• Tidak ada hasil yang ditemukan

n Panitera PN Jakarta Selatan Kelas  I A Khusus, I Gde Ngurah Arya Winaya, S.H., M.H.

86 TRIBUNAL

Foto: Richard Paneson.

Disiplin Panitera Pengganti

Proses penyelesaian SIPP-nya menuntut kedi-siplinan dari Panitera Pengganti (PP). Kalau PP tidak disiplin, maka rating SIPP milik PN Jakarta Selatan akan turun prosentasenya.

Pada 2017, rating SIPP di PN Jaksel hampir 80%. Dalam hampir dua bulan pada pertengahan Februari 2018, tercatat 25,79%.

Menurut Panitera I Gde Ngurah Arya Winaya, S.H., M.H., jumlah hakim dan panitera pengganti (PP) di PN Jakarta Selatan sama. Padahal ideal-nya, menurutideal-nya, jumlah PP harus lebih banyak dari hakim. Namun demikian, demi melaksanakan pelayanan publik, maka tugas-tugas harus disele-saikan. “Kita berusaha dengan PP dan Panmud

yang ada untuk menyelesaikan tugas, sehingga SIPP kita bisa mencapai yang tertinggi di selu-ruh Jakarta. Minutasi perkara tinggi.”

Walaupun masih ada yang kurang, tugas-tugas diupayakan selesai dengan cepat. Setiap bulan Panitera menyempatkan diri ke ruangan PP untuk merapatkan semua yang mengham-bat kerja perkara.

Panitera pun meminta juga kepada majelis hakim untuk mempercepat penyelesaian per-kara. Kalau di SIPP terlihat banyak perkara yang belum diminutasi, Panitera langsung ke ruangan PP untuk mendiskusikan persoalan mengapa penyelesaian perkara berlangsung lama untuk dicarikan solusi.

“Kita memang maklum dengan jumlah PP yang ada sekarang dengan volume perkara yang banyak. Tapi PP di sini bersemangat untuk meyelesaikan perkaranya hingga meng-input ke SIPP. Hasilnya kita sampai sekarang kita ma-sih nomor satu di DKI. PP ada yang dalam dua bulan ini sudah mendapat 20 perkara,” kata I Gde Ngurah.

“Di sini, minutasinya banyak dipuji-puji. Yang lama itu justru di penyele-saian perkara yang relatif berat dan panjang, karena para pihak banyak yang berdomisili di luar wilayah hu-kum Jakarta Selatan,”

87 TRIBUNAL

n Tiga Pilar Pimpinan (Ketua, Wakil, Panitera) bersama dengan para Panitera Pengganti (PP).

Foto: Richard Paneson.

Pimpinan ‘Ceriwis’

Menurut Wakil Ketua PN Jakarta Selatan, Kus-no, S.H., M.Hum, di PN Jakarta Selatan ini seka-rang, minutasi tidak menjadi masalah. Dari rapat bulanan diketahui bahwa dari jumlah perkara yang begitu banyak, yang belum minutasi itu ti-dak lebih dari 15 perkara perdata.

“Di sini, minutasinya banyak dipuji-puji. Yang lama itu justru di penyelesaian perkara yang rela-tif berat dan panjang, karena para pihak banyak yang berdomisili di luar wilayah hukum Jakarta Selatan,” kata Kusno.

Kusno, yang sebelum menjadi wakil sekarang, pada 2009 pernah menjadi hakim di PN Jakarta Selatan, merasakan bahwa periode saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Semua bekerja cepat, meskipun beban kerja dengan jumlah SDM tidak berimbang.

Karena jumlah tenaga terbatas, menurut Kusno, para pimpinan pun harus ‘ceriwis’. Pimpinan terus mengingatkan minutasi, SIPP, dan tugas-tugas lainnya. Kadang-kadang Kusno merasa iba terha-dap para staf. “Apalagi remunerasi tidak naik, itu saya kasihan. Dengan ceriwisnya kita tiap hari itu, mereka jadi berat,” kata Kusno.

Lomba One Day Minutes

PN Jakarta Selatan ketat memberlakukan aturan One Day Minutes. Ketika putusan pengadilan sele-sai dibacakan, pada hari itu juga salinan putusan bisa langsung diakses masyarakat setelah salinan putusan diserahkan kepada para pihak.

Untuk memacu para Panitera Pengganti (PP), pimpinan PN Jakarta Selatan memberlakukan

semacam lomba. Siapa yang sanggup menjalankan one day minutes akan diberi ‘hadiah’. Setiap bulan, PP yang bisa me-nyelesaikan tugasnya diberikan apresiasi. Apresiasinya berupa hadiah printer, HP, flash disk atau alat kebutuhan kantor lainnya.

Akhirnya, semua berlomba-lomba untuk melakukan minutasi perkara. Sisa perkara bisa pun diselesaikan.

