GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN Sejarah Laboratorium
5. Manajer Mutu
Tanggung Jawab dari manajer mutu antara lain: menjamin penerapan sistem manajemen mutu laboratorium sesuai dengan kebijakan yang telah
38
ditentukan, mengelola dan mengendalikan dokumen sistem manajemen mutu dan dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan sistem manajemen mutu, menarik dokumen sistem manajemen mutu yang telah kadaluarsa dan menggantinya dengan yang baru, memelihara daftar induk rekaman sistem manajemen mutu, menangani dan menindaklanjuti setiap laporan ketidaksesuaian dan permintaan tindakan perbaikan terhadap pelaksanaan sistem manajemen mutu, mengidentifikasi ketidaksesuaian baik teknis maupun sistem manajemen mutu, menganalisis, membuat solusi dan melakukan tindakan pencegahan agar ketidaksesuaian tersebut tidak terulang lagi, memastikan bahwa semua rekaman mutu yang diperlukan dalam operasionalisasi kegiatan laboratorium terpelihara dengan baik, merencanakan, menjadwalkan, melaksanakan dan melaporkan semua kegiatan internal audit serta memverifikasi tindakan koreksi yang diperlukan dari temuan audit internal sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, menjamin bahwa metode uji yang digunakan telah melalui sistem jaminan mutu sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan bertanggung jawab terhadap pengendalian mutu hasil pengujian.
Sedangkan wewenang dari manajer mutu adalah: mensahkan perubahan (amandemen) yang dilakukan terhadap Panduan Mutu dan Prosedur Mutu, menunjuk personil yang akan terlibat dalam audit internal, mengajukan usulan revisi dokumen sistem manajemen mutu dan bertanggung jawab terhadap pengendalian mutu hasil pengujian.
PEMBAHASAN
Karakteristik Konsumen LDITP-IPB
Responden yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini berjumlah 43 orang. Dalam pengambilan sampel, responden yang digunakan adalah konsumen yang melakukan pengujian di LDITP-IPB minimal dalam satu tahun terakhir dan besedia untuk mengisi kuesioner. Karakteristik konsumen diperlukan untuk mengetahui keterkaitan konsumen dengan penilaian terhadap atribut-atribut dalam pelayanan yang dilakukan oleh LDITP-IPB, dan bertujuan untuk membuat kebijakan-kebijakan yang lebih efektif dalam rangka pelayanan yang lebih baik.
Konsumen yang berkunjung ke laboratorium analisis LDITP-IPB memiliki beragam karakteristik. Karakteristik responden yang dilihat dalam penelitian ini adalah karakteristik berdasarkan pendidikan terakhir, jenis pekerjaan dan jumlah pendapatan per bulan.
Karakteristik Konsumen LDITP-IPB Berdasarkan Pendidikan Terakhir Pendidikan merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh terhadap kepedulian dalam konsumsi pangan yang aman dan layak. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar kemampuannya dalam mengumpulkan berbagai informasi yang dibutuhkannya. Informasi ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Dalam penelitian ini, karakteristik konsumen yang melakukan pengujian analisis pangan di LDITP-IPB menunjukkan bahwa sebagian besar status pendidikan
39 terakhir adalah S1 dengan nilai sebesar 72.1persen. Selanjutnya konsumen berpendidikan S2 sebesar 20.9 persen dan jumlah konsumen yang terkecil adalah berpendidikan Diploma sebesar 7.0 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen yang melakukan pengujian analisis pangan di LDITP-IPB memiliki pendidikan yang cukup untuk mengambil keputusan dalam melakukan pengujian terhadap pangan. Secara lebih rinci, data sebaran karakteristik konsumen LDITP-IPB berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Sebaran Konsumen LDITP-IPB Berdasakan Pendidikan Terakhir Pendidikan Terakhir Jumlah (orang) Persentase (%)
Diploma 3 7.0
Sarjana 31 72.1
Pasca Sarjana 9 20.9
