• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kerangka Teori

3. Majelis Ulama Indonesia (MUI)

1 Pasal 1 angka 8, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

2 Pasal 1 ayat (1) PERDA Kota Malang Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Pengawasan, Pengendalian dan Pelarangan Penjualan Minuman Beralkohol.

Majelis Ulama Indonesia (disingkat MUI; Arab: يسينوذنلإا ءاملعلا سلجم Majlis al-ʿUlama' al-Indunīsī) adalah lembaga independen yang mewadahi para ulama, zuama, dan cendikiawan Islam untuk membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada 17 Rajab 1395 Hijriah atau 26 Juli 1975 Masehi di Jakarta, Indonesia. Sesuai dengan tugasnya, MUI membantu pemerintah dalam melakukan hal-hal yang menyangkut kemaslahatan umat Islam, seperti mengeluarkan fatwa dalam kehalalan sebuah makanan, penentuan kebenaran sebuah aliran dalam agama Islam, dan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seorang muslim dengan lingkungannya.3

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Sejauh penelusuran referensi yang dilakukan penulis, ada beberapa penelitian yang sedikit banyaknya meneliti tentang implementasi Peraturan Daerah tentang Minuman Beralkohol yaitu:

1. Sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2013 tentang larangan, pengawasan, penertiban dan penjualan minuman beralkohol saat diterbitkan/disahkan langsung dilakukan sosialisasi oleh pihak satpol PP, kemudian dalam pelaksanaannya sosialisasi tersebut sudah berjalan dengan baik. Adapun Sosialisasi yang dilakukan dalam bentuk himbauan atau pemberitahuan kepada masyarakat secara langsung, serta adapula dalam bentuk media radio, TV, koran dan juga baliho. Hanya saja sosialisasi yang dilakukan hanya sekali saja setelah itu tidak ada lagi sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Satpol PP sehingga mengakibatkan kurang efektifnya sosialisasi yang ada. (Rizmalani Syawitri, Judul skripsi Implementasi Kebijakan tentang Larangan, Pengawasan, Penertiban dan Penjualan Minuman Beralkohol di Kawasan Citra Niaga Kota Samarinda, (Thn 2015)).

2. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan pelaksanaan ketentuan pidana peraturan daerah kota malang dalam pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol, serta mendiskripsikan kendala dan upaya yang dihadapi oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kota Malang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan yurisdis sosiologis. Data yang digunakan ialah data primer

dan data sekunder yang diperoleh dari Satuan Polisi Pamong Praja Kota Malang. Pada hasil penelitian dapat diketahui bahwa pelaksanaan ketentuan sanksi pidana peraturan daerah terbukti masih lemah. Sanksi yang kurang tegas dan sangat ringan yang diberikan kepada pelanggar-pelanggar penjualan minuman beralkohol. Banyak pelanggaran-pelanggaran yang ditemui, penjualnya hanya dikenakan denda sebesar Rp. 500.000,-. Banyak upaya yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja kota Malang untuk menegakan peraturan daerah kota Malang, namun upaya tersebut mengalami berbagai kendala. Seharusnya Pemda kota Malang mengganti Perda kota Malang yang sudah ada dilakukan oleh Pemda kota Cirebon yang menerbitkan Perda kota Cirebon No. 4 tahun 2013 tentang Pelarangan dan Penjualan minuman beralkohol di kota Cirebon. Dalam Perda ini melarang penjualan dan peredaran minuman beralkohol sampai kadar 0%. (Guruh Hidayat, Judul skripsi Problematik Ketentuan Pidana Peraturan Daerah Kota Malang Dalam Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol (Studi di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Malang) (Thn 2014)).

