BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang di laksanakan ini dapat memberikan manfaat kepada banyak pihak. Adapun manfaat yang ingin dicapai:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan wawasan dan gambaran yang jelas tentang efektifitas pembelajaran tatap muka terbatas pada pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial IPS saat pandemi covid-19 di SD Negeri 234 Inpres Takalar Kota.
2. Manfaat Praktis 1) Bagi Pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat membeirkan bahan masukan bagi pemaca. Bagi guru diharapkan memberikan masukan untuk mengatasi masalah-masalah dalam proses pembelajaran. Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar baik dirumah maupun di sekolah. Bagi sekolah penelitian ini diharapkan memberikan masukan bagi pemimpin dan pengelola sekolah dalam rangka kinerja guru secara keseluruhan dalam proses pembelajaran.
2) Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan penelitian khususnya dalam bidang pendidikan tentang efektifitas pembelajaran tatap muka terbatas pada pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial (IPS) saat pandemi covid-19 di SD Ngeri 234 Inpres Takalar Kota.
.
6 BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori 1. Efektifitas
a. Definisi Efektifitas
Efektifitas menurut Hidayat yang dikutip oleh Mustofa (2021 : 19) mengungkapkan bahwa “Efektifitas merupakan standar yang mencapai suatu tuntutan (kuantitas, kualitas dan waktu) yang mana semakin tinggi keberhasilan tuntutan tersebut maka akan semakin tinggi pola tingkat keefektifitasnya”.
Efektifitas adalaha suatu kondisi atau keadaan dimana dalam memilih tujuan kehendak yang ingin dicapai atau sasaran atau peralatan yang digunakan disertai dengan kemampuan yang dimiliki adalah tepat, sehingga tujuan yang diinginkan dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan. Secara etimologi kata efektifitas di ambil dari kata efek yang mempunyai arti akibat atau pengaruh, sedangkan efektif merupakan suatu pengaruh yang menyatakan suatu sebab dan akibat.
Maka, efektifitas merupakan sesuatu kegiatan atau keadaan yang mempengaruhi dan dapat dipengaruhi dalam mewujudkan keberhasilan kegiatan atau keadaan tersebut.
Saefuddin (2016 : 34) menyatakan bahwa:
“Pembelajaran efektif adalah apabila tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan berhasil guna di terapkan dalam pembelajaran. Pembelajaran efektif dapat tercapai jika mampu memberikan pengalaman baru, membentuk kompetensi peserta didik dan menghantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Guru harus mampu merancang dan mengelola pembelajaran dengan metode atau model yang tepat.”
Hernowo dalam Sefuddin (2016 : 34) menjelaskan bahwa belajar akan berlangsung sangat efektif jika berada dalam keadaan yang menyenangkan.
Peserta didik belajar tidak dalam keadaan tertekan. Mereka melaksanakan semua tugas dan kegiatan dengan ikhlas, senang, dan bersemangat.
Dilihat dari pendapat beberpa ahli dapat disimpulkan bahwa Efektifitas dalam pembelajaran dapat dikatakan jika mencapai target atau hasil. Guru bersama peserta didik mengarahkan dan menciptakan pengalama-pengalaman belajar yang menantang agar peserta didik secara mandiri maupu berkelompok terinspirasi untuk berkreasi, berinovasi, berinisiasi dan berprakarsa dalam mengembangkan ide dan gagasan sehingga pembelajaran menjadi bermakna dengan mencapai tujuan dan hasil yang telah dirumuskan sebelumnya.
Keefektifan dalam melaksanakan kegiatan pekerjaan dapat memberikan rasa kepuasan tersendiri ketika keberhasilan yang diharapakan telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Aspek keefektifitas dapat di lihat melalui:
masukan yang merata, keluaran yang banyak dan bermutu tinggi, dll.
