B. Ayat-Ayat Mutasya>biha>t
1. Makna Ayat-Ayat Mutasya>biha>t
Mutasya>biha>t adalah term bahasa yang berbentuk plural dari bentuk tunggal mutasya>bih. Kata ini berasal dari bentuk madhi syabbaha yang mempunyai arti menyerupai. Kemudian term ini menjadi istilah untuk aliran yang ada dalam Islam yang menyamakan Allah dengan makhluk dan sesuatu yang baru.68 Kata mutasya>biha>t yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Antropomorphism berasal dari Bahasa Yunani, yaitu anthropos yang berarti manusia dan morphe yang berarti bentuk.69
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, antropomorfisme adalah pengenaan ciri-ciri manusia pada binatang atau benda mati.70 Kata mutasya>biha>t dalam bahasa Arab memiliki makna yang sama dengan mumatsala>h dalam arti serupa atau sama diantara yang satu dengan yang lainnya, sehingga arti syabbhah dapat berarti kesamaan dan kemiripan di antara dua hal yang diperbandingkan dan salah satu dari keduanya tidak dapat dibedakan. Sebagaimana dalam sebuah firman Allah SWT., dalam surat al-Baqarah ayat 25 pada kalimat
ِ ــــالس َــــباعث ٔيَو
‚wa utu> bihi` mutasya>biha‛. Maksudnya adalah bahwa sebagian buah-buahan surga itu serupa dengan yang
68 Luis Ma‟luf, al-Munjid al-Lughah wa al-A‟lam, Beiru>t: Dar> al-Shadr, 2002, hal.
372.
69 Loren Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000, hal. 59.
70 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka, 1988, hal. 43.
lain dalam warna, bukan pada rasa dan hakikatnya.71 Seperti itulah ayat-ayat mutasya>biha>t dari segi kalimat ada kesamaan tapi pada hakikatnya tidak sama.
Muhammad Quraish Shihab mengatakan kata
َب ــــــــــــالس
mutasya>bih terambil dari kata yang bermakna serupa, bila ada sesuatu yang serupa dengan yang lain, ia bisa dikatakan mutasya>bih.
Kata ini dalam penggunaannya, sering kali menunjukkan keserupaan dalam dua hal yang berbeda atau lebih yang menimbulkan kesamaran dalam membedakan ciri masing-masing.72 Ia melanjtkan keterangannya, Mutasya>bih yang dimaksud disini adalah keserupaan sesuatu dalam mutu sehingga sangat sulit untuk membedaakannya.73
Wahbah al-Zuhaili mengatakan dalam tafsirnya, kata
ِ ــــالس
maksudnya adalah yang serupa kesempurnaan susunan dan maknanya, maksudnya, bagian-bagian Al-Qur‟an satu sama lainnya serupa dalam kemu‟jizatannya, susunan bahasanya, diksinya, keakurannya, kebenaran maknanya, kesolidannya dan kesempurnaannya yang lain.74
Al-Raghib al-Ashfahani mengatakan kata
َْب ّ ــــــــالًا
dan kataََِّْوــــــــ ّالا
memiliki makna untuk menunjukkan adanya kesamaandalam sesuatu, seperti halnya dalam warna dan rasa, pada keadilan dan kezhaliman. Dan
َََ ْب بْ ــــالا
Syubhat adalah dua hal yang sulit untuk dibedakan, karna didalam keduanya terdapat persamaan, baik dalam hal fisik maupun dalam esensinya. Seperti dalam surat al-Baqarah/2: 25 yang berbunyi,ِ الس َباعث ٔيَو . . .
. . . Mereka telah diberikan buah-buahan yang serupa.
71 Nor Ichwan, Memahami bahasa Al-Qur‟an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,Cet. I, 2002, hal. 253.
72 Muhammad Quraish Shihab, Tafsi>r al-Misba>h; Pesan, Kesan, dan Keserasian, Vol.
2, hal. 18.
73 Muhammad Quraish Shihab, Tafsi>r al-Misba>h; Pesan, Kesan, dan Keserasian, Vol.
11, hal. 485.