Karakteristik Konsumen LDITP-IPB Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan yang dilakukan oleh konsumen sangat mempengaruhi gaya hidupnya (pola dimana orang hidup untuk menghabiskan waktu serta uangnya) dan satu-satunya basis terpenting untuk menyampaikan prestis, kehormatan dan respek (Engel et al, 1994). Karakteristik pengunjung Laboratorium Analisis LDITP-IPB berdasarkan pekerjaan sebagian besar pekerja swasta dengan persentase 69.8 persen, jenis pekerjaan selanjutnya mahasiswa sebesar 25.6 persen dan pegawai negeri sipil sebesar 4.6 persen. Secara lebih rinci, data sebaran karakteristik konsumen LDITP-IPB berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Sebaran Konsumen LDITP-IPB Berdasakan Pekerjaan Pekerjaan Jumlah (orang) Persentase (%)
Pegawai Swasta 30 69.8
Pegawai Negeri 2 4.6
Mahasiswa 11 25.6
Karakteristik Konsumen LDITP-IPB Berdasarkan Pendapatan
Karakteristik pengunjung Laboratorium Analisis LDITP-IPB berdasarkan rata-rata pendapatan perbulan sebesar Rp3 000 001 – Rp6 000 000 sebanyak 16 responden (37.2 persen), responden yang memiliki pendapatan rata-rata antara Rp1 000 000 – Rp3 000 000 sebesar 25.6 persen atau sebanyak 11 orang, responden yang memiliki pendapatan rata-rata lebih besar Rp6 000 000 sebesar 20.9 persen atau hanya 9 responden, dan 7 responden (16.3 persen) yang memiliki pendapatan rata-rata dibawah Rp1 000 000. Sebaran responden berdasarkan pendapatan per bulan dapat dilihat pada Tabel 7.
40
Tabel 7. Sebaran Konsumen LDITP-IPB Berdasakan Pendapatan Pendapatan (Rp) Jumlah (orang) Persentase (%)
< 1 000 000 7 16.3
1 000 001-3 000 000 11 25.6
3 000 001-6 000 000 16 37.2
> 6 000 000 9 20.9
Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen LDITP-IPB Keputusan konsumen yang dilaksanakan dalam bentuk tindakan pembelian tidak muncul begitu saja, melainkan melalui tahapan-tahapan tertentu. Proses pengambilan keputusan pengambilan menjadi hal yang penting untuk mengetahui perilaku konsumen sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian jasa. Proses keputusan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian menurut Engel (1994) melalui lima tahapan, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan hasil pembelian. Dalam penelitian ini, analisis proses keputusan pembelian jasa ke LDITP-IPB menghasilkan beberapa kajian yang dapat dijadikan strategi oleh pihak manajemen LDITP-IPB.
Pengenalan Kebutuhan
Proses pengenalan kebutuhan menjadi tahapan pertama dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Pengenalan kebutuhan dipengaruhi oleh adanya rangsangan internal dan rangsangan eksternal. Pengenalan kebutuhan ini akan menghasilkan tindakan berupa pembelian sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki konsumen.
Tabel 8. Sebaran Responden Berdasarkan Motivasi Melakukan Pengujian Motivasi/Alasan Responden (orang) Persentase (%)
Persyaratan Standardisasi 15 34.9
Syarat registrasi produk 5 11.6
Pengujian berkala 4 9.3
Sebagai pembanding 9 20.9
Penelitian 10 23.3
Proses keputusan pembelian jasa pengujian di LDITP-IPB dimulai saat konsumen mengenali adanya sebuah kebutuhan untuk melakukan pengujian analisis pangan serta manfaatnya dari hasil analisis pengujian tersebut. Dalam penelitian ini, alasan utama konsumen untuk melakukan pengujian analisis pangan sebagian besar didasari oleh adanya persyaratan standardisasi dari produk yang akan mereka uji dengan jumlah responden sebanyak 15 orang atau 34.9 persen. Hal ini diindikasikan karena hasil pengujian yang diterima konsumen berupa sertifikat hasil uji yang dapat dijadikan sebagai dokumen pendukung persyaratan standardisasi. Motivasi responden lainnya dalam melakukan pengujian analisis pangan adalah karena adanya tujuan penelitian yaitu sebanyak 10 orang atau 23.3
41 persen. Pengujian pangan yang dilakukan dengan tujuan penelitian biasanya dilakukan terhadap pengujian standar terhadap pangan, dimana konsumen mengharapkan hasil dari pengujian lebih akurat karena dilakukan oleh ahlinya yang terakreditasi. Selain itu, pengujian melalui pihak ketiga oleh responden dapat membantu proses penelitian tanpa menggangu nilai dari hasil penelitiannya. Alasan responden lainnya sebanyak 9 orang atau 20.9 persen menyatakan bahwa kebutuhan mereka melakukan pengujian adalah sebagai pembanding, sebagai syarat registrasi produk sebesar 11.6 persen atau 5 orang, serta untuk pengujian berkala sebesar 9.3 persen atau 4 orang responden. Alasan/motivasi utama responden yang untuk melakukan pengujian analisis pangan dapat dilihat pada Tabel 8.
