• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1. PENDAHULUAN

1.5 Manfaat Penelitian

1. Menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang kedokteran gigi, khususnya bagian Prostodonsia tentang adanya pengaruh bahan dan desain koping metal terhadap ketepatan adaptasi marjinal.

2. Dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan adaptasi marjinal.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Membantu dan memperkaya pengetahuan dokter gigi tentang metode analisis adaptasi marjinal pada mahkota logam porselen.

2. Mampu memberikan kepuasan terhadap pasien dengan ketepatan adaptasi marjinal dalam mengurangi resiko karies dan desain koping yang berdampak bayangan gelap pada daerah servikal.

10 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mahkota Tiruan

2.1.1 Pengertian

Mahkota tiruan adalah restorasi ekstrakoronal yang disemenkan secara permanen yang menutupi permukaan luar mahkota klinis. Mahkota tiruan harus mereproduksi morfologi dan kontur bagian koronal gigi yang rusak saat melakukan fungsinya. Selain itu juga harus melindungi struktur gigi yang tersisa terhadap kerusakan lebih lanjut. Jika mencakup seluruh mahkota klinis, restorasi disebut mahkota penuh. Mahkota gigi tiruan dapat dibuat seluruhnya dari aloi emas atau logam lainnya, mahkota logam porselen, mahkota porselen, resin dan logam, atau hanya resin.

Jika hanya bagian dari mahkota klinis yang dilapisi, restorasi disebut mahkota sebagian (Shillingburg, dkk, 2012)

2.1.2 Mahkota Porselen Penuh

Mahkota porselen penuh digunakan untuk mendapatkan estetik yang lebih baik, karena dapat menyerupai warna dan translusensi gigi asli. Mahkota porselen penuh memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan beban fungsional normal bila di desain dan dibuat dengan tepat, tetapi akan fraktur bila diberikan kekuatan berlebihan.

Kelebihan Mahkota porselen penuh, yaitu memiliki tampilan yang lebih alami menyerupai gigi asli dibandingkan mahkota logam porselen. Kekurangan mahkota porselen penuh, yaitu rentan terhadap fraktur sehingga pemakaiannya terbatas pada

gigi yang tidak mengalami beban oklusal yang besar, seperti gigi insisivus lateral.

(Shilingburg, dkk, 2012; Hatrick, dkk, 2011; Gladwin ,dkk, 2009).

2.1.3 Mahkota Logam Porselen

Mahkota logam porselen terdiri dari substruktur logam yang mendukung veneer porselen yang terikat secara mekanis dan kimiawi. Komponen kimia dari ikatan logam dengan porselen dicapai melalui proses pembakaran (Rossentiel, 2006).

Mahkota logam porselen terdiri dari mahkota yang terbuat dari porselen dan koping yang terbuat dari logam. Bahan ini banyak digunakan karena mengkombinasikan kekuatan dari logam dan estetik dari porselen. Mahkota logam porselen memberikan retensi maksimal dan memenuhi persyaratan estetik yang tinggi. Mahkota ini dapat digunakan sebagai retainer gigi tiruan cekat dengan hasil estetik yang baik (Shilingburg,dkk, 2012).

2.1.4 Mahkota Logam Penuh

Mahkota logam penuh memiliki kelebihan dalam hal kekuatan dan ketahanan terhadap tekanan, namun logam tidak memiliki sifat estetik yang baik. Pada gigi tiruan cekat posterior dapat dibuat seluruhnya dengan logam tuang karena tidak memerlukan estetik. Keuntungan bahan logam adalah terjadinya kerusakan pada jaringan gigi yang lebih sedikit karena preparasi pada gigi penyangga yang minimal, biayanya lebih terjangkau (tergantung pada pilihan logam), teknik pengecoran logam lebih mudah dan menghasilkan adaptasi marjinal yang lebih akurat (Shilingburg, dkk, 2012).