Memang ada perkara yang melebihi putus lima bulan. Hal itu bi-asanya karena hambatan pemanggilan para pihak di luar wilayah hukum Jakarta Selatan. Karena, untuk pemanggilan saja dalam sekali sidang bisa dibutuhkan waktu tiga bulan. Padahal menurut ketentuan, perkara tidak boleh diputus lebih dari lima bulan.

Saat ini Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sudah menerap-kan aplikasi di WA Grup informasi delegasi, sehingga para pihak bisa saling memantau info delegasi. Grup ini isinya para panitera pengadilan, adminnya Panitera. Grup ini sangat efektif untuk memantau panggilan delegasi.

Yang dianggap masih mengganjal adalah masalah tunjangan.

Tunjangan PP sudah puluhan tahun itu tidak naik-naik. Hanya Rp 300.000. “Kalau dalam rapat, kita laporkan pekerjaan sudah, minutasi sudah, tapi tunjangan kita tidak naik-naik,” ungkap Pa-nitera I Gde Ngurah. *** (MMA)

88 TRIBUNAL

n KPN Dwi Sugiarto (kanan) dan Wakil Ketua Kusno bersatu tekad membangun PN Jakarta Selatan.

n Armada hakim yang menangani ribuan perkara yang masuk setiap tahun ke PN Jakarta Selatan

Foto: Richard Paneson.

Foto: Richard Paneson.

A

PAPUN kondisinya, pelayanan publik harus menjadi prioritas utama. Itulah tekad dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Kelas IA Khusus.

Pengadilan yang berlokasi di Jalan Ampera, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini giat berbenah. Dipimpin oleh ketu-anya, H Dwi Sugiaro, S.H, M.H., pengadilan negeri ini terus me-ningkatkan kinerja dari berbagai aspek, baik lingkungan kerja maupun sistem informasinya. Semuanya ditujukan agar dapat memberi pelayanan terbaik bagi pencari keadilan.

PN Jakarta Selatan

PRIORITASKAN

PELAYANAN

PUBLIK

89 TRIBUNAL

n Atas: Petugas PTSP dengan ramah memberikan pelayanan kepada seorang ibu yang menanyakan prosedur berperkara di PN Jakarta Selatan.

n Tengah: Bravo Panitera Pengganti!!

n Bawah: Empat Pilar Pimpinan (Ketua, Wakil, Panitera, Sekretaris) bersama dengan karyawan/staf PN  Jakarta Selatan.

Foto: Richard Paneson.

Foto: Richard Paneson.

Foto: Richard Paneson.

Akreditasi A

Dalam rangka menjamin mutu pelayanan publik, PN Ja-karta Selatan berpedoman pada program akreditasi dari Badan Peradilan Umum (Badilum). Program dijalankan secara menyeluruh, mulai dari sarana fisik (sarana ruang sidang, laktasi untuk anak-anak, area smoking, dll) dan sa-rana non-fisik (dokumen-dokumen harus betul, rapi, dll), sampai arah evakuasi. Tapi untuk memenuhi semua itu ti-dak bisa disulap begitu cepat. Prosedurnya sangat panjang.

Ketika PN Jakarta Selatan mengikuti penilaian un-tuk meraih sertifikat akreditasi, Panitera I Gde Ngurah-lah yang menjadi arsiteknya. Dia harus bekerja keras bagaimana mengatur gedung lama agar memenuhi standar akreditasi yang diminta Dirjen Badilum. Sebagai contoh, agar hakim, ketika keluar masuk ruang sidang, tidak berpapasan/bersentuhan dengan masyarakat pen-cari keadilan, dibuatlah tangga tersendiri yang meng-hubungkan ruang hakim dengan ruang sidang.

Segala upaya warga PN Jakarta Selatan menghasilkan prestasi bagi pengadilan yang berlokasi di Jl Ampera, Jakarta Selatan ini, sebuah penghargaan Akreditasi Pen-jaminan Mutu Pengadilan Negeri (PMPN) pada 19 De-sember 2016 di Denpasar, Bali, dengan predikat A alias Excellent.

Menurut Wakil Ketua, Kusno, de-ngan mengikuti program akreditasi, pe-rubahan di PN Jakarta Selatan berjalan cepat sekali. “Sesuai dengan petunjuk Dirjen Badilum, sistem Pelayanan Ter-padu Satu Pintu (PTSP), tahu-tahu se-karang sudah ada,” kata Kusno mem-beri contoh.

Masih menurut Kusno, akreditasi ha-rus didukung skill SDM yang optimal.

Karena, perkembangan teknologi infor-masi cepat sekali, maka skill SDM-nya pun harus terus belajar.

Kusno melihat, spirit pegawai di PN Jakarta Selatan sekarang jauh lebih baik dibandingkan sepuluh tahun lalu, ketika ia menjadi hakim di pengadilan ini.

Butuh Gedung Baru

Dwi Sugiarto, ketua PN Jakarta Se-latan, berharap bahwa pengadilan yang dipimpinnya dapat memiliki gedung

n Empat pilar pimpinan bersama tenaga keamanan dan honorer.