Keefektifitas dalam dunia pendidikan mempunyai indikator dalam setiap pelaksanaannya.
b. Aspek dan Kriteria Efektifitas
Aspek-aspek efektifias dan kriteria efektifitas Menurut Mustofa (2021: 22-23) adalah sebagai berikut:
1) Aspek-Aspek Efektifitas
Aspek-aspek efektifitas, sebagai berikut:
8
a) Aspek tugas dan fungsi. Satuan lembaga pendidikan dikatakan berhasil mencapai keefektifan apabila lembaga pendidikan tersebut telah melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik.
b) Aspek rencana atau program. Rencana atau program merupakan suatu rancangan yang telah disetujui oleh pihak-pihak yang berwenang. Rencana atau program tersebut berupa materi yang terwujud dalam kurikulum yang telah disepakati atau ditepatkan.
c) Aspek ketentuan atau aturan. Efektifitas suatu program dapat ditunjukkan melalui sudut pandang yang fungsinya dalam menanamkan jiwa kedisiplinan guru. Murid, atau pihak-pihak yang ada di sekolah.
d) Aspek tujuan atau kondisi ideal. Satuan lembaga pendidikan dikatakan berhasil mencapai keefektifan apbila lembaga pendidikan tersebut telah mencapai tujuan atau kondisi ideal yang di lihat melalui hasil belajar, nilai, prestasi yang di capai oleh peserta didik.
2) Kriteria Efektifitas
Efektifitas pembelajaran ialah tolak ukur keberhasilan dalam proses pembelajaran baik itu pembelajaran daring maupun pembelajaran tatap muka.
Kriteria efektifitasnya tersebut ialah:
a) Ketuntasan belajar, setiap pembelajaran temtunya mempunyai kriteria ketentutasan minimal (KKM) mencapai nilai 75 dalam peningkatan hasil belajar.
a. Statistik hasil pembelajaran menunjukkan peningkatan pada hasil belajaran yang diperoleh oleh murid. Hasil belajar tersebut menunjukkan data statistic yang meningkat secara signifikan mulai dari pemahaman yang sebelum pembelajaran dan sesuadah pembelajaran.
b) Peningkatan pada minat dan semangat yang tinggi ketika pembelajaran berlangsung. Jika murid menunjukkan minat dan semnagat belajar yang tinggi dan mendapatkan hasil belajar yag tinggi pula maka pembelajaran tersebut dikatakan efektif.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu keefektifan yaitu, sebagai berikut
1) Faktor Row Input yaitu kondisi dimana setiap murid mempunyai kondisi fisiologi dan psikologi yang berbeda-beda.
2) Faktor Environmental Input yaitu faktor lingkungan, baik itu lingkungan sekolah maupaun lingkungan tempat tinggal.
3) Faktor Instrumental Input yang meliputi kurikul, bahan ajar, sarana dan prasarana, guru.
Berdasarkan pendapatan dari Asrul, (2015 : 99) mengatakan bahwa ranah Kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Jadi ranah kognitif adalah semua aktifitas mental yang membuat suatu siswa atau individu mampu menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu peristiwa, sehingga individu tersebut mendapatkan pengetahuan setelahnya.
10
Ranah kognitif dikelompokkan kedalam 6 kategori 1. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan ialah kemampaun mengingat kembali, misalnya pengetahuan mengenai istilah-istilah, pengetahuan mengenai klasifikasi dan sejenisnya. Jadi, pengetahuan mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Singkatnya dapat digali kembali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan (recall) atau mengingatkan kembali (recognition).
2. Pemahaman
Pemahaman mencakup tentang kemampuan menggunkan informasi dalam situasi yang tepat, mencakup kemampuan untuk membandingkan, menunjukkan persamaan dan perbedaan, mengidentifikasi karakteristik, menganalisis dan menyimpulkan.
3. Penerapan
Penerapan mencakup kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi atau konteks yang lain, yaitu mampu mengaplikasikan atas pengetahuan dan pemahaman yang telah dimiliki sebagai hasil dari proses pembelajaran.
4. Analisis
Analisis mencakup kembali unsure-unsur, hubungan-hubungan dan susunan informasi atau masalah meliputi kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan atau membedakan konsep, pendapat disetiap komponen untuk melihat ada tidaknya kontraksi.
