• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Teori-Teori Terkait Penelitian

1. Manajemen Risiko

a. Pengertian Manajemen Risiko

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/25/PBI/2011 tentang penerapan manajemen risiko bagi BUS dan UUS disebutkan risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa tertentu. Sementara itu risiko kerugian adalah kerugian yang terjadi sebagai konsekuensi langsung atau tidak langsung dari kejadian risiko.Kerugian itu bisa berbentuk finansial atau nonfinansial. Selanjutnya berdasarkan PBI Nomor 11/25/PBI/2009 tentang perubahan atas PBI Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum dimana manajemen risiko menrupakan serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengelola risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha bank. Hal tersebut selaras dengan definisi berikut yang menyatakan bahwa manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis (Fahmi, 2011).

Bank sangat perlu mengambil langkah-langkah yang sistematis untuk mengelola risiko yang ditimbulkan dari kegiatan usahanya yang agar

bank dapat menjalankan kegiatan usahanya dengan tata kelola yang baik dan benar (good corporate governance). Pada Basel II, jenis pengukuran manajemen risiko dijabarkan dalam pilar 1 dimana untuk menentukan minimum capital requirement adalah risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional (Bank for International Settlement, 2005).

b. Jenis-Jenis Risiko

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.13/PBI/2011 tanggal 2 November 2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, terdapat beberapa risiko yang terdapat di perbankan syariah, yaitu sebagai berikut.

1) Risiko Kredit atau Pembiayaan adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank, sesuai dengan perjanjian yang disepakati.

2) Risiko Pasar adalah pada posisi neraca dan rekening administratif akibat perubahan harga pasar, antara lain risiko berupa perubahan nilai dari aset yang dapat diperdagangkan atau disewakan.

3) Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank.

14

4) Risiko Operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh

proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang memengaruhi operasional bank.

5) Risiko Hukum adalah risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.Risiko ini timbul karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau pengikatan agunan yang tidak sempurna.

6) Risiko Reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan para pemangku kepentingan yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank.

7) Risiko Strategis adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategis serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

8) Risiko Kepatuhan adalah risiko akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku serta prinsip syariah.

9) Risiko Imbal Hasil adalah risiko akibat perubaham tingkat imbal hasil yang dibayarkan bank kepada nasabah karena terjadinya perubahan tingkat imbal hasil yang diterima bank dari penyaluran

dana, yang dapat memengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga bank.

10) Risiko Investasi adalah risiko akibat bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan bagi hasil berbasis bagi hasil (Rahmawati, 2018).

c. Proses Manajemen Risiko

Untuk dapat menerapkan proses manajemen risiko, pada tahap awal bank syariah harus secara tepat mengenal dan memahami serta mengidentifikasi seluruh risiko, baik yang sudah ada (inherent risk) maupun yang mungkin timbul dari suatu bisnis baru bank. Selanjutnya secara berturut-turut, bank syariah perlu melakukan pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko. Proses ini terus berkesinambungan sehingga menjadi sebuah lifecycle dan proses ini sudah jelas tercantum pada PBI Nomor 5/8/PBI/2003 Pasal 10 dan 11 sebagai berikut.

Gambar 2. 1. Siklus Manajemen Risiko

Assessing

Measuring

Managing Monitoring

Understanding Identifying

16

Dalam pelaksanaannya, proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko memerhatikan hal-hal berikut.

1) Identifikasi risiko dilaksanakan dengan melakukan analisis terhadap:

a) karakteristik risiko yang melekat pada bank; dan b) risiko dari produk dan kegiatan usaha bank.

2) Pengukuran risiko dilaksanakan dengan melakukan:

a) evaluasi secara berkala terhadap kesesuaian asumsi, sumber data dan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko;

b) penyempurnaan terhadap sistem pengukuran risiko apabila terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi dan faktor risiko yang bersifat material.

3) Pemantauan risiko dilaksanakan dengan melakukan:

a) evaluasi terhadap eksposur risiko;

b) penyempurnaan proses pelaporan apabila terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi, faktor risiko, teknologi informasi dan sistem informasi manajemen risiko yang bersifat material.

