IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5. Manajemen Risiko Pembiayaan
Praktik manajemen risiko BMI mengacu pada peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum yang dijelaskan lebih lanjut di dalam ketentuan internal bank sebagai Pedoman Kebijakan Manajemen Risiko (PKMR). Proses manajemen risiko dijalankan dengan melakukan
identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko. Untuk
mendukung pelaksanaan tersebut dilakukan penilaian terhadap sistem kontrol risiko yang meliputi peran aktif dewan direksi dan komisaris, kecukupan kebijakan dan prosedur, sistem informasi manajemen serta pengendalian internal.
Penerapan manajemen risiko diarahkan untuk memperkuat infrastruktur manajemen risiko, yaitu kelengkapan organisasi dan SDM, kecukupan kebijakan dan prosedur pembiayaan serta sistem informasi manajemen. Secara garis besar, beberapa langkah penting yang masih akan dilakukan guna menyempurnakan ketiga elemen tersebut, diantaranya:
Sertifikasi manajemen risiko bagi pengurus dan pejabat bank.
Review terhadap kebijakan dan prosedur pembiayaan, salah satunya adalah penyesuaian limit persetujuan komite pembiayaan yang disesuaikan dengan kondisi risiko serta target pertumbuhan bisnis bank Muamalat.
Menyempurnakan Lembar Kerja Pencatatan dan Pelaporan Transaksi Berisiko (LKPPTB) sehingga menjadi lebih komprehensif, efektif dan efisien.
Mengembangkan dan melengkapi instrumen pemeringkatan credit worthiness (kelayakan) nasabah.
Menguji metode pengukuran potensial loss berdasarkan database yang terbentuk .
Pengukuran profil risiko per posisi triwulanan.
Perhatian manajemen terhadap pentingnya pengelolaan risiko pembiayaan dijalankan oleh Financing Risk Management Unit mulai dari tingkat cabang, area, sampai pusat. Financing Risk Management Unit
berada di bawah pengawasan Risk Management Division dengan fungsi utama melakukan filterisasi awal terhadap setiap proposal pembiayaan nasabah yang diajukan oleh cabang, sebelum diputuskan oleh komite pembiayaan sesuai dengan kewenangannya. Manajemen risiko pembiayaan BMI meliputi:
4.5.1. Identifikasi Risiko Pembiayaan
Proses pengidentifikasian risiko dilakukan oleh BMI dengan sistem yang terintegrasi dan terkomputerisasi. Hal ini menunjukkan perhatian dan kesadaran bank terhadap pentingnya penggunaan teknologi informasi dalam pelaksanaan manajemen risiko, termasuk identifikasi risiko. Pengidentifikasian dilakukan pada akhir bulan oleh analis pembiayaan. Semua data terkait angsuran dan sisa pinjaman masuk ke dalam database sehingga dapat terlihat besarnya pembiayaan bermasalah yang terjadi. Proses pengidentifikasian ini sangat penting untuk tahap selanjutnya.
4.5.2. Pengelompokan Risiko Pembiayaan
Setelah melalui tahap pengidentifikasian, selanjutnya dilakukan pengelompokan pembiayaan yang mengalami keterlambatan pembayaran. Proses pengelompokan sesuai dengan peraturan Bank Indonesia No. 31/147/KEP/DIR tanggal 12 november 1999 tentang kualitas aktiva produktif yaitu pembiayaan dikelompokkan dalam 5 jenis kolektibilitas berdasarkan tingkat kelancaran pembayaran kewajiban peminjam yang diukur dari jumlah hari tunggakan. Kelima jenis kolektibilitas itu antara lain kolektibilitas lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet. Pembiayaan dengan kualitas lancar dan dalam perhatian khusus digolongkan ke dalam pembiayaan tidak bermasalah, sedangkan pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet digolongkan dalam pembiayaan bermasalah. Besar masing-masing kolektibilitas pada tahun 2007-2010 terlihat pada Gambar 10 dan Tabel 10.
