• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Manajemen dan Manajemen Pendidikan

Sebelum dikemukakan pengertian manajemen berbasis sekolah, maka terlebih dahulu akan dibahas definisi manajemen. Pembahasan mengenai definisi manajemen tidak terlepas daripada sudut pandang, keyakinan, dan kompetensi dari para ahli, tetapi pada dasarnya prinsip, maksud, dan tujuannya adalah sama. Sebagai bahan referensi dan perbandingan berikut ini diberikan beberapa pendapat dari para tokoh/ahli manajemen diantaranya adalah sebagai berikut:

Wanardi (1983: 4) mengemukakan bahwa manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lain.

Selanjutnya Siagian (1998:14) mengemukakan pendapatnya bahwa manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.

Liang Gie (1979: 160) lebih menekankan pengertian manajemen pada aspek kerjasama, yakni manajemen adalah segenap perbuatan menggerakkan sekelompok orang dan menggerakkan segala fasilitas dalam suatu usaha kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.

12

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, tersirat bahwa manajemen itu harus melalui afiliansi dengan orang lain. Bila ada suatu pekerjaan yang dilakukan tanpa melibatkan orang lain atau secara individual, maka pekerjaan itu bukan manajemen, sebab manajemen adalah tindakan atau langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk menggerakkan orang lain dengan cara merencanakan, mengorganisasi, memotivasi, dan mengawasi orang-orang serta melakukan perkejaan secara bersama-sama.

Manajememen berbasis sekolah erat kaitannya dengan manajemen pendidikan. Burhanuddin (2004: 23) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan adalah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Manajemen merupakan kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan orang lain. Pidarta (2004: 49) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan bangsa

Manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pencapaian tujuan yang efektif dan efisien melalui sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Engkoswara (2006: 2) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama.

Memperhatikan beberapa pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa manajemen pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan manajemen atau administrasi dalam mengelola, mengatur, dan mengalokasikan sumber daya yang terdapat dalam dunia pendidikan, fungsi administrasi pendidikan merupakan alat untuk mengintegrasikan peranan seluruh sumber daya guna tercapainya tujuan pendidikan dalam suatu konteks sosial tertentu, ini berarti bahwa bidang-bidang yang dikelola mempunyai kekhususan yang berbeda dari manajemen dalam bidang lain.

Ramayulis (2008: 362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan berasal dari kata dabbara (mengatur) yang banyak. Firman Allah swt.. dalam Q. S. as-Sajdah (32) Ayat 5



Terjemahnya:Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (Departemen Agama RI, 2002 : 660)

Dari ayat tersebut dapatlah diketahui bahwa Allah swt.. adalah pengatur alam (manager). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt. dalam mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah swt. telah dijadikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah swt. mengatur alam raya ini.

Bila kita perhatikan dari pengertian manajemen di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa manajemen merupakan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerja sama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efisien, dan produktif.

Seperti diketahui bahwa proses manajemen antara lain mengintegrasikan sumber-sumber pendidikan dan memanfaatkannya seoptimal mungkin. Dalam pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Kepala sekolah misalnya bisa berperan sebagai

administrator dalam mengemban misi atasan, sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan, dan sebagai supervisor dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar. Sejalan dengan itu, kebutuhan akan manajer-manajer pendidikan yang profesional sudah merupakan suatu keharusan.

Menurut Azhar (2005: 17) bahwa terdapat tiga unsur dasar manajemen yang menentukan terjadinya proses manajemen. Pertama, unsur ide-ide (ideas) yang berkaitan dengan pemikiran konseptual di mana perencanaan merupakan suatu bagian terpenting; kedua, unsur sesuatu (things) yang berkaitan dengan administrasi; dan ketiga, unsur manusia (people) yang berkaitan dengan bagaimana cara mengarahkan manusia (kepemimpinan).

Proses manajemen terlebih dahulu diawali dengan bangunan kerangka pikir yang sekaligus menjadi kerangka kerja dalam pelaksanaan manajemen. Dalam pendekatan sistem, konsepsi-konsepsi pikir yang mengawali suatu proses kerja bertujuan untuk membentuk suatu kerangka sistematis yang akan menguraikan korelasi-korelasi antar aktivitas yang lebih terencana dan efektif sekaligus dapat melakukan analisa yang lebih tepat untuk melihat peluang dan tantangan ke depan.

Setelah melalui proses pembentukan konsepsi pikir dan konsepsi kerja maka proses selanjutnya adalah proses pengorganisasian. Proses ini terkait secara kuantitatif dengan pendekatan operasional yang akan

mengatur proses pendataan, upaya-upaya metodologis dalam penentuan tujuan-tujuan, cara kerja, dan inventarisasi organisasi. Pengaturan terhadap hal ini merupakan proses kerja administratif dalam pembentukan rencana kerja yang lebih matang untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik. Melalui proses administratif, kerja manajemen akan disusun dalam konsepsi yang lebih tajam dalam pengelolaan finansial organisasi serta maksimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan ruang dan waktu.

Pencapaian tujuan manajemen secara aplikatif membutuhkan tahapan-tahapan kerja yang diawali dengan penyeragaman ide atau konsepsi-konsepsi pikir dan konsepsi-konsepsi kerja yang kemudian akan diatur dalam proses administratif serta optimalisasi proses kepemimpinan atau sumber daya manusianya.