Hubungan jenis pekerjaan dengan kebutuhan motivasi melakukan analisis pangan sebagian besar 30 persen (13 orang) pekerja swasta memiliki motivasi melakukan analisis adalah untuk persyaratan standardisasi, sisanya adalah sebagai pembanding 14 persen (6 orang), sebagai syarat registrasi produk sebesar 11.6 persen (5 orang), sebagai pengujian berkala dan penelitian. Mahasiswa sebagian besar (18.6 persen) memiliki motivasi melakukan pengujian adalah untuk membantu proses penelitian, sisanya untuk persyaratan standardisasi dan pembanding. Sedangkan pegawai negeri sipil memiliki motivasi pengujian adalah sebagai pembanding. Hasil pengujian Crosstab jenis pekerjaan dengan pengenalan kebutuhan motivasi melakukan analisis pangan dapat dilihat di Lampiran 2.
Tabel 9. Manfaat Melakukan Pengujian Analisis Pangan
Manfaat Responden (orang) Persentase (%)
Mendapatkan sertifikat pengujian 21 48.8
Mengetahui keamanan produk 3 7.0
Mengetahui umur simpan produk 6 14.0
Karakteristik produk 13 30.2
Manfaat yang dicari dari responden untuk memenuhi kebutuhan setelah memilih melakukan pengujian analisis pangan sebagian besar responden menyatakan adalah untuk mendapatkan sertifikat pengujian dengan persentase sebesar 48.8 persen atau sebanyak 21 orang responden. Pada umumnya sertifikat pengujian digunakan oleh konsumen sebagai bukti tertulis untuk persyaratan dalam sebuah organisasi yang mempunyai manajemen mutu. Manfaat lain yang diharapkan konsumen dalam melakukan pengujian analisis pangan adalah untuk mengetahui karakteristik dari produk yang mereka uji sebesar 30.2 persen atau 13 orang. Karakteristik produk yang dimaksud secara umum dalam pengujian pangan berupa kandungan yang terdapat dalam produk tersebut seperti kandungan air, abu, protein, lemak, mikrobiologi serta kandungan kimia lainnya. Manfaat lain yang diharapkan konsumen dari pengujian analisis pangan adalah untuk mengetahui umur simpan produk dan mengetahui keamanan produk dengan jumlah persentase masing masing sebesar 14 persen (6 orang) dan 7 persen (3 orang). Rincian lengkap manfaat yang diharapkan responden dalam melakukan pengujian analisis pangan dapat dilihat di Tabel 9.
42
Hubungan jenis pekerjaan dengan manfaat yang dicari dalam melakukan analisis pangan sebagian besar pekerja swasta mencari manfaat untuk mendapatkan sertifikat pengujian dengan persentase sebesar 44.2 persen (19 orang), mengetahui karakteristik produk sebesar 16.3 persen (7 orang) dan sisanya untuk mengetahui keamanan produk dan mengetahui umur simpan produk. Mahasiswa sebagian besar mencari manfaat untuk mendapatkan karakteristik produk sebesar 14 persen (6 orang), umur simpan produk sebesar 9.3 persen (4 orang) dan mengetahui keamanan produk. Sedangkan pegawai negeri sipil mencari manfaat untuk mendapatkan sertifikat pengujian.
