• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Mutasi Peserta Didik

2. Makna Manajemen Pendidikan

dan ilmu pendidikan) dan melakukan kegiatan pelaksanaan pendidikan (mikro atau makro) atau penyelenggaraan pendidikan.

Menurut UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2, pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

mencapai, berapa lama, berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biayanya. Perencanaan itu dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan.

Pengorganisasian diartikan sebagai kegiatan membagi tugas-tugas kepada orang yang teribat dalam kerja sama pendidikan tadi. Karena tugas-tugas ini demikian banyak dan tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, maka tugas-tugas ini dibagi untuk dikerjakan masing-masing anggota organisasi.

Pengkoordinasian mengandung makna menjaga agar tugas-tugas yang telah dibagi itu dapat dikerjakan menurut kehendak yang mengerjakannya saja, tetapi menurut aturan sehingga menyumbang terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan disepakati.Tiap-tiap orang haru mengetahui tugas masing-masing sehingga tumpang tindih yang tidak perlu dapat dihindarkan.Di samping itu dalam menjalankan tugas pendidikan, pengaturan waktu merupakan hal yang penting.Ada kegiatan yang harus didahulukan, ada yang harus dilakukan kemudian, dan ada pula yang harus dikerjakan secara barengan.

Pengarahan diperlukan agar kegiatan yang dilakukan bersama itu tetap melalui jalut yang telah ditetapkan, tidak terjadi penyimpangan yang dapat menimbulkan terjadinya pemborosan.Semua orang yang bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, harus tetap ingst dan secara konsisten menuju tujuan itu. Kadang-kadang karena beberapa faktor, perumusan itu tidak jelas, sehingga cara mencapainyapun tidak jelas. Dalam keadaan demikian diperlukan pula adanya pengarahan. Agar pengarahan ini sesuai dengan apa yang telah ditetapkan, diperlukan pengarahan yang mempunyai kemampuan, yaitu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar mereka mau berkerja sebaik-baiknya dalam mencapai tujuan bersama.

Di samping pengarahan, suatu kerja sama juga memerlukan proses pemantauan (monitoring), yaitu suatu kegiatan untuk mengumpulkan data dalam usaha mengetahui sudah sampai seberapa jauh kegiatan pendidikan telah mencapai tujuannya, dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksanaan itu. Pemantauan dilakukan untuk mendapatkan bukti-bukti atas data dalam menetapkan apakah tujuan tercapai atau

adalah kegiatan untuk mengumpulkan data tentang penyelenggaraan suatu proses pencapaian tujuan. Data itu dipakai untuk mengidentifikasikan apakah proses pencapaian tujuan berjalan dengan baik, apakah ada penyimpangan dalam kegiatan itu serta kelemahan apa yang didapatkan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Ketiga, manajemen pendidikan dapat dilihat dengan kerangka berpikir sistem. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian-bagian-bagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran.

Pengertian ini kelihatannya sulit, tetapi sebenarnya tidak demikian.Ambilah contoh suatu sekolah dasar.Sekolah dasar itu merupakan suatu keseluruhan yang memproses murid menjadi lulusan.

Dalam melihat sekolah itu sebagai suatu sistem kita harus melihat:

(a) masukannya, yaitu bahan mentah yang berasal dari luar sistem (lingkungan) yang akan diolah oleh sistem, dalam sistem sekolah dasar masukan ini adalah anak-anak yang masuk sekolah dasar itu;

(b) prosesnya, yaitu kegiatan sekolah beserta aparatnya untuk mengolah masukan menjadi keluaran. Contoh proses itu di sekolah dasar adalah proses belajar-mengajar, bimbingan kepada murid, kegiatan pramuka, palang merah remaja, dan sebagainya. Untuk melaksanakan proses ini harus ada sumber, baik tenaga, sarana dan prasarana, uang maupun waktu. Sumber ini seringkali dinakaman masukan instrumental; dan (c) keluaran, yaitu masukan yang telah diolah melalui proses tertentu.

