• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi perusahaan pertambangan, hasil penelitian dapat dijadikan pedoman dan bahan evaluasi perusahaan pertambangan, dalam pelaksanaan proses peningkatan human capital, terutama intellectual capital dalam pengukuran kinerja keuangan perusahaan sehingga dapat meningkatkan persaingan antara perusahaan serta kemajuan untuk perusahaan yang pendapatanya rendah.

2. Bagi penelitian selanjutnya, hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan tambahan pengetahuan dan acuan atau refrensi untuk penelitian selanjutnya.

8

3. Bagi peneliti, memberikan pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan serta pola pikir dalam menganalisis pengaruh intellectual capital dan nilai pasar saham terhadap kinerja keuangan, dan efeknya terhadap perusahaan pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian yang digunakan ini terdiri dari lima bab, dan uraian lagi ke dalam beberapa sub bab:

BAB I: PENDAHULUAN

Menjelaskan latar belakang yang mendasari munculnya masalah penelitian, rumusan penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

Membahas mengenai teori-teori yang melandasi penelitian dan menjadi dasar untuk menjelaskan mengenai struktur modal, profitabilitas, pertumbuhan perusahaan dan ukuran perusahaan sebagai variabel independen dan juga teori mengenai nilai perusahaan sebagai variabel dependen untuk mengajukan hipotesis penelitian. Pada bab ini juga digunakan penelitian terdahulu untuk memecahkan masalah.

BAB III: METODE PENELITIAN

Berisi tentang uraian mengenai pengambilan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis data termasuk prosedur analisis yang dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian.

BAB IV: ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Merupakan inti dari penelitian yang menguraikan gambaran umum data penelitian dan analisis data berdasarkan hasil yang telah dikumpulkan.

BAB V: SIMPULAN DAN SARAN

Bab ini akan membahas mengenai simpulan dan hasil analisis dari yang telah dilakukan dan saran-saran yang mungkin dapat diajukan dan dilaksanakan untuk penelitian selanjutnya. Sistematika Pembahasan.

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori

2.1.1 Knowladge Based Busniess

Knowladge Based Busniess ialah berupa teknik, metode, cara produksi, serta peralatan atau mesin yang dipergunakan dalam suatu proses produksi.

Teknologi memiliki empat komponen penting, yakni perangkat teknis (technoware), perangkat manusia (humanware), perangkat informasi (infoware), dan perangkat organisasi (orgaware), namun pada umumnya perusahaan-perusahaan di Indonesia masih menggunakan akuntansi konvensional yang menekankan pada penggunaan tangible asset walau sekarang sudah ada yang menggunakan standar IFRS. Perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan perhatian lebih terhadap human capital, structural capital, dan customer capital.

Ketiga komponen intellectual capital tersebut diperlukan untuk menciptakan value added bagi perusahaan sehingga dapat bersaing dalam era knowledge-based business (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Hal ini sejalan dengan pendapat Suryaningsum (2015), bahwa perbedaan pelaporan standar akuntansi dapat mempengaruhi komponen-komponen perhitungan pada hasil akhir laporan keuangan.

2.1.2 Knowledge Based View (KBV)

Pandangan berbasis pengetahuan perusahaan/ Knowledge Based View (KBV) adalah ekstensi baru dari pandangan berbasis sumber daya perusahaan/

Resource-Based View (RBV) dari perusahaan dan memberikan teoritis yang kuat dalam mendukung intellectual capital. KBV berasal dari RBV dan menunjukkan bahwa pengetahuan dalam berbagai bentuknya adalah kepentingan sumber daya (Grant, 1996; Fajariyah, 2012). Asumsi dasar teori berbasis pengetahuan perusahaan berasal dari pandangan berbasis sumber daya perusahaan. Namun, pandangan berbasis sumber daya perusahaan tidak memberikan pengakuan akan pengetahuan yang memadai. Teori berbasis pengetahuan perusahaan menguraikan karakteristik khas sebagai berikut:

1. Pengetahuan memegang makna yang paling strategis di perusahaan.

2. Kegiatan dan proses produksi di perusahaan melibatkan penerapan pengetahuan.

3. Individu-individu dalam organisasi tersebut yang bertanggung jawab untuk membuat, memegang, dan berbagi pengetahuan

(www.encyclopedia.com).

