BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.3 Bahasa Sebagai Teks Wacana
2.3.2 Makna Dalam Sistem Tanda Dan Pemakaiannya
Setidaknya, ada lima pandangan dari Saussure mengenai bahasa sebagai sistem tanda, yaitu: signifier (penanda) dan signifier (petanda); form (bentuk) dan
content (isi); langue (bahasa) dan parole (tuturan, ujaran); synchronic (sinkronic)
dan diachronic (diakronik); serta syntagmastic (sintagmatik) dan associative (paradigmatik) (Perdana, 2005 : 13).
Meskipun untuk kepentingan analisis, kita bisa memisahkan antara
signifier dan signified tapi dalam realitasnya keduanya tidak bisa dipisahkan.
Untuk menjelaskan sistem tanda ini, Roland Barthes mengambil contoh setangkai mawar, yang dalam budaya barat menandakan romantisme, cinta yang menggebu. Disini, bisa diidentifikasikan elemen-elemennya, mawar (signifier), romantisme dan cinta yang mengebu (signified), sedangkan sign-nya adalah mawar yang romantis. Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa ada perbedaan antara signifier dengan sign. Mereka tidak sama, meskipun terlihat serupa. Tidak ada makna yang inheren pada mawar. Artinya dalam budaya yang lain, mawar bisa menandai sesuatu yang sama sekali berbeda dengan romantisme, bahkan mungkin menandai sebaliknya (berlawanan dengan romantisme). Mawar sebagai signifier tanpa signified berarti tidak memiliki makna apa-apa. Sedangkan mawar sebagai sign, adalah mawar yang penuh makna (Noviani, 2003:76).
Van Zoest mencoba membagi hubungan antara signifier dan signified ini, yaitu:
1. Ikon, adalah tanda yang memunculkan kembali benda atau realitas yang ditandainya, misalnya foto atau peta.
2. Indeks adalah tanda yang kehadirannya menunjukkan adanya hubungan dengan yang ditandainya, misalnya asap adalah indeks dari api.
3. Simbol adalah sebuah tanda dimana hubungan antara signifier dan signified semata-mata adalah masalah konvensi, kesepakatan atau peraturan (Perdana, 2005 : 13).
Pierce (Pateda, 2001:45-47) membagi tanda menjadi sepuluh jenis:
1. Qualisign, yakni kualitas sejauh yang dimiliki tanda. Kata keras menunjukkan
kualitas tanda. Misalnya suaranya keras yang menandakan orang itu marah atau ada sesuatu yang diinginkan.
2. Iconic Sinsign, yakni tanda yang memperlihatkan kemiripan (contoh foto,
diagram, peta, tanda baca).
3. Rhematic Indexical Sinsign, yakni tanda berdasarkan pengalaman langsung,
yang secara langsung menarik perhatian karena kehadirannya disebabkan oleh sesuatu. Contoh: pantai yang sering merenggut nyawa orang yang mandi di situ, akan dipasang bendera bergambar tengkorak yang bermakna berbahaya, dilarang mandi di sini.
4. Dicent Sinsign, yakni tanda yang memberikan informasi tentang sesuatu.
Misalnya, tanda larangan yang terdapat di pintu masuk sebuah kantor.
5. Iconic Legisign, yakni tanda yang menginformasikan norma atau hukum.
Misalnya rambu lalu lintas.
6. Rhematic Indexical Legisign, yakni tanda yang mengacu kepada objek
tertentu, misalnya kata ganti penunjuk. Seseorang bertanya, “mana buku itu?”, dan dijawab, “itu!”.
7. Dicent Indexical Legisign, tanda yang bermakna informasi dan menunjuk
mobil ambulans menandakan ada orang sakit atau orang yang celaka yang tengah dilarikan ke rumah sakit.
8. Rhematic Symbol atau Symbol Rheme, yakni tanda yang dihubungkan dengan
objeknya melalui asosiasi ide umum. Misalnya kita melihat gambar harimau. Lantas kita katakan, harimau. Mengapa kita katakan demikian, karena asosiasi antara gambar dengan benda atau hewan yang kita lihat yang namanya harimau.
9. Dicent Symbol atau propotition (proposisi), tanda yang langsung
menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak. Kalau seseorang berkata, “pergi!”, penafsiran kita langsung berasosiasi pada otak, dan sertamerta kita pergi. Padahal proposisi yang kita dengar hanya kata. Kata-kata yang kita gunakan yang membentuk kalimat, semuanya adalah proposisi yang mengandung makna yang berasosiasi di dalam otak. Otak secara otomatis dan cepat menafsirkan proposisi itu, dan seseorang segera menetapkan pilihan atau sikap.
10.Argument, yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap sesuatu
berdasarkan alasan tertentu. Seseorang berkata, “gelap”, sebab ia menilai ruang itu cocok dikatakan gelap. Dengan demikian argumen merupakan tanda yang berisi penilaian atau alasan, mengapa seseorang berkata begitu. Tentu saja penilaian tersebut mengandung kebenaran.
Dalam wacana ilmiah, Russel (dalam Aminudin, 1998:92) mengatakan adanya reading the lines, yakni membaca untuk memahami makna secara tersurat, serta reading beetwen the lines, yakni membaca yang bukan hanya untuk
memahami makna yang tersurat, melainkan juga berusaha memahami makna yang tersirat. Dari uraian ini, makna dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: makna tersurat (literal meaning) dan makna tersirat (implicit meaning). Perbedaan antara makna tersurat dengan makna dasar serta makna tersirat dengan makna tambahan adalah:
a. Makna tersurat dan makna tersirat sudah berhubungan dengan satuan pesan yang ingin disampaikan pengarangnya (komunikator), sedangkan makna dasar dan makna tambahan berhubungan dengan simbol yang digunakan untuk menyampaikan pesan.
b. Makna tersurat dan makna tersirat berkaitan dengan proses memahami makna dalam satuan informasi, sedangkan makna dasar dan makna tambahan berkaitan dengan karakteristik makna kata itu sendiri setelah berada dalam pemakaian.
Dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian denotatif yang melandasi keberadaannya. Konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. (Budiman, 2001 dalam Sobur, 2003:71)
Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Barthes menempatkan ideologi dengan
mitos karena, baik di dalam mitos maupun ideologi, hubungan antara penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman, 2001:28; lihat juga Sobur, 2003:71). Seperti Marx, Barthes juga memahami ideologi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia yang imajiner dan ideal, meski realitas hidupnya yang sesungguhnya tidaklah demikian (Sobur, 2003:71).
Tanda tidak hanya menghadirkan sebuah kebenaran, di sisi lain, tanda juga dapat mengelabui. Umberto Eco, dalam bukunya Theory of Semiotics (1976:7), mengatakan: “semiotik merupakan penerapan prinsip-prinsip segala disiplin ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk mengelabui” jadi pada prinsipnya, semiotika adalah disiplin ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mendustai, mengelabui, atau mengecoh (Perdana, 2005 : 14).