4) Pelaksanaan proses pengendalian risiko, digunakan untuk mengelola risiko tertentu yang dapat membahayakan kelangsungan usaha bank (Bank Indonesia, 2013).

2. Konsep Pembiayaan Murabahah

a. Pengertian Pembiayaan

Kegiatan lembaga keuangan yang selanjutnya setelah menghimpun dana dari masyarakat luas dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito adalah menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya. Kegiatan pengalokasian dana ini dikenal dengan istilah penyaluran dana.

Pembiayaan atau financing adalah pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga atau dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan (Ilyas, 2015).

Pembiayaan sering digunakan untuk menunjukkan aktivitas utama perbankan syariah karena berhubungan dengan rencana memperoleh pendapatan pada industri bank syariah. Berdasarkan UU Nomor 10 tahun 1998 yang dimaksud dengan pembiayaan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan tujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau pembagian hasil.

b. Pembiayaan Murabahah

Secara bahasa, kata murabahah berasal dari bahasa Arab dengan akar kata ribh dan al-ribah yang artinya “beruntung” atau “keuntungan”

18

(Manzhur, 1553). Sedangkan secara istilah, murabahah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga jual tersebut yang terdiri atas harga pokok barang dan tingkat keuntungan tertentu atas barang, dimana harga jual tersebut disetujui pembeli (Hakim, 2012).

Selaras dengan pendapat berikut yang menyatakan bahwa murabahah secara umum adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga pembelian kepada pembeli kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan keuntungan yang diharapkan sesuai jumlah tertentu. Dalam akad murabahah, penjual menjual barangnya dengan meminta kelebihan atas harga beli dengan harga terjual. Perbedaan antara harga jual dengan harga beli disebut margin keuntungan (Ismail, 2011).

Mekanisme pembiayaan murabahah:

1) Nasabah mengajukan permohonan kepada bank untuk membeli barang.

2) Bank dan nasabah melakukan negosiasi harga barang, persyaratan, dan cara pembayaran.

3) Bank nasabah bersepakat melakukan transaksi dengan akad murabahah.

4) Bank membeli barang dari penjual atau supplier sesuai spesifikasi yang diminta nasabah.

5) Bank dan nabah melakukan akad jual beli atas barang dimaksud.

6) Supplier mengantarkan barang kepada nasabah.

7) Nasabah menerima barang dan dokumen.

8) Nasabah melakukan pembayaran sebesar pokok dan margin kepada bank dengan mengangsur (Ikatan Bankir Indonesia, 2014).

c. Dasar Hukum Pembiayaan

1) Firman Allah SWT Surah An-Nisa’ (4):29

Yang artinya :”Hai orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang padamu”.

Ayat di atas melarang segala bentuk transaksi yang bathil. Di antara transaksi yang dikategorikan bathil adalah yang mengandung bunga (riba) sebagaimana terdapat pada sistem kredit konvensional karena akad yang diguakan adalah utang. Berbeda dengan murabahah, dalam akad ini tidak ditemukan unsur bunga, karena menggunakan akad jual beli. Di samping itu, ayat ini mewajibkan untuk keabsahan setiap transaksi murabahah harus berdasarkan prinsip kesepakatan antara para pihak yang dituangkan dalam suatu perjanjian yang menjelaskan dan dipahami segala hal yang menyangkut hak dan kewajiban masing-masing.

2) Kemudian pada firman Allah SWT Surah Al-Baqarah (1):275

Yang artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah sampai mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum dating larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah, orang yang kembali

20

(mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;

mereka kekal di dalamnya” (Kementerian Agama RI, 2017).

Ayat di atas Allah mempertegas legalitas dan keabsahan jual beli secara umum serta menolak dan melarang konsep ribawi.