74 Wahbah az-Zuhaili, Tafsi>r Al-Muni>r, Jakarta : Gema Insani, Cet. I. 2016, hal. 243.
Maksudnya memiliki keserupaan dalam hal warna, bukan dalam rasa dan sifat secara keseluruhan.75 Dalam surat al-Baqarah/2: 118 disebutkan,
ْ ُ ُِْعُلُله ْتَ َِ َاَج . . .
. . . Hati mereka serupa.
maksudnya serupa dalam hal kezhaliman dan kebodohan yang mereka dimiliki.76
Imam al-Alusi memberikan difinisi tentang ayat muhkam dan mutasya>biha>t, muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya jelas atau terang, dilalahnya sangat jelas dan terpelihara dari adanya kemungkinan terjadi pemalingan makna dan penyerupaan dengan yang lain, adapun mutasya>biha>t ayat-ayatnya yang mungkin diartikan kepada beberapa makna, tidak bisa membedakan sebagian dengan sebagian yang lain untuk menghasilkan makna yang dimaksud, tidak bisa didapat kecuali dengan penelitian yang lebih mendalam. Ketidakjelasan makna ayat-ayatnya terkadang karena banyaknya pengertian suatu ayat atau penjelasannya yang terlalu umum.77
As-Suyuthi mengatakan ayat-ayat muhkama>t bisa diketahui baik dalilnya yang jelas atau yang samar, adapun ayat-ayat mutasya>biha>t tidak ada yang mengetahuinya selain Allah SWT., Seperti kapan terjadinya hari kiamat, keluarnya Dajjal dan pada huruf-huruf yang terdapat pada awal surah Al-Qur‟an (muqaththa’ah), ayat-ayat muhkama>t tidak mungkin ditakwil, maksudnya hanya memiliki satu pengertian saja dan mutasya>biha>t memiliki banyak pengertian (makna zahir dan batin), ayat-ayat muhkama>t memiliki makna yang sesuai dengan lahiriah ayat dan ayat-ayat mutasya>bihsa>t memiliki makna lain disamping makna lahir, ayat-ayat muhkama>t menjelaskan tentang perintah, larangan, halan dan haram, adapun ayat-ayat mutasya>biha>t tidak jelas maknanya.78 Hamka menyebutkan makna muta>syabiha>t ialah bahwa ayat-ayat yang satu menyerupai ayat-ayat yang lain dalam kebenaran
75 Al-Raghib Al-Ashfahani, Al-Mufrada>t fi> Ghari>bil Qur’an, kamus Al-Qur’an, Pustaka Khazanah Fawa’id, Cet. I, 2017, hal. 343.
76 Ar-Raghib Al-Ashfahani, Al-Mufrada>t fi> Ghari>bil Qur’an, kamus Al-Qur’an, Mesir: Pustaka Khazanah Fawa’id, Cet. I, 2017, hal. 344.
77 Syihabuddin Sayid Mahmud al-Alusi, Ruhul Ma’a>ni, Jil II, Libanon: Dar> al-Fikri, Cet. I, 2003, hal. 99.
78 As-Suyuthi, Al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n, Beiru>t: Da>r As-Salam , Cet I, 2008 hal.
531-532.
