• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.2 Manfaat Keberadaan IPAL

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah guna mengantisipasi krisis air di Kota Tangerang akibat bahan baku air yang tercemar. Salah satunya dengan membangun IPAL domestik untuk mengurangi beban pencemaran sumber air baku. Keberadaan IPAL domestik di Perumahan Bugel Mas Indah cukup memberikan manfaat, tidak hanya dari segi lingkungan tetapi juga dari segi sosial dan ekonomi masyarakat.

6.2.1 Manfaat Sosial

Keberadaan IPAL domestik cukup memberikan dampak pada kehidupan sosial masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara terhadap masyarakat, pengurus IPAL, pembina, dan ketua PKK tingkat RW, dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan pada kondisi sosial masyarakat semenjak dibangunnya IPAL domestik di Perumahan Bugel Mas Indah. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan hidup yang diwujudkan dalam bentuk perubahan perilaku masyarakat. Sebelum dibangunnya IPAL, air limbah langsung dialirkan ke sungai melalui drainase yang ada. Namun, setelah pemerintah memperkenalkan teknologi IPAL domestik, masyarakat mulai memanfaatkan IPAL untuk mengolah air limbah dan hasil pengolahannya dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman dan mencuci kendaraan.

Perubahan lain terlihat pada aspek kerjasama warga di Perumahan Bugel Mas Indah RW 04. Semenjak dibangun percontohan IPAL domestik, warga terdorong untuk bekerjasama dan semakin peduli terhadap lingkungan mereka karena banyaknya kunjungan dan lomba pengelolaan lingkungan yang diadakan. Bentuk kepedulian dan kerjasama warga diwujudkan dengan adanya sistem piket bergilir yang diadakan dua kali setahun untuk setiap RT dan empat kali setahun untuk setiap rumah. Berdasarkan kesepakatan warga, sistem denda pun

diberlakukan sebagai ganti warga yang tidak bisa menjalankan piket. Denda yang dibebankan yaitu sebesar Rp 20 000 yang akan digunakan untuk membeli peralatan penunjang kegiatan pengelolaan lingkungan, seperti alat kebersihan, pot, dan tanaman.

Kondisi yang ada saat ini, baru sebagian masyarakat di Perumahan Bugel Mas Indah RW 04 yang dapat memanfaatkan air olahan IPAL. Kapasitas IPAL baru dapat menjangkau dua dari enam RT yang ada di RW 04 karena adaptasi IPAL dihadapkan pada kendala biaya instalasi dan perawatan yang cukup tinggi. Padahal permintaan untuk dapat memanfaatkan air olahan IPAL juga telah datang dari beberapa warga RT lainnya, namun permintaan ini tidak dapat dipenuhi apabila tidak ada kesepakatan dari seluruh warga di RT yang meminta. Akan tetapi, hal tersebut tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam mengelola lingkungan sekaligus merasakan manfaat dari keberadaan IPAL.

6.2.2 Manfaat Lingkungan

Keberadaan IPAL domestik di Perumahan Bugel Mas Indah memberikan perubahan yang cukup besar terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal masyarakat. Adapun salah satu perubahan yang dirasakan masyarakat yaitu berkurangnya debit air limbah terutama pada saat musim hujan karena air limbah langsung disalurkan ke drainase di sebelah IPAL, kemudian diolah dan dimanfaatkan kembali untuk kegiatan ternak lele, menyiram tanaman, dan mencuci kendaraan. Berkurangnya debit air limbah ini tentunya berdampak pada berkurangnya beban pencemaran akibat air limbah yang dibuang ke badan sungai.