Gambar 10.Komposisi Kolektibilitas Pembiayaan periode 2007-2010
Tabel 10. Jumlah Kolektibilitas Pembiayaan Periode 2007-2010 (dalam jutaan rupiah)
Tahun Pembiayaan Lancar Pembiayaan Dalam Perhatian Khusus Pembiayaan Kurang Lancar Pembiayaan diragukan Pembiayaaan macet Mar-07 5,854,865 310,617 91,772 18,755 124,569 Jun 6,541,362 385,492 166,589 64,451 144,189 Sept 7,381,220 287,149 225,136 117,585 198,520 Des 8,168,357 161,738 61,257 26,085 162,135 Mar-08 8,107,216 353,583 87,498 37,844 157,599 Jun 8,779,607 372,766 248,932 62,948 151,722 Sept 9,531,499 364,295 285,892 69,823 157,460 Des 9,658,805 365,739 290,389 28,895 135,741 Mar-09 9,254,621 718,529 391,753 59,801 231,191 Jun 9,836,709 858,470 181,713 57,315 201,327 Sept 9,317,690 958,950 617,000 55,236 326,684 Des 9,995,758 856,864 41,849 401,297 95,308 Mar-10 9,887, 240 1,266,885 470,396 32,783 281,896 Jun 10,484,572 1,682,672 256,803 39,585 306,336 Rata-rata 8,771,394 638,839 244,070 76,600 191,048 Persentase 88,40% 6,44% 2,46% 0,77% 1,93%
Sumber: PT BMI, Tbk (data diolah)
Dari Tabel 10, dapat dilihat bahwa rata-rata pembiayaan lancar memiliki persentase yang paling besar diantara kolektibilitas lainnya yaitu sebesar 88,40% terhadap total rata-rata kolektibilitas. Selama tiga tahun terakhir, kolektibilitas lancar paling rendah
terjadi pada periode Maret 2007 yaitu sebesar Rp 5.854.865.000.000 dan paling tinggi pada periode Juni 2010
yaitu sebesar Rp 10.484.572.000.000.
Pembiayaan dalam perhatian khusus merupakan kolektibilitas yang kedua dimana keterlambatan pembayaran kurang dari 90 hari, dengan persentase rata-rata 6,44% terhadap total kolektibilitas. Jumlah pembiayaan dalam perhatian khusus paling tinggi terjadi pada periode Juni 2010 yaitu sebesar Rp 1.682.672.000.000. Sedangkan paling rendah terjadi pada periode Desember 2007 yaitu sebesar Rp 161.738.000.000.
Pembiayaan pada kolektibilitas kurang lancar, diragukan, dan macet dikatakan bermasalah dan termasuk kedalam Non Performing Finance (NPF). NPF adalah pembiayaan yang tidak
diikuti oleh pelunasan pembayaran pokok atau angsuran sebagaimana yang telah dipersyaratkan dalam perjanjian sehingga ada kemungkinan potensial loss. Persentase dari total rata-rata pembiayaan kurang lancar, diragukan, dan macet yaitu masing- masing sebesar 2,46%, 0,77%, dan 1,93%. Kolektibilitas kurang lancar dimana keterlambatan pembayaran kurang dari 180 hari paling tinggi terjadi pada periode September 2009 yaitu sebesar Rp 617.000.000.000 sedangkan paling rendah terjadi pada periode Desember 2009 yaitu sebesar Rp 41.849.000.000. Kolektibilitas diragukan dimana keterlambatan pembayaran kurang dari 270 hari
paling tinggi terjadi pada periode Desember 2009 yaitu sebesar Rp 401.297.000.000 sedangkan paling rendah terjadi pada periode
Maret 2007 yaitu sebesar Rp 18.755.000.000. Kolektibilitas macet dimana keterlambatan pembayaran lebih dari 270 hari paling tinggi
terjadi pada periode September 2009 yaitu sebesar Rp 326.684.000.000 sedangkan paling rendah terjadi pada periode
Desember 2009 yaitu sebesar Rp 95.308.000.000. 4.5.3. Pengukuran Tingkat Risiko Pembiayaan
Setiap pembiayaan yang disalurkan memiliki potensi risiko. Besarnya risiko pembiayaan ditunjukkan oleh Non Performing Finance (NPF) yaitu pembiayaan yang tidak diikuti oleh pelunasan pembayaran pokok atau angsuran sebagaimana yang telah dipersyaratkan dalam perjanjian sehingga ada kemungkinan
potensial loss. Kolektibilitas kurang lancar, diragukan, dan macet termasuk ke dalam NPF. Rasio NPF diperoleh dari pembagian antara NPF dengan total pembiayaan yang disalurkan. Semakin besar rasio NPF, semakin tinggi pula risiko yang ditanggung oleh bank. Tingginya NPF menunjukkan kegagalan bank dalam mengelola dana yang ada. Nilai NPF akan mempengaruhi laba yang diperoleh dan menentukan posisi bank tersebut dinyatakan sehat atau tidak. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank wajib memiliki NPF neto di bawah 5 persen. Bank dengan nilai
NPF neto di atas 5 persen akan masuk dalam program pengawasan intensif BI.
