BAB I PENDAHULUAN
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang ingin dicapai oleh penulis antara lain : 1. Manfaat teoritis
Penelitian ini dapat memberi sumbangan dalam perkembangan ilmu pelayaran datar khususnya dalam penggunaan Radar di Alur Pelayaran Sempit.
2. Manfaat praktis
4
Penelitian ini dapat menjadi masukan untuk nahkoda dan mualim jaga agar melaksanakan pengamatan di alur pelayaran sempit DENGAN mengunakan radar lebih efektif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A Review Penelitian Sebelumnya
Menurut saya Radar adalah alat navigasi yang membantu perwira jaga
melaksanakan tugas jaga dianjungan, untuk memperkecil timbulnya bahaya tubrukan dengan mendeteksi objek sekitar.
Beberapa penulis telah melakukan penelitian tentang pentingnya pengamatan Radar di alur pelayarn sempit guna mencegah resiko tubrukan. Berikut ini penulis berikan salah satu penelitian aslinya.
Tabel 2.1 Review Penelitian Sebelumnya No. Penulis Judul Penelitian Masalah Hasil 1. Moh Afif
6
B Landasan Teori
1. Definisi Pengamatan
Menurut Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka (1989), pengamatan
bermaksud pengawasan atau penelitian. Jika dialih bahasa ke Bahasa Inggris, istilah pengamatan bermaksud ‘perception’ atau persepsi. Buku Pengantar Psikologi (1990) pula menyatakan bahwa pengamatan bukanlah berlaku secara automatik. Pengamatan adalah satu proses di mana tiap-tiap keinderaan harus diorganisasikan dan diinterpretasikan supaya membawa makna yang lebih dalam kehidupan manusia. Penerima akan memilih rangsangan yang bermakna bagi dirinya dengan cara memberikan tumpuan kepada rangsangan tersebut.
2. Radar
Gambar 2 . 1 Radar Scanner
7
a. Pengertian Radar
Menurut Arso Martopo, Capt, (1992 : 49) mengatakan pengertian radar
adalah salah satu alat bantu navigasi yang sangat potensial di atas kapal baik dalam penentuan posisi maupun pendeteksi resiko bahaya tubrukan.
Memperjelas pendapat diatas Hadi Supriyono, Capt, (2001 : 14) menerangkan tentang suatu alat pembantu navigasi elektronik yang gunanya Untuk menentukan posisi kapal dari waktu ke waktu. Dalam menentukan posisi kapal dengan radar dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu menggunakan baringan dengan baringan, menggunakan baringan dengan jarak dan menggunakan jarak dengan jarak. Memandu kapal keluar–masuk pelabuhan atau perairan sempit. Pada posisi Head Up, radar sangat efektif dan efisien untuk membantu para nakhoda atau pandu dalam melayarkan kapalnya keluar-masuk pelabuhan, sungai atau alur pelayaran sempit. Membantu menemukan ada atau tidaknya bahaya tubrukan. Dengan melihat pada layar Cathoda Ray Tube (CRT) adanya pantulan atau echo dari awan yang tebal Membantu memperkirakan hujan melewati lintasan kapal. Dengan melihat pada layar radar (Cathoda Ray Tube) adanya pantulan atau echo dari awan yang tebal.
Sejalan dengan pendeteksi dalam penentuan posisi maka Agus Sunardi, (1995 : 34) mengemukakan Gelombang radio/sinyal yang dipancarkan dan dipantulkan dari suatu benda tertentu akan ditangkap oleh radar. Dengan menganalisa sinyal yang dipantulkan tersebut, pemantul sinyal dapat
8
ditentukan lokasinya dan kadang-kadang dapat juga ditentukan jenisnya.
Meskipun sinyal yang diterima relatif lemah/kecil, namun radio sinyal tersebut dapat dengan mudah dideteksi dan diperkuat oleh radar.
Pengertian umum tentang radar adalah singkatan dari Radio Detector And Ranging yang berarti suatu alat bantu navigasi yang mampu
mendeteksi (to detect) suatu obyek tertentu di luar kapal, dan menentukan jarak antara obyek tersebut ke kapal (ranging) dengan cara memancarkan energi electromagnetic keluar dari transmitter kemudian di pantulkan oleh suatu obyek / target dan kemudian kembali ke pesawat radar receiver.