Dampak tidak langsung dari adanya pemanfaatan air olahan IPAL yaitu lingkungan pemukiman yang semakin hijau akibat banyaknya tanaman yang dibudidayakan oleh warga. Tanaman yang dibudidayakan antara lain tanaman kayu, tanaman sayur (bayam, kangkung, dan caisim), tanaman bumbu, tanaman hias, serta tanaman toga (jahe dan binahong). Oleh karena itu, dengan adanya pemanfaatan kembali air olahan IPAL, maka kandungan parameter yang terdapat pada air limbah yang telah diolah juga harus tetap diperhatikan. Hasil uji sampel air limbah di Perumahan Bugel Mas Indah dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 Hasil analisis air limbah pada Perumahan Bugel Mas Indah

Parameter Satuan Sampel

I II III 1V

pH BOD TSS

Minyak dan Lemak

- mg/l mg/l mg/l 7.1 20.65 9 <0.5 7 5.89 5 <0.5 7 19.91 15 <0.5 7.2 5.16 5 <0.5 Sumber: BPLH Kota Tangerang, hasil analisis laboratorium IPB (2011)

Parameter air limbah yang diperhatikan dalam baku mutu air limbah domestik sesuai dengan KepmenLH No. 112/2003 pada Tabel 2 adalah pH, BOD, TSS, serta minyak dan lemak. Apabila dilihat dari segi manfaat berkurangnya pencemaran, kandungan parameter air limbah pada Tabel 17 masih memenuhi baku mutu sehingga tidak terlalu berbahaya jika dibuang ke lingkungan. Akan tetapi, karena adanya pemanfaatan air limbah olahan, maka kandungan tersebut perlu dibandingkan dengan baku mutu yang ditetapkan pada Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 (Tabel 18). Melihat jenis pemanfaatannya, maka air olahan IPAL di Perumahan Bugel Mas Indah tergolong ke dalam mutu air kelas tiga, yaitu air untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, pengairan tanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama.

Tabel 18 Baku mutu air kelas tiga

Parameter Satuan Nilai Kandungan

pH 6-9

BOD mg/L 6

Residu Tersuspensi mg/L 400

Minyak dan Lemak µg/L 1000*

Sumber: PP No. 82/2001 * 1µg = 0.001 mg

Berdasarkan hasil uji sampel keempat parameter yang diperhatikan (Tabel 17), air limbah yang berasal dari Perumahan Bugel Mas Indah layak untuk dimanfaatkan kembali untuk kegiatan ternak lele dan menyiram tanaman karena masih memenuhi standar baku mutu untuk air yang digunakan (Tabel 18). Namun, kandungan BOD yang ada masih tergolong tinggi pada sampel I dan III. Hal ini dapat disebabkan oleh waktu dan titik pengambilan sampel yang berbeda. Selain itu, masih ada parameter-parameter lain yang harus diperhatikan (Lampiran 12). Oleh karena itu, keberadaan IPAL domestik juga dapat menjadi solusi untuk membantu pengolahan air limbah yang ada sehingga lebih layak untuk digunakan.

6.2.3 Manfaat Ekonomi

Keberadaan IPAL domestik mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha mengurangi masalah lingkungan. Sejalan dengan usaha tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan air limbah olahan untuk mengurangi debit air limbah yang dihasilkan. Pemanfaatan yang dilakukan antara lain untuk kegiatan ternak lele PKK, menyiram tanaman, dan mencuci kendaraan. Kegiatan pemanfaatan air limbah olahan ini dapat memberikan manfaat ekonomi berupa tambahan pendapatan dari ternak lele dan penghematan biaya air PDAM.

Kegiatan ternak lele dilakukan di dalam bak bervolume 0.8 m3 yang airnya diganti setiap dua minggu. Air untuk bak lele diambil dari bak penampungan akhir dengan menggunakan selang. Apabila harga air diasumsikan untuk golongan rumah tangga R2 yaitu Rp 2 300/m3, maka biaya air yang dapat dihemat untuk kegiatan ternak lele yaitu Rp 3 680/bulan. Tenggang waktu ternak lele mulai dari tebar bibit hingga panen menghabiskan waktu sekitar 4 bulan. Panen pertama menghasilkan 9.5 kg lele yang dijual dengan keuntungan sebesar Rp 5 000/kg. Berdasarkan nilai tersebut, maka manfaat ekonomi yang dihasilkan dari ternak lele untuk sekali panen adalah sebesar Rp 62 220 (Tabel 19).

