• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.4.7. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Manajemen sebagai satu ilmu perilaku yang mencakup aspek sosial dan eksak tidak terlepas dari tanggung jawab keselamatan dan kesehatan kerja, baik dari segi perencanaan maupun pengambilan keputusan dan organisasi.

Manajemen seharusnya menyadari (Silalahi, 2015):

1. Adanya biaya pencegahan

2. Kerugian akibat kecelakaan menimpa karyawan dan peralatan

3. Antara biaya pencegahan dan kerugian akibat kecelakaan terdapat selisih yang sukar ditetapkan

4. Kecelakaan kerja selalu menyangkut manusia, peralatan, dan proses.

5. Manusia merupakan faktor dominan dalam setiap kecelakaan.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu masalah penting dalam setiap masalah operasional, baik di sektor tradisional maupun sektor modern.

Masalah yang terjadi khususnya dalam masyarakat yang sedang beralih dari satu kebiasaan kepada kebiasaan lain, perubahan-perubahan pada umumnya menimbulkan beberapa permasalahan yang jika tidak ditanggulangi secara cermat dapat membawa berbagai akibat buruk bahkan fatal. Permasalahan yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja memerlukan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja komprehensif antara lain dengan (Simajuntak, 2014):

a) Menghimpun informasi dan data kasus kecelakaan secara periodik b) Mengidentifikasi sebab-sebab kasus kecelakaan kerja

c) Menganalisa dampak kecelakaan kerja bagi pekerja sendiri, bagi pengusaha dan bagi masyarakat pada umumnya.

d) Merumuskan saran-saran bagi pemerintah, pengusaha dan pekerja untuk menghindari kecelakaan kerja.

e) Memberikan saran mengenai sistem kompensasi atau santunan bagi mereka yang menderita kecelakaan kerja.

f) Merumuskan sistem dan sarana pengawasan, pengaman lingkungan kerja, pengukuran tingkat bahaya, serta kampanye menumbuhkan kesadaran dan penyuluhan keselamatan dan kesehatan kerja.

Pemerintah mengajak pengusaha dan serikat pekerja untuk menyusun kebijaksanaan dan program yang melindungi pekerja, masyarakat dan lingkungan dari kecelakaan kerja. Pengusaha diwajibkan menyusun sistem pencegahan kecelakaan kerja termasuk identifikasi dan analisis sumber kecelakaan, cara mengurangi akibat kecelakaan, perencanaan dan pemasangan instalasi pengaman, penugasan tenaga khusus dan ahli di bidang keselamatan kerja, melaksanakan inspeksi secara regular, serta menyusun program penyelamatan darurat bila terjadi bencana atau kecelakaan kerja. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan UndangUndang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja: PER. 05/MEN/1996, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dibagi menjadi tiga tingkatan yang kemudian akan digunakan sebagai dasar audit internal perusahaan yaitu:

a) Tingkat awal adalah perusahaan kecil atau perusahaan dengan tingkat resiko rendah harus menetapkan sebanyak 64 kriteria.

b) Tingkat transisi adalah perusahaan sedang atau perusahaan dengan tingkat resiko menengah harus menetapkan sebanyak 122 kriteria

c) Tingkat lanjutan adalah perusahaan besar atau perusahaan dengan tingkat resiko tinggi harus menetapkan sebanyak 166 kriteria.

Dalam penentuan kriteria perusahaan juga dapat ditentukan melalui kriteria kebakaran suatu perusahaan, sebagai contoh apabila perusahaan tersebut berhubungan dengan logam maka perusahaan tersebut dapat dikategorikan sebagai perusahaan dengan kategori sedang dua, dan disimpulkaan bahwa perusahaan tersebut perusahaan menengah.