Oleh karena itu radar sangat bermanfaat untuk mengetahui kedudukan kapal lain sehingga dapat membantu menghindari / mencegah terjadinya tabrakan dilaut. Radar akan sangat berguna pada saat cuaca buruk, keadaan berkabut, dan berlayar di malam hari terutama apabila petunjuk pelayaran seperti lampu suar, pelampung, bukit atau bangunan visual tidak dapat diamati.
b. Prinsip Kerja Radar
Menurut supriyono (2006 : 32) Umumnya, radar beroperasi dengan
cara menyebarkan tenaga elektromagnetik terbatas di dalam piringan antena. Tujuannya adalah untuk menangkap sinyal dari benda yang melintas di daerah tangkapan antena yang bersudut 20o – 40o. Ketika ada benda yang masuk ke dalam daerah tangkapan antena tersebut, maka sinyal dari benda tersebut akan ditangkap dan diteruskan ke pusat sistem radar
9
untuk kemudian diproses sehingga benda tersebut nantinya akan tampak dalam layar monitor / display. Berikut merupakan tahapan kerja Gelombang Radar.
Prinsip Cara Kerja Radar Sebagai Navigasi Elektronik yaitu Pada saat pengiriman sinyal antena akan berputar 10 hingga 30 kali/menit dengan memancarkan denyutan/pulsa 500 hingga 3000 kali/detik. Ketika pemancaran, pulsa ini akan dipantulkan kembali apabila mengenai sasaran dalam bentuk gema radio (radio echo). Pulsa yang dipantulkan ini akan diterima kembali oleh antena dan dikirim ke unit penerima (receiver) melalui switch pemilih pancar/terima. Pulsa ini akan di kuatkan dan akan dideteksi dalam bentuk sinyal radio yang seterusnya dibesarkan lagi kekuatannya pada indicator.
Menurut Ardopo supriyandi (2001 : 12) Setiap kali gelombang elektrik
dipancarkan, bintik-bintik putih akan terbentang dari pusat skrin/skop radar dengan kecepatan konstan dan akan membuat garis sapuan. Garis sapuan ini akan bergerak disekeliling pusat skop dan berputar searah jarum jam dimana putarannya selaras dengan putaran antena.
Apabila sinyal video (video signal) digunakan dalam indikator, bintik putih diatas garis sapuan ini akan diubah kedalam bentuk gambar/bayang- bayang. Posisi gambar ini akan sejalan dengan arah gelombang elektrik yang dipancarkan serta jarak posisi gambar ini dengan pusat skop radar
10
adalah berdasarkan jarak kapal dengan sasaran di suatu tempat. Dengan demikian posisi penerima sinyal kapal senantiasa berada di pusat skop pada tabung sinar katoda dan dikelilingi oleh objek/sasaran.
Pada dasarnya radar menggunakan prinsip pancaran gelombang elektronik. Alat pemancar khusus akan memancarkan pulsa gelombang radio pendek yang dipancarkan dalam alur sempit (narrow beam) oleh antena berarah (directional antenna).
c. Tombol dan Kegunaan Radar:
1) Radar stand-by yaitu berfungsi untuk membuat radar dalam keadaan stand by atau siap digunakan.
2) Aerial rotating yaitu berfungsi untuk menunjukan putaran antena dalam posisi on.
3) North-up presentation yaitu berfungsi untuk menunjukan posisi arah utara sesuai dengan arah kompas.
4) Head-up presentation yaitu berfungsi untuk menunjukan posisi suatu benda dibagian depan dari arah depan kompas.
5) Heading marker aligment yaitu berfungsi untuk memuncul tampilan garis lurus kearah utara yang dapat dipindahkan ke arah mana saja.
6) Range selector yaitu berfungsi untuk menjelaskan tempat - tempat yang dideteksi oleh radar.
7) Short pulse (SP) yaitu dengan memutar tombol SP ke arah kanan maka akan tampil suatu titik yaitu posisi kapal .
11
8) Long pulse (LP) yaitu dengan memutar tombol ke posisi LP maka akan tampak dilayar daya jangkau dari radar tersebut.
9) Tuning yaitu dengan memutar tombol tuning ke kanan maka gambar akan nampak lebih jelas.
10) Gain berfungsi untuk membuat gambar nampak lebih jelas pada layar radar.
11) Anti cluter rain minimum (FPT) yaitu dengan memutar tombol FPT ke tengah maka akan tampak lebih jelas gambar radar pada waktu hujan deras.
12) Anti cluter maximum (FPT) yaitu befungsi untuk menambah lebih jelas gambar radar pada waktu hujan deras.
13) Anti Cluter Sea Minimum dan Maximum yaitu dengan memutar tombol STC ke tengah maka akan timbul di radar gambar atau bentuk benda pada saat bergelombang.
14) Scale Iluminator yaitu berfungsi untuk memperjelas suatu jarak antara kapal dengan benda.
15) Display Briliance yaitu berfungsi untuk memperjelas gambar atau sebagai penerang.
16) Variable Range Marker yaitu berfungsi untuk mengetahui jarak dari suatu benda .
17) Range Rings Marker yaitu berfungsi untuk memperjelas gambar dan jarak suatu benda.
12
18) Bearing Marker yaitu berfungsi untuk menampilkan seluruh keterangan-keterangan yang diperlukan dari suatu radar.
19) Transmiter Power Monitor yaitu berfungsi untuk mengetahui kekuatan pulsa yang dipancarkan oleh radar secara maksiimal.
20) Transmiter / Receive Monitor yaitu berfungsi untuk mengetahui penerimaan pulsa dari suatu monitor radar.
Gambar 2 . 2 Layout Radar
3. Alur Pelayaran Sempit
a. Pengertian Alur Pelayaran Sempit
Menurut pendapat saya Alur pelayaran sempit adalah alur dimana
keadaan perairan yang sempit dan kapal yang berlayar di daerah alur pelayaran ini harus berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur pelayaran atau air pelayaran yang terletak di sisi lambung sebelah kanannya selama masih aman dan dapat dilaksanakan.maka arti dari alur pelayaran
13
sempit adalah jalur yang digunakan atau dilewati oleh kapal sebelum memasuki dermaga/ pelabuhan yang ukurannya kurang untuk dilewati banyak kapal.
b. Fungsi Alur Pelayaran Sempit
Alur pelayaran digunakan unuk mengarahkan kapal yang akan masuk ke kolam pelabuhan. Alur pelayaran dan kolam pelabuhan harus cukup tenang terhadap pengaruh gelombang dan arus. Perencanaan alur pelayaran dan kolam pelabuhan ditentukan oleh kapal terbesar yang akan masuk ke pelabuhan. Alur pelayaran ini ditandai dengan alat bantu pelayaran yang berupa pelampung dan lampu-lampu.
Gambar 2 . 3 Alur Pelayaran Sempit
14
c. Yang perlu diperhatikan di Alur Pelayaran Sempit
1) Pemilihan Karakteristik Alur
Alur masuk ke pelabuhan biasanya sempit dan dangkal. Alur-alur tersebut merupakan tempat terjadinya arus, terutama yang disebabkan oleh pasang surut. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan karakteristik alur masuk ke pelabuhan adalah sebagai berikut :
a) Keadaan trafik kapal
b) Keadaan geografi dan meteorologi di daerah alur.
c) Sifat-sifat fisik dan variasi dasar saluran
d) Fasilitas-fasilitas atau bantuan-bantuan yang diberikan pada pelayaran
e) Karakteristik maksimal kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan.
f) Kondisi pasang surut, arus dan gelombang.
2) Traffic Control
Ada dua sistem gerakan untuk menganalisis gerakan alat transportasi, yakni :
a) Sistem Arus Terputus b) Sistem Arus Menerus
Gerakan kapal laut sebagai alat transportasi termasuk pada sistem arus terputus di mana gerakan kapal laut yang melalui suatu titik pada jalur adalah terputus-putus (Edward, 1984).
15
3) Beda-beda Pembantu Navigasi
Fungsi pemasangan alat bantu navigasi adalah dalam Radar terdiri dari beberapa fungsi antara lain:
a) Untuk penentuan posisi kapal, sebagai contoh mercusuar, alat bantu elektronik, Aero Light ( diperlukan untuk pengukuran arah alur pelayaran)
b) Untuk penunjuk bahaya, sebagai contoh, pelampung, rambu laut, suar penuntun.
c) Untuk keamanan di alur pelayaran.
Penjaga pantai mendefinisikan bantuan untuk navigasi sebagai beberapa alat eksternal pada kapal yang bertujuan untuk membantu navigator untuk menentukan posisi atau menentukan daerah yang aman atau untuk menjauhi daerah berbahaya di dalam berlayar.
Buoy, lighthouses, foghorn, dan GPS merupakan alat bantu dalam
navigasi. Sistem navigasi yang digunakan adalah lateral system dalam membantu untuk navigasi, maksud dari lateral system adalah bantuan untuk navigasi pada selat disisi – sisi yang sempit. Ketika memasuki selat dari laut bebas, mempertemukan warna merah dengan bagian starboard dan bagian hijau dengan port ( bagian kanan kapal ). Mercusuar adalah bangunan pokok yang mempunyai skema warna khusus dan karakteristik rangkaian kilasan warna
16
untuk membedakan antara mercusuar satu dengan yang lainya pada satu daerah yang sama. Diantaranya mempunyai signal suara yang sama. Pada peta ditunjukan nama, warna cahaya dan karakteristik, tinggi dan nominal range. Lampu harus mempunyai kecakupan yang tinggi untuk melihat secara horizontal dan intensifitas yang baik untuk dilihat dalam keadaan yang tidak memungkinkan.
Nominal range adalah jarak dimana cahaya dapat dilihat dengan
baik pada saat cuaca cerah
d. Olah Gerak Kapal Pada Saat Melayari Alur Pelayaran Sempit
Kapal berlayar sepanjang alur pelayaran sempit seperti canal, selat maupun sungai maka kapal akan dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Diantaranya adalah 2 faktor penting yaitu pengaruh pengisapan dan pengaruh penolakan tebing atau tepi alur terhadap bagian dari badan kapal.
Keadaan perairan merupakan faktor luar yang mempengaruhi olah gerak kapal. Pengaruh pengisapan dan penolakan tebing seperti ini, biasanya dituliskan pada peta laut, agar kapal lebih berhati-hati dalam melayari alur tersebut. Sebagai contoh pengaruh seperti ini besar sekali di Panama canal yang menghubungkan Cristobal dan Balboa.
Pengaruh pengisapan tebing : Hal ini terjadi karena adanya pengisapan
baling-baling, terutama twin screws serta tekanan air disisi badan kapal yang tidak seimbang, yang menyebabkan permukaan air antara lebih rendah dari sisi lain, maka buritan kapal akan terhisap ketepi alur.
17
Pengaruh penolakan tebing : Pada waktu mesin maju, permukaan air
antara haluan kapal dan tepi alur, lebih tinggi dari sisi lain, sehingga haluan kapal ditolak menjauhi tepi alur. Gabungan dari kedua pengaruh ini, pada kapal yang melayari alur pelayaran sempit, dapat mengakibatkan kedua haluan kapal tersebut cenderung bergerak menuju tepi alur yang berada disebelahnya (berlawanan).
Jika Bertemu dengan kapal lain diperairan sempit dan dangkal akan terjadi penurunan permukaan air, disebelah luar dari kedua kapal, sehingga bagian bawah kapal akan saling mendekati.
Gambar 2 . 4 Situasi Bertemu Pada Perairan Sempit dan Dangkal
Jika menyusul kapal lain diperairan sempit dan dangkal akan terjadi penurunan permukaan air, diantara kedua kapal sehingga bagian atas kapal akan saling mendekati.
Gambar 2 . 5 Situasi Menyusul Kapal Lain
18
Gambar 2 . 6 Situasi Bertemu pada Tikungan
Jika bertemu ditikungan, yang tidak cukup luas untuk berpapasan.
Penjelasan :
1) Apabila ada arus, maka kapal yang mendapat arus dari depan, memberi jalan kepada kapal yang didorong arus.
2) Jika tidak ada arus, maka kapal yang melihat tikungan disebelah kanannya, berjalan terlebih dahulu, yang lainnya menunggu sampai keadaan mengijinkan.
3) Jika tidak dapat dipastikan dari mana datangnya arus, maka dianggap kapal yang datang dari hulu adalah mengikuti arus.
e. Aturan yang tercangkup
Peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh nahkoda dalam mengambil keputusan untuk menghindari harus sesuai dengan rule yang berlaku dalam dunia maritim.
Peraturan-peraturan tersebut mengacu pada kondisi pelayaran dan kondisi dimana akan terjadi bahaya serta bagaimana cara untuk mengambil
19
keputusan yang tepat sehingga antara kapal satu dengan lainnya tidak ada salah komunikasi dan pada akhirnya dapat menghindari tubrukan.
f. Pengertian Solas
1) SOLAS adalah akronim dari Safety Of Life At Sea, merupakan konvensi paling penting dari seluruh konvensi internasional tentang kemaritiman.
SOLAS menjadi standar keselamatan maritim yang wajib diterapkan pada kapal niaga (merchant vessel) berukuran tertentu dan menjadi induk bagi terbitnya berbagai standar (code) bagi kontruksi kapal, peralatan, dan pengoperasian
2) Aturan Solas 1974 Chapter 5 : Keselamatan Navigasi
Bersifat operasional dan diaplikasikan pada semua kapal. Ini berbeda dengan konvensi secara keseluruhan, yang hanya diaplikasikan pada kapal-kapal yang terlibat pada pelayaran-pelayaran Internasional.
Kewajiban umum untuk negara peserta guna memastikan bahwa semua kapal cukup diawaki dan efisien dilihat dari sudut pandangan keselamatan. Persyaratan-persyaratan untuk pemasangan radar dan sarana-sarana bantu navigasi lainnya.
g. Peraturan Pencegahan Tubrukan Di Laut Tahun 1972 Dengan Amandemen 1993.
Peraturan yang dipakai oleh Indonesia untuk mencegah tubrukan adalah peraturan pencegahan di laut tahun 1972 dengan amandemen 1993.
20
Peraturan ini merupakan peraturan nasional yang harus ditaati semua kapal yang berada di perairan Indonesia. Aturan-aturan itu adalah :
1) Aturan 5 Pengamatan
Pengamatan pada aturan 5 yaitu tentang pengamatan, dikatakan bahwa
“setiap kapal harus selalu menyelenggarakan pengamatan yang layak baik dengan penglihatan dan pendengaran maupun dengan semua sarana yang tersedia sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada untuk dapat membuat penilaian yang lengkap tentang situasi dan bahaya tubrukan”. Menurut aturan 5 yaitu tentang pengamatan, dikatakan bahwa “setiap kapal harus selalu menyelenggarakan pengamatan yang layak baik dengan penglihatan dan pendengaran maupun dengan semua sarana yang tersedia sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada untuk dapat membuat penilaian yang lengkap tentang situasi dan bahaya tubrukan”. Hal-hal yang harus dilakukan pada saat mengadakan pengamatan adalah:
a) Menjaga kewaspadaan secara terus-menerus dengan penglihatan maupun dengan pendengaran dan juga dengan alat-alat yang lain.
b) Memperhatikan sepenuhnya situasi dan resiko tubrukan, kandas dan bahaya navigasi.
21
c) Petugas pengamat harus melaksanakan dengan baik atas tugasnya dan tidak boleh diberikan tugas lain karena dapat mengganggu pelaksanaan pengamatan.
d) Tugas pengamat dan pemegang kemudi harus terpisah dan tugas kemudi tidak boleh merangkap atau dianggap merangkap tugas pengamatan, kecuali di kapal-kapal kecil dimana pandangan ke segala arah tidak terhalang dari tempat kemudi.
2) Aturan 6 Kecepatan Aman
Setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dan efektif untuk menghindari dan dapat dihentikan dalam jarak yang sesuai dengan keadaan yang dialami.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan.
a) untuk semua kapal
i. Tingkat penglihatan kepadatan lalu lintas termasuk pemusatan kapal-kapal ikan atau kapal-kapal lainnya.
ii. Kemampuan olah gerak kapal khususnya yang berhubungan dengan gerak henti dan kemampuan berputar dalam setiap kondisi yang ada.
iii. Pada malam hari terdapat cahaya latar belakang seperti lampu- lampu darurat atau pantulan dari lampu-lampu kapal kita.
22
Keadaan angin, laut dan arus serta adanya bahaya-bahaya navigasi yang ada di sekitar.
iv. Syarat kapal sehubungan dengan kedalaman air yang dilalui.
b) tambahan bagi kapal-kapal yang radarnya bekerja:
i. Ciri-ciri efisiensi dengan keterbatasanketerbatasan dari pesawat radar.
ii. Setiap keterbatasan yang timbul oleh skala jarak radar yang dipergunakan.
iii. Gangguan pada radar akibat keadaan laut, cuaca dan sumber- sumber gangguan lain.
iv. Kemungkinan bahwa kapal-kapal kecil, gumpalan es dan benda- benda terapung lainnya yang tidak dapat ditangkap oleh radar pada jarak tertentu.
v. Jumlah, posisi dan pergerakan kapal-kapal yang tertangkap oleh radar.
vi. Lebih tepat penilaian dengan penglihatan karena banyak kemungkinan bila radar dipergunakan untuk menentukan jarak kapal-kapal atau benda-benda lain di dekatnya.
23
3) Aturan 7 Bahaya Tubrukan
Semua kapal harus menggunakan semua sarana yang tersedia sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada untuk menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan , jika timbul keragu-raguan maka bahaya demikian itu harus dianggap ada.
a) Penggunaan pesawat radar harus dilakukan dengan tepat jika dipasang dikapal dan bekerja dengan baik termasuk penyimakan jarak jauh untuk memperoleh peringatan dini akan adanya bahaya tubrukan dan pelacakan posisi radar atau pengamatan sistematis yang sepadan atas benda-benda yang terindra.
b) Praduga-praduga tidak boleh dibuat berdasarkan oleh keterangan yang sangat kurang khususnya keterangan radar.
c) Dalam menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan pertimbangan – pertimbangan berikut ini termasuk pertimbangan- pertimbangan yang harus diperhitungkan.
i) Bahaya demikian harus dianggap ada jika baringan pedoman kapal yang sedang mendekat tidak menunjukkan perubahan yang berarti.
24
ii) Bahaya demikian kadang-kadang mungkin ada, walaupun perubahan sebuah baringan yang berarti itu nyata sekali, terutama bilamana sedang menghampiri kapal dengan jarak yang dekat sekali.
4) Aturan 8 Tindakan Untuk Menghindari Tubrukan
a) Setiap tindakan yang diambil untuk menghindari, jika keadaan mengizinkan harus dilaksanakan dengan tegas, dilakukan dalam waktu yang cukup dan benar-benar memperhatikan dengan seksama akan syarat-syarat kecakapan pelaut yang baik.
b) Setiap perubahan haluan dan atau kecepatan untuk menghindari jika keadaan mengizinkan harus cukup besar sehingga diketahui dengan jelas oleh kapal lain yang sedang melakukan pengamatan dengan penglihatan atau radar, sedangkan perubahan–perubahan kecil daripada haluan dan atau kecepatan harus dihindari.
c) Jika ada ruang gerak kapal yang cukup, perubahan haluan kapal mungkin merupakan tindakan yang paling tepat guna menghindari situasi saling mendekati dengan ketentuan bahwa perubahan haluan itu dilakukan dalam waktu cukup baik, tepat dan tidak mengakibatkan terjadinya situasi saling mendekat berikutnya.
25
d) Tindakan yang dilakukan untuk menghindari dengan kapal lain harus sedemikian rupa sehingga dapat dilewati dengan jarak aman.
Ketepatan dari tindakan itu harus dikaji dengan seksama sampai kapal yang lain itu pada akhirnya dapat dilewati dan betul-betul bebas.
e) Jika diperlukan untuk menghindari atau untuk memberikan lebih banyak waktu untuk menilai keadaan, kapal harus mengurangi kecepatannya atau menghilangkan seluruh kecepatannya agar memberhentikan atau meletakkan mesinnya pada kedudukan mundur.
5) Aturan 9 Alur – Alur Pelayaran
a) Sebuah kapal yang sedang berlayar menyusuri alur pelayaran sempit harus berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur pelayaran atau air pelayaran yang terletak di sisi kanannya bilamana hal itu aman dan dapat dilaksanakan.
b) Sebuah kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter atau kapal layar tidak boleh merintangi jalan kapal yang hanya dapat berlayar dengan aman di dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.
c) Sebuah kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh merintangi jalan setiap kapal lain yang sedang berlayar di dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.
26
d) Sebuah kapal tidak boleh memotong alur pelayaran sempit jika pemotongan demikian merintangi jalan kapal yang hanya dapat berlayar dengan aman di dalam alur pelayaran sempit, kapal yang di sebutkan belakangan itu boleh menggunakan isyarat bunyi yang di tentukan dalam aturan 34 (d), jika ragu-ragu terhadap maksud kapal yang memotong.
e) Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur atau air pelayaran sempit yang di tempat kapal-kapal lain dapat terhalang
e) Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur atau air pelayaran sempit yang di tempat kapal-kapal lain dapat terhalang