Tabel 19 Manfaat ekonomi kegiatan ternak lele

Keterangan Nilai Total (Rp)

Penghematan air Rp 3 680 x 4 bulan 14 720

Pendapatan ternak lele Rp 5 000 x 9.5 kg 47 500

Total 62 220

Sumber: Data primer, diolah (2013)

Selain ternak lele, air limbah olahan juga digunakan untuk menyiram tanaman dan mencuci kendaraan oleh sebagian masyarakat RW 04. Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden menyatakan bahwa pemanfaatan air limbah cukup membantu penghematan biaya air PDAM. Penghematan dilihat dari selisih biaya dengan dan tanpa adanya penggunaan air limbah olahan (Tabel 20).

Tabel 20 Penghematan biaya air PDAM

Keterangan Biaya air PDAM (Rp/bulan)

Tanpa menggunakan air limbah olahan 4 068 119

Menggunakan air limbah olahan 3 871 300

Selisih 196 819

Rata-rata penghematan 4 920

Penghematan dilihat dari jumlah air olahan yang digunakan jika dihitung dengan harga air PDAM. Harga air PDAM yang berlaku adalah harga untuk masing-masing kelompok rumah tangga pada saat membayar tagihan air. Total penghematan atas penggunaan air IPAL adalah Rp 196 819/bulan dengan rata-rata penghematan per rumah tangga sebesar Rp 4 920/bulan (Lampiran 9). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat berhemat rata-rata sebesar 4.84% dari jumlah yang dibayarkan untuk tagihan air PDAM.

6.3 Willingness to Pay untuk Keberlanjutan IPAL

Tahap awal metode CVM dilakukan dengan membangun pasar hipotetik yang menjelaskan alasan responden harus membayar iuran. Pembentukan pasar hipotetik dilakukan dengan memberi gambaran mengenai kondisi IPAL domestik saat ini. Keberadaan IPAL cukup memberikan manfaat bagi masyarakat. Fungsi dan kualitas IPAL harus dijaga dengan cara perawatan secara rutin sehingga IPAL dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. Selama ini iuran yang berlaku yaitu sebesar Rp 1 000/bulan sedangkan untuk perawatan dan operasional IPAL menghabiskan biaya yang cukup tinggi. Apabila perawatan tidak dilakukan secara rutin karena dihadapkan pada kendala biaya, maka IPAL akan sulit beroperasi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, keberlanjutan IPAL membutuhkan dukungan dan kesiapan dana dari masyarakat dalam bentuk peningkatan iuran.

Berdasarkan hasil wawancara, sebanyak 77% responden menyatakan bersedia apabila iuran untuk IPAL ditingkatkan dan sisanya menyatakan tidak bersedia karena alasan tertentu (Gambar 8). Persentase responden yang bersedia dan tidak bersedia untuk meningkatkan iuran dapat dilihat pada Gambar 7.

Sumber: Data primer, diolah (2013)

Gambar 7 Persentase kesediaan membayar responden untuk peningkatan iuran

77% bersedia 23% tidak

Sebanyak 23% atau 9 responden menyatakan tidak bersedia apabila iuran untuk IPAL dinaikkan. Alasan ketidaksediaan responden adalah karena manfaat IPAL yang dirasakan menurut mereka hanya sedikit dan tidak ada dukungan finansial. Alasan ketidaksediaan responden dapat dilihat pada Gambar 8.

