• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5. Macam-Macam Buku Untuk Dibaca Siswa

5. Macam-Macam Buku Untuk Dibaca Siswa

kecil menuturkan kisah, biasanya mereka mengabaikan kebenarannya.

Baginya, yang penting adalah urutan cerita. Mereka mengarang atau membesar-besarkan sesuatu dalam bukan karena berbohong, namun karena mereka ingin membuat urutan cerita selogis mungkin.

Mekanisme kerja memori manusia terstrukturkan dengan urutan dalam kisah. Singkatnya, kisah yang dituturkan atau didengarkan oleh siswa membantu mereka untuk mengingat konten dalam cerita. Dalam ranah budaya di manapun di dunia, kisah adalah bentuk komunikasi manusia yang paling purba. Bahkan bercerita adalah metode pengajaran paling tua dalam sejarah manusia. Berpikir dalam struktur kisah merupakan salah satu keterampilan berpikir dengan bahasa (verbal reasoning) yang penting. (Sofie Dewayani, 2017:72)

a. Buku Fiksi dengan Genre Realistik

Cerita fiksi realistik adalah genre yang paling banyak ditulis dalam bacaan anak dan remaja. Buku fiksi realistik meliputi cerita dengan latar komtemporer atau masa kini dan setting masa lalu atau sejarah dengan tokoh anak yang umumnya berusia sama dengan pembaca sasaran. Buku fiksi realistik lazim digunakan untuk mengajarkan nilai moral karena menggambarkan pergulatan seorang tokoh dalam mengalami masalah yang dihadapinya dalam keseharian. Kisah ini mewakili permasalahan atau pengalaman sehari-hari pembaca sasaran, dari usia dini hingga remaja. Kualitas buku fiksi realistik terletak pada kekuatan karakter tokoh cerita. (Sofie Dewayani, 2017:73-76)

b. Buku Fantasi

Cerita fantasi mengembangkan imajinasi siswa. Cerita fantasi dapat disampaikan melalui tradisi lisan (fantasi tradisional), maupun melalui budaya tertulis. Cerita fantasi yang ditulis pada era budaya tertulis lazim disebut cerita fantasi modern. Elemen pada cerita fantasi modern ini pun beradaptasi dengan budaya sastra anak komtemporer. Mengingat elemen cerita yang bersifat imajinatif, sub genre dalam genre cerita fantasi perlu disesuaikan dengan daya nalar pembaca sasaran. Semua sub

genre fantasi berikut diurutkan dari jenjang pembaca dini hingga pembaca mahir. (Sofie Dewayani, 2017:76)

c. Cerita Fantasi Tradisional

Cerita fantasi tradisional yang dikenal dengan istilah cerita rakyat atau folktale menjadi pintu untuk memahami nilai budaya masyarakat pada suatu tempat dan suatu waktu. Cerita rakyat menjadi pintu yang menghubungkan pembaca belia dengan nilai budaya atau kepercayaan terkait sikap dan norma tertentu, asal usul suatu tempat, pengetahuan terkait flora dan fauna endemik di suatu daerah, juga relasi sosial dalam masyarakat. Karenanya, cerita rakyat adalah aset budaya yang berperan penting dalam meningkatkan kecakapan literasi budaya siswa. Untuk dapat dimanfaatkan secara efektif, cerita rakyat perlu disesuaikan dengan konteks sosial, perkembangan psikologis, serta daya nalar pembaca dini hingga pembaca mahir. (Sofie Dewayani, 2017:76)

d. Dongeng Fabel Klasik dan Cerita Jenaka

Dongeng fabel adalah cerita bertokoh binatang yang awalnya diceritakan dari mulut ke mulut. Setiap budaya biasanya memiliki dongeng fabel dengan tokoh-tokoh binatang endemik khas daerah tersebut yang berpikir, berbicara, dan berperilaku seperti manusia. Sedangkan cerita jenaka adalah cerita yang menapilkan figur populer di suatu tempat.

Dongeng fabel dan cerita jenaka merupakan media yang tepat untuk mengajarkan nilai moral kepada siswa berusia dini dan siswa SD kelas rendah. ((Sofie Dewayani, 2017:76-77)

e. Dongeng Tradisional Lain

Selain fabel, cerita rakyat dapat berjenis legenda (cerita terkait asal usul suatu daerah, seperti kisah Danau Toba), mitos (cerita terkait dewa, dewi, bidadari seperti Jaka Tarub), dan sage (cerita kepahlawanan, seperti si Pitung). Sebagai cerita yang awalnya dituturkan secara lisan, cerita-cerita seperti ini memadukan unsur fakta sejarah dan fiksi sehingga keduanya berkelindan dan sulit untuk dipisahkan. Cerita-cerita seperti ini