kebenaran, dalam kefasihannya, dalam keindahan, dan dalam balaghohnya.79
Dalam tradisi tafsir ada dua istilah yang digandengkan yaitu muhkama>t dan mutasya>biha>t, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran/3: 7 yang berbunyi,
َّنُُ ٌتَــــَ َكَحُّس ٞتَمَياَ ٌََُِس َ َمَتَِۡلۡي َكَيَلَػ َ َزىْي ٓيَِّلَّۡي َعُُ
ِ َمَتَِۡل ۡي ُّمُي
ٌََُِس َََبَ َ اَج َس َنعُؼِبَّتَََّف ٞؽَيَز َ ِ ِِعُلُله ِ َنَِ َّلَّۡي َّسْأَف ٞتَــــَ ِبَ َ اَلُس ُرَخُيَو ِ َنعُ ََُِّرل ۡيَو وَُّللَّۡي ََّ ا ٓۥُ َهيِؤَأَث َُمَؼَي َسَو ِۖ ِهيِؤَأَث َ ٓ َغِتَبۡيَو ِةَيَتِفَلۡي َ ٓ َغِتَبۡي ِ َنعُلعُقَي ِ َمِؼَل ۡي ِ َمَبَلْ َلۡ ۡي ْاعُلْوُي ٓ ََّ ا ُرَّلَّذَي َسَو و َيِّبَر ِديِغ َنِّس ِ ٞ
ّ ُكُ َِِۖب ٌََّساَ
Dialah yang menurunkan al-Kitab (Al-Qur‟an) kepadamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok daripada isi Al-Qur‟an dan yang lain (ayat-ayat) mutasya>biha>t.
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasya>biha>t, semuanya dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa di dalam Al-Qur‟an terdapat ayat yang muhkama>t dan ada yang mutasya>biha>t.
muhkama>t adalah sesuatu yang dikokohkan, jelas, fasih, dan membedakan antara yang hak dan yang batil.80
Sedangkan mengenai mutasya>biha>t para ulama berbeda dalam mendefinisikannya, „Abd al-Jabbar mengatakan mutasya>biha>t adalah ayat-ayat yang oleh Allah dijadikan mempunyai sifat-sifat tertentu sehingga pengertiannya menjadi rancu bagi pendengarnya.
Sifat itu ialah bahwa pengertian lahiriahnya tidak menunjukkan maksud yang sebenarnya karena sesuatu yang kembali kepada pengertian asal bahasa atau kebiasaan para pemakai bahasa dan untuk mengetahui maksud dari ayat-ayat tersebut yaitu dengan
79 Hamka, Tafsir al-Azhar, Jil I, Jakarta: Gema Insani, 2015, hal. 580
80Muhammad Chirzin, Al-Qur‟an dan Ulu>m Al-Qur‟an, hal. 71.
mengacu kepada ayat yang muhkama>t dan dengan melihat qarinah (konteks pembicaraan).81
Subhi al-Shalih memberikan makna mutasya>biha>t dengan kriteria ayat-ayat yang bersifat mujmal (global), yang muawwal (yang memerlukan takwil), dan yang bersifat musykil (sulit untuk dipahami). Sebab ayat-ayat yang mujmal membutuhkan perincian, ayat-ayat yang muawwal bisa diketahui setelah ditakwilkan, dan ayat-ayat yang musykil memiliki makna yang samar dan sukar dimengerti.82 Menurut Manna‟ al-Qaththan muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain, sedangkan mutasya>biha>t memerlukan penjelasan dengan menunjukkan kepada ayat lain.83
Membahas mutasya>biha>t berarti membahas juga masalah yang berkaitan dengannya. Ada tiga masalah ketika membahas ayat mutasya>biha>t, pertama, mengenai boleh tidaknya melakukan takwil terhadap ayat-ayat mutasya>biha>t. Kedua, jika boleh, siapa saja yang diperkenankan untuk melakukan interpretasi terhadap ayat-ayat mutasya>biha>t. Ketiga, tentang kriteria ayat yang dimasukkan ke dalam kategori ayat-ayat muhkama>t dan mutasya>biha>t.84
Ulama tafsir memiliki perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat muhkama>t dan mutasya>biha>t. Setiap perbedaan yang ada pada merekan tidak terlepas dari dalil-dalil yang mereka ambil baik dari Al-Qur‟an maupun hadits-hadits Rasulallah SAW., Pendapat yang pertama mengatakan bahwa seluruh ayat-ayat dalam Al-Qur‟an adalah muhkam, dalil mereka adalah Al-Qur‟an surat Hu>d/11: 1 yang berbunyi,
ٍيرِوَخ ٍيَِۡح َن َُّلَّ نِس َتَل ِّصُف َّ ُثُ ۥَُُتَمَياَ َتَ ِكَحُي ٌ َمَتِل ۡۚرٓلا
Ali>f la>m ra>, inilah satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.