5. Sintesis
Sintesis mencakup bagian-bagian dari pengalaman yang lalu dengan bahan yang baru menjadi suatu keseluruhan yang baru dan terpadu, misalnya membuat suatu rencana atau menyusun usulan kegiatan dengan suatu kesatuan atau pola baru.
6. Evaluasi
Evaluasi mencakup tentang bagaimana menggunakan kriteria untuk mengukur nilai suatu gagasan, karya dan sebagainya, misalnya menimbang-nimbang dan memutuskan mencakup kemampuan unutk membuat penelitian dan keptusan tenatng hasil suatu gagasan, metode atau benda dengan menggunakan criteria tersebut.
2. Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT)
a. Definisi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) Mustafa, dkk (2021 : 29) menyatakan bahwa:
“Pembelajaran tatap muka terbatas pada masa pandemic Covid-19 dapat dilaksanakan secara efektif dengan memperhatikan prinsip pembelajaran yang di adaptasikan dengan protokol kesehatan dan keselamatan sehingga dapat memberikan gambaran tentang perencanaan dan syarat minimal yang perlu dipersiapkan satunan pendidikan sebelum melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Mengantidipasi hlangnya kesempatan/minat belajar (learning los) bagi peserta didik pada masa pandei Covid-19 maka diperlukan kebijakan pembelajara tatap muka dengan mekanisme dan strategi yang beragam sesuai dengan kondisi satuan pendidikan dan kondidi wilayah masing-masing.”
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menekankan penyelenggaraan pembelajaran tatap muka terbatas sangat tergantung pada kesiapan sekolah dan kondisi daerah. Orang tua
12
atau wali siswa memiliki kewenangan penuh untuk mengizinkan atau tidak anaknya dapat mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah.
Pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas harus diselenggarakan dengan protokol kesehatan ketat, dilakukan secara bertahap, dan disesuaikan dengan dinamika perkembangan kasus Covid-19 di masing-masing daerah.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Anwar Makarim menegaskan, pelaksanaan PTM terbatas merupakan opsi yang wajib diberikan jika sekolah telah benar-benar siap dalam penyelenggaraannya. Sebelum menggelar pembelajaran tatap muka terbatas, sekolah wajib memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Keputusan Bersama 4 Menteri dan mengedepankan prinsip kehati-hatian demi kesehatan dan keselamatan warga sekolah beserta keluarganya.
Nadiem Makarim selaku menteri pendidikan menjelaskan untuk mencegah learning lost. Pembelajaran tatap muka ini tentunya tidak sama dengan sekolah tatap muka biasa dimana satuan pendidikan hanya diperbolehkan diisi oleh 30% murid dan hanya dilakukan selama 2 jam dan dua kali dalam satu minggu.
Pembelajaran Tatap Muka Terbatas bukan dilaksanakan secara serentak seluruh Indonesia, tapi pembelajaran tatap muka terbatas dilakukan secara dinamis tergantung dengan situasi pandemic di wilayah masing-masing. Selain itu, Pembelajaran tatap muka terbatas buka semata-mata melaksanakan sekolah seperti pada umumnya, melainkan mengatur dan mengendalikan jumlah peserta
didik. “Yang perlu dipahami oleh orang tua juga, sekolah wajib memberikan opsi tatap muka setelah bapak dan ibu gurunya memberikan izin.
b. Bentuk-Bentuk Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2021 : 11) memaparkan bentuk-bentuk pembelajaran tatap muka terbatas, sebagai berikut:
1) Bagaimana sekolah memastikan agar PTM terbatas berlangsung secara aman yaitu menghimbau setiap guru untuk melakukan rapid test secara berkala (terutama untuk tim satgas) dan guru kelas yang kontak langsung mengajar siswa, mendata dan memastikan bahwa siswa dan guru yang sakit atau merasa tidak enak badan untuk tidak ke sekolah, selalu menerapkan protokol kesehatan: menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.
