• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II 17

3. Manfaat dan Fungsi Pembelajaran Distance Learning

Menurut Bates dan Wulf (2019: 154) manfaat dari Distance Learning terdiri dari 4 hal, yaitu:

1. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).

2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).

4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Menurut Bilfaqih dan Qomarudin (2005: 4) manfaat dari pembelajaran jarak jauh atau Distance Learning adalah:

1. Meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan dengan memanfaatkan multimedia secara efektif dalam pembelajaran

2. Meningkatkan keterjangkauan pendidikan dan pelatihan dengan memanfaatkan multimedia dengan efektif dalam pembelajaran

3. Menekan biaya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui pemanfaatan sumber daya manusia.

Menurut Siahaan (2010: 80) mengemukakan bahwa terdapat 3 fungsi e-learning dalam kegiatan pembelajaran didalam kelas (classroom instruction) yaitu:

1. sebagai suplemen (tambahan) yang sifatnya pilihan (opsional), pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi). E-learning berfungsi sebagai

21

suplemen (tambahan) yaitu peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfatkan materi e-learning atau tidak.

2. E-learning berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) yaitu materi diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik didalam kelas.

3. Sebagai substitusi (pengganti), beberapa pendidikan di negara maju telah memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran kepada peserta didiknya, dengan tujuan agar peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan pembelajaran sesuai dengan waktu dan aktivitas sehari- hari.

A. Konsep Literasi Digital

1. Pengertian Literasi Digital

Literasi yang dalam bahasa inggrisnya literacy berasal dari bahasa Latin yaitu litera (huruf) sering diartikan sebagai keaksaraan. Jika dilihat dari makna hurufiah literasi berarti kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Seringkali orang yang bisa membaca dan menulis disebut literat, sedangkan orang yang tidak bisa membaca dan menulis disebut iliterat atau buta aksara. Menurut (Kern, 2000: 3) menjelaskan literasi sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Selain itu literasi juga memiliki kesamaan arti dengan belajar dan memahami sumber bacaan.

Menurut Romdhoni (2013: 90) menyatakan bahwa literasi merupakan peristiwa sosial yang melibatkan keterampilan-keterampilan tertentu, yang diperlukan untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan

Menurut Ibnu Adji Setyawan (2018: 1) istilah literasi sudah mulai digunakan dalam skala yang lebih luas tetapi tetap merujuk pada kemampuan atau kompetensi dasar literasi yakni kemampuan membaca serta menulis. Intinya, hal yang paling

22

penting dari istilah literasi adalah bebas buta aksara supaya bisa memahami semua konsep secara fungsional, sedangkan cara untuk mendapatkan kemampuan literasi ini adalah dengan melalui pendidikan. Sejauh ini, terdapat 9 macam literasi, antara lain : 1. Literasi Kesehatan merupakan kemampuan untuk memperoleh, mengolah serta memahami informasi dasar mengenai kesehatan serta layananlayanan apa saja yang diperlukan di dalam membuat keputusan kesehatan yang tepat.

2. Literasi Finansial yakni kemampuan di dalam membuat penilaian terhadap informasi serta keputusan yang efektif pada penggunaan dan juga pengelolaan uang, dimana kemampuan yang dimaksud mencakup berbagai hal yang ada kaitannya dengan bidang keuangan.

3. Literasi Digital merupakan kemampuan dasar secara teknis untuk menjalankan komputer serta internet, yang ditambah dengan memahami serta mampu berpikir kritis dan juga melakukan evaluasi pada media digital dan bisa merancang konten komunikasi.

4. Literasi Data merupakan kemampuan untuk mendapatkan informasi dari data, lebih tepatnya kemampuan untuk memahami kompleksitas analisis data.

5. Literasi Kritikal merupakan suatu pendekatan instruksional yang menganjurkan untuk adopsi perspektif secara kritis terhadap teks, atau dengan kata lain, jenis literasi yang satu ini bisa kita pahami sebagai kemampuan untuk mendorong para pembaca supaya bisa aktif menganalisis teks dan juga mengungkapkan pesan yang menjadi dasar argumentasi teks.