Pencarian Informasi
Setelah tahap pengenalan kebutuhan, kesadaran akan kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut membuat konsumen berusaha untuk melakukan pencarian informasi. Pencarian informasi yang dilakukan konsumen dapat diperoleh dari pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan (internal) dan informasi dari lingkungan (eksternal). Jika pencarian internal memberikan informasi yang memadai, maka pencarian eksternal tidak diperlukan. Namun, ketika informasi yang dibutuhkan belum mencukupi atau bahkan tidak tersedia, maka pencarian eksternal perlu dilakukan untuk menambah informasi dari lingkungan sekitarnya.
Tabel 10. Pencarian Informasi Mengenai Laboratorium Analisis Pangan Pencarian informasi Responden (orang) Persentase (%)
Kompetensi laboratorium 18 41.8
Lokasi laboratorium 22 51.2
Harga yang ditawarkan 3 7.0
Pelayanan 0 0
Pencarian informasi yang menjadi fokus perhatian responden dalam melakukan pengujian analisis pangan sebagian besar adalah lokasi laboratorium pengujian yaitu sebesar 51.2 persen atau 22 orang, selanjutnya kompetensi dari laboratorium sebesar 41.8 persen atau 18 orang dan harga yang ditawarkan dari laboratorium sebesar 7.0 persen atau 3 orang. Lokasi laboratorium menjadi fokus yang paling tinggi dari pencarian informasi untuk melakukan pengujian analisis pangan, hal ini dikarenakan laboratorium pengujian khusus untuk produk pangan yang telah ada tidak mudah ditemukan dan jumlahnya sangat terbatas. Fokus perhatian lainnya dalam melakukan analisis pangan adalah kompetensi dari laboratorium. Kompetensi laboratorium sangat erat kaitannya dengan hasil dari pengujian. Orang akan memilih laboratorium yang memiliki kompetensi yang handal sehingga mereka yakin akan hasil dari pengujian tersebut dikerjakan secara tepat dan teliti. Selain itu, kompetensi dari laboratorium dapat meyakinkan pihak lain dalam persyaratan standardisasi ataupun dalam persyaratan registrasi produk. Sebaran responden berdasarkan pencarian informasi mengenai laboratorium analisis pangan selengkapnya dapat dilihat di Tabel 10.
Hubungan antara jenis pekerjaan dengan fokus perhatian konsumen dalam melakukan pengujian analisis pangan, pekerja swasta memilih kompetensi laboratorium sebesar 34.9 persen, lokasi laboratorium sebesar 30.2 persen dan 4.7
43 persen karena harga yang ditawarkan laboratorium. Mahasiswa memilih lokasi laboratorium dalam melakukan pengujian sebesar 16.3 persen, kompetensi laboratorium sebesar 7 persen dan harga yang ditawarkan sebesar 2.3 persen dalam melakukan analisis pangan. Sedangkan pegawai negeri memilih lokasi laboratorium dalam pencarian informasi yang menjadi fokus pemilihan pengujian.
Tabel 11. Sumber Informasi Pengujian Analisis Pangan LDITP-IPB Sumber informasi Responden (orang) Persentase (%)
Teman 30 69.8
Keluarga 1 2.3
Iklan 5 11.6
Lainnya (dosen) 7 16.3
Sumber informasi menjadi komponen yang penting dalam tahapan pencarian informasi. Pada penelitian ini sebagian besar responden mendapatkan informasi mengenai pengujian analisis pangan di LDITP-IPB adalah dari teman dengan presentase sebesar 69.8 persen atau 30 orang. Hal tersebut berkaitan dengan adanya hubungan antara rekan kerja pada bidang yang sama atau informasi dari teman saat menempuh pendidikan formal. Sebanyak 16.3 persen (7 orang) menyatakan informasi yang di dapat mengenai tempat analisis LDITP-IPB dari dosen pembimbing selama masa studi. Informasi lainnya sebanyak 11.6 persen (5 orang) didapatkan dari iklan dan 2.3 persen (1 orang) menyatakan informasi yang mereka terima berasal dari keluarga. Sebaran responden berdasarkan sumber informasi dapat dilihat di Tabel 11.
Pegawai swasta mendapatkan sumber informasi mengenai laboratorium analisis LDITP-IPB dari teman atau rekan kerja sebesar 48.8 persen, dari iklan sebesar 11.6 persen dan 9.3 persen dari keluarga dan lainnya. Mahasiswa mendapatkan sumber informasi dari rekan atau teman sebesar 16.3 persen dan dari dosen sebesar 9.3 persen. Sedangkan pegawai negeri mendapat informasi mengenai laboratorium analisis LDITP-IPB dari teman atau rekan kerja.
