Manfaat penelitian di atas adalah agar dapat memberikan wawasan dan pemahaman bagi para remaja bagaimana cara menggunakan media sosial yang baik dan benar, agar para remaja dapat memahami dampak positif dan dampak negatif yang di timbulkan dari menggunakan media sosial. Penelitian ini juga bermanfaat untuk para remaja yang menggunakan media sosial agar dapat menambah beberapa ilmu pengetahuan dan memberikan peringatan akan soal ibadah.
2. Manfaat Praktis a. Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dalam kegiatan proses belajar tentang dampak media sosial terhadap akhlak keagamaan (studi kasus anak remaja usia 9 sampai 15 tahun di RT.007 RW.001 Kelurahan Kedoya
Utara Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran.
b. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan penelitian selanjutnya dampak media sosial terhadap akhlak keagamaan (studi kasus anak remaja usia 9 sampai 15 tahun di RT.007 RW.001 Kelurahan Kedoya Utara Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat yang lainnya.
F. Sistematika Penyusunan
Untuk mempermudah pembahasan dan keteraturan dalam penulisan skripsi ini, penulis membagi materinya lima bab, dengan sistematika penulisan sebagai berikut.
BAB I Adalah pendahuluan, berisikan Latar Belakang Masalah, Identifikasi Penelitian, Rumusan Penelitian, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
BAB II Tujuan Pustaka tentang Dampak Media Sosial Perilaku Keagamaan para remaja berisikan tentang Pengertian Dampak, Pengertian Media Sosial, Sejarah Media Sosial, Jenis-jenis Media Sosial, Pengertian Ilmu Keagamaan, Ruang Lingkup Ilmu Keagamaan, dan Metode Ilmu Keagamaan.
BAB III Metodologi Penelitian, Tempat Dan Waktu Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis Data.
BAB IV Hasil Penelitian yang berisikan tentang Penyajian Hasil Penelitian Data, Uji Validasi dan Reabilitas Angket, Uji Hipotesis Penelitian dan Pembahasan
BAB V Kesimpulan dan Saran.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Media Sosial
1. Pengertian Media Sosial
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial dan wiki, forum dan dunia virtual (Cahyono 2016). Blog jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat diseluruh dunia.
Pendapat lain mengatakan media sosial adalah situs menjadi tempat orang-orang berkomunikasi dengan teman-teman yang mereka kenal didunia nyata dan dunia maya. (Rangga 2015).
2. Sejarah Media Sosial
Media sosial mengalami perkembangan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun, jika pada tahun 2002 Friendster merajai media sosial karena hanya Friendster yang mendominasi media sosial di era tersebut, kini telah banyak bermunculan media sosial dengan keunikan dan karakteristik masing-masing.
Sejarah media sosial diawali pada era 70-an, yaitu di temukannya sistem papan bulletin yang memungkinkan untuk dapat berhubungan dengan orang lain menggunakan surat elektronik ataupun mengunggah dan mengunduh perangkat lunak, semua ini dilakukan masih dengan menggunakan saluran telepon yang terhubung dengan modem.
Pada tahun 1995 lahirlah situs GeoCities, GeoCities melayani web hosting (layanan penyewaan penyimpanan data-data website agar website dapat diakses dari manapun). GeoCities merupakan tonggak awal berdirinya website-website. Pada tahun 1997 sampai tahun 1999 munculah media sosial pertama yaitu Sixdegree.com dan Classmates.com. Tak hanya itu, ditahun tersebut muncul juga situs untuk membuat blog pribadi, yaitu Blogger. situs ini menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri. Sehingga pengguna dari Blogger ini bias memuat hal tentang apapun.
Pada tahun 2002 Friendster menjadi media sosial yang sangat booming dan kehadirannya sempat menjadi fenomenal. Setelah itu pada tahun 2003 sampai saat ini bermunculan berbagai media sosial dengan berbagai karakter dan kelebihan masing-masing, seperti LinkedIn, MySpace, Facebook, Twitter, Wiser, Google+ dan lain sebagainya. Media sosial juga kini menjadi sarana atau aktivitas digital marketing, seperti media sosial Maintenance, media sosial Endorsement dan media sosial
Activation. Oleh karena itu, media sosial kini menjadi salah satu servis yang ditawarkan oleh Digital Agency. (Rangga 2015).