Pendekatan KBV membentuk dasar untuk membangun keterlibatan human capital dalam kegiatan rutin perusahaan. Hal ini dicapai melalui peningkatan keterlibatan karyawan dalam perumusan tujuan operasional dan jangka panjang perusahaan. Dalam pandangan berbasis pengetahuan, perusahaan mengembangkan pengetahuan baru yang penting untuk keuntungan kompetitif dari kombinasi unik yang ada pada pengetahuan (Fleming, 2001). Dalam era

12

persaingan yang ada saat ini, perusahaan sering bersaing dengan mengembangkan pengetahuan baru yang lebih cepat daripada pesaingnya.

2.1.3 Resources-Based Theory (RBT)

Resources-based theory (RBT) adalah suatu teori yang dikembangkan untuk menganalisis keunggulan bersaing suatu perusahaan yang menyatakan bahwa keunggulan bersaing akan tercapai jika suatu perusahaan memiliki sumber daya yang unggul yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain. Sumber daya tersebut menentukan keunggulan kompetitif perusahaan apabila perusahaan memiliki kemampuan strategis untuk memperoleh dan mempertahankan sumber daya (Wernerfelt,1984; Fajariyah, 2012).

Resources-based theory pertama kali dipelopori oleh Penrose (1959); Kor dan Mahoney (2004) yang mengemukakan bahwa sumber daya perusahaan adalah heterogen, tidak homogen, jasa produktif yang tersedia berasal dari sumber daya perusahaan yang memberikan karakter unik bagi tiap-tiap perusahaan. Teori RBT memandang sebuah perusahaan sebagai kumpulan aset atau sumber daya dan kemampuan berwujud maupun tak berwujud (Firer dan Williams, 2003).

Fahy dan Smithee (1999) juga memberikan empat kriteria bagi sumber daya sebuah perusahaan dalam mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan, yaitu: (a) sumber daya harus menambah nilai positif bagi perusahaan, (b) sumber daya harus bersifat unik atau langka diantara calon pesaing dan pesaing yang ada sekarang ini, (c) sumber daya harus sukar ditiru, dan (d) sumber daya tidak dapat digantikan dengan sumber lainnya oleh perusahaan pesaing. Dalam RBV, perusahaan tidak dapat berharap untuk membeli

atau mengambil keunggulan kompetitif berkelanjutan yang dimiliki oleh suatu organisasi lain, karena keunggulan tersebut merupakan sumber daya yang langka, sukar ditiru, dan tidak tergantikan.

2.1.4 Stakeholder

Teori ini memiliki peranan dan kekuasaan yang amat penting dan menjadi pertimbangan bagi pengelola di perusahaan dalam mengungkapkan informasi laporan keuangan. Perusahaan memandang bahwa stakeholders terdiri dari pemegang saham, kreditur, pemerintah, karyawan, pelanggan, pemasok, dan publik (Ghazali dan Chariri, 2008).

Suhenda (2012) mengatakan bahwa kelemahan dari stakeholder theory terletak pada fokus teori tersebut yang hanya tertuju pada cara-cara yang digunakan perusahaan dalam mengatur stakeholder-nya. Perusahaan hanya diarahkan untuk mengidentifikasi stakeholder yang dianggap penting, berpengaruh dan perhatian perusahaan akan diarahkan pada stakeholder yang dianggap bermanfaat bagi perusahaan. Mereka yakin bahwa stakeholder theory mengabaikan pengaruh masyarakat luas (society as a whole) terhadap penyediaan informasi dalam pelaporan keuangan (Ghazali dan Chariri, 2008).

2.1.5 Intellectual Capital (IC)

Intellectual capital memiliki peran penting dalam strategi di perusahaan.

Kartika dan Hatane (2013) mendefinisikan intellectual capital sebagai

“intellectual capital as the intellectual material that has been formalized, capture and leveraged to create wealth by producing a higher value assets”. Dari definisi

14

tersebut dapat disimpulkan bahwa intellectual capital merupakan sumber daya berupa pengetahuan yang tersedia pada perusahaan yang akhirnya mendatangkan future economic benefit pada perusahaan tersebut. Jadi inti dari keberadaan intellectual capital adalah pengetahuan itu sendiri yang didukung proses informasi untuk menjalin hubungan dengan pihak luar.

