• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh ELIYA WARDAYANI /IKM (Halaman 30-123)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.5 Manfaat Penelitian

1. Memberikan gambaran perilaku ibu dalam memilih tempat dan penolong persalinan secara aman.

2. Mengetahui faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Persalinan

2.1.1 Pengertian Persalinan

Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung tidak lebih dari 18 jam tanpa komplikasi baik bagi ibu maupun janin (sarwono, 2002)

Persalinan normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar dengan presentasi belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan pada umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam (Prawirohardjo, 1997)

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2006)

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan di mulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks

(membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks (JNPK-KR, 2007)

Persalinan adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya kontraksi uterus yang menyebabkan terjadinya dilatasi progresif dari serviks, kelahiran bayi, dan kelahiran plasenta, dan proses tersebut merupakan proses alamiah. (Rohani, 2011)

Bentuk persalinan berdasarkan teknik :

1. Persalinan spontan, yaitu persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.

2. Persalinan buatan, yaitu persalinan dengan tenaga dari luar dengan ekstraksi forceps, ekstraksi vakum dan sectio sesaria

3. Persalinan anjuran yaitu bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan pemberian rangsang. (Rukiyah; Ai yeyeh; dkk, 2009)

Persalinan berdasarkan umur kehamilan :

1. Abortus adalah terhentinya proses kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable), berat janin di bawah 1.000 gram atau usia kehamilan di bawah 28 minggu.

2. Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada umur kehamilan 28-36 minggu. Janin dapat hidup, tetapi prematur; berat janin antara 1.000-2.500 gram.

3. Partus matures/aterm (cukup bulan) adalah partus pada umur kehamilan 37-40 minggu, janin matur, berat badan di atas 2.500 gram.

4. Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir, janin disebut postmatur.

5. Partus presipitatus adalah partus yang berlangsung cepat, mungkin di kamar mandi, di atas kenderaan, dan sebagainya.

6. Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya Cephalo pelvic Disproportion (CPD). (Rohani;

dkk, 2011)

2.1.2 Tahap Persalinan

Persalinan dibagi menjadi 4 tahap. Pada kala I serviks membuka dari 0 sampai 10 cm. Kala I dinamakan juga kala pembukaan. Kala II disebut juga dengan kala pengeluaran, oleh karena kekuatan his dan kekuatan mengedan, janin di dorong keluar sampai lahir. Dalam kala III atau disebut juga kala uri, plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam kemudian. Dalam kala tersebut diobservasi apakah terjadi perdarahan post partum.

(Rohani; dkk, 2011)

a. Kala I (Kala Pembukaan)

Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena serviks mulai membuka dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis karena pergeseran-pergeseran, ketika serviks mendatar dan membuka.

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks, hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm).

Persalinan kala I dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif.

1. Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan secara bertahap sampai pembukaan 3 cm, berlangsung dalam 7-8 jam.

2. Fase aktif (pembukaan serviks 4-10 cm), berlangsung selama 6 jam dan dibagi dalam 3 subfase.

a. Periode akselerasi : berlangsung selama 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.

b. Periode dilatasi maksimal : berlangsung selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.

c. Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam 2 jam pembukaan jadi 10 cm atau lengkap.

Pada fase aktif persalinan, frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih) dan terjadi penurunan bagian terbawah janin. Berdasarkan kurve Friedman, diperhitungkan pembukaan pada primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/ jam.

Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada primigravida, ostium uteri internum akanmembuka lebih dulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis, kemudian ostium internum sudah sedikit terbuka. Ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam waktu yang sama.

b. Kala II (Kala Pengeluaran Janin)

Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pada primipara berlangsung selama 2 jam dan pada multipara 1 jam.

Tanda dan gejala kala II

1. His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit.

2. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.

3. Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan/atau vagina.

4. Perineum terlihat menonjol.

5. Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka.

6. Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.

Diagnosis kala II ditegakkan atas dasar pemeriksaan dalam yang menunjukkan :

1. Pembukaan serviks telah lengkap.

2. Terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina.

c. Kala III (Kala Pengeluaran Plasenta)

Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.

Perubahan psikologis kala III

1. Ibu ingin melihat, menyentuh, dan memeluk bayinya.

2. Merasa gembira, lega, dan bangga akan dirinya; juga merasa sangat lelah.

3. Memusatkan diri dan kerap bertanya apakah vagina perlu dijahit.

4. Menaruh perhatian terhadap plasenta d. Kala IV (Kala Pengawasan)

Kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir 2 jam setelah proses tersebut. Observasi yang harus dilakukan pada kala IV :

1. Tingkat kesadaran.

2. Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi,dan pernapasan.

3. Kontraksi uterus.

4. Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya tidak melebihi 400 samapai 500 cc.

Asuhan dan pemantauan pada kala IV

1. Lakukan rangsangan taktil (seperti pemijatan) pada uterus, untuk merangsang uterus berkontraksi.

2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan secara melintang antara pusat dan fundus uteri.

3. Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.

