Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
F Bahwa sejak disahkannya oleh Pihak Termohon tentang perubahan peraturan dana pensiun dari Dana Pensiun IPTN pada tanggal 6 Juli 2011, telah terjadi perselisihan hubungan industrial, dan berdasarkan Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Klas I-A Kota Bandung Nomor : 26 /G/2011/PHI/PN atau alat bukti P-16 dimana pada putusannya yang menjadi hak karyawan dalam menghitung besaran manfaat pensiun sekaligus adalah menggunakan besaran gaji pokok terakhir sesuai struk gaji bukan besaran gaji pokok /PhDP berdasarkan tabel dari alat bukti P-1, dan putusan ini telah diperkuat oleh Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 852 K/ PDT.SUS/2011 atau alat bukti P-17, dan telah diupayakan upaya hukum luar biasa, dan berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 184 PK/ PDT.SUS/2012 atau alat bukti P-18, telah memperkuat putusan sebelumnya sehingga berdasarkan hukum besaran “Gaji Pokok” yang dipergunakan dalam menghitung manfaat pensiun sekaligus adalah berdasarkan besaran Gaji Pokok riil sebagaimana yang tertulis pada struk gaji tertulis base pay.
G Bahwa juga terdapat perselisihan hubungan industrial berikutnya , dan berdasarkan Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Klas I-A Kota Bandung Nomor : 125 /G/2011/PHI/PN.BDG atau alat bukti P-19, terbukti besaran “Gaji Pokok” yang dipergunakan dalam menghitung manfaat pensiun sekaligus adalah berdasarkan besaran Gaji Pokok riil sebagaimana yang tertulis pada struk gaji tertulis base pay, dan pada tanggal 3 April 2013 putusan ini telah diperkuat oleh Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 657 K/ PDT.SUS/2012, atau pada alat bukti P-20.
Bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, maka selanjutnya Pemohon mohon kepada Ketua Mahkamah Agung berkenan memeriksa permohonan keberatan dan memutuskan sebagai berikut:
1 Mengabulkan gugatan hak uji materi yang diajukan oleh Pihak Pemohon untuk seluruhnya ;
2 Menyatakan tidak sah serta tidak berlaku bagi Pihak Pemohon tentang Keputusan Pihak Termohon, yaitu Keputusan Menteri Keuangan Repuplik Indonesia Nomor : KEP-545/KM.10/2011, tertanggal 6 Juli 2011 tentang Pengesahan Peraturan Dana Pensiun dari Dana Pensiun IPTN, berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT. Dirgantara Indonesia
Halaman 21 dari 43 halaman. Putusan Nomor. 17 P/HUM/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
(Persero) Nomor : SKEP/248/030.02/PTD/UT0000/09/2009 tentang Peraturan Dana Pensiun pada Dana Pensiun IPTN.
3 Menyatakan peraturan dana pensiun yang sah dan berlaku bagi Pihak Pemohon, adalah Peraturan Pensiun yang sebelum diadakan perubahan pada tanggal 6 Juli 2011, yaitu berdasarkan pengesahan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, dengan Keputusan Nomor : KEP/116/ KMK.17/2000, tanggal 24 April 2000, tentang peraturan dana pensiun pada Dana Pensiun IPTN berdasarkan Keputusan Direksi PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT. IPTN) Nomor : KEP/05/030.02/IPTN/ HR0000/12/1999 tentang Peraturan Dana Pensiun pada Dana Pensiun IPTN.
4 Menghukum pihak Termohon untuk membayar biaya yang timbul dalam gugatan hak uji materi ini;
SUBSIDAIR :
Mohon putusan Majelis Hakim Agung yang seadil-adilnya.