2.2 Mahkota Logam Porselen 2.2.1 Pengertian

Mahkota logam porselen terdiri dari substruktur mahkota logam yang dilapisi dengan lapisan porselen sehingga dapat terlihat seperti gigi asli. Mahkota logam porselen memberikan penggabungan yang baik antara sifat mekanis dental aloi dengan sifat estetik dari porselen. Bahan ini banyak digunakan karena mengkombinasi kekuatan dari logam dan estetik dari porselen. Namun, pemasangan gigi tiruan cekat dengan bahan logam porselen harus mempunyai gigi antagonis yang kuat (Shillingburg dkk, 2012). Secara umum, mahkota logam porselen terdiri dari koping aloi yang berikatan dengan porselen seperti terlihat pada Gambar 2.1 (Rosenstiel, 2016; Mc Cabe ,dkk, 2008).

Gambar 2.1.Gigi tiruan cekat logam porselen potongan longitudinal (A) Potongan longitudinal mahkota logam- porselen (B) Mahkota logam porselen (C) Substruktur metal memiliki perbedaan marjin terhadap lapisan akhir (sumber : Rosenstiel,Land & Fujimoto, Text book of contemporary fixed prosthodontics, ed. 5, 2016.

Mahkota logam porselen sangat populer pada kedokteran gigi, karena

memiliki faktor estetik yang baik dari segi penampilan natural translusen dan kekuatan yang baik dari struktur logamnya, namun hasil estetik yang optimum tidak selalu dapat tercapai apabila menggunakan mahkota logam porselen konvensional, terutama pada daerah labio gingival marjin (Swati ,dkk, 2010). Keuntungan mahkota logam porselen antara lain, estetik yang baik karena menyerupai gigi asli, substruktur logam yang kuat, memiliki kualitas retentif yang sangat baik karena semua dinding aksial dipreparasi, biokompatibel, adaptasi terhadap jaringan cukup baik, memiliki kekuatan dan ketahanan cukup besar untuk menahan beban pengunyahan, biaya lebih terjangkau dibandingkan mahkota porselen penuh. Adapun kerugian dari mahkota logam porselen yaitu, untuk mencapai estetik yang lebih baik seringkali fasial marjin pada restorasi anterior terletak pada subgingiva sehingga berpotensi terjadinya penyakit periodontal, terlihat keabu-abuan sehingga estetik menjadi kurang, kegagalan mekanis berupa fraktur yang dapat melepaskan porselen dari logam (Rosenstiel, 2016).

2.2.2 Koping Logam

Sebagai persyaratan untuk logam yang akan digunakan pada mahkota logam porselen harus memiliki ikatan yang kuat dengan porselen, memiliki ketebalan dan kekakuan yang baik serta memiliki ketahanan yang tinggi terhadap perubahan. Koping logam relatif tipis (0,3 - 0,5 mm). Preparasi harus menghasilkan ruang yang cukup banyak untuk ketebalan aloi dan porselen sehingga mendapatkan sifat estetik yang baik (Sakaguchi dan Powers, 2012).

Beberapa persyaratan logam aloi untuk restorasi, yaitu (Mc Cabe, dkk, 2008):

a. Memiliki temperatur titik lebur yang tinggi daripada temperatur porselen.

b. Kuat untuk menyangga material porselen yang bersifat rapuh walaupun fraktur porselen kemungkinan masih dapat terjadi

c. Logam aloi mampu berikatan dengan porselen hingga pada akhirnya tidak bisa terlepas.

d. Memiliki koefisien pemuaian yang sama dengan porselen yang berikatan dengannya.

