Anemon laut tergolong binatang yang dapat memakan binatang apa saja yang hidup di laut, namun ia lebih bersifat karnivora. Jenis makanan yang bisa disantap adalah moluska, krustasea, ikan, dan berbagai
invertebrata lainnya. Juga detritus, feses, dan bahan organik. Anemon yang dipelihara dalam aquarium dapat diberi pakan plankton yang diawetkan (liquit pre marine atau liquit food) (Barnes, 1963; Storer et.al., 1968; Nurachmad dan Sumadiyo, 1992; Mandiro,1993; dan Nurachmad, 1993). Sedangkan menurut Allen (1975), makanan anemon laut antara lain, detritus, feses, dan bahan organik. Menurut Fautin dan Allen (1997), anemon menangkap dan mencerna mangsanya dengan nematocyst. Ditemukan ikan kecil, bulu babi, berbagai krustasea (udang dan kepiting) dalam coelenteron anemon. Meskipun energi berasal dari fotosintesis cukup untuk kehidupannya, anemon membutuhkan sulfur, nitrogen, unsur-unsur lainnya untuk tumbuh dan melakukan reproduksi. Menurut Storer et.al., (1968), mangsa atau makanan ditangkap oleh tentakel dengan bantuan nematocyst yang dapat melumpuhkan mangsanya. Ada pula beberapa obyek yang langsung terpegang oleh mulut. Mulut dan kerongkongannya dapat membuka dengan lebar sesuai kebutuhannya. Makanannya dicerna dalam ruang gastrovascular dengan bantuan enzim yang disekresikan kemudian diserap oleh gastrodermis. Sisa-sisa makanan yang tidak dicerna dibuang melalui mulutnya.
Menurut Shimek (2006), anemon laut merupakan predator yang bergerak lambat. Mereka menunggu hingga kontak dengan mangsanya. Ada korelasi antara tipe atau tingkah laku mangsa dan morfologi predator. Sebagai contoh, Entacmaea quadricolor memiliki tentakel yang relatif besar pada bagian atasnya sehingga dapat menemukan mangsa yang berenang secara planktonik. Faktor tambahan lainnya dalam makanan meliputi racun nematocyst yang digunakan untuk menangkap mangsa dan keperluan enzim untuk pencernaan.
D. Reproduksi
Reproduksi anemon laut umumnya dilakukan baik secara seksual maupun aseksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara memutuskan bagian kakinya, yaitu bagian dari lingkar kaki yang ditinggalkan pada saat binatang tersebut berpindah tempat. Jenis anemon lain dengan cara merangkak perlahan ke arah yang berlawanan hingga tubuhnya terputus menjadi dua bagian. Bagian tersebut kemudian membulat dan hidup menjadi anemon-anemon baru (Barnes, 1963 dan McConnaughey and Zottoli, 1983). Tiga jenis anemon laut dari famili Stichodactylidae melakukan reproduksi secara aseksual dengan pembelahan longitudinal dan transversal. Ketiga jenis anemon ini adalah Stichodactyla
helianthus, Entacmaea quadricolor (longitudinal) dan Heteractis maginifica (transversal) (Dunn, 1981).
Sedangkan reproduksi seksual terjadi di dalam air. Sperma dan telur keluar melalui mulut dan bersatu membentuk zigot kemudian berkembang menjadi larva. Larva ini akan berenang dan mencari makan sendiri hingga akhirnya melekat di dasar sebagai bentik dan tumbuh menjadi anemon dewasa (Boolootian and Stiles, 1976). Anemon laut dapat juga bersifat hermaprodit. Telur dan sperma dari jenis yang hermaprodit ini dihasilkan dari gonad-gonad yang terletak dalam
gastroderm pada waktu yang berbeda. Peristiwa ini
dikenal sebagai protandri dan umum terjadi pada invertebrata (Barnes, 1963 dan Boolootian and Stiles, 1976).