4. Periksa perineum dari perdarahan aktif (misalnya apakah ada laserasi atau episiotomi).

5. Evaluasi kondisi ibu secara umum.

6. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV persalinan di halaman belakang partograf segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan.

2.1.3 Asuhan Persalinan

Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan, dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi.

Kebijakan pelayanan asuhan persalinan :

1. Semua persalinan harus dihindari dan dipantau oleh petugas kesehatan terlatih.

2. Rumah bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitas memadai untuk menangani kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal harus tersedia 24 jam.

3. Obat-obatan esensial, bahan, dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh petugas terlatih.

2.1.4 Tanda-tanda Persalinan Tanda dan gejala inpartu

1. Timbul rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.

2. Keluar lendir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak karena robekan kecil pada serviks. Sumbatan mukus yang berasal dari sekresi servikal dari proliferasi kelenjar mukosa servikal pada awal kehamilan, berperan sebagai barier protektif dan menutup servikal selama kehamilan. Bloody show adalah pengeluaran dari mukus.

3. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. Pemecahan membran yang normal terjadi pada kala I persalinan. Hal ini terjadi pada 12% wanita, dan lebih dari 80% wanita akan memulai persalinan secara spontan dalam 24 jam.

4. Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada. Berikut ini adalah perbedaan penipisan dan dilatasi serviks antara nulipara dan multipara.

a. Nulipara

Biasanya sebelum persalinan, serviks menipis sekitar 50-60% dan pembukaan sampai 1 cm; dan dengan dimulainya persalinan, biasanya ibu nulipara mengalami penipisan serviks 50-100%, kemudian terjadi pembukaan.

b. Multipara

Pada multipara sering kali serviks tidak menipis pada awal persalinan, tetapi hanya membuka 1-2 cm. Biasanya pada multipara serviks akan membuka, kemudian diteruskan dengan penipisan.

5. Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit)

2.2. Persalinan di Rumah

2.2.1. Indikasi dan Persyaratan Persalinan di Rumah

Indikasi dilakukannya persalinan di rumah adalah sebagai berikut :

1. Multipara, Umumnya ibu yang baru pertama kali bersalin dianjurkan bersalin di rumah sakit atau di klinik bersalin. Jika pada waktu melahirkan bayi pertama itu tidak mengalami kesulitan, melahirkan bayi berikutnya di rumah sendiri dapat diizinkan.

2. Selama melakukan asuhan antenatal tidak didapatinya adanya kelainan atau penyakit yang akan menyulitkan proses persalinan.

3. Jauh dari tempat pelayanan kesehatan (tinggal di pemukiman pedesaan).

(Syafrudin, 2012 )

Mengingat fungsi pertolongan persalinan yang sangat berat, dalam melakukan persalinan di rumah diperlukan pemenuhan persyaratan sebagai berikut : 1. Mengkonfirmasikan bahwa kehamilan bersifat fisiologis atau normal. Artinya, jika

tidak terdapat kelainan 3 P, yakni : power atau kekuatan dari si calon ibu; passage atau jalan lahir; dan passanger yakni kondisi janin yang akan melaluinya. Kalau ketiga faktor tersebut dalam keadaan baik, bisa disimpulkan bahwa persalinan tersebut adalah fisiologis atau akan berlangsung normal.

2. Tersedianya tenaga penolong persalinan yang andal. Penolong persalinan tidak harus seorang dokter ahli kebidanan dan kandungan, namun cukup seorang dokter umum yang terampil dalam bidang tersebut atau bidan yang berpengalaman.

Memilih tenaga berkualifikasi seperti itu sebenarnya tidak terlalu sulit. Dalam waktu yang tidak terlalu lama kita akan bisa memperoleh informasi tentang dokter atau bidan mana yang andal sebagai penolong persalinan dan bersedia dimintai pertolongan sewaktu-waktu. Meskipun berprofesi sebagai penolong persalinan, mereka harus mengenal dengan baik siapa yang akan ditolong. Oleh karena itu periksa kehamilan secara teratur penting dilakukan. Dokter yang memiliki banyak pasien atau yang sangat sibuk bukanlah tipe penolong persalinan di rumah yang ideal.

Seorang penolong persalinan yang baik tidak hanya berpengalaman, berpengetahuan, dan berketerampilan dibidangnya, tetapi juga sebaiknya seorang

pribadi yang berdedikasi tinggi dalam membimbing persalinan. Sebagai contoh, proses pembukaan jalan lahir hingga sempurna biasanya dipimpin seorang bidan.

Selama proses ini sang calon ibu biasanya mengalami rasa sakit mulas yang makin lama makin sering disertai nyeri dalam waktu yang relatif agak lama. Dalam kondisi seperti ini sang penolong persalinan harus bisa menanamkan rasa percaya diri, tenang, aman, terlindung, serta kepastian akan keselamatan pada sang calon ibu yang ditolong.

3. Mempersiapkan satu kamar atau ruang bersalin di rumah. Tidak perlu harus ruangan khusus. Kamar tidur keluarga dapat dipersiapkan merangkap sebagai kamar bersalin. Kamar ini hendaknya bersih, tenang, serta memiliki penerangan dan ventilasi udara yang baik.