Dalam hal ini berupa lulusan.

Mutu lulusan akan sangat tergantung kepada mutu masukan, masukan instrumental, dan proses itu sendiri. Dengan demikian kemampuan awal murid, latar belakang murid, keadaan orang tua murid sebagai masukan mentah. Mutu itu juga sangat tergantung kepada mutu guru, mutu sarana dan prasarana, mutu dan iklim kerja sama diantara gutu dengan murid, guru dengan guru, serta guru dengan kepala sekolah, sebagai masukan instrumentasl. Kesemuanya ini menentukan kualitas proses belajar-mengajar yang pada gilirannya sangat menentukan kualitas lulusan itu. Hal tersebut dapat diketahui dari berbagai hasil penelitian tentang unjuk kerja sekolah dan murid.

Jika kita melihat manajemen pendidikan sebagai sistem, maka kita berusaha melihat bagian-bagian sistem itu serta interaksinya satu sama lain. Bagian-bagian itu sering juga disebut dengan komponen. Dengan meninjau komponen-komponen tersebut serta hubungannya satu dengan lainnya, diharapkan kita dapat menetapkan apa yang sebaiknya dilakukan untuk memperbaiki komponen itu atau mengembangkannya.

Di dalam manajemen modern waktu justru dianggap sebagai sumber yang amat penting, karena waktu tidak dapat diperbarui (unrenewable resources).Waktu berarti kesempatan. Jika kesempatan itu tidak dipergunakan sebaik-baiknya maka kita akan kehilangan waktu tersebut, dan dapat menjadi sebab kegagalan manajemen. Jadi unsut manajemen utama bukan hnaya manusia, uang dan sarana-prasarana.

Keempat,manajemen pendidiakn juga dapat dilihat dari segi efektivitas pemanfaatan sumber. Jika manajemen dilihat dari sudut ini, perhatian tertuju kepada usaha untuk melihat apakah pemanfaatan sumber-sumber yang ada dalam mencapai tujuan pendidikan itu sudah mencapai sasaran yang ditetapkan dan apakah dalam pencapaian tujuan itu tidak terjadi pemborosan.Sumber yang dimaksud dapat berupa sumber manusia, uang, sarana dan prasarana maupun waktu.

Kelima, manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari segi kepemimpinan. Manajemen pendidikan dilihat dari kepemimpinan merupakan usaha untuk menjawab pertanyaan bagaimana dengan kemampuan yang dimiliki administrator pendidikan itu, ia dapat melaksanakan tut wurihandayani, ing madya mangun karso, dan ing ngarso sung tulodo dalam pencapaian tujuan pendidikan.

Keenam, manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari proses pengambilan keputusan. Kita tahu bahwa melakukan kerja sama dan memimpin kegiatan sekolompok orang bukanlah pekerjaan yang mudah.

Ketujuh, manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari segi komunikasi. Komunikasi dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha untuk membuat orang lain mengerti apa yang kita maksudkan, dan kita juga mengerti apa yang dimaksudkan, dan kita juga mengerti apa yang dimaksudkan orang lain itu.

Kedelapan, manajemen seringali diartikan dalam pengertian yang

catat-mencatat, mendokumentasikan kegiatan, menyelenggarakan surat-menyurat dengan segala aspeknya, serta mempersiapan laporan.

Uraian diatas mencoba menjelaskan manajemen pendidikan itu, tanpa mengemukakan definisi dengan satu pengertian saja.Seperti telah disunggung di muka, satu definisi saja tidak dapat menjelaskan dengan gamblang mengenai manajemen pendidikan itu, karena manajemen pendidikan mempunyai banyak dimensi.

Di bagian depan sudah diuraikan sedikit bahwa manajemen pendidikan dapat ditinjau dari sudut proses pencapaian tujuan pendidikan. Ptoses ini merupakan daur (siklus) yang dimulai dari;

perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pembiayaan, pemantauan, dan penilaian.

Dokumen terkait