam macam, yaitu frasa nominal, frasa verbal, frasa bilangan, frasa keterangan, frasa depan, dan frasa adjektival. Dalam penelitian ini, peneliti hanya akan menjelaskan mengenai frasa nominal dan frasa adjektival.

1.6.2.2.1 Frasa Nominal

Menurut Ramlan (1983: 128), frasa nominal adalah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nomina. Persamaan distribusi tersebut dapat diketahui melalui jajaran berikut ini.

(27) ia membeli buku baru (27a) ia membeli buku

Frasa buku baru dalam klausa di atas memiliki distribusi yang sama dengan kata buku. Kata buku termasuk kategori kata nomina. Oleh karena itu, frasa buku baru termasuk kategori frasa nominal. Berikut adalah contoh lain dari frasa nominal.

Contoh:

(28) mahasiswa baru (29) gedung perpustakaan

(30) murid yang cantik (31) kapal terbang itu (32) jalan tol ini (33) yang akan datang

Ramlan (1983: 129-133) pun menambahkan secara kategori frasa nominal terdiri dari 12 macam kategori.

a. Struktur N diikuti N

Frasa tersebut terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP dan diikuti dengan kata atau frasa nominal sebagai UP atau Atr. Jadi, semua unsur berupa kata atau frasa nominal. Berikut adalah contohnya.

Contoh: (34) gedung perpustakaan (35) rumah pekarangan (36) kalung emas (37) adik saya (38) orang itu (39) pabrik roti

Frasa (34) gedung perpustakaan dan (35) rumah pekarangan terdiri dari kata nomina semua, yaitu kata gedung dan rumah sebagai UP, diikuti kata perpustakaan dan pekarangan sebagai UP juga. Sementara itu frasa lainnya terdiri dari kata nomina, yaitu kata kalung, adik, orang, dan pabrik sebagai UP, diikuti kata nomina, yaitu kata emas, saya, itu, dan roti sebagai Atr.

b. Struktur N diikuti V

Frasa tersebut terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP dan diikuti dengan kata atau frasa verbal sebagai Atr. Berikut adalah contohnya.

Contoh:

(40) meja belajar (41) kamar mandi (42) orang berkacamata (43) selamat datang

Frasa (40) meja belajar, (41) kamar mandi, (42) orang berkacamata, dan (43) selamat datang terdiri dari kata nomina dan kata verba, yaitu kata meja, kamar, orang, dan selamat (nomina) sebagai UP, diikuti kata belajar, mandi, berkacamata, dan datang (verba) sebagai Atr.

c. Struktur N diikuti Bil

Frasa tersebut terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP dan diikuti dengan kata atau frasa bilangan sebagai Atr. Berikut adalah contohnya.

Contoh: (44) buku dua

(45) mahasiswa lima orang (46) telur dua butir

(47) sawah sepuluh petak (48) ayam tiga ekor

Frasa (44) buku dua terdiri dari kata nomina dan kata bilangan, yaitu kata buku (nomina) sebagai UP, diikuti kata dua (bilangan) sebagai Atr. Sementara itu

frasa (45) mahasiswa lima orang, (46) telur dua butir, (47) sawah sepuluh petak, dan (48) ayam tiga ekor terdiri dari kata nomina dan frasa verbal, yaitu kata mahasiswa, telur, sawah, dan ayam (nomina) sebagai UP, diikuti kata lima orang, dua butir, sepuluh petak, dan tiga ekor (bilangan) sebagai Atr.

d. Struktur N diikuti K

Frasa tersebut terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP dan diikuti dengan kata atau frasa keterangan sebagai Atr. Berikut adalah contohnya.

Contoh:

(49) makanan tadi pagi (50) materi hari ini

Frasa (49) makanan tadi pagi dan (50) materi hari ini terdiri dari kata nomina dan frasa keterangan, yaitu kata makanan dan materi (nomina) sebagai UP, diikuti frasa tadi pagi dan hari ini (keterangan) sebagai Atr.

e. Struktur N diikuti FD

Frasa tersebut terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP dan diikuti dengan kata atau frasa depan sebagai Atr. Berikut adalah contohnya.