6. Literasi Visual adalah kemampuan untuk menafsirkan, menciptakan dan menegosiasikan makna dari informasi yang berbentuk gambar visual. Literasi visual bisa juga kita artikan sebagai kemampuan dasar di dalam menginterpretasikan teks yang tertulis menjadi interpretasi dengan produk desain visual seperti video atau gambar.

7. Literasi Teknologi adalah kemampuan seseorang untuk bekerja secara independen maupun bekerjasama dengan orang lain secara efektif, penuh tanggung jaab dan tepat dengan menggunakan instrumen teknologi untuk mendapat, mengelola, kemudian mengintegrasikan, mengevaluasi, membuat serta mengkomunikasikan informasi.

8. Literasi Statistik adalah kemampuan untuk memahami statistik. Pemahaman mengenai ini memang diperlukan oleh masyarakat supaya bisa memahami materi-materi yang dipublikasikan oleh media.

9. Literasi Informasi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang di dalam mengenali kapankah suatu informasi diperlukan dan kemampuan untuk menemukan serta mengevaluasi, kemudian menggunakannya secara efektif dan mampu mengkomunikasikan informasi yang dimaksud dalam berbagai format yang jelas dan mudah dipahami.

Menurut Gilster (1997:1) literasi digital dijelaskan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai format. Konsep literasi menurut Gilster ini tidak hanya berbicara soal membaca saja namun juga bisa memahami

23

makna. Dalam hal ini literasi digital tidak hanya pengoprasian media saja, justru yang menjadi hal utama adalah dapat menghasilkan ide-ide baru. Gilster juga mengatakan yang terjadi adalah proses berpikir kritis siswa ketika berhadapan dengan media digital dari pada kompetensi teknis.

Menurut Shao dan Purpur (2016). Berpendapat bahwa Literasi informasi merupakan salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS) yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan mendukung kesuksesan akademis, professional dan pribadi. Membiasakan literasi informasi dalam pembelajaran dan mengembangkan keterampilan riset secara mandiri diperlukan bagi profesional dalam pemasaran.

Menurut Potter (2005: 22) mendefinisikan literasi digital sebagai berikut:

“literasi media merupakan seperangkat perspektif bahwa kita secara aktif mengekspos diri sendiri terhadap media untuk menafsirkan makna dari peranperan yang kita hadapi. kita membangun perspektif kita dari struktr-struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan, kita memperlukan alatalat dan bahan baku. Alat-alat ini adalah ketrampilan kita. Bahan bakunya adalah informasi dari media dan dunia nyata. Menggunakan secara aktif berarti kita sadar terhadap pesan-pesan dan berinteraksi secara sadar dengan pesanpesan ini”

Kondisi literasi digital secara tradisi dimaknai sebagai kemampuan menggunakan bahasa untuk membaca dan menulis pada tahap yang memadai untuk berkomunikasi dalam suatu masyarakat sekolah yang literat. Hasil berbagai literasi tersebut kuncinya yaitu literasi membaca dan menulis. Dalam kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia memiliki tantangan baru untuk menciptakan tata kelolah pendidikan. Tetapi pada saat ini, kondisi literasi membaca dan menulis masyarakat Indonesia. Masih sangat minim. Padahal pada abad-21 ini ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi.

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi terjadi pada seluruh aspek

24

kehidupan manusia, tak terkecuali untuk dunia pendidikan dan peningkatan sumber daya manusia (Warsihna, 2016: 70).

Lain halnya menurut Martin, literasi digital merupakan gabungan dari beberapa bentuk literasi yaitu: komputer, informasi, teknologi, visual, media, dan komunikasi.