Berdasarkan ketentuan ini jual beli murabahah mendapat pengakuan dan legalitas dari syara’ dan sah untuk dioperasionalkan dalam praktik pembiayaan perbankan syariah karena ia merupakan salah satu bentuk jual beli dan tidak mengandung riba.

d. Prinsip Evaluasi Pembiayaan

Salah satu prinsip yang sering dipakai dalam evaluasi pembiayaan adalah prinsip 5C yaitu, character, capital, capacity, collateral, dan condition of economic, yang digunakan untuk menilai calon nasabah pembiayaan dengan penjelasan sebagai berikut (Ikatan Bankir Indonesia, 2014):

1) Character

Penilaian karakter calon nasabah pembiayaan yang dilakukan untuk menyimpulkan bahwa nasabah pembiayaan tersebut jujur, beriktikat baik, dan tidak menyulitkan bank dikemudian hari.

Penilaian mengenai karakter lazimnya dilakukan melalui:

a) Bank checking melalui Sistem Informasi Debitur (SID) pada Bank Indonesia.

b) Trade checking, pada supplier dan pelanggan nasabah pembiayaan, untuk meneliti reputasi nasabah di lingkungan mitra bisnisnya.

c) Informasi dari asosiasi usaha tempat calon nasabah

pembiayaan terdaftar, untuk meneliti reputasi calon nasabah pembiayaan dalam interaksi di antara pelaku usaha dalam asosiasi.

2) Capacity

Penilaian kemampuan calon nasabah pembiayaan dalam bidang usahanya dan/atau kemampuan manajemen nasabah pembiayaan agar bank yakin bahwa usaha yang diberikan pembiayaan tersebut dikelola oleh orang-orang yang tepat.

a) Pendekatan historis, yaitu menilai kinerja nasabah di masa lalu (past performance).

b) Pendekatan finansial, menilai kemampuan keuangan calon nasabah pembiayaan.

c) Pendekatan yuridis, melihat secara yuridis person yang berwenang mewakili calon nasabah pembiayaan dalam melakukan penandatanganan perjanjian pembiayaan dengan bank.

d) Pendekatan manajerial, menilai kemampuan nasabah dalam menjalankan fungsi manajemen dalam memimpin perusahaan.

e) Pendekatan teknis, yaitu kemampuan calon nasabah pembiayaan terkait teknis produksi, seperti tenaga kerja,

22

sumber bahan baku, peralatan, administrasi, keuangan dan lain-lain.

3) Capital

Penilaian atas posisi keuangan calon nasabah pembiayaan secara keseluruhan termasuk aliran kas, baik untuk masa lalu maupun proyeksi pada masa yang akan datang. Ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan permodalan nasabah pembiayaan dalam menjalankan proyek usaha nasabah pembiayaan yang bersangkutan.

4) Condition of Economic

Penilaian atas kondisi pasar di dalam negeri maupun luar negeri, baik masa lalu maupun yang akan datang, dilakuakn untuk mengetahui prospek pemasaran dari hasil usaha nasabah pembiayaan yang dibiayai.

Beberapa hal yang dapat digunakan dalam menganalisis conditiom of economic:

a) Regulasi pemerintah pusat dan daerah b) Kondisi makro dan mikro ekonomi c) Situasi politik dan keamanan

d) Kondisi lain yang memengaruhi pemasaran.

5) Collateral

Penilaian atas agunan yang dimiliki calon nasabah pembiayaan.Ini dilakuakn untuk mengetahui kecukupan nilai agunan apakah sesuai dengan pemberian pembiayaan.Agunan yang

diserahkan oleh nasabah dipertimbangkan apakah dapat mencukupi pelunasan kewajiban nasabah pembiayaan dalam hal keuangan nasabah tidak memenuhi kewajiban (sebagai second way-out) (Ikatan Bankir Indonesia, 2014).

e. Kolektabilitas Pembiayaan (Kualitas Pembiayaan)

Salah satu ukuran keberhasilan penyaluran pembiayaan adalah kolektabilitas, yaitu tingkat pengembalian atau pembayaran kembali pembiayaan oleh nasabah.Tingkat kelancaran pembayaran ini menentukan kualitas suatu pembiayaan.Kualitas pembiayaan juga ditentukan oleh prospek usaha serta kinerja usaha nasabah pembiayaan yang bersangkutan (Ikatan Bankir Indonesia, 2014).

