TINJAUAN UMUM TENTANG WALI HAKIM DALAM PERKAWINAN
A. Pengertian Perwalian
5. Macam-macam wali dalam pernikahan
Wali dalam sebuah pernikahan adalah pengasuh pengampuh perempuan dalam waktu menikah (yaitu yang melakukan janji nikah dengan pengantin laki-laki). Orang yang berhak menikahkan seorang perempuan adalah wali yang bersangkutan, apabila wali yang bersangkutan sanggup bertindak sebagai wali. Namun, adakalah nya wali tidak hadir atau karena sesuatu sebab ia tidak dapat bertindak sebagai wali, maka hak kewaliannya berpindah ke orang lain.
Wali ditunjukkan bedasarkan skala prioritas secara tertib dimulai dari orang yang paling berhak, yaitu mereka yang paling akrab, lebih kuat hubungannya.3
Secara sederhana urutan wali nasab dapat diurutkan sebagai berikut: 1. Ayah kandung,
2. Kakek (dari garis ayah) dan seterusnya ke atas dalm garis laki-laki, 3. Saudara laki-laki sekandung,
4. Saudara laki-laki seayah,
5. Anak laki-laki saudara laki-laki saudara sekandung 6. Anak laki-laki saudara laki-laki seayah
7. Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki sekandung, 8. Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki seayah, 9. Saudara laki-laki ayah sekandung (paman),
10. Saudara laki-laki ayah seayah (paman seayah), 11. Anak laki-laki paman sekandung,
12. Anak laki-laki paman seayah, 13. Saudara laki-laki kakek sekandung,
14. Anak laki-laki saudara laki-laki kakek sekandung, 15. Anak laki-lakisaudara laki-laki kakek seayah. 16. wali hakim
Wali nikah ada 5 macam, yaitu wali nasab, wali hakim, wali tahkim, wali
maula, dan wali mujbir atau wali adhal. Pengertiannya ialah sebagai berikut :
a. Wali nasab
Wali nasab adalah wali nikah karena ada hubungan nasab dengan wanita yang akan melangsungkan pernikahan. Tentang urutan wali nasab terdapat perbedaan pendapat ulama fikih. Imam malik mengatakan bahwa perwalian itu didasarkan atas ashabah, kecuali anak laki-laki dan keluarga terdekat lebih berhak untuk menjadi wali.
Selanjutnya, ia mengatakan anak laki-laki sampai kebawah lebih utama, kemudian ayah keatas, kemudian saudara laki-laki seayah seibu, kemudian saudara lelaki seayah saja, kemudian anak laki-laki dari saudara-saudara lealaki saja, kemudian anak lelaki dari saudara lelaki seayah saja, kemudian kakek dari pihak ayah, sampai keatas.
Wali nasab dibagi menjadi dua wali aqrab (dekat) dan wali ab’ad (jauh). Dalam urutan di atas yang termasuk wali aqrab adalah urutan nomor 1, sedangkan nomor 2 menjadi wali ab’ad. Jika nomor 1 tidak ada, maka nomor 2 menjadi wali aqrab dan nomor 3 menjadi wali ab’ad dan seterusnya.
Adapun perpindahan wali aqrab kepada wali ab’ad adalah sebagai berikut:
1. Apabila wali aqrabnya nonmuslim, 2. Apabila wali aqrabnya fasik,
3. Apabila wali aqrabnya belum dewasa, 4. Apabila wali aqrabnya gila,
5. Apabila wali aqrabnya bisu/tuli. b. Wali hakim
Wali hakim adalah wali nikah dari hakim atau qad’i (Pejabat Pengadilan atau aparat KUA atau PPN) atau penguasa dari pemerintah. Orang-orang yang berhak menjadi wali hakim adalah:
1. Kepala pemerintah
2. Khalifah (pemimpin), penguasa pemerintah yang diberi wewenang dari kepala Negara untuk menikahkan wanita yang berwali hakim.
Apabila tidak ada orang-orang tersebut, wali hakim dapat diangkat oleh orang-orang yang terkemuka dari daerah tersebut atau orang-orang alim ”ahl al-hal wa al-aqdi”.
Adanya wali hakim apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : 1. Tidak ada wali nasab.
2. Tidak cukup syarat-syarat pada wali aqrab atau wali ab’ad. 3. Wali aqrab dipenjara dan tidak bisa ditemui.
5. Wali aqrabnya mempersulit. 6. Wali aqrabnya sedang ihram.
7. Wali aqrabnya sendiri yang akan menikah
8. Wali aqrabnya gaib atau pergi dalam perjalanan sejauh ±92.5km atau dua hari perjalanan.
9. Wanita yang akan dinikahkan gila, tetapi sudah dewasa wali mujbir tidak ada.
Wali hakim tidak boleh menikahkan: 1. Wanita yang belum baligh
2. Kedua bela pihak (calon mempelai) tidak sekufu 3. Tanpa seizin yang akan menikah
4. Diluar dalam kekuasaannya. c. Wali Tahkim
Wali tahkim, yaitu yang diangkat oleh calon suami atau calon istri. Adapun cara pengangkatannya (cara tahkim) adalah : (1) calon suami mengucapkan tahkim, kepada calon istri dengan kalimat, ”saya angkat bapak/saudara untuk menikahkan saya pada si (calon istri) dengan mahar dan putusan bapak/saudara saya terima dengan senang.” Setelah itu, calon istri juga mengucapkan hal yang sama. Kemudian, calon hakim menjawab “saya terima tahkim ini.”