3. Jenis-jenis Media Sosial
Adapun macam-macam media sosial menurut Rulli Nasrullah (R.
Nasrullah 2015) adalah sebagai berikut :
a. Blog
Blog merupakan media sosial yang memungkinkan penggunanya untuk mengunggah aktivitas keseharian, saling mengomentari dan beragi, baik tautan web lain, informasi dan sebagainya.
b. Microblogging
Jenis media sosial yang memfasilitasi pengguna untuk menulis dan memublikasikan aktivitas atau pendapatnya. Kehadiran jenis media sosial ini merujuk pada munculnya Twitter yang hanya menyediakan ruang tertentu atau maksimal 140 karakter.
c. Facebook
Facebook adalah sebuah situs jejaring sosial yang dipaki manusia untuk berinteraksi dengan manusia lain dengan jarak yang jauh. Facebook memiliki berbagai macam aplikasi tambahan seperti game, chating, videochat, halaman komunal, dan lain-lain. Oleh sebab itu, facebook dianggap sebagai media sosial dengan fitur yang dianggap paling familiar dengan berbagai kalangan baik tua maupun muda (Ega Dewa Putra, 2014: 8).
d. Twitter
Twitter adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh twitter.inc dan merupakan salah satu layanan jejaring sosial dan microblog daring yang memungkinkan para penggunanya untuk mengirim, menerima dan membaca pesan berbasis teks yang jumlah karakternya mencapai 140 karakter, yang dikenal dengan sebutan kicauan (tweet).
e. Instagram
Instagram merupakan suatu jejaring sosial yang di dalamnya fokus kepada berbagi foro penggunanya. Nama instagram terdiri dari dua kata yaitu “insta” dan “gram”. Insta berasal dari kata instan, yang dapat diartikan dengan kemudahan dalam mengambil dan melihat foto. Gram berasal dari kata telegram, yang dapat diartikan dengan mengirim sesuatu (foto) kepada orang lain.
f. LINE
LINE adalah sebuah aplikasi pengirim pesan instan gratis yang dapat digunakan pada berbagai platform seperti smartphone, tablet, dan komputer. LINE difungsikan dengan menggunakan jaringan internet sehingga pengguna LINE dapat melakukan aktivitas seperti mengirim pesan teks, mengirim gambar, video, pesan suara dan lain lain.
g. BBM (BlackBerry Messanger)
Berdasarkan Wikipedia bahasa Indonesia BlackBerry Messenger sebuah aplikasi pengirim pesan instan yang disediakan untuk para pengguna
perangkat BlackBerry. Aplikasi ini mengadopsi 18 kemampuan fitur atau aktivitas yang populer di kalangan pengguna perangkat telepon genggam. Dengan aplikasi ini seseorang dapat berbagi informasi, seperti teks, gambar, dan video. BBM memilikisifat personalisasi. (R. Nasrullah 2015).
4. Dampak Media Sosial
Kehadiran media sosial memberikan banyak manfaat bagi masyarakat umum khususnya pada anak-anak. Menurut Telkom Indonesia dalam buku 17 rumus keren internet baik (2016), ada beberapa dampak positif media sosial bagi anak-anak diantaranya :
a. Anak-anak dapat memperluas pertemanan meski sebagian besar tidak pernah mereka temui secara langsung.
b. Termotivasi untuk belajar dan mengembangkan diri melalui teman- teman yang mereka jumpai di media sosial.
c. Dapat memperluas jaringan pertemanan.
d. Menambah wawasan tentang berita yang sedang dibicarakan oleh banyak orang.
e. Sebagai media dakwah dan diskusi.
Dari uraian diatas banyak dampak positif dari media sosial bagi anak-anak dan remaja. Dengan media sosial anak-anak dapat menambah wawasan atau mencari informasi tentang pendidikan.