Tujuan penetapan kolektabilitas pembiayaan adalah mengetahui kualitas pembiayaan agar bank dapat menghitung dan mengantisipasi risiko pembiayaan secara dini.

Kolektabilitas dalam pembiayaan murabahah ditetapkan menjadi lima golongan:

1) Kolektabilitas I, yaitu lancar (tidak ada keterlambatan dalam waktu 30 hari).

2) Kolektabilitas II, yaitu dalam perhatian khusus (mengalami keterlambatan selama 30 sampai 90 hari).

3) Kolektabilitas III, yaitu kurang lancar (mengalami keterlambatan selama 90 sampai 120 hari).

24

4) Kolektabilitas IV, yaitu diragukan (mengalami keterlambatan selama 120 sampai 180 hari).

5) Kolektabilitas V, yaitu macet (mengalami keterlambatan lebih dari 180 hari).

f. Risiko Pembiayaan Murabahah

Pembiayaan dengan akad murabahah merupakan pembiayaan berupa transaksi jual beli barang, sebesar harga perolehan barang ditambah margin keuntungan yang disepakati para pihak. Besar margin keuntungan dinyatakan dalam bentuk nominal atau dalam bentuk persentase dari harga pembeliannya. Risiko yang mungkin timbul pada pembiayaan ini adalah tidak bersaingnya imbal hasil bagi pihak shahibul maal, khususnya untuk pembiayaan yang memiliki jangka waktu cukup panjang (Rahmawati, 2018).

Beberapa penyebab tidak bersaing imbal hasil ini, yaitu:

a. Kenaikan direct competitor’s market rate (DCMR);

b. Kenaikan indirect competitor’s rate (ICMR);

c. Kenaikan expected competitive rate for investor (ECRI).

Solusi untuk meminimalisasi risiko adalah pada saat penetapan jangka waktu maksimal dengan mempertimbangkan hal-hal berikut.

a. Tingkat (margin) keuntungan saat ini dan prediksi perubahannya pada masa mendatang yang berlaku di pasar perbankan syariah (DCMR).

Semakin cepat perubahan DCMR, semakin pendek jangka waktu maksimal pembiayaan.

b. Suku bunga kredit saat ini dan prediksi perubahannya pada masa mendatang yang berlaku di pasar perbankan konvensional.

c. Ekspektasi bagi hasil kepada dana pihak ketiga yang kompetitif di pasar perbankan syariah (ECRI). Semakin besar perubahan ECRI yang diperkirakan akan terjadi, semakin pendek jangka waktu maksimal pembiayaan (Rahmawati, 2018).

3. Pengukuran Risiko Pembiayaan

Beberapa hal pentingnya melakukan pengukuran risiko kredit disebabkan karena (Hendrawan, 2017):

a. Meningkatnya jumlah bank yang mengalami kebangkrutan dibandingkan dengan periode sebelum krisis. Di samping itu, dengan semakin meningkatnya kompetisi, maka akurasi analisis kredit semakin penting dibandingkan dengan periode sebelumnya.

b. Semakin berkembangnya pasar modal, perusahaan memerlukan tambahan dana dan mempunyai alternatif sumber dana selain perbankan.

c. Terdapat kecenderungan penurunan interest margin atau spread terutama dalam corporate credit.

d. Adanya voltalitas dan penurunan nilai kolateral, terutama setalah terjadinya krisis moneter.

e. Adanya kemajuan teknologi memungkinkan bank untuk melakukan pengukuran kredit dengan metode yang lebih baik dari sebelumnya.

26

f. Internal model memungkinkan bank untuk mengukur risiko portofolio kredit sehingga dapat dievaluasi dengan lebih baik, serta dapat digunakan untuk memperbaiki sistem penentuan harga kredit.