Menimbang, bahwa untuk mendukung dalil-dalil permohonannya, Pemohon telah mengajukan surat-surat bukti berupa:
1 Fotokopi Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : KEP-545/ KM.10/2011, tentang Pengesahan Peraturan Dana Pensiun Dari Dana Pensiun IPTN yang tertuang melalui Surat Keputusan Direksi PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Nomor : SKEP/248/030.02/PTD/UT0000/09/2009 tertanggal 11-09-2009. (Peraturan Dana Pensiun perubahan yang disahkan oleh Pihak Termohon pada tanggal 6 Juli 2011 yang dimintakan untuk dilakukan uji materi) (Bukti P-1);
2 Fotokopi tentang pengesahan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, dengan Keputusan Nomor : KEP/116/KMK.17/2000, tanggal 24 April 2000, yaitu peraturan dana pensiun pada Dana Pensiun IPTN berdasarkan Keputusan Direksi PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT. IPTN) Nomor : KEP/05/030.02/IPTN/HR0000/12/1999 tentang Peraturan Dana Pensiun pada Dana Pensiun IPTN. (Peraturan Dana Pensiun di IPTN sebelum perubahan tanggal 6 Juli 2011) (Bukti P2);
3 Fotokopi tentang Peraturan Pensiun yang lama berdasarkan Surat Keputusan Direktur Utama PT.IPTN Nomor : SKEP/1433/IPTN/036.03/IV/87, tanggal 08
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
April 1987 tentang Ketentuan Pokok Jaminan Hari Tua juncto Surat Edaran Nomor :SE/06/036.03/IPTN/30200/v/1989, tanggal 25 Mei 1989 tentang Perhitungan Pensiun Karyawan PT. IPTN.(peraturan pensiun lama yang menjanjikan pembayaran manfaat secara sekaligus sesuai Pasal 54 ayat (1) P-1 masih berlaku) (Bukti P-3);
4 Fotokopi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun (Bukti P-4);
5 Fotokopi Penjelasan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun (Bukti P-5);
6 Fotokopi tabel besaran gaji pokok yang diterima dari pemberi kerja berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Nomor : SKEP/263/030.02/UT0000/PTD/08/2010 (Bukti P-6);
7 Fotokopi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Bukti P-7);
8 Fotokopi surat hasil penyelidikan dari KOMNAS-HAM melalui surat Nomor : 2.077/K/PMT/X/2012, tertanggal 12 Oktober 2012 (Bukti P-8);
9 Fotokopi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asazi Manusia (Bukti P-9);
10 Fotokopi Undang-Undang Dasar 1945 (Bukti P-10);
11 Fotokopi Surat dari Pihak Termohon Nomor : S-2683/BL/2011 (Bukti P-11); 12 Fotokopi Surat dari Pihak Termohon Nomor :S-3684/BL/2010 (Bukti P-12); 13 Fotokopi tanda penerimaan penghasilan karyawan/ struk gaji karyawan pada
bulan Juni 2011 (Bukti P-13);
14 Fotokopi Surat Penjelasan dari PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Nomor : PTD/0129/HR0000/02/2014 tertanggal 7 Februari 2014, tentang pelaksanaan dari peraturan pensiun yang lama yang bertentangan dengan Penjelasan Pasal 61 ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun, dan juga bertentangan dengan Pasal 54 ayat (1) alat bukti P-1. Dimana acuan perhitungan seharusnya adalah menggunakan gaji pokok dirubah menjadi tabel alat bukti pada lampiran P-1. (Bukti P-14);
15 Fotokopi Perkiraan Perhitungan Manfaat Pensiun, akibat adanya perubahan peraturan dana pensiun, sehingga dapat dibuktikan manfaat pensiun normal bulanan untuk anggota Pihak Pemohon atas nama Albert John Pardede Rp.487.086,- per bulan, untuk atasa nama Bambang Tri sebesar Rp. 527.729,-
Halaman 23 dari 43 halaman. Putusan Nomor. 17 P/HUM/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
per bulan, merupakan besaran yang tidak layak untuk hidup di Kota Bandung dan sekitarnya (Bukti P-15);
16 Fotokopi Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Klas I-A Kota Bandung Nomor : 26/G/2011/PHI/PN, dimana yang dibayarkan menggunakan istilah PhDP tabel dari alat bukti P-1 dan yang menjadi hak karyawan adalah besaran gaji pokok terakhir sesuai struk gaji (Bukti P-16); 17 Fotokopi Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 852 K/ PDT.SUS/2011, alat
bukti ini memperkuat putusan alat bukti P-16 (Bukti P-17);
18 Fotokopi Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 184 PK/PDT.SUS/2012, alat bukti ini memperkuat putusan dari alat bukti P-16 dan putusan alat bukti P-17 (Bukti P-18);
19 Fotokopi Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Klas I-A Kota Bandung Nomor : 125/G/2011/PHI/PN.BDG, sesuai putusan acuan yang menjadi hak karyawan adalah gaji pokok terakhir sesuai struk gaji (Bukti P-19);