Contoh:

(51) lurik dari Klaten (52) boneka untuk adik

(53) penilaian terhadap masalah ini (54) pelatihan kepada karyawan (55) kereta api ke Jakarta

Frasa (51) lurik dari Klaten, (52) boneka untuk adik, (53) penilaian terhadap masalah ini, dan (54) pelatihan kepada karyawan terdiri dari kata nomina dan frasa depan, yaitu kata lurik, boneka, penilaian, dan pelatihan (nomina) sebagai UP, diikuti frasa dari Klaten, untuk adik, terhadap masalah ini, dan kepada karyawan (frasa depan) sebagai Atr. Sementara itu frasa (55) kereta api ke Jakarta terdiri dari frasa nominal dan frasa depan, yaitu frasa kereta api (nominal) sebagai UP, diikuti frasa ke Jakarta (frasa depan) sebagai Atr.

f. Struktur N didahului Bil

Frasa tersebut terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP dan didahului oleh kata atau frasa bilangan sebagai Atr. Berikut adalah contohnya.

Contoh:

(56) dua baju baru

(57) tiga ekor anak kucing (58) lima buah pisang (59) sepuluh siswa

Frasa (56) dua baju baru terdiri dari frasa nominal dan kata bilangan, yaitu frasa baju baru (nominal) sebagai UP, didahului kata dua (bilangan) sebagai Atr. Frasa (57) tiga ekor anak kucing terdiri dari frasa nominal dan frasa bilangan, yaitu frasa anak kucing (nominal) sebagai UP, didahului frasa tiga ekor (bilangan) sebagai Atr. Frasa (58) lima buah pisang terdiri dari kata nomina dan frasa bilangan, yaitu kata pisang (nomina) sebagai UP, didahului frasa lima buah (bilangan) sebagai Atr. Sementara itu frasa (59) sepuluh siswa terdiri dari kata

nomina dan kata bilangan, yaitu kata siswa (nomina) sebagai UP, didahului kata sepuluh (bilangan) sebagai Atr.

g. Struktur N didahului Sd

Frasa tersebut terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP dan didahului oleh kata sandang sebagai Atr. Berikut adalah contohnya.

Contoh: (60) si Ali (61) sang kancil

Frasa (60) si Ali dan (61) sang kancil terdiri dari kata nomina dan kata kata sandang, yaitu kata Ali dan kancil (nomina) sebagai UP, didahului kata si dan sang (kata sandang) sebagai Atr.

h. Struktur Yang diikuti N

Frasa tersebut terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti dengan kata atau frasa nominal sebagai petanda atau aksisnya. Berikut adalah contohnya.

Contoh: (62) yang ini (63) yang itu

Frasa (62) yang ini dan (63) yang itu terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti kata ini dan itu (nomina) sebagai petanda atau aksisnya. i. Struktur Yang diikuti V

Frasa tersebut terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti dengan kata atau frasa verbal sebagai petanda atau aksisnya. Berikut adalah contohnya.

Contoh:

(64) yang akan pergi

(65) yang sangat menyedihkan (66) yang bertopi

Frasa (64) yang akan pergi dan (65) yang sangat menyedihkan terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti frasa akan pergi dan sangat menyedihkan (verbal) sebagai petanda atau aksisnya. Sementara itu frasa (66) yang bertopi terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti kata bertopi (verba) sebagai petanda atau aksisnya.

j. Struktur Yang diikuti Bil

Frasa tersebut terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti dengan kata atau frasa bilangan sebagai petanda atau aksisnya. Berikut adalah contohnya.

Contoh: (67) yang tiga (68) yang lima buah (69) yang tujuh biji

Frasa (67) yang tiga terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti kata tiga (bilangan) sebagai petanda atau aksisnya. Sementara itu frasa (68) yang lima buah dan (69) yang tujuh biji terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti frasa lima buah dan tujuh biji (bilangan) sebagai petanda atau aksisnya.

k. Struktur Yang diikuti K

Frasa tersebut terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diiikuti dengan kata atau frasa keterangan sebagai petanda atau aksisnya. Berikut adalah contohnya.