Pendapat lain menyatakan bahwa berapa jumlah default yang dapat diterima oleh bank dari total portofolio pembiayaan dan metode yang digunakan untuk mengukur kerugian yang akan terjadi akibat adanya pemberian pembiayaan kepada debitur. Terdapat dua pendekatan dalam mengukur risiko yaitu (Maulida, 2014):

a. Default Mode (DM)

Kinerja kredit dikategorikan default dan no default. Kerugian kredit akan mengalami kenaikan apabila terjadi default dalam rentang waktu tertentu.

b. Market to Market (MTM)

Kinerja kredit didasarkan pada situasi pasar (downgrade atau upgrade), dimana kerugian kredit akan meningkat apabila ada penurunan nilai krdit (downgrade) karena terjadinya default dan sebagainya.

Terdapat tiga kelompok model yang dipergunakan bank dalam melakukan penilaian atas probability of defaultv yang dilakukan peminjam da memperkirakan besarnya harga pinjaman yang meliputi:

a. Qualitative Models

Model ini digunakan bank dalam situasi di mana tidak terdapat publikasi yang berisi informasi perihal kualitas peminjam sehingga bank harus menghimpunnya sendiri dari private source.

b. Credit Scoring Models

Ini adalah suatu quantitave models yang disusun dengan menggunakan karakteristik calon peminjam untuk salah satu dari dua tujuan, yaitu apakah untuk menghitung suatu besaran score yang menggambarkan besarnya probability of default yang mungkin dilakukan calon peminjaman tersebut untuk memilah-milah para peminjam tersebut dalam pengelompokan menurut default risk.

Dengan menyeleksi dan mengkombinasi berbagai karakteristik peminjam yang berbeda-beda, bank dapat melakukan hal-hal diantaranya:

1) Menyusun daftar urutan faktor, dimulai faktor yang dinilai terpenting menggambarkan besarnya default risk.

2) Mengevaluasi faktor tersebut sesuai dengan urutan tingkat pentingnya faktor tersebut masing-masing.

3) Melakukan perbaikan dan revisi atas pricing default risk.

4) Menjadi memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyeleksi dan mengeluarkan bad loan applicant dari daftar calon peminjam.

5) Menjadi berada dalam posisi yang lebih baik dalam menghitung besarnya pencadangan yang perlu dibentuk.

c. Newer Models of Credit Risk Measurement

Credit risk models ini menggunakan kata-kata financial theory dan tersedianya data-data financial market yang lebih luas dalam menarik kesimpulan atas default probabilities pada debt dan loan instrument.

28

Oleh karena itu, model ini lebih cocok bila diterapkan pada penilaian pinjaman borrower yang lebih besar dalam corporate sectors.

Terdapat beberapa pendekatan dalam credit risk model ini, yaitu sebagai berikut:

1) Term Structure Of Credit Risk Approach

Metode ini dilakukan dengan meganalisis besaran risk premium yang melekat dalam current structure yield dari corporate debt atau loan yang diberikan.

2) Mortality Rate Approach

Lebih jauh dari menghitung besaran expected default rates sebagai akibat dari the cuurent term structure interest rate, bank dapat jugamenganalisis terjadinya default risk dimasa lalu.

3) RAROC Models

Model ini adalah suatu model perhitungan yang didasarkan pada risk adjusted return on capital. Yang penggunaannya pertama kali di pelopori oleh banker trust (yang kemudian diambil alih oleh Deutche Bank pada tahun 1998).

4) Credit Metrics

Konsep credit metric ini pertama kalinya pada tahun 1997 diperkenalkan oleh JP Morgan dengan Co sponsornya, yaitu Bank of America dan Union Bank of Switzerland.Credit metric ini diperkenalkan sebagaisuatu value at risk (VaR) frame work dalam menerapkan suatu valuasidan penilaian atas risk non tradable

asset.Secara sederhana perbedaanantara risk metric dengan credit metric terletak pada jangka waktu yang harus diantisipasi dalam berhadapan dengan risiko. Pada risk metric dipertanyakan: jika besok merupakan hari yang buruk seberapa banyakinvestor akan merugi sebagai akibat dari risiko memberuknya nilai tradebleasset yang dikuasainya, seperti stock, bonds dan equaties.Sedangkan pada credit metric pertanyaannya adalah jika tahun depan merupakan tahun yang buruk, seberapa banyak seorang kreditor akan merugi sebagai akibat dari risiko memburuknya kualitas tagihan sertaportofolio pinjaman itu? Pertanyaan itu dijawab oleh credit metricdengan melakukan pengamatan pada market value atau harga atas aset tersebut dan seberapa voltilitas harga atau return yang dihasilkan oleh aset tersebut.