55 3.1 Kerangka Teori

Gambar 3.1 Kerangka Teori

Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Penerapan SMK3 1. Pembangunan dan

Pemeliharaan komitmen 2. Strategi pendokumentasian 3. Peninjauan ulang desain dan

kontrak

4. Pengendalian dokumen 5. Pembelian

6. Keamanan bekerja berdasarkan SMK3

7. Standar pemantauan 8. Pelaporan dan perbaikan 9. Pengelolaan material dan

perpindahannya

10. Pengumpulan dan penggunaan jasa

11. Audit SMK3

12. Pengembangan keterampilan dan kemampuan

3.2. Kerangka Berfikir

Gambar 3.2 Kerangka Berfikir

Penerapan SMK3 di PT. Yodya Karya (Persero) 1. Pembangunan dan

Pemeliharaan komitmen 2. Pembuatan dan

Pendokumentasian Rencana K3 3. Pengendalian Perancangan dan

Peninjauan Kontrak 4. Pengendalian Dokumen 5. Pembelian dan Pengendalian

Produk

6. Keamanan Bekerja Berdasarkan SMK3 7. Standar Pemantauan 8. Pelaporan dan Perbaikan

Kekurangan

9. Pengelolaan Material dan Perpindahannya

10. Pengembangan keterampilan dan kemampuan

3.3 Definisi Istilah

Tabel 3.1 Definisi Istilah

No. Variabel Definisi

1 SMK3 Suatu sistem K3 di perusahaan yang melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja an lingkungan kerja untuk mengurangi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja

2 Penerapan K3 Pelaksanaan K3 di perusahaan yang meliputi jaminan kemampuan, kagiatan 6 pendukung, identifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian resiko 3 Pembangunan dan

Pemeliharaan komitmen

Tekad, keinginan dan pernyataan tertulis pengusaha atau pengurus dalam pelaksanaan K3

4 Pembuatan dan Pendokumentasian Rencana K3

Terdapat prosedur terdokumentasi untuk identifikasi potensi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko K3 sebagai rencana strategi K3 dilakukan oleh petugas yang berkompeten bahaya dan penilaian risiko K3 bagi tenaga kerja, lingkungan, dan masyarakat, dimana prosedur tersebut digunakan pada saat memasok barang dan jasa dalam suatu kontrak.

6 Pengendalian Dokumen

Dokumen K3 mempunyai identifikasi status, wewenang, tanggal pengeluaran dan tanggal modifikasi

7 Pembelian dan Pengendalian Produk

Prosedur yang terdokumentasi dapat menjamin bahwa spesifikasi teknik dan informasi lain yang relevan dengan K3 telah diperiksa sebelum keputusan untuk membeli.

8 Keamanan Bekerja Berdasarkan SMK3

Petugas yang kompeten telah mengidentifikasi bahaya, menilai dan mengendalikan risiko yang timbul dari suatu proses kerja.

9 Standar Pemantauan

Pemeriksaan/inspeksi terhadap tempat kerja dan cara kerja dilaksanakan secara teratur.

10 Pelaporan dan Perbaikan Kekurangan

Prosedur pelaporan bahaya yang berhubungan dengan K3 dan prosedur ini diketahui oleh tenaga kerja.

11 Pengelolaan Material dan Perpindahannya

Prosedur untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan menilai risiko yang berhubungan dengan penanganan secara manual dan mekanis

12 Pengembangan keterampilan dan kemampuan

Analisis kebutuhan pelatihan K3 sesuai persyaratan peraturan perundang-undangan telah dilakukan

58 4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan atau melukiskan realitas sosial yang kompleks yang ada di masyarakat (Mantra, 2014).

Studi kasus termasuk dalam penelitian analisis deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan terfokus pada suatu kasus tertentu untuk diamati dan dianalisis secara cermat sampai tuntas. Kasus yang dimaksud bisa berupa tunggal atau jamak, misalnya berupa individu atau kelompok. Di sini perlu dilakukan analisis secara tajam terhadap berbagai faktor yang terkait dengan kasus tersebut sehingga akhirnya akan diperoleh kesimpulan yang akurat (Sutedi, 2009).

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di PT. Yodya Karya (Persero) Jakarta pada Desember 2016.