2) Pembagian rombongan belajar yang dilakukan di sekolah yaitu maksimal 50% kapasitas per kelas, sehingga dalam 1 rombongan belajar terdapat 2 kelompok belajar, masing-masing kelompok belajar melakukan PTM terbatas sebanyak 3 kali dalam 1 minggu dengan nomor absen 1-12 masuk di hari Senin, Selasa dan Rabu dan siswa dengan nomor absen 13-24 masuk di hari Selasa dan Kamis.
3) Jam dan waktu PTM terbatas dilakukan sekolah dalam satu minggu yaitu satu kali pertemuan PTM terbatas berlangsung selama 2 jam karena setiap kelompok belajar melakukan 3 kali pertemuan dalam 1 minggu, maka setiap siswa melakukan PTM terbatas sebanyak 6 jam
14
dalam 1 minggunya dan jam masuk dibuat selang-seling (dengan jeda beberapa menit) tiap kelas agar ketika pulang tidak terjadi penumpukan.
c. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Tatap Muka terbatas (PTMT) Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2021 : 12) mengemukakan bahwa kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran tatap muka terbatas. Kelebihan dari pembelajaran tatap muka terbatas yaitu seluruh siswa dapat mengakses materi belajar yang sama tanpa terkendali, pelajar dapat lebih cepat memahami materi yang di sampaikan, beban orangtua bisa sedikit berkuran akibat penggunaan kuota internet yang cukup besar lantaran belajar daring, meminimalisir terjadinya lost of learning (kehilangan pembelajaran) dan risiko prokososial terhadap anak-anak, dan anak-anak bisa kembali bersosialisasi dengan tetap mengikuti protocol kesehatan ketat.
Sedangkan kelemahan dari pembelajaran tatap muka terbatas yaitu karakter peserta didik tidak dapat dinilai, meningkatkan daya bohong peserta didik dan guru tidak berkembang Ilmu Teknologinya.
d. Syarat Pembelajaran Tatap Muka
Pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan dengan persyaratan sebagai berikut:
1) Sekolah memenuhi kriteria lulus asesmen 1 tentang kesiapan Satuan Pendidikan (SP) dan asesmen 2 tentang belajar dari rumah (BDR) 2) Sekolah memenuhi verifikasi.
3) Guru dan kepala sekolah lulus pelatihan.
Sekolah yang memenuhi tiga persyaratan tersebut akan ditetapkan oleh dinas pendidikan sebagai sekolah yang boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas. Adapun murid yang dapat mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas adalah yang telah di campak, berusia 12 tahun ke atas. Murid yang belum di campa/ vaksin tidak dapat izi orang tua, disarankan mengikuti pembelajaran jarak jauh. Dalam melaksanakan PTMT, sekolah di harapkan membangun kerja sama dengan layanan kesehatan setempat agar siap bila ada warga sekolah yang terkonfirmasi Covid-19.
Ada sebuah pelajaran yang diperik dari dunia pendidikan di tengah pandemic Covid-19, yakni kegiatan Belajar Tatap Muka Terbatas dengan guru terbukti lebih efektif ketimbang secara daring (online). Hal tersebut dipaparkan dengan Hari Pendidikan Nasional 2020. “Selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi”. Seiring berjalannya waktu ada kebijakan dari pemerintah untuk melaksanakan pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT).
Sebelum diadakan pembelajaran tatap muka terbatas, diawali dengan diselenggarakan simulasi pembelajaran tatap muka.
3. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
a. Definisi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang di berikan di sekolah dasar yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial.
Menurut Susanto (2014 : 7) menyatakan bahwa Ilmu sosial adalah ilmu yang berkenaan dengan manusia dalam konteks sosial dengan kata lain semua
16
bidang ilmu yang mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Aspek manusia sebagai anggota masyarakat, antara lain: aspek antar-hubungan manusia dalam kelompok, aspek kejiwaan, aspek kebutuhan materi, aspek norma, peraturan, dan hukum, aspek pemerintahaan dan kenegaraan, aspek kebudayaan, aspek kesejahteraan, aspek komunikasi, aspek kebijaksanaan dan kesejahteraan sosial, aspek hubungan manusia dengan alam lingkungan, aspek pengelolaan pengurusan, pengaturan, dan lain-lain, aspek pendidikan, aspek-aspek lainnya.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial dan humanisora yaitu : sosiologi, sejara, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu pengetahuan sosial dapat dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan suatu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu sosial sosial di atas.