Selain dampak positif, media sosial juga memiliki dampak negatif bagi masyarakat umum khususnya pada anak-anak dan remaja (R. Nasrullah 2015). Berikut beberapa dampak negatif dari penggunaan media sosial : a. Anak-anak menjadi malas berkomunikasi dengan dunia nyata.
b. Media sosial membuat anak-anak mementingkan diri sendiri.
c. Sulit membedakan berkomunikasi di media sosial dan dunia nyata.
d. Mengurangi waktu untuk belajar.
e. Menjadi media bagi predator untuk melakukantindak kejahatan.
f. Dapat mengganggu kesehatan mata.
g. Anak-anak jadi malas belajar.
h. Memicu terjadinya aksi pornografi dan pelanggaran asusila terhadap anak-anak.
i. Menghamburkan uang.
B. Akhlak Keagamaan
1. Pengertian Akhlak Keagamaan
Sebelum membahas tentang akhlak keagamaan, penulis akan membahas pengertian akhlak terlebih dahulu. Akhlak merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. (D. S.
Retnoningsih 2011). Keagamaan berasal dari kata agama yang berarti sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang telah bertalian dengan kepercayaan itu.
(Retnoniungsih 2011).
Sedangkan menurut beberapa ahli, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dari Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Akhlak adalah tanggapan reaksi individu yang terwujud dalam gerakan (sikap) tidak saja badan dan ucapan. (D. P. Kebudayaan 1990). Sedangkan menurut Ahmad Amin dalam buku “etika”. Akhlak keagamaan merupakan setiap perbuatan yang didasarkan kehendak disebut kelakuan, seperti kata benar atau dusta, perbuatan dermawan atau kikir. (Amin 1983).
Karena agama yang dimaksud dalam pembahasan skripsi ini adalah agama islam, maka secara sederhana pengertian akhlak keagamaan merupakan segala perilaku seseorang yang dilandasi oleh ajaran-ajaran Islam, baik berbentuk vertikal maupun yang berbentuk horizontal. Hal ini sesuai dengan pendapat Drs. H.M. Hafi Anshori bahwa, “Kelakuan religious menurut sepanjang ajaran agama berkisar dari perbuatan- perbuatan ibadah, atau amal sholeh dan akhlaq baik secara vertikal terhadap Tuhan maupun secara hoirosontal sesama makhluk”.
Jadi kesimpulannya, akhlak keagamaan adalah tindakan dan perbuatan sesorang yang sehari-harinya tidak lepas dari aktivitas yang berhubungan dengan agama yang diyakininya supaya tidak terjadi kecanduan didalam kehidupannya.
Membicarakan tentang akhlak keagamaan, akan ditemukan adanya ajaran agama yaitu norma dan akhlak yang tinggi, kebersihan jiwa, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya. Itulah norma yang diajarkan agama karena tanpa adanya ajaran, norma tidak akan berarti karena
penyebabnya manusia akan sesuka hati dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memikirkan baik buruknya.
Menurut Djamaludin Ancok dan Fuad Anshori Suroso bahwa aktifitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. (D. D. Suroso 1994)
Akhlak keagamaan terbentuk dan dipengaruhi oleh dua faktor, dimana kedua faktor ini bisa menciptakan kepribadian dan akhlak keagamaan seseorang. Kedua faktor tersebut yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern ini menyatakan bahwa manusia adalah homo religius (makhluk beragama), karena manusia sudah memiliki potensi untuk beragama, dimana tiap-tiap manusia yang lahir ke muka bumi membawa suatu tabiat dalam jiwanya, tabiat ingin beragama yaitu ingin mengabdi dan menyembah kepada sesuatu yang dianggapnya maha kuasa. Pembawaan ingin beragama ini memang telah menjadi fitrah kejadian manusia yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dalam diri manusia. (Hakim 1979) Sedangkan faktor ekstern yaitu segala sesuatu yang ada diluar pribadi dan memiliki pemgaruh pada perkembangan pribadi dan agama seseorang seperti keluarga, teman, dan lingkungan sehari-hari.
Menurut Roland Robertson ada lima dimensi yang dapat dibedakan dalam hal ini. Setiap dimensi beraneka ragam kaidah dan unsur lainnya dari
berbagai agama dunia yang dapat digolongkan. Dimensi tersebut adalah keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi, terbagi menjadi:
a. Dimensi keyakinan. Dimensi ini berisikan pengharapan-pengharapan dimana orang yang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu, mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan dimana para penganut diharapkan akan taat.
b. Dimensi praktek agama. Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktek-praktek keagamaan ini terdiri dari dua kelas penting:
1) Ritual mengacu kepada seperangkat ritus, tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang semua agama mengharapkan para penganutnya melaksanakan. Dalam Kristen sebagian dari pengharapan ritual formal itu diwujudkan dalam kebaktian di gereja, persekutuan suci, baptis, perkawinan dan semacamnya.
