Maksud dan Tujuan Survey
2. Maksud dan Tujuan Survey
Bagian ini menjelaskan tujuan dan mafaat dari survey ini terhadap kerja-kerja pembaharuan peradilan di Indonesia.
Salah satu reformasi terbesar di dalam struktur pengadilan Indonesia adalah disatukannya sistem administrasi badan peradilan pada level pengadilan tinggi (PT) dan pengadilan negeri (PN) di bawah organisasi Mahkamah Agung (MA). Sebelumnya, sistem administrasi badan peradilan pada level PT dan PN dikendalikan oleh pihak eksekutif, yaitu melalui kementerian kehakiman pada saat itu. Kebijakan penyatuan satu atap ini dituangkan di dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman, sebelum digantikan oleh Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009.
Kebijakan penyatuan atap ini kemudian dilanjutkan dengan berbagai perubahan undang-undang, terkait dengan jenis-jenis peradilan secara spesifik.
Salah satu langkah awal reformasi kelembagaan pengadilan adalah dengan penyusunan Cetak Biru Pembaharuan Kelembagaan Mahkamah Agung Republik Indonesia 2003, yang kemudian disusul dilahirkannya Cetak Biru Pembaruan Peradilan 2010 – 2035. Cetak biru yang diproduksi merupakan panduan reformasi kelembagaan yang ditetapkan oleh MA untuk peradilan. Cetak biru tersebut kemudian diimplementasikan dengan serangkaian kebijakan-kebijakan teknis, salah satunya di bidang pelayanan publik.
Pembaharuan kebijakan pelayanan publik ini
2. Survey Purpose and Objective
This section explains the purpose and objective of this survey to court reform works in Indonesia. One of the largest reforms within the court structure in Indonesia was the integration of court administrative system at the level of High Court and District Court to be under the Supreme Court. Previously, the court administrative system at the High Court and District Court was controlled by the executive branch through the Ministry of Justice at the time. The one roof integration policy was enshrined in Law Number 4 Year 2004 concerning Judiciary Powers, before it was replaced by Law Number 48 year 2009.
This one roof integration policy was then continued with various law amendments related to specific types of courts.
One of the early steps of court institution reform was the drafting of Institutional Reform Blueprint of the Supreme Court on 2003, which was followed up by the creation of Court Reform Blueprint 2010 – 2035. The produced blueprint is an institutional reform guideline established by the Supreme Court for the courts. Such blueprint is implemented by a series of technical policies; one of them is in public service. This public service policy reform is done by carrying out reforms in technical function and case management, such as the implementation of SOP for administrative process in the Supreme
dilakukan dengan melakukan pembaharuan fungsi teknis dan manajemen perkara, antara lain, penetapan Standar Operasi Prosedur (SOP) untuk proses administrasi di MA dan pengadopsian solusi teknologi di dalam proses sistem administrasi pengadilan.
Pada bidang pelayanan publik, MA telah menerbitkan beberapa SOP umum yang dapat digunakan sebagai panduan bagi MA untuk melaksanakan kegiatan pelayanan publik tersebut. Hal ini tertuang di dalam Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 026/KMA/
SK/II/2012 Tentang Standar Pelayanan Peradilan, meliputi: Standar Pelayanan Administrasi Persidangan, Pelayanan Bantuan Hukum, Pelayanan Pengaduan, dan Pelayanan Permohonan Informasi.
Tujuan utama dari survey ini bukanlah untuk memberikan penilaian terhadap pengadilan, namun survey ini lebih ditujukan untuk melakukan pemetaan terhadap pelayanan publik di pengadilan.
Alasan pemilihan survey kepuasan pengguna pengadilan adalah untuk mendengarkan suara pengguna layanan pengadilan terhadap kualitas pelayanan publik pengadilan. Oleh karenanya, dengan dipilihnya model pendekatan ini, survey ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi kita semua akan harapan dan suara dari pengguna pengadilan.
Selain hal tersebut, survey ini juga diharapkan dapat digunakan untuk memahami secara menyeluruh pelayanan publik yang diberikan oleh pengadilan kepada masyarakat pengguna pengadilan.
Court and the adoption of technology as a solution within the court administration system process.
In the area of public service, the Supreme Court has issued several general SOPs that can be used as guidelines for the Supreme Court to implement public service activities. This is enshrined in the Decree of the Chief Justice Number 026/
KMA/SK/II/2012 concerning Court Service Standards, including: Standard for Hearing Administration Service, Legal Aid Service, Complaint Service, and Information Request Service.
The main objective of this survey is not to evaluate the courts, but more to conduct mapping of public service in courts. The reason we chose satisfaction survey for court users is to listen to the voice of court service user on the quality of court public service. Therefore, with the selection of this approach model, this survey is expected to provide to us the expectation and voice of court users. In addition, this survey is also expected to be used to understand comprehensively on public service given by the court to court users.
Pemenuhan harapan pengguna pengadilan ini sangat penting dan subtantif. Kepuasan terhadap pelayanan pengadilan merupakan bagian terpenting untuk menumbuhkan kepercayaan publik (public confidence) kepada pengadilan.
Tumbuhnya kepercayaan publik kepada pengadilan akan menjamin independensi kehakiman di dalam melaksanakan fungsi pengadilan.
Survey kepuasaan merupakan salah satu instrumen yang lazim digunakan untuk menilai implementasi pelayanan publik di lapangan. Memposisikan pengguna layanan sebagai konsumen yang harus dilayani, merupakan paradigma yang telah cukup banyak dianut di dalam reformasi birokrasi di banyak negara. Salah satunya, dengan cara mendengarkan suara dari pengguna layanan melalui survey kepuasan pengguna layanan publik.2 Hasil akhir dari survey ini tidak hanya terbatas pada diperolehnya peta situasi pelayanan publik pengadilan yang ada saat ini, namun lebih dari itu, hasilnya juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis untuk mendorong peningkatan pelayanan publik pengadilan.
Fulfilling the expectation of court users is very important and substantive.
Satisfaction on court service is the most important part to grow public confidence towards the court. This public confidence will ensure judiciary independence in carrying out court functions.
The satisfaction survey is one instrument commonly used to assess public service implementation on the field. Positioning service users as consumers that must be provided the best service is a paradigm hold by many countries in terms of bureaucratic reform. One of which is by listening to the voice of service users through public service user satisfaction survey.2 The final result of this survey is not only limited to obtaining the map of existing court public service situation, but more than that, the result is expected to provide practical recommendation to promote an improvement of court public service.
2 Thomas A. Bryer, Bureaucratization and Active Citizenship : Approaches to Administrative Reforms,
<http://www.naspaa.org/initiatives/paa/pdf/thomas_bryer.pdf>, hlm. 17
2 Thomas A. Bryer, Bureaucratization and Active Citizenship : Approaches to Administrative Reforms,
<http://www.naspaa.org/initiatives/paa/pdf/thomas_bryer.pdf>, hlm. 17
3.1 Pendekatan Kuantitatif 3.1 Quantitative Approach 3.2 Pendekatan Kualitatif 3.2 Qualitative Approach 3.3 Kuesioner
3.3 Questionnaire 3.4 Analisis Data 3.4 Data Analysis