Dengan enam keterampilan literasi dasar tersebut, Martin merumuskan beberapa dimensi literasi digital berikut ini:

1. Literasi digital melibatkan kemampuan aksi digital yang terikat kerja, pembelajaran, kesenangan dan aspek lain dalam kehidupan sehari-hari

2. Literasi digital secara individual bervariasi tergantung situasi sehari-hari yang ia alami dan juga proses sepanjang hayat sebagaimana situasi hidup individu itu.

3. Literasi digital melibatkan kemampuan mengumpulkan dan menggunakan pengetahuan, teknik, sikap dan kualitas personal selain itu juga kemampuan merencanakan, menjalankan dan mengevaluasi tindakan digital sebagai bagian dari penyelesaian masalah/tugas dalam hidup.

4. Literasi digital juga melibatkan kesadaran seseorang terhadap tingkat literasi digitalnya dan pengembangan literasi digital.

2. Kompetensi Literasi Digital

Kompetensi berasal dari kata competence yang menggambarkan penampilan suatu kemampuan tertentu secara utuh yang merupakan dialetika (perpaduan) antara pengetahuan serta kemampuan (Nana dan Erlina, 2012: 18). Dalam arti umum kompetensi mempunyai makna yang hampir sama dengan keterampilan hidup atau

“life skill”, yaitu kecakapan-kecakapan, keterampilan untuk menyatakan, memelihara, menjaga, dan mengembangkan diri. Kompetensi atau keterampilan hidup dinyatakan dalam kecakapan, kebiasaan, keterampilan, kegiatan, perbuatan, atau perfomansi yang dapat diamati bahkan dapat diukur.

Paul Gilster (1997: 25) mengelompokkannya ke dalam empat kompetensi inti yang perlu dimiliki seseorang, sehingga dapat dikatakan berliterasi digital antara lain:

25

1. Pencarian di Internet (Internet Searching) Kompetensi sebagai suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan internet dan melakukan berbagai aktivitas di dalamnya. Kompetensi ini mencakup beberapa komponen yakni kemampuan untuk melakukan pencarian informasi diinternet dengan menggunakan search engine, serta melakukan berbagai aktivitas di dalamnya.

2. Pandu Arah Hypertext (Hypertextual Navigation) Kompetensi ini sebagai suatu keterampilan untuk membaca serta pemahaman secara dinamis terhadap lingkungan hypertext. Jadi seseorang dituntut untuk memahami navigasi (pandu arah) suatu hypertext dalam web browser yang tentunya sangat berbeda dengan teks yang dijumpai dalam buku teks. Kompetensi ini mencakup beberapa komponen anatara lain: pengetahuan tentang hypertext dan hyperlink beserta cara kerjanya, pengetahuan tentang perbedaan antara membaca buku teks dengan melakukan browsing via internet, pengetahuan tentang cara kerja web meliputi pengetahuan tentang bandwidth, http, html, dan url, serta kemampuan memahami karakteristik halaman web.

3. Evaluasi Konten Informasi (Content Evaluation) Kompetensi ini merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir kritis dan memberikan penilaian terhadap apa yang ditemukan secara online disertai dengan kemampuan untuk mengidentifikasi keabsahan dan kelengkapan informasi yang direferensikan oleh link hypertext. Kompetensi ini mencakup beberapa komponen antara lain:

kemampuan membedakan antara tampilan dengan konten informasi yakni persepsi pengguna dalam memahami tampilan suatu halaman web yang dikunjungi, kemampuan menganalisa latar belakang informasi yang ada di internet yakni kesadaran untuk menelusuri lebih jauh mengenai sumber dan pembuat informasi, kemampuan mengevaluasi suatu alamat web dengan cara

26

memahami macam-macam domain untuk setiap lembaga ataupun negara tertentu, kemampuan menganalisa suatu halaman web, serta pengetahuan tentang FAQ dalam suatu newsgroup/group diskusi.