Anemon Entacmaea quadricolor and Heteractis
crispa dapat diproduksi secara aseksual (Scott and
Harrison, 20071, 20072, 2008, 2009). Hasil penelitian reproduksi aseksual terhadap anemon Entacmaea
quadricolor and Heteractis crispa menunjukkan tingkat
89,3% dan 93,8% (dibelah menjadi dua bagian) dan 62,5% dan 80,4% (dibelah menjadi 4 bagian). Ukuran anemon yang dibelah menjadi dua bagian lebih lebih besar, lebih cepat sembuh, dan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan yang dibelah menjadi 4 bagian. (Gambar 5) (Scott et al., 2014). Anemon Entacmaea
quadricolor and Heteractis crispa memiliki jenis kelamin
terpisah dan pembuahannya dilakukan di luar tubuh secara eksternal (fertilisasi eksternal) (Scott and Harrison, 2005, 20071, 20072, 2009). Kedua jenis anemon ini juga dapat melakukan reproduksi secara aseksual dengan pembelahan secara longitudinal (Dunn, 1981). Anemon membagi tubunya dengan peregangan ke arah berlawanan, kemudian terjadi penipisan jaringan dan akhirnya tubuh terbelah (robek) tegak lurus terhadap sumbu peregangan (Stephenson, 1929 dan Mire, 1998).
Porat dan Chadwick-Furman (2005) melakukan pembelahan terhadap enam ekor Entacmaea quadricolor, masing-masing menjadi dua bagian atau dua individu. Individu anemon ini kemudian dipelihara secara bersama dengan ikan anemon di laboratorium. Hasil penelitian menemukan sebagian besar sekitar 67% hidup.
Rifa’i (1998) dan Rifa’i et al., (2003) melakukan reproduksi aseksual pada anemon Stichodactyla
gigantea dengan teknik pembelahan tubuh secara secara
longitudina) menjadi 2, dan 4 bagian, kemudian dilakukan upaya penjahitan (Gambar 10, 11, 12, 13, 14, 15) dan penyuntikan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kelangsungan hidup 75% - 100% saat dipelihara di laboratorium dan 100% saat dipelihara di lapangan. Namun antara benih yang disuntik dan tidak disuntik memiliki pengaruh yang sama terhadap sintasan. Organ penting yang harus diikutsertakan pada setiap bagian tubuh baru adalah kaki jalan (basal disc).
Gambar 10. Pemulihan tubuh Entacmaea quadricolor setelah pembelahan: (a) luka terbuka, (b) jaringan tubuh (column) menutup luka bekas pemotongan, (c)
Tubuh mulai berwarna normal, dan (d) mulut masih tertutup (Sumber foto: Scott et al., 2014)
(Rifa’i, 1998). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan terbaik juga ditemukan pada pembelahan tubuh menjadi 2 bagian dan dilakukan penjahitan selama pemeliharaan 60 hari di Laboratorium. Selanjutnya ditemukan bahwa semua benih hasil pembelahan tubuh menjadi 2, 3, dan 4 bagian, baik dijahit atau tidak terhadap luka bekas pembelahan akan menghasilkan sintasan 100% asalkan benih dipindahkan ke perairan alami segera setelah pembelahan tubuh pada kisaran waktu 0–9 hari (Gambar 16) (Rifa’i 2011).
Gambar 11. Proses pembelahan tubun anemon jenis
Stichodactyla gigantea secara artifisial (Rifa’i, 1988)
Gambar 12. Anemon laut setelah dilakukan pembelahan dan penjahitan. A = Anemon setelah dijahit, B = Anemon yang belum dijahit (Rifa’i, 1998)
Gambar 13. Teknik penjahitan tubuh anemon (Rifa’i, dkk., 2003)
Gambar 14. Kondisi tubuh anemon setelah dilakukan penjahitan (Rifa’i, dkk., 2003)
Gambar 15. Hasil pembelahan tubuh anemon menjadi 4 bagian (Rifa’i, dkk., 2003)
Gambar 16. Rata-rata sintasan (%) benih anemon laut selama 60 hari pemeliharaan di perairan Desa Teluk
Tamiang Kalimantan Selatan (Rifa’i, 2011)
0.00 25.00 50.00 75.00 100.00 T in g k a t K e la n g s u n g a n H id u p ( % )
Dibelah 2 Dijahit Dibelah 3 Dijahit Dibelah 4 Dijahit
Dibelah 2 Tidak dijahit Dibelah 3 Tidak dijahit Dibelah 4 Tidak dijahit
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari
Waktu Pemindahan Benih
0.00 25.00 50.00 75.00 100.00 T in g k a t K e la n g s u n g a n H id u p ( % )
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari
Waktu Pemindahan Benih
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari
Tingginya sintasan ini disebabkan waktu pemeliharaan benih di laboratorium relatif singkat dan paling lama hanya berlangsung 9 hari, kemudian dipindahkan ke perairan alami hingga hari ke-60. Dengan demikian pada hari ke-10 semua perlakuan telah berada pada lingkungan perairan alami dengan kondisi kualitas air dengan berbagai parameter fisik, kimia, dan biologi sangat mendukung kehidupan anemon laut. Perairan alami yang dimaksud adalah perairan pantai dalam kawasan perairan terumbu karang Desa Teluk Tamiang Kecamatan Pulau Laut Kepulauan, Kabupaten Kotabaru, Propinsi Kalimantan Selatan. Perairan ini langsung berhadapan dengan Laut Jawa sehingga memiliki sirkulasi air yang baik yang dapat membawa kandungan oksigen dan pakan alami yang melimpah. Selain itu anemon laut selalu dapat menyempurnakan bentuknya kembali meski kondisi alam mengalami kerusakan yang amat berat. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan benih anemon hasil fragmentasi longitudinal yang dipelihara di laboratorium selama 60 hari, ternyata semua perlakukan hingga hari ke-11 masih mampu bertahan hidup 100%. Namun pada hari-hari selanjutnya hingga hari-hari ke-60 kematian terus berlangsung dan pada pada akhir penelitian dari 18 perlakuan hanya 12 perlakuan yang mampu bertahan hidup dengan kisaran 11,11–100%. Sisanya 6 perlakuan mengalami kematian total atau tingkat kelangsungan hidup 0%. Meskipun demikian hasil penelitian menemukan adanya pengaruh yang nyata pada interaksi faktor pembelahan dan faktor penjahitan. Perlakukan P1J1 yaitu tubuh dibelah menjadi 2 bagian dan dilakukan penjahitan memberikan tingkat kelangsungan hidup terbaik (Rifa’i, dkk., 2003). Hasil penelitian ini dapat melengkapi dan menyempurnakan teknologi fragmentasi anemon laut yang telah diteliti
pada tahun 2003 untuk menghasilkan benih dengan sintasan (%) yang tinggi. Jika pada penelitian pada tahun 2003 ditemukan bahwa perlakuan pembelahan tubuh menjadi 2 bagian dan dilakukan penjahitan terhadap luka bekas pembelahan (Perlakuan P1J1) menghasilkan sintasan (%) terbaik selama pemeliharaan 60 hari di Laboratorium, maka pada penelitian ini menemukan bahwa benih anemon segera dipindahkan ke perairan alami (perairan pantai) setelah dilakukan pembelahan maka benih anemon meskipun dibelah hingga menjadi 4 bagian tanpa dilakukan penjahitan ternyata mampu menghasilkan tingkat kelangsungan hidup 100% dengan masa pemeliharaan 60 hari. Pemindahan benih ini hingga hari ke-9 pun ternyata masih mampu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup hingga 100%.
Selain sintasan dilakukan pula pengamatan terhadap tingkat pertumbuhan (Gambar 17) (Rifa’i, 2011). Rata-rata tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon tiap-tiap perlakuan pada akhir pemeliharaan (hari ke 60) berkisar 3,071–5,050 cm. Kecenderungan tingkat pertumbuhan mutlak (cm) tertinggi ditemukan pada hari ke-0 (T1) pemindahan benih anemon dari laboratorium ke lapangan (perairan alami), kemudian disusul hari ke-3 (T2), hari ke-6 (T3), dan terendah ditemukan pada hari ke-9 (T4). Tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut yang dipindahkan pada hari ke-0 (T1) berkisar 3,868 – 5,050 cm, hari ke-3 (T2) berkisar 3,553 – 4,160 cm, hari ke-6 (T3) berkisar 3,190 – 4,158, dan hari ke 9 (T4) berkisar 3,071 – 3,605 cm.
Pada hari ke-0 (T1) pemindahan benih anemon ditemukan kecenderungan hasil pembelahan induk anemone menjadi 2 bagian (P1) menghasilkan tingkat pertumbuhan mutlan (cm) lebih tinggi dibandingkan hasil pembelahan 3 bagian (P2) dan 4 bagian (P3). Namun pada hari ke-3 (T2), hari ke-6 (T3), dan hari ke-9 (T4),
Gambar 17. Histogram data rata-rata tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut selama 60 hari
masa pemeliharaan di laboratorium dan perairan Desa Teluk Tamiang Kalimantan Selatan (Rifa’i, 2011) tidak ditemukan kecenderungan pertumbuhan seperti pada hari ke-0 (T1) bahkan tidak ditemukan pola spesifik.