Temperatur peleburan logam yang sama dengan temperatur pembakaran porselen dapat menyebabkan distorsi ataupun koping melebur selama pembakaran porselen. Perbedaan temperatur yang semakin besar di antara kedua bahan akan semakin memperkecil masalah yang dihadapi selama pembakaran. Koefisien ekspansi termal logam adalah 13,5-14,5x10¯6/ºC. Logam dan porselen harus memiliki koefisien ekspansi termal yang sesuai, yaitu antara 0,5-1x10¯6/ºC, sehingga porselen hanya mengalami sedikit tekanan selama proses pendinginan. Koping logam harus memiliki ketebalan optimal untuk mencegah terjadi distorsi pada waktu proses pembakaran. Ketebalan koping logam antara 0,2-0,7 mm, untuk kekuatan dan kekakuan yang baik, tergantung jenis logam yang dipakai dan ketebalan preparasi gigi yang dilakukan oleh dokter gigi di klinik (Shillingburg, dkk, 2012; Lopes, dkk, 2009;

Prado,dkk,2005 ; Anusavice,dkk,2013).

Koping logam seharusnya tidak meleleh selama pembakaran porselen berlangsung dan juga mampu menahan stress akibat induksi panas yang dapat menghasilkan deformasi sampai pada fenomena sag selama pembakaran porselen. Sag

adalah potensi deformasi pada substruktur logam yang pendek pada suhu pembakaran porselen di bawah pengaruh dari massa logam itu sendiri. Ketebalan akan berhubungan dengan flexural stress yang lebih besar dan flexural creep yang lebih besar pula. Creep biasanya terjadi berkenaan dengan pendekatan temperatur penggabungan dalam rentang ribuan derajat pada aloi (Prakash,dkk, 2011).

Tahanan sag adalah kemampuan logam aloi untuk menahan aliran dalam berat logam aloi tersebut selama pembakaran porselen dan pematrian (soldering).

Khususnya pada long span bridges, terjadi peningkatan berat pada gigi tiruan cekat, temperatur pembakaran porselen boleh jadi menyebabkan substruktur aloi yang tidak terdukung menjadi rusak atau cacat secara permanen, yang mana menghasilkan restrorasi yang tidak sesuai. Long span substructure beserta penghubungnya lebih rentan untuk perubahan dimensi secara perlahan hingga peningkatan bending stress.

Fenomena sag mempengaruhi substruktur logam menjadi kepentingan utama untuk keseluruhan mahkota logam porselen. Ketidaksesuaian oklusal dan marjinal yang terjadi sebagai akibat siklus pembakaran porselen memudahkan terjadinya ketidaksesuaian adaptasi marjinal, kebocoran marjinal, karies sekunder dan masalah gigi (Prakash,dkk, 2011)

2.2.2.1 Bahan Koping

Aloi adalah bahan yang memiliki bahan dasar dua atau lebih logam, biasanya sedikitnya 4-8 bahan logam. Persyaratan aloi yang digunakan untuk keberhasilan restorasi, yaitu: memiliki kekuatan, stabilitas, ketahanan terhadap korosi, dapat

dilakukan pengecoran, dipoles, dikilapkan, dan biokompatibel. Aloi untuk logam porselen memiliki sifat tambahan, yaitu koefisien ekspansi termal porselen dan logam harus kompatibel untuk mencegah fraktur pada porselen saat pendinginan selama proses pembuatan (Khmaj MR, 2012). Ekspansi termal dan komposisi logam sangat memengaruhi perlekatan antara logam dengan porselen (Shillingburg,dkk, 2012;

Anusavice, 2004; O’Brien, 2002; Rosenstiel, dkk, 2016).

Klasifikasi logam yang dipakai pada pembuatan mahkota logam porselen, berdasarkan American Dental Association (ADA), dikelompokkan atas tiga bagian, antara lain (Shillingburg dkk. 2012):

1. High noble alloy (gold-platinum-palladium, gold-palladium-silver, dan gold palladium). Logam ini memiliki kandungan logam noble lebih besar dari 60%