Pendapat kedua mengatakan seluruh ayat-ayat dalam Al-Qur‟an itu mutasya>biha>t, dalil mereka adalah Al-Qur‟an surat az-Zumar/39: 23 yang berbunyi,
81Machasin, al-Qadi Abd al-Jabbar, hal. 51.
82 Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur‟an, hal. 372.
83 Al-Qaththan, Maba>hits, hal. 216.
84Muhammad Chirzin, Al-Qur‟an dan Ulum Al-Qur‟an, hal. 72.
ُدعُلُج ٌََُِس ُّرِؼ َاَقَث َ ِنِ َثَّس ٗ ِبَ َ اَلُّس ٗبَمَتِل ِييِدَحَلۡي َن َسَحْي َ َّزَى َُّللَّۡي َ ِ لََِذ ِۡۚ َّللَّۡي ِرَلِذ َٰى ا َ ُ ُِعُلُلهَو َ ُهُدعُلُج ُينِلَث َّ ُثُ َ ََُِّر َن َع َاَ َيَ َنَِ َّلَّ ِ ۡي ِ ِل َضُي نَسَو ُۡۚ ٓ َاَش نَس َِِۖب يِدَ َم ِ َّللَّ ۡي ىَدُُ
ٍد َُ َنِس ۥُ َع َمَف ُ َّللَّ ۡي
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
Pendapat yang ketiga mengatakan ayat-ayat dalam Al-Qur‟an sebagianya muhkam dan sebagiannya lagi mutasya>biha>t dalil yang mereka gunakan Al-Qur‟an surat Ali-„imran/3: 7 yaitu,
ِ َمَتَِۡل ۡي ُّمُي َّنُُ ٌتَــــََكَحُّس ٞتَمَياَ ٌََُِس َ َمَتَِۡلۡي َكَيَلَػ َ َزىْي ٓيَِّلَّۡي َعُُ
ٌََُِس َََبَ َ اَج َس َنعُؼِبَّتَََّف ٞؽَيَز َ ِ ِِعُلُله ِ َنَِ َّلَّ ۡي َّسْأَف ٞتَــــَ ِبَ َ اَلُس ُرَخُيَو َي َسَو ِۖ ِهيِؤَأَث َ ٓ َغِتَبۡيَو ِةَيَتِفَلۡي َ ٓ َغِتَبۡي ِ َنعُ ََُِّرل ۡيَو وَُّللَّۡي ََّ ا ٓۥُ َهيِؤَأَث َُمَؼ ِ
ِ َمَبَلْ َلۡۡي ْاعُلْوُي ٓ ََّ ا ُرَّلَّذَي َسَو و َيِّبَر ِديِغ َنِّس ِ ٞ
ّ ُكُ َِِۖب ٌََّساَ َنعُلعُقَي ِ َمِؼَل ۡي
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur‟an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Bila diperhatikan perbedaan pendapat para ulama terjadi karena pandangan mereka dari sisi yang berbeda-beda, ketiga pendapat di atas tidak ada yang bertentangan antara satu dan yang lainnya.
Adapun maksud yang mengatakan bahwa semua ayat muhkam adalah dari segi perkataan yang benar dan fasif, kekokohan dan kerapihan
susunannya dan sama sekali tidak ada kelemahan baik dalam lafazh, kalimatnya dan maknanya. Maksud yang mengatakan semua ayat mutasya>biha>t adalah kesamaan ayat-ayatnya dalam hal balaghah, I‟jaznya. Maksud pendapat yang ketiga adalah dari segi pengertiannya atau maknanya, dalam Al-Qur‟an sebagian ayat-ayatnya muhkam dan sebagian yang lainnya mutasya>hiba>t.85
2. Pendapat Ulama Tentang Mutasya>hiba>t
Mutasya>bih merupakan sebuah kajian yang kontroversial, hal ini terbukti dengan adanya perbedaan-perbedaan pendapat tentang ayat-ayat mutasya>biha>t. Berbeda dengan ayat-ayat muhkama>t yang sudah memiliki makna yang jelas yang terkandung di dalamnya.