2) Ketaatan dan ritual bagaikan ikan dengan air, meski ada perbedaan penting. Apabila aspek ritual dari komitmen sangat formal dan khas publik, semua agama yang dikenal juga mempunyai perangkat tindakan persembahan dan konteemplasi personal yang relatif spontan, informasi, dan khas pribadi. Ketaatan di kalangan penganut
Krisrten diungkapkan melalui sembahyang pribadi, membaca injil dan barangkali menyanyi hymne bersama-sama.
c. Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengani kenyataan terakhir.
d. Dimensi pengetahuan agama. Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci, dan tradisi-tradisi.
e. Dimensi konsekuensi. Konsekuensi komitmen agama berlainan dari keempat dimensi yang sudah dibicarakan diatas. Dimjensi ini mengacu kepada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktek, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. (Robertson 1980)
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Keagamaan
Perilaku keagamaan terbentuk dan dipengaruhi oleh dua faktor, dimana kedua faktor ini bisa menciptakan kepribadian dan perilaku keagamaan seseorang. Kedua faktor tersebut adalah faktor intern dan ekstern.
a. Faktor Intern
Faktor intern merupakan pengaruh emosi (perasaan) yang mana dari pengaruh emosi (perasaan) tersebut akan memunculkan selektifitas.
Selektifitas disini merupakan adanya pilih atau minat perhatian untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar diri manusia. Emosi mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam pembentukan perilaku keagamaan. Hal ini didukung oleh Dr. Zakiyah Darajat yang menyatakan:
“sesungguhnya emosi memegang peran penting dalam sikap dan tindak agama seseorang yang dapat dipahami tanpa menghindari emosinya, (Drajat 1970) lebih ditegaskan lagi bawa sesungguhnya pengaruh perasaan (emosi) jauh lebih besar daripada rasio (logika).” (Drajat 1970) b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern yaitu segala sesuatu yang ada diluar pribadi dan mempunyai pengaruh pada perkembangan pribadi dan juga keagamaan seseorang. Faktor ekstern diantaranya meliputi:
1) Lingkungan keluarga, pengaruh keluarga besar sekali terhadap tingkah laku anggotanya karena lingkungan merupakan pendidikan utama dan pertama bagi anggotanya. Situasi pendidikan dalam keluarga akan terwujud dengan baik berkat adanya pergaulan dan hubungan saling mempengaruhi cara timbal balik antara orang tua dan anak. Suasana keluarga yang terbiasa melakukan perbuatan- perbuatan terpuji dan meninggalkan yang tercela akan menyebabkan
anggotanya tumbuh dengan wajar dan akan tercipta keserasian dalam keluarga. Sehingga pengaruh keluarga akan membekas sekali bukan hanya dalam pribadi keluarganya tetapi juga dalam sikap perilaku keagamaannya anggotanya.
2) Lingkungan masyarakat, masyarakat Indonesia bisa dibilang sebagai masyarakat yang berjiwa masyarakat sosialitas-religious, sikap pribadinya berkembang dalam ruang lingkup (pola) sosialitas dan religious. Dimana garis hidup yang menghubungkan khaliqnya (garis vertikal) merupakan kerangka dasar sikap dan pandangan yang selalu berkembang secara harmonis. Dan untuk memperoleh kerangka dasar sikap dan pandangan, manusia mengalami perkebangan yang berada dalam proses belajar secara individual dan belajar secara sosial.antara individual “learning” dan “sosial learning” terjadi suatu perpaduan dalam rangka menentukan pribadi manusia sebagai anggota masyaerakat atau kelompok. (Arifin 1997)
3. Bentuk-bentuk Akhlak Keagamaan
Berdasarkan pengertian perilakun keagamaan seperti yang dijelaskan diatas yaitu tindakan dan perbuatan sesorang yang sehari-harinya tidak lepas dari aktivitas yang berhubungan dengan agama yang diyakininya supaya tidak terjadi kecanduan didalam kehidupannya. Cara umum didalam skrisi hanya akan dibahas tiga bentuk perilaku keagamaan yang dapat dirumus sebagai berikut:
a. Disiplin menjalankan perintah sholat
Sholat dari segi bahasa berarti do’a dan menurut istilah syara berarti ucapan dan pekerjaan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri atau di tutup dengan salam, dengan syarat tertentu. (Syamsidin 1996).