Banyak definisi mengenai intellectual capital menurut para peneliti, di sini penulis menyimpulkan bahwa intellectual capital merupakan aset utama suatu perusahaan disamping aset fisik dan finansial. Maka dalam mengelolah aset fisik dan finansial dibutuhkan kemampuan yang handal dari intellectual capital itu sendiri, di samping dalam menghasilkan suatu produk yang bernilai diperlukan kemampuan dan daya pikir dari karyawan, sekaligus bagaimana mengelola organisasi dan menjalin hubungan dengan pihak eksternal.

2.1.6 Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™)

Dengan melihat kemampuan intelektual yang dimiliki oleh perusahaan tersebut dan nilai yang dimiliki perusahaan tersebut. Menurut Arifany (2012) adalah sebuah konsep modal yang merujuk pada modal tidak berwujud yang terkait dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan. Namun, menurut Bontis (2000) menyatakan bahwa pada umumnya para peneliti membagi IC menjadi tiga komponen, yaitu : Human capital (HC), structural capital (SC), dan capital employed (CE). Selanjutnya menurut Bontis (2000) secara sederhana HC mencerminkan individual knowledge stock suatu organisasi yang dipresentasikan oleh karyawannya. HC ini termasuk kompetensi, komitmen dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Lebih lanjut, Bontis

(2000) menyebutkan bahwa SC meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Termasuk dalam SC adalah database, organizational chart, process manual, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar dari nilai materialnya. Sedangkan CE adalah pengetahuan yang melekat dalam marketing channels dan customer relationship.

2.1.6.1 Value Added Capital Employed (VACA)

Value Added Capital Employed (VACA) menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap unit dari capital employed terhadap value added organisasi (Ulum, 2009). Value Added Capital Employed merupakan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya berupa capital asset yang apabila dikelola dengan baik akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dewi (2011) Mendefinisikan physical capital sebagai material yang yang digunakan sebagai input dalam produksi dari barang dan jasa yang akan datang.

2.1.6.2 Value Added Capital Human (VAHU)

Human capital merupakan pengetahuan, skill, dan pengalaman yang dibawa pegawai ketika meninggalkan perusahaan. Dewi (2011) yang meliputi pengetahuan individu suatu organisasi yang ada pada pegawainya yang dihasilkan melalui kompetensi, sikap, dan kecerdasan intelektual.

Human capital (modal manusia) mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki orang-orang dalam perusahaan tersebut. Human capital akan meningkat

16

jika perusahaan mampu menggunakan pegetahuan yang dimiliki oleh karyawannya (Sawarjuwono, 2003).

2.1.6.3 Structural Capital Value Added (STVA)

Structural capital merupakan pengetahuan yang tetap berada dalam perusahaan, menurut Suhenda (2012) mampu memberi kemampuan perusahaan dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan. Structural capital timbul dari proses dan nilai organisasi yang mencerminkan fokus internal dan eksternal perusahaan disertai pengembangan dan pembaharuan nilai untuk masa depan.

Structural capital adalah sarana dan prasarana yang mendukung karyawan untuk menciptakan kinerja yang optimum, meliputi kemampuan organisasi menjangkau pasar, hardware, software, database, struktur organisasi, patent, trademark, dan segala kemampuan organisasi untuk mendukung produktivitas karyawan (Bontis, 2000). Konsep adanya modal struktural memungkinkan terciptanya intellectual capital dan menjadi penghubung/ pemroses sumber daya manusia menjadi intellectual capital.

2.1.7 Kinerja Keuangan

Menurut IAI (2010) pengertian kinerja keuangan berdasarkan SAK ETAP adalah hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas sebagaimana disajikan dalam laporan labarugi. Laba sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau

sebagai dasar untuk pengukuran lain, seperti tingkat pengembalian investasi atau laba persaham.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan adalah usaha formal yang telah dilakukan oleh perusahaan yang dapat mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga dapat melihat prospek, pertumbuhan, dan potensi perkembangan baik perusahaan dengan mengandalkan sumber daya yang ada. Suatu perusahaan dapat dikatakan berhasil apabila telah mencapai standar dan tujuan yang telah ditetapkan.