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah arti ayat-ayat mutasya>biha>t dapat diketahui oleh manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Pangkal perbedaan pendapat itu bermuara pada cara menjelaskan struktur kalimat dalam Al-Qur‟an surat Ali>-‘Imra>n/3: 7 sebagai berikut,
َِب ٌََّسا َن ْعُلْعُقَي ِ ْمِؼْلا ْ ِ َن ْعُ َُِّرلا َو ُِ َّٕا َُهْيِوْأَث َُمْؼَي َسَو
...padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, melainkan Allah.
dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, „kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih...
Apakah ungkapan wa al-ra>sikhu>na fi> ‘ilm di-athaf-kan kepada lafazh Allah, sementara lafazh yaqu>lu>na sebagai ha>l. Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasya>biha>t pun diketahui oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang mendalam. Atau apakah lafazh wa al-ra>sikhu>na fi> ‘ilm sebagai mubtada’, sedangkan lafazh yaqu>lu>na sebagai khabar. Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasya>biha>t itu hanya diketahui oleh Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya hanya mengimaninya.86
Raghib Al-Asfahani berpendapat, bahwa ayat-ayat mutasya>biha>t adalah yang sulit ditafsirkan karena adanya “kesamaran” dengan yang lain, baik dari sisi lafazh maupun dari sisi makna. Raghib Isfahani membagi mutasya>bih menjadi tiga bagian:
a. Mutasya>bih dalam lafazh, baik itu kata tunggal (mufrad), seperti al-abb dan yaziffu>na, atapun kata gabungan (kala>m murakkab).
85 Al-Razi, Tafsi>r al-Kabi>r Mafa>tih al-Gha>ib, Jil III, Beiru>t: Libanon: Da>r al-Fikri, cet. I, 2005, hal.156.
86Al-Qaththa>n, Maba>hi~ts, hal. 217.
b. Mutasya>bih dalam makna, adalah seperti sifat-sifat Allah dan sifat-sifat hari kiamat, sebab sifat-sifat tersebut tidak bisa divisualisasikan karena tidak tergambar dalam jiwa dan bukan genus sehingga kita bisa merasakannya.
c. Mutasya>bih dari segi makna dan lafazh.87
Selain ketiga kategori yang diklasifikasikan oleh al-Ashfahani di atas, ayat-ayat mutasya>biha>t juga tampil di dalam Al-Quran dalam bentuk rangkaian huruf-huruf hijaiyah sebagaimana yang diungkapkan di pembukaan sejumlah surah (fawa>tih al-suwar) seperti ka>f ha> ya> ‘ai>n sha>d, ya>si>n, dan sebagainya.
Terhadap tiga kategori ayat-ayat mutasya>biha>t, selain oleh para mufasir, bahkan telah dirambah oleh para Fuqaha dan Teolog. Hal ini dapat dimengerti sebab semua pihak berkepentingan atas ayat-ayat tersebut. Kesamaran makna yang terdapat di dalam ayat-ayat yang terkait dengan akidah/ketuhanan bukan halangan bagi para teolog untuk mengkajinya, sebagaimana kesamaran arti yang terdapat di dalam ayat-ayat yang terkait dengan hukum juga tidak menjadi penghalang bagi Fuqaha.