Kerana luasnya cakupan ilmu pengetahuan sosial pembinaan harus dilakukan secara berkesinambungan mulai dari tingkat terendah sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pengajaran tentang kehidupan manusia di masyarakat harus mulai dari tingkat sekolah dasar bahkan sebelum SD.
b. Tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di kembangkan atas dasar pemikiran bahwa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan suatu disiplin ilmu. Oleh karena itu, pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) haruss mengacuh pada tujuan pendidikan nasioanl. Tujuan utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menurut susanto (2014 : 10) adalah untuk membentuk dan mengembagkan pribadi warga negara yang baik. Dengan
demikian tujuan pendidikan ilmu pengetahuan sosial (IPS) adalah mengemabngkan kemampuan peserta didik dalam menguasai disiplin ilmu sosial untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi.
Sementara itu, Trianto (2019 : 176) tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ialah untuk mengembangkan potesnid peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupaun yang menimpa masyarakat.
Secara umum tujuan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada tingkat SD untuk membekali peserta didik dalam bidang pengetahuan sosial.
Adapun secara khusu tujuan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar dikemukakan oleh Susanto (2014 : 31-32) adalah sebagai berikut:
1) Pengetahaun sosial yang berguna bagi kehidupannya
2) Kemampaun mengidentifikasi, menganalisi dan menyusun alternatif pemecahan masalah nasioanl yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat 3) Kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga measyarakatdan
berbagai bidang keilmuan serta bidang keahlian.
4) Kesadaran sikap mental yang positif dan keterampilam terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut.
18
5) Kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan, masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
B. Kerangka Berpikir
Seperti teori-teori yang telah dikemukakan terlbeih dahulu, kerangka pikir merupakan merupakan sebuah model atau juga gambaran yang berupa konsep yang didalamnya itu menjelaskan mengenai suatu hubungan antara variabel yang satu dengan variabel lainnya. Kerangka berpikir juga bias atau dapat dikatakan yakni sebagai rumusan masalah yang telah dibuat dengan berdasarkan adanya suatu proses dedukatif di dalam rangka menghasilkan beberapa dari konsep serta juga proposisi yang digunakan untuk dapat atau bisa memudahkan seorang peneliti itu didalam merumuskan hipotesis penelitian.
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pikir Pembelajaran Tatap
Muka Terbatas (PTMT)
Analisis Statistik Deskriptif
Hasil Pembelajaran Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial (IPS)
C. Hasil Penelitian Yang Relevan
Sebelum adanya penelitian ini, sudah ada beberapa penelitian atau tulisan yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang membahas tentang efektifitas pembelajaran tatap muka terbatas. Penelitian yang relevan digunakan sebagai referensi dan rujukan dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan pertandingan kinerja berdasarkan profesioanl guru. Penelitian-penelitian yang telah ada antara lain :
1. Penelitian kualitatif oleh Siti Faizatun Nissa (2020) dengan judul
“Implementasi Pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemic Covid-19”. Menujukkan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi penerapan pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemic Covid-19 pada sekolah dasar.
2. Penelitian Deskriptif oleh Lale Gadung Kembang (2020) dengan judul
“perbandingan model pembelajaran tatap muka terbatas dengan model pembelajaran daring ditinjau dari hasil belajar mata pelajaran SKI (Studi Pada Siswa VII) MTS Darul Ishlah Ireng Lau”. Menunjukkan bahwa untuk mengetahui perbedaan hasil belajar mata pelajaran SKI yang menggunakan model pembelajaran tatap muka terbatas dengan model pembelajaran daring pada siswa kelas VII MTS Darul Ishlah Ireng Lau.