dan 40% emas. Koefisien ekspansi termal emas sangat tinggi (14x10-6/˚C), sedangkan koefisien ekspansi termal porselen sangat rendah (2-4x10-6/˚C), sedangkan porselen yang akan melekat dengan koping logam harus mempunyai temperatur pembakaran dan koefisien ekspansi termal yang hampir sama, sehingga untuk menyeimbangkan koefisien ekspansi termal keduanya, perlu penambahan palladium atau platinum pada logam emas. Mahkota logam porselen dengan bahan logam emas telah digunakan secara luas karena restorasi yang dihasilkan memiliki nilai estetik yang natural, ketahanan dan adaptasi tepi logam sangat baik. Aloi emas paling sering digunakan diantara aloi logam mulia, karena sangat biokompatibel, pengecoran baik, mudah dipoles, daktilitas tinggi, lebih lunak jika dibandingkan dengan logam lainnya sehingga waktu pengerjaan di laboratorium lebih cepat, ketahanan terhadap korosi

baik, namun karena harga logam emas yang terus meningkat memicu harga pembuatan yang lebih tinggi, sehingga perhatian terhadap bahan logam lain untuk menggantikan logam emas mulai meningkat.

2. Noble alloy (palladium-silver dan high palladium), terdiri dari 25% logam noble. Logam ini cenderung lebih murah dibandingkan dengan logam emas, biokompatibel, tahan terhadap korosi, modulus elastisitas lebih tinggi, namun memiliki koefisien ekspansi termal yang lebih tinggi daripada aloi konvensional logam porselen, dan ini dapat memengaruhi perlekatan antara aloi dan porselen yang digunakan pada restorasi konvensional logam porselen. Hong dan Shin 2014, menyatakan bahwa tipe aloi logam porselen memengaruhi kekuatan lekat dengan porselen. Hasil penelitian kekuatan lekat logam palladium-silver, nikel-kromium dan emas, menyatakan bahwa aloi Ni-Cr memiliki perlekatan logam porselen paling kuat dibandingkan dengan aloi emas, namun kekuatan lekat porselen dangan aloi Pd-Ag tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan aloi lainnya.

3. Predominantely base metal alloy (nikel-kromium, nikel-kromium-berillium, kobalt-kromium, titanium). Logam ini terdiri dari <25% logam noble. Logam ini memiliki kekerasan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan logam noble dan harganya lebih murah. Keuntungan logam ini berupa nilai modulus elastisitas yang sangat tinggi dan titik lebur tinggi. Keberhasilan pemakaian logam untuk mahkota bergantung pada tingginya tingkat akurasi yang dilakukan pada proses casting. Logam berbasis Ni-Cr sifatnya tidak sebaik logam emas dalam hal kompensasi penyusutan.

Salah satu kelebihan logam Ni-Cr terletak pada tingkat kekerasan yang baik sehingga

tidak merusak marjin mahkota selama polishing. (McCabbe, 2008). Kekuatan untuk menahan korosi sangat tergantung pada sifat kimianya, oleh karena itu logam ini sebaiknya dioksidasi untuk menutup permukaan logam sehingga meminimalkan korosi. Kekuatan dan ketahanan maksimum restorasi didapatkan dengan kekakuan koping logam. Logam tidak boleh lentur selama pemasangan atau dibawah tekanan oklusal karena lenturan akan menyebabkan porselen mengalami tegangan dan memicu terjadinya retak. Logam harus cukup keras dan desain koping harus memiliki ketebalan optimum untuk kekakuan. Koping logam mulia sedikitnya harus memiliki ketebalan 0,3–0,5 mm (Rosenstiel dkk, 2004). Qiu dkk (2011), meneliti ketahanan korosi aloi Co-Cr dan Ni-Cr sebelum dan setelah pembakaran porselen. Efek temperatur yang tinggi selama pembakaran porselen dapat merubah komposisi oksida permukaan logam, yang juga dapat merubah sifat korosi aloi. Hasil penelitian menyatakan bahwa aloi Co-Cr memiliki ketahanan korosi lebih tinggi daripada aloi Ni-Cr. Jassim (2013), mengevaluasi kekuatan lekat aloi Co-Cr dan Ni-Cr terhadap porselen. Hasil penelitian menyatakan bahwa secara statistik tidak ada perbedaan signifikan kekuatan perlekatan antara aloi Co-Cr dan Ni-Cr terhadap porselen.