Faktor T (waktu pemindahan) dan Faktor P (metode pembelahan) memiliki nilai probabilitas (sig) masing-masing 0,000 dan 0,001, keduanya lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi 0,005 (Tabel 1). Dengan demikian, H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan nyata diantara perlakukan. Sedangkan Faktor J (metode penjahitan), interaksi faktor TP, TJ, PJ, dan TPJ masing-masing memiliki nilai probabilitas (sig) 0,104; 0,599; 0,661; 0,435; dan 0,730 semuanya lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,005. Dengan demikian tidak terdapat perbedaan nyata diantara perlakuan.
Hasil analisis keragaman tersebut menunjukkan faktor T (waktu pemindahan) dan faktor P (metode pembelahan) memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut
1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 T k t P e rt u m b u h a n M u tl a k ( C m ) 5.050 4.804 4.114
0 hari Dijahit 3 hari Dijahit 6 hari Dijahit 9 hari Dijahit
0 hari Tidak dijahit 3 hari Tidak dijahit 6 hari Tidak dijahit 9 hari Tidak dijahit
4.160 4.072 4.240 4.158
3.570 3.574 3.568 3.483 3.277
Dibelah 2 Dibelah 3 Dibelah 4
Jumlah belahan tubuh
1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 T k t P e rt u m b u h a n M u tl a k ( C m ) 4.845 4.147 3.868
Dibelah 2 Dibelah 3 Dibelah 4
Jumlah belahan tubuh
4.063 4.082 3.553
Dibelah 2 Dibelah 3 Dibelah 4
Jumlah belahan tubuh
3.947 3.915 3.190
Dibelah 2 Dibelah 3 Dibelah 4
Jumlah belahan tubuh
3.605 3.584 3.071
Tabel 1. Analisis keragaman tingkat pertumbuhan mutlak (cm) benih anemon selama 60 hari masa pemeliharaan Source Type III Sum of Squares df Mean Square F Sig. Corrected Model 11.730 23 0.510 3.606 0.001 Intercept 735.331 1 735.331 5199.5 0.000 Waktu (Faktor T) 7.109 3 2.370 16.757 0.000 Belah (Faktor P) 2.585 2 1.292 9.138 0.001 Jahit (Fakor J) .403 1 0.403 2.852 0.104 Waktu * Belah (TP) .655 6 0.109 0.772 0.599 Waktu * Jahit (TJ) .228 3 7.600E-02 0.537 0.661 Belah * Jahit (PJ) .244 2 0.122 0.863 0.435
Waktu*Belah*Jahit (TPJ) .506 6 8.429E-02 0.596 0.730 Error 3.394 24 0.141
Total 750.456 48
Corrected Total 15.125 47 a R Squared = .776 (Adjusted R Squared = .561)
yang dipelihara selama 60 hari di perairan laut. Dengan demikian, variasi taraf-taraf faktor T (waktu pembelahan) dan variasi taraf-taraf faktor P (metode pembelahan) yang diujicobakan dalam penelitian ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pertumbuhan mutlak (cm).
Hasil uji wilayah ganda Duncan terhadap waktu pemindahan (Faktor T) menunjukkan waktu pemindahan T1 (0 hari) berbeda nyata terhadap T2 (3 hari), T3 (6 hari), dan T4 (9 hari), begitu pula antara T2 dan T4. Namun antara T2 dan T3, serta antara T3 dan T4 tidak terdapat perbedaan nyata. Dengan demikian waktu pemindahan T1 (0 hari), memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pertumbuhan mutlak (cm), dibandingkan dengan T2 (3 hari), T3 (6 hari), dan
T4 (9 hari), begitu pula waktu pemindahan T2 (6 hari) terhadap T4 (9 hari). Namun antara T2 dan T3 serta antara T3 dan T4 akan memberikan pengaruh yang sama terhadap tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut yang dipelihara selama 60 hari di perairan alami.
Tingginya tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut pada waktu pemindahan benih hari ke-0 (T1) disebabkan semua benih mampu dengan cepat menyembuhkan luka tubuhnya akibat pembelahan. Hal ini disebabkan semua benih setelah mengalami pemebelahan tubuh di laboratorium segera pada saat itu juga langsung dipindahkan ke perairan alami untuk dipelihara. Sedangkan benih lainnya yang mendapat perlakuan T2, T3, dan T4 harus melewati masa pemeliharaan dulu di laboratorium selama masing-masing 3 hari, 6 hari, dan 9 hari, baru kemudian dipindahkan ke perairan alami. Dengan demikian benih-benih anemon yang mendapat perlakuan T2, T3, dan T4 hanya memiliki kesempatan dipelihara di perairan alami masing-masing 57 hari, 56 hari, dan 53 hari. Di samping hal-hal tersebut di atas, faktor kualitas air juga sangat berperan dalam mempercepat pertumbuhan anemon laut pada perlakuan-perlakuan yang dipindahkan lebih awal ke perairan alami. Hal ini disebabkan kondisi perairan alami jauh lebih kondusif dibandingkan perairan di laboratorium, meskipun telah dilakukan manipulasi semirip perairan alami tetapi keterbatasan masih tetap ditemukan.
