١٨٧ “…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari
D. Dasar Pemaknaan Hadis
4. Majāz dalam Hadis
Ungkapan metaforis (majaz)35 banyak digunakan dalam Bahasa Arab dan bersifat retoris. Dalam ilmu Balaghah, penggunaan metafora ketika berkomunikasi lebih menekankan kesan daripada menggunakan ungkapan biasa. Hal tersebut juga terdapat dalam berbagai redaksi Hadis Rasulullah, sebagai konduktor wahyu kepada manusia melalui lisan beliau. Metafora yang dimaksud di sini meliputi lughawī,36 ʻaqlī, istiʻārah,37 kinayah,38dan berbagai macam ungkapan lainnya yang tidak menunjukkan makna sebenarnya secara langsung tetapi hanya dapat dipahami dengan pelbagai indikasi yang menyertainya, baik bersifat tekstual maupun kontekstual.39 Dalam al-Żarīʻah
ilā Makārim al-Syarīʻah, al-Rāghib al-Aṣfahānī menulis:
“Apabila suatu ucapan terdiri atas permisalan, dan dimaksudkan untuk diambil ʻibrah (pelajaran) darinya, dan bukan untuk pemberitaan, maka yang demikian itu tidak boleh dianggap sebagai kebohongan. Itulah sebabnya, orang-orang yang berhati-hati sekalipun, tidak berkeberatan untuk membawakannya.”40
Selanjutnya, al-Rāghib al-Aṣfahānī mencontohkan bahwa sebagaimana hal di atas, harus dipahami pula bahwa ayat:
35 Majāz adalah lafal yang digunakan tidak sebagaimana arti redaksional sebagaimanaa
mestinya (maksudnya tidak sesuai dengan ketentuan awal yang ditetapkan bagi lafal tersebut atau sesuatu yang berhubungan dengannya dalam proses komunikasi). Muṣṭafā Hāsyimī, Jawāhir
al-Balāghah fi al-Maʻānī wa al-Bayān wa al-Badīʻ, Maktabah al-ʻIṣriyyah, Beirut, T.tt, h. 251.
36 Majaz Lughawī yaitu lafal yang digunakan dalam makna yang bukan seharusnya karena
adanya hubungan disertai qarinah (kata yang dijadikan pembicara sebagai petunjuk) yang menghalangi pemberian makna hakiki. Hubungan antara makna hakiki dan makna majazi terkadang ada karena adanya keserupaan konteks. Ḥāmid ʻAunī, Al-Manhāj Wāḍaḥ li
al-Balāghah,, juz. III, Maktabah al-Azhariyyah li al-Turāṡ, T.tt, h. 215.
37 Ḥāmid ʻAunī, Al-Manhāj al-Wāḍaḥ li al-Balāghah, juz. III…, h. 219.
38 Kināyah adalah lafadz yang disampaikan dan yang dimaksud adalah kelaziman
maknanya, disamping boleh juga yang dimaksud pada makna yang sebenarnya. Dari pengertian tersebut dapat difahami bahwa kinayah adalah suatu ungkapan yang biasa dipakai oleh suatu kaum (dalam hal ini orang arab sebagai penutur asli bahasa Arab) dan yang dimaksud adalah bukan makna aslinya walaupun bisa diartikan dengan makna yang sebenarnya. Aḥmad ibn Ibrāhīm ibn Muṣṭafā al-Hāsyimī, Jawāhir al-Balāghah fi al-Maʻānī wa al-Bayān wa al-Badīʻ…, h. 288.
39 M. Yusuf Qarāḍawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW (terj. Muhammad
al-Baqir), Karisma, Bandung, 1993, h. 167.
40 Al-Rāghib al-Aṣfahānī, al-Żarīʻah ilā Makārim al-Syarīʻah, Dār al-Salām, Kairo, 2007,
ٌةَﺪِﺣاَو ٌﺔَﺠْﻌَـﻧ َِﱄَو ًﺔَﺠْﻌَـﻧ َنﻮُﻌْﺴِﺗَو ٌﻊْﺴِﺗ ُﻪَﻟ ﻲِﺧَأ اَﺬَﻫ ﱠنِإ
...