B. Kerangka Teori

1. Teori Efektivitas Hukum

Hukum sebagai kaidah merupakan patokan mengenai sikap, tindak atau perilaku yang pantas. Metode berpikir yang dipergunakan adalah metode deduktif-rasional, sehingga menimbulkan jalan pikiran yang dogmatis. Di lain pihak ada yang memandang hukum sebagai sikap tindak atau perilaku yang teratur. Metode berpikir yang digunakan

adalah induktif-empiris, sehingga hukum itu dilihatnya sebagai tindak yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama, yang mempunyai tujuan tertentu.4

Efektivitas hukum dalam tindakan atau realita hukum dapat diketahui apabila seseorang menyatakan bahwa suatu kaidah hukum berhasil atau gagal mencapai tujuan, maka hal itu biasanya diketahui apakah pengaruhnya berhasil mengatur sikap tindak atau perilaku tertentu sehingga sesuai dengan tujuannya atau ridak. Salah satu upaya yang biasanya dilakukan agar supaya masyarakat mematuhi kaidah hukum adalah dengan mencantumkan sanksi-sanksinya. Sanksi-sanksi tersebut bisa berupa sanksi negatif atau sanksi positif, yang maksudnya adalah menimbulkan rangsangan agar manusia tidak melakukan tindakan tercela atau melakukan tindakan yang terpuji.

Diperlukan kondisi tertentu yang harus dipenuhi agar hukum mempunyai pengaruh terhadap sikap tindak atau perilaku manusia. Kondisi-kondisi yang harus ada adalah antara lain bahwa hukum harus dapat dikomunikasikan. Komunikasi hukum lebih banyak tertuju pada sikap merupakan suatu kesiapan mental sehingga seseorang mempunyai kecenderungan untuk memberikan pandangan yang baik atau buruk, yang kemudian terwujud dalam perilaku nyata.

Apabila yang dikomunikasikan tidak bisa menjangkau masalah0masalah yang secara langsung dihadapi oleh sasaran komunikasi, maka akan dijumpai kesulitan-kesulitan. Hasilnya yaitu hukum tidak punya pengaruh sama sekali atau bahkan mempunyai pengaruh yang negatif. Hal itu disebabkan oleh karena kebutuhan mereka tidak dapat dipenuhi dan dipahami, sehingga mengakibatkan terjadinya frustasi, tekanan atau bahkan konflik.

4 Soerjono Soekanto, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: Rajawali Press, 2010), h. 14.

Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas hukum menurut Soerjono Soekanto, antara lain:5

1. Faktor hukumnya sendiri

Hukum berfungsi untuk keadilan, kepastian dan kemanfaatan. Dalam praktik penyelenggaraan hukum di lapangan ada kalanya terjadi pertentangan antara kepastian dan keadilan. Kepastian hukum sifatnya kongkret berwujud nyata, sedangkan keadilan bersifat abstrak sehingga ketika seseorang hakim memutuskan suatu perkara secara penerapan undang-undang saja, maka ada kalanya nilai keadilan itu tidak tercapai. Maka, ketika melihta suatu permasalahan mengenai hukum setidaknya keadilan menjadi prioritas utama.. karena hukum tidaklah semata-mata dilihat dari sudut hukum tertulis saja. Masih banyak aturan-aturan yang hidup dalam masyarakat yang mampu mengatur kehidupan masyarakat. Jika hukum tujuannya hanya sekedar keadilan, maka kesulitannya karena keadilan itu bersifat subjektif, sangat tergantung pada nilai-nilai intrinsik subjektif orang.

2. Faktor penegak hukum

Faktor ini meliputi pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum atau law enforcement. Bagian-bagian law enforcement itu adalah aparatur penegak hukum yang mampu memberikan kepastian, keadilan dan kemanfaatan hukum secara proporsional. Aparatur penegak hukum yang mampu memberikan kepastian, keadilan dan kemanfaatan hukum secara proporsional. Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai

5 Soerjono Soekanto, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: Rajawali Press, 2010), h. 17.

institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum, sedangkan aparat penegak hukum dalam arti sempit dimulai dari kepolisian, kejaksaan, kehakiman, penasihat hukum dan petugas sipir lembaga pemasyarakatan. Setiap aparat dan aparatur diberikan kewenangan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, yang meliputi kegiatan penerimaan laporan, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pembuktian, penjatuhan vonis dan pemberian sanksi serta pembinaan kembali terpidana.