Contoh:

(70) yang tadi pagi (71) yang kemarin siang (72) yang minggu lalu

Frasa (70) yang tadi pagi, (71) yang kemarin siang, dan (72) yang minggu lalu terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti frasa tadi pagi, kemarin siang, dan minggu lalu (keterangan) sebagai petanda atau aksisnya.

l. Struktur Yang diikuti FD

Frasa tersebut terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti kata atau frasa depan sebagai petanda atau aksisnya. Berikut adalah contohnya.

Contoh:

(73) yang dari Yogyakarta (74) yang ke Surabaya (75) yang untuk kakak

Frasa (73) yang dari Yogyakarta, (74) yang ke Surabaya, dan (75) yang untuk kakak terdiri dari kata yang sebagai penanda dan diikuti frasa dari Yogyakarta, ke Surabaya, dan untuk kakak (frasa depan) sebagai petanda atau aksisnya.

Chaer (2011: 307) pun menambahkan bahwa frasa nominal memiliki struktur N + A, yaitu kata atau frasa nominal diikuti dengan kata atau frasa adjektival (sifat). Contohnya adalah sepatu kotor, buku baru, radio rusak, dan air panas.

1.6.2.2.2 Frasa Adjektival

Menurut Chaer (2011: 321-322), frasa adjektival merupakan frasa yang biasa menjadi unsur predikat di dalam kalimat dan memiliki dua macam struktur, yaitu M-D dan D-M.

a. Frasa Adjektival Berstruktur M-D

Frasa tersebut dibentuk dari dua buah unsur. Unsur pertama (M) adalah kata keterangan derajat dan unsur kedua (D) adalah kata sifat. Berikut adalah contohnya. Contoh: (76) sangat cantik (77) paling baik (78) lebih tinggi (79) cukup ringan (80) kurang cepat

Frasa (76) sangat cantik, (77) paling baik, (78) lebih tinggi, (79) cukup ringan, dan (80) kurang cepat dibentuk dari dua unsur, yaitu kata sangat, paling, lebih, cukup, dan kurang (keterangan derajat) sebagai M dan kata cantik, baik, tinggi, ringan, dan cepat (adjektiva) sebagai D.

b. Frasa Adjektival Berstruktur D-M

Frasa tersebut dibentuk dari dua buah unsur. Unsur pertama (D) adalah kata sifat dan unsur kedua (M) adalah (i) kata keterangan derajat sekali dan (ii) kata benda tertentu yang makna gramatikalnya adalah menyatakan ‘perbandingan’. Berikut adalah contohnya.

Contoh: (81) besar sekali (82) pintar sekali (83) bagus sekali (84) merah jambu (85) kuning gading (86) hijau daun (87) biru laut (88) merah darah

Frasa (81) besar sekali, (82) pintar sekali, dan (83) bagus sekali dibentuk dari dua unsur, yaitu kata besar, pintar, dan bagus (adjektiva) sebagai D dan kata sekali (keterangan derajat) sebagai M. Sementara itu frasa (84) merah jambu, (85) kuning gading, (86) hijau daun, (87) biru laut, dan (88) merah darah dibentuk dari dua unsur, yaitu kata merah, kuning, hijau, dan biru (adjektiva) sebagai D dan kata jambu, gading, daun, laut, dan darah yang merupakan kata benda yang menyatakan ‘perbandingan’ sebagai M.

Chaer (dalam Kelen 2017: 40-42) pun menyatakan bahwa frasa adjektival memiliki beberapa penyusunan dan perluasan.

a. Penyusunan Frasa Adjektival Koordinatif (FAK)

Frasa adjektival koordinatif dapat disusun dari dua buah kata berkategori adjektival. Berikut adalah contohnya.

Contoh:

(89) baik buruk (90) tua muda (91) jauh dekat (92) lama baru

Frasa (89) baik buruk, (90) tua muda, (91) jauh dekat, dan (92) lama baru mempunyai makna gramatikal ‘pilihan’ sehingga di antara kedua kata tersebut dapat disisipkan kata atau sehingga menjadi baik (atau) buruk, tua (atau) muda, jauh (atau) dekat, dan lama (atau) baru.

