• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makanan Berformalin Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Makanan Berformalin Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen

Salah satu isu yang merebak industri makanan dan minuman di Indonesia adalah isu makanan yang mengandung formalin. Formalin adalah sejenis xat kimia yang dapat digunakan sebagai bahan pengawet. Akan tetapi formalin bukanlah bahan pengawet makanan. Bahan pengawet memang dibutuhkan guna mencegah pembusukan makanan ketika sedang diolah dan kemudian dikemas atau disimpan9. Kebanyakan produk makanan yang mengandung formalin adalah produk dari home industry10. Ini karena sebagian pelaku home industry tidak terdaftar11.

Bahan tambahan pangan yang aman adalah bagian dari konsekuensi kehidupan modern. Bahan-bahan tersebut telah disetujui sebagai bahan tambahan pangan yang dikategorikan aman bagi kesehatan manusia, baik oleh BPPOM maupun badan otoritas internasional dalam keamanan pangan seperti : FDA (Badan Administrasi Pangan dan Obat di AS), EU (Uni Eropa), FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian), WHO (Badan Kesehatan Dunia), CODEX (Badan Standarisasi Pangan Internasional)12.

      

  9 Nancy Long, 2006, Panduan Makanan Sehat Mengenali Bahan Zat Adiktif Racun dan Nutrisi Dalam Makanan, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, hlm. 154.

10 Anonim, Selasa, 27 Desember 2005, 56 Jenis Makanan Mengandung Formalin, www.republika.co.id, diakses pada 24 Desemmber 2008.

11 Ibid. 

  12  Situs Resmi KADIN INDONESIA Indonesian Chamber of Commerce and Industry.

www.google.co.id, diakses pada 24 Desember 2008. 

13 Formalin adalah larutan senyawa kimia yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Formalin banyak digunakan untuk bahan pembunuh hama (disenfektan), industry, sebagai insektisida, serta bahan baku pabrik-pabrik resin plastic dan bahan peledak. Larutan ini memang berfungsi sebagai bahan pengawet namun bukan pengawet makanan melainkan pengawet kosmetik. Namun kenyataannya banyak bahan makanan di pasaran yang mengandung pengawet formalin. Melalui sejumlah survey dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan yang menggunakan formalin sebagai pengawet13. Praktek yang salah seperti ini dilakukan oleh produsen atau pengelola pangan yang tidak bertanggung jawab. Beberapa contoh produk yang sering diketahui mengandung formalin misalnya

1. Ikan segar : ikan basah yang warnanya putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua (bukan merah segar), awet sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk.

2. Ayam potong : ayam yang sudah dipotong berwarna putih bersih, awet, dan tidak mudah busuk.

3. Mie basah : mie basah yang awet sampai beberapa hari dan tidak mudah basi dibandingkan dengan yang tidak mengandung formalin.

4. Tahu : tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet beberapa hari dan tidak mudah basi14.

Penggunaan formalin dalam bahan makanan sesungguhnya melanggar ketentuan dalam pengaturan pangan di Indonesia. Pasal 10 ayat (1)       

13 Anonim, Formaldehida, “http://id.wikipedia.org/wiki/Formaldehida’’, diakses pada 24 Desember 2008.

  14 Ibid.

14 UU No. 20 Tahun 1996 Tentang Pangan disebutkan bahwa setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan bahan apa pun sebagai bahan tambahan pangan yang dinyatakan terlarang atau melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan. Produksi makanan seharusnya berlandaskan pada syarat keamanan pangan. Artinya makanan yang diproduksi tidak membahayakan kesehatan manusia.

Formalin pada makanan menimbulkan bahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan15.

Dalam jangka pendek apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah, dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pancreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Dalam jangka pangjang jika tertelan maka akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan

      

15 Dr. Widodo Judarwanto SpA, Pengaruh Formalin Bagi Sistem Tubuh, Situs Puterakembara Rumah Sakit Bunda Jakarta melalui www.google.co.id, diakses pada 24 Desember 2008.

15 kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada16.

Begitu besar dan rentanya masalah makanan yang mengandung formalin maka permasalahan ini harus diselesaikan secara hukum. Disinilah hukum dengan sanksinya menjadi alat pemaksa. Produsen atau penyalur makanan yang tidak sesuai dengan standar makanan sehat yang telah ditetapkan wajib diberikan sanksi karena akibat yang ditimbulkan bukan hanya berdampak bagi satu atau dua orang melainkan berdampak luas bagi masyarakat yang sudah terlanjur mengkonsumsi makanan tersebut.

Adanya makanan-makanan yang tidak layak untuk dikonsumsi seperti makanan berformalin membawa kerugian bagi konsumen. Konsumen di sini menjadi korban lebih dari sekali. Selain harus mengeluarkan uang untuk membeli makanan tersebut, konsumen juga harus menegak racun ke dalam tubuh dan nantinya akan mengeluarkan uang sekali lagi untuk berobat ke dokter. Konsumen di Indonesia harus berani membela hak-haknya apabila merasa telah dirugikan oleh pelaku usaha17. Oleh sebab itu diperlukan suatu peraturan hukum yang memberikan perlindungan terhadap konsumen. Di Indonesia perlindungan terhadap konsumen diatur dalam UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Kehadiran Undang-Undang Perlindungan Konsumen secara umum sekurang-kurangnya dapat dilihat dari berbagai perspektif yakni :

      

  16 Anonim, Formalin dan Bahayanya, www.republika.co.id, diakses pada 24 Desember 2008.

17 Anonim, 25/10/2005, Konsumen Harus Berani Membela Haknya, www.lkht.net, diakses pada 24 Desember 2008

16 1. Sebagai symbol kebangkitan hak-hak sipil. Hak-hak konsumen pada

dasarnya juga adalah hak-hak sipil masyarakat. Karena itu, dengan adanya UU Perlindungan Konsumen, berarti hak-hak sipil masyarakat akan terjamin, terlindungi dan terawasi dengan baik.

