43 . KEGIATAN JASA KUSTODIAN
45. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN (lanjutan) e. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko yang disebabkan oleh ketidakmampuan Bank dalam memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo dan menutup posisi di pasar. Risiko likuiditas merupakan risiko yang terpenting pada bank umum dan perlu dikelola secara berkesinambungan.
Selain itu, pengelolaan aset dan liabilitas Bank dilakukan melalui rapat ALCO yang dilaksanakan setiap 1 (satu) bulan sekali. Pembahasan difokuskan pada penyelarasan strategi jangka pendek dan jangka panjang Bank dengan kondisi perekonomian nasional, terutama penyesuaian kondisi likuiditas Bank.
Bank juga menyusun kebijakan pengelolaan risiko likuiditas yang memaparkan tanggung jawab, pengelolaan dan pendekatan strategis yang diambil untuk menjamin ketersediaan likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajiban bank secara kontraktual maupun yang disyaratkan oleh regulator.
Selain itu, dengan telah dikeluarkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 42/
POJK.03/2015 tanggal 23 Desember 2015 tentang Kewajiban Pemenuhan Rasio Kecukupan Likuiditas (Liquidity Coverage Ratio) Bagi Bank Umum dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.32/POJK.03/2016 tentang Perubahan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.6/POJK.03/2015 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank. Bank telah menyampaikan laporan LCR individual secara bulanan ke Otoritas Jasa Keuangan dan mempublikasikan laporan LCR triwulanan individual pada situs web Bank. LCR Bank (individual) selalu terjaga di atas batas minimum rasio LCR sebesar 100%. Berdasarkan perhitungan, LCR rata-rata harian pada posisi 30 Juni 2022 dan 31 Desember 2021 masing-masing sebesar 161,02% dan 181,27% dan triwulanan posisi 30 Juni 2022 dan 31 Desember 2021 masing-masing sebesar 161,63% dan 184,59%.
Terkait dengan POJK Nomor 50/POJK.03/2017 tentang Kewajiban Pemenuhan Rasio Pendanaan Stabil Bersih (Net Stable Funding Ratio) Bagi Bank Umum, Bank menyampaikan laporan NSFR secara triwulanan (individual) ke Otoritas Jasa Keuangan dan mempublikasikan laporan NSFR triwulanan (individual) pada situs web Bank. Berdasarkan perhitungan, NSFR Bank pada tanggal 30 Juni 2022 dan 31 Desember 2021 masing-masing sebesar 104,77% dan 119,21%, berada diatas minimum NSFR yaitu 100%.
Eksposur terhadap Risiko Likuiditas
Bank bergantung pada simpanan dari nasabah dan simpanan dari bank lain sebagai sumber pendanaan utama yang memiliki masa jatuh tempo yang pendek dan sebagian besar dapat ditarik sewaktu-waktu. Pendanaan dengan jangka waktu yang pendek tersebut meningkatkan risiko likuiditas Bank, oleh karena itu, Bank secara aktif mengelola risiko tersebut dengan memberikan tingkat suku bunga yang bersaing dan secara terus-menerus memantau pergerakan pasar.
Adapun pemantauan risiko likuiditas tersebut antara lain: Pemantauan Giro Wajib Minimum (GWM), Liquidity Coverage Ratio (LCR), Net Stable Funding Ratio (NSFR), Aset Likuid terhadap Non Core Deposit (AL/NCD), Aset Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK), Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), Proyeksi Arus Kas (cashflow), dan Contingency Funding Plan (CFP). Pemantauan rasio tersebut dilaporkan secara rutin kepada pihak manajemen dan regulator.
45. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN (lanjutan)
e. Risiko Likuiditas (lanjutan)
Bank juga melakukan pengukuran dan pelaporan secara periodik ke OJK mengenai pengelolaan Risiko Likuiditas mengacu kepada parameter Risiko Likuiditas dalam Penilaian Tingkat Kesehatan Bank (PTKB) dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk-based Bank Rating/RBBR) yang terdiri dari 2 bagian, yaitu:
1. Risiko Inheren
a) Komposisi dari aset, liabilitas, dan transaksi rekening administratif b) Konsentrasi dari aset dan liabilitas
c) Kerentanan pada kebutuhan pendanaan d) Akses pada sumber-sumber pendanaan 2. Kualitas Penerapan Manajemen Risiko
a) Tata kelola risiko likuiditas
b) Kerangka manajemen risiko likuiditas
c) Proses manajemen risiko likuiditas, sistem informasi dan sumber daya manusia d) Sistem pengendalian risiko likuiditas
Selain itu, Bank juga melakukan beberapa pengukuran yang digunakan untuk mengelola risiko likuiditas seperti rasio aset likuid terhadap total simpanan dari nasabah dan perhitungan maturity profile secara kontraktual dan behavioral. Pada 30 Juni 2022 dan 31 Desember 2021, rasio dari aset likuid dibandingkan dengan total simpanan dari nasabah yang dilaporkan masing-masing adalah sebesar 50,65% dan 41,47% seperti pada perhitungan di bawah ini:
30 Jun 2022 31 Des 2021
