• Tidak ada hasil yang ditemukan

VIII. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN

10. MANAJEMEN RISIKO

Dalam rangka mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik, penerapan manajemen risiko mengacu kepada PBI No.5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 dan Surat Edaran Bank Indonesia No.5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 perihal Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum dan Basel Accord II.

Penerapan manajemen risiko merupakan strategi-strategi yang dilakukan Perseroan melalui pengendalian risiko yang efektif untuk mengoptimalkan pendapatan dan kegiatan operasional Perseroan.

Kerangka manajemen risiko Perseroan mencakup ruang lingkup sistem pengendalian risiko yang di implementasikan melalui kebijakan-kebijakan, prosedur, limit-limit transaksi dan kewenangan, toleransi risiko serta perangkat manajemen risiko. Perseroan melakukan pengembangan manajemen risiko secara berkesinambungan sesuai dengan perkembangan kompleksitas dan bisnis dengan landasan organisasi, strategi dan sistem informasi manajemen. Tujuan Perseroan dalam manajemen risiko adalah untuk meyakinkan bahwa Perseroan dapat mengidentifi kasi, mengukur dan memantau berbagai macam risiko yang timbul, serta meyakinkan bahwa Perseroan mematuhi kebijakan dan prosedur yang mengendalikan risiko-risiko tersebut sepanjang yang layak dan dapat dilaksanakan. Untuk mendukung implementasinya, Perseroan telah menyusun kebijakan dan pedoman manajemen risiko yang sesuai dengan kondisi Perseroan dan secara terus-menerus menelaah dan menyempurnakan kebijakan serta prosedur tersebut agar sesuai dengan standar internasional (Basel II).

Bank telah membentuk Komite Manajemen Risiko yang merupakan bagian yang sangat penting dalam pengendalian risiko, unit control yang memantau seluruh risiko yang terdapat pada kegiatan operasional bank serta membentuk Komite Pemantau Risiko pada tingkat Komisaris.

Sistem manajemen risiko Perseroan telah ditetapkan dalam Kebijakan Manajemen Risiko No. 01/DIRRM/II/2010 tanggal 17 Februari 2010.

Sasaran dan Kebijakan Manajemen Risiko

Mengendalikan jalannya aktivitas usaha bank dengan tingkat risiko yang wajar secara terarah, terintegrasi dan berkesinambungan menciptakan peringatan dini (early warning system) terhadap seluruh risiko usaha dan pengendalian risiko tersebut perlu dilakukan secara sistematis juga built in control oleh setiap unit kerja.

Ruang Lingkup Manajemen Risiko

1. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi

2. Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit risiko

3. Kecukupan proses identifi kasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko 4. Sistem pengendalian internal yang menyeluruh

Organisasi Manajemen Risiko

Bentuk organisasi manajemen risiko Perseroan memuat tugas dan tanggung jawab sebagai berikut : 1. Komisaris

a. Memberikan persetujuan dan mengevaluasi kebijakan manajemen risiko yang diusulkan direksi; b. Mengevaluasi pertanggungjawaban direksi dalam pelaksanaan kebijakan manajemen risiko.

2. Direktur Utama

a. Melaksanakan manajemen risiko di bank secara keseluruhan. 3. Direktur Bidang

a. Menyusun kebijakan dan strategi manajemen risiko dalam bidang tugasnya secara tertulis dan komprehensif;

b. Bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan manajemen risiko dan exposure risiko yang diambil oleh bank dalam bidang tugasnya.

4. Komite Manajemen Risiko

a. Menyusun kebijakan manajemen risiko serta perubahannya termasuk strategi manajemen risiko dan

contigency plan;

b. Menyempurnakan penerapan manajamen risiko secara berkala sebagai akibat dari suatu perubahan kondisi eksternal/internal yang mempengaruhi kecukupan modal dan profi l risiko.