Hampir semua logam pada mahkota porselen, logam dioksidasi (degassing, out gasing dan pre-oxidation) terlebih dahulu sebelum pengaplikasian lapisan porselen untuk menghilangkan udara yang terperangkap pada logam, menghilangkan kotoran-kotoran dan membentuk lapisan oksida. Proses oksidasi dilakukan pada temperatur 960°C–980°C sesuai instruksi pabrik. Lapisan oksida menyebarkan dan memantulkan cahaya sehingga dapat menutup warna logam dibawahnya, serta berfungsi untuk

menyatukan logam dengan lapisan porselen pada saat siklus pembakaran (Rokni dan Baradaran 2007; Rathi,dkk. 2011)

Tabel 2.1. Sifat fisik dan mekanis logam tuang.

(Sumber: Powers JM dan Wataha JC 2008, Dental materials : properties and manipulation, Mosby Elsevier,ed.9,hal.248)

lebih tinggi dari pada logam mulia. Oleh karena itu, gigi tiruan cekat yang dibuat dari Ni-Cr mengalami kelenturan yang jauh lebih sedikit dari pada protesa serupa yang dibuat dari logam mulia, dan komponen porselen gigi lebih kecil kemungkinannya untuk patah. Proses pengecorannya dianggap lebih sensitif dan sulit untuk dicor dibandingkan pengecoran logam mulia. Namun, penilaian ini mungkin mencerminkan kurangnya pengalaman beberapa laboratorium gigi dengan Ni-Cr ( Rossentiel,2016 ).

Penggunaan Ni-Cr menjadi alternatif pilihan disebabkan oleh biaya yang lebih terjangkau, kekuatan yang lebih besar, dan ketahanan terhadap distorsi lebih baik ketika proses pembakaran porselen. Selain itu, penggunaan Ni-Cr cukup populer, karena aloi ini mempunyai modulus elastisitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan noble metal alloy sehingga memungkinkan penggunaan aloi yang lebih tipis, sehingga dapat dilakukan preparasi gigi yang minimal. Namun aloi ini juga mempunyai beberapa kekurangan, yaitu dihasilkannya lapisan oksida yang berlebihan, sulit dalam finishing dan polishing, dan tidak biokompatibel. Selain itu, berilium yang biasanya ditambahkan untuk mengurangi oksidasi bersifat karsinogenik meskipun masih dalam ambang batas normal yang dapat diterima secara klinis. (Shillingburg 2012, Rossentil 2016).

2.2.2.1.2 Kobalt Kromium

Potensi masalah kesehatan terkait dengan berilium dan nikel telah mengarah pada pengembangan sistem aloi logam dasar alternatif lain yaitu Co-Cr, memiliki kekerasan yang lebih tinggi dari pada Ni-Cr. Tidak adanya perbandingan definitif

lainnya dalam sifat mekanis dari paduan Ni-Cr dan Co-Cr yang saat ini dipasarkan adalah hasil dari karakteristik metalurgi kompleks mereka.

Sekitar 5% populasi yang menggunakan mahkota tiruan penuh logam porselen dilaporkan sensitif terhadap nikel dan pada umumnya wanita 10 kali lebih sensitif dibandingkan pria. Larutnya nikel dan berilium dapat menyebabkan perubahan pada jaringan lunak setelah pemasangan mahkota tiruan penuh logam porselen. Oleh karena itu, digunakan alternatif aloi lainnya dengan biaya yang juga terjangkau, seperti aloi copper atau cobalt. Co-Cr digunakan sebagai alternatif dikarenakan sifat biokompatibilitasnya pada pasien dengan alergi nikel dan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan high noble alloy. Tetapi aloi ini juga mempunyai kekurangan karena penambahan aloi ini menyebabkan formasi oksidasi yang gelap dan tidak tahan terhadap temperatur yang tinggi. Sehingga, aloi copper dan cobalt digantikan dengan emas atau perak. Namun penggunaan perak pada aloi menyebabkan diskolorisasi porselen. (Shillingburg, 2012)

2.2.2.2 Desain Marjinal

Secara tradisional, desain koping logam pada daerah labio marjinal dari restorasi porcelain fused to metal ada beberapa tipe, yaitu : desain koping logam collar dan collarless beserta modifikasinya masing-masing ( Gambar 2.2 )

Gambar 2.2 Skema pembagian desain koping PFM pada labio marjinal (Chihargo,2017 ).