2.1.8 Profitabilitas

Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam kegiatan operasi merupakan fokus utama dalam penilaian prestasi perusahaan. Laba menjadi indikator kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban kepada kreditur dan investor, serta merupakan bagian dalam proses penciptaan nilai perusahaan berkaitan dengan prospek perusahaan di masa depan (Suhenda, 2012).

Rasio profitabilitas perusahaan adalah rasio yang diukur berdasarkan perbandingan antara laba setelah pajak dengan total aktiva perusahaan.

Profitabilitas merupakan ukuran penting untuk menilai perusahaan yang mempengaruhi investor untuk membuat keputusan. Salah satu rasio profitabilitas adalah Return on Asset (ROA) (Suhenda, 2012).

2.1.9 Harga Saham

Harga saham adalah harga suatu saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan

18

dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal (Hartono, 2014). Harga saham merupakan salah satu indikator pengelolaan perusahaan. Keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan akan memberikan kepuasan bagi investor yang rasional. Harga saham yang cukup tinggi akan memberikan keuntungan, yaitu berupa capital gain dan citra yang lebih baik bagi perusahaan sehingga memudahkan bagi manajemen untuk mendapatkan dana dari luar perusahaan.

2.1.9.1 Macam – macam saham

Menurut Hartono (2014) saham memiliki beberapa macam, diantaranya:

a. Saham Preferen

Saham Preferen bersifat gabungan antara saham biasa dan obligasi. Seperti Bond yang membayarakan bunga atas pinjaman, saham preferen juga memberikan hasil yang tetap berupa dividen preferen.

b. Saham Biasa

Saham biasa ialah saham yang di keluarkan perusahaan satu kelas saja, dan pemegang saham biasanya pemilik dari perusahaan yang mewakili kepada manajemen untuk menjalankan perusahaan.

c. Saham Tresuri

Saham Tresuri adalah saham milik perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan beredar yang kemudian di beli lagi oleh perusahaan untuk disimpan sebagai tresuri yang nantinya dapat dijual kembali.

2.1.10 Pertambangan

Pertambangan menurut UU Minerba No.9 (1) Tahun 2009 ialah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.

Jadi pertambangan adalah salah satu jenis kegiatan yang melakukan ekstraksi mineral dan bahan tambang lainnya dari dalam bumi. Sedangkan Penambangan adalah proses pengambilan material yang dapat diekstraksi dari dalam bumi. Tambang adalah tempat terjadinya kegiatan penambangan.

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Regresi modal intelektual memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap profitabilitas.

2 Fathi, Farahmand, Khoransi (2013)

Dependen:

ROA, ROE, GR

Regresi VAICTM berpengaruh positif terhadap ROA, ROE, GR.

20

Dampak Intellcetual Capital terhadap

Kinerja Keuangan. Independen:

VAICTM

4 Widiatmoko (2015)

Pengaruh

6 Jayanti (2016)

Berdasarkan penjelasan kerangka pemikiran yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dibuat sebuah paradigma penelitian mengenai penelitian ini sebagai berikut :

Gambar 2.1

22

2.4 Hipotesis Penelitian

2.4.1 Pengaruh intellectual capital VACA terhadap kinerja keuangan.

Capital employed (CE) menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya berupa capital asset yang apabila dikelola dengan baik akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. VACA merupakan bentuk dari kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber dayanya yang berupa capital asset. Dengan pengelolaan dan pemanfaatan capital asset yang baik, maka perusahaan dapat meningkatkan kinerja keuangan, pertumbuhan perusahaan, dan nilai pasar (Kusumo, 2012). Pemanfaatan capital asset yang digunakan dapat meningkatkan ROA, karena modal yang digunakan merupakan nilai aset yang berkontribusi pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan.

