• Tidak ada hasil yang ditemukan

makin besarnya kas

yang berada di

bawah tanggung jawab

di-cantumkan kegiatan-kegiatan yang dapat

diken

dalikan. Jadi secara garis

besar,

setiap pejabat dalam perusahaan.

Persediaan Minimal Kas/Safety Cash

Kas adalah salah

satu unsur modal

mempunyai resiko yang lebih

kecil untuk tidak

dapat memenuhi kewajiban

finasiilnya.

Tetapi

ini tidak berarti bahwa

perusahaan harus ber

usaha untuk mempertahankan persediaan

kas yang

sangat besar, karena

makin besarnya kas

bet

arti makin banyaknya

uang yang

menganggur

sehingga akan memperkecil

profitibi1itasnya.

-tindakan tersebut berarti akan menempatkan perusahaan itu dalam keadaan illikwid apabila sewaktu-waktu ada tagihan.

Untuk menentukan berapa jumlah kas yang sebaiknya harus dipertahankan oleh suatu perusahaan, belum ada standard ratio yang bersifat umum. heskipun demikian ada beberapa standard tertentu yang dapat digunakan sebagai pedoman di dalam menentukan jumlah kas yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan.

Jumlah kas pada suatu saat dapat dihubungkan dengan besarnya jumlah aktiva lancar yang ada di dalam perusahaan yang "well finance"

hendaknya tidak kurang dari 5X sampai lOV. dari jumlah aktiva lancar. Jumlah kas dapat pula dihubungkan dengan jumlah penjualannya atau salesnya. Perbandingan antara sales dengan jumlah kas rata-rata menggambarkan tingkat perputaran kas (cash turnover). Makin tinggi turnover ini makin baik, karena ini berarti makin tinggi effisiensi penggunaan kasnya.

Tetapi cash turnover yang berlebih-lebihan tingginya dapat berarti bahwa jumlah kas yang

tersedia adalah terlalu kecil untuk volume

sales yang bersangkutan.

Seperti halnya pada inventory dan piutang, pada kaspun terdapat " persediaan besi" atau "persediaan minimal" ialah apa yang disebut "safety cash balance" atau persediaan besi kas. Dimaksudkan sebagai persediaan besi

kas ialah jumlah minimal dari kas yang harus dipertahankan oleh perusahaan agar dapat me-menuhi kewajiban finasiilnya sewaktu-waktu.

Persediaan besi kas ini merupakan unsur atau inti permanent dari kas. Besarnya persediaan minimal kas ini berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan lainnya. Adapun faktor—faktor yang mempengaruhi besar kecilnya persediaan besi kas suatu perusahaan dapatlah disebutkan

terutama :

1. Perimbangan antara aliran kas masuk dengan

aliran kas keluar.

Adanya perimbangan yang baik mengenai kMantitas maupun timing antara cash inflow dengan cash outflow dalam suatu perusahaan berarti bahwa pengeluaran kas baik mengenai jumlahnya maupun mengenai waktunya akan dapat dipenuhi dari penerimaan kasnya se-hingga perusahaan tidak perlu mempunyai persediaan besi kas yang besar.

2. Penyimpangan terhadap aliran kas yang di—

perkirakan.

Untuk menjaga likwiditas perusahaan perlu membuat perkiraan atau estimasi mengenai aliran kas di dalam perusahaannya.

Apabila aliran kas kenyataannya selalu sesuai dengan estimasinya, maka perusahaan tersebut tidak menghadapi kesukaran likwi ditas. bagi perusahaan ini tidak perlu mem-pertahankan adanya persediaan besi kas yang

besar.

3. Adanya hubungan yang baik dengan bank-bank.

Apabila pimpinan suatu perusahaan telah berhasil dapat membina hubungan yang baik dengan bank akan mempermudah baginya untuk mendapatkan kredit dalam menghadapi kesukaran finasiilnya, baik yang disebabkan karena adanya peristiwa yang tidak diduga maupun yang dapat diduga sebelumnya. Bagi perusahaan ini tidak perlu mempunyai per

sediaan besi kas yang besar.

2.3.3. Peranan Sistem Akuntansi Penerimaan dan Penqe-luaran Kas dalam meninakatkan penaelolaan kas vana effisien■

Melalui definisi sistem akuntansi yang telah dibahas pada bagian-bagian ter dahulu, kita telah temui adanya suatu tuju-an sistem akuntansi yaitu sebagai kontrol management, yang dimaksudkan sebagai suatu tindakan pencegahan terhadap kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Tanpa adanya kontrol, perusahaan akan dihadapkan kepada berbagai masalah yang akan menjadi sulit diatasi dan diperbaiki. Oleh karena itu kontrol mutlak harus ada sebagai unsur yang menperlancar pengelolaan kas.

Kontrol yang effektif dapat diciptakan

melalui suatu sistem informasi yang baik, yang

dapat menyediakan informasi yang tepat dan akurat setiap kali informasi itu diperlukan.

Tentunya setiap bagian dari perusahaan mem—

butuhkan informasi yang berbeda—beda sesuai

dengan kegiatan operasi yang dilakukan, tetapi

secara umum informasi yang dibutuhkan untuk tujuan kontrol dalam pengelolaan kas adalah sebagai berikut :

1. Suatu daftar yang menyerupai peramalan kas, yang dapat memberikan informasi mengenai kemampuan perusahaan dalam pemasukan kas.