2.2.2.2.1 Full Metal Collar

Desain koping full metal collar dapat juga disebut sebagai logam butt-joint.

Full metal collar ini berfungsi sebagai penopang yang memperkuat logam serta lapisan porselen yang berada di atasnya, serta dapat mencegah perubahan bentuk dari lapisan porselen pada saat siklus pembakaran porselen ( Gambar 2.3).

Gambar 2.3 Desain koping full metal collar (Chihargo,2017 )

Oleh karena itu, desain ini menghasilkan adaptasi yang sangat baik di daerah marjinal, akan tetapi desain ini jarang digunakan pada gigi anterior dengan alasan estetik, kecuali gigi dilakukan preparasi akhiran servikal di bawah marjin gingiva ( subgingiva ), sehingga logam collar dapat tersembunyi di bawah marjin gingiva.

Namun, hal ini sering menyebabkan perubahan warna yang gelap atau garis berwarna abu yang terlihat jelas pada gingiva bila terjadi resesi gingiva, sehingga menjadi faktor kerugian utama dari desain ini. (Rossentiel,2016; Chihargo,2017)

2.2.2.2.2 Modified Metal Collar

Untuk mendapatkan kepuasan akan kebutuhan estetik dari pasien, beberapa klinisi memodifikasi desain marjin dari restorasi porcelain fused to metal dengan cara memendekkan logam collar pada daerah marjinal yang bertujuan untuk menghilangkannya secara visual. (Fahmy ,2012; Chihargo,2017)

Gambar 2.4 Desain koping modified metal collar (Chihargo,2017)

Namun, Donovan dan Prince ( dikutip dari Fahmy, 2012 ) menemukan bahwa

desain koping ini dapat menyebabkan terjadinya distorsi atau pengerutan lapisan porselen pada saat proses pembakaran porselen sehingga dapat mengganggu kesesuaian tepi restorasi dan juga dapat menyebabkan frakturnya lapisan porselen.

Preston ( dikutip dari Fahmy, 2012 ) menutup logam collar pada daerah marjinal dengan lapisan porselen dengan tujuan untuk menyembunyikan logam collar secara visual, namun modifikasi ini tidak dapat tercapai tanpa adanya over contouring dari suatu restorasi, terutama pada kasus dimana gingiva dari gigi anterior merupakan tipe thin scalloped. Hal ini dapat memicu terjadinya iritasi pada gingiva (Fahmy, 2012;

Chihargo, 2017).

2.2.2.2.3 Full Metal Collarless

Desain koping full metal collarless dengan lapisan logam yang tipis pada dinding labial dan melapisnya dengan lapisan opak dan dentin dari porselen. Desain ini dapat mencegah retensi plak oleh karena glazing dari lapisan dentin yang baik pada dinding marjinal. Kesehatan periodontal juga dapat ditingkatkan dengan pendalaman yang minimal dari preparasi akhiran servikal pada sulkus gingival tanpa mengganggu biological width, karena tidak perlu disembunyikannya logam collar pada dinding marjinal. (Fahmy 2012; Chihargo, 2017)

Gambar 2.5 Desain koping full metal Collarless (Chihargo,2017)

Walaupun lapisan porselen telah digunakan untuk menempati logam collar pada dinding marjinal, hal ini masih tidak dapat menyelesaikan masalah seperti lapisan opak porselen yang kurang dapat mendistribusikan transmisi cahaya untuk meningkatkan estetik pada daerah marjinal, terutama ketika preparasi gigi di bagian marjinal tidak mencukupi, sehingga warna keruh dari lapisan opak masih kurang dapat ditutupi oleh warna lapisan dentin pada daerah marjinal. Oleh karena itu, terdapat alternatif desain seperti desain koping modified metal collarless.