Kas dan setara kas 12.380.718 17.592.335
Efek-efek investasi selain yang diklasifikasikan sebagai kas
dan setara kas 36.557.635 25.688.236
Simpanan dari bank lain (2.800.293) (2.263.682)
46.138.060 41.016.889
Simpanan dari nasabah 91.092.196 98.907.011
Rasio aset likuid terhadap
simpanan dari nasabah 50,65% 41,47%
Analisis perbedaan jatuh tempo aset dan liabilitas keuangan
Tabel di bawah ini menyajikan analisis jatuh tempo nilai tercatat dari aset keuangan (sebelum pendapatan bunga yang ditangguhkan dan cadangan kerugian penurunan nilai) dan liabilitas keuangan Bank pada tanggal 30 Juni 2022 dan 31 Desember 2021, berdasarkan jangka waktu yang tersisa sampai tanggal jatuh tempo kontraktual:
30 Jun 2022
45. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN (lanjutan)
e. Risiko Likuiditas (lanjutan)
Analisis perbedaan jatuh tempo aset dan liabilitas keuangan (lanjutan)
30 Jun 2022
45. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN (lanjutan)
e. Risiko Likuiditas (lanjutan)
Analisis perbedaan jatuh tempo aset dan liabilitas keuangan (lanjutan)
31 Des 2021
*) Aset lain-lain terdiri dari bunga yang masih akan diterima, setoran jaminan, piutang sewa, tagihan penjualan surat berharga dan aset yang diblokir
**) Beban bunga yang masih harus dibayar dan liabilitas lain-lain terdiri dari utang bunga, liabilitas pembelian surat berharga dan setoran jaminan
Tabel di bawah ini menunjukkan sisa jatuh tempo kontraktual dari liabilitas keuangan berdasarkan pada undiscounted cash flows.
*) Liabilitas lain-lain terdiri dari liabilitas pembelian surat berharga dan setoran jaminan
45. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN (lanjutan)
f. Risiko Operasional
Bank sudah menetapkan limit risiko sesuai dengan risk appetite dan risk tolerance yang memadai sesuai sasaran strategis dan strategi bisnis Bank dan wajib dipatuhi oleh seluruh lini organisasi. Berdasarkan ketentuan yang ada, Bank telah melakukan monitoring terhadap eksposur risiko, yang dilakukan rutin setiap bulannya.
Bank melakukan pengukuran dan pelaporan secara periodik ke Otoritas Jasa Keuangan mengenai pengelolaan Risiko Operasional mengacu kepada parameter Risiko Operasional dalam Penilaian Tingkat Kesehatan Bank (PTKB) dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk-based Bank Rating/RBBR) yang terdiri dari 2 bagian, yaitu:
1. Risiko Inheren
a) Karakteristik dan kompleksitas operasional Bank b) Sumber daya manusia
c) Teknologi informasi d) Fraud
e) Kejadian eksternal
2. Kualitas Penerapan Manajemen Risiko a) Pengawasan aktif Komisaris dan Direksi b) Kecukupan kebijakan
c) Prosedur dan penetapan limit, kecukupan identifikasi, pengukuran, pemantauan dan sistem informasi manajemen operasional
d) Sistem pengendalian internal yang komprehensif
Bank juga telah melakukan pengukuran Profil Risiko Cabang yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum atas kondisi eksposur risiko (finansial atau non finansial) operasional Cabang. Profil risiko cabang diukur berdasarkan komposit dari Risiko Inheren dan Kualitas Penerapan Manajemen Risiko. Atas hasil pengukuran tersebut, disusun laporan profil risiko cabang yang diterbitkan secara periodik dan disampaikan kepada seluruh kantor cabang.
Bank senantiasa menyempurnakan implementasi manajemen Risiko Operasional dengan meningkatkan kesadaran para pegawai terhadap risiko serta menyempurnakan kebijakan dan prosedur untuk operasional Bank. Berbagai upaya ini ditujukan untuk memitigasi risiko inheren dan terus meningkatkan sistem pengendalian khususnya terhadap Risiko Operasional. Bank terus-menerus meningkatkan kesadaran risiko seluruh pegawainya melalui berbagai media termasuk e-campaign, buletin dan sosialisasi.
Bank secara rutin menyelenggarakan Operational Risk Online Test (OPRIST) yaitu tes online kepada pegawai kantor cabang serta sebagian pegawai kantor pusat melalui aplikasi Operational Web Links (OWL). Tujuannya adalah untuk mengukur penguasaan dan pemahaman terhadap pengetahuan produk, kebijakan/prosedur serta pengelolaan Risiko Operasional melalui berbagai soal ataupun studi kasus yang diberikan kepada pegawai sesuai dengan level jabatan/fungsinya. OPRIST diselenggarakan sebanyak 2 siklus dalam setahun, tetapi dapat ditambahkan periode pelaksanaanya di luar siklus yang sudah ada untuk mengakomodir tes yang bersifat tematik. Atas hasil penyelenggaraan OPRIST dapat dijadikan bahan evaluasi untuk memberikan pelatihan yang tepat bagi pegawai. Pelatihan tersebut nantinya dapat diselenggarakan secara satu arah seperti E-Learning ataupun dua arah dengan media virtual atau secara langsung tatap muka.
45. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN (lanjutan)