Tabel 11. Persentase Non Performing Finance pembiayaan periode 2007-2010 (dalam jutaan rupiah)
Tahun NPF Pembiayaan NPF Gross PPAP NPF net Mar-07 253.096 6.400.578 3,67% 141.126 2,70% Jun 375.229 7.302.083 5,14% 174.617 3,93% Sept 541.241 8.209.610 6,59% 218.113 4,96% Des 249.477 8.579.572 2,91% 232.778 1,33% Mar-08 282.941 8.743.740 3,24% 242.793 1,61% Jun 463.602 9.654.529 4,82% 209.519 3,72% Sept 513.175 10.408.969 4,93% 218.990 3,88% Des 455.025 10.479.749 4,34% 165.685 3,80% Mar-09 682.745 10.655.895 6,41% 180.509 5,99% Jun 440.355 11.135.534 3,95% 210.517 3,23% Sept 998.920 11.275.560 8,86% 308.363 7,32% Des 538.454 11.391.076 4,73% 207.474 4,11% Mar-10 785.075 11.939.200 6,58% 230.308 5,83% Jun 602.724 12.769.968 4,72% 259.760 3,93% Sumber: PT BMI, Tbk (data diolah)
Tabel 11 menunjukkan bahwa NPF pada BMI mengalami fluktuasi setiap tahunnya. NPF gross terendah terjadi pada triwulan terakhir 2007 yaitu sebesar 2,91% dengan NPF net 1,33% dan tertinggi pada triwulan ke tiga 2009 yaitu sebesar 8,86% dengan NPF net 7,32%. Pada tahun 2009 terdapat dua periode dimana tingkat NPF di atas 5%, yaitu pada triwulan pertama sebesar 6,41% dan triwulan ke tiga sebesar 8,86%. Hal ini terjadi karena situasi ekonomi pada awal tahun 2009 masih diliputi ketidakpastian setelah krisis keuangan global akhir tahun 2008. Pada akhir 2009, BMI mampu menurunkan posisi NPF ke level yang lebih rendah yaitu sebesar 4,73% melalui rencana kerja perbaikan dan mengarahkan pembiayaan ke sektor yang relatif aman dan berisiko rendah. Meski demikian, tingkat NPF masih mengalami fluktuasi yaitu pada triwulan pertama 2010, NPF meningkat mencapai 6,58% dan turun kembali pada triwulan berikutnya yaitu sebesar 4,72%. Pergerakan NPF gross dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Grafik Perkembangan Rasio NPF Gross periode 2007-2010
Sumber: PT BMI, Tbk (data diolah) 4.5.4. Pengendalian dan Pengelolaan Risiko Pembiayaan
Pengendalian risiko pembiayaan adalah upaya untuk menjaga pembiayaan yang diberikan lancar dan produktif. Strategi pengendalian dan pengelolaan pembiayaan BMI terdiri dari
preventive control of credit dan repressive control of credit. 1. Preventive Control of Finance
Preventive control of finance adalah pengendalian pembiayaan yang dilakukan dengan tindakan pencegahan sebelum pembiayaan tersebut bermasalah. Upaya preventive control of finance dilakukan dengan cara:
a. Penetapan Prosedur dan Kebijakan Umum Pembiayaan. Prosedur dan kebijakan pembiayaan merupakan acuan bank dalam melakukan pengendalian risiko mulai dari pemberian pembiayaan sampai pada penagihan. Sehingga dalam penetapannya, menekankan pada aspek yuridis dan kehati-hatian. Aspek yuridis, yaitu prosedur dan kebijakan sesuai dengan peraturan dan ketetapan Bank Indonesia. Aspek kehatian-hatian, yaitu menjaga sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien. Prosedur dan kebijakan pembiayaan yang baik dan teratur memudahkan koordinasi pusat dengan cabang dalam melakukan pengawasan terhadap berbagai kemungkinan terjadinya risiko pembiayaan.