90 TRIBUNAL

Foto: Richard Paneson.

baru. “Kalau bisa, setelah Jakarta Utara, kami bisa mendapat-kan pembangunan gedung. Karena, cuma PN Jakarta Selatan dari pengadilan negeri yang ada di Jakarta yang belum mem-punyai gedung baru,” ungkapnya.

Menurut Dwi, semestinya PN Jakarta Selatan yang pertama dibangun, karena PN ini yang mendapatkan bintang. Tapi karena belum mendapatkan tanah yang luasnya 5.000 m2 atau 10.000 m2, akhirnya bintangnya dicoret. “Padahal kalau mau, tetap saja dibangun di sini dengan dinaikkan ke atas menjadi beberapa lantai,” lanjutnya.

Dwi melihat sulitnya mencari tanah yang luas untuk mem-bangun gedung baru di lokasi baru. Karena itu, ia menyaran-kan, gedung baru segera dibangun di lokasi yang sekarang.

“Kalau pelaksanaannya 2020, terlalu lama, keburu ambruk gedung ini,” tandasnya.

Selain gedung kantor, Dwi juga melihat perlunya rumah di-nas tetap untuk empat pilar pejabat pengadilan (ketua, wakil ketua, panitera, dan sekretaris), yang tidak boleh diganggu-gugat oleh hakim atau yang lain. Menurutnya, siapa pun peja-bat baru, cukup bawa koper, sudah dapat masuk menempati rumah tersebut. Tapi begitu dapat SK pindah, ia harus out.

Achmad Firdaus, yang dilantik menjadi sekretaris pada 9 Februari 2018, berusaha menata PN Jakarta Selatan sebaik

mungkin. Beberapa hari setelah dilantik, ia langsung menata taman-taman. Toilet hakim dan umum diganti dengan yang baru. Ruang sidang utama dibongkar atapnya karena su-dah dimakan rayap. Kabel-kabel yang susu-dah lama pun diganti, karena rawan terbakar.

Ke depan, Firdaus (begitu sapaannya) ber-harap dapat memperbaiki ruang tahanan, karena yang ada sekarang sangat tertutup.

Eternitnya rendah, sehingga pengap.

Apa yang dilakukan Firdaus itu selaras de-ngan pesan ketua PN Jakarta Selatan, Dwi Sugiarto. Sebagai Kuasa Pengguna Anggaran, Firdaus diharapkan memperbaiki penyerapan anggaran, tetapi pertanggungjawabannya pun harus betul. “Harus ditargetkan per tiga bulan sekian persen. Harus punya standar keberhasilan,” pesan Dwi kepada Firdaus. ***

(MMA)

91 TRIBUNAL

n Para Pimpinan dengan para pejabat struktural PN Jakarta Selatan.

Foto: Richard Paneson.

HARAPAN, visi, dan program baru selalu ditunggu-tunggu oleh publik dari seorang pejabat negara yang baru saja dilantik. Tak terkecuali H Dwi Sugiarto, S.H., M.H. yang dilantik sebagai Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Kelas I A Khusus pada November 2017.

Untuk mengetahui lebih jauh program dari mantan Ketua PN Samarinda (2016-2017) itu, Rita Zahara dan Viktor Pane dari Majalah Mahkamah Agung mewawa-ncarai Dwi Sugiarto di ruang kerjanya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya No 133, Ra-gunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Februari 2018.

Kepada Majalah Mahkamah Agung, alumnus Fakultas Hukum UGM (S1) dan STIH IBLAM (2003) kelahiran Jakarta, 5 Januari 1962 ini menuturkan apa yang ingin dan sudah ia implementasikan di kantornya yang baru. Berikut petikan dari wawancara tersebut.

Bagaimana kondisi PN Jakarta Selatan saat pertama kali Bapak ditugaskan di sini?

Saat pertama kali saya ditugaskan, kondisi di PN Jakarta Selatan sudah cukup baik. Pada waktu itu, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) baru saja di-luncurkan. Setelah beberapa saat melakukan evaluasi, saya melakukan sejumlah perubahan.

Apa saja yang diubah?

Secara garis besar ada dua perubahan, terkait pe-nataan ruang dan area luar. Sebelumnya, ruang jaksa masih menyatu dengan ruangan internal PN Jakarta Selatan. Ruang jaksa lalu saya pisahkan. Bukan hanya itu, ruangan menyusui bayi pun dipisahkan, sehingga orang luar tidak bisa masuk ke area internal, wilayah hakim dan panitera pengganti (PP), termasuk para Panmud (Panitera Muda) dan Kasubnya. Ruangan itu dibuat menjadi area steril.

Dulu, untuk memasuki ruang sidang, hakim harus melewati pengunjung sidang, ruang tunggu masyara-kat atau pencari keadilan. Itu sangat berisiko bagi hakim. Kalau ada para pihak yang sakit hati kepada hakim sebagai akibat dari jatuhnya putusan, maka

Dokumen terkait