5. Komite Pemantau Risiko

a. Memahami secara mendalam proses yang digunakan oleh manajemen untuk mengidentifi kasi risiko, metode assesment dalam menilai risiko serta kebijakan pengelolaan risiko dan pengendalian internal yang digunakan manajemen dalam memitigasi risiko;

b. Memahami profi l risiko Perseroan secara menyeluruh beserta pengelolaan risiko dan memfokuskan

perhatian kepada risiko tinggi;

c. Melakukan tinjauan kritis terhadap kebijakan pengelolaan risiko dan pengendalian internal;

d. Senantiasa bekerjasama dengan komite audit dalam memantau pelaksanaan pengelolaan risiko oleh manajemen dan mengevaluasi keefektifannya;

e. Memastikan sistem dan pedoman kebijakan telah dipatuhi, melakukan kajian atas kebijakan konsentrasi pinjaman, membuat usulan kebijakan, limit dan prosedur manajemen risiko, dan mengawasi kinerja dan trend portfolio;

f. Melakukan pemantauan penerapan manajemen risiko yang dilakukan sebagai akibat dari suatu perubahan

kondisi eksternal/internal.

d. Memastikan bahwa bank memiliki ketrampilan manajemen risiko dan kemampuan penyerapan risiko untuk mendukung strategi bisnis;

e. Membentuk budaya risiko bank.

7.

Satuan Kerja Operasional (SKO)

a. Melakukan pengendalian exposure risiko di unit kerja masing-masing serta strategi yang dilakukannya; b. Melaporkan exposure risiko secara periodik kepada Divisi Manajemen Risiko.

Perseroan juga memantau dan mengembangkan proses pemantauan pada :

(i) risiko hukum untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari tuntutan hukum atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhinya syarat kontrak;

(ii( risiko reputasi untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha Bank atau persepsi negatif terhadap Bank;

(iii) risiko strategi untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari penetapan dan pelaksanaan strategi Bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya Bank terhadap perubahan eksternal;

(iv) risiko likuiditas untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari adanya kesenjangan antara sumber pendanaan yang pada umumnya berjangka pendek dengan aset yang pada umumnya berjangka panjang;

(vi) risiko kepatuhan untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari Bank karena tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundangundangan dan ketentuan lain yang berlaku.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengelola risiko-risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik dan risiko kepatuhan seperti tersebut di atas diantaranya adalah:

- Risiko hukum dikelola dengan cara:

(i) Membentuk kebijakan dan prosedur pengendalian risiko hukum yang memadai dengan kebutuhan strategi bisnis Bank;

(ii) Melakukan kajian hukum atas dokumen-dokumen yang memiliki aspek hukum baik berupa perjanjian atau peraturan internal sebelum diberlakukan;

(iii) Memonitor perkara pengadilan yang sedang berlangsung dengan mengikuti segala perkembangannya. - Risiko reputasi dikelola dengan cara:

(i) Membentuk unit kerja khusus yang menangani publikasi negatif dan pengaduan nasabah; (ii) Melakukan pengukuran dan identifi kasi atas dampak publikasi negatif dan pengaduan nasabah; (iii) Secara kontinyu melaksanakan pelatihan karyawan untuk dapat meningkatan kualitas pelayanan. - Risiko strategik dikelola dengan cara:

(i) Membuat rencana kerja yang disesuaikan dengan misi dan strategi Bank; (ii) Membuat kebijakan untuk melaksanakan strategi yang telah ditetapkan; (iii) Melaksanakan monitoring pencapaian rencana kerja secara periodik;

(iv) Melakukan evaluasi kembali atas hasil sementara yang dicapai, beserta faktor penyebab tidak tercapainya target Bank, dilakukan dengan mitigasi atas faktor risiko penyebab kegagalan;

(v) Melakukan perbaikan atas rencana kerja semula dalam upayanya mencapai target Bank yang telah ditetapkan.

- Risiko kepatuhan dikelola dengan cara:

(i) Melaksanakan fungsi pengawasan oleh Direktur Kepatuhan secara konsisten untuk memastikan bahwa semua aktivitas operasi telah sesuai dengan peraturan yang berlaku;

(iii) Melakukan sosialisasi atau pelatihan segala peraturan dan ketentuan yang berlaku beserta sanksinya kepada seluruh karyawan yang terkait;

(iv) Melakukan pengkinian atas informasi peraturan dan ketentuan yang masih berlaku maupun yang telah dicabut;

(v) Melaksanakan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan kepatuhan melalui fungsi internal audit. - Risiko Kredit dikelola dengan cara:

(i) Menetapkan kebijakan pengendalian risiko kredit yang disusun sesuai dengan misi, strategi bisnis, kecukupan permodalan, SDM dan risk appetite Bank.