b. Asuransi
Untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari risiko pembiayaan, bank melakukan kerjasama dengan beberapa asuransi, yaitu asuransi jiwa yang digunakan apabila peminjam meninggal dunia dan asuransi pembiayaan untuk mengurangi kerugian akibat pembiayaan macet. Asuransi yang digunakan BMI adalah asuransi jiwa sinarmas syariah untuk asuransi jiwa, sedangkan asuransi takaful untuk asuransi pembiayaan.
Pembayaran premi asuransi dilakukan saat realisasi pembiayaan. Klaim pembiayaan diajukan kepada pihak asuransi jika terjadi pembiayaan macet. Klaim harus memperhatikan waktu jatuh tempo dan masa berlakunya, karena jika melebihi jatuh tempo maka klaim tidak lagi berlaku. Dana yang ditanggung oleh pihak asuransi yaitu sebesar 75% dan bank 25%.
c. Peningkatan kualitas SDM
SDM merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap timbulnya risiko pembiayaan. Oleh karenanya, manajemen mengadakan pelatihan sebagai upaya untuk terus meningkatkan kualitas SDM, diantaranya: pelatihan analisa pembiayaan dan pembiayaan bermasalah, pelatihan aspek legal dan akad-akad bank syariah, project finance and loan syndication training, serta personal development.
d. Penagihan Intensif.
Penagihan secara intensif dilakukan dengan cara memantau saldo di rekening tabungan peminjam dan melakukan potongan sejumlah angsuran saat jatuh tempo. Apabila terdapat peminjam yang menunggak pada tahun pertama maka dilakukan beberapa langkah untuk menghindari kerugian, yaitu:
1) Pengiriman surat pemberitahuan angsuran kedua. 2) Konfirmasi melalui telepon.
3) Pengiriman surat peringatan (SP1, SP2, SP3, dan SP terakhir).
e. Manajemen Kolektibilitas
Meningkatnya nilai kolektibilitas kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet mengakibatkan PPAP yang harus dibentuk semakin besar. Hal ini berdampak pada menurunnya laba, dan CAR sehingga tingkat kesehatan pembiayaan memburuk. Oleh karenanya, pengelolaan kolektibilitas penting dilakukan karena berpengaruh terhadap kelangsungan usaha suatu bank. Manajemen kolektibilitas dilakukan dengan cara:
1) Mengevaluasi setiap pembiayaan, terutama pembiayaan kolektibilitas 2,3,4, dan 5.
2) Membuat action plan penyelesaian pembiayaan
3) Membuat proyeksi coll untuk mengetahui sejak awal tingkat kesehatan pembiayaan.
2.Repressive Control of Finance
Repressive control of finance adalah pengendalian dan pengelolaan pembiayaan yang dilakukan melalui tindakan penyelesaian setelah pembiayaan tersebut bermasalah. Upaya
repressive control of finance dilakukan dengan cara: a. Proses Revitalisasi.