4.3. Informan Penelitian

Teknik sampling atau penentuan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu tehnik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu itu misalnya orang tersebut dianggap orang yang paling tahu tentang apa yang kita harapkan atau

mungkin dia sebagai penguasa sehingga memudahkan peneliti menjelajahi situasi sosial yang diteliti (Sugiono, 2009). Pengumpulan data di lapangan dikumpulkan sejauh dianggap cukup guna membuat gambaran maksimal yang diinginkan.

Ukuran kecukapan tersebut ditunjukkan oleh adanya gejala split over of informasi artinya pertanyaan yang sama diulang dan memperoleh jawaban yang sama pula (Rahman dalam Khoiriyah, 2015).

Informan dianggap cukup dan berhenti ketika tidak ada informasi baru lagi, terjadi replikasi atau pengulangan variasi informasi, mengalami titik jenuh informasi. Maksudnya, informasi yang diberikan oleh informan berikutnya tersebut sama saja dengan apa yang diberikan oleh para informan sebelumnya (Hamidi, 2010). Informasi yang dianggap cukup dilihat berdasarkan hasil wawancara secara mendalam, apakah telah memberikan gambaran sesuai dengan tujuan penelitian. Namun, apabila terdapat data yang dianggap kurang pada saat melakukan analisis data, maka peneliti dapat kembali lagi ke lapangan untuk memeperoleh tambahan data yang dianggap perlu dan mengolahnya kembali.

Informan penelitian adalah subjek penelitian yang dapat memberikan informasi yang diperlukan selama proses penelitian (Bungin, 2011). Informan kunci (key informan), yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Manajer bagian Quality System PT. Yodya Karya (Persero)

4.4. Teknik pengumpulan data.

Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara : a. Observasi

Penulis melakukan pengamatan langsung di PT. Yodya Karya (Persero) dan PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan.

b. Wawancara mandalam (in-depth interview).

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moeleong, 2009). Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara secara mendalam (in-depth interview), yang dilakukan secara informal. Wawancara ini dilakukan dengan menggunakan panduan (guide) tertentu dan semua pertanyaan bersifat spontan sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dirasakan pada saat pewawancara bersama-sama responden (Bungin, 2011). Data yang diperoleh dari wawancara mendalam ini terdiri dari kutipan langsung dari orang-orang tentang pengalaman, pendapatan, perasaan dan pengetahuannya (Suyanto, 2015).

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah bahan tertulis ataupun film yang telah ditetapkan karena adanya permainan dari seorang peneliti (Moleong, 2009). Menurut Hamidi (2010), tehnik dokumentasi berupa informasi yang berasal dari catatan penting baik dari lembaga atau organisasi maupun perorangan. Selain itu

dokumentasi merupakan metode yang dilakukan untuk meningkatkan ketepatan pengamatan. Dokumentasi ini dilakukan untuk merekam pembicaraan dan juga dapat merekam suatu perbuatan yang dilakukan oleh responden pada saat wawancara (Nazir, 2013).

4.5. Triangulasi

Dalam tehnik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai tehnik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai tehnik pengumpulan data dan sumber data yang ada. Apabila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi data, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan tehnik pengumpulan data dari berbagai sumber data (Sugiyono, 2009). Kredibilitas atau keabsahan data sangat mendukung dalam penentuan hasil akhir suatu penelitian. Oleh karena itu, triangulasi digunakan sebagai tehnik pemeriksaan, keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2009).

Peneliti menggunakan triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2009).

Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk

mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution (2013), selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.

Proses triangulasi dilakukan secara terus-menerus sepanjang proses mengumpulkan data dan analisis data, sampai suatu saat peneliti yakin bahwa sudah tidak ada lagi perbedaan-perbedaan dan tidak ada lagi yang perlu dikonfirmasi kepada informan. Triangulasi yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut :

a. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Triangulasi sumber dilakukan melalui wawancara mendalam dengan karyawan dan Manajer bagian Quality System PT. Yodya Karya (Persero) Langkah-langkah triangulasi dengan sumber :

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang penelitian.