3. Penelitian kualitatif oleh Bagus prasetyo dengan judul “Studi komparatif pengaruh pembelajaran dalam jaringan (daring) dengan pembelajaran tatap muka (luring) terhadap motivasi belajar mahasiswa kelas B semester 4 pendidikan agama islam”. Menunjukkan bahwa tujuan penelitian ini adalah
20
untuk mengetahu bagaimana pengaruh pembelajaran dalam jaring (daring) dengan pembelajran tatap muka terbatas (luring) terhadapa motovasi belajar mahasiswa pendidikan agama islam.
21 A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2020 : 16) Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, dimana filsafat positivisme adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta-fakta sejarah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang memberikan gambaran lebih detail mengenai suatu gejala berdasarkan data yang ada, menyajikan data, menganalisis dan menginterprestasikan.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi atau tempat peneliti melaksanakan penelitian adalah SD Negeri 234 Inpres Takalar Kota, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Takalar. Alasan peneliti memilih sekolah tersebut karena di SD Negeri 234 Inpres Takalar Kota merupakan sekolah trakreditasi A, memiliki banyak peminat dan merupakan salah satu sekolah yang ada di Kabupaten Takalar yang melaksanakan tatap muka terbatas selama pandemi Covid-19.
22
C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan element yang akan dijadikan wilayah generalisasi. Elemen populasi adalah keseluruhan subjek yang akan diukur, yang merupakan unit yang diteliti. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas V di SD Negeri 234 Inpres Takalar Kota Kabupaten Takalar dengan jumlah 46 siswa, yaitu kelas VA terdiri dari 22 siswa dan kelas VB terdiri dari 24 siswa.
Tabel 3.2. Data populasi siswa kelas V SD Negeri 234 Inpres Takalar Kota tahun ajaran 2021/2022 (Sumber. Tata Usaha SD Negeri 234 Inpres Takalar Kota)
No Jenjang Kelas Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
1 Kelas V A 7 15
2 Kelas V B 12 12 46
2. Sampel
Dalam penelitian kuantitatif, sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut” jadi dalam penleitian ini, teknik untuk mengambil sampel menggunakan Nonprobability Sampling dengan Sensus/Sampling Total yaitu teknik pengambilan sampel dimana seluruh anggota
populasi dijadikan sampel semua. Penelitian yang dilakukan pada populasi dibawah 100 sebaiknya dilakukan dengan sensus, sehingga seluruh anggota populasi tersebut dijadikan sampel semua sebagai subyek yang akan dijadikan sebagai responden pemberi informasi. Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 47 orang siswa.
Tabel 3.3. Data sampel siswa kelas V SD Negeri 234 Inpres Takalar Kota tahun ajaran 2021/2022 (Sumber. Tata Usaha SD Negeri 234 Inpres Takalar Kota)
No Jenjang Kelas Jenis Kelamin
Jumlah
Dengan demikian hasil penelitian dapat diketahui dengan secara akurat.
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian
1. Efektifitas Pembelajaran Tatap Muka Terbatas
Pembelajaran tatap muka adalah pembelajaran tatap muka yang dilakukan di sekolah dengan batasan-batasan tertentu seperti jumlah siswa dan guru, dan juga lama belajar di sekolah. Efektifitas pembelajaran tatap muka terbatas adalah ukuran berhasil tidaknya pencapaian suatu tujuan pembelajaran selama tatap muka terbatas pada masa pandemic covid -19. pembelajaran tatap muka terbatas dimasa pandemi ini diharapkan
terlaksana dengan efektif dengan hasil belajar yang maksimal.
2. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan sosial, cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat. Tingkah laku manusia dalam masyarakat memiliki berbagai aspek seperti aspek ekonomi, aspek mental, aspek budaya, dan aspek hubungan sosial.
24
Pembelajaran Ips berperan merealisasikan ilmu sosial yang yang bersifat teoritis kehidupan nyata di masyarakat.
F. Prosedur Penelitian
Prosedur dalam penelitian ini yaitu mengumpulkan dan menganalisis data
Prosedur dalam penelitian ini yaitu mengumpulkan dan menganalisis data