BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Kerangka Konsep
Penelitian ini dilakukan di PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare untuk mengetahui pengambilan keputusan yang akan di lakukan oleh akuntansi manajemen dengan teknik analisis data seperti pengumpulan data, kemudian penyajian data hingga hasil yang di dapatkan pada PT.Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare. Untuk lebih jelasnya akan disajikan kerangka konsep yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.1 Kerangka Konsep PT. Bank Rakyat
Indonesia
Akuntansi Manajemen
Pengambilan keputusan
Hasil Penelitian
Perencanaan Pengendalian
operasional
Penemuan masalah
Pengambilan keputusan Pemecahan
masalah
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif. Teknik analisis kualitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan, menyusun, mengevaluasi, serta menginterpretasikan data yang diperoleh kemudian ditarik kesimpulan uraian penjelasan mengenai peranan akuntansi manajemen dalam pengambilan keputusan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare.
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada peranan akuntansi manajemen dalam pengambilan keputusanpemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada PT.
Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare.
C. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian memerlukan tempat dan waktu penelitian, untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan, maka memilih BUMN sebagai obyek penelitian yaitu pada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare..Adapun waktu penelitian dari September 2021 sampai pada perampungan hasil.
37
D. Sumber Data 1. Data primer
Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diperoleh secara langsung melalui wawancara berupa tanya jawab langsung maupun diskusi dengan pihak terkait, khususnya pada kepala unit serta mantri PT.
Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare.
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare., yang sudah diolah dan terdokumentasi untuk mendukung data primer yaitu realisasi KUR pada 3 tahun sebelumnya dan data penyaluran kredit KUR tahun 2021.
Data tersebut diperoleh dan pengumpulan data dari pelaporan kegiatan yang diolah sebelumnya oleh bagian akuntansi PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare.
E. Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Beberapa poin-poin dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Wawancara
Narasumber dari wawancara ini adalah pak Muin sebagai kepala unitdan pak Syukur sebagai mantri PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare.
b. Dokumentasi
Data yang telah ditelaah yaitu sejarah berdirinya PT. Bank Rakyat
Indonesia, struktur organisasi, visi dan misi, dan kegiatan operasional PT.
Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare.
c. Menggunakan penulisan situs atau web dari internet seperti jurnal sebagai referensi dalam mendukung penulisan skripsi ini.
F. Analisis Data
Analisis data adalah proses pengumpulan data secara sistematis untuk mempermudah peneliti dalam memperoleh kesimpulan. Menurut Miles & Huberman (1992 :16) analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu :reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Mengenai ketiga alur tersebut secara lebih lengkapnya adalah sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan bagian dari analisis. Reduksi data merupakan suatu bentuk anlisisyang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
2. Penyajian Data
Miles & Huberman membatasi penyajian sebagai sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Mereka meyakini bahwa penyajian yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid, yang
meliputi: berbagai jenis matrik, grafik, jaringan dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih.
3. Menarik Kesimpulan
Penarikan kesimpulan menurut Miles & Huberman hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh.Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi itu mungkin sesingkat pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis (peneliti) selama ia menulis, dengan suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan. Kesimpulan akhir tidak hanya terjadi pada waktu proses pengumpulan data saja, akan tetapi perludiverifikasi agar benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah Singkat PT. Bank Rakyat Indonesia
Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau “Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto”, suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.
Masa periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan peraturan pemerintah No. 1 tahun 1946 pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai bank pemerintah pertama di Republik Indonesia . Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu itu melalui PERPU No.41 tahun 1960 dibentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan pelaburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan penetapan Presiden (penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.
Setelah berjalan selama satu bulan, keluar penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara
41
indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia II bidang Rular, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim). Berdasarkan Undang-undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-Undang-undang pokok perbankan dan Undang-undand No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Setral dan Bank Negara Indonesia unit II bidang rular dan ekspor impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-undang Perbankan No. 7 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas.
Kepemilikan BRI saat itu masih 100% ditangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003 Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.
2. Visi Misi BRI Unit Lapadde a. Visi
Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.
b. Misi
a) Melakukan kegiatan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.
b) Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dengan melaksanakan praktek good corporate governance.
c) Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak- pihak yang berkepentingan.
3. Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan salah satu dalam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi serta wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap anggota organisasi pada setiap-tiap pekerja, sehingga struktur organisasi dibuat secara sederhana, efektif untuk dapat bekerja secara efisien.Selain itu organisasi sering disebut bagan atau skema organisasi dengan ini gambar skematis tentang hubungan pekerja antara orang yang terdapat dalam suatu badan untuk mencapai tujuan.
Demikian pula halnya dengan Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare personilnya melakukan pekerjaannya masing-masing sesuai dan tanggung jawabnya, dan satu sama lainnya saling berhubung dalam usaha menciptakan suasana kerja yang disiplin dan dinamis agar tercapai tujuan perusahaan yang diinginkan. Oleh karena itu suatu organisasi harus dapat menggambarkan secara jelas fungsi dan tiap-tiap bagian yang terdapat pada organisasi tersebut.
Skema struktur organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Lapadde Cabang Pare-Pare dapat terlihat bahwa semua tugas perencanaan berada dibawah satu tangan, demikian juga halnya dengan komando, wewenang dan pengawasan.Adapun struktur organisasi PT.
Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare dapat dilihat pada bagian berikut.
Struktur Organisasi
PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare
Gambar 4.1 Struktur Organisasi BRI Unit Lapadde Cabang Pare-Pare
4. Uraian Tugas Masing-Masing a. Kepala BRI Unit
1) Mengoordinasikan dan memonitor kegiatan pemasaran dan pengelolaan bisnis mikro di BRI Unit yang meliputi pinjaman, dana, BRI Link dan jasa bank lainnya untuk meningkatkan profitabilitas dan portofolio keragaan di BRI Unit.
2) Mengoordinasikan pengelolaan kualitas pinjaman mikro (kolektibilitasi Dalam Perhatian Khusus/DPK, Non Performing Loan/NPL dan Daftar Hitam/HM), untuk memitigasi resiko kredit
KEPALA BRI UNIT LAPADDE
MANTRI CUSTOMER
SERVICE
TELLER SATPAM
CLEANING SERVICE
dengan tetap menjaga hubungan baik dengan debitur dan menjaga citra BRI.
3) Mengoordinasikan pemasaran produk-produk dan meningkatkan transaksi perbankan di BRI sebagai satu kesatuan yang terintegrasi untuk mencapai integrated banking solution.
4) Mengoordinasikan, memonitor dan mengendalikan operasional secara efisien dan prudent untuk meningkatkan kepuasan nasabah.
5) Mengoordinasikan pemberian layanan prima terhadap setiap aktivitas perbankan di BRI Unit untuk mencapai kualitas layanan yang handal.
6) Mengoordinasikan pelayanan produk-produk keuangan terhadap nasabah dalam bentuk bisnis keagenan BRI Link untuk menjangkau kebutuhan masyarakat akan kebutuhan keuangan tanpa kantor.
7) Mengoordinasikan dan melakukan monitoring seluruh aktivitas pekerja dibawah binaannya untuk menciptakan iklim kerja yang kondusif dan keterikatan antara pekerja.
b. Mantri
1) Melaksanakan kegiatan pemasaran dan pengelolaan bisnis mikro yang meliputi pinjaman, simpanan, BRI Link dan jasa bank lainnya untuk meningkatkan kinerja bisnis mikro dan protofolio keragaan di BRI Unit sesuai target RKA Individual.
2) Melaksanakan kegiatan penagihan (collection) terhadap debitur segmen mikro yang bermasalah atau yang memiliki indikasi akan
bermasalah, untuk memitigasi resiko kredit Dalam Perhatian Khusus (DPK) dan Non Performing Loan (NPL) dengan tetap menjaga hubungan baik dengan debitur dan menjaga citra BRI.
3) Melakukan prakarsa dan meneliti kelengkapan, keabsahan dokumen serta analisa usulan pinjaman mikro agar proses pelayanan pinjaman mikro berjalan lancar sesuai prosedur.
4) Melakukan prakarsa penyelamatan (restrukturisasi dan penyelesaian) pinjaman mikro bermasalah di BRI Unit agar tercapai portofolio kredit yang sehat.
5) Melakukan pembinaan nasabah pinjaman mikro untuk menjaga kualitas pinjaman dan memonitor seluruh pinjaman kelolaan telah terpasang AGF/AFT dan notifikasi.
6) Melakukan pemasaran produk-produk keuangan terhadap nasabah dalam bentuk bisnis keagengan BRI Link termasuk pembinaan Agen BRI Link untuk menjangkau kebutuhan masyarakat akan kebutuhan keungan tanpa kantor.
c. Customer Service
1) Melaksanakan layanan dan edukasi perbankan kepada nasabah atau calon nasabah yang akan menggunakan produk dan jasa perbankan di BRI Unit dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.
2) Melaksanakan proses pemeriksaaan, registrasi dan administrasi pinjaman, simpanan BRI Unit jasa bank lainnya termasuk dokumen agunan, surat berharga dan setting AGF (Automatic
Grab Fund) atau (Automatic Fund Tranfer) pada rekening debitur agar tertib dalam administrasi.
3) Mengelola perangkat ATM sebagai petugas ATM termasuk kartu dan mesin ATM untuk memenuhi kebutuhan nasabah.
4) Melakukan penjualan produk dan jasa perbankan lainnya serta e- banking agar mencapai target yang ditentukan.
5) Melaksanakan proses dan penatakerjaan dokumen asuransi (pinjaman/Cash In Transit/Cash In Save/Cash In Cashier Box0 guna memitigasi risiko dan mengamankan kepentinngan bank.
6) Menyiapkan dan merekap data, laporan critical report, dan laporanlaporan rutin BRI unit untuk mendukung kinerja BRI Unit.
d. Teller
1) Melaksanakan layanan transaksi tunai dan overbooking kepada nasabah dan calon nasabah dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.
2) Melaksanakan dan merencanakan pengurusan kas Teller untuk mengamankan kas bank serta memastikan pengurusan kas dan rekonsiliasi transaksi berjalan lancar untuk memitigasi resiko operasioal.
3) Melaksanakan pembukuan, verifikasi awal dan akhir, memeriksa kelengkapan, jumlah dan keabsahan dokumen transaksi untuk memitigasi risiko dan mengamankan kepentingan bank.
4) Melaksanakan pemasaran penggunaan produk-produk dan meningkatkan transaski perbankan di BRI sebagai satu kesatuan yang terintegrasi untuk mencapai Integrated banking solution.
e. Satpam
1) Mengawasi seluruh lingkungan didalam yang menjadi tanggung jawabnya.
2) Membukakan pintu pada saat nasabah masuk ke area banking hall.
3) Menyambut kedatangan nasabah.
4) Memberikan nomor antrian.
5) Mengarahkan nasabah dalam transaksi.
6) Sigap terhadap nasabah yang terlihat kebingungan.
f. Cleaning Servis
1) Menjaga kebersihan.
2) Membantu pengarsipan.
B. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara pada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare dapat diambil serta dikumpulkan data yang diperlukan. Bank Rakyat Indonesia merupakan salah satu bank yang dalam kegiatan operasional sehari-hari sangat memperhatikan akuntansi manajemen, terlebih pada pelaksanaan akuntansi manajemen yang dijalankan perusahaan. Bank Rakyat Indonesia mempunyai pandangan bahwa fungsi akuntansi manajemen yang diberlakukan di perusahaan adalah sebagai informasi untuk mempermudah pimpinan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas pengambilan keputusan, terutama berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada nasabah.
Akuntansi manajemen yang baik merupakan proses yang efektif bagi manajemen Bank Rakyat Indonesia untuk mengarahkan dan mengendalikan jalannya suatu perusahaan. Pemberian kredit Usaha Rakyat (KUR) pada Bank Rakyat Indonesia sangat besar perannya dalam menunjang ekstensi perusahaan. Dalam penelitian ada 2 fokus yang menjadi inti penelitian yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Peranan Akuntansi manajemen dalam pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Akuntansi manajemen di PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare membantu manajemen sebelum pengambilan keputusan dilihat dari struktur organisasi di perusahaan telah terbagi sesuai dengan bagian dari tanggung jawab masing-masing.
Untuk menjelaskan fokus penelitian ini maka ada 2 dimensi berawal dari perencanaan hingga pengendalian operasional yang dilakukan oleh pihak PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare sebagai berikut:
a. Perencanaan
Saat perencanaan dalam Pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) pihak bank memberikan syarat kepada calon nasabah sebelum diberikan kredit, dilihat dari hasil wawancara dengan pak M sebagai kepala unit bahwa :
“Kami dari pihak bank memberikan persyaratan kepada calon nasabah untuk dapat memperoleh kredit, dimana persyaratan agar nasabah dapat mendapatkan KUR yaitu:
a. Usaha ada dan berjalan (min 6 bulan)
b. Keterangan usaha dari kelurahan atau desa (domisili)
c. Mempunyai fotocopy kartu keluarga (KK) dan KTP d. Jaminan (menyesuaikan)
e. Bebas biaya dan biaya asuransi”
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka dalam persyaratan pemberian kredit yang diajukan oleh calon nasabah terdapat poin-poin tertentu yang dijadikan bahan pertimbangan oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Lapadde Cabang Pare-Pare, terutama pada prosedur pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR). Berikut adalah bagan prosedur pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) :
Gambar 4.2 Bagan prosedur pemberian KUR Calon
nasabah
CS Registrasi
Permohonan kredit
Kelengkapan berkas
Kaunit Disposisi
Mantri Survey
Kaunit Menerima/
menolak
CS Realisasi
nasabah
Gambar 4.2 merupakan bagan prosedur pemberian KUR terdapat tahap-tahap yang dilakukan PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lapadde Cabang Pare-Pare yaitu:
a. Calon nasabah melakukan permohonan kredit dengan melampirkan berkas-berkas seperti fotokopi ktp suami istri, fotokopi kartu keluarga, dan surat keterangan usaha dari kelurahan ataupun instansi terkait.
b. Customer service memeriksa kelengkapan berkas sesuai dengan berkas yang dilampirkan oleh calon nasabah.
c. Kepala unit melakukan disposisi terhadap berkas calon nasabah.
d. Mantri melakukan survey kelayakan usaha.
e. Kepala unit memutuskan untuk menerima apakah calon nasabah tersebut layak diberikan kredit atau tidak.
f. Costumer service merealisasikan keputusan kepala unit terhadap nasabah.
Selanjutnya wawancara yang dilanjutkan oleh pak S sebagai mantri:
“Sebelum pemberian kredit kami melihat dulu dari besaran usaha calon nasabah kemudian kalau usahanya besar dan kemudian berkembang, kemudian melihat kemampuan bayarnya atau Repayment Capacity (RPC) , jadi kalau di BRI pemberian kreditnya itu 100% dari RPC ,jadi RPC nya dulu dihitung baru bisa ditentukan berapa kredit yang bisa di kasi kan.
Kemudian wawancara dengan pak M sebagai kepala unit :
“Jumlah nominal dan maksimal nanti dilihat dari kemampuan bayar nasabahnya atau Repayment Capacity (RPC) dengan menghitung dari pemasukan dan pengeluaran dari nasabah”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas pihak bank sangat memperhatikan prosedur saat perencanaan sebelum pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) sehingga dapat memberikan informasi kepada manajemen sebelum pihak bank melakukan survey kepada calon nasabah.
b. Pengendalian Operasional
Sistem pengendalian operasional yang digunakan oleh PT.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Lapadde Cabang Pare-Pare berasal dari proses pelaksanaan strategi yang dilakukan oleh pihak bank saat melakukan survey terhadap calon nasabah, dilihat dari wawancara dengan pak M sebagai kepala unit:
“Dalam memperoleh informasi Mantri mengunjungi langsung nasabahnya ,apakah usahanya sesuai dengan yang tertera di surat keterangan usaha dan Menentukan penggunaan kreditnya yang artinya nasabahnya menggunakan kreditnya untuk apa, karena di BRI terdapat 2 macam kredit untuk KUR yaitu investasi dan modal usaha, kalau untuk modal usaha dengan tambahan modal usahanya, kalau investasi bisa sebagai perbaikan tempat usahanya ataupun pembelian sesuatu untuk modal usaha”.
Selanjutnya wawancara dengan pak S sebagai Mantri menyatakan bahwa:
“Setelah itu ditentukan dan dihitung besaran kemampuan bayar nasabah atau RPC , berapa kira-kira kemampuan bayarnya kemudian ditentukan berapa jumlah yang dapat di tentukan untuk diberikan ke nasabahnya. Setelah mantri melakukan survey kemudian mantri melaporkan hasil survey nya kepada kepala unit sebagai pertimbangan untuk memberikan keputusan”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka akuntansi manajemen berperan dalam mendapatkan informasi dan dapat mengukur hingga mengolah data-data yang dibutuhkan oleh pimpinan dalam pengambilan keputusan terutama pada pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR).
2. Pengambilan keputusan terhadap pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pada PT. BRI Unit Lapadde Cabang Pare-Pare
Terdapat 3 dimensi yang berfokus pada pengambilan keputusan yaitu sebagai berikut:
a. Penemuan masalah
Hasil wawancara dengan pak M sebagai kepala unit menyatakan bahwa ;
“Pada saat pemberian kredit sering terjadi kredit macet yang merupakan kendala bagi pihak nasabah”
Berdasarkan hasil wawancara diatas dimana jika karyawan bank menemukan masalah nasabah yang mulai memperlihatkan tanda-tanda penunggakan cicilan, karyawan harus segera memberikan informasi kepada bagian pembinaan kredit agar nasabah tersebut terus dikontrol periode pembayaran cicilannya.
b. Pemecahan masalah
Hasil wawancara dengan pak S sebagai mantri menyatakan bahwa:
“Ada perjanjian yang dituangkan dalam SPH (Surat Pengakuan Hutang) , didalam surat sudah dijelaskan berapa kreditnya nasabah yang di terima, berapa tahun nasabah mengambil kredit, angsurannya berapa, tanggal berapa dia
membayar, kemudian tanggal berapa dia selesainya dan cara bayarnya bagaimana”.
Selanjutnya wawancara dengan pak M sebagai kepala unit:
“Pada saat terkendala kredit macet pihak kami melakukan penagihan rutin ataupun perbaikan kredit jika debitur meninggal disampaikan kepada anak ataupun keluarga untuk melunasi sisa hutang debitur yang meninggal. Bisa juga dilakukan reschedulle atau penjadwalan ulang. Dan biasanya juga diberikan SP (Surat Peringatan)dan menarik jaiman usahanya”
Selanjutnya pak M melanjutkan wawancara sebagai kepala unit:
“Dan jika nasabah sudah tidak terkendala kredit macet lagi maka pihak kami akan berpikir ulang untuk memberikan kredit lagi karena jika macet karena usaha masih bisa untuk dilayani jika debitur sudah melunasi sisa hutang yang lama baru dikasi kredit ulang dan adapun debitur yang tidak bisa di kasikan ulang kredit jika karakter nasabahnya tidak bagus, karena dalam pemberian kredit yang paling pertama dilihat yaitu karakter, karena walaupun usaha debitur besar tetapi tidak teratur dalam membayar maka BRI tidak bisa memberikan ulang kredit”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas Langkah yang digunakan oleh pihak bank untuk mengidentifikasi, menganalisis, mencatat dan melaporkan transaksi nasabah. Jika terjadi kemacetan dalam pembayaran cicilan kredit maka pihak bank akan melakukan penagihan rutin dan perbaikan kredit. Langkah ini sama seperti reschedulle, bank akan melakukan perpanjangan waktu pelunasan cicilan kredit.Dalam memeriksa hasil pihak bank akan melakukan eksekusi jika nasabah tidak dapat melakukan pembayaran cicilan maka pihak bank akan memberikan SP (Surat Peringatan) atas peringatan terhadap nasabah yang sudah dikonfirmasi belum melakukan pembayaran cicilan kredit. Dan pihak bank melakukan penarikan terhadap jaminan sesuai
perjanjian yang dilakukan nasabah dengan pihak bank pada saat permohonan kredit.
c. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan tindakan yang dilakukan oleh pihak bank berdasarkan informasi yang di sampaikan oleh akuntansi manajemen untuk menetapkan keputusan terbaik dalam proses pengambilan keputusan. Dilihat hasil wawancara dengan pak M sebagai kepala unit PT. BRI Unit Lapadde Cabang Pare-Pare menyatakan bahwa :
“Pengambilan keputusan diputuskan oleh kepala unit itu sendiri , sebelum itu Mantri mengunjungi langsung nasabahnya kemudian mantri memberi informasi kepada kepala unit mengenai calon nasabah”.
Selanjutnya wawancara dengan pak S sebagai mantri menyatakan bahwa:
“Sebelum memberikan keputusan apakah calon nasabah berhak mendapatkan kredit, pihak bank melihat kriteria-kriteria
“Sebelum memberikan keputusan apakah calon nasabah berhak mendapatkan kredit, pihak bank melihat kriteria-kriteria