4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang dari berbagai informan

5. Hasil data dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, mana pandangan yang berbeda, dan mana spesifik dari berbagai

sumber. Data yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan dengan tiga sumber data tersebut.

b. Triangulasi Metode

Triangulasi metode untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan metode yang berbeda.

Pada triangulasi dengan metode terdapat 2 strategi, yaitu :

1. Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data.

2. Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama

4.6. Jenis dan Sumber data

Data adalah bahan keterangan tentang sesuatu obyek penelitian (Bungin, 2011). Ada dua jenis data dalam penelitian,yaitu data primer dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer yang dibutuh dalam penelitian ini melalui pedoman wawancara mendalam kepada karyawan dan Manajer bagian Quality System PT. Yodya Karya (Persero)

b. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari laporan maupun dokumen terkait SMK3 di PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk.

4.7. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode atau tehnik pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang digunakan sebagai sarana yang dapat diwujudkan dalam benda. Dalam penelitian ini, instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah pedoman wawancara mendalam dengan dibantu oleh alat perekam suara dan alat tulis. Alat perekam suara yang digunakan adalah MP3/MP4. Sedangkan instrument untuk pengamatan langsung, peneliti menggunakan kamera digital (handphone) agar lebih efektif dan efisien, serta daftar checklist yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah No.50/2012.

4.8. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam metode ilmiah, karena analisis data dapat memberikan arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Analisis data dalam penelitian kualitatif pada prinsipnya berfokus dalam bentuk induksi-interpretasi-konseptualisasi (Hamidi, 2010). Anilisis data dalam penelitian ini antara lain, meliputi :

a. Proses analisis telah dimulai sejak penelitian menetapkan fokus permasalahan dan lokasi penelitian, kemudian lebih intensif pada saat turun ke lapangan.

b. Peneliti mengumpulkan dan menyajikan data sebagai tahap awal untuk membuktikan adanya perspektif, dimana data dikumpulkan dari hasil transkrip wawancara mendalam, rekaman dan dianalisis setiap meninggalkan lapangan.

c. Melakukan uji validitas data dengan triangulasi data yaitu suatu teknik pengecekan data berbagai sumber.

d. Tahap kedua adalah peneliti mulai menangkap secara jelas jawaban dan respon informan kemudian dilakukan interpretasi terhadap pernyataan informan.

e. Mendeskripsikan pernyataan informan dalam bentuk kalimat langsung dan mengkategorikannya.

f. Tahap ketiga adalah konseptualisasi yaitu peneliti memberikan pernyataan singkat tentang apa yang sebenarnya dialami oleh informan kemudian dihubungkan dengan teori yang ada.

g. Tahap terakhir dari analisis data adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Keabsahan data sangat mendukung dalam penentuan hasil akhir suatu penelitian. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknik pemeriksaan data. Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triagulasi (Moleong, 2009).

4.9. Teknik Penyajian Data

Teknik penyajian data merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan agar dapat dipahami, dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan dan kemudian ditarik kesimpulan sehingga menggambarkan hasil penelitian. Penyajian data harus sederhana dan jelas agar orang lain dapat memahami apa yang disajikan dengan mudah. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah bentuk cerita detail

sesuai dengan pandangan informan. Hasil wawancara dalam penelitian ini akan dikumpulkan dan diupayakan untuk di deskrepsikan berdasarkan ungkapan, bahasa dan pilihan kata atau konsep asli dari responden, cukup rinci serta tanpa ada interprestasi dan evaluasi dari peneliti. Kemudian berdasarkan cerita dengan bahasa dan ungkapan asli informan atau responden tersebut mulai dikemukakan/interpretasi temuan penelitian yang nanti akan dijelaskan (Suyanto, 2015).