Semakin baik perusahaan mengelola ketiga komponen intellectual capital, menunjukkan semakin baik perusahaan mengelola aset. Bila perusahaan mampu mengelola aset dengan baik dan dapat menekan biaya operasional sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dari hasil kemampuan intelektual perusahaan. Hal ini didukung oleh penelitian Rahcmawati (2012) dan Chen (2005), Sehingga dapat disimpulkan bahwa capital employed memiliki pengaruh sigfnifikan terhadap kinerja keuangan dan hubungan positif.

H1: Intellectual capital VACA berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

2.4.2 Pengaruh intellcetual capital VAHU terhadap kinerja keuangan.

Human capital (HC) menggambarkan sumber daya manusia dengan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang unggul, maka dapat

meningkatkan kinerja keuangan perusahaan sehingga mencapai keunggulan kompetitif. Indikasi gaji dan tunjangan yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan, mampu meningkatkan karyawan dalam mendukung kinerja keuangan perusahaan sehingga HC dapat menciptakan value added serta meningkatkan pendapatan dan profit perusahaan. Laba akuntansi merupakan ukuran return bagi pemegang saham (shareholder), sementara value added merupakan ukuran yang lebih akurat yang diciptakan oleh stakeholder (Ulum, 2008). Value added yang dimiliki perusahaan salah satunya dihasilkan oleh efisiensi dari human capital.

Artinya, perusahaan mampu memaksimalkan pengetahuan, keahlian, jaringan sehingga menciptakan nilai, sehingga hal ini juga dapat menguntungkan shareholder karena manajemen mampu mengelola organisasi untuk kepentingan mereka. Salah satu ukuran kepentingan shareholder yaitu ROA.Pendapat ini didukung oleh penelitian Ahangar (2011) dan Zulfiani (2016), Sehingga dapat disimpulkan bahwa human capital memiliki pengaruh signifikan terhadap profitabilitas kinerja keuangan dan hubungan positif.

H2: Intellectual capital VACA berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

2.4.3 Pengaruh intellcetual capital STVA terhadap kinerja keuangan.

Structural capital (SC) menggambarkan modal yang dibutuhkan perusahaan untuk memenuhi proses rutinitas perusahaan dalam menghasilkan kinerja yang optimal, serta kinerja bisnis secara keseluruhan, misalnya sistem operasional perusahaan, proses pertambangan, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk intellectual property yang dimiliki perusahaan

24

(Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Tanpa diiringi oleh pengelolahan SC yang baik maka akan menghambat produktivitas karyawan dalam menghasilkan value added (Basyar, n.d). Manajemen yang mampu mengelolah SC dengan baik akan membantu meningkatkan kinerja perusahaan sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan profit perusahaan. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang di lakukan Zulfiani (2016), Fajarini dan Firmansyah (2012), Dapat disimpulkan bahwa structural capital memiliki pengaruh sigfnifikan terhadap profitabilitas dan hubungan positif.

H3: Intellectual capital STVA berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

2.4.4 Pengaruh PER terhadap kinerja keuangan.

Price Earning Ratio (PER) adalah rasio yang digunakan untuk menghitung tingkat pengembalian modal yang diinvestasikan pada suatu saham. Atau, menghitung kemampuan suatu saham dalam menghasilkan laba. Selain itu, merupakan indikator perkembangan atau pertumbuhan dimasa yang akan datang (Tryfino, 2009; Mulia dan Nurdhiana, 2011).

Pendapat tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan, Budiardjo dan Hapsari (2011) yang menyimpulkan bahwa Price Earning Ratio (PER) mempunyai pengaruh positif terhadap keputusan perusahaan untuk melakukan stock split. Hal ini berarti PER yang semakin tinggi maka semakin tinggi juga probabilitas perusahaan untuk melakukan stock split. Dengan ini berarti perusahaan dapat meningkatkan kinerja keuangan dengan cara stock split.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Kafha (2015), menyimpulkan bahwa Terdapat pengaruh positif antara PER dan kinerja keuangan (ROA). Berdasarkan

penelitian yang telah diuraikan dalam hipotesis ini, dapat di lihat bahwa nilai pasar saham berpengaruh terhadap kinerja keuangan dalam PER. Maka dari itu hipotesisnya adalah:

H4: PER berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

26

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menurut Martono (2007), metode penelitian kuantitatif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang berupa angka dan kemudian diolah serta dianalisis untuk mendapatkan suatu informasi ilmiah di balik angka-angka tersebut.

