• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN RISIKO

Dalam dokumen PT BANK RAKYAT INDONESIA AGRONIAGA Tbk (Halaman 69-73)

Biaya jasa kini 178,991 694,421 Biaya Bunga 155,785

30. MANAJEMEN RISIKO

Meningkatnya kebutuhan pengelolaan Bank yang sehat dan terpadu (Good Corporate

Governance) memerlukan penerapan manajemen risiko yang terpadu dan komprehensif. Dalam rangka mencapai manajemen risiko yang mendukung pencapaian target kinerja dan mampu menjaga kelangsungan usaha, diperlukan strategi manajemen risiko yang proaktif yang dapat

meningkatkan efektivitas penggunaan modal dan gtingkat pengembangan modal (Return On

Equity/ROE) sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, mengantisipasi

ketentuan baru yang mengarah pada best practice, meningkatkan kepercayaan pemegang saham

dan stakeholders lainnya serta meningkatkan bisnis pada tingkat optimal.

Untuk mencapai tujuan di atas dan sejalan dengan Peraturan Bank Indonesia No. 11/25/PBI/2009 tanggal 1 Juli 2009 mengenai Perubahan Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/2003 tanggal 19 Mei 2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum serta Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/23/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia No. 5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 perihal Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank

Umum, perlu dibangun kesadaran dan budaya manajemen risiko terpadu (integrated risk culture)

dan difokuskan pada efektivitas penerapan tata kelola dan kerangka kerja manajemen risiko meliputi pengawasan aktif manajemen bank, kecukupan kebijakan dan prosedur serta penetapan limit risiko, proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko bank serta integrasinya sistem informasi di Bank.

Penerapan manajemen risiko di Bank telah dituangkan dalam beberapa kebijakan dan prosedur, antara lain Kebijakan Umum Manajemen Risiko (KUMR). KUMR berperan sebagai aturan tertinggi dalam implementasi manajemen risiko pada seluruh kegiatan bisnis Bank, dimulai dari kebijakan, strategi, organisasi, sistem informasi manajemen risiko, pengawasan risiko, pengelolaan produk

dan aktivitas baru dan Business Continuity Plan (BCP). Proses penerapan manajemen risiko yang

meliputi identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengelolaan dan pengendalian terhadap 8 (delapan) risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko kepatuhan, risiko strategi, risiko hukum dan risiko reputasi.

31 Maret 2014 31 Desember 2013

Aset

Giro pada bank lain 0.36% 0.20%

Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain 2.32% 2.34%

Efek-efek 7.59% 9.59%

Kredit yang diberikan 6.55% 3.70%

16.81% 15.83%

Liabilitas

Giro 2.21% 5.21%

Tabungan 0.28% 0.36%

Deposito berjangka 18.66% 33.50%

Simpanan dari bank lain 2.78% 1.73%

Kompensasi kepada karyawan kunci 0.12% 0.11%

Penilaian Profil Risiko sesuai dengan PBI No.13/1/PBI/2011 tanggal 05 Januari 2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dan SE BI No. 13/23/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 perihal Perubahan atas Surat Edaran No. 5/21/DPNP perihal Penerapan Manajemen Risiko bagi

Bank Umum dilakukan terhadap risiko yang melekat (inherent risk) dan kualitas penerapan

manajemen risiko melalui proses self asessment pada seluruh aktivitas bisnis bank yang

mencakup 8 (delapan) risiko.

Manajemen Risiko Kredit

Penerapan manajemen risiko kredit dilakukan dengan upaya:

• Pemisahan pejabat kredit Relationship Management (RM) dan Credit Risk Management (CRM)

serta pemisahan pengelolaan kredit lancar (performing) dengan pengelolaan kredit bermasalah

sebagai penerapan four eyes principles dan dimaksudkan agar pengelolaan risiko dalam

aktivitas perkreditan dapat dilaksanakan secara lebih baik tanpa menganggu proses bisnis yang berorientasi pertumbuhan bisnis yang sehat. Pejabat kredit lini diberikan batas kewenangan memutus kredit yang dituangkan dalam surat keputusan dimana kewenangannya ditetapkan berdasarkan integritas, kemampuan dan kompetensi serta pengalaman di bidang perkreditan dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sehingga proses pemberian kredit akan dilaksanakan lebih obyektif dan komprehensif dengan menerapkan prinsip kehati-hatian.