Tingkat pertumbuhan ini jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya terjadi peningkatan yang signifikan. Hasil penelitian tahun sebelumnya menunjukkan tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut yang dipelihara selama 60 hari di laboratorium berkisar 0,37 – 2,3 cm (Rifa’i dkk., 2003). Sedangkan tingkat pertumbuhan mutlak (cm) pada
penelitian ini dengan waktu yang sama 60 hari berkisar 3,071 – 5,050 cm. Perbedaan tingkat pertumbuhan ini disebabkan lingkungan dan wadah pemeliharaan yang berbeda. Jika penelitian tahun 2003 anemon uji dipelihara dalam bak-bak pemeliharaan di laboratorium, maka penelitian ini anemon uji langsung dipelihara di perairan alami menggunakan karamba dasar sehingga kondisi kualitas air jauh lebih baik dan sangat mendukung kehidupan anemon yang dipelihara jika dibandingkan di laboratorium.
Hasil uji Duncan terhadap metode pembelahan metode pembelahan P1 (tubuh dibelah menjadi 2 bagian) tidak berbeda dengan P2 (tubuh dibelah menjadi 3 bagian), namun berbeda terhadap P3 (tubuh dibelah menjadi 4 bagian). Begitu pula antara P2 dan P3. Dengan demikian metode pembelahan P1 (tubuh dibelah menjadi 2 bagian) dan P2 (tubuh dibelah menjadi 3 bagian), memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pertumbuhan mutlak (cm) dibandingkan dengan metode pembelahan P3 (tubuh dibelah menjadi 4 bagian). Namun antara metode pembelahan P1 dan P2 memberikan pengaruh yang sama terhadap tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut yang dipelihara selama 60 hari di perairan alami.
Tingginya tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut pada metode pembelahan P1 (tubuh dibelah menjadi 2 bagian) dan P2 (tubuh dibelah menjadi 3 bagian) dibandingkan P3 (tubuh dibelah menjadi 4 bagian) disebabkan tingkat kerusakan anatomi tubuh bekas luka pembelahan P1 dan P2 lebih kecil dibandingkan dengan metode pembelahan P3. Akibatnya, anemon yang mendapatkan metode pembelahan P3, memerlukan energi lebih banyak untuk merapatkan dan menyembuhkan luka bekas pembelahan dibandingkan anemon yang mendapatkan metode pembelahan P1 dan P2. Karena itu, kelebihan
energi yang ada pada anemon yang mendapatkan metode pembelahan P1 dan P2 dapat digunakan untuk kegiatan metabolisme tubuh lainnya, dan pada akhirnya dapat membantu meningkatkan pertumbuhan anemon laut dibandingkan anemon-anemon yang mendapat perlakuan metode penjahitan P3. Hal ini sesuai dengan pendapat Byrne (1985) yang menyatakan bahwa jaringan tubuh yang rusak akibat luka, memerlukan energi tambahan untuk kembali ke kondisi tubuh normal.
Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbedaan dengan penelitian tahun 2003 dalam hal pengaruh metode penjahitan (faktor J) (Rifa,i dkk., 2003). Penelitian ini menunjukkan faktor metode penjahitan (faktor J) tidak ditemukan perbedaan nyata diantara perlakuan. Dengan demikian benih anemon yang mendapat perlakukan penjahitan (J1) atau tidak (J2) terhadap luka bekas pembelahan akan memberikan pengaruh yang sama terhadap tingkat pertumbuhan mutlak (cm) anemon laut yang dipelihara selama 60 hari di perairan alami. Tidak berpengaruhnya faktor metode penjahitan (faktor J) disebabkan di samping kondisi kualitas air pemeliharaan sangat kondusif juga kemampuan tubuh anemon itu sendiri yang mampu menyembuhkan dirinya sendiri secara cepat terhadap luka pembelahan yang tidak dilakukan penjahitan.
III. SIMBION ALGA ZOOXANTHELLAE ANEMON LAUT