Selain itu, terdapat juga frasa adjektival koordinatif yang mempunyai makna gramatikal ‘sangat’. Berikut adalah contohnya.

Contoh: (93) tua renta (94) gelap gulita (95) cantik molek (96) muda belia (97) segar bugar

Frasa (93) tua renta, (94) gelap gulita, (95) cantik molek, (96) muda belia, dan (97) segar bugar mempunyai makna gramatikal ‘sangat’. Kata renta, gulita,

molek, belia, dan bugar mempunyai makna gramatikal ‘sangat’ terhadap kata tua, gelap, cantik, muda, dan segar.

b. Penyusunan Frasa Adjektival Subordinatif (FAS)

Frasa adjektival subordinatif dapat disusun dari adjektival diikuti dengan nominal, adjektival diikuti dengan adjektival, adverbial diikuti dengan adjektival, dan adjektival diikuti adverbial. Berikut adalah penjelasan dan contohnya.

(i) FAS berstruktur A + N yang bermakna gramatikal ‘seperti’ dapat disusun apabila unsur pertama adalah kategori adjektival dan berkomponen makna (+ warna), sedangkan unsur kedua adalah kategori nominal dan berkomponen makna (+ perbandingan). Misalnya, kuning emas, biru langit, putih tulang.

(ii) FAS berstruktur A + A yang bermakna gramatikal ‘jenis warna’ dapat disusun apabila unsur pertama adalah kategori adjektival dan berkomponen makna (+ warna), sedangkan unsur kedua adalah kategori adjektival dan berkomponen makna (+ cahaya). Misalnya, putih kelabu, merah terang, coklat tua.

(iii)FAS berstruktur A + A yang bermakna gramatikal ‘untuk’ dapat disusun apabila unsur pertama adalah kategori adjektival dan berkomponen makna (+ sikap batin), sedangkan unsur kedua adalah kategori verbal dan berkomponen makna (+ tindakan). Misalnya, takut pergi, berani pulang, malu berpendapat.

(iv) FAS berstruktur Adv + A yang bermakna gramatikal ‘derajat’ dapat disusun apabila unsur pertama adalah kategori adverbia dan

berkomponen makna (+ derajat), sedangkan unsur kedua adalah kategori adjektival dan berkomponen makna (+ keadaan). Misalnya, sangat bagus, lebih pandai, cukup indah.

(v) FAS berstruktur A + Adv yang bermakna gramatikal ‘sangat’ dapat disusun apabila unsur pertama adalah kategori adjektival dan berkomponen makna (+ keadaan), sedangkan unsur kedua adalah kategori adverbial dan berkomponen makna (+ paling) dalam bentuk kata sekali. Misalnya, bagus sekali, biru sekali, muda sekali.

c. Perluasan Frasa Adjektival

Frasa adjektival dapat diperluas sesuai kebutuhan, terutama dengan cara menambah konsep makna di sebelah kiri unsur pusat frasa. Misalnya, sudah lama sekali, tidak biru muda, sudah sangat rapi sekali, lebih tebal lagi, tidak hanya pintar.

Sukini (dalam Kelen 2017: 42) pun menjelaskan bahwa frasa adjektival adalah frasa yang mempunyai distribusi sama dengan kata adjektiva. Frasa tersebut terdiri atas induk yang berkategori adjektiva dan modifikator berkategori apa pun yang secara keseluruhannya berperilaku sebagai adjektiva. Berikut adalah contoh frasa adjektival.

Contoh:

(98) sangat cermat (99) tidak mampu (100) amat besar (101) indah nian

Frasa (98) sangat cermat, (99) tidak mampu, (100) amat besar, dan (101) indah nian terdiri atas kata cermat, mampu, besar, dan indah sebagai induk yang berkategori adjektiva dan kata sangat, tidak, amat, dan nian sebagai modifikator yang secara keseluruhannya berperilaku sebagai adjektiva.

Dokumen terkait