GLASIR DAN FUNGSINYA
8) Magnesium Oxide (MgO)
MgO adalah termasuk flux yang hanya dipergunakan dalam glasir suhu tinggi. Dalam glasir suhu rendah MgO terlalu refractory, sehingga peranannya sebagai flux sama sekali tidak tampak. Kadang-kadang hanya menghasilkan permukaan yang matt dan menutup. Dalam suhu pembakaran tinggi MgO dapat memberi permukaan yang menarik, merata dan lembut seperti permukaan mentega (margarine)., terutama dalam pembakaran reduksi yang dapat mencapai hasil sangat bagus. Glasir yang menggunakan MgO hasilnya hampir sama dengan yang menggunakan kalsium. Sifat-sifat yang mirip lainnya adalah dapat meninggikan titik lebur, hanya pemakaiannya tidak sebanyak kalsium didalam glasir suhu tinggi, disamping sebagai bahan pelebur yang aktif. Dibandingkan dengan basa yang lain maka MgO juga mengurangi daya muai glasir dan dapat memberi pewarnaan yang baik terhadap oksida pewarna terutama untuk glasir penutup. Kebanyakan MgO dalam glasir akan menghasilkan permukaan yang kering dan ada kemungkinan timbulnya kerusakan permukaan glasir, seperti crawling dan pinholing. Juga dapat mempengaruhi oksida pewarna dalam pembakaran seperti cobalt oxide yang biasanya menghasilkan warna biru akan menjadi ungu (purple) dalam glasir yang mengandung MgO. Dalam suhu tinggi MgO
yang dibubuhi cobalt oxide bahkan menghasilkan warna purple yang berbintik-bintik.
Sumber-sumber bahan magnesium adalah: Magnesium carbonat (MgO3), dolomit (CaMg(CO3)2), steatite dan talk yang mempunyai rumus pedoman MgO. 4SiO2. H2O. Magnesium carbonat MgCO3 (magnesite), mineral ini ditemukan dalam 2 bentuk, yaitu sebagai magnesite dan dalam kombinasi dengan calcium carbonat dalam mineral dolomite. Bila digunakan dalam glasir bahan seperti magnesite ini akan terurai pada suhu sekitar 350°C membentuk magnesia dan mengeluarkan carbon dioxide. Magnesia adalah mineral yang tahan api dan bertindak sebagai penutup sampai suhu 1170°C, setelah itu bahan ini akan menjadi flux yang aktif. Dalam pendinginan bahan ini akan mengkristal dan memberikan glasir menutup yang matt.
Dolomite (CaCO3. MgCO3) adalah magnesium dengan carbonat ganda. Dalam komposisinya dapat bervariasi. Batuan alamnya mengandung kotoran-kotoran seperti besi, feldspat, tanah liat, mika dan kwarsa, yang semuanya memberikan sederetan warna dari kemerahan, abu-abu, biru sampai warna gelap. Bila ditambahkan pada glasir stoneware dalam jumlah sedikit akan bertindak sebagai flux, tetapi bila ditambahkan antara 10 sampai 25 % baik magnesia maupun calsium dalam dolomite ini akan memberikan kualitas seperti sutera yang matt, tergantung dari suhu pembakaran. Bahan ini secara efektif digunakan dalam glasir stoneware dan dalam pembakaran reduksi bereaksi dengan mineral lainnya di dalam badan. Bahan ini memberikan warna dan tekstur yang menarik bila digunakan tebal dalam glasir stoneware yang direduksi. 9) Zinc Oxide ( ZnO )
Pada bermacam – macam glasir, ZnO dipakai sebagai bahan pelebur dan untuk menjaga retak – retak. ZnO juga menambah putihnya glasir opague (glasir menutup) bila dipakai
bersama alumina. Apabila kandungan ZnO dinaikkan, glasir menjadi matt dan apabila terlalu kenyang (banyak) ZnO glasirnya akan timbul kristal – kristal. Pendinginan yang cepat dari glasir ini menyebabkan pembekuan kristal ZnO dalam glasirnya. Dengan cara ini pula ada yang sengaja untuk membuat glasir yang berkristal. Oksida ini juga yang dapat menambah daya terhadap pewarna serta menambah elastisitet glasir. Bila dibandingkan dengan bahan biasa lainnya kecuali calsium dan magnesium, daya elastisitas ZnO adalah yang paling tinggi. Biasanya sifat oksida ZnO mudah dipengaruhi oleh sifat dan kadar bahan lain. Bila ZnO terlalu banyak dapat meninggikan titik lebur dan kekentalan glasir, tetapi tidak berpengaruh terhadap mengkilapnya glasir.
ZnO merupakan salah satu flux yang berguna bagi suhu pembakaran menengah dan tinggi. Dipergunakan dalam jumlah kecil ZnO sebagai flux yang aktif. Akan tetapi jika dipergunakan dalam jumlah yang besar ZnO akan menghasilkan glasir yang matt dan kering. Karena sifatnya yang refractory ini maka ZnO jarang dipergunakan untuk glasir suhu rendah, kecuali untuk menghasilkan sejenis glasir matt
yang disebut” Glasir Zinc Matt”. Walaupun ZnO bukanlah sebagai flux yang aktif, bahan ini pernah dipergunakan sebagai pengganti PbO dalam glasir. Di Inggris pernah dikembangkan sejenis glasir yang diberi nama “Bristol Glaze” yang mengandung ZnO sebagai pengganti PbO yang beracun. Dalam type glasir Bristol Glaze ini ZnO merupakan flux utama bersama CaO, MgO dan PbO. Seringkali ZnO dibubuhkan dalam glasir suhu rendah sebagai flux tambahan dalam jumlah yang sangat kecil sekali dan dalam glasir yang mengandung PbO, KNaO ( K2O dan NaO ) atau B2O3 sebagai flux utama, dengan tujuan untuk membantu pelelehan glasir yang merata dan halus. Perlu diperhatikan bahwa glasir yang mengandalkan ZnO sebagai flux utama akan lebih besar kemungkinannya rusak seperti : crawling (mengkerut, berkumpul, berpisah),
pitting dan pinholing, bahkan warna yang dicapai juga mungkin akan pecah tidak merata. Sebagai patokan dalam penggunaan ZnO adalah sebagai berikut:
a. ZnO dipergunakan dalam jumlah kecil sangat baik dan berguna.
b. ZnO dipergunakan dalam jumlah besar akan merepotkan (kemungkinan rusak).
c. ZnO dapat mempengaruhi efek dari pewarna-pewarna glasir tertentu.
Pewarna seperti oksida besi dalam glasir yang mengandung ZnO akan menghasilkan warna cemerlang turquese green. Apabila chroom oxide dipergunakan sebagai pewarna dalam glasir ZnO menghasilkan warna kecoklat-coklatan (brown) bukannya hijau yang biasa dicapai oleh oksida chroom. ZnO dan oksida Tin dalam glasir akan menghasilkan warna yang sedikit rose atau sedikit kecoklatan. ZnO dan titanium oxide dapat menghasilkan glasir yang berkristal, karena pengaruhnya terhadap pewarna glasir sangat kuat. Glasir yang mengandung banyak ZnO secara tersendiri sudah memiliki warna yang sedikit crem dan tidak putih bersih.