:ص
٢٣
“sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, dan aku mempunyai seekor saja.” (QS. Ṣād [38]: 23)
yang menceritakan kisah Daud as. juga merupakan sebuah majāz pula.”41
Adakalanya bahkan pemahaman yang majazi terhadap suatu Hadis merupakan sesuatu keharusan demi menjaga makna agar tetap koheren dengan dalil-dalil syarʻiyyah dan logika, sehingga tidak gagal paham terhadap redaksi sebuah Hadis. Sebagaimana Yusuf Qaraḍawī contohkan dengan mengutip sebuah Hadis riwayat Al-Bukhārī:
“Ketika Rasulullah SAW. berkata kepada istri-istri beliau: “Yang paling cepat menyusulku di antara kalian – setelah aku wafat, adalah ‘yang bertangan terpanjang.” Mereka (para istri Nabi) mengira bahwa yang dimaksud oleh beliau, adalah yang benar-benar memiliki tangan terpanjang. Karena itu, seperti dikatakan oleh Aisyah RA.: “Mereka saling mengukur, siapa di antara mereka yang tangannya paling panjang.” Bahkan, menurut beberapa riwayat, mereka mengambil sebatang bambu untuk mengukur tangan yang paling panjang.” Padahal Rasulullah SAW. tidak bermaksud seperti itu. yang dimaksud oleh beliau dengan ‘tangan terpanjang’ ialah yang paling banyak kebaikannya dan kedermawanannya. Dan itulah yang benar-benar terbukti kemudian. Di antara para istri beliau yang pertama kali menyusul beliau adalah adalah Zainab binti Jahsy RA. yang dikenal sebagai wanita terampil, pekerja keras dan senang bersedekah.”42
Memahami redaksi Hadis sebagai sebuah kiasan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan syariat selama pentakwilan tersebut tidak melanggar ḥad, tidak dengan makna yang dipaksakan dan tanpa mengada-adakan, sepanjang masih ada sesuatu yang mengharuskan pemaknaan Hadis tersebut supaya beralih dari arti yang sebenarnya kepada yang bersifat majazī. Dengan kata lain, selama adanya kendala tertentu, baik berupa kesimpulan akal yang jelas,
41 Al-Rāghib al-Aṣfahānī, al-Żarīʻah ilā Makārim al-Syarīʻah…, h. 194.
42 M. Yusuf Qarāḍawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW…, h. 169. Hadis tersebut
dirawikan oleh Muslim dalam Bab Faḍail Al-Ṣaḥābah (2453). Imam Bukhari dinilai keliru menafsirkan kalimat ‘bertangan terpanjang’ tersebut adalah Saudah. Kekeliruan tersebut berasal dari sebagian perawi sebagaimana yang telah dikecam oleh Ibn al-Jawzī. Ibn ʻAbdillāh al-Żahabī,
atau hukum syariat yang sahih, atau pengetahuan yang pasti, atau kenyataan yang tak diragukan, maka pemaknaan tersebut dapat diterima.43
Di sisi lain, lebih lagi mempertimbangkan sebuah pentakwilan pada
majaz, terdapat kecaman keras dan penolakan terhadap pentakwilan yang justru
dapat menimbulkan cedera terhadap pemahaman agama, sebab antara akal dan sumber agama yang sahih bukanlah sesuatu yang selalu berseberangan. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Abu Bakr Ibn al-Arabi tentang sebuah Hadis: “Kelak, kematian akan dihadirkan seperti seekor domba yang
bagus....”44 melalui komentarnya:
“Hadis ini mengandung kemusykilan, karena bertentangan dengan akal. Sebab kematian adalah 'aradh (akseden); tidak mungkin berubah menjadi jisim. Maka bagaimana ia dapat disembelih? Itulah sebabnya, sebagian orang menolak kesahihan Hadis tersebut. Sedangkan sebagian lain mentakwilkannya sebagai sebuah tamṡīl belaka. Jadi, tidak ada terjadi penyembelihan secara hakiki. Tetapi ada pula sebagian orang menyatakan bahwa penyembelihan itu memang benar-benar terjadi. Adapun yang disembelih adalah Izrail sebagai pencabut nyawa mengingat bahwa dialah yang bertugas melakukan pencabutan ruh pada setiap makhluk.”45
Penutupan kemungkinan dalam menggunakan majaz untuk memahami Hadis, dan berhenti hanya pada aspek tekstualitas Hadis hanya akan menghalangi para pelajar dan peneliti Hadis kontemporer dan buruknya, terjadinya keraguan terhadap teks-teks Hadis sebab tidak dapat dijangkau oleh nalar.
43 M. Yusuf Qaraḍawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW (terj. Muhammad
al-Baqir), h. 173. Walaupun terkadang terjadi perbedaan penilaian apakah boleh melakukan takwil atau tidak, jika yang ditakwil adalah bahasa kiasan yang sering dipakai dan langsung dipahami apa maksudnya secara ḍarūriyyah, maka pentakwilan tersebut bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. Sebab, adakalanya sesuatu yang dianggap mustahil secara akal, menurut sebagian orang atau kelompok, bisa saja justru dapat dipahami dengan baik oleh orang atau kelompok lain.
44 Hadis nomor 1811 dalam Muḥammad Fu’ad ibn ʻAbd al-Bāqī, al-Lu’lu’u wa al-Marjān
fīmā Ittafaqa ʻAlaihi al-Syaikhān, juz. III, Dār Iḥyā’ al-Kutub ʻArabiyyah, Kairo, 1986, h. 292.
45 Abu Bakr ibn al-ʻArabi dalam M. Yusuf Qaraḍawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi