BERHARGA DAN OBLIGASI PEMERINTAH
55. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan)
Baik Basel II maupun PBI tersebut di atas mensyaratkan adanya pengawasan aktif dari pihak manajemen Bank terhadap aktivitas pengelolaan risiko. Hal ini diwujudkan dengan dibentuknya Komite Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Manajemen Risiko yang ditujukan agar pengelolaan risiko menjadi lebih menyeluruh terpadu, terukur, dan terkendali.
Komite ini tercakup dalam Risk & Capital Committee (RCC) yang telah dibentuk sejak tanggal 10 Oktober 2001. RCC bertanggung jawab atas penetapan kebijakan manajemen risiko Bank secara menyeluruh seperti penetapan limit internal, penetapan kebijakan suku bunga dana dan kredit, penetapan kebijakan kredit, peluncuran produk baru serta memonitor pelaksanaan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola risiko.
Dalam perkembangannya, cakupan tugas dan fungsi dari komite ini telah mengalami beberapa perubahan. Perubahan terakhir mulai diterapkan pada semester I-2006 yang memfokuskan RCC menjadi tiga sub komite yaitu: Asset & Liability Committee, Risk Management Committee, dan Capital &
Investment Committee. Dengan adanya penyempurnaan ini maka cakupan kontrol dan tanggung jawab
terhadap setiap risiko menjadi lebih fokus dan efektif. Setiap komite ini didukung oleh grup kerja (working group) yang anggotanya terdiri dari grup-grup yang terkait langsung dengan permasalahan risiko yang masuk dalam cakupan komite dimaksud.
Dalam rangka melakukan pengelolaan risiko yang lebih menyeluruh, terpadu, terukur dan terkendali, Bank telah membentuk Satuan Kerja Manajemen Risiko yang berada di bawah Direktorat Manajemen Risiko (Risk Management Directorate). Direktorat Manajemen Risiko bertanggung jawab dalam mengelola/mengkoordinasikan seluruh risiko yang dihadapi Bank, yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik dan risiko kepatuhan termasuk menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan risiko.
Direktorat Manajemen Risiko dipimpin oleh seorang Direktur yang bertanggung jawab kepada Dewan Direksi dan sekaligus menjadi anggota dengan hak suara (voting member) pada Risk and Capital
Committee. Dalam operasionalnya Direktorat Manajemen Risiko dibagi menjadi 2 (dua) bagian besar,
yaitu 1) Credit Approval sebagai bagian dari four-eye principle, 2) Independent Risk Management yang dibagi menjadi dua grup, yaitu grup yang berkaitan dengan risiko kredit dan portofolio, dan grup yang terkait dengan risiko operasional dan risiko pasar.
Kerangka kerja penerapan manajemen risiko sendiri dijabarkan dalam Kebijakan Manajemen Risiko Bank Mandiri (KMRBM) yang menjadi acuan bagi pengelolaan risiko yang lebih spesifik seperti Kebijakan Perkreditan Bank Mandiri, Kebijakan Trading, dan Kebijakan Asset & Liability Management. Salah satu bentuk pelaksanaan pengelolaan risiko adalah penyusunan profil risiko Bank setiap triwulan yang dilaporkan kepada Bank Indonesia sesuai jadual yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Laporan profil risiko ini menggambarkan risiko yang melekat dalam kegiatan bisnis Bank (inherent risk) termasuk sistem pengendalian risiko (risk control system) untuk masing-masing jenis risiko. Selain laporan kepada BI secara triwulan, Bank juga secara internal mengupayakan penyusunan profil risiko (khususnya pemantauan pelaksanaan action plan) dengan periode yang lebih pendek yaitu secara bulanan, sehingga kinerja risiko terdeteksi lebih awal dan akurat.
Dalam rangka pengintegrasian sistem manajemen risiko; pemenuhan ketentuan Bank Indonesia dan Basel II, serta sebagai tindak lanjut atas Basel II Compliance Committee yang telah dibentuk, Bank sedang mengembangkan Enterprise Risk Manajement (ERM) yang sesuai dengan kebutuhan strategis dan operasional Bank.
ERM merupakan sistem manajemen risiko yang komprehensif dan terintegrasi secara bank wide, sehingga diharapkan pengelolaan risiko menjadi proses yang “embedded” dalam proses bisnis Bank, dengan demikian dapat memberikan nilai tambah (value added) bagi Bank dan stakeholders Bank terutama dikaitkan dengan pelaksanaan organisasi berbasis Strategic Business Unit (SBU) dan penilaian kinerja berbasis risiko (Risk Based Performance).
55. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan)
Inisiatif ERM yang mulai sejak tahun 2004 sebagai embrio awal pengelolaan risiko yang menyeluruh pada saat ini telah sampai pada tahapan penyusunan datamart dan procurement ERM system. Dengan ERM, diharapkan pengelolaan risiko pasar, kredit, dan operasional dapat dilakukan dengan lebih baik, tidak sekedar menjadi pemenuhan terhadap ketentuan dan pelaporan kepada Bank Indonesia saja tetapi menjadi bagian yang menyatu dalam pengambilan keputusan bisnis Bank sehari-hari.
Risiko Kredit
Pengelolaan risiko kredit Bank terutama diarahkan untuk meningkatkan keseimbangan antara ekspansi kredit yang sehat dengan pengelolaan kredit secara prudent agar terhindar dari penurunan kualitas atau menjadi Non Performing Loan (NPL), serta mengoptimalkan penggunaan modal yang dialokasikan untuk risiko kredit.
Untuk mendukung hal tersebut, Bank telah memiliki kebijakan dan pedoman tertulis mengenai pemberian kredit yang mencakup Kebijakan Perkreditan Bank Mandiri (KPBM), Pedoman Pelaksanaan Kredit (PPK) dan Interim Kebijakan dan Prosedur dibidang perkreditan yang belum terakomodasikan dalam Buku KPBM dan PPK. Ketiga acuan kerja dimaksud memberikan petunjuk pengelolaan kredit secara lengkap, mulai dari permohonan, proses analisa, persetujuan, dokumentasi, pengawasan, hingga proses restrukturisasi disertai dengan analisa dan perhitungan risiko.
Dalam rangka mendukung proses pemberian kredit yang lebih hati-hati, Bank juga melakukan review dan penyempurnaan terhadap kebijakan tersebut secara periodik sesuai dengan perkembangan bisnis terkini. Sejalan dengan penerapan Strategic Business Unit (SBU), Bank menyusun Kebijakan dan Standar Prosedur Kredit (SPK) per segmen bisnis yang diharapkan dapat lebih fokus dalam menangkap aspirasi kebutuhan bisnis per segmen bisnis dimaksud. SPK yang telah selesai dikerjakan adalah SPK segmen Corporate, SPK segmen Commercial, SPK segmen Small, SPK Micro dan SPK Consumer. Secara garis besar pengelolaan risiko kredit diterapkan pada tingkat transaksional maupun tingkat portofolio. Pada tingkat transaksional diterapkan four-eye principle yaitu setiap pemutusan kredit melibatkan Business Unit dan Credit Risk Management Unit secara independen untuk memperoleh keputusan yang obyektif. Mekanisme four-eye principle dilakukan melalui Credit Committee dimana proses pemutusan kredit dilaksanakan melalui mekanisme Rapat Komite Kredit dan pemutusannya dilakukan oleh Pejabat Pemegang Kewenangan Memutus Kredit dari Business Unit dan Risk
Management yang memiliki kompetensi, kemampuan dan integritas. Dengan demikian, proses
pemberian kredit menjadi lebih komprehensif dan hati-hati.
Sebagai bagian dari pelaksanaan prudential banking, pemegang kewenangan dalam melakukan pemutusan kredit selain menggunakan format Nota Analisa Kredit dan alat analisa keuangan (spread
sheet keuangan) juga menggunakan panduan dari Rating Tools (BMRS) dan Scoring Tools (MBSS &
SMESS) untuk dapat melakukan pengukuran risiko kredit (credit risk assesment) yang lebih akurat dan penetapan tingkat bunga (pricing) atas dasar risiko (risk based pricing). Bank telah memiliki Pedoman Penyusunan dan Pengembangan Model Credit Rating dan Credit Scoring, yang merupakan pedoman lengkap bagi Bank dalam menyusun model credit rating dan credit scoring yang proven dan handal. Model tersebut diimplementasikan ke dalam Credit Risk Tools sebagai salah satu alat bantu dalam memutus kredit. Untuk memonitor performance model credit rating dan credit scoring, secara berkala dilakukan review atas hasil scoring dan hasil rating yang telah dilakukan oleh Business Unit. Dengan melakukan validasi model rating akan diperoleh kondisi performance model yang terkini. Sebagai upaya
monitoring dan reporting, rating & scoring yang dikelola dalam data-base dituangkan dalam Credit Scoring Review dan Rating Outlook yang masing-masing diterbitkan secara triwulanan dan semesteran
pada tahun berjalan. Report tersebut juga memuat informasi mengenai atribute/parameter scoring yang disusun menurut sektor ekonomi. Hal ini bermanfaat bagi Business Unit khususnya sebagai
55. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan)
Risiko Kredit (lanjutan)
Penerapan scoring dan rating tools juga ditujukan untuk memberikan penilaian yang lebih obyektif kepada nasabah sehingga nasabah-nasabah yang berisiko rendah akan mendapatkan perlakuan (treatment) yang berbeda dibandingkan dengan yang berisiko tinggi.
Dalam rangka mempercepat proses (Turn Around Time) pemberian kredit, saat ini Bank melakukan inisiatif antara lain melakukan penyempurnaan format Nota Analisa Kredit (Credit Memo) untuk segmen Corporate, Commercial, Small Business, Financial Institution dan Kantor Luar Negeri yang lebih berorientasi pada analisa risiko secara komprehensif sehingga mendukung pemutusan kredit yang berprinsip pada asas kehati-hatian (prudential banking). Selain inisiatif tersebut sebagai upaya pencegahan peningkatan NPL, Bank juga telah mengembangkan dan mengimplementasikan proses
Loan Monitoring System dan analisa Watch List (Early Warning Analysis) bagi debitur-debitur performing
untuk mengidentifikasi debitur-debitur yang berpotensi tinggi mengalami downgrade menjadi NPL sehingga Manajemen dapat segera menetapkan account strategy dan tindakan (action) secara dini sehingga dapat memberikan hasil paling optimal dalam rangka meminimalkan pertumbuhan NPL Bank. Disamping itu, kredit bermasalah ditangani oleh unit khusus (Credit Recovery Group) agar penyelesaiannya dapat ditangani lebih menyeluruh dan di lain pihak Unit Bisnis tetap fokus pada pengelolaan debitur lancar dan ekspansi kredit.
Pada tingkat portofolio, Bank memiliki Portfolio Guideline (PG) yang dapat digunakan untuk mengarahkan ekspansi kredit sehingga tercapai komposisi portofolio yang optimal, baik atas dasar sektor ekonomi, wilayah, segmen bisnis maupun produk. Alokasi portofolio yang optimal ini mencegah pengambilan risiko yang melampaui risk appetite Bank. PG mencakup sejumlah variabel (lagging,
coincidence & leading) yang pada intinya memperhitungkan 3 (tiga) hal utama yaitu attractiveness dari
suatu sektor ekonomi/wilayah/segmen bisnis (supply & demand, struktur industri, profitabilitas dan regulasi), expertise Bank pada sektor dimaksud dan faktor diversifikasi.
Untuk menguji tingkat akurasi dari PG dilakukan back testing secara periodik sehingga predictive value dari PG akan selalu berada pada tingkat yang dapat diterima. Selain back testing, PG juga akan dilengkapi dengan Risk Acceptance Criteria (RAC) yang saat ini dalam proses pengembangan. RAC memberikan gambaran financial dan non-financial (kualitatif) pada tingkat industri, yang menjadi acuan (benchmark) bagi kredit analis dalam menetapkan target customer dan mengambil keputusan pemberian kredit pada masing-masing sektor industri sehingga keputusan kredit yang dihasilkan menjadi lebih berkualitas.
Secara periodik (bulanan dan semesteran) dilakukan analisa portofolio sehingga adanya perubahan variabel ekonomi maupun variabel sektoral (industri) yang mempengaruhi alokasi yang optimal dapat dipantau dan dilakukan langkah-langkah antisipasi yang taktikal maupun strategis (portfolio
rebalancing).
Pada tingkat portofolio, secara rutin maupun ad hoc dilakukan stress testing untuk menguji elastisitas kualitas portofolio (NPL dan rugi-laba) terhadap perubahan variabel-variabel ekonomi baik secara individu maupun bersama-sama. Dengan stress testing dapat diantisipasi lebih awal langkah-langkah pengendalian portofolio dan diambil solusi yang paling optimal. Selain itu stress testing juga memberikan gambaran mengenai strategi jangka panjang yang paling sesuai dengan kondisi portofolio Bank dan lingkungan ekonominya.
Sejalan dengan penerapan alat ukur risiko tersebut dan sebagai analisa pendukung dalam pengelolaan risiko kredit, Bank juga telah menggunakan Customer Profitability Analysis yang berbasis risiko. Dengan demikian dapat diketahui nilai tambah ekonomis kepada pemegang saham atas aktivitas kredit yang dilakukan Bank. Bank akan terus berupaya meningkatkan alat ukur risiko kredit guna memperoleh
55. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan)
Risiko Kredit (lanjutan)
Selain itu, Bank juga menerapkan perhitungan tingkat suku bunga berdasarkan risiko (risk based
pricing) dan Required Yield sebagai tingkat imbal hasil minimum dalam menetapkan suku bunga
kredit.
Risiko Pasar dan Risiko Likuiditas a. Manajemen Risiko Likuiditas
Likuiditas merupakan kemampuan Bank untuk memenuhi seluruh kewajiban finansial yang sudah diperjanjikan secara tepat waktu dengan harga wajar. Likuiditas Bank dipengaruhi oleh struktur pendanaan, likuiditas aset, kewajiban kepada counterparty dan komitmen kredit kepada debitur. Risiko likuiditas disebabkan oleh ketidakmampuan Bank untuk menyediakan likuiditas dengan harga wajar yang akan berdampak kepada profitabilitas dan modal Bank. Dengan demikian, untuk mengelola risiko likuiditas yang akan timbul, Bank melakukan pengelolaan risiko likuiditas agar dapat memenuhi setiap kewajiban finansial yang sudah diperjanjikan secara tepat waktu dan senantiasa dapat memelihara tingkat likuiditas yang memadai dan optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank menetapkan kebijakan pengelolaan risiko likuiditas, yang mencakup antara lain pemeliharaan cadangan likuiditas yang optimal, pengukuran dan penetapan limit risiko likuiditas, penyusunan analisa skenario dan contingency plan, penyusunan strategi pendanaan serta memiliki akses pasar. Kebijakan pengelolaan risiko likuiditas disusun selaras dengan aktivitas bisnis yang dijalankan oleh unit bisnis.
Tingkat likuiditas Bank diukur melalui Primary Reserve dan Secondary Reserve. Bank memelihara
Primary Reserve dan Secondary Reserve untuk memenuhi kebutuhan operasional harian dan
sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dari penarikan dana tidak terjadual dan ekspansi aktiva.
Primary Reserve dipelihara dalam bentuk Giro Wajib Minimum (GWM) di Bank Indonesia dan kas
di cabang-cabang. Sesuai ketentuan Bank Indonesia, Bank diwajibkan memelihara GWM Rupiah dan Valas secara harian masing-masing sebesar minimum 11% dari dana pihak ketiga Rupiah (untuk Bank dengan total dana pihak ketiga di atas Rp50.000 milyar dan Loan to Deposit Ratio antara 50-60%) dan minimum 3% dari dana pihak ketiga Valas. Per 31 Desember 2007 realisasi GWM Rupiah sebesar 14,00% dan GWM Valas sebesar 3,01%. Selama tahun 2007, GWM Rupiah secara rata-rata mencapai 11,24% dan GWM Valas mencapai 3,01%, yang menunjukkan bahwa primary reserve telah dikelola secara efisien oleh Treasury.
Secondary Reserve Bank ditempatkan dalam bentuk SBI, FASBI, penempatan antar bank, dan
surat berharga (portofolio yang diperdagangkan dan yang tersedia untuk dijual). Bank menetapkan limit Secondary Reserve minimum 5% dari dana pihak ketiga. Per 31 Desember 2007 Bank memiliki Rp39.163.369 dalam secondary reserve, atau 16,38% dari dana pihak ketiga Bank sebesar Rp239.092.880.
Risiko likuiditas yang mungkin dihadapi Bank yang akan datang diukur dan dipantau melalui
liquidity gap analysis, yang merupakan proyeksi surplus atau defisit likuiditas berdasarkan maturity profile dari aktiva dan pasiva Bank termasuk kebutuhan ekspansi bisnis. Berdasarkan Rencana
Kerja dan Anggaran Perusahaan tahun 2008, sampai dengan 12 bulan ke depan likuiditas Bank diproyeksikan akan berada dalam posisi surplus. Setiap proyeksi defisit pendanaan dipantau melalui limit Maximum Cumulative Outflow (MCO).
55. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan)
Risiko Pasar dan Risiko Likuiditas (lanjutan) a. Manajemen Risiko Likuiditas (lanjutan)
Sesuai dengan rencana kontinjensi tersebut, Bank dapat memenuhi kebutuhan likuiditas melalui pendanaan alternatif di luar pendanaan masyarakat seperti repurchase agreement, bilateral
funding, collateralized facility agreement, foreign exchange swap, dan penjualan surat berharga
seperti obligasi pemerintah.
Biaya pendanaan dan kemampuan pendanaan Bank secara langsung dipengaruhi oleh credit rating yang dimiliki. Posisi rating Bank Mandiri saat ini adalah sebagai berikut:
Long Term Domestic Currency
Long Term Foreign Currency Standard & Poor’s BB- BB-
Fitch, Inc. BB- BB-
Moody’s Baa2 B1/Ba2
b. Manajemen Risiko Suku Bunga
Risiko Suku Bunga adalah risiko yang mempengaruhi nilai finansial (naik/turun) assets dan
liabilities Bank (Banking Book) karena adanya perubahan suku bunga yang akan berdampak pada
pendapatan dan modal Bank. Risiko suku bunga terutama disebabkan perbedaan time repricing antara assets yang sensitif (RSA = Rate Sensitive Assets) dan liabilities yang sensitif (RSL = Rate
Sensitive Liabilities). Asset Bank yang sensitif terhadap suku bunga didominasi oleh obligasi
pemerintah dan kredit, dan Liability yang sensitif terhadap suku bunga didominasi oleh Dana Pihak Ketiga (giro, tabungan dan deposito berjangka).
Dalam pengelolaan risiko suku bunga, Bank menggunakan analisa re-pricing gap, duration gap dan simulasi. Untuk menggambarkan besarnya eksposur risiko suku bunga, Bank menggunakan pendekatan re-pricing gap, sedangkan untuk mengukur sensitivitas pendapatan (NII Sensitivity) dan nilai modal ekonomis (Economic Value of Equity, EVE) akibat pergerakan suku bunga, Bank melakukan simulasi dengan skenario kenaikan dan penurunan suku bunga (rate shock).