Sebagai salah satu rukun islam, sholat merupakan tonggak segala macam ibadah. Oleh karena itu, sholat dilambangkan sebagai tiang agama artinya tegak dan tidaknya agama itu akan tercermin dari ada tidaknya orang melakukan sholat.
Dalam kehidupan sehari-hari apabila sholat dikerjakan dengan rajin dan kehusyukan maka akan menuntun kearah kebenaran perilaku dan sekaligus akan mampu menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk.
Dengan demikian orang yang telah mampu mengerjakan sholat dengan continue dengan baik dan benar penuh kehusyukan, maka mereka orang-orang yang mendapat kebahagiaan. Firman Allah:
)2( ن و خاشع ْ ْ هم ْ ت ْل ْ ص ي ْ هم ف ن ن ْي ْذ ( 1
ا ْ ْل ) مؤم و ْن ْ ح ْل ا ْل ف ْ ْ قدا
Terjemahnya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, (QS. Al-Mukminun 1-2).
Jadi yang dimaksud dengan disiplin menjalankan perintah sholat adalah ketaatan, kepatuhan, keteraturan seseorang didalam menunaikan ibadah sholat wajib yang terdiri dari lima waktu sehari semalam lengkap dengan syarat dan rukun-rukunnya. (Rifa'i 1992)
b. Jujur dan benar
Jujur adalah sifat yang melekat dalam diri seseorang dan merupakan hal penting untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Tabrani Rusyan, arti jujur dalam Bahasa Arab merupakan terjemahan dari kata shidiq yang artinya benar, dapat dipercaya. Dengan kata lain, jujur adalah perkataan dan perbuatan sesuai dengan kebenaran.
Jujur merupakan induk dari sifat-sifat terpuji (Mahmudah). Jujur juga disebut dengan benar memberikan sesuatu yang benar atau sesuai dengan kenyataan. (Badri 2008).
Kejujuran atau kebenaran sendiri merupakan sendi yang terpenting bagi berdiri tegaknya masyarakat. Tanpa kebenaran akan hancurlah masyarakat sebab hanya dengan kebenaran dapat tercipta adanya saling pengertian dan kepercayaan.
Maka islam menganjurkan bahkan menekankan agar unsur kejujuran ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil agar mereka terbiasa melakukan kejujuran. Kita tidak akan merasa tentram bila melakukan kebohongan dengan demikian kita akan selalu dapat mengendalikan diri dari ketidakjujuran sehingga orang lain akan merasa senang kepada kita. Sebagaimana firman Allah swt:
)119( ن ا ص ْي
دق ْ لا عم وا وكو ْن ْن آم و ن ْق ْ ْت ْوااى ْذ ْي ل آ ْ ي ا ْا ه ْ ْ ي ْ ا
Terjemahnya: “ Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
(QS. At-Taubah:119).
C. Teori Tentang Media Sosial dan Akhlak Keagamaan
Thorton menyatakan bahwa gagasan tentang budaya autentik yang terbentuk diluar media adalah sesuatu yang fleksibel namun salah arah karena perbedaan subkultur pemuda. Dalam banyak kasus adalah fenomena media.
Menurutnya, media adalah bagian integral dari pembentukan subkultur dan bagian formulasi anak-anak muda atas aktivitas mereka. (Barker 2005).
Media masa biasanya dianggap sebagai sumber berita dan hiburan.
Media masa juga membawa pesan persuasi kepada setiap orang yang menggunakannya. (D. Holmes 2012) Media masa yang telah memasuki kehidupan modern. Setap hari masyarakat memainkan gadget yang terhubung dalam jaringan internet, kita perlu tahu banyak tentang bagaimana cara kerja media masa, seperti berikut:
1. Melalui media masa kita mengetahui hampir segala sesuatu yang kita tahu tentang dunia diluar lingkungan kita tentang badai, gempa jika tidak ada internet televisi dan lain sebagainya.