Ayat-ayat yang terkait dengan tajsi>m bahkan menjadi materi perdebatan kalangan Teolog. Para Teolog Rasional yang direpresentasikan oleh aliran Mu‟tazilah memahai tentang muhkam dan mutasya>bih yang diwakili oleh Mahmud al-Alusi dalam kitabnya Ru>h al-Ma’a>ni>. Ia mengatakan bahwa muhkama>t mempunyai dilalah yang jelas dan tidak mengandung makna yang lain. Sedangkan mutasya>biha>t berarti ayat-ayat yang mengandung kemungkinan-kemungkinan makna serupa antara satu dengan yang lainnya, dan tidak bisa dibedakan dalam menyesuaikan keinginan. Dan suatu masalah sulit dipahami kecuali dengan pengamatan yang seksama. Ketidak jelasannya kadang-kadang dikarenakan ada makna yang saling berkaitan (isytira>ki) atau ada makna yang masih bersifat umum (ijma>li) atau adanya keserupaan (isytiba>h). 88
Lebih lanjut dalam menyikapi muhkam dan mutasya>bih, Alusi mengutip pendapat Abu Hanifah. Abu Hanifah mengatakan bahwa ayat-ayat muhkama>t adalah ayat yang dalalahnya jelas, dan tidak bisa di nasakh (hapus). Adapun ayat-ayat mutasya>biha>t adalah ayat yang
87 Muhammad Baqir Hakim, Ulu>mu>l Qur’an, (terj.) Nashirul Haq, dkk., Jakarta: Al-Huda, cet. II, 2012, hal. 260.
88 Abi al-Fadl Syihab al-Din al-Sayyid Mahmud al-Alusi al-Baghdadi, Ru>h al-Ma’a>ni fi> Tafsi>r al-Qur’an al-Azhi>m wa al-Sab’u al-Matsa>ni, Kairo: Dar al-Fikr, tt., Juz III, hal.
130-131.
artinya tidak dapat dijangkau oleh dalil aqli maupun dalil naqli, hanya Allah yang mengetahui artinya, seperti ayat yang menjelaskan tentang hari kiamat dan huruf-huruf yang berada di awal surat.89
Mereka juga berpendapat bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang langsung dapat dicerna oleh akal dengan melihat teksnya.
Sementara ayat-ayat mutasya>bih adalah ayat yang tidak bisa secara langsung dicerna oleh akal dan harus ditakwilkan. Mereka berprinsip bahwa dalam menakwilkan ayat-ayat tersebut tidak boleh bertentangan dengan logika, rasio, dan juga harus sesuai dengan konsep keadilan dan tauhid dari pemahaman mereka. Mengenai antropomorfisme, Muktazilah berpendapat bahwa semua sifat tersebut adalah tanda-tanda kelemahan yang tidak mungkin dimiliki Allah SWT., Oleh karena itu, ayat-ayat tersebut perlu ditakwilkan.90
Sementara aliran tradisional yang direpresentasikan oleh kaum ahlusunnah wa al-jama‟ah kecenderungannya memaknai ayat-ayat seperti itu dengan makna apa adanya. Hanya saja dengan sebuah catatan bahwa hal tersebut tidak boleh dipertanyakan bentuknya.
Redaksi yadullah fauqa aidihim (tangan Allah di atas tangan mereka), dimaknai bahwa Allah mempunyai tangan, namun demikian perihal bentuk dan ukurannya tidak untuk dipertanyakan.
Muhammad Quraish Shihab mengatakan Ayat-ayat Al-Qur‟an semuanya mutasya>biha>t dalam arti satu dengan yang lain memiliki keserupaan atau kemiripan baik kemiripan dari sisi keindahan bahasanya dan kebenaran kandungannya. Makna ini ditunjukkan oleh firman Allah SWT Dalam surat Az-Zumar/39: 23 yang berbunyi,
َنَِ َّلَّۡي ُدعُلُج ٌََُِس ُّرِؼ َاَقَث َ ِنِ َثَّس ٗ ِبَ َ اَلُّس ٗبَمَتِل ِييِدَحَلۡي َن َسَحْي َ َّزَى َُّللَّۡي ِ َّللَّۡي ى َدُُ َ ِ لََِذ ِۡۚ َّللَّۡي ِرَلِذ َٰى ا َ ُ ُِعُلُلهَو َ ُهُدعُلُج ُينِلَث َّ ُثُ َ ََُِّر َن َع َاَ َيَ ِ ِ ِل َضُي نَسَو ُۡۚ ٓ َاَش نَس َِِۖب يِدَ َم ٍد َُ َنِس ۥُ َع َمَف ُ َّللَّ ۡي
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat
89 Al-Alusi, Ru>h al-Ma’a>ni, hal. 132-133.
90 Nasr Hamid Abu Zayd, Menalar Firman Tuhan; Wacana Majaz dalam Al-Qur‟an Menurut Muktazilah, (terj.) Abdurrahman Kasdi dan Hamka Hasan, Bandung: Mizan, 2003, hal. 229.
Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
Muhammad Quraish Shihab mengatakan, kata mutasya>biha>t dalam ayat yang ditafsirkan ini adalah ayat-ayat yang mengandung kesamaran dalam makna.91
Muhammad Quraish Shihab juga mengatakan, Ulama berbeda pendapat bahwa kesamaran dalam ayat-ayat Al-Qur‟an disebabkan karena bebrapa hal yaitu:
1) Salah satu kata yang digunakan dalam ayat-ayat Al-Qur‟an tidak populer dikalangan beberapa pendengarnya. Seperti anda berbicara dengan orang pedesan yang tidak mengerti dalam suatu kalimat yang bagi mereka kalimat tersebut hal yang aneh atau baru, namun kata tersebut sangat popular dikota tempat anda.
Seperti kalimat
ااّبأ
abba dalam surat „Abasa/80: 31 saat itu Umar Ibn Khatab belum mengetahui artinya sehingga pada mulanya bagi Beliu ayat tersebut adalah ayat mutasya>biha>t, menurut banyak Ulama hal ini juga serupa dengan huruf-huruf yang berapa pada awal surah seperti Ali>f La>m Mi>m.2) Kata yang digunakan mempunyai arti yang bermacam-macam, seperti kalimat
ورــــله
quru>’ yang bisa berarti suci dan juga bisa berarti haid. Hal tersebut digambarkan oleh firman Allah dalam surat al-Baqarah/2: 228 yang berbunyi,َّلََُمَلۡيَو َنَمُتَََۡ نْي َّنَُِل ُّ َِيَ َََو ٖۡۚ ٓو ُرُله َةَثَــــَلَث َّنِِ ِسُفهْأِب َن َصَّبَ َتََي ُتَــــَق َّنُ ُتَُلعُؼُبَو ِۡۚرِخٓٔ َلۡۡي ِمَعَيَلۡيَو ِ َّللَّۡأِب َّنِسَؤُي َّنُل ن ا َّنِِِس َحَرْي ٓ ِ ُ َّللَّ ِ ۡي َ َلَخ َس
َــــَل َص ا ْآوُداَرْي َن ِ ا َ ِ ِ لََِذ ِ َّنُِِّدَرِب ُّ َحْي َّنِ َيَۡلَػ يِ َّلَّۡي ُ َثِس َّنَُِلَو ۡۚ ٗح
ٌيَِۡح ٌزَِزَغ ُ َّللَّۡيَو و ٞةَجَرَد َّنَِيَۡلَػ ِ َجِّرلِلَو ِۡۚفوُرَؼَمَلۡأِب
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki
91 Muhammad Quraish Shihab, Tafsi>r al-Misba>h; Pesan, Kesan, dan Keserasian, Vol.
2, hal. 18.
ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dalam ayat tersebut memerintahkan agar wanita yang dicerai suaminya agar menunggu sampai tiga quru>’, Ulama berbeda pendapat karena kesamaran yang ada pada ayat tersebut.
3) Makna yang dikandung tidak jelas, seperti ayat-ayat berbicara tentang persoalan metafisika, nama atau sifat-sifat Allah, minsalanya seperti kalimat “tangan Allah” atau “wajah Allah”
dan yang lain-lain, dalam hal ini terdapat banyak perbedaan di kalangan Ulama dalam memahami maksudnya.92
Ada ulama yang membagi mutasya>bih menjadi tiga kelompok ayat yaitu :
a) Ayat-ayat yang maknanya mustahil diketahui oleh manusia, seperti ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah, waktu akan terjadinya hari kiamat, dan semacamnya.
b) Ayat-ayat yang bisa diketahui melalui penelitian seksama, seperti
b) Ayat-ayat yang bisa diketahui melalui penelitian seksama, seperti