• Penerapan Credit Risk Rating (CRR) dan Credit Risk Scoring (CRS) sebagai alat untuk

mengukur tingkat risiko dalam proses pemberian kredit dan mitigasi risiko kredit.

• Penetapan prosedur perkreditan yang sehat melalui penetapan Pasar Sasaran (PS), Kriteria

Risiko yang Dapat Diterima (KRD).

• Pengendalian risiko, yaitu dengan cara melakukan pembatasan eksposur dan tindakan

perbaikan sehingga kerugian yang mungkin terjadi dapat diminimalkan.

• Menerapkan Early Warning System (EWS) sebagai salah satu alat pemantauan (credit

monitoring) dengan cara mendeteksi secara lebih awal debitur yang berpotensi cidera janji (default).

(i) Kualitas kredit berdasarkan golongan aset keuangan

Tabel berikut menunjukkan kualitas kredit berdasarkan golongan aset untuk semua aset

*) Penyertaan saham merupakan penyertaan saham dengan metode biaya **) Aset lain-lain terdiri atas piutang bunga dan piutang lain-lain

Telah Jatuh Tempo tetapi Tidak Mengalami Penurunan Nilai

Mengalami Penurunan Nilai Tingkat Tinggi Tingkat Standar (Kol.2 Kolektif) (Kol.3,4,5 Kolektif

Kredit Individual)

Giro pada bank Indonesia 307,997,998 - 307,997,998

Giro pada bank lain 67,749,731 67,749,731

172,600,000

185,000,000 357,600,000

Efek efek -

Nilai wajar melalui laporan laba rugi 68,312,655 68,312,655

Tersedia untuk dijual 496,588,826 496,588,826

Dimiliki hingga jatuh tempo -

Tagihan wesel ekspor -

-

Tersedia untuk dijual -

Dimiliki hingga jatuh tempo -

- Tagihan Derifatif - - Kemitraan 765,478,593 4,343,194 19,874,593 49,189,746 838,886,126 Ritel 377,734,809 4,537,542 23,289,185 45,756,706 451,318,242 Menengah 2,489,816,390 12,417,216 67,996,806 2,570,230,412 Tagihan akseptasi 13,715,442 13,715,442 Penyertaan saham *) 297,659 297,659 Aset lain-lain **) 10,553,413 3,772,467 14,325,880 4,756,832,414 211,666,304 55,580,995 162,943,258 5,187,022,971 Total

Penempatan pada bank Indonesia dan bank lain

Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah

31 Maret 2014

Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali

Belum Jatuh Tempo dan Tidak Mengalami Penurunan Nilai

Kredit yang diberikan dan piutang dan pembiayan

Telah Jatuh Tempo tetapi Tidak Mengalami Penurunan Nilai

Mengalami Penurunan Nilai Tingkat Tinggi Tingkat Standar (Kol.2 Kolektif) (Kol.3,4,5 Kolektif

Kredit Individual)

Giro pada bank Indonesia 287,028,218 - 287,028,218

Giro pada bank lain 99,368,705 99,368,705

46,992,495

365,000,000 411,992,495

Efek efek -

Nilai wajar melalui laporan laba rugi 65,992,892 65,992,892

Tersedia untuk dijual 557,991,935 557,991,935

Dimiliki hingga jatuh tempo -

Tagihan wesel ekspor - -

-

Tersedia untuk dijual -

Dimiliki hingga jatuh tempo -

- Tagihan derivatif - - Kemitraan 736,570,539 27,005 11,994,223 41,621,426 790,213,193 Ritel 335,126,958 5,478,228 14,136,921 51,410,174 406,152,281 Menengah 2,428,109,724 2,426,713 71,691,041 2,502,227,478 Tagihan akseptasi - - Penyertaan saham *) 297,659 297,659 Aset lain-lain **) 8,181,480 1,898,669 10,080,148 4,565,362,946 375,128,274 26,131,144 164,722,641 5,131,345,004 Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali

Kredit yang diberikan dan piutang dan pembiayan

31 Desember 2013

Belum Jatuh Tempo dan Tidak

Mengalami Penurunan Nilai Total

Penempatan pada bank Indonesia dan bank lain

Kualitas kredit didefinisikan sebagai berikut: Tingkat tinggi

(a) Giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain yaitu giro atau penempatan pada institusi Pemerintah, institusi Pemerintah Daerah, bank yang terdaftar di bursa serta transaksi dengan bank yang memiliki reputasi baik dengan tingkat kemungkinan gagal bayar atas kewajiban yang rendah.