Interpretasi data berarti pengembangan ide berdasarkan findings yakni tema/pola dan framework, dan menghubungkannya dengan kerangka konsep secara lebih luas dan mendalam. Interpretasi dilakukan bersamaan dan setelah analisis data diyakini peneliti selesai, lengkap dan jelas. Interpretasi data juga berarti mencari hal baru, unik atau signifikan. Dalam interpretasi, peneliti juga akan mencoba mencari apakah ada hubungan antara apa yang diduga sebelumnya dengan findings yang diperoleh, bagaimana hubungannya dengan kerangka konsep atau penelitian-penelitian sebelumnya. Pada proses interpretasi ini juga akan dilakukan identifikasi perbedaan dan persamaan hasil penelitian ini dengan kerangka konsep yang digunakan dan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Akan dibahas pula apa kekurangan dan kelebihan penelitian ini dibandingkan penelitian yang lain (Raco, 2010).

67

5.1. Sejarah PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta

PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta didirikan pada tanggal 22 Maret 1982 dengan Akte Notaris Nyonya Rukma Santi Hardjasatya, SH No. 40 tanggal 21 Agustus 1983 dan mendapat lisensi pada tahun 1983 seiring dengan dikeluarkannya SK Menteri No. 371/M/SK/1983. Perusahaan ini bergerak di bidang konstruksi dan mulai berjalan pada bulan Oktober 1984.

5.2. Kebijakan, Visi dan Misi PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta a. Kebijakan PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta

PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta adalah perusahaan Industri komponen otomotif yang berkomitmen untuk selalu melakukan 4 M yaitu sebagai berikut:

1. Mengembangkan Sumber Daya

2. Mencapai efektifitas dan efisiensi serta peduli lingkungan 3. Memenuhi kepuasan pelanggan

4. Mereduksi biaya dan mencegah polusi, kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta memenuhi peraturan pemerintah dan peraturan lainnya.

b. Visi PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta

Menjadi pembuat bangunan konstruksi yang mampu bersaing di ASEAN.

c. Misi PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta Membuat bangunan konstruksi yang handal.

5.3. Struktur Organisasi

Gambar 5.1

Struktur Organisasi PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta Sumber : Company Profile PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta Board of

Director Business & product

Development

Dengan adanya tata kerja yang baik, maka setiap mereka yang ikut dalam perusahaan dapat ditentukan tugas dan tanggung jawabnya. Dalam sistem organisasi terdapat hubungan diantara orang-orang yang menjalankan aktivitas tersebut.

1. Business and Product Development membawahi 6 Departemen antara lain Marketing, Product Development, Product Testing, Quality Assurance, Cost Engineering dan Customer Service.

2. Technology Development membawahi 4 Departemen antara lain Production Engineering, Plant Development Center, Tool Center, dan Calibration Center.

3. Plant Operation membawahi 3 Departemen antara lain, Production, Process Engineering dan Quality Control.

4. Maintenance, Jibs and Fixtures membawahi 2 Departemen antara lain Technical dan System and Sparepart Management.

5. People and Knowledge Management membawahi 4 Departemen antara lain HRD, General Affairs, IT Center dan Knowledge Management.

6. Vendor Management membawahi 2 Departemen antara lain Production Preparation dan Vendor Development.

7. Procurement membawahi 3 Departemen antara lain Part Component and Raw Material, Property, Plant and Equipment dan General Purchasing.

8. Finance and Administration membawahi 3 Departemen antara lain Finance, Accounting and Tax dan Budget and Payroll.

5.4. Struktur Organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Di Perusahaan ini terdapat Organisasi Environment Health and Safety (EHS) yang berada langsung Di bawah Direksi. EHS ini dipimpin oleh Corporate Environment Health and Safety yang menaungi 4 Seksi yaitu Seksi Environment, Seksi Health,Seksi Safety dan Seksi Social Responsibility.

Gambar 5.2

Struktur Organisasi Environment Health and Safety PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta

Sumber : Corporate EHS, WK Group Corporate

Environment Health and Safety

Environment PLP

Laboratorium and Monitoring Water Waste

Treatment

Health Industrial Hygiene

Safety Accident and Fire

Prevention Social and

Responsibility Landscape

Community Development and

EHS Control

Corporate EHS membawahi 4 seksi, antara lain:

1. Environment, terdiri dari seorang ketua dan memiliki 3 sub seksi antara lain : a. Pengolahan Limbah Padat (PLP), memiliki 2 orang anggota.

b. Laboratorium dan Monitoring, memiliki 2 orang anggota.

c. Waste Water Treatment (WWT), memilki 5 orang anggota.