4. Penyusunan Pengetahuan (Knowledge Assembly) Kompetensi ini sebagai suatu kemampuan untuk menyusun pengetahuan, membangun suatu kumpulan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dengan kemampuan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi fakta dan opini dengan baik serta tanpa prasangka. Hal ini dilakukan untuk kepentingan tertentu baik pendidikan maupun pekerjaan. Kompetensi ini mencakup beberapa komponen yaitu:

kemampuan untuk melakukan pencarian informasi melalui internet, kemampuan untuk membuat suatu personal newsfeed atau pemberitahuan berita terbaru yang akan didapatkan dengan cara bergabung dan berlangganan berita dalam suatu newsgroup, mailing list maupun grup diskusi lainnya yang mendiskusikan atau membahas suatu topik tertentu sesuai dengan kebutuhan atau topik permasalahan tertentu, kemampuan untuk melakukan crosscheck atau memeriksa ulang terhadap informasi yang diperoleh, kemampuan untuk menggunakan semua jenis media untuk membuktikan kebenaran informasi, serta kemampuan untuk menyusun sumber informasi yang diperoleh di internet dengan kehidupan nyata yang tidak terhubung dengan jaringan.

27 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan suatu cara atau jalan untuk memperoleh kembali pemecahan terhadap segala permasalahan dalam suatu penelitian (Joko Subagja. 1991:2).

Menurut Winarko Surahmad (1989:131) metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya untuk mengkaji serangkai hipotesa dengan mempergunakan Teknik serta alat-alat tertentu. Metode penelitian merupaka suatu cara yang digunakan untuk meneliti atau menyelidiki suatu perkara yang ada. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode Kualitatif, karena konsep dari judul penelitian yang disajikan merupakan serangkaian analisis deskriptif terhadap objek penelitian. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive snowball adalah teknik pengumpulan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil kemudian membesar, teknik ini dengan pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2011: 15).

B. Waktu dan Lokasi Penelitian 1. Lokasi penelitian

Penetapan lokasi penelitian MTS Al Wathoniyah 43 ini beralamat di Jl. Kebon Sirih No.98, RT.2/RW.4, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

2. Waktu

28

Penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan, yakni Maret 2021 sampai Mei 2021

C. Deskripsi Posisi Peneliti

Dalam penelitian kualitatif, posisi peneliti menjadi instrument kunci (the key instrument) sehingga peran manusia sebagai instrumen penelitian menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu peneliti berusaha secara langsung untuk melibatkan diri dalam mengumpulkan data yang diperoleh dari observasi, wawancara sampai dengan dokumentasi agar peneliti bisa secara langsung terjun mendapatkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.

Peran peneliti sekaligus pengumpulan data, peneliti realisasikan dengan mendatangi sekolah agar bisa mendapatkan informasi akurat tentang efektivitas penggunaan metode Distance Learning dalam meningkatkan literasi digital siswa MTS Al Wathoniyah 43.

D. Informan Penelitian

Informan adalah suatu baik orang, benda ataupun Lembaga (organisasi), yang sifat keadaannya diteliti, (Sukandarumidi, 2002:65). Informan penelitian ini, yaitu:

Tabel 3.1 Informan Penelitian

NO. NAMA JENIS KEBUTUHAN USIA KETERANGAN

1. Edy Fahrurozi Wawancara - Kepala Sekolah

2. Ahmad Faruk Observasi - Wakil Kepala Sekolah Bid.

Kurikulum 3. Ahmad

Baihaqi Wawancara - Guru TIK

4. Fitral Jasmet Wawancara - Guru/Kor. Laboratorium dan Komputer

5. Rifkasari Observasi - Tata Usaha

6. Murid Kelas IX

Observasi dan

Dokumentasi - 3 Responden

29 E. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data untuk mengamati prilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan responden (Sugiyono, 2012: 166). Dalam penelitian ini peneliti mengamati langsung untuk menemukan fakta-fakta di lapangan,instrument yang digunakan peneliti adalah observasi non-partisipan. Hal ini memudahkan peneliti dalam menggali informasi yang ada serta mendapatkan data-data yang akurat terkait efektivitas yang ada di MTS Al Wathoniyah 43 yang beralamat di Jl. Kebon Sirih No.98, RT.2/RW.4, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

2. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan data dengan jalan komunikasi, yakni melalui kontak atau hubungan pribadi antara pengumpul data (pewawancara) dengan sumber data. (Rianto Adi, 2004:72). Narasumber yang akan di wawancarai adalah wali kelas dan bidang kurikulumdan siswa serta murid kelas 7 MTS Al Wathoniyah 43 .

3. Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah Teknik pengumpulan data berupa sumber data tertulis (yang berbentuk tulisan). Sumber data tertulis dapat dibedakan menjadi: dokumen resmi, buku, arsip, ataupun dokumen pribadi dan juga foto (Sudarto, 2002:71). Dokumen yang akan dikumpulkan meliputi buku yang bersangkutan secara teori dan dokumen lapangan yang berkaitan dengan penelitian di Jl. Kebon Sirih No.98, RT.2/RW.4, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

30 F. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen

NO ISU SUMBER

DATA TEKNIK INSTRUMEN

1.

1. Tanggapan tentang kebijakan Distance Learning

2. Peran kepala sekolah dalam mendukung kebijakan

3. Hasil dari kebijakan Distance Learning

2. Pemanfaatan metode Distance Learning 3. Pemanfaatan media

pembelajaran

Observasi

1. Praktek penggunaan metode Distance Learning

Siswa Observasi 1. Proses pembelajaran

Wasek Bid.

Kurikulum

Studi Dokumen

1. Peraturan sekolah tentang Distance Learning

2.

Kemampuan literasi yang dimiliki guru dan siswa

Wali Kelas Wawancara

1. Penggunaan media dalam proses pembelajaran 2. Penerapan metode

Distance Learning

31

dalam proses pembelajaran

Siswa Observasi 1. Proses pembelajaran

3.

1. Penggunaan metode Distance Learning 2. Pemanfaatan media 3. Kegiatan yang

dilakukan dalam upaya meningkatkan literasi digital

4. Model pembelajaran siswa

5. Hasil pembelajaran Distance Learning Murid

G. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengacu pada konsep Miles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2011: 338), yaitu:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

32 2. Penyajian Data (Data Display)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Penyajian data paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.

3. Penarikan Kesimpulan (Verification)

Kegiatan analisis data yang terakhir adalah penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan diperoleh dari reduksi data dan display data. Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan

H. Validasi Data dan Reliabilitas 1. Validasi

Validasi dalam penelitian kualitatif didasarkan pada kepastian apakah hasil penelitian sudah akurat dari sudut pandang peneliti, partisipasi, atau pembaca secara umum, istilah validasi dalam penelitian kualitatif dapat disebutkan pula dengan trustworthiness, authenticity, dan credibility creswell (Susanto:2013) validasi penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif.

Validasi penelitian yaitu validasi internal dan eksternal. Validasi internal berkenaan dengan derajat akurasi penelitian dengan hasil yang dicapai. Sedangkan validasi eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi dimana sampel tersebut diambil (Sugiono, 2014) dalam penelitian ini, uji validitas yang digunakan adalah Triangulasi. Triangulasi yaitu Teknik pemeriksaan keabsahan data dengan melakukan pengecekan atau perbandingan terhadap data yang

33

diperoleh dengan sumber atau kriteria yang lain diluar data itu (Moleong, 2014). Untuk meningkatkan keabsahan data. Pada penelitian ini triangulasi yang dilakukan adalah:

a. Triangulasi sumber, yaitu dengan cara membandingkan apa yang dikatakan oleh subyek dengan dikatakan informan dengan maksud agar data yang diperoleh dapat dipercaya karena tidak hanya diperoleh dari satu sumber saja yaitu subyek penelitian, tetapi data juga diperoleh dari beberapa sumber lain seperti tetangga dan subyek lainnya.

b. Tiangulasi metode, yaitu dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan. Dalam hal ini peneliti berusaha mengecek kembali data yang diperoleh melalui wawancara.