3.1 Populasi dan Sampel

Populasi merupakan keseluruhan gejala atau satuan yang ingin diteliti, sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti (Prasetyo dan Jannah, 2005). Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013–2015.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2013). Sampel dipilih dengan metode purposive sampling yaitu penentuan sampel dengan target atau perimbangan tertentu.

Adapun kriteria yang digunakan untuk memilih sampel adalah sebagai berikut:

1. Terdaftar di Bursa efek Indonesia (BEI).

2. Memiliki laporan keuangan yang lengkap setiap tahunnya dari tahun 2013-2015.

3. Aktif dalam jual-beli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

3.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI. Data sekunder adalah data yang informasinya diperoleh secara tidak langsung dari perusahaan. Data-data tersebut diperoleh dari situs BEI yaitu www.idx.co.id, dan Indonesia Capital Market Directory (ICMD). Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah informasi keuangan yang berhubungan dengan variabel penelitian pada satu periode operasi perusahaan dan pada tahun pengamatan penelitian, yaitu tahun 2013-2015.

3.3 Variabel Penelitian 3.3.1 Klasifikasi Variabel 3.3.1.1 Variabel Dependen

Variabel dependen sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Disebut variabel terikat karena variabel ini dipengaruhi oleh variabel bebas/ variabel independen (Sugiyono, 2007). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan (Y).

3.3.1.2 Variabel Dependen

Variabel Independen ialah variabel bebas atau variabel yang tidak terkait.

Dalam penelitian ini, pengukuran yang dilakukan terhadap intellectual capital dan nilai harga saham. Sebelum melakukan metode perhitungan, intellectual capital VACA(X1), intellectual capital VAHU (X2), intellectual capital STVA (X3).

28

Ketiga komponen tersebut diukur menggunakan metode pengukuran Value Added Intellectual Capital (VAICTM) yang dikembangan oleh Pulic (2000). Intellectual capital yang dimaksud merupakan sumber daya berupa pengetahuan seperti pelanggan, karyawan, dan teknologi dimana perusahaan dapat menggunakannya dalam proses penciptaan nilai (Ulum,2009). Selanjutnya ialah nilai harga saham.

Nilai harga saham dapat diukur menggunakan rasio keuangan. Diantaranya yang digunakan dalam penelitian ini ialah Price Earning Ratio (PER)(X4). Alasan digunakan, agar menemukan hasil yang valid dari berbagai sektor pengukuran nilai harga saham.

3.3.2 Definisi Operasional

Pada penelitian ini setiap variabel akan diukur dengan indikator-indikator tertentu yang sesuai dengan variabel yang bersangkutan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau perbedaan pandangan dalam mendefinisikan variabel-variabel yang dianalisis. Definisi operasional dalam penelitian ini antara lain:

3.3.2.1 Kinerja keuangan

Kinerja keuangan (Y). merupakan salah satu bentuk efek dari pendapatan perusahaan, biasanya dapat berbentuk laba maupun kerugian. Semakin produktifnya karyawan semakin tinggi juga pendapatan perusahaan, begitu juga dengan nilai pasar saham, semakin banyak investor saham yang membeli lembar saham, semakin banyak keuntungan yang didapat oleh perusahaan. Maka dari itu, variabel yang digunakan oleh penelitian ini untuk menghitung kinerja keuangan adalah ROA (Y):

Return On Asset ROA = Dengan demikian, kinerja keuangan merupakan variabel yang pas sebagai variabel terikat antara intellectual capital dengan nilai harga saham.

3.3.2.2 Intellectual Capital (IC)

Intellectual capital dapat diukur menggunakan metode pengukuran Value Added Intellectual Capital (VAICTM) yang dikembangan oleh Pulic (2000), variabel independen dalam penelitian ini diukur berdasarkan value added yang diciptakan oleh Value Added Capital Employed (VACA) (X1). Cara perhitungan dalam mengukur intellectual capital yaitu:

Menghitung Value Added (VA). VA dihitung sebagai selisih antara output

Menghitung Value Added (VA). VA dihitung sebagai selisih antara output

Dokumen terkait