• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini ditujukan agar dapat menjadi salah satu sumber informasi tentang kesesuaian peresepan antibiotik pada pasien bedah Appendik di RSUD Sleman terhadap Standar Pelayanan Medis dan Formularium Rumah Sakit, sehingga informasi ini dapat digunakan untuk melakukan

evaluasi (menambah wawasan) pada terapi profilaksis pasien bedah Appendik yang telah dilakukan sebelumnya dan sebagai bahan pertimbangan untuk terapi berikutnya.

E. Tinjauan Pustaka 1. Peresepan Obat

Pengertian obat Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 193/Kab/B.VII/71 adalah suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. Obat berperan penting dalam pelayanan serta peningkatan kesehatan. Obat akan diresepkan oleh dokter sesuai dengan diagnosis pada pasien (Joenoes,1990).

Resep merupakan dokumen legal, sebagai sarana komunikasi professional dari dokter dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk sediaan tertentu dan menyerahkan kepada pasien sesuai dengan kebutuhan medis yang telah ditentukan. Peresepan obat adalah tindakan terakhir dari dokter untuk pasiennya, yaitu setelah menentukan anamnesis, diagnosis dan prognosis serta terapi yang akan diberikan. Terapi tersebut dapat merupakan terapi profilaksis, terapi kausal atau simtomatik (Joenoes,1990).

2. Penggunaan Obat Rasional

Penggunaan obat rasional adalah pola pemberian obat yang tepat yaitu pemilihan obat sesuai dengan diagnosis penyakitnya, tepat konsumsinya, tepat dosisnya, tepat jangka waktu

pemberiannya, dan aman, dengan harga semurah mungkin serta dengan pemberian informasi yang obyektif. Penggunaan obat rasional merupakan pola pemakaian obat yang aman dan efektif (cost-effective), efisien dengan hasil yang baik. Penggunaan obat rasional akan meminimalkan medikal error serta efek samping suatu obat (Depkes RI,2000).

Penggunaan obat yang tidak rasional seperti definisi diatas kan menyebabkan beberapa dampak yang merugikan, terutama pada pasien. Dampak merugikan dari penggunaan obat yang tidak rasional adalah :

1. Dampak pada mutu terapi obat dan perawatan medik

Praktik penulisan obat yang tidak tepat baik secara langsung maupun tidak langsung dapat membahayakan mutu perawatan pasien dan secara negative mempengaruhi hasil pengobatan (Siregar, 2004).

2. Dampak pada biaya

Penggunaan obat yang berlebihan bahkan obat yang tidak diperlukan, menyebabkan pembelanjaan sediaan obat yang berlebihan dan penghamburan biaya, baik oleh pasien maupun system pelayanan kesehatan (Siregar, 2004).

3. Dampak psikologis

Penulisan obat yang berlebihan mengkomunikasikan pada pasien bahwa mereka membutuhkan obat untuk setiap dan semua kondisi, bahkan untuk kondisi yang ringan. Konsep bahwa ada obat untuk setiap rasa sakit adalah berbahaya (Siregar, 2004).

3. Standar Pelayanan Medis

Standar Pelayanan Medis adalah dokumen sistematis untuk membantu praktisi kesehatan dalam membuat keputusan guna pemberian pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kondisi medis tertentu suatu pasien. Standar pelayanan medis digunakan sebagai pedoman pengobatan bagi para praktisi medis dalam memberikan layanan medis kepada pasien. Standar pelayanan medis dibuat dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya kasus-kasus malpraktek (Depkes RI,2000). Undang Undang No. 29 tahun 2004 pasal 44 menyebutkan bahwa dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktek kedokteran wajib mengikuti standar pelayanan kedokteran atau

kedokteran gigi. Dokter dalam melaksanakan praktek kedokteran mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien. Dengan adanya peraturan tersebut diharapkan pasien akan terhindar dari kesalahan pelayanan medis. Rumah sakit harus memiliki standar pelayanan medis yang menjadi acuan dalam memberikan layanan medis kepada pasien. Dengan demikian, kebutuhan dasar masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan patient safety dapat terpenuhi. Selain itu, standar pelayanan medis akan menjadi tolak ukur mutu pelayanan medis suatu rumah sakit dan menghindarkan rumah sakit dari kemungkinan tuntutan hukum jika terjadi medikal error.