Revitalisasi dilakukan jika usaha nasabah diindikasikan masih berjalan dan hasil usaha nasabah masih mampu untuk memenuhi kewajiban angsuran kepada bank. Proses revitalisasi meliputi:
1) Rescheduling
Perubahan ketentuan pembiayaan yang hanya menyangkut jadwal pembayaran atau jangka waktunya, sehingga peminjam yang terlambat membayar
pembiayaannya diberi jangka waktu tertentu untuk membayar dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 2) Reconditioning
Perubahan sebagian atau seluruh ketentuan pembiayaan termasuk perubahan jangka waktu sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimum saldo pembiayaan. 3) Restructuring
Perubahan sebagian atau seluruh ketentuan pembiayaan, termasuk perubahan maksimum saldo pembiayaan.
b. Penyelesaian Melalui Jaminan
Penyelesaian melalui jaminan dilakukan jika nasabah sudah tidak memiliki usaha dan tidak kooperatif untuk menyelesaikan pembiayaan.
1. Penyelesaian Melalui Jaminan (Non Litigasi) a) Off-Set
Penyelesaian pembiayaan melalui penyerahan jaminan oleh peminjam kepada bank. Off-set dilakukan bila peminjam bersedia untuk menjual jaminannya kepada bank. Langkah-langkah yang dilakukan untuk melakukan off-set, antara lain:
1.Menganalisis kecukupan nilai jaminan untuk menutup seluruh kewajiban dan biaya-biaya yang dikeluarkan saat proses off-set.
2.Negosiasi dengan peminjam untuk pembelian jaminan 3.Setelah mendapat persetujuan komite penyelesaian
pembiayaan, dilakukan jual beli.
Bila nasabah ingin membeli kembali jaminan yang di beli oleh bank, maka diberikan hak opsi kepada peminjam dengan jangka waktu berdasarkan persetujuan kedua belah pihak.
b) BAMUI (Badan Arbitrase Muamalat Indonesia) Sesuai dengan pasal 17 perjanjian pembiayaan, setiap sengketa yang timbul antara peminjam dengan BMI, maka akan diselesaikan melalui BAMUI. Langkah- langkah yang dilakukan, antara lain:
1.Membuat usulan penyelesaian ke komite pembiayaan. 2.Membuat surat dan pengajuan gugatan ke BAMUI. 3.Proses sidang dalam jangka waktu maksimal 6 bulan. 4.Keputusan BAMUI.
5.Pendaftaran putusan BAMUI ke pengadilan negeri. 2. Penyelesaian Melalui Jaminan (Litigasi).
a) Gugatan Perdata
Kondisi dimana peminjam tidak dapat menyelesaikan kewajiban secara sukarela, cepat, dan tuntas melalui hak tanggungan. Gugatan perdata dilakukan untuk mendapatkan keputusan berkekuatan hukum dan mengikat yang wajib dilaksanakan oleh pihak terkait dalam perkara gugatan. Melalui cara ini, memungkinkan bank untuk menguasai atau menjual aset nasabah yang bukan jaminan.
b) Gugatan Pidana
Kondisi dimana peminjam melakukan suatu tindakan pidana sehingga menimbulkan kerugian. Gugatan pidana bertujuan untuk menekan psikologis peminjam supaya mengakui kesalahan dan menyelesaikan kewajibannya. c) Riil Eksekusi Jaminan
Kondisi dimana penyelesaian pembiayaan dapat dilakukan melalui jaminan yang telah diikat dengan hak tanggungan. Riil eksekusi jaminan bertujuan untuk mengeksekusi jaminan yang telah dibebani hak tanggungan sehingga kewajiban peminjam dapat dilunasi. Penyelesaian pembiayaan melalui riil eksekusi jaminan
dapat dilaksanakan dalam waktu singkat dan memiliki kepastian pengembalian.
d) Permohonan Kepaillitan
Kondisi dimana jaminan tidak dapat dilikuidasi dengan cepat dan bank sulit bernegosiasi dengan peminjam.