2. Masyarakat yang berpengetahuan dan aktif sangat mungkin terwujud didalam demokrasi modern hanya jika media masa berjalan dengan baik.
3. Orang membutuhkan untuk mengekspresikan ide-ide mereka ke halayak luas.
4. Negara-negara kuat menggunakan media masa untuk menyebarkan ideologinya dan untuk tujuan komersial. Menurut Chris Barker media masa memainkan peran yang sangat penting. Melalui konsep “kepanikan moral”
dan “perluasan menyimpang”, para penulis semacam Cohn dan Young menempatkan media pada posisi central dalam penciptaan dan keberlangsungan penyimpangan subkiltur pemuda. Media dikatakan terikat dalam sekelompok anak muda terrtentu dan memberi lebel akhlak mereka dengan sebutan menyimpang, mengganggu dan kelihatannya akan terus berulang perilaku mereka sebagai iblis rakyat kontemporer. (Barker 2005).
Hal diatas menandakan, bahwa media mempunyai peran dan pengaruh yang sangat signifikan bagi individu atau kelompok tertentu. Gagasan bahwa pemerintah adalah pusat struktur kehidupan manusia kini mulai mengalami perubahan. Dengan media masa mengambil alih peran utama itu. Di seluruh dunia kekuasaan yang pernah dipegang pemerintah untuk mengontrol komunikasi masa kini telah jauh melemah.
Media sosial termasuk internet memiliki pengaruh dan efek terhadap masyarakat secara langsung atupun tidak, khususnya bagi remaja yang masih relatif labil dalam struktur sosial masyarakat. Menurut Castells, internet bukanlah samudera tanpa bentuk yang individu-individu bisa menyelam ke dalamnya, tetapi justru suatu galaksi berisi sub-sub media yang diatur “internet telah disesuaikan oleh praktek sosial, dalam suasana keberagamannya, walau penyesuaian ini emang punya efek khusus pada praktek sosial itu sendiri.”
Castells menyimpulkan bahwa forum-forum pembangunan identitas online yang tersedia di internet sebagian besar terkonsentrasi pada kalangan remaja. Kaum remaja yang dalam proses menemukan jati diri yang bereksperimen dengan itu untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya atau siapa yang mereka ingin jadi. (D. Holmes 2012).
Selain beberapa teori diatas, penulis juga menggunakan teori dari Raimond F. Paloutzian terkait tentang akhlak keagamaan. Dalam pembahasan tentang masalah akhlak keagamaan peneliti akan menggunakan salah satu teori dari Raimond F. Paloutzian. Menurut Raimond F. Paloutzian orientasi keagamaan seseorang akan mempengaruhi sikapnya, dan begitu pula sikap keagamaannya pada gilirannya akan mempengaruhi akhlak keagamaannya.
Dalam hal sikap, orientasi beragama sikap yang secara (morally relevant attitute), misalnya dalam bentuk prasangka (prejudice) terhadap pihak lain. Dari sikap yang secara moral relevan ini pada gilirannya akan melahirkan perilaku sosial yang secara moral relevan (morally relevant action). (Raymond 1996) Orientasi beragama secara devinitif berwujud pada makna iman atau agama dalam kehidupan seseorang. Mengingat beragamanya makna iman bagi manusia, maka secara garis besar orientasi beragama kemudian dibedakan dalam dua kategori, yaitu orientasi intrinsik dan orientasi ekstrinsik. Orientasi
Dalam hal sikap, orientasi beragama sikap yang secara (morally relevant attitute), misalnya dalam bentuk prasangka (prejudice) terhadap pihak lain. Dari sikap yang secara moral relevan ini pada gilirannya akan melahirkan perilaku sosial yang secara moral relevan (morally relevant action). (Raymond 1996) Orientasi beragama secara devinitif berwujud pada makna iman atau agama dalam kehidupan seseorang. Mengingat beragamanya makna iman bagi manusia, maka secara garis besar orientasi beragama kemudian dibedakan dalam dua kategori, yaitu orientasi intrinsik dan orientasi ekstrinsik. Orientasi