4. Formularium Rumah Sakit

Formularium adalah daftar obat baku yang dipakai oleh Rumah Sakit yang dipilih secara rasional dan dilenkapi dengan penjelasan sehingga merupakan informasi obat yang lengkap untuk

pelayanan medik Rumah Sakit, yang terdiri dari obat-obatan yang tercantum dalam Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN) dan beberapa jenis obat yang sangat diperlukan oleh Rumah Sakit (Daftar obat supplement/tambahan) yang dapat ditinjau kembali sesuai dengan perkembangan bidang kefarmasian dan terapi serta keperluan Rumah Sakit yang bersangkutan (Anonim, 2009a). Formularium Rumah Sakit adalah daftar obat yang terseleksi yang digunakan sebagai pedoman pemilihan obat dalam peresepan dokter di rumah sakit beserta informasi yang relevan mengenai indikasi, cara penggunaan, dan informasi lain mengenai tiap produk. Formularium memberikan alternatif pilihan obat untuk terapi suatu penyakit pada pasien. Sistem formularium menetapkan pengadaan, penulisan, dispensing, dan pemberian suatu obat dengan nama dagang atau obat dengan nama generik apabila obat itu tersedia dalam dua nama (Depkes RI,2000).

Formularium berisi pilihan obat yang tepat pada kasus-kasus penyakit. Seorang praktisi medis harus menjalankan formularium dalam pelayanan bagi pasien. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalkan ketidakrasionalan penggunaan obat. Agar dokter dapat tetap konsisten memanfaatkan formularium dalam penulisan resep, maka sistem formularium harus dikelola dengan optimal dan terus-menerus direvisi serta memuat tambahan penting lainnya yang merefleksikan pertimbangan klinik terbaru. Dalam formularium rumah sakit yang ada, biasanya tidak dimanfaatkan secara optimal dalam peresepan dokter dan pemanfaatan formularium

cenderung tidak konsisten. Pemanfaatan formularium yang tidak optimal dalam peresepan dokter, berdampak menurunkan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan (Depkes RI,2000).

Formularium disusun dengan alasan untuk penyempurnaan pengobatan, penurunan risiko, penurunan biaya, serta sebagai penyempurnaan suplai (Aslam dkk., 2003).

5. Rumah Sakit

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks, menggunakan gabungan alat ilmiah khusus dan rumit, dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personil terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern, yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. Rumah sakit sebagai suatu fungsi organisasi akan selalu mengalami perkembangan. Sesuai perkembangan yang dialaminya, rumah sakit dibedakan menjadi rumah sakit umum dan rumah sakit umum (Azwar, 1996).

Pengertian rumah sakit umum menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor

983/Menkes/SK/XI/1992 tentang pedoman organisasi rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialis, dan subspesialis yang mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan

mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara terpadu dan serasi dengan peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan (Anonim, 1992 . Rumah sakit umum biasanya merupakan fasilitas yang mudah ditemui di suatu negara, dengan

kapasitas rawat inap sangat besar untuk perawatan intensif ataupun jangka panjang. Rumah sakit jenis ini juga dilengkapi dengan fasilitas bedah, bedah plastik, ruang bersalin, laboratorium, dan sebagainya.

Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang hanya melayani satu bentuk pelayanan kesehatan saja. Rumah sakit jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit manula, atau rumah sakit yang melayani kepentingan khusus seperti psychiatric (psychiatric hospital), penyakit pernapasan, dan lain-lain. Klasifikasi rumah sakit berdasarkan kemampuan yang dimiliki terkait sarana dan prasarana antara lain Rumah Sakit tipe A, Rumah Sakit tipe B, Rumah Sakit tipe C, Rumah Sakit tipe D, dan Rumah Sakit tipe E.Contohnya RSUD Sleman yang termasuk ke dalam tipe C. Rumah sakit umum ini hanya memiliki pelayanan medis spesialistik dasar, dan kapasitas tempat tidur 250-500 buah. Rumah sakit tipe ini minimal harus mempunyai pelayanan spesialis terbatas, yaitu spesialis penyakit dalam, bedah, pelayanan kesehatan anak, dan spesialis kebidanan dan kandungan.

6. Antibiotik Profilaksis

Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan/atau bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil (Tan dan Rahardja, 2007). Sedangkan antibiotik profilaksis bedah merupakan antibiotik yang diberikan sebelum adanya kontaminasi pada jaringan atau tubuh. Tujuan dari pemberian antibitik profilaksis adalah untuk mencegah terkenanya infeksi pada daerah yang dibedah (Dipiro dkk., 2005). Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik digolongkan menjadi lima kelompok: 1. antibiotik yang mengganggu metabolisme sel mikroba,

2. antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel,

3. antibiotik yang mengganggu permeabilitas membran sel, 4. antibiotik yang menghambat sintesis protein, dan

5. antibiotik yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat

Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan indikasi yang tepat pada pasien. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya resistensi mikroba oleh pemberian antibiotik. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya resistensi adalah penggunaan antibiotik yang terlalu sering, irasional, berlebih, serta penggunaan jangka waktu yang lama (Anonim,1998).