Sumber: Data primer, diolah (2013)

Gambar 8 Persentase alasan ketidaksediaan responden

Besar nilai yang bersedia dibayarkan tiap responden bervariasi mulai dari Rp 1 000 hingga Rp 20 000. Nilai yang paling banyak dipilih adalah Rp 2 000 dengan persentase sebanyak 37.5% dari total responden sedangkan hanya ada dua responden (5%) yang bersedia membayar di atas Rp 10 000. Selisih nilai yang banyak ditawarkan oleh responden tidak terlalu besar dari iuran awal karena sebagian responden menganggap perlu penyesuaian secara bertahap dalam rencana peningkatan iuran. Data variasi nilai WTP dapat dilihat pada Tabel 21. Tabel 21 Distribusi WTP responden untuk keberlanjutan IPAL

No. WTP responden (Rp/bulan) Frekuensi Frekuensi relatif Nilai rata-rata WTP (Rp/bulan) 1. 1 000 9 0.225 225 2. 1 500 2 0.050 75 3. 2 000 15 0.375 750 4. 3 000 1 0.025 75 5. 5 000 11 0.275 1 375 6. 12 000 1 0.025 300 7. 20 000 1 0.025 500 Total 40 1.000 3 300

Sumber: Data primer, diolah (2013)

Kurva lelang dibentuk berdasarkan nilai tawaran WTP yang bersedia diberikan responden untuk mempertahankan keberlanjutan IPAL. Pada Gambar 9 terlihat bahwa hanya sedikit responden yang memberikan nilai tawaran yang tinggi. Sebagian besar nilai tawaran berada di kisaran Rp 2 000 hingga Rp 5 000.

manfaat sedikit (56%) tidak mampu secara finansial (44%)

Sumber: Data primer, diolah (2013)

Gambar 9 Dugaan kurva WTP responden

6.3.1 Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai WTP

Pendugaan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTP responden untuk mempertahankan keberlanjutan IPAL dijelaskan dengan sembilan variabel bebas, yaitu umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, lama pendidikan formal, pendapatan keluarga, lama tinggal, status kepemilikan tempat tinggal, debit air limbah yang digunakan, dan persepsi terhadap kinerja IPAL dalam mengolah air limbah. Hasil regresi variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 22. Tabel 22 Hasil analisis regresi

Predictor Coef SE Coef T P Constant 0,017 1,447 0,01 0,991 Ln_Umur -0,5078 0,4942 -1,03 0,312

Jenis kelamin -0,1662 0,1236 -1,35 0,189

Ln_Jumlah anggota keluarga -0,1637 0,3711 -0,44 0,662

Ln_Lama pendidikan formal 0,4538 0,5201 0,87 0,390

Ln_Pendapatan 0,6047 0,2204 2,74 0,010*

Ln_Lama tinggal 0,3016 0,1305 2,31 0,028**

Status tempat tinggal -0,1324 0,1199 -1,10 0,278

Ln_Debit air 0,1321 0,1084 1,22 0,232

Ln_Persepsi -0,4773 0,1630 -2,93 0,006*

S = 0,254915 R-Sq = 50,5% R-Sq(adj) = 35,7% *nyata pada taraf α = 1% **nyata pada taraf α = 5%

Persamaan regresi yang dihasilkan dari Tabel 22 adalah sebagai berikut.

Ln_WTP = 0.017 – 0.508 Ln_UMR – 0.166 JK – 0.164 Ln_JAK + 0.454 Ln_PDDK + 0.605 Ln_PDPT + 0.302 Ln_LTG – 0.132 STK + 0.132 Ln_DBT –0.477 PSP………...………(6.1) y = -391.05x + 13619 -5000 0 5000 10000 15000 20000 25000 0 20 40 60 WT P Jumlah Responden WTP Linear (WTP)

Keterangan:

WTP = Nilai WTP responden (Rp/bulan) UMR = Umur (tahun)

JK = Jenis kelamin (1 = perempuan, 0 = laki-laki) JAK = Jumlah anggota keluarga (orang)

PDDK = Lama pendidikan formal (tahun) PDPT = Pendapatan keluarga (Rp/bulan)

LTG = Lama tinggal di lokasi penelitian (tahun)

STK = Status kepemilikan tempat tinggal (1 = milik sendiri, 0 = lainnya) DBT = Banyaknya air olahan IPAL yang digunakan (m3)

PSP = Persepsi terhadap kinerja IPAL (1 = kurang, 2 = cukup, 3 = baik)

Menurut kriteria ekonomi, beberapa variabel memiliki tanda parameter estimasi yang sesuai dengan hipotesis. Variabel penjelas yang tandanya tidak sesuai dengan hipotesis adalah umur dan status kepemilikan tempat tinggal. Hasil survei lapang menunjukkan bahwa semakin bertambah umur responden tidak menjamin diberikannya nilai WTP yang lebih tinggi karena responden tersebut semakin banyak pertimbangan dalam mengatur alokasi keuangan. Selain itu, sebagian responden yang mengontrak merupakan penduduk asli sehingga ada kemungkinan nilai WTP yang diberikan lebih tinggi karena adanya pengetahuan dan rasa kepedulian yang lebih daripada responden yang memiliki rumah sendiri.

Berdasarkan kriteria ekonometrika, model regresi yang dihasilkan telah memenuhi keempat asumsi, yaitu komponen sisaan menyebar normal, tidak ada multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Hasil uji keempat asumsi dapat dilihat pada Lampiran 5, 6, 7, dan 8. Berdasarkan kriteria statistika, nilai koefisien determinasi (R2) yang dihasilkan yaitu sebesar 50.5% (Tabel 22). Artinya, sebanyak 50.5% keragaman variabel tidak bebas dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas yang ada dan sisanya dijelaskan oleh hal lain di luar model. Hasil analisis uji F pada Lampiran 4 (0.005 < α) menunjukkan bahwa seluruh variabel bebas secara bersama-sama memiliki pengaruh yang nyata terhadap variabel tidak bebas. Akan tetapi, tidak semua variabel bebas lolos pada uji t. Variabel bebas yang tidak signifikan tetap memiliki pengaruh, namun pengaruhnya sangat kecil terhadap nilai WTP.

Variabel-variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap nilai WTP yaitu pendapatan keluarga, lama tinggal, dan persepsi responden terhadap kinerja IPAL dalam mengolah air limbah. Variabel-variabel tersebut signifikan pada taraf nyata berbeda-beda. Pengaruh setiap variabel tersebut dijelaskan sebagai berikut:

a. Pendapatan keluarga

Variabel pendapatan memiliki nilai p-value sebesar 0.01. Artinya, variabel ini berpengaruh nyata terhadap nilai WTP pada taraf nyata 1%. Koefisien menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan sebesar 1% akan meningkatkan WTP sebesar 0.605% dengan asumsi variabel lain tetap (cateris paribus). Variabel pendapatan keluarga responden memiliki hubungan positif dengan nilai WTP karena tingginya pendapatan responden dapat mengindikasikan tingginya kemampuan finansial rumah tangga.

b. Lama tinggal

Variabel lama tinggal memiliki nilai p-value sebesar 0.028. Artinya, variabel ini berpengaruh nyata terhadap nilai WTP pada taraf nyata 5%. Koefisien variabel menunjukkan bahwa apabila responden lebih lama tinggal selama 1 tahun maka nilai WTP akan meningkat sebesar 0.302% dengan asumsi cateris paribus. Variabel ini memiliki hubungan positif dengan nilai WTP karena semakin lama responden tinggal di lokasi penelitian, maka rasa kepedulian terhadap lingkungannya cenderung semakin tinggi.

c. Persepsi terhadap kinerja IPAL

Variabel persepsi memiliki nilai p-value sebesar 0.006. Artinya, variabel ini berpengaruh nyata terhadap nilai WTP pada taraf 1%. Berdasarkan kriteria ekonomi seharusnya semakin baik kinerja IPAL maka semakin tinggi nilai WTP. Akan tetapi, koefisien variabel menunjukkan bahwa semakin baik persepsi masyarakat terhadap kinerja IPAL dalam mengolah air limbah, maka nilai WTP akan turun sebesar 0.477% dengan asumsi cateris paribus. Hal ini disebabkan karena masyarakat di lokasi penelitian cenderung memiliki persepsi bahwa IPAL yang baik tidak memerlukan banyak biaya sehingga masyarakat cenderung memberi nilai WTP yang semakin kecil apabila IPAL tersebut jarang rusak.

Dokumen terkait