2. Merupakan penjabaran lebih detail dari hak asasi manusia, lebih khusus lagi hak-hak ekonomi. Sebagai bagian dari hak asasi manusia, keberadaan UU perlindungan konsumen tidak dapat dilepaskan dari doktrin-doktrin Hak Asasi Manusia yang berlaku secara universal18.

Dalam UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen diatur mengenai hukum material dan hukum hukum formalnya. Dalam hukum materialnya diatur mengenai pengawasan terhadap :

1. Pelabelan 2. Periklanan

3. Metode pemasaran 4. Klausula baku

5. Sanksi dan tanggung jawab pelaku usaha

Sedangkan dalam hukum formalnya diatur mengenai : 1. Hak gugat lembaga konsumen / legal standing 2. Gugatan konsumen kelompok / class action 3. Beban pembuktian terbalik.

Suatu realita, dalam sengketa konsumen, posisi para pihak tidak seimbang, baik dari segi social ekonomi maupun politik. Tidak setaranya       

18 Sudaryatmo, 2006, Panduan Bantuan Hukum di Indonesia (Pedoman Anda Memahami dan Menyelesaikan Masalah Hukum) dalam pembahasan Hak-Hak Konsumen, YLBHI dan PSHK, Jakarta, hlm. 260-261.

17 kedudukan tersebut, telah membawa kecenderungan terjadinya eksploitasi antara pihak yang kuat (produsen) kepada pihak yang lemah (konsumen)19. Maka untuk menyeimbangkan posisi antara konsumen yang selama ini selalu berada dalam posisi yang lemah, maka sengketa konsumen dapat ditempuh melalui legal standing yaitu pemberian hak bagi lembaga konsumen untuk mewakili kepentingan kelompok yang dirugikan dengan atau tanpa surat kuasa dari konsumen yang dirugikan.

Beban pembuktian terbalik dilakukan ketika konsumen menuntut ganti rugi namun konsumen tentunya tidak mudah membuktikan hal-hal yang sifatnya teknik, maka dalam hal ini produsenlah yang wajib membuktikan ada tidaknya bahan berbahaya seperti formalin dalam suatu makanan. Timbulnya mekanisme penyelesaian dalam bentuk legal standing maupun beban pembuktian terbalik berdasarkan pada pemikiran mengenai hak-hak konsumen yakni hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/ atau jasa sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 4 UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Dalam kepustakaan ekonomi dikenal istilah konsumen akhir dan konsumen antara. Konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk (end user). Konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk sebagai bagian dari proses produksi suatu produk lainnya20. Pengertian konsumen dalam UU Perlindungan Konsumen adalah Konsumen akhir.

      

19 Sudaryatmo. 1996. Masalah Perlindungan Konsumen di Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm.45.

  20 Ibid.

18 Menurut Pasal 10 UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen serta penerapan ketentuan peraturan perundang-undangannya diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat, dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah dilaksanakan oleh Menteri dan/atau Menteri teknis terkait. Untuk membantu pemerintah dalam melakukan pengawasan dan pembinaan langsung terhadap produk makanan yang beredar di pasaran maka pemerintah telah membentuk Badan Perlindungan Konsumen Nasional yang mempunyai tugas :

1. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijaksanaan di bidang Perlindungan Konsumen;

2. Melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang perlindungan konsumen;

3. Melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut keselamatan konsumen;

4. Mendorong berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat;

5. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen;

6. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat, atau pelaku usaha;

7. Melakukan survey yang menyangkut kebutuhan konsumen.

Dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen disebutkan mengenai keberadaan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat.

19 Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat adalah lembaga non pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh pemerintah yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen. Lembaga ini dapat melakukan pengawasan sebagai upaya preventif untuk mencegah peredaran makanan yang mengandung formalin.

Perlindungan terhadap konsumen khususnya dalam upaya penyediaan makanan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melalui cara preventif dan cara represif. Cara preventif ditempuh dengan pembinaan dan pengawasan terhadap penggunaan bahan pengawet pada makanan sedangkan cara represif dilakukan dengan pemberian sanksi hukum terhadap pelaku usaha. Adapun upaya-upaya penyelesaian sengketa antara konsumen dengan pelaku usaha adalah :

Penyelesaian secara litigasi dilakukan dengan mengajukan gugatan oleh pihak-pihak yang berwenang mengajukan gugatan yaitu :

1. Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan;

2. Sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan sama;

Upaya Penyelesaian Sengketa

Litigasi Non Litigasi

Penyelesaian Secara Perdata

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

20 3. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi

syarat, yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya;

4. Pemerintah dan/atau instasi terkait apabila barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit.

Gugatan ini diajukan ke pengadilan negeri sesuai dengan kompetensi pengadilan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 118 HIR dan 142 RBg.

Walaupun UU Perlindungan Konsumen telah secara tegas mengatur bentuk-bentuk perlindungan konsumen namun peredaran makanan yang mengandung formalin tetap ada. Bahkan makanan yang pada tes awal dinyatakan bersih dari bahan pengawet yang membahayakan namun tiba-tiba fakta makanan yang mengandung formalin kembali ditemukan. Hal ini setidaknya menjadi cermin betapa lemah pelaksanaan dari Undang-Undang tersebut.

4.2 Penyelesaian Kasus Makanan Berformalin Melalui Gugatan Perwakilan

Dokumen terkait