• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORETIS

F. Manajemen Haji Indonesia

Secara istilah manajemen terjemahannya dalam bahasa Indonesia, hingga saat ini belum ada keseragaman, berbagai istilah yang dipergunakan seperti: ketatalaksanaan, manajemen, manajemen pengurusan dan lain sebagainya. Untuk menghindari penafsiran yang berbeda-beda, istilah manajemen mengandung 3 pengertian yaitu 1. Manajemen sebagai suatu proses Istilah manajemen dalam

“Encyclopedia of the social sciences” dikatakan bahwa suatu proses yang

pelaksanaannya diawasi dan mempunyai tujuan tertentu. Manajemen menurut Hai Mann adalah suatu fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama. Manajemen menurut George R. Terry mengatakan bahwa manajemen adalah pencapaian tujuan

yang diterapkan terlebih dahulu dengan menggunakan kegiatan orang lain. Berdasarkan ketiga definisi manajemen tersebut bisa diambil 3 pokok penting yaitu: adanya tujuan yang hendak dicapai, kegiatan orang lain, kegiatan orang lain tersebut harus dibimbing dan diawasi. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan Aktivitas manajemen. Segenap orang-orang yang melakukan aktifitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen. Dalam arti singular (tunggal) disebut manajer (Purnomo, 2015).

Manajer adalah pejabat yang bertanggung jawab atas terselenggaranya aktifitas-aktifitas manajemen agar tujuan unit yang dipimpinnya tercapai dengan menggunakan bantuan orang lain. Manajemen adalah suatu seni atau suatu ilmu. Chester I Barnard mengakui bahwa manajemen adalah “seni” dan juga sebagai

“ilmu”, demikian pula Henry Fayol, George R. Terry. Jadi manajemen dapat

didefinisikan yaitu seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan dari sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan terlebih dahulu.

2. Tingkatan Management dalam Pemerintahan Pusat

Dalam pemerintahan pusat, tingkatan manajemen dapat digambarkan pada gambar 2.1 berikut ini:

Gambar 2.2 Tingkatan Manajemen

Gambar 2.2 menjelaskan tingkatan manajemen dalam suatu pemerintahan berdasarkan jabatan struktural yang terdiri dari mulai eselon I (satu) sampai dengan non-eselon. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 100 tahun 2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural, eselon merupakan tingkatan jabatan struktural. Jabatan struktural adalah suatu kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang pegawai negeri sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi Negara.

Menurut Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 490 Tahun 2003 tentang Pendelegasian Wewenang Pemeriksaan Pelanggaran Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Agama, pejabat eselon I (satu) adalah sekretaris jenderal, inspektur jenderal, direktur jenderal, kepala bagian litbang agama

Eselon I

Eselon IV Eselon III Eseleon II Eselon V

dan diklat keagamaan. Pejabat eselon II (dua) adalah kepala biro, sekretaris, direktur, inspektur, kepala pusat pada sekretariat jenderal dan kepala badan litbang agama dan diklat keagamaan, kepala kanwil Kem. Agama Propinsi. Pejabat eselon III (tiga) adalah kepala bagian, kepala sub direktorat, kepala bidang, kepala kantor departemen agama kabupaten/kota. Pejabat eselon IV (empat) adalah kepala sub bagian, kepala seksi, kepala KUA. Non-eselon merupakan staf/pegawai yang menjalankan tugas langsung dari pejabat eselon IV.

3. Proses Manajemen Organisasi Pemerintahan

Menurut Sumarsono (2010:25), proses manajemen organisasi pemerintahan pada dasarnya sama dengan organisasi komersial yaitu perencanaan, pengarahan, pengendalian, dan evaluasi penggunaan umber-sumber yang dikelola. Menurut Kinicki dan Williams (2011:14), proses manajemen yang dikenal juga sebagai fungsi manajemen dibagi menjadi 4 (empat):

a) Planning: didefinisikan sebagai menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Yuwono, Indrajaya, dan Hariyadi (2005:3), perencanaan adalah salah satu tugas penting manajemen di awal siklus operasional.

b) Organizing: didefinisikan sebagai mengatur tugas, orang-orang, dan sumber daya lainnya untuk menyelesaikan pekerjaaan.

c) Leading: didefinisikan sebagai motivasi, pengarahan, dan kemudian mempengaruhi orang-orang untuk bekerja keras untuk mencapai tujuan organisasi

d) Controlling: didefinisikan sebagai mengawasi kinerja, membandingkan kinerja dengan tujuan, dan mengambil tindakan koreksi seperti yang dibutuhkan.

