METODE PENELITIAN
I.5 Kerangka Teori
1.5.3 Manager dan Manajemen
1.5.3.1. Pengertian Manager dan Manajemen
Mary Parker Follet (1993) mendefenisikan manager sebagai pengatur atau pengelola untuk mengarahkan orang lain dalam pencapaian tujuan sebuah organisasi atau perusahaan. Adapun Ricky W Griffin (2004) mendefenisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan , pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan sementara efisien berarti tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir dan sesuai jadwal.
1.5.3.2 Fungsi dan Peran Manager & Manajemen
Henry Mintzberg sebagai seorang ahli riset ilmu manajemen, mengemukakan ada 3 pokok fungsi dan peran seorang manager, yakni :
a) Sebagai peran antar pribadi, yaitu melibatkan orang dan kewajiban lain yang bersifat seremonial dan simbolis. Peran ini meliputi peran sebagai figur untuk pemimpin, bawahan, dan penghubung.
b) Sebagai peran informasional, meliputi peran manager sebagai pemantau dan penyebar informasi.
c) Sebagai pengambil Keputusan, meliputi peran sebagai seorang wirausahawan, pemecah masalah dan pembagi sumberdaya.
Ketiga fungsi diatas disimpulkan bahwa manager sebaiknya menjalin komunikasi yang baik dengan setiap anggota nya.
Adapun fungsi Manajemen oleh G.R Terry „Principles of Management‟ (2000) menyatakan bahwa fungsi fundamental manajemen meliputi hal sebagai berikut :
1. Planning (Perencanaan) : dalam hal ini seorang manager harus dapat memutuskan apa yang ingin dicapai baik untuk jangka panjang dan jangka panjang dari perusahaannya.
2. Organizing (Pengorganisasian) : dalam hal ini seorang manager memutuskan pekerjaan - pekerjaan mana harus diisi serta tugas dan tanggung jawab yang berkaitan dengan masing - masing pekerjaan.
3. Actuating (Menggerakkan) : dalam hal ini seorang manager baiknya memberikan dorongan dan pemicu yang dapat menggerakkan setiap anggotanya untuk memberikan kemampuan yang terbaik buat perusahaan. 4. Contolling (Mengawasi) ; dalam hal ini seorang manager seharusnya
memberikan perhatian yang lebih terhadap setiap proses yang terjadi guna menghindari risiko terburuk yang mungkin terjadi dan setiap anggota dapat bekerja sesuai dengan prosedurnya masing - masing.
1.5.3.3 Tingkatan Manager
Robert L Katz (1970) mengemukakan bahwa setiap manager memiliki tiga tingkatan yang dijadikan sebagai kategori. Tingkatan tersebut yakni :
secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan. Contoh top – manager adalah CEO ( Chief Excecutif Officer).
b) Manager tingkat menengah (middle manager) merupakan elemen yang menjadi penghubung antara top manager dengan manager tingkat bawah (first line manager). Jabatan yang termasuk kategori ini seperti kepala bagian, pemimpin proyek, manager pabrik atau manager divisi. c) Manager tingkat bawah (first line manager) merupakan tingkatan
paling rendah .Kategori ini sering disebut penyelia (supervisor), manager area, manager kantor, atau mandor.
1.5.4 Agen
1.5.3.1 Pengertian Agen
Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, disebutkan bahwa Agen Asuransi adalah seseorang atau Badan Hukum yang kegiatannya memberi jasa, memasarkan jasa asuransi untuk dan atas nama penanggung (dalam hal ini Perusahaan Asuransi). Seorang agen dapat menjelaskan aneka manfaat dan batasan yang dimilikinya, tanggung jawab dan hak nasabah, serta memilih kombinasi produk asuransi yang tepat menurut kebutuhan nasabah di masa kini dan mendatang. Mereka memang terlatih dan mengkhususkan diri untuk itu. Banyak di antaranya bahkan telah belasan tahun menjadi agen.
1.5.3.2 Fungsi dan Peranan Agen
Menurut Redaksi Proteksi Jakarta dalam kontribusi agen terhadap industri
agen adalah ujung tombak perusahaan asuransi. Melalui tangan agen, premi triliunan rupiah dapat dihimpun. Premi yang dihimpun industri asuransi dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk klaim, komisi agen, investasi, pajak, serta biaya operasional perusahaan. Disamping itu juga peranan agen sangat diperlukan masyarakat salah satunya adalah mendidik masyarakat agar mengenal, mengetahui, memahami, memanfaatkan dan menikmati jasa asuransi jiwa. Agen juga bertugas tidak hanya menjual dan mengarahkan seseorang agar membeli produk asuransi. Bisa dikatakan Agen asuransi adalah mitra pemegang polis dalam merancang kesejahteraan masa depan keluarga. Adapun hubungan jangka panjang antara agen dengan pemegang polis dapat diarahkan, pemegang polis tidak hanya konsumen asuransi, tapi bisa menjadi mitra bisnis agen. Agar agen asuransi dapat berperan optimal, dukungan perusahan yang diageni jelas sangat dibutuhkan. Tanpa dukungan dan bimbingan perusahaan asuransi, seorang agen tidak akan berhasil mengembangkan profesinya. Dukungan itu bisa berupa pembekalan knowledge, skill, sistem remunerasi yang jelas dan sebagainya.