Pengukuran sensitivitas NII (Net Interest Income) dan nilai ekonomis modal dilakukan dengan cara mengasumsikan kenaikan dan penurunan suku bunga secara parallel shift sebesar 100 bps. Hasil analisa sensitivitas menunjukkan bahwa perubahan suku bunga sebesar 100 bps Rupiah dan Valas akan berpotensi terhadap penurunan NII 12 bulan sebesar 0,75% (tidak diaudit) dari target NII dan penurunan EVE sebesar 1,18% (tidak diaudit) dari Equity. Selain melakukan analisa sensitivitas, Bank juga menggunakan pendekatan statistik untuk mengukur dampak volatility suku bunga terhadap pendapatan (Earning at Risk, EaR) dan Equity (Capital at Risk, CaR). Per 31 Desember 2007 EaR dan CaR Bank masing-masing sebesar 0,45% (tidak diaudit) dan 2,12% (tidak diaudit) dari Equity.
Bank juga melaksanakan analisa sensitivitas untuk kondisi ekstrim (stress testing) untuk melihat dampak perubahan suku bunga yang signifikan terhadap NII dan modal Bank.
Untuk memberikan peringatan dini akan terjadinya risiko suku bunga, Bank memiliki alat pemantauan yang disebut Interest Rate Risk Red Flags yang terdiri dari beberapa indikator risiko suku bunga yaitu: Repricing Gap, NII Sensitivity dan Economic Value of Equity Sensitivity, Earning at
Risk dan Capital at Risk. Dalam rangka pemantauan dan pengendalian risiko suku bunga, Bank
menetapkan limit atas indikator-indikator risiko suku bunga. Apabila terdapat pelampauan terhadap limit tersebut akan ditindaklanjuti dengan mitigasi risiko melalui strategi restrukturisasi Asset dan
55. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan)
Risiko Pasar dan Risiko Likuiditas (lanjutan) c. Manajemen Pricing
Pricing Management merupakan salah satu strategi yang dilakukan dalam upaya mendukung Bank
menguasai pangsa pasar pendapatan (revenue market share) dengan cara memaksimalkan Net
Interest Margin (NIM) terutama melalui pricing Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Kredit.
Dalam penetapan pricing DPK, Bank mempertimbangkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain: biaya dana, struktur dan target pendanaan. Faktor eksternal antara lain: likuiditas pasar, suku bunga pasar dan suku bunga penjaminan. Dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal tersebut, Bank menerapkan strategi aggressive atau defensive.
Untuk penetapan pricing Kredit, Bank menerapkan tingkat suku bunga berdasarkan risiko (Risk
Based Pricing). Struktur pembentukan suku bunga kredit, terdiri dari Cost of Funds, Overhead Cost, Cost of Allocated Capital dan Risk Premium. Bank menetapkan Required Yield yang merupakan
tingkat imbal hasil minimum yang diinginkan Bank.
d. Manajemen Risiko Pasar
Bank melakukan pengelolaan risiko pasar melalui monitoring atas aktivitas trading yang dilakukan oleh Treasury. Sebagai acuannya, Bank menetapkan limit transaksi yang meliputi Value at Risk
Limit (VaR Limit), limit nominal dealer, dan dealer loss limit. Hasil dari monitoring tersebut
dituangkan dalam laporan Trading Risk Profile secara periodik yaitu harian, mingguan dan bulanan. Berbeda dengan laporan lainnya, Laporan Bulanan menjabarkan secara lengkap pengelolaan risiko pasar termasuk didalamnya perhitungan Stress Testing/Scenario Analysis yang mengkuantifikasi pergerakan pasar yang abnormal. Selain itu, juga dilaporkan hasil back testing untuk menilai efektivitas pengukuran VaR dan akurasi metodologi yang digunakan.