Secara sosiologis, setiap aparat penegak hukum tersebut mempunyai kedudukan (status) dan peranan (role). Kedudukan sosial merupakan posisi tertentu di dalam struktur kemasyarakatan. Kedudukan tersebut merupakan peranan atau role, oleh karena itu seseorang yang mempunyai kedudukan tertentu, lazimnya mempunyai peranan. Suatu hak merupakan wewenang untuk berbuat dan tidak berbuat, sedangkan kewajiban adalah beban atau tugas. Suatu peranan tertentu dapat di jabarkan dalam unsur-unsur sebagai berikut:

1) Peranan yang ideal/ideal role;

2) Peranan yang seharusnya/ expected role;

3) Peranan yang dianggap oleh diri sendiri/perceived role; dan 4) Peranan yang sebenarnya dilakukaan/actual role.

Penegak hukum dalam menjalankan perannya tidak dapat berbuat sesuka hati mereka juga harus memperhatikan etika yang berlaku dalam lingkup profesinya. Etika memperhatikan atau mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral. Dalam profesi penegak hukum

sendiri, mereka telah memiliki kode etik yang diatur tersendiri, tapi dalam praktiknya kode etik yang telah ditetapkan dan disepakati itu masih banyak di langgar oleh para penegak hukum. Akibat perbuatan-perbuatan para penegak hukum yang tidak memiliki integritas bahkan dapat dikatakan tidak beretika dalam menjalankaan profesinya, sehingga mengakibatkan lambatnya pembangunan hukum yang diharapkan oleh bangsa ini, bahkan menimbulkan pikiran-pikiran negatif dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap kinerja penegak hukum.

Ada tiga alasan penting yang mempengaruhi mekanisme bekerjanya aparat dan aparatur penegak hukum, antara lain:

1) Institusi penegak hukum beserta berbagai perangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya;

2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya, termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya; dan

3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja, baik hukum materilnya maupun hukum acaranya. Upaya penegakkan hukum secara sistemaatik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan, sehingga proses penegakkan hukum dan keadilan secara internal dapat diwujudkan secara nyata.

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum

Fasilitas pendukung secara sederhana dapat dirumuskan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Ruang lingkupnya terutara adalah sarana fisik yang

berfungsi sebagai faktor pendukung. Fasilitas pendukung mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup dan sebagainya.

4. Faktor masyarakat

Penegakkan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian didalam masyarakat. Masyarakat mempunyai pendapat-pendapat tertentu mengenai hukum sangat berfariasi antara lain:

1) Hukum diartikan sebagai ilmu pengetahuan;

2) Hukum diartikan sebagai disiplin, yakni sistem ajaran tentang kenyataan;

3) Hukum diartikan sebagai norma atau kaidah, yakni patokan perilaku pantas yang diharapkan;

4) Hukum diartikan sebagai tata hukum (yakni hukum positif tertulis); 5) Hukum diartikan sebagai petugas atau pejabat;

6) Hukum diartikan sebagai keputusan pejabat atau penguasa; 7) Hukum diartikan sebagai proses pemerintahan;

8) Hukum diartikan sebagai perilaku teratur dan unik; 9) Hukum diartikan sebagai jalinan nilai;

10) Hukum diartikan sebagai seni.

Berbagai pengertian tersebut di atas timbul karena masyarakat hidup konteks yang berbeda, sehingga yang seharusnya dikedepankan adalah keserasiannya, hal ini bertujuan supaya ada titik tolak yang sama. Masyarakat juga mempunyai kecenderungan yang besar untuk mengartikan hukum dan

bahkan mengidentifikasi dengan petugas (dalam hal ini adalah penegak hukum adalah sebagai pribadi).

5. Faktor kebudayaan

Faktor kebudayaan sebenarnya bersatu padu dengan faktor masyarakat sengaja dibedakan, karena di dalam pembahasannya di ketengahkan masalah sistem nilai-nilai yang menjadi inti dari kebudayaan spiritual atau non material. Hal ini dibedakan sebab sebagai suatu sistem (atau sub-sistem dari sistem kemasyarakatan), maka hukum menyakup struktur, substansi dan kebudayaan. Struktur mencakup wadah atau bentuk dari sistem tersebut yang umpamanya, menyakup tatanan lembaga-lembaga hukum formal, hukum antar lembaga-lembaga tersebut, hak-hak dan kewajiban-kewajibannya dan seterusnya. Kebudayaan (sistem) hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai yang merupakan konsepsi-konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (hingga dianuti) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari). Nilai-nilai tersebut, lazimnya merupakan pasangan nilai-nilai yang mencerminkan dua keadaan estrim yang harus diserasikan.