2. Daftar assumsi yang menjadi dasar dalam pembuatan daftar yang ada pada butir 1.

3. Suatu daftar dari faktor—faktor penghambat dan faktoi—faktor pendukung terhadap kebet

hasilan suatu pengelolaan kas.

4. Suatu laporan mengenai pelaksanaan dan hasil dari bagian yang terlibat dalam

pengelolaan kas.

Dua peranan penting sistem akuntansi dalam pembuatan keputusan manajemen dapat

diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Informasi akuntansi sering memberikan do-rongan kepada pengambilan keputusan mana jemen dengan menunjukkan adanya suatu situasi yang mendukung tindakan manajemen tersebut. Sebagai contoh, suatu laporan biaya yang menunjukkan suatu perbedaan (Variable) yang besar antara biaya yang sebenarnya dikeluarkan dengan biaya yang

dianggarkan mungkin akan merangsang mana-jemen untuk mengadakan tindakan koreksi.

2. Informasi akuntansi sering memberikan suatu dasar untuk mengadakan pilihan antara ber—

bagai alternatif tindakan yang mungkin di-lakukan. Sebagai contoh, informasi akuntan si sering dipergunakan sebagai dasar dalam menetapkan harga-harga atau untuk memilih barang modal mana yang harus dibeli.

Dalam melakukan kontrol terhadap kas yang memadai, maka perlu dibuat suatu sistem akuntansi yang dapat menjamin bahwa semua prosedur dan cara-cara dan kebijaksanaan yang telah ditetapkan, telah dijalankan dan di-patuhi. Dalam menentukan sistem pengendalian intern maka harus disesuaikan dengan kebutuhan organisasi perusahaan itu sendiri.

Malaupun suatu sistem akuntansi harus sesuai dengan kebutuhan organisasi, tetapi beberapa saran umum dalam membuat suatu sistem akuntansi kas, untuk mencapai sasaran kontrol yang memadai, seperti yang dikemukakan oleh James D. Millson dan John B. Campbell mungkin akan sangat berguna. Adapun saran-saran ter-sebut sebagai berikut :

1. Kecuali untuk transaksi-transaksi kas

kecil, semua pembayaran dilakukan dengan

cek.

2. Semua cek harus diberi nomor terlebih

dahulu, dan semua nomor dipergunakan

atau-pun yang dibatalkan harus

dipertanggung-jawabkan.

3. Semua cek pembayaran umum harus ditanda tangani oleh 2 orang secara bersama-sama.

4. Tanggung jawab untuk penerimaan kas harus terpisah dari tanggung jawab untuk

penge-luaran kas.

5. Semua orang yang menandatangani cek atau yang menyetujui pembayaran harus diper

tanggungjawabkan semestinya.

6. Rekonsiliasi bank harus dilakukan oleh mereka yang tidak menandatangani cek atau

menyetujui pembayaran.

7. Pencatatan kas harus dipisahkan sama sekali dari tugas melakukan pembayaran.

8. Faktur yang telah disetujui untuk pem bayaran dan semua dokumen pendukung Iain yang diperlukan harus menjadi suatu

pra-syarat dalam melakukan pembayaran.

9. Cek-cek untuk mengisi kembali imprest fund kas kecil dan kas pembayaran gaji dan upah

buruh harus dibayar kepada individu ter tentu dan bukan kepada perusahaan atau pembawa.

10. Setelah pembayaran dilakukan, semua doku men pendukung harus diperforasi atau di-beri tanda " telah dibayar " agar tidak bisa dipergunakan untuk kedua kali.

11. Plat-alat mekanis harus dipergunakan bila-mana praktis, misalnya alat penulis cek dan sebagainya.

12. Harus diadakan rotasi kerja atau kewajiban

mengambil cuti bagi mereka yang bertugas melakukan pembayaran.

13. Persetujuan bukti/Voucher pembayaran bi-asanya harus dilakukan oleh mereka yang tidak bertugas untuk melakukan pembayaran.

14. Dntuk transfer antar bank harus ada per—

setujuan khusus, dan harus diselenggarakan suatu perkiraan khusus untuk itu.

15. Semua bukti/voucher pengeluaran kas kecil, harus ditulis dengan tinta atau diketik.

I BAB I I

OBYEK PENELITIAN DAN flETODE

3.1. OBYEK

operasionil pada tahun

1967

dengan nama

Sekolah Gersida yang

merupakan

kepanjangan dari Gereja

Sidang Jemaat Allah,

pada tahun 1969 barulah

secara yuridis sekolah dengan susunan

pengurus yayasan

sebagai berikut :

: Bp.

Cephas Zacharias Elia

: Ny, Mary Elizabeth

Elia

: Bp.

Hoerip Elisa

: Bp.

Andreas Mantiri '

adapun lokasi awal

sekolah ini bertempat

yang merupakan lokasi

Gereja

Sidang Jemaat Allah.

empat unit yaitu

Taman

Kanak-- 53

Dokumen terkait