merupakan media yang baik untuk mengenal nilai-nilai kearifan lokal dan perilaku masyarakat budaya tertentu. (Sofie Dewayani, 2017:77)

f. Cerita Fantasi Modern

Cerita fantasi modern dipisahkan dari cerita rakyat tradisional karena proses penulisannya telah melibatkan elemen intrinsik (penokohan, alur cerita, dan penyesuaian konflik dalam cerita) yang lebih kompleks. Dalam genre ini, karakter cerita dituturkan dengan lebih kaya (mereka memiliki kelemahan dan kelebihan, serta motivasi untuk perbuatan baik atau buruk mereka). Alur cerita dikembangkan berdasarkan tujuan dan motivasi, serta berdasarkan sikap yang diambil tokoh cerita dalam menyelesaikan masalahnya. Nilai moral dalam cerita pun disampaikan secara lebih tersamar dan tidak menggurui. (Sofie Dewayani, 2017:78)

g. Dongeng Fabel Modern

Dongeng fabel modern biasanya menyampaikan nilai moral dengan cara yang tidak menggurui. Dongeng fabel ini menampilkan tokoh-tokoh binatang yang antromorfik, mereka berpikir, berbicara, dan bersikap layaknya manusia modern, khususnya anak-anak pembaca sasaran. Dalam dongeng fabel modern, para tokoh binatang menghadapi masalah layaknya pembaca sasaran, mereka cemas di hari pertama sekolah, takut kegelapan, belajar naik sepeda, dan menyelesaikan ploblem dalam relasi pertemanan. Cerita fabel modern akan selalu ditulis karena anak-anak selalu menyukai tokoh-tokoh binatang. (Sofie Dewayani, 2017:78-79) h. Dongeng Peri

Fairytales merupakan dongeng dari dunia imajiner yang menampilkan raja, ratu, peri, putri yang cantik, pangeran tampan, serta makhluk negeri dongeng lain seperti kurcaci, naga dan monster.

Menampilkan latar Negara-negara empat musim di dunia Barat, dongeng peri awalnya dikenal melalui karya-karya terjemahan. Saat ini, kisah berlatar kerajaan dan makhluk dongeng telah diadaptasi oleh penulis-penulis Indonesia. Cerita-cerita dongeng selalu digemari oleh pembaca

berusia dini karena membawa mereka ke dunia imajinasi tanpa batas.

(Sofie Dewayani, 2017:80) i. Cerita Horor/Urban Legend

Secara alamiah, manusia menyukai cerita horror atau mistis.

Buktinya, hampir setiap budaya di penjuru dunia memiliki sosok hantu atau figur misterius yang dituturkan dan dikemas dalam keyakinan budaya tertentu. Membaca atau mendengarkan cerita horor memberikan sensasi yang memicu adrenalin. Hal ini menjelaskan alasan cerita horor bertahan dan menjadi salah satu cerita yang purba. Awalnya ia dituturkan dalam budaya lisan, kini menjadi bagian dari budaya populer, terbukti dari banyaknya film-film horor yang menjadi box office. (Sofie Dewayani, 2017:81-82)

i. Fantasi Petualangan dan Sains

Genre fantasi petualangan mulai populer dengan keberhasilan serial Harry Potter yang mendunia. Buku fantasi sains biasanya mengisahkan penggunaan teknologi tertentu yang memungkinkan tokoh cerita berkelana di masa lalu atau masa depan. Terkadang, tokoh cerita berinteraksi dengan makhluk luar angkasa seperti alien. Genre ini memiliki penggemar yang tak sedikit meskipun jarang digarap oleh penulis-penulis Indonesia. Tingkat kesulitan yang tinggi dan penguasaan penulis terhadap materi sains teknologi menjadi tantangan pada penulisan genre ini. (Sofie Dewayani, 2017:82-83)

j. Buku Nonfiksi Informasi/Sains

Buku nonfiksi informasi merupakan pendukung yang baik bagi pembelajaran. Buku pengayaan nonfiksi mentransisikan anak dari teks fiksi yang dibaca anak untuk kesenangan (reading for pleasure) ke buku dengan teks panjang yang bersifat akademik (buku pelajaran). Sebagai media transisi, buku nonfiksi perlu memiliki elemen visual untuk mempertahankan minat baca anak. (Sofie Dewayani, 2017:84)

k. Buku Nonfiksi Biografi

Buku nonfiksi biografi mendekatkan anak dengan figur-figur dalam sejarah yang perlu mereka teladani. Kisah kehidupan tokoh-tokoh sejarah memberikan inspirasi bagi anak-anak dan karenanya perlu dipilih secara teliti. Dua pertimbangan dalam memilih buku nonfiksi biografi meliputi cara penyampaian informasi sejarah secara menarik dan akurasi konten informasi terkait tokoh sejarah. (Sofie Dewayani, 2017:85)

Dokumen terkait