20 Fotokopi Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 657 K/PDT.SUS/2012, alat bukti ini memperkuat putusan pada alat bukti P-19 (Bukti P-20);
21 Fotokopi Pertemuan Klarifikasi Peraturan Pensiun lama pada tanggal 15 April 2011 (Bukti P-21);
22 Fotokopi Notulen Rapat Pengelola Dana pensiun, dengan Pendiri, serta Pengawas Dana Pensiun, pada lembar ke 2 (dua) terbukti acuannya adalah gaji pokok karyawan (Bukti P-22);
23 Fotokopi Kartu Tanda Penduduk atas nama Haribes Alinoesin, dan Tri Handoyo (Bukti P-23);
24 Fotokopi Bukti Pendaftaran Serikat Pekerja Dirgantara Indonesia (SPEDI) melalui Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung (Bukti P-4);
25 Fotokopi Surat Penetapan Ketua Umum Serikat Pekerja Dirgantara Indonesia (SPEDI) (Bukti P-25);
26 Fotokopi Susunan Pengurus Serikat Pekerja Dirgantara Indonesia (SPEDI) (Bukti P-26);
27 Fotokopi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Serikat Pekerja Dirgantara Indonesia (SPEDI) (Bukti P-27);
Menimbang, bahwa permohonan keberatan hak uji materiil tersebut telah disampaikan kepada Termohon pada Tanggal 11 Maret 2014 berdasarkan Surat Panitera
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Muda Tata Usaha Negara Mahkamah Agung Nomor 17/PER-PSG/III/17 P/HUM/ TH.2014, Tanggal 11 Maret 2014;
Menimbang, bahwa terhadap permohonan Pemohon tersebut, Termohon telah mengajukan jawaban tertulis pada Tanggal 27 Maret 2014, yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:
I KEDUDUKAN HUKUM TERMOHON
1 Bahwa yang menjadi permasalahan pada perkara a quo adalah Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: Kep-545/KM.10/2011 tentang Pengesahan Peraturan Dana Pensiun Dari Dana Pensiun IPTN (Bukti Termohon-1).
2 Bahwa sebelum memberikan tanggapan atas permohonan a quo, Termohon terlebih dahulu menjelaskan kedudukan hukum Termohon dalam perkara permohonan a quo .
3 Bahwa berdasarkan Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (selanjutnya disebut UU OJK) ditentukan bahwa sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya beralih dari Menteri Keuangan dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan ke OJK (Bukti Termohon-2).
4 Bahwa Otoritas Jasa Keuangan (selanjutnya disebut OJK) adalah lembaga yang independen yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan di Sektor Jasa Keuangan (Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 1 angka 1 UU OJK).
5 Bahwa OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap
Halaman 25 dari 43 halaman. Putusan Nomor. 17 P/HUM/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan (Pasal 5 UU OJK).
6 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 6 UU OJK, diatur bahwa OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap:
a kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan; b kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan
c kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
1 Bahwa berdasarkan Pasal 10 UU OJK ditentukan bahwa OJK dipimpin oleh Dewan Komisioner beranggotakan 9 (sembilan) orang anggota yang bersifat kolektif kolegial.
2 Bahwa lebih lanjut dalam Pasal 25 ayat (1) UU OJK diatur bahwa Dewan Komisioner mewakili OJK di dalam dan di luar pengadilan.
3 Bahwa yang dimaksud dengan Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai dana pensiun (vide Pasal 1 angka 8 UU OJK).
4 Bahwa berdasarkan BAB XIII Ketentuan Peralihan Pasal 67 ayat (1) UU OJK diatur bahwa Keputusan mengenai pemberian izin usaha, izin orang perseorangan, efektifnya pernyataan pendaftaran, surat tanda terdaftar, persetujuan melakukan kegiatan usaha, pengesahan, dan persetujuan atau penetapan pembubaran, dan setiap keputusan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan berdasarkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan sebelum beralihnya
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
fungsi, tugas, dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, dinyatakan tetap berlaku.
5 Bahwa Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: Kep-545/KM.10/2011 tentang Pengesahan Peraturan Dana Pensiun Dari Dana Pensiun IPTN yang menjadi permasalahan pada perkara a quo adalah termasuk produk hukum pengesahan yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Keuangan, berdasarkan ketentuan Pasal 67 ayat (1) UU OJK di atas dinyatakan tetap berlaku, dan kewenangannya berdasarkan ketentuan Pasal 55 ayat (1) UU OJK telah beralih dari Menteri Keuangan RI kepada OJK sejak 31 Desember 2012.