2. Reliabilitas

Dalam penelitian kualitatif uji reliabilitas dilakukan dengan mengaudit keseluruhan proses penelitian. Cara yang digunakan adalah dengan adanya auditor yang independent dalam melakukan penelitian yaitu dosen pemnimbing. Bagaimana peneliti mulai melakukan uji keabsahan, memasuki lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis dan memberikan kesimpulan yang dapat ditunjukkan oleh peneliti. Menurut (Sugiono, 2014) jika peneliti tidak mempunyai dan tidak menunjukkan jejak aktivitas lapangannya maka reliabilitas penelitian masih diragukan.

34 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Data dari hasil penelitian ini berguna untuk memberikan gambaran secara umum mengenai implementasi pembelajaran Distance Learning di MTN Al Wathoniyah 43 Jakarta. data yang disajikan merupakan data Dari hasil penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif. data yang diperoleh berdasarkan kan dari hasil wawancara mendalam dengan kepala sekolah guru beberapa siswa dan juga ditambah dengan dokumen-dokumen dan berbagai data yang terkait dengan sistem Distance Learning Di MTs Al Wathoniyah 43 Penyajian data ini ini menjawab seluruh pertanyaan penelitian yang berkembang selama di lapangan titik sistematika yang diuraikan secara lengkap dari data yang diteliti mengacu pada rumusan masalah titik adapun substansi dari pertanyaan tersebut adalah tentang penerapan metode Distance Learning dalam proses belajar mengajar guna meningkatkan kemampuan literasi digital siswa.

1. Kebijakan yang Melatar Belakangi Penggunaan Metode Distance Learning Kebijakan dalam proses belajar mengajar secara online saat ini didukung dengan adanya penerapan kurikulum 2013 yang mewajibkan setiap guru atau sekolah harus menguasai teknologi informasi dalam pembelajaran di sekolah maupun di luar sekolah.

Oleh karena itu kebijakan e-learning dapat diterapkan dalam pembelajaran kurikulum 2013. pemerintah juga ikut terlibat dalam pengaplikasian pembelajaran berbasis IT yang terbukti dilakukan sejak tahun 2009, langkah-langkah yang dilakukan pemerintah, yaitu:

a. merancang sistem jaringan yang mencangkup jaringan internet dengan menghubungkan sekolah-sekolah dengan pusat data dan aplikasi, serta jaringan internet sebagai sarana dan media komunikasi dan informasi internet sekolah. dalam penerapan ini pemerintah telah melakukan upaya dalam

35

perluasan jaringan. terbukti dalam hal ini MTS Al Wathoniyah 43 sudah memiliki akses internet yang menghubungkannya dengan server pendidikan yang ada di pusat

b. merancang dan membuat aplikasi database, yang menyimpan dan mengolah data serta informasi sekolah dan dan manajemen sekolah titik pemerintah mengupayakan hal tersebut terpenuhi dengan data-data yang bersifat otonom terhadap sekolah sehingga data tersebut dapat dianalisis dengan baik oleh sekolah terkait.

c. merancang dan membuat aplikasi berbasis website dan multimedia interaktif.

pemanfaatan teknologi ini tidak hanya sekedar mengaplikasikannya dalam satu management system namun lebih ih kepada mengolah aplikasi tersebut sehingga dapat diterapkan dan agar memberikan kemudahan dalam melakukan proses pembelajaran, MTS Al Wathoniyah 43 juga memiliki website sekolah yang dijadikan sebagai profile dan informasi bagi siswa.

d. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara cara bertahap dalam memudahkan manajemen pendidikan pada Madrasah Tsanawiyah dan sekaligus untuk mendukung proses pembelajaran di seluruh sekolah di wilayah Indonesia.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang melatar belakangi proses pembelajaran menggunakan metode Distance Learning pada tahun 2009 hingga saat ini adalah penerapan kurikulum 2013. Kebijakan tersebut

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang melatar belakangi proses pembelajaran menggunakan metode Distance Learning pada tahun 2009 hingga saat ini adalah penerapan kurikulum 2013. Kebijakan tersebut