Evaluasi Alternatif
Evaluasi alternatif merupakan tahapan lanjutan setelah proses pencarian informasi. Evaluasi alternatif dilakukan oleh konsumen jika mereka telah memiliki informasi yang cukup tentang hal-hal yang berhubungan dengan produk/jasa yang akan dibelinya Pada tahapan ini konsumen melakukan proses penilaian terhadap kriteria-kriteria yang relevan dari beberapa alternatif tersebut sampai dapat membuat satu keputusan untuk memenuhi kebutuhannya.
Tabel 12. Jarak Lokasi Pelayanan Pengujian LDITP-IPB Lokasi Responden (orang) Persentase (%)
Dekat dari rumah 5 11.6
Dekat dari kantor 3 7.0
Mudah dicapai 23 53.5
44
Pada proses pembelian jasa pelayanan pengujian analisis pangan di IPB sebanyak 53.5 persen atau 23 orang menyatakan jarak lokasi LDITP-IPB mudah dicapai bila dibandingkan dengan laboratorium analisis pangan lainnya yang sejenis. Hal tersebut menunjukkan pemilihan lokasi laboratorium LDITP-IPB menjadi hal yang dirasakan penting oleh konsumen untuk mendapatkan pelayanan pengujian pangan. Lokasi yang mudah dicapai dapat memudahkan konsumen untuk mencari dan melakukan pengujian. Selain itu dengan mudahnya akses ke lokasi pengujian, secara tidak langsung dapat menarik dan mempermudah calon konsumen lainnya untuk melakukan pengujian di laboratorium LDITP-IPB. Responden lainnya sebanyak 27.9 persen atau 12 orang menyatakan lokasi LDITP-IPB dirasakan terlalu jauh. Lokasi dari LDITP-IPB berada di daerah kampus IPB Dramaga, sehingga untuk beberapa responden dirasakan terlalu jauh karena berada di luar pusat kota serta akses menuju kantor LDITP-IPB untuk mendapatkan pelayanannya terganggu jarak dan cara mencapai lokasinya. Responden lainnya sebesar 11.6 persen (5 orang) dan 7 persen (3 orang) menyatakan jarak lokasi laboratorium analisis LDITP-IPB dekat dari rumah dan dekat dari kantor.
Pegawai swasta yang menganggap jarak lokasi laboratorium analisis LDITP-IPB mudah dicapai dibanding laboratorium lain yang sejenis sebesar 30.2 persen. Sebesar 25.6 persen menganggap lokasi laboratorium terlalu jauh untuk diakses, sebesar 11.6 persen dekat dari rumah dan 2.3 persen berada dekat dari kantor. Mahasiswa yang merasakan bahwa lokasi laboratorium analisis LDITP-IPB mudah dicapai sebesar 23.3 persen dan 2.3 persen lainnya merasa bahwa lokasi terlalu jauh. Sedangkan pegawai negeri merasa lokasi laboratorium analisis LDITP-IPB dekat dari kantor dengan persentase sebesar 4.7 persen.
Tabel 13. Harga yang Ditawarkan LDITP-IPB
Harga Responden (orang) Persentase (%)
Relatif murah 8 18.6
Relatif mahal 13 30.2
Biasa saja 22 51.2
Salah satu atribut yang menjadi prioritas pertimbangan konsumen dalam melaukan pengujian analisis pangan adalah harga yang ditawarkan oleh laboratorium pengujian tersebut. Harga merupakan atribut yang dinilai relevan dengan sumber daya yang dimiliki oleh responden. Jika harga tidak sesuai dengan sumberdaya ekonomi yang dimiliki, maka responden dapat mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhannya.
