• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODE PENELITIAN

6.2. Manfaat KOPTAN Mitra Sukamaju

Keberadaan KOPTAN Mitra Sukamaju sebagai pelopor usahatani paprika hidroponik di Desa Pasir Langu tentunya memberikan peranan yang cukup berarti bagi perkembangan usahatani paprika di daerah tersebut. Peranan KOPTAN Mitra Sukamaju ini berupa berbagai manfaat yang dirasakan oleh anggotanya. Salah satu manfaat KOPTAN Mitra Sukamaju bagi anggotnya dapat berupa

peningkatan kemampuan ekonomi, khususnya dalam hal pendapatan. Hasil analisis terhadap rata-rata pendapatan usahatani paprika antara petani anggota dan non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 4. Secara umum, hasil analisis manfaat ekonomi KOPTAN Mitra Sukamaju bagi anggotanya dalam hal pendapatan dan efisiensi usahatani paprika ini dapat dilihat pada tabel 17.

Tabel 17. Rata-rata Pendapatan dan Rasio R/C Usahatani Paprika Hidroponik Anggota dan Non Anggota KOPTAN Mitra Sukamaju Selama Satu Musim Tanam (per 3000 pohon)

Nilai Rata-Rata (Rp) Uraian

Anggota Non Anggota A. Penerimaan Tunai 41.260.500 40.538.000 B. Biaya Tunai 24.072.570 24.590.200 (A-B) Pendapatan Atas Biaya Tunai 17.187.930 15.947.800 C. Biaya Diperhitungkan 8.842.500 8.620.000 D. Biaya Total (B+C) 32.915.070 33.210.200 (A-D) Pendapatan Atas Biaya Total 8.345.430 7.327.800

R/C Atas Biaya Tunai 1,71 1,64

R/C Atas Biaya Total 1,25 1,21

Berdasarkan hasil konversi populasi paprika yang diusahakan reponden ke dalam 3000 pohon, menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan tunai yang diterima anggota KOPTAN Mitra Sukamaju lebih tinggi daripada penerimaan yang diterima petani non anggota. Tingginya penerimaan tunai yang diperoleh anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, salah satunya disebabkan oleh adanya perbedaan harga jual paprika yang diterima anggota dan non anggota. Adapun perbandingan harga jual paprika antara petani anggota dan non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju dapat dilihat pada Tabel 18.

71

Tabel 18. Harga Jual Paprika Antara Petani Anggota dan Non Anggota KOPTAN Mitra Sukamaju Tahun 2007

Harga Paprika (Rp/Kg) Jenis Paprika Menurut

Warna dan Grade Anggota Non Anggota

Hijau A 6.000 5.000

Hijau B 5.000 4.000

Merah 4.000 4.000

Kuning 7.000 6.000

Pada Tabel 18 diketahui bahwa harga paprika pada anggota KOPTAN Mitra Sukamaju lebih tinggi dibandingkan dengan harga paprika untuk non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Harga tersebut merupakan harga yang sedang terjadi pada saat penelitian, yaitu pada saat harga paprika di pasaran sedang mengalami penurunan. Bagi KOPTAN Mitra Sukamaju yang telah menetapkan harga standar, ketika di pasaran sedang terjadi penurunan harga jual paprika, namun harga yang diterima petani anggotanya lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang diterima petani non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Hal tersebut merupakan manfaat ekonomi dari pemasaran produk anggota KOPTAN Mitra Sukamaju.

Dilihat dari sisi biaya, tampak bahwa biaya tunai yang dikeluarkan petani anggota KOPTAN Mitra Sukamaju untuk menjalankan usahataninya, relatif lebih rendah dibandingkan dengan biaya tunai yang harus dikeluarkan oleh petani non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Hal tersebut disebabkan karena KOPTAN Mitra Sukamaju memberikan pelayanan berupa penyediaan input produksi yang berupa pupuk/nutrisi untuk anggotanya dengan harga yang lebih murah dibanding untuk non anggota maupun dibanding dengan harga pupuk/nutrisi yang dijual toko pertanian di daerah tersebut. Dengan demikian, petani anggota KOPTAN

Mitra Sukamaju mengeluarkan biaya tunai yang relatif lebih rendah dibanding petani non anggota. Hal tersebut juga merupakan manfaat ekonomi dari pengadaan input untuk anggota KOPTAN Mitra Sukamaju.

Adanya penerimaan tunai yang lebih tinggi, serta lebih rendahnya biaya tunai yang dikeluarkan petani anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, menyebabkan nilai pendapatan atas biaya tunai yang diterima petani anggota KOPTAN Mitra Sukamaju menjadi lebih tinggi dari pendapatan yang diterima petani non anggota. Dengan demikian, maka kegiatan usahatani paprika hidroponik yang dilakukan anggota menjadi lebih efisien. Hal tersebut tercermin dari lebih tingginya nilai R/C atas biaya tunai untuk usahatani anggota dibanding non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Nilai R/C atas biaya tunai untuk kegiatan usahatani paprika hidroponik yang dilakukan anggota KOPTAN Mitra Sukamaju adalah sebesar 1,71. Nilai tersebut berarti bahwa setiap Rp 1,00 biaya tunai yang dikeluarkan anggota untuk menjalankan kegiatan usahatani paprika hidroponiknya, dapat menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,71.

Meskipun biaya total yang dikeluarkan anggota lebih tinggi akibat besarnya komponen biaya diperhitungkan, namun nilai penerimaan atas biaya total yang diterima anggota masih lebih tinggi dibanding penerimaan yang diterima petani non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Selisih antara pendapatan atas biaya total yang diperoleh anggota dengan petani non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju mencapai Rp 1.017.630. Dengan demikian, besarnya manfaat yang diterima anggota KOPTAN Mitra Sukamaju adalah sebanding dengan selisih antara pendapatan yang diterima petani anggota dengan non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju tersebut. Demikian pula dengan R/C atas biaya total untuk

73

anggota KOPTAN Mitra Sukamaju yang bernilai lebih tinggi dibanding dengan nilai R/C atas biaya total untuk petani non anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Hal tersebut mencerminkan bahwa kegiatan usahatani paprika hidroponik yang dilakukan petani anggota KOPTAN Mitra Sukamaju lebih efisien, yaitu setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan secara tunai maupun biaya lainnya yang diperhitungkan (biaya total) masih dapat menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,25. Dengan demikian, baik dilihat dari sisi pendapatan maupun nilai R/C atas biaya total, petani anggota KOPTAN Mitra Sukamaju dapat merasakan manfaat koperasi, kerena lebih tingginya pendapatan maupun R/C atas biaya total tersebut.

KEANGGOTAAN KOPTAN MITRA SUKAMAJU

Dalam sebuah organisasi yang berbentuk koperasi, keberadaan anggota sangatlah penting, karena anggota memiliki peran ganda, yaitu sebagai pemilik sekaligus sebagai pengguna jasa koperasi. Bagi KOPTAN Mitra Sukamaju, partisipasi anggota sangat diperlukan bagi perkembangan usaha koperasi. Demikian pula dengan KOPTAN Mitra Sukamaju, yang memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dengan memberikan manfaat bagi anggotanya. Keanggotaan dalam sebuah koperasi termasuk KOPTAN Mitra Sukamaju, dapat dipengaruhi oleh faktor internal organisasi koperasi dalam menjalankan kegiatan usahanya, maupun dari sisi eksternal yaitu dari sisi petani yang terlibat dalam keanggotaan koperasi tersebut.

Berkurangnya jumlah anggota KOPTAN Mitra Sukamaju karena banyaknya anggota yang memilih untuk menjadi petani mandiri, menyiratkan pertanyaan, faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi keputusan anggota KOPTAN Mitra Sukamaju untuk tetap melanjutkan keanggotaannya atau tidak. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan anggota KOPTAN Mitra Sukamaju tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis regresi logistik, dengan memasukkan tujuh variabel yang diduga mempengaruhi keanggotaan koperasi tersebut.

75

7.1 Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Keputusan Petani untuk Menjadi Anggota KOPTAN Mitra Sukamaju

Analisis regresi logistik untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi keputusan petani ini, dilakukan dengan menggunakan data reponden yang terdiri dari petani yang pernah dan masih menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju (Lampiran 5). Sedangkan hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keanggotaan KOPTAN Mitra Sukamaju dengan menggunakan analisis regresi logistik biner pada software SPSS, tertera pada Lampiran 6. Berikut ini adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju atau tidak.

Tabel 19. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani untuk Menjadi Anggota KOPTAN Mitra Sukamaju (α = 10%)

Variabel Koefisien P-Value Odds Ratio

Umur -0,026 0,647 0,975 Pengalaman 0,528 0,043* 1,696 Keluarga -0,078 0,923 0,925 Pendidikan 1,031 0,174 2,804 Produktivitas -6,597 0,043* 0,001 Luas Lahan -8,420 0,197 0,000 Pendapatan 0,080 0,336 1,083 Constant 13,724 0,059 912222,28

Keterangan : * Signifikan pada α = 10%

Berdasarkan hasil analisis tersebut diketahui bahwa dari tujuh variabel yang dimasukkan ke dalam model terdapat, hanya terdapat dua variabel yang berpengaruh nyata terhadap keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, yaitu variabel pengalaman dan produktivitas. Kedua variabel tersebut berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 90 persen (α=10 persen).

Penggunaan α sebesar 10 persen, mengingat peluang atau resiko kesalahan maksimal sebesar 10 persen dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju tersebut dirasakan masih dapat ditolelir. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pengaruh kedua faktor tersebut terhadap keputusan petani untuk melanjutkan keanggotaannya atau tidak.

7.1.1 Faktor Pengalaman Bertani Paprika (Tahun)

Hasil analisis regresi logistik pada Tabel 19, menunjukkan berdasarkan uji signifikansi masing-masing koefisien variabel (Uji Wald), diketahui bahwa variabel pengalaman signifikan pada α sebesar 10 persen, yaitu memiliki nilai p- value sebesar 0,043 yang lebih kecil dari α=10 persen. Variabel pengalaman memiliki nilai koefisien sebesar 0,528, yang berarti bahwa jika variabel lainnya tetap, maka jika pengalaman bertambah 1 unit, secara rata-rata perkiraan logit akan naik sekitar 0,528 unit. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan atau korelasi yang positif antara lamanya pengalaman bertani paprika dengan keputusan petani untuk tetap manjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Semakin lama pengalaman petani dalam bertani paprika, maka petani tersebut akan cenderung mengambil keputusan untuk tetap menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Hal ini bertolak belakang dengan dugaan sebelumnya dari peneliti, yang menduga bahwa pengalaman akan berkorelasi negatif dengan keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju.

Hubungan atau korelasi yang positif antara pengalaman dengan keputusan petani untuk tetap menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, dikarenakan dengan semakin lamanya pengalaman bertani paprika, petani semakin paham

77

bahwa dalam menjalankan usahatani paprika, terdapat resiko fluktuasi harga, selain itu diperlukan adanya kepastian/jaminan pasar bagi hasil produksi petani. KOPTAN Mitra Sukamaju sebagai sebuah koperasi berusaha memberikan pelayanan yang berupa penetapan harga standar guna melindungi angggota dari fluktuasi harga, serta menampuang dan memasarkan semua hasil produksi anggotanya. Dengan demikian, keberadaan KOPTAN Mitra Sukamaju menjadi sangat penting dan berperan bagi petani paprika, khususnya anggota. Oleh karena itu, petani cenderung memutuskan untuk menjadi anggota dan mempertahankan keanggotaannya pada KOPTAN Mitra Sukamaju, karena koperasi tersebut dapat memberikan manfaat yang diperlukan anggotanya, khususnya dalam hal harga dan kepastian pasar. Selain itu, petani yang hingga saat ini masih mempertahankan keanggotaanya pada KOPTAN Mitra Sukamaju umumnya adalah para perintis beserta keluarganya, yang berperan khususnya dalam pendirian KOPTAN Mitra Sukamaju, sehingga mereka lebih untuk mempertahankan keanggotaanya.

Nilai rasio odds yang merupakan exp(βi) untuk variabel pengalaman ini adalah sebesar 1,696. Nilai tersebut menunjukkan bahwa petani dengan pengalaman bertani paprika yang lebih lama, memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, yaitu sebesar 1,696 kali dibanding petani yang pengalamannya belum lama.

7.1.2 Faktor Produktivitas Paprika yang Dihasilkan Petani Selama Satu Musim Tanam (Kg/pohon)

Pada Tabel 19 terlihat bahwa produktivitas merupakan variabel yang berpengaruh nyata terhadap keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju atau tidak, yaitu signifikan pada α sebesar 10 persen. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai p-value sebesar 0,043 yang lebih kecil dari α=10 persen. Variabel produktivitas ini memiliki nilai koefisien yang bernilai negatif, yaitu sebesar -6,597. Nilai tersebut berarti bahwa jika variabel yang lain tetap, maka jika produktivitas yang dihasilkan petani naik 1 unit, secara rata-rata perkiraan logit akan turun sebesar 6,597. Hal tersebut juga menunjukkan adanya hubungan yang negatif antara produktivitas paprika yang dihasilkan petani dengan keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Semakin tinggi produktivitas paprika yang dihasilkan petani, maka petani cenderung untuk tidak menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju lagi.

Hasil tersebut sesuai dengan dugaan peneliti, yang menyatakan bahwa variabel produktivitas akan berkorelasi negatif dengan keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Dugaan tersebut terbukti, karena semakin tinggi produktivitas paprika yang dihasikan, kemungkinan petani tersebut sudah memiliki pengetahuan yang baik mengenai budidaya paprika dan sudah cukup menguasai teknologi budidaya paprika hidroponik, sehingga petani merasa tidak perlu lagi untuk bergabung dengan KOPTAN Mitra Sukamaju.

Nilai rasio odds untuk variabel produktivitas adalah sebesar 0,001. Nilai tersebut menunjukkan bahwa petani yang mampu memproduksi paprika dengan produktivitas yang lebih tinggi akan memiliki kecenderungan yang lebih kecil

79

untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, yakni sebesar 0,001 kali dibandingakan dengan petani dengan produktivitas tanaman yang lebih rendah.

7.2 Faktor-faktor yang Tidak Berpengaruh Terhadap Keputusan Petani untuk Menjadi Anggota KOPTAN Mitra Sukamaju

Dari tujuh variabel yang dimasukkan ke dalam model, hanya terdapat dua variabel yang berpengaruh nyata atau signifikan pada α sebesar 10 persen. Lima variabel lainnya yang tidak signifikan, diantaranya adalah variabel umur petani, jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan, tingkat pendidikan petani, luas lahan yang digunakan untuk bertani paprika serta variabel pendapatan usahatani paprika yang diterima petani selama satu musim tanam. Kelima variabel tersebut cenderung tidak berpengaruh terhadap keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Tidak berpengaruhnya kelima variabel tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Umur petani (tahun)

Variabel umur sebelumnya diduga berpengaruh positif terhadap keputusan petani untuk menjadi anggota koperasi. Semakin tua umur petani, kemungkinan petani lebih menginginkan kepastian dalam usahanya dengan berkoperasi, dibandingkan menjadi petani mandiri, yang membutuhkan kemandirian petani dalam mengelola usahataninya.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, diketahui bahwa umur tidak berpengaruh secara nyata terhadap keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Hal tersebut terjadi karena bagi petani paprika, umur tidaklah menjadi pemicu maupun penghambat dalam keputusannya untuk menjadi anggota koperasi. Berapa pun usia petani, sangat memungkinkan petani tersebut

untuk menjadi anggota ataupun tidak menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, karena tidak adanya pembatasan usia dalam keanggotaan koperasi tersebut. 2. Jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan (orang)

Diduga variabel ini akan berkorelasi positif dengan keputusan petani untuk menjadi anggota koperasi. Semakin banyak jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan petani, maka kemungkinan petani tersebut membutuhkan pendapatan yang lebih tinggi untuk mencukupi keperluan keluarganya, yang mereka harapkan dapat diperoleh dengan berkoperasi.

Dugaan tersebut berbeda dengan hasil analisis regresi logistik yang menyatakan bahwa variabel jumlah anggota keluarga tidaklah berpengaruh terhadap keputusan petani. Berapapun jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan petani, tidak mempengaruhi keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Hal tersebut terjadi karena, KOPTAN Mitra Sukamaju tidak selalu dapat memberikan manfaat dalam hal pendapatan bagi anggota, khususnya pada saat harga di luar koperasi lebih tinggi. Dengan demikian, bagi petani yang terpenting adalah bagaimana penilaian mereka mengenai keseluruhan manfaat yang dapat diberikan KOPTAN Mitra Sukamaju bukan hanya dalam hal pendapatan, dimana penilaian tersebut tidak dipengaruhi oleh banyaknya jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan petani. 3. Tingkat pendidikan petani (1=SD, 2=SMP, 3=SMA, 4=PT)

Diduga variabel ini akan berhubungan positif dengan keputusan petani untuk menjadi anggota koperasi. Semakin tinggi pendidikan petani memungkinkan petani tersebut lebih paham mengenai konsep usaha dalam bentuk koperasi dan menganggap bahwa dengan berkoperasi dapat meningkatkan

81

kesejahteraan anggotanya dengan memberikan berbagai manfaat dalam bentuk pelayanan untuk mendukung usahataninya.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik dengan menggunakan fungsi logit, diketahui bahwa tingkat pendidikan tidak mempengaruhi keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Petani dengan tingkat pendidikan yang tinggi ataupun rendah, akan membuat keputusan yang sama untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, yaitu tergantung kepuasan terhadap kerjasama mereka dengan koperasi tersebut dan seberapa besar mereka dapat merasakan manfaat berkoperasi. Semakin mereka merasa puas, maka petani akan mempertahankan keanggotaanya, begitu pula sebaliknya. Demikianlah keputusan petani ini tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan mereka.

4. Pendapatan usahatani paprika per musim tanam (juta rupiah)

Diduga variabel ini akan memiliki hubungan negatif dengan keputusan petani untuk menjadi anggota koperasi, karena manfaat yang ditawarkan koperasi khususnya yang berupa peningkatan pendapatan, mungkin merupakan alasan yang tepat sekaligus sebagai rangsangan yang menarik bagi petani yang berpendapatan rendah untuk bergabung dengan koperasi, sedangkan bagi petani yang berpendapatan tinggi, mungkin diperlukan manfaat atau alasan lainnya untuk bergabung menjadi anggota koperasi selain peningkatan pendapatan.

Dugaan tersebut tidak sesuai dengan hasil analisis regresi logistik yang menyatakan bahwa pendapatan petani tidak berpengaruh nyata terjadap keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Hal ini disebabkan karena KOPTAN Mitra Sukamaju tidak dapat selalu memberikan manfaat dalam hal pendapatan kepada anggotanya, khususnya pada saat harga paprika di pasaran

sedang meningkat, maka harga yang ditawarkan KOPTAN Mitra Sukamaju menjadi lebih rendah, sehingga terkadang pendapatan anggota pun menjadi lebih rendah dibanding dengan petani non anggota. Keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju lebih didasarkan pada penilaian petani terhadap pelaksanaan kerjasama dengan KOPTAN Mitra Sukamaju secara keseluruhan, apakah koperasi tersebut dapat memberikan manfaat lainnya, bukan hanya manfaat ekonomi, tetapi juga manfaat teknologi maupun sosial yang juga penting bagi petani untuk dapat mengembangkan usahataninya.

5. Luas lahan (hektar)

Diduga variabel ini akan berpengaruh positif terhadap keputusan petani untuk menjadi anggota koperasi, karena diduga petani yang lahan paprikanya luas memerlukan pasar yang lebih jelas agar dapat menampung seluruh hasil produksinya. Dengan demikian, diduga petani yang lahannya lebih luas sangat memerlukan kerjasama dengan koperasi dalam memasarkan hasil produksinya dengan resiko yang lebih rendah.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik dengan menggunakan fungsi logit, diketahui bahwa luas lahan tidak berpengaruh nyata terhadap keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju. Hal ini disebabkan karena petani yang memiliki lahan yang luas maupun sempit, tetap akan menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju asalkan mereka menerima manfaat lainnya dari berkoperasi, tidak hanya dalam hal pemasaran.

83

7.3 Faktor-faktor Lain yang Berpengaruh Terhadap Keputusan Petani untuk Menjadi Anggota KOPTAN Mitra Sukamaju

Meskipun berdasarkan analisa secara kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi logistik, diketahui hanya terdapat dua faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju atau tidak, namun masih terdapat beberapa hal yang turut mempengaruhi keputusan petani untuk mempertahankan keanggotaannya atau tidak. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian, diketahui bahwa faktor kekeluargaan yang sangat baik antara anggota dengan pengurus maupun antar sesama anggota KOPTAN Mitra Sukamaju, menjadi salah satu faktor yang diduga turut mempengaruhi petani untuk tetap menjadi anggota koperasi tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, diduga juga terdapat beberapa hal yang mempengaruhi petani untuk tidak mempertahankan keanggotaanya pada KOPTAN Mitra Sukamaju. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah karena adanya keinginan petani untuk menjadi petani mandiri yang tidak tergantung dan terikat pada koperasi lagi. Keinginan tersebut dipicu oleh semakin banyak bandar-bandar yang membeli paprika hasil produksi petani secara langsung dengan mendatangi kebun ataupun rumah petani, serta membeli dengan harga yang jauh lebih tinggi dari pada harga koperasi meskipun hanya saat harga di pasaran sedang naik. Selain itu, munculnya pesaing seperti beberapa orang petani besar yang menawarkan kerjasama dengan pola kemitraan, diduga turut mempengaruhi keputusan petani untuk menjadi anggota KOPTAN Mitra Sukamaju.

Dokumen terkait