(b) Efek-efek dan obligasi Pemerintah yaitu efek-efek yang dikeluarkan oleh Pemerintah, efek-

efek dan obligasi yang termasuk dalam investment grade dengan rating minimal idBBB

(Pefindo), BBB+ (S&P), Baa1 (Moody’s) atau BBB+ (Fitch).

(c) Tagihan wesel ekspor yaitu wesel ekspor dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dinegosiasikan secara diskonto dan dijaminkan oleh bank penerbit.

(d) Kredit yang diberikan yaitu kredit kepada debitur dengan riwayat pembayaran yang sangat baik dan tidak pernah menunggak sepanjang jangka waktu kredit; debitur dengan riwayat tidak pernah di restrukturisasi, debitur dengan tingkat stabililitas dan keragaman yang tinggi; memiliki akses setiap saat untuk memperoleh pendanaan dalam jumlah besar dari pasar terbuka; memiliki kemampuan membayar yang kuat dan rasio-rasio neraca yang konservatif.

(e) Tagihan akseptasi merupakan transaksi letters of credit (L/C) atau Surat Kredit

Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) yang diaksep oleh bank pengaksep dengan sumber pembayaran dari debitur. Debitur yang masuk dalam kategori ini mempunyai riwayat pembayaran yang sangat baik antara lain institusi Pemerintah, institusi Pemerintah Daerah dengan dengan tingkat kemungkinan gagal bayar atas kewajiban yang rendah.

(f) Penyertaan saham adalah investasi bank pada entitas lain dengan kepemilikan dibawah 20%. Entitas tersebut merupakan institusi Pemerintah atau institusi Pemerintah Daerah. (g) Aset lain-lain yaitu piutang bunga kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah seperti

Pendapatan Bunga yang Masih Harus Diterima (PYMHD) atas obligasi Pemerintah dan piutang lainnya.

Tingkat standar

(a) Giro pada bank lain, penempatan pada bank lain yaitu giro atau penempatan pada bank yang tidak terdaftar di bursa.

(b) Efek-efek dan obligasi yaitu efek-efek dan obilgasi yang termasuk dalam non-investment

grade dengan rating minimal idBB (Pefindo), BBB- (S&P), Baa3 (Moody’s) atau BBB- (Fitch).

(c) Tagihan wesel ekspor yaitu wesel ekspor selain dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dinegosiasikan secara diskonto dan dijaminkan oleh bank penerbit.

(d) Kredit yang diberikan yaitu kredit kepada debitur dengan riwayat pembayaran yang baik; debitur dengan riwayat pernah direstrukturisasi, akses terbatas untuk memperoleh pendanaan dalam jumlah besar dari pasar terbuka; tingkat pendapatan dan kinerja keseluruhan tidak stabil; memiliki kemampuan membayar yang cukup.

(e) Tagihan akseptasi merupakan transaksi letters of credit (L/C) atau Surat Kredit

Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) yang diaksep oleh bank pengaksep dengan sumber pembayaran dari debitur. Debitur yang masuk dalam kategori ini selain dari institusi Pemerintah atau institusi Pemerintah Daerah dengan tingkat kemungkinan gagal bayar atas kewajiban yang cukup.

(f) Penyertaan saham adalah investasi bank pada entitas lain selain Pemerintah dengan kepemilikan dibawah 20%.

(g) Aset lain-lain yaitu aset keuangan lainnya selain piutang bunga kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah seperti tagihan rupa-rupa kepada pihak ketiga lainnya.

Tabel di bawah menunjukkan aging analysis terhadap kredit yang diberikan, yang telah jatuh tempo tetapi tidak mengalami penurunan nilai:

(ii) Konsentrasi risiko aset keuangan dengan eksposur risiko kredit. (a) Sektor geografis

Tabel berikut menggambarkan rincian eksposur kredit yang dikategorikan berdasarkan wilayah geografis pada tanggal-tanggal 31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013. Pengelompokan wilayah geografis berdasarkan tempat beroperasinya bisnis Bank yang sekaligus menggambarkan potensial bisnis wilayah masing-masing:

Kurang dari 30 hari

31 s.d. 60 hari

61 s.d. 90 hari

Total

Dalam dokumen PT BANK RAKYAT INDONESIA AGRONIAGA Tbk (Halaman 69-73)

Dokumen terkait