Dari hasil penelitian, harga yang ditawarkan oleh laboratorium analisis LDITP-IPB sebagian besar responden menganggap harga yang ditawarkan biasa saja dengan jumlah sebesar 51.2 persen atau 22 orang. Hal ini menunjukkan bahwa harga yang ditawarkan oleh laboratorium analisis LDITP-IPB secara umum hampir sama dengan harga yang ditawarkan oleh laboratorium analisis lainnya di bidang yang sama. Sebesar 30.2 persen (13 orang) responden lainnya menganggap harga yang ditawarkan oleh laboratorium analisis LDITP-IPB relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan laboratorium sejenis. Pada evaluasi
45 alternatif dalam proses penggunaan jasa laboratorium analisis LDITP-IPB, responden juga menggunakan pengalaman penggunaan jasa tehadap laboratorium lainnya. Harga yang ditawarkan laboratorium analisis LDITP-IPB dianggap responden mahal menyatakan bahwa beberapa jenis analisis yang ditawarkan oleh laboratorium analisis LDITP-IPB berada pada harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan laboratorium sejenis atau harga yang diharapkan konsumen untuk pengujian analisis pangan tidak sesuai dengan yang diperkirakan. Responden lainnya sebesar 18.6 persen atau 8 orang menyatakan harga yang ditawarkan laboratorium analisis LDITP-IPB relatif lebih murah jika dibandingkan dengan laboratorium lainnya yang sejenis. Sebaran responden terhadap harga yang ditawarkan laboratorium analisis LDITP-IPB selengkapnya dapat dilihat di Tabel 13.
Pekerja swasta yang berpendapat bahwa harga yang ditawarkan laboratorium analisis LDITP-IPB biasa saja sebesar 39.5 persen, yang berpendapat relatif mahal sebesar 18.6 persen dan sebesar 11.6 persen berpendapat harga yang ditawarkan LDITP-IPB relatif murah jika dibandingkan dengan laboratorium analisis sejenis. Mahasiswa yang berpendapat harga yang ditawarkan laboratorium LDITP-IPB biasa saja sebesar 11.6 persen, menganggap relatif mahal 9.3 persen dan relatif murah sebesar 4.7 persen. Sedangkan pegawai negeri berpendapat relatif murah dan relatif mahal masing-masing 2.3 persen. Pembelian
Keputusan pembelian merupakan salah satu tahapan yang dapat menggambarkan tujuan konsumen setelah melalui beberapa tahapan proses. Pada tahapan keputusan pembelian terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan keputusan pembelian diantaranya tempat pembelian, frekuensi pembelian dan bagaimana cara melakukan pembelian.
Tabel 14. Keputusan Pembelian Jasa Analisis LDITP-IPB
Pembelian Responden (orang) Persentase (%)
Kompetensi laboratorium 22 51.2
Lokasi laboratorium 18 41.8
Harga yang ditawarkan 2 4.7
Pelayanan 0 0
Lainnya (rusaknya alat uji) 1 2.3
Pada keputusan pembelian, responden sebagian besar memilih laboratorium LDITP-IPB karena kompetensi yang dimilikinya dengan jumlah sebesar 51.2 persen (22 orang). Hal ini menyatakan bahwa laboratorium LDITP-IPB dirasakan konsumen telah memiliki keterampilan dan pengetahuan dalam melakukan pengujian sesuai dengan standar. Selain itu responden memilih laboratorium analisis LDITP-IPB karena lokasinya dengan jumlah sebesar 41.8 persen (18 orang). Hasil ini juga menyatakan dengan lokasi yang sekarang ini, laboratorium LDITP-IPB dirasakan konsumen lebih mudah untuk mendapatkan jasa yang ditawarkan. Alasan lainnya responden memutuskan pengujian di
46
laboratorium analisis LDITP-IPB dikarenakan harga yang ditawarkan dan karena adanya kerusakan alat pengujian yang dimiliknya.