5) Credit Risk

Gagasan model credit risk ini dikembangkan oleh Credit Suisse Financial Product. Berbeda dengan credit metric yang mengembangkanmodel penelitiannya melalui full VaR Framework, credit risk mencobamelakukan estimasi atas expected loss of loan dan distribusi kerugian itudengan memfokuskan perhitungannya pada beberapa cadangan modalyang diperlukan untuk manampung kerugian diatas jumlah tertentu.Pemikiran ini diilhami oleh teori yang berlaku pada bidang asuransi.

6) Option Models Of Default Risk

30

Perhatian khusus dalam corporate credit analysis terutama ditujukan pada upaya untuk mamperoleh gambaran seberapa jauh default risk yangdilakukan oleh corporate customers itu berpengaruh terhadappermodalan bank. Dengan demikian, masalah stock valuation (penilaian saham) menjadi aspek yang penting (Maulida, 2014).

Terdapat beberapa model-model pengukuran risiko kredit, dimana masing-masing credit risk modeling memiliki spesifikasi yang berbeda-beda.

Secara umumperbedaan masing-masing credit risk modeling didasari pada proses conditional danproses unconditional. Pada unconditional model, proses informasi hanya terbataspada perjanjian kredit. Sedangkan pada proses conditional model, proses informasimeliputi kondisi debitur, perjanjian kredit dan struktur macro economic.

Banyak dimensi yang menggambarkan perbedaan antar credit risk modeling. Ada sekitar 10 kunci dimensi dari 5 tipe model, antara lain (Maulida, 2014):

1) Option pricing model, contohnya: KMV dan Moody’s

2) Reduce from models, contohnya: KMPG dan model dari KamakuraCorporation

3) VaR model, contohnya Credit metric

4) Time Varying model, contohnya credit portofolio view 5) Mortality model, contohnya creditrisk+

Metode CreditRisk+ dipilih untuk mengukur risiko pembiayaan murabahah, adapun alasan pemilihan metode ini adalah karena hal-hal sebagai berikut:

1) CreditRisk+ sangat tepat untuk menganalisis default risk untuk jumlah debitur yang banyak dengan skala pembiayaan yang kecil. Dibandingkan pembiayaan dengan jumlah debitur yang sedikit dengan nilai nominal pembiayaan yang sangat besar.

2) Pengukuran metode CreditRisk+ lebih fokus pada pengukuran default dari pembiayaan yang diberikan, tidak mengasumsikan penyebab terjadinya default dan pergerakan harga pasar (market to market).

3) Frekuensi dari default rate dimodelkan dengan model distribusi Poisson karena sifat pinjaman diasumsikan memiliki tingkat probability of default yang kecil, masing-masing pembiayaan bersifat individualistic (tidak dipengaruhi oleh pembiayaan lainnya) dan bersifat random.

4) CreditRisk+ dalam setiap periode, terdapat dua kondisi yaitu default dan no default yang fokusnya pada pengukuran expected dan unexpected loss (Hendrawan, 2017).

5) CreditRisk+ mampu mengukur kecukupan cadangan modal (capital reserved) sehingga bagi manajemen dapat mengambil keputusan strategis terkait dengan penyediaan modal dan perancangan ekspansi pembiayaan di masa yang akan datang.

32

6) CreditRisk+ cukup efektif dan user friendly dalam penerapannya karena hanya memerlukan data internal bank berupa jumlah eksposur pembiayaan, jumlahdebitur, tingkat kolektibilitas pembiayaan dan recovery rate.

B. Tinjauan Kajian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan sumber yang dijadikan acuan dalam

Penelitian terdahulu merupakan sumber yang dijadikan acuan dalam

Dokumen terkait