Pasangan nilai yang berperan dalam hukum menurut Soerdjono Soekanto adalah sebagai berikut:

1) Nilai ketertiban dan nilai ketentraman;

2) Nilai jasmaniah / kebendaan dan nilai rihaniah / ke-akhlakan.

Dengan adanya keserasian nilai dengan kebudayaan masyarakat setempat diharapkan terjalin hubungan timbal balik antara hukum adat dan hukum positif di Indonesia, dengan demikian ketentuan dalam pasal-pasal hukum tertulis dapat mencerminkan nilai-nilai yang menjadi dasar dari hukum adat supaya hukum perundang-undangan tersebut dapat berlaku secara efektif. Kemudian diharapkan juga adanya keserasian antar kedua nilai tersebut akan menempatkan hukum pada tempatnya.

Efektivitas mengandung arti keefektifan pengaruh efek keberhasilan atau kemanjuran/kemujaraban, membicarakan keefektifan hukum tentu tidak terlepas dari penganalisisan terhadap karakteristik dua variabel terkait yaitu: karakteristik/dimensi dari obyek sasaran yang dipergunakan.6 Ketika berbicara sejauh mana efektivitas hukum maka kita pertama-tama haru dapat mengukur sejauh mana aturan hukum itu ditaati atau tidak ditaati. Jika suatu aturan hukum ditaati oleh sebagian besar target yang menjadi sasaran ketaatannya maka akan dikatakan aturan hukum yang bersangkutan adalah efektif7 Derajat dari efektivitas hukum menurut Soerjono Soekanto, ditentukan oleh taraf kepatuhan masyarakat terhadap hukum, termasuk para penegak hukumnya, sehingga dikenal asumsi bahwa, ”taraf kepatuhan yang tinggi adalah indikator suatu berfungsinya suatu sistem hukum. Dan berfungsinya hukum merupakan pertanda hukum tersebut mencapai tujuan hukum yaitu berusaha untuk mempertahankan dan melindungi masyarakat dalam pergaulan hidup.”8

6 Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, ctk Ketiga, (Bandung: Citra Aditya, 2013) h. 67.

7 Salim,H.S dan Erlis Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Tesis dan Disertasi, Edisi Pertama, cetakan ke-1, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 375.

Beberapa pendapat mengemukakan tentang teori efektivitas seperti Bronislav Molinoswki, Clerence J Dias, Allot dan Murmer. Bronislav Malinoswki mengemukakan bahwa teori efektivitas pengendalian sosial atau hukum, hukum dalam masyarakat dianalisa dan dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Masyarakat modern; 2) Masyarakat primitif,

Masyarakat modern merupakan masyarakat yang perekonomiannya berdasarkan pasar yang sangat luas, spesialisasi di bidang industri dan pemakaian teknologi canggih,didalam masyarakat modern hukum yang di buat dan ditegakan oleh pejabat yang berwenang9

Pandangan lain tentang efektivitas hukum oleh Clerence J Dias mengatakan bahwa:

“An effective legal sytem may be describe as one in which there exists a high degree of congruence between legal rule and human conduct. Thus and aneffective legal sytem will be characterized by minimal disparyti between the formal legal system and the operative legal system is secured by:

1) The intelligibility of it legal system;

2) High level public knowlege of the conten of the legal rules; 3) Efficient and effective mobilization of legal rules:

a) A commited administration; and

b) Citizen involvement and participation in the mobilization process.