4. Pengertian Haji

Kata haji berasal dari akar kata – جح جح ي- جح Yang artinya “menuju ke tempat tertentu”, sedangkan secara bahasa haji berarti mengunjungi Baitullah untuk

melaksanakan amalan tertentu meliputi wuquf, tawaf, sa'i dan amalan lainnya. Firman Allah dalam surat Al Imran ayat 97 yang berbunyi:

                             Terjemahan :

padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS.Al-Imran, ayat 97)

Dengan demikian dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan, haji adalah pergi ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa amalan haji, dengan

disengaja dan wajib hukumnya bagi yang mampu. Mampu (istito’ah) yang dimaksud

Undang-undang Nomor 13 Tahun 2008 ayat (2) menyebutkan pengertian

penyelenggara ibadah haji adalah: “Rangkaian kegiatan pengelolaan pelaksanaan ibadah haji yang meliputi pembinaan, pelayanan dan perlindungan jamaah haji”.

Sementara itu dalam Pasal 1 ayat (11) Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 396 tahun 2003 tentang perubahan atas keputusan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 371 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah

menyatakan bahwa: “penyelenggaraan. ibadah haji adalah rangkaian kegiatan yang

meliputi pembinaan, pelayanan, dan perlindungan jamaah haji di tanah air dan di

Arab Saudi.” Taufik Kamil menyatakan bahwa penyelenggaraan haji adalah : “Suatu

sistem kegiatan dengan sub-sub sistemnya yaitu Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), pendaftaran, pembinaan, kesehatan, keimigrasian, transportasi, akomodasi, penyelenggaraan ibadah haji khusus, dan umrah. Penyelenggaraan haji sesuai dengan tuntutan undang-undang juga mengacu kepada prinsip-prinsip manajemen modern, yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengontrolan” (Yusni, 2015).

5. Hikmah Ibadah Haji

a) Nafkahnya disamakan dengan infaq fisabilillah. b) Pahala ibadahnya dilipatgandakan (Madinah di Masjid Nabawi dan di Makkah di Masjidil

Haram). c) Do’anya dikabulkan. d) Dosanya diampuni. e) Hatinya

bertambah sakinah f) Jaminannya surga.

Ibadah Haji ialah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa

amalan-amalan lainya dengan syarat dan cara tertentu demi memenuhi panggilan Allah dan mengharap Ridho Allah SWT. Hukum ibadah Haji diwajibkan Allah kepada Ummat manusia yang telah memenuhi syaratsyarat sekali seumur hidup. Selanjutnya yang kedua kali dan seterusnya hukumnya sunnah. dan waktu ibadah haji yaitu pada tanggal 9 sampai 13 Dzulhijjah,

1) Syarat haji: a) Islam b) Baliq (Dewasa) c) Aqil (Berakal sehat) d) Merdeka

(bukan budak) e) Istitho’ah (mampu).

2) Rukun haji : Rukun haji tidak dapat di tinggalkan apabila salah satu rukun tidak dipenuhi, maka hajinya tidak sah adapun rukun haji sebagai berikut:

a) Ihrom b) Wukuf di Arofah c) Thowaf Ifadhoh/Thowaf Haji d) Sa’i e)

Bertahallul/bercukur f) Tertib

3) Wajib haji Wajib haji ini adalah ketentuan yang apabila dilanggar satu ada yang tidak terpenuhi, maka hajinya sah tetapi harus membayar dam (denda) adapun wajib haji sebagai berikut: a) Niat ihrom dari Miqod b) Mabit di Mudzalifah c) Melontar Jumroh Aqobah d) Mabit di Mina e) Melontar 3

Jumroh f) Thowaf wada’.

6. Macam-macam Haji

Tamattu’ adalah mengerjakan Umrah lebih dahulu, baru mengerjakan Haji.

(Cara ini harus membayar Dam Nusuk). b) Ifarad adalah mengerjakan Haji dahulu kemudian baru mengerjakan Umrah. (Cara ini tidak wajib membayar Dam). c) Qiran adalah mengerjakan Haji dan Umrah di dalam satu niat dalam satu pekerjaan sekaligus. (Cara ini wajib membayar Dam nusuk).

Dokumen terkait