Wali tahkim terjadi apabila : 1. Wali nasab tidak ada.
2. Wali nasab gaib atau berpergian sejauh dua hari perjalanan, serta tidak ada wakilnya.
3. Tidak ada qad’i atau pejabat pengadilan atau aparat Kantor Urusan Agama (KUA) atau Pegawai Pencatat Nikah (PPN) atau pegawai penacatat nikah, talak, dan rujuk (NTR).
d. Wali Maula
Wali maula, yaitu yang menikahkan budaknya artinya majikannya sendiri. Laki-laki boleh menikahkan perempuan yang berbeda dalam perwaliannya bagaimana perempuan itu rela menerimanya. Perempuan dimaksud adalah hamba sahaya yang berada dibawah kekuasannya.
e. Wali Mujbir dan Wali Adhol
Wali mujbir adalah seseorang wali menikahkan perempuan yang di walikan diantara golongan tersebut tanpa menanyakan pendapat mereka (perempuan) dahulu, dan berlaku juga bagi orang yang di walikan tanpa melihat ridha atau tidaknya. Adanya wali
mujbir itu karena memerhatikan kepentingan orang yang diwalikan
sebab orang tersebut kehilangan kemampuan, sehingga ia tidak mampu dan tidak dapat memikirkan kemaslahatan sekalipun untuk dirinya sendiri. Disamping itu, ia belum dapat menggunakan akalnya untuk mengetahui kemaslahatan yang di hadapi nya.
Adapun yang dimaksud ijbar (mujbir) adalah hak seorang ayah (ke atas) untuk menikahkan anak gadisnya tanpa persetujuan yang bersangkutan, dengan syarat-syarat tertentu syarat-syarat tersebut ialah :
1. Tidak ada rasa permusuhan antara wali dengan perempuan menjadi wilayat (calon mempelai wanita).
2. Calon suaminya sekufu dengan calon istri,atau yang lebih tinggi 3. Calon suami sanggup membayar mahar pada saat dilangsungkan akad
nikah
Apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, hak ijbar menjadi gugur. Sebenarnya, ijbar tidak seharusnya diartikan paksaan, tetapi lebih cocok bila diartikan pengarahan.
Wali yang tidak mujbir adalah wali selain ayah, kakek, dan terus keatas. Wilayat nya terhadap wanita-wanita yang sudah baliq dan mendapatkan persetujuan dari yang bersangkutan. Bila calon pengantin wanita nya janda, izinnya harus jelas, baik secara lisan maupun tulisan. Bila calon pengantinnya gadis, cukup dengan diam saja.
Apabila wali itu tidak menikahkan wanita yang sudah baliq yang akan menikah dengan seorang yang kufu, wali tersebut dengan wali adhal. Apabila terjadi seperti itu, perwalian langsung berpindah wali hakim, bukan kepada wali ab’ad, karena adhal adalah dzhalim, sedangkan yang menghilangkan sesuatu yang dzhalim adalah hakim. Akan tetapi, jika
adhal nya sampai tiga kali maka dosa besar dan fasik dan perwaliannya
Kalau adhal nya karena sebab nyata yang dibenarkan, tidak disebut
adhal, seperti wanita menikah dengan pria yang tidak sepadan atau
menikah dengan mahar dibawah missil, atau wanita di pinang oleh pria lain lebih sepadan dari peminang pertama.
B. Menurut undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. 1. Perwalian menurut perundangan di Indonesia
Menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 19 Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya.
Akad nikah dilakukan oleh wali sendiri atau diwakilkan kepada pegawai pencatat nikah atau P3. NTR atau orang lain yang menurut pegawai pencatat nikah (P3.NTR) dianggap memenuhi syarat. Akad nikah dilangsungkan di hadapan pegawai pencatat nikah (P3.NTR), yang mewilayahi tempat tinggal calon istri dan hadiri oleh dua orang saksi. Apabila akad nikah dilaksanakan diluar ketentuan diatas, maka calon pengantin atau walinya harus memberitahukan kepada pegawai pencatat nikah yang mewilahyahi tempat tinggal calon isteri (Pasal 23 PMA. No 3 Tahun 1975).
Dalam pasal 25 Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1975 tersebut diatur lagi sebagai berikut :
1. Pada waktu akad nikah, calon suami dan wali nikah datang sendiri menghadap Pegawai Pencatat Nikah (PPN) atau pegawai penacatat pelaksanaan nikah talak rujuk (P3. NTR).
2. Apabila calon suami atau wali nikah tidak hadir pada waktu akad nikah disebabkan keadaan memaksa, maka dapat di wakili disebabkan keadaan memaksa, maka dapat di wakili orang lain.
Dalam perundang-undangan di Indonesia perwalian pernikahan diatur pada pasal 6 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur sebagai berikut:
1. Untuk melangsungkan perkawainan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun, harus mendapat izin dari kedua orang tua (pasal 6 ayat 2).
2. Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya (pasal 6 ayat 3)
3. Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyakatan kehendaknya maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis lurus keatas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyakan kehendaknya.4