4) Dispute sattelment mechanisms that are both easily accessible to the public and effective in their resolution of disputes; and 5) A widely shere perception by individuals of the effectiveness of

the legal rules and institutions.10

Pendapat tersebut dijelaskan Clerence J Dias dalam Marcus Priyo Guntarto, terdapat 5 (lima) syarat bagi efektif tidaknya satu sistem hukum meliputi:11

1) Mudah atau tidaknya makna isi aturan-aturan itu ditangkap; 2) Luas tidaknya kalangan di dalam masyarakat yang mengetahui

isi aturan-aturan yang bersangkutan;

3) Efisien dan efektif tidaknya mobilisasi aturan-aturan hukum dicapai dengan, bantuan aparat administrasi yang menyadari melibatkan dirinya kedalam usaha mobilisasi yang demikian, dan para warga masyrakat yang terlibat dan merasa harus berpartisipasi dalam proses mobilisasi hukum;

4) Adanya mekanisme penyelesaian sengketa yang tidak hanya harus mudah dihubungi dan dimasukan oleh setiap warga masyarakat, akan tetapi harus cukup effektif menyelesaikan sengketa;

5) Adanya anggapan dan pengakuan yang cukup merata di kalangan warga masyarakat yang beranggapan bahwa

10 Clerence J.Dias. Research on Legal Service And Poverty: its Relevance to the Design of Legal Service Program in

Developing Countries, Wash. U.L. Q 147 (1975). P. 150.

11 Clerence J.Dias. Research on Legal Service And Poverty: its Relevance to the Design of Legal Service Program in

atauran dan pranata-pranata hukum itu memang sesungguhnya berdaya mampu efektif.

Dalam bukunya achmad ali yang dikutip oleh Marcus Priyo Guntarto yang mengemukakan tentang keberlakuan hukum dapat efektif apabila :

1) Relevansi aturan hukum dengan kebutuhan orang yang menjadi target;

2) Kejelasan dari rumusan subtansi aturan hukum, sehingga mudah dipahami oleh orang yang menjadi target hokum

3) Sosialisasi yang optimal kepada semua orang yang menjadi target hokum;

4) Undang-undang sebaiknya bersifat melarang, bukan bersifat mengharuskan. Pada umumnya hukum prohibitur lebih mudah dilaksanakan daripada hukum mandatur;

5) Sanksi yang akan diancam dalam undang-undang harus dipadankan dengan sifat undang-undang yang dilanggar, suatu sanksi yang tepat untuk tujuan tertentu, mungkin saja tidak tepat untuk tujuan lain. Berat sanksi yang diancam harus proporsional dan memungkinkan untuk dilaksanakan.12

Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa dalam sosiologi hukum masalah kepatuhan atau ketaatan hukum terhadap kaidah-kaidah hukum pada

12 Salim H.S dan Erlies Septiana Nurbaini, Penerapan Teori Hukum Pada Tesis dan Disertasi, Edisi Pertama, cetakan ke-1, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 308.

umumnya telah menjadi faktor yang pokok dalam mengukur efektif tidaknya sesuatu yang ditetapkan dalam hukum ini.13

Efektivitas Hukum yang dikemukakan oleh Anthoni Allot sebagaimana dikutip Felik adalah Hukum akan menjadi efektif jika tujuan keberadaan dan penerapannya dapat mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan dapat menghilangkan kekacauan. Hukum yang efektif secara umum dapat membuat apa yang dirancang dapat diwujudkan. Jika suatu kegelapan, maka kemungkinan terjadi pembetulan secara gampang jika terjadi keharusan untuk melaksanakan atau menerapkan hukum dalam suasana baru yang berbeda, hukum akan sanggup menyelsaikan.14

Keberlakuan hukum berarti bahwa orang bertindak sebagaimana seharusnya sebagai bentuk kepatuhan dan pelaksana norma jika validitas adalah kualitas hukum, maka keberlakuan adalah kualitas perbuatan manusia sebenaranya bukan tentang hukum itu sendiri.15 Selain itu wiiliam Chamblish dan Robert B seidman mengungkapkan bahwa bekerjanya hukum dimasyarakat dipengaruhi oleh all other societal personal force (semua ketakutan dari individu masyarakat) yang melingkupi seluruh proses.16

Studi efektivitas hukum merupakan suatu kegiatan yang memperlihatkan suatu strategi perumusan masalah yang bersifat umum, yaitu suatu perbandingan antara realitas hukum dan ideal hukum, secara khusus terlihat

13 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatau pengantar, (Bandung: Rajawali Pers, 1996), h. 20.

14 Salim H.S dan Erlies Septiana Nurbaini, Penerapan Teori Hukum Pada Tesis dan Disertasi, Edisi Pertama, cetakan ke-1, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 3.

15Hans Kelsen, General Teory of Law and State, Translete by Anders Wedberg , New York: Russel and Russel , 1991, dikuitip dari Jimly Ashidiqqie dan M ali Safa‟at, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, cetakan ke-2, (Jakarta: Konstitusi Press, 2012), h. 39-40.

jenjang antara hukum dalam tindakan (law in action ) dengan hukum dalam teori (law in theory) atau dengan kata lain kegiatan ini akan memperlihatkan kaitannya antara law in the book dan law in action. Bustanul Arifin yang dikutip oleh Raida L Tobing dkk, mengatakan bahwa dalam negara yang berdasarkan hukum, berlaku efektifnya sebuah hokum apabila didukung oeh tiga pilar, yaitu:

a) Lembaga atau penegak hukum yang berwibawa dapat diandalkan;

b) Peraturan hukum yang jelas sistematis; c) Kesadaran hukum masyarakat tinggi.

2. Perda Kota Malang No. 5 Tahun 2006 Tentang Penjualan, Pengawasan, dan Pengendalian Minuman Beralkohol.

Salah satu produk reformasi di bidang peraturan perundang-undangan adalah Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IIIMPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan sebagai pengganti TAP MPR Nomor XX/MPRS/1966. TAP MPR Nomor III/MPR2000 tersebut sangat strategis dan urgen sebagai jawaban dari berbagai pertanyaan akademis maupun praktis berkaitan dengan eksistensi dan isi (khususnya lampiran II) TAP MPRS Nomor IIIMPR/2000 yang menentukan:

Tata urutan peraturan perundang-undangan merupakan pedoman dalam pembuatan aturan hukum di bawahnya. Tata urutan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia adalah:

2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia; 3) Undang-Undang;

4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU); 5) Peraturan Pemerintah;

6) Keputusan Presiden; 7) Peraturan Daerah.

Konsekuensi dari ketentuan Pasal 2 TAP MPR NOMOR III/MPR/2000 tersebut adalah, bahwa setiap peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Sehubungan dengan tata urutan peraturan perundang-undangan. Apabila ternyata peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tingkatannya bertentangan dengan yang lebih tinggi, maka peraturan perundang-undangan yang lebih rendah, batal demi hukum atau dapat dibatalkan sesuai dengan mekanisme yang berlaku.17

Salah satu yang menarik dari ketentuan Pasal 2 TAP MPR NOMOR III/MPR2000 adalah Peraturan Daerah (Perda) yang dimuat secara eksplisit sebagai tata urutan yang paling bawah dari peraturan perundang-undangan Republik Indonesia. Perda yang dalam TAP MPRS NOMOR XX/MPRS 1966 tidak dimuat secara eksplisit, tetapi dalam TAP MPR NOMOR III/MPR/2000 dimuat secara eksplisit. Hal ini menandakan suatu era baru dimana otonomi daerah yang seluas-luasnya, nyata dan bertanggung jawab diakui eksistensinya dalam berbagai peraturan perundang-undangan, baik dalam Perubahan Kedua UUD 1945 maupun TAP MPR NOMOR IIIMPR/2000.

Perda sebagai salah satu bentuk/jenis peraturan perundang-undangan yang merupakan sub-sistem peraturan perundang-undangan (hukum) nasional. Artinya, suatu Perda tidak lepas dari asas dan sistem hukum (peraturan perundang-undangan) nasional. Walaupun, Perda hanya berlaku untuk daerah tertentu di wilayah Republik Indonesia, namun PERDA tersebut baik secara asas hukum maupun hierarki, tunduk kepada asas-asas hukum yang berlaku umum di Indonesia. Dengan demikian bangsa Indonesia khususnya penyelenggara Pemerintah Daerah harus membuang jauh-jauh pikiran bahwa Perda itu lepas dari konteks atau koridor sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.18

Persepsi mengenai Perda sebagaimana dikemukakan diatas membawa konsekuensi, bahwa penyusunan dan perancangan (suncang) Perda harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

Dokumen terkait