2. Health, terdiri dari seorang ketua dan memiliki 1 sub seksi yaitu sub seksi Hygiene Industry yang beranggotakan 1 orang.

3. Safety, terdiri dari seorang ketua dan memilki 1 sub seksi yaitu Accident and Fire Prevention yang beranggotakan 3 orang.

4. Social Responsibility, terdiri dari seorang ketua dan memilki 2 sub seksi antara lain:

a. Landscape, memilki 6 orang anggota.

b. Community Development dan EHS Document Control, memilki 1 orang anggota.

5.5. Waktu Kerja

PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta melaksanakan waktu kerja maksimal 8 jam sehari dan menerapkan 5 hari kerja dalam 1 minggu. Waktu kerja yang ditentukan dapat dilihat pada tabel di bawah:

Tabel 5.1

Waktu Kerja di PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta, Jakarta Shift Kerja Jam Kerja Jam Istirahat

1 07.30-16.15 11.45-12.30

II 16.30-24.00 19.30-20.00

III 24.00-07.30 03.00-03.30

Sumber : Company Profile PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta

Selain itu, Perusahaan memberlakukan masa cuti yang diberikan untuk karyawan yang masa kerjanya sudah 1 tahun atau lebih dengan 12 (dua belas) hari kerja bebas setiap tahun.

73 6.1 Karakteristik Responden

Informan dalam pengambilan data ini adalah Manajer bagian Quality System PT. Yodya Karya (Persero). Manajer QS dipilih sebagai informan karena menguasai materi pelaksanaan SMK3 di PT. Yodya Karya (Persero). Informan yang dipilih memiliki masa kerja 11 tahun di bidang K3 dan memegang penuh tanggung jawab K3 di PT. Yodya Karya (Persero). Pengambilan data dilakukan dengan wawancara berupa 64 pertanyaan yang diuraikan dari SMK3 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 Tentang SMK3, kemudian dicocokkan oleh dokumen K3 perusahaan yang telah dihimpun oleh sekretaris Quality System sebagai pemegang dokumen K3 PT. Yodya Karya (Persero).

6.2 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

SMK3 yang diimplementasikan di PT. Yodya Karya (Persero) merupakan integrasi antara SMK3 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 dengan ISO 9001:2000 tentang Sistem Manajemen Mutu. Hasil pengambilan data mengenai implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang SMK3 di PT.

Yodya Karya (Persero) dilakukan dengan wawancara dan pengisian lembar check list kepada Ahli K3 sebagai responden. Hasil pengambilan data ini dipaparkan melalui hasil cuplikan wawancara antara pewawancara (P) dengan responden (R) yang selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut:

6.2.1 Pembangunan dan Pemeliharaan komitmen Wawancara Nomor 1

Kriteria 1.2.4

P: Jelaskan di PT. Yodya Karya (Persero) pengusaha atau pengurus bertanggung jawab secara penuh untuk menjamin pelakasanaan SMK3?

R: Iya pasti itu mas, misalnya: Disini sudah lama semenjak Tahun 2002 sudah memiliki penetapan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang tertulis dan disahkan oleh direktur, Manajemen PT. Yodya Karya (Persero) menyatakan komitmenya untuk senantiasa meningkatkan dan mengembangkan kiat kerja yang baik dan teratur secara terus menerus dengan melaksanakan dan menerapkan keselamatan dan

R: Iya pasti itu mas, misalnya: Disini sudah lama semenjak Tahun 2002 sudah memiliki penetapan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang tertulis dan disahkan oleh direktur, Manajemen PT. Yodya Karya (Persero) menyatakan komitmenya untuk senantiasa meningkatkan dan mengembangkan kiat kerja yang baik dan teratur secara terus menerus dengan melaksanakan dan menerapkan keselamatan dan