(ii) Melakukan evaluasi atas kebijakan perkreditan, antara lain melalui perubahan limit dan wewenang kredit. (iii) Melaksanakan fungsi Komite Kredit dalam memutuskan pemberian, perpanjangan ataupun pengurangan

fasilitas kredit kepada debitur.

(iv) Melakukan monitoring atas kelancaran pembayaran bunga dan pokok kredit yang sedang berjalan, untuk mengetahui secara dini kondisi debitur.

(v) Melakukan trade checking debitur untuk mengetahui kredibilitas debitur. - Risiko Operasional dikelola dengan cara:

(i) Menetapkan kebijakan pengendalian risiko operasional yang telah disesuaikan dengan misi, strategi bisnis, kecukupan permodalan, SDM dan risk appetite Perseroan.

(ii) Membentuk satuan kerja pengendali risiko operasional terpisah dengan satuan kerja operasional yang melakukan pengendalian secara konsisten dan independen.

(iii) Mengembangkan pengawasan internal di cabang-cabang.

(iv) Mengembangkan sistem IT yang terintegrasi, sehingga Perseroan dapat menghasilkan informasi secara lebih akurat dan tepat waktu.

(v) Mengembangkan manajemen sumber daya manusia dengan memberlakukan sistem penilaian kinerja, remunerasi, peningkatan fasilitas kesejahteraan karyawan serta pengembangan struktur organisasi yang lebih terfokus kepada masing-masing bidang.

(vi) Mengembangkan self assessment dalam proses identifi kasi risiko operasional dengan mengacu kepada Basel II dan PBI 5/8/PBI/2003.

- Risiko Likuiditas dikelola dengan cara:

(i) Menetapkan kebijakan pengendalian risiko likuiditas yang telah disesuaikan dengan misi, strategi bisnis, kecukupan permodalan, SDM dan risk appetite Bank.

(ii) Menetapkan kebijakan dan prosedur penetapan limit risiko likuiditas secara tertulis, lengkap, memadai dan cukup mudah ditelusuri.

(iii) Membentuk satuan kerja pengendali risiko likuiditas dan melaksanakan pengendalian risiko likuiditas yang dilaksanakan secara konsisten dan independen.

(iv) Melaksanakan fungsi ALCO (Asset & Liability Committee) untuk mengatur tingkat bunga dalam usaha meningkatkan / menurunkan sumber dana tertentu.

- Risiko Pasar dikelola dengan cara:

(i) Menetapkan kebijakan pengendalian risiko pasar yang telah disesuaikan dengan misi, strategi bisnis, kecukupan permodalan, SDM dan risk appetite Perseroan.

(ii) Membentuk satuan kerja pengelola risiko pasar yang terpisah dengan satuan kerja operasional.

(iii) Melaksanakan fungsi ALCO (Asset & Liability Committee) untuk membahas kondisi pasar dan menetapkan tindakan yang akan diambil.

(iv) Melakukan system review dan pemantauan terhadap semua transaksi dan aktivitas fungsional yang mempunyai exposure risiko pasar.

(v) Melakukan monitoring tingkat bunga.

(vi) Melakukan pengawasan terhadap pos-pos aset dan pasiva sesuai dengan jatuh temponya (repricing date-nya).

Profi l Risiko Perseroan menggambarkan risiko yang melekat (inherent risk) dalam kegiatan bisnis bank termasuk sistem pengendalian risiko (risk control system) untuk masing-masing jenis risiko. Per tanggal 30 Juni 2010, hasil penilaian sendiri (self assessment) oleh Perseroan terhadap risiko kredit, risiko operasional, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik dan risiko kepatuhan adalah rendah (tidak diaudit).

Perseroan saat ini terus melakukan penyesuaian, perbaikan dan penyempurnaan terhadap penerapan manajemen risiko tersebut agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.