6 Bahwa dengan demikian Dewan Komisioner OJK, selaku pengemban amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 yang melaksanakan fungsi pengaturan kegiatan jasa keuangan, termasuk di sektor Dana Pensiun, sejak tanggal 31 Desember 2012, memiliki kepentingan hukum dan sekaligus menggantikan kedudukan hukum Menteri Keuangan RI berdasarkan ketentuan undang-undang, untuk menyampaikan jawaban dalam perkara a quo sebagaimana diuraikan dibawah ini.
II DALAM EKSEPSI
A EKSEPSI KOMPETENSI ABSOLUT
1 Bahwa pada huruf A hal. 1 Permohonan, Pemohon menyatakan bahwa Pemohon Haribes Alinoesin dan Tri Handoyo, bertindak atas nama pribadi dan selaku Pengurus Serikat Pekerja Dirgantara Indonesia atau disingkat SPEDI, sehingga juga bertindak untuk dan atas nama anggota Serikat Pekerja Dirgantara Indonesia (SPEDI).
2 Bahwa selanjutnya pada huruf B hal. 1 dan huruf C hal. 2 Permohonan, Pemohon menyatakan:
Halaman 27 dari 43 halaman. Putusan Nomor. 17 P/HUM/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
A “Bahwa dalam pengajuan gugatan hak uji materi yang diajukan oleh Pihak Pemohon, adalah tentang Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: Kep-545/ KM.10/2011 tentang Pengesahan Peraturan Dana Pensiun dari Dana Pensiun IPTN tertanggal 6 Juli 2011 … dst.”
B “Bahwa dalam pengajuan gugatan hak uji materi yang diajukan oleh Pihak Pemohon, adalah tentang Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: Kep-545/ KM.10/2011 tentang Pengesahan Peraturan Dana Pensiun dari Dana Pensiun IPTN yang tertuang melalui Surat Keputusan Direksi PT Dirgantara Indonesia (Persero) Nomor: SKEP/248/030.02/PTD/
UT0000/09/2009, tertanggal 11-09-2009 … dst.”
3 Bahwa pada angka 2 Petitum hal. 18 Permohonan, Pemohon memohon agar Majelis Hakim Agung antara lain memberikan amar: “Menyatakan tidak sah serta tidak berlaku lagi bagi Pihak Pemohon tentang Keputusan Pihak Termohon, yaitu Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: Kep-545/KM.10/2011 tentang Pengesahan Peraturan Dana Pensiun dari Dana Pensiun IPTN yang tertuang melalui Surat Keputusan Direksi PT Dirgantara Indonesia (Persero) Nomor: SKEP/248/030.02/PTD/UT0000/09/ 2009 tentang Peraturan Dana Pensiun pada Dana Pensiun IPTN”. 4 Bahwa berdasarkan Pasal 1 angka (3) Peraturan
Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil disebutkan:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Permohonan keberatan adalah suatu permohonan yang berisi keberatan terhadap berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang diduga bertentangan dengan suatu peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi yang diajukan ke Mahkamah Agung untuk mendapatkan putusan.
5 Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum dan ketentuan diatas, jelas bahwa yang dipermasalahkan dalam surat keberatan Pemohon adalah “Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: Kep-545/KM.10/2011 tentang Pengesahan Peraturan Dana Pensiun dari Dana Pensiun IPTN”.
6 Bahwa terlepas dari benar atau tidaknya dalil-dalil Pemohon, surat Permohonan Keberatan dengan posita dan petitum yang demikian merupakan sengketa tata usaha negara yang menentukan bahwa:
“Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;”
7 Bahwa Dewan Komisioner OJK (menggantikan kedudukan hukum Menteri Keuangan RI) merupakan Pejabat Tata Usaha Negara, karena:
1 Berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara (UU PTUN), disebutkan:
”Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara adalah Badan atau Pejabat yang melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
2 Berdasarkan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun (selanjutnya disebut UU Dana Pensiun) (Bukti Termohon-3), ditentukan bahwa pembinaan dan pengawasan atas Dana Pensiun Pemberi Kerja dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan dilakukan oleh Menteri. Pasal 1 angka 24 UU Dana Pensiun menentukan bahwa Menteri adalah Menteri Keuangan.
Halaman 29 dari 43 halaman. Putusan Nomor. 17 P/HUM/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
3 Bahwa berdasarkan Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (selanjutnya disebut UU OJK) ditentukan bahwa sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi,