BAB III METODE PENELITIAN
4.6 Interpretasi Data Penelitian
4.6.1 Manfaat “margugu” Bagi Masyarakat Desa Marubun
Tradisi “margugu” merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua terdahulu di Simalungun dan terkhusus di Desa Marubun Lokkung.
Dibuatnya kegiatan “margugu” oleh pendahulu desa marubun Lokkung pada awalnya bertujuan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi, namun ingin memenuhi persyaratan adat khususnya dalam adat pernikahan. Lambat laun kegiatan “margugu” di desa ini tidak hanya diperuntukkan bagi yang tidak mampu secara financial saja, tetapi dilakukan bagi setiap orang yang ingin menjalankan sebuah acara adat tanpa terkecuali. Kejadian “margugu” terus berulang-ulang dan menjadi sebuah kebiasaan dan menjelma sebagai kebudayaan di desa Marubun Lokkung. Kebiasaan merupakan sebuah tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang dan memilki daya ikat yang kuat. Kebiasaan dapat terjadi secara berulang karena masyarakat menyetujui ataupun senang dengan kebiasaan tersebut, karena memiliki manfaat yang positif.
Seperti penuturan dari salah seorang informan yaitu, Darwin Purba (Laki-laki, 60 tahun)
“oppung-oppung kampung kita dulu membikin acara “margugu” seperti ini itu karena keadaan… jamannya mereka itu ekonomi sangat susah… cuman sedikit yang bisa dikatakan mampu.. sedangkan sama kita orang Simalungun adat itu perlu dijalankan karena kalo belum menjalankan adat belum sah atau belum penuhlah istilahnya menjadi orang simalungun… sedangkan mau menjalankan adat perlu dana yang banyak… ya cuman orang yang mampulah bisa menjalankan adat ikut memestakannya… jadi berembuklah dulu oppung -oppung kita biar semua bisa menjalankan adat sama memestakannya disepakatilah ada acara “margugu” setiap ada pesta… berbeda sama “margugu” di kampung lain… margugu di kampung ini menutupi seluruh biaya pesta selama satu hari itu… mulai dari situlah orang kampung ini gak takut-takut lagi mau memestakan adat pernikahan anaknya karena sudah ditanggung bersama… jadi tidak ada berhutang kalo mau pesta… malahan setelah ada “margugu” ini selain terbantu… yang pesta itu dapat untung…
Pernyataan serupa juga disampaikan informan berikut ini yaitu, Jaminson Sipayung (Laki-laki, 56 tahun)
“memang beruntung kalilah ada “margugu” semacam ini di kampung kita ini… kenapa kubilang beruntung… karena sangat membantu terutama bagi yang mau memenuhi adat… aku sendiri sudah merasakan manfaatnya pas menikahkan anakku si Roi itu… waktu itu pas mau mempersiapkan pestanya mulai dari tonggo raja… orang satu kampung ini sangat membantu… pas acara pestapun gak rasa takutku apa yang datang kepesta itu dapat makan apa tidak… karena kulihatpun parhobas itu sangat aktif dan itu kan dikordinir pula…jadi aku sudah percaya… apalagi pas “margugu” itu saya melihat ramenya yang datang cuman mau memberi gugunya… disitulah aku bangga sama satu kampung ini.. karena persatuannya itu kuat.. udah berapa kampung kudatangi khusus acara “margugu” itu enngak ada yang kayak dikampung ini… kalo disini nggak cuman biaya pesta tertutupi,kayak pesta kami waktu pernikahan si Roi dapat untung… jadi kurasa kami nggak cuman terbantu dana saja tapi melihat satu kampung datang membantu kita mentalpun jadi ringan… itulah enaknya.. makanya akupun mengucapkan terimakasihlah sama satu kampung ini karena masih menjaga persatuan… Hal senada juga dikatakan oleh informan yang satu ini, Laksaroi Purba (laki-laki, 62 tahun)
“kalo ditanya manfaat “margugu” ya menurutku sangat bermanfaat… apalagi sama orang seperti aku ini… kalo aku sendiri dulu yang memestakan laemu si Lukman itu manalah sanggup aku menanggung biayanya itu… karena ada persatuan desa inilah makanya kami bisa memestakan… saya ingat pas “margugu” satu kampung marubun ini datang… memang kalo uda pas acara itu selalunya satu kampung datang… itulah hebatnya kita satu kampung ini.. padahal mau mengantarkan uangnya kita ke acara itu.. tapi semangatnya kita kalo kesitu… itulah karena rasa persatuan masih kuat.. kalolah misalnya ada perpecahan dikampung ini kan “margugu” itu nggak berjalan…. kayak yang kau lihat sendirilah kan banyaknya orang seperti aku ini di kampung ini… cuman anak-anak mereka pun semua dipestakan… kenapa bisa… itulah fungsi “margugu” tadi… biaya pesta ditanggung bersama… di acara margugu itupun kalo kulihat bukan hanya mau mengumpulkan uang aja.. tapi disitulah juga orang berkumpul mengobrol sambil mendengar pengumuman berapa uang yang terkumpul ada pula musik keyboardnya… jadi karena “margugu” ini selalu dapat untung, setiap pengumuman selesai dibacakan semua orang itu senang mendengarnya… semua bersuka cita karena pesta itu dianggap berhasil… kalo udah kayak gitu mulailah manortor semua karena senangnya mendengar yang punya pesta dapat untung tadi… jadi kulihat acara“margugu” inipun bisa menghibur juga…(wawancara 12 September 2015)
Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang informan ini yakni, Jannes Purba (Laki-laki,32 tahun)
“manfaat “margugu” ini kalo menurutku bukan sebatas mengumpulkan saja… terkadang margugu ini ada fungsi lainnya… kan kalo sedang “margugu” ini satu kampung berkumpul.. membaur jadi satu.. dalam situasi kayak gini yang punya perselisihan pun bisa berbaikan dalam acara ini.. karena ada manortor sambil salam-salaman… jadi kayak malam tahun baruan di gereja biasanya bermaaf-maafan… itu salah satu manfaat yang baik kalo menurutku.. melalui “margugu” ini pulalah kita dilihat orang kampung lain bahasa kita masih satu di kampung ini.. menurutku disitu kita jadi contoh yang baik sama orang itu… kalopun nggak berpengaruh kali minimal orang kampung sekitar ya bisa melihatlah… karena akupun pas pesta dulu kurasakan acara ini menolong kalilah… apalagi modal pas-pasan kayak aku dulu itu sangat terbantulah… makanya tiap acara margugu aku tetapnya semangat datang…biarpun nggak seberapa yang bisa kukasi tapi ikutlah berpartisipasi sambil memeriahkan acara ini… makanya kalo kau lihat aku sering nyanyi maksudku biar margugu ini tetap menariknya… biar margugu ini tetap ada sampe anak cucu nanti”(wawancara 10 September 2015)
Pernyataan serupa juga dinyatakan oleh informan berikut yakni, Jatiman Saragih (Laki-laki 59 tahun)
“kurasa oppung-oppung kita dulu sangat bijak bisa membuat acara tolong-menolong seperti ini… kubayangkan kalo misalnya acara seperti ini baru sekarang dibuat kurasa sudah susah… jadi menurutku “margugu” ini kayak obatla ini.. kubilang kayak obat karena bisa mengobati hati... misalnya nggak ada “margugu” ini cuman orang mampulah yang bisa memestakan adat pernikahan anaknya… kalo seperti itu kan bisa timbul rasa sedih sama yang tidak mampu.. lumayan kalo Cuma sedih aja tapi cemburu pun bisa… kalo udah ada perasaan kayak gitu seringlah orang-orang melakukan yang nggak-nggak.. contohnya berantam, saling ejek… itu kan banyak kejadian dikampung lain… tapi dikampung kita ini bisa kubilang amanlah dan masih menyatu orang-orangnya… itukan dipengaruhi “margugu” ini pula… jadi yang nngak punya duit, sama yang punya duit dikampung ini bisa membuat pesta adat… yang sedikitpun duitnya kalo dikumpul dari satu kampung kan banya juga… intinya dalam margugu ini membuat rasa persaudaraan itu makin tambahlah dia… makanya berpengaruh sama tingkat perselisishan tadi… pokoknya kalo kubilang banyaklah manfaatnya… tinggal kita tetap
mejaga supaya “margugu” ini tetap jalan karena ini menjadi ciri khas kita oran marubun ini…” (wawancara 16 September 2015)
Wawancara yang dilakukan kepada beberapa informan, menunjukkan hasil bahwa tradisi “margugu” memang sangat bermanfaat bagi warga Desa Marubun Lokkung. Ditengah ekonomi di pedesaan seperti di Marubun Lokkung yang masih dalam batas subsistensi, dan tuntutan budaya yang mengharuskan setiap orang harus menggenapi adat, membuat “margugu” ini menjadi cara yang ampuh dalam mengatasi masalah warga tersebut. dengan adanya tradisi seperti ini setiap orang merasa terdorong untuk membantu sama lain. Setiap orang memiliki kesempatan menolong orang lain dan ada saatnya juga berkesempatan untuk ditolong oleh orang lain. Sifat saling tolong-menolong seperti ini menjadi konstruksi sosial, sehingga rasa ingin membantu tidak hanya sebatas “margugu” saja, tetapi ikut mempengruhi kehidupan sehari-hari. Meskipun tidak ada integrasi sosial yang sempurna, namun dengan acara “margugu” yang menuntut kebersamaan dan rasa tolong menolong dapat meminimalisisr terciptanya disintegrasi sosial. Secara otomatis acara seperti ini mampu meningkatkan solidaritas sosial.
Seperti yang disampaikan informan yang satu ini yakni, Herman Damanik (Laki-laki, 45 tahun)
“efek “margugu” dalam pesta adat ini memang kuat... selain dalam pesta, tolong menolong di hal yang lain juga jadi muncul… misalnya kalau kita lihat untuk menolong yang sakit pun orang kampung kita ini sangat aktif… misalnya kalo ada yang lagi diopname di rumah sakit.. orang kampung ini selalu menjenguk kesana… langsungnya itu memborong motor kalo mau berangkat… menjengukpun itu nggak tangan kosong datang kesana… tapi ngaasi uang juganya untuk membantu biaya perobatan. Kalopun misalnya ada yang nggak bisa datang langsung ke rumah sakit, ditunggunya itu kalo
uda pulang dijenguk dirumahnya… kalo menurutku itu udah jadi kebiasaan orang kampung ini untuk saling membantu.. karena memang dari acara adat pun kita kan sudah diajarkan suapaya memilki rasa persaudaraan yang tinggi.. sehingga wajib untuk saling tolonh menolong seperti acara “margugu” ini tadi”(wawancara 9 September 2015)