2.2.2.2.4 Modified Metal Collarless

Desain koping modified metal collarless dicapai dengan memendekkan tepi akhir koping logam berkisar 1-3 mm dari dinding labial. Desain ini akan meningkatkan transmisi atau pantulan cahaya pada struktur akar gigi. Hal tersebut terjadi karena adanya peningkatan ketebalan lapisan porselen oleh lapisan dentin dan enamel pada

daerah marjinal.

Gambar 2.6 Desain koping modified metal collarless (Chihargo,2017)

Retensi plak berkurang karena lapisan porselen pada marjin yang diglazing dengan baik dibandingkan desain koping full metal collar dengan ujung lapisan logam yang terpolis dengan baik. Hal ini dapat diasumsikan bahwa desain ini mendapatkan kombinasi dari segi kekuatan oleh restorasi porcelain fused to metal dan segi estetik oleh restorasi porselen penuh pada daerah marjinal.

Konsep desain ini memiliki kelemahan seperti kesulitan dalam pembuatannya, memerlukan tahap laboratorium yang lebih lama dan lebih mahal, serta adaptasi marjinal yang kurang baik dibandingkan desain koping full metal collar yang disebabkan oleh hilangnya efek ferrule dari metal collar pada daerah marjinal. Hal ini dapat menghasilkan resiko fraktur dari lapisan porselen yang tidak didukung logam pada dinding marjinal sewaktu sementasi maupun mastikasi.

2.2.3 Porselen 2.2.3.1 Jenis Porselen

Porselen pada umumnya diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan temperatur peleburan yaitu high-fusing (1290o-1370oC / 2350o - 2500oF), medium-fusing (1090o -1260oC / 2000o -2300 o F), dan low-fusing (870 o - 1070 o C / 1600 o -1950 o F). Pada mahkota tiruan penuh logam porselen digunakan low-fusing porcelain dengan temperature pembakaran 950 o - 1020 oC / 1750- 1860 o F (Rosenstiel ). Porselen dihasilkan dari perpaduan quartz (SiO2), feldspar dan oksida lainnya. Pada mahkota tiruan penuh logam porselen, temperatur pembakaran porselen harus dibawah temperatur peleburan metal dan mempunyai ekspansi termal yang sesuai dengan metal yang digunakan. Si-O mempunyai titik leleh yang tinggi. Pada umumnya potassium dan sodium ditambahkan pada komposisi porselen untuk memecah ikatan Si-O yang dikenal sebagai glass modifiers. Potassium dan sodium terdapat pada feldspars.

Penambahan material ini menyebabkan penurunan temperatur pembakaran dari porselen dan meningkatnya koefisien ekspansi termal. Feldspathic porcelain digunakan pada mahkota tiruan penuh logam porselen, inlay, onlay, atau veneer. Jenis porselen ini mempunyai estetik yang lebih baik dibandingkan dengan jenis porselen lainnya dan membutuhkan preparasi gigi yang lebih sedikit yaitu sekitar 0.5 mm.

Namun, jenis porselen ini juga mempunyai beberapa kekurangan, yaitu lebih sulit dalam hal fabrikasi dan sangat rapuh. Pada pembuatan mahkota tiruan penuh logam porselen, digunakan opaque, body, dan incisal porcelains. Opaque porcelains merupakan lapisan porselen pertama yang melapisi metal yang berfungsi menutupi

warna dari metal dan berperan dalam ikatan antara metal dan porselen. Body porcelains dibakar pada lapisan opaque dan berikatan dengan incisal porcelains. Lapisan ini mempunyai translusensi dan mengandung oksida metal yang berperan dalam penentuan warna. Lapisan terakhir atau incisal porcelains pada umumnya bersifat translusen.

Porselen dibentuk dari bahan logam (seperti aluminium, kalsium, litium,

Porselen dibentuk dari bahan logam (seperti aluminium, kalsium, litium,

Dokumen terkait