Secara umum dapat dikatakan bahwa bila suatu antibiotik digunakan untuk mencegah infeksi kuman tertentu (yang peka terhadap antibiotik tersebut) sebelum terjadinya kolonisasi dan multiplikasi, maka profilaksis ini seringkali berhasil. Tetapi bila profilaksis dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan infeksi oleh segala macam mikroba yang ada disekitar pasien, maka profilaksis ini biasanya gagal (Sulistia dkk., 2007).

Untuk profilaksis kasus bedah berlaku prinsip sebagai berikut :

1. Penggunaan antibiotik untuk profilaksis selalu harus dibedakan dari penggunaan untuk terapi. 2. Pemberian profilaksis antibiotik hanya diindikasikan untuk tindakan bedah tertentu yang disertai infeksi pascabedah, atau yang membawa akibat berat bila terjadi infeksi pascabedah.

3. Antibiotik yang dipakai harus sesuai dengan jenis kuman/bakteri yang potensial menimbulkan infeksi pascabedah.

4. Cara pemberian biasanya intravena atau intramuskular

5. Pemberian dilakukan pada saat induksi anestesi, tidak dibenarkan pemberian yang lebih dini dan biasanya hanya diberikan 1-2 dosis. Pemberian profilaksis lebih dari 24 jam tidak dibenarkan (Sulistia dkk., 2007).

Profilaksis untuk bedah hanya dibenarkan untuk kasus dengan risiko infeksi pascabedah yang tinggi yaitu yang tergolong clean-contaminated dan contaminated. Tindakan-tindakan bedah yang

bersih (clean) tidak memerlukan profilaksis antibiotik, kecuali bila dikhawatirkan akan terjadi infeksi pascabedah yang berat sekali (Sulistia dkk., 2007).

Kejadian infeksi pada apendiktomi adalah 5-15%. Dalam kaitannya dengan profilaksis, jenis operasi digolongkan ke dalam 4 kategori, yaitu :

a. Operasi bersih

Operasi bersih adalah operasi yang dilakukan pada daerah kulit pada kondisi prabedah tanpa peradangan dan tidak membuka traktus respiratorius, traktus gastrointestinal, orofaring, traktus urinarius, atau traktus bilier ataupun operasi yang berencana dengan penutupan kulit primer dengan atau tanpa pemakaian drain tertutup.

b. Operasi bersih terkontaminasi

Operasi bersih terkontaminasi adalah operasi yang membuka traktus digestivus, traktus bilier, traktus urinarius, traktus respiratorius sampai orofaring, tarktus reproduksi kecuali ovarium ataupun operasi tanpa pencemaran nyata (Gross Spilage).

Antibiotik profilaksis disii dianjurkan seperti pada diseksi leher dan masuk orofaring; diseksi lambung, membuka kolon, ileum bagian distal; operasi kolon atau usus kecil dengan gangguan vaskularisasi dari usus; operasi yang menembus saluran empedu (ekstra hepatal); operasi saluran kemih dan operasi yang melalui vagina. Sehingga, untuk apendiktomi digolongkan sebagai operasi bersih terkontaminasi.

c. Operasi terkontaminasi

Operasi terkontaminasi adalah operasi yang membuka traktus digestivus, traktus bilier, traktus urinarius, traktus respiratorius sampai dengan orofaring atau traktus reproduksi kecuali ovarium dengan pencemaran yang nyata ataupun operasi pada luka karena kecelakaan dalam waktu kurang dari 6 jam (Golden period).

Antibiotik profilaksis disini dianjurkan seperti pada operasi yang menembus saluran empedu yang terinfeksi; operasi yang menembus saluran kemih yang terinfeksi; operasi radang akut tanpa pembentukan nanah dan operasi pada fraktur (patah tulang) terbuka.

d. Operasi kotor dengan infeksi

Operasi kotor dengan infeksi adalah operasi pada perforasi traktus digestivus, traktus urogenitalis atau traktus respiratorius yang terinfeksi ataupun operasi yang melewati daerah purulen (inflamasi bacterial). Dapat pula operasi pada luka lebih dari enam jam setelah kejadian atau terdapat jaringan non vital yang luas atau nyata kotor.

Antibiotik disini dianjurkan seperti pada pemberian antibiotik terapetik dan bukan lagi profilaksis, terutama bila operasi dilakukan pada jaringan sehat akan dilalui oleh nanah; pemberian antibiotik profilaksis dengan tujuan mencegah penyebaran intrakaviter, penyebaran ke tempat yang jauh atau ke jaringan yang sebelumnya tidak terkontaminasi.

(Anonim, 1992a)

Prinsip Penggunaan Antibiotik Profilaksis 1. Tepat Indikasi

Antibiotik profilaksis diberikan pada pembedahan dengan klasifkasi bersih kontaminasi (lihat tabel 1), yang mempunyai kemungkinan terjadi ILO sebesar 10,1% Dengan pemberian antibiotik

profilaksis maka angka kejadian ILO dapat diturunkan menjadi 1,3% .

Antibiotik profilaksis juga diberikan pada pembedahan kriteria bersih yang memasang bahan prostesis. Juga diberikan pada operasi bersih yang jika sampai terjadi infeksi akan menimbulkan dampak yang serius seperti operasi bedah syaraf, bedah jantung, dan mata.

Antibiotik profilaksis tidak tepat digunakan pada operasi kontaminasi atau kotor karena telah terjadi kolonisasi kuman dalam jumlah besar atau sudah ada infeksi yang secara klinis belum

manifest. 2. Tepat Obat

Antibiotik yang digunakan untuk untuk tujuan profilaksis berbeda dengan obat yang digunakan untuk tujuan terapi. Pada umumnya dipilih antibiotik dengan spektrum sempit, generasi yang lebih tua dibandingkan antibiotik untuk tujuan terapi.

Dengan memperhatikan spektrum, antibiotik ditujukan pada kuman yang potensial menimbulkan ILO, dan antibiotik tersebut dapat melakukan penetrasi ke jaringan yang dilakukan pembedahan dengan konsentrasi yang cukup. Walaupun disatu bidang pembedahan kadang didapatkan banyak macam kuman normoflora, namun tidak semuanya potensial menimbulkan infeksi dan jumlah koloninya tidak banyak.

Dalam pemilihan antibiotik harap diperhatikan faktor alergi, efektivitas, toksisitas, serta kemudahan cara pemberiannya. Pada umumnya untuk berbagai macam pembedahan masih digunakan sefalosporin generasi I yaitu sefazolin, sedangkan sefalosporin generasi III tidak dianjurkan untuk antibiotik profilaksis.

3. Tepat dosis

Untuk tujuan profilaksis diperlukan antibiotika dosis tinggi, agar didalam sirkulasi dan didalam jaringan tubuh dicapai kadar diatas MIC (minimal inhibitory concentration) antibiotik terhadap kuman yang potensial menimbulkan infeksi. Untuk itu kadang diperlukan loading-dose yang takarannya 2-4 kali dosis normal.

Dosis yang kurang adekwat, tidak hanya tidak mampu menghambat pertumbuhan kuman tetapi justru merangsang terjadinya resistensi kuman.

4. Tepat rute

Agar antibiotik dapat segera didistribusikan ke jaringan maka pemberiannya dilakukan secara intravena

5. Tepat waktu pemberian

Pemberian antibiotik profilaksis dilakukan pada 30 menit (intravena) atau 1 jam (intramuskular) sebelum insisi dengan maksud agar pada saat insisi maka kadar antibiotik didalam jaringan sudah mecapai puncaknya. Pemberian antibiotik profilaksis lebih baik dilakukan di dalam kamar operasi, pada waktu anestesi melakukan induksi, untuk itu dapat minta tolong anaestesis untuk

memberikannya. Antibiotik tersebut harus mencapai kadar puncak didalam jaringan sebelum terjadinya inokulasi kuman kedalam jaringan di lapangan operasi. Antibiotik tidak bermanfaat untuk mencegah terjadinya ILO jika diberikan sebelum 2 jam atau sesudah 3 jam dilakukan insisi. Pada operasi kolon, diberikan juga antibiotik peroral yaitu neomisin dan eritromisin masing-masing 1g pada jam 13.00, 14.00 dan 23.00. obat lain yang dapat diberikan juga ialah metronidazole + kanamycin/ neomycin.

6. Tepat lama pemberian

Pada operasi yang lama > 3 jam atau perdarahan selama operasi > 1500 ml akan terjadi penurunan dosis antibiotik didalam jaringan, oleh karena itu pada kondisi tersebut dapat diberikan dosis tambahan. Jika operasi sangat memanjang maka pemberian dosis tambahan dapat diberikan setiap 2 jam untuk sefoksitin atau setiap 4 jam untuk sefazolin.

Pada beberapa operasi yang sederhana seperti apendiktomi atau herniotomi menggunakan mesh maka antibiotik profilaksis cukup diberikan sekali preoperatif saja. Pada umumnya pemberian antibiotik profilaksis tambahan sebanyak 1 dosis setiap 8 jam diberikan hanya selama 1 hari saja, karena pemberian lebih dari 1 hari tidak memberikan manfaat lebih.

Macam Antibiotik untuk profilkasis 1. Penisilin

Cara kerja :

i. Menghambat pembelahan karena terjadi pertumbuhan dinding sel abnormal ii. Menghambat fase 3 sintesis dinding sel

Resistensi :

i. Mempengaruhi pecillin-binding protein ii. Tidak mampu menembus dinding sel iii. Enzim hidrolisa molekul protein Spektrum :

i. Cocci Gram-positif ( Streptococcus A dan

ii. Bacilli Gram-positif ( Corynebacterium diphtheria) iii. Cocci Gram negatif (Neisseria meningitidis) iv. Bacilli Gram-negatif (Streptobacillus moniliformis)

v. Anaerob(Clostridium,Fusobacterium,Peptostreptococc- us sp)

vi. Lain (Treponema pallidum, Leptospira, Enterobacter, Acinebacter sp.) Efek samping :

i. Hipersensitivitas (1-5%) ( iritasi yang mengenai sistem syaraf perifer) ii. nefropati (reaksi alergi berupa nefritis interstisial dan hipokalemia) 2. Sefalosporin

Cara kerja :

i. Menghambat fase 3 sintesis dinding sel ii. Mengikat protein spesifik pada membran sel iii. Mempengaruhi permeabilitas sel

iv. Melepaskan autolisin Resistensi :

i. Menurunkan permeabilitas dinding sel ii. Membentuk beta-laktamase

Spektrum :

i. Generasi I ( mis. Ancef, Keflin, Kefzol) organisme Gram positif (Staphylococcus, Stretococcus), Gram negatif, Bacilli anaerob dan erob.

ii. Generasi II (mis. Ceclor, Zinacef, Mefoxin) Kurang efektif terhadap kuman Gram positif Hemophilus influenzae, baksil Gram negatif, Proteus, Enterobacter sp.

iii. Generasi III (mis. Ceftazidime, Cefotaxim, Cefoperazone) Aerob Gram negatif, Pseudomonas Efek samping :

i. Hipersensitivitas terutama bila alergi penisilin ii. Hematologi (neutropenia, leukopenia, trombopenia) iii. Traktus digestivus (mual, muntah, anoreksia, diare) 3. Eritromisin

Cara kerja :

i. Menghambat sintesa protein bakteri dengan binding pada 50s subunit ribosom Resistensi :

i. Mempengaruhi komponen protein 50s subunit ribosom ii. Melalui plasmid

Spektrum :

i. Sama dengan penisilin G

ii. Mycoplasma, Legionella, Actinomyces sp. iii. Hemophilus influenzae

Efek samping :

i. Gangguan traktus digestivus ii. Hipersensitivitas

iii. Cholestatic hepatitis 4. Clindamycin

Cara kerja :

i. Menghambat sintesa protein bakteri dengan binding pada 50s subunit ribosom Resistensi :

i. Mempengaruhi komponen protein 50s subunit ribosom ii. Melalui plasmid

Spektrum :

i. Aerob dan anaerob Gram positif

ii. Anaerob Gram negatif ( beberapa Staphylococcus resisten) Efek samping :

i. Kolitis pseudomembran ii. Nausea, diare

iii. Hipersensitivitas iv. Leukopenia

v. Hepatotoksik transien (jarang) 5. Metronidazole

Cara kerja :

i. Menurunkan aktivitas metabolit intraseluler kuman Efek samping :

i. Toksis pada SSP

ii. Gangguan traktus digestivus iii. Neutropenia

iv. Drug fever v. aPTT memenjang

vi. Efek sinergis dengan alkohol

Efek samping penggunaan antibiotik profilaksis

Penggunaan antibiotik profilaksis yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi kuman. Hal ini karena pemilihan penderita yang tidak tepat, pemberiannya terlalu lama, atau digunakannya obat generasi terbaru.

Komplikasi yang jarang tetapi serius ialah terjadinya enterokolitis pseudomembran akibat pemberian klindamisin, sefalosporin, dan ampisilin. Diare dan panas badan dapat terjadi setelah pemberian satu dosis antibiotik profilaksis

Rute pemberian antibiotik profilaksis biasanya melalui parenteral, baik intravena maupun

intramuskular, tetapi dapat juga melalui rektal atau per oral (Anonim, 1996). Pemberian antibiotik secara intravena pada waktu induksi anestesi, intramuskular pada waktu premedikasi, suppositoria pada 2-4 jam sebelum pembedahan, dan per oral pada 6-12 jam sebelum pembedahan. Pemberian larutan antibiotik intravena dalam volume yang lebih kecil untuk jangka waktu yang pendek (bolus IV) akan menghasilkan kadar serum yang tinggi yang dicerminkan oleh lebih cepatnya masuk dan lebih tingginya konsentrasi dini antibiotik ke dalam cairan luka (Sabiston, 1995).

Antibiotik yang sering digunakan sebagai antibiotik profilaksis adalah antibiotik golongan Sefalosporin. Mekanisme kerja Sefalosporin adalah menghambat sintesis dinding sel mikroba. Sefalosporin memiliki struktur, khasiat, dan sifat yang mirip dengan penicillin, tetapi dengan

keuntungan-keuntungan lain seperti spektrumantibakteri yang luas namun tidak mencakup enterococcus dan kuman-kuman anaerob, dan resisten terhadap penisilinase. Spektrum kerjanya luas dan meliputi banyak kuman Gram positif dan Gram negative, termasuk E.Coli, Klebsiella dan Proteus (Tan dan Rahardja, 2007).

7. Bedah Appendik

Appendisitis adalah suatu peradangan pada appendiks. Peradangan ini pada umumnya disebabkan oleh infeksi yang akan menyumbat appendiks. Appendiks adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat pada secum (bagian awal dari colon). Bentuknya seperti cacing putih.Secara anatomi appendiks sering disebut juga dengan appendiks vermiformis atau umbai cacing. Appendiks terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Fungsi appendiks pada manusia belum diketahui secara pasti. Diduga berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Lapisan dalam appendiks menghasilkan lendir. Lendir ini secara normal dialirkan ke appendiks dan secum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patogenesis appendisitis (Helwick,1997).

Appendisitis pada umumnya disebabkan oleh obstruksi dan infeksi pada appendiks. Beberapa keadaan yang dapat berperan sebagai faktor pencetus antara lain sumbatan lumen appendiks oleh mukus yang terbentuk terus menerus atau akibat feses yang masuk ke appendiks yang berasal dari secum. Feses ini mengeras seperti batu dan disebut fecalith. Adanya obstruksi berakibat mukus yang diproduksi tidak dapat keluar dan tertimbun di dalam lumen appendiks. Obstruksi lumen appendiks disebabkan oleh penyempitan lumen akibat hiperplasia jaringan limfoid submukosa. Proses selanjutnya invasi kuman ke dinding appendiks sehingga terjadi proses infeksi. Tubuh melakukan perlawanan dengan meningkatkan pertahanan tubuh terhadap kuman-kuman tersebut. Proses ini dinamakan inflamasi. Jika proses infeksi dan inflamasi ini menyebar sampai dinding appendiks, appendiks dapat ruptur. Dengan ruptur, infeksi kuman tersebut akan menyebar mengenai abdomen, sehingga akan terjadi peritonitis. Pada wanita bila invasi kuman sampai ke organ pelvis, maka tuba fallopi dan ovarium dapat ikut terinfeksi dan mengakibatkan obstruksi pada salurannya sehingga dapat terjadi infertilitas. Bila terjadi invasi kuman, tubuh akan

membatasi proses tersebut dengan menutup appendiks dengan omentum, usus halus atau adnexsa, sehingga terbentuk massa peri-appendicular. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Appendiks yang ruptur juga dapat menyebabkan bakteri masuk ke aliran darah sehingga terjadi septicemia. Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang lagi dan disebut mengalami eksaserbasi akut /appendisitis akut telah ditegakkan, maka harus segera dilakukan appendektomi. Hal ini disebabkan perforasi dapat terjadi dalam waktu < 24 jam setelah onset appendisitis. Penundaan tindakan pembedahan ini sambil diberikan antibiotik dapat mengakibatkan terjadinya abses atau perforasi (Hamami

Dokumen terkait