1.5.4 Prestasi Kerja
1.5.4.1 Pengertian Pretasi Kerja
Setiap perusahaan pada dasarnya menginginkan dan menuntut agar seluruh karyawan selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Namun karyawan tidak dapat diperlakukan seenaknya seperti menggunakan faktor-faktor produksi lainnya (mesin, modal, dan bahan baku). Karyawan juga harus selalu diikut sertakan dalam setiap kegiatan serta memberikan peran aktif untuk
canggih yang dimiliki tidak ada artinya bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya. Menurut Hasibuan ( 2008 : 94 ) menyatakan bahwa: “Prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas – tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan , pengalaman, dan kesungguhan serta waktu”.
Mangkunegara (2002 : 33) menyatakan: “Prestasi kerja dari kata job performance atau actual performance adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”. Maier dalam As‟ad (2001 : 63) menjelaskan bahwa: “Kriteria ukuran prestasi kerja adalah : kualitas, kuantitas, waktu yang dipakai, jabatan yang dipegang, absensi, dan keselamatan dalam menjalankan pekerjaan. Dimensi mana yang penting adalah berbeda antara pekerjaan yang satu dengan pekerjaan yang lain”. Menurut Heidjrahman dan Husnan (2002 : 188): “Prestasi kerja dapat ditafsirkan sebagai arti pentingnya suatu pekerjaan, tingkat keterampilan yang diperlukan, kemajuan dan tingkat penyelesaian suatu pekerjaan. Prestasi kerja merupakan proses tingkat mengukur dan menilai tingkat keberhasilan seseorang dalam pencapaian tujuan”.
1.5.4.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Kerja
Byar dan Rue dalam Sutrisno (2011:151) mengatakan bahwa: “Ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi kerja, yaitu faktor individu dan lingkungan.
Faktor individu yang dimaksud adalah:
1. Usaha (effort) yang menunjukkan sejumlah sinergi fisik dan mental yang digunakan dalam menyelenggarakan gerakan tugas.
2. Abilities, yaitu sifat-sifat personal yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas.
3. Role/task perception, yaitu segala perilaku dan aktivitas yang dirasa perlu oleh individu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Adapun faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi prestasi kerja adalah: 1. Kondisi fisik 2. Peralatan 3. Waktu 4. Material 5. Pendidikan 6. Supervisi 7. Desain Organisasi 8. Pelatihan 9. Keberuntungan
Menurut Mangkunegara (2002: 33): “Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi kerja adalah:
a. Faktor Kemampuan
Secara psikologis, kemampuan (ability) karyawan terdiri dan kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + skill). Artinya karyawan yang memiliki IQ diatas rata-rata : (IQ 110 - 120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh sebab itu karyawan perlu ditempatkan pada perkerjaan yang sesuai dengan keahlian.
b. Faktor Motivasi
Motivasi berbentuk dari sikap (atitude) seorang karyawan dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi menggerakkan diri karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).
1.5.4.3 Indikator-indikator Prestasi Kerja Karyawan
Pekerjaan dengan hasil yang tinggi harus dicapai oleh karyawan. Nasution (2000:99) menyatakan bahwa ukuran yang perlu diperhatikan dalam prestasi kerja antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Kualitas kerja.
Kriteria penilaiannya adalah ketepatan kerja, keterampilan kerja, ketelitian kerja, dan kerapihan kerja.
Kuantitas kerja.
Kriteria penilaiannya adalah kecepatan kerja. Disiplin kerja.
Kriteria penilaiannya adalah mengikuti instruksi atasan, mematuhi peraturan perusahaan, dan ketaatan waktu kehadiran.
Inisiatif.
Kriteria penilaiannya adalah selalu aktif atau semangat menyelesaikan pekerjaan tanpa menunggu perintah atasan artinya tidak pasif atau bekerja atas dorongan dari atasan.
Kerjasama.
Kriteria penilaiannya adalah kemampuan bergaul dan menyesuaikan diri serta kemampuan untuk memberi bantuan kepada karyawan lain dalam batas kewenangannya.