Semakin berkembangnya produk-produk finansial, dimanfaatkan oleh Treasury Group untuk meningkatkan fee based income melalui transaksi derivative dan Structured Product, misalnya FX
Digital Option, Single Range Accrual dan produk-produk lainnya. Untuk mengakomodir
pengelolaan risiko atas kompleksitas transaksi derivative & structured product tersebut, Bank mengembangkan system derivative yang ditargetkan selesai pada awal Semester II – 2008. Pengalokasian modal untuk mengcover risiko pasar, menggunakan pendekatan Standard Model sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Besarnya kebutuhan modal minimum yang dibutuhkan untuk mengcover risiko pasar per 31 Desember 2007 adalah sebesar Rp221.039,39 sehingga nilai CAR setelah memasukkan unsur market risk dan credit risk adalah sebesar 20,75%.
Disamping itu, secara berkesinambungan, Bank melakukan review dan perbaikan atas penerapan manajemen risiko pasar sehingga selalu sesuai dengan ketentuan regulatory, keadaan terkini dan
best practice yang berlaku. e. Manajemen Risiko Nilai Tukar
Bank mengukur dan mengelola risiko nilai tukar struktural untuk mengetahui dampak pergerakan nilai tukar terhadap pendapatan dan modal Bank. Posisi valuta asing Bank sebagian besar dalam denominasi US Dolar, dimana disisi kewajiban terutama berbentuk dana pihak ketiga dan pinjaman diterima sementara disisi aktiva terutama dalam bentuk kredit, penempatan antar bank dan surat berharga.
55. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan)
Risiko Pasar dan Risiko Likuiditas (lanjutan) e. Manajemen Risiko Nilai Tukar (lanjutan)
Dalam upaya melakukan pengelolaan dan mitigasi risiko nilai tukar, pembiayaan kredit dan penempatan valuta asing diutamakan dibiayai dengan valuta yang sama dan untuk melindungi posisi terbuka valuta asing yang signifikan, Bank menggunakan instrumen derivatif seperti FX forward,
swap dan option.
Bank Mandiri memenuhi peraturan Bank Indonesia yang mewajibkan bank untuk memelihara Posisi Devisa Neto (PDN) Neraca dan Keseluruhan secara konsolidasi untuk seluruh valuta asing tidak melebihi 20% dari modal Bank (Tier I dan II). Dalam rangka prinsip kehati-hatian Bank menetapkan limit internal 10% dari modal. Per 31 Desember 2007 PDN Keseluruhan (absolut) Bank mencapai 5,56% dari modal (Catatan 51).
Risiko Operasional
Bank melakukan manajemen risiko operasional secara proaktif untuk membantu memenuhi target usaha serta meningkatkan citra Bank dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian pada setiap kegiatan usaha Bank. Melalui penerapan manajemen risiko operasional maka diharapkan:
- Setiap Unit Kerja memiliki proses kerja dan mengidentifikasi dimana potensi terjadi risiko operasional, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mitigasi risiko tersebut.
- Bank secara periodik mengevaluasi action plan sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi potensi kerugian risiko operasional.
Bank melakukan manajemen risiko operasional secara proaktif untuk memenuhi target usaha serta meningkatkan citra Bank dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian pada setiap kegiatan usaha Bank. Bank memiliki beberapa perangkat untuk penerapan manajemen risiko operasional yaitu: - Mandiri Loss Event Database (MLED) adalah perangkat yang digunakan untuk pencatatan
kerugian akibat risiko operasional yang sudah terjadi. MLED berguna untuk menyediakan profil kerugian operasional Bank (termasuk faktor-faktor yang menyebabkannya) serta membantu proses identifikasi risiko operasional (sebagai salah satu data pendukung dalam perangkat RCSA).
- Key Risk Indicator (KRI) adalah perangkat untuk pemantauan perubahan parameter risiko