Pekerja swasta yang berpendapat bahwa kompetensi laboratorium yang menjadi alasan untuk memilih LDITP-IPB sebesar 44.2 persen, pemilihan karena lokasi laboratorium sebesar 20.9 persen dan karena harga yang ditawarkan sebesar 4.7 persen. Mahasiswa yang memutuskan pengujian ke LDITP-IPB dengan alasan lokasi laboratorium diperoleh sebesar 16.3 persen, sisanya karena kompetensi laboratorium sebesar 7 persen dan lainnya sebesar 2.3 persen. Pegawai negeri yang melakukan analisis ke LDITP-IPB karena lokasi laboratorium sebesar 4.7 persen. Hasil pengujian Crosstab jenis pekerjaan dengan keputusan melakukan analisis pangan dapat dilihat di Lampiran 2
Tabel 15. Waktu Pembelian Jasa Analisis LDITP-IPB
Waktu Pembelian Jasa Responden (orang) Persentase (%)
Direncanakan 39 90.7
Mendadak 4 9.3
Pada keputusan pembelian terhadap jasa yang ditawarkan laboratorium analisis LDITP-IPB, sebagian besar responden melakukan perencanaan sebelumnya untuk melakukan analisis di LDITP-IPB. Proporsi responden yang merencanakan pembelian tersebut adalah sebesar 90.7 persen (39 orang). Sedangkan responden yang melakukan analisis di LDITP-IPB secara mendadak sebesar 9.3 persen (4 orang). Proses pembelian jasa yang dilakukan secara mendadak dapat disebabkan karena adanya keperluan analisis secara cepat atau ketersediaannya alat pengujian yang dibutuhkan. Konsumen yang melakukan pengujian analisis dengan perencanaan sebelumnya pada pekerja swata sebesar 69.8 persen, mahasiswa 16.3 persen dan pegawai negeri sebesar 4.7 persen. Sedangkan konsumen yang melakukan pengujian secara mendadak adalah mahasiswa dengan persentase sebesar 9.3 persen.
Tabel 16. Cara Menggunakan Jasa Analisis LDITP-IPB
Cara menggunakan jasa Responden (orang) Persentase (%)
Datang langsung 34 79.1
Melalui kurir 9 20.9
Keputusan pembelian jasa yang ditawarkan laboratorium analisis LDITP-IPB sebagian besar konsumen dilakukan dengan cara datang langsung ke tempat lokasi. Hal ini dikarenakan dengan datang langsung ke tempat pengujian lebih memudahkan antara konsumen dan pihak LDITP-IPB untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen. Responden yang memilih datang langsung adalah sebesar 79.1 persen (34 orang) dan memilih melalui kurir sebesar 20.9 persen (9 orang). Konsumen yang memilih melalui kurir dikarenakan adanya masalah jarak untuk mendapatkan manfaat jasa yang ditawarkan LDITP-IPB. Untuk memperoleh pelayanan jasa pengujian, konsumen sebelumnya telah
47 menghubungi dahulu pihak LDITP-IPB mengenai ketersedian jenis pengujian dan kesediaan laboratorium untuk melakukan pengujian.
Konsumen yang melakukan pengujian dengan datang langsung ke lokasi LDITP-IPB sebesar 48.8 persen adalah pegawai swasta, 25.6 persen mahasiswa dan 4.7 persen pegawai negeri. Sedangkan konsumen yang melakukan pengujian dengan bantuan pengiriman sampel melalui kurir adalah pegawai swasta dengan persentase sebesar 20.9 persen.
Hasil Pembelian
Proses pembailan keputusan pembelian tidak berakhir pada tahapan pembelian. Konsumen akan melakukan evaluasi setelah adanya pembelian yaitu berupa penilaian yang dapat menggambarkan kinerja yang dirasakan setelah menggunakan pelayanan jasa. Konsumen yang merasakan kepuasan dengan kinerja dari seluruh pelayanan jasa maka dapat melakukan pembelian jasa yang berulang dan memberikan opini positif kepada orang yang berada disekitarnya. Sedangkan konsumen yang merasa tidak puas dengan pembelian jasa dapat memberikan tanggapan negatif yang dapat mempengaruhi keputusan dalam penggunaan pelayanan selanjutnya, baik untuk dirinya sendiri atau orang lain.
Tabel 17. Kepuasan Terhadap Jasa Analisis LDITP-IPB
Kepuasan Responden (orang) Persentase (%)
Sangat Puas 6 13.95
Puas 31 72.1
Netral 6 13.95
Tidak Puas 0 0
Sangat Tidak Puas 0 0
Pada penelitian ini responden menyatakan bahwa manfaat yang diterima sesuai dengan yang mereka harapkan dari pelayanan jasa analisis laboratorium analisis LDITP-IPB. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah persentase responden yang menyatakan puas dan sangat puas sebesar 72.1 persen (31 orang) dan 13.95