4. Perlengkapan lain untuk kebutuhan ibu dan bayi. Ibu : dua helai kain panjang bersih, satu gunting steril (minimal direbus dalam air mendidih selama lebih dari 15 menit), benang kasur steril, satu buah kateter urine logam steril untuk wanita, sebuah neerbeken atau pispot bersih, serta sebuah baskom penampung ari-ari.

Sedangkan untuk bayinya : air hangat secukupnya untuk mandi, sebotol minyak kelapa atau baby oil, baju, popok, baju hangat, sepotong kain kasa steril, dan 60 cc alkohol 70%.

2.2.2. Persiapan Persalinan di Rumah

Ada beberapa persiapan menyangkut alat, persiapan ibu, persiapan keluarga, dan bidan.

1. Persiapan alat. Alat yang tersedia dan siap untuk dipakai

a. Perlengkapan yang diperlukan oleh ibu guna persalinan di rumah.

b. Perlengkapan yang diperlukan oleh bayi segera setelah lahir.

c. Tempat tidur untuk bersalin.

d. Peralatan bidan.

2. Persiapan ibu untuk bersalin. Pemeriksaan dan kegiatan terhadap ibu mencakup hal berikut .

a. Observasi : keadaan umum, meliputi suhu, nadi, frekuensi napas, dan tekanan darah.

b. Melakukan : inspeksi, palpasi, dan auskultasi abdomen.

c. Menghitung denyut jantung janin (DJJ)

3. Persiapan keluarga. Bantuan keluarga mencakup hal berikut.

a. Menyiapkan ruangan untuk ibu bersalin .

b. Mengupayakan ruangan dalam kondisi bersih, pencahayaannya cukup, dan ventilasi bagus.

c. Menyiapkan segala sesuatu jika klien dirujuk.

4. Persiapan bidan

a. Menyiapkan segala yang diperlukan untuk persalinan.

b. Memakai tutup pakaian plastik.

c. Mencuci tangan secara aseptik.

2.2.3. Keuntungan dan Kekurangan Persalinan di Rumah 2.2.3.1. Keuntungan

1. Ibu terhindar dari perasaan cemas sebab suasana di rumah yang akrab membuat ibu hamil merasa didukung keluarga dan teman atau tetangga. Selain itu, ibu juga tidak merasa cemas bayinya akan tertukar.

2. Bagi keluarga, persalinan di rumah akan menghemat waktu, tenaga, dan biaya.

Keluarga tidak perlu repot membesuk atau menjenguk ke rumah sakit.

3. Bagi aspek fisiologis, aktivitas ibu di rumah akan memperbaiki sirkulasi darah, merangsang peningkatan produksi ASI, dan mempercepat pemulihan kondisinya.

Aktivitas ibu dengan berjalan-jalan dalam beberapa hari setelah melahirkan akan melancarkan pembekuan darah/darah kotor akibat pengaruh gaya gravitasi bumi.

4. Bagi aspek material/finansial, persalinan di rumah merupakan tindakan penghematan yang banyak mendatangkan keuntungan serta akan menghemat biaya karena sebagian biaya rumah sakit dan sewa kamar bersalin dapat dialihkan untuk kebutuhan lain.

5. Bagi aspek psikologis, bayi merasa diterima, dinantikan, dirindukan, dan dicintai oleh seisi rumah.

6. Bagi aspek imunologis, bayi secara bertahap akan dikenalkan antigen asing sehingga respons kekebalan yang ditimbulkan lebih memadai dan berfungsi melindungi dirinya kelak.

7. Ibu dan bayi dapat terhindar dari penyakit infeksi silang yang bisa terjadi di rumah sakit seperti disre, ispa, penyakit kulit dan lainnya.

8. Bagi ibu yang telah mempunyai anak sebelumnya, ibu dan anak sebelumnya tidak perlu berpisah lama dan ibu akan merasa nyaman karena dapat melakukan kebiasaannya di lingkungan rumah sendiri.

9. Kamar selalu tersedia dan tak memerlukan pengangkutan ke rumah sakit.

2.2.3.2. Kekurangan

1. Penolong persalinan (dukun bayi, bidan atau tenaga lain) umumnya hanya satu.

2. Sanitasi, fasilitas, peralatan, dan persediaan air bersih mungkin kurang.

3. Jika memerlukan rujukan, diperlukan pengangkutan dan pertolongan pertama selama perjalanan. Jika perjalanannya jauh atau lama, maka komplikasi yang terjadi misalnya perdarahan atau kejang-kejang dapat lebih parah. Di rumah, perawatan bayi prematur juga sulit. (Mubarak, 2012)

2.2.4. Faktor-faktor yang Memengaruhi dalam Memilih Persalinan di Rumah Banyak ibu lebih memilih melahirkan di rumah, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain :

1. Umur

Karakteristik umur (beresiko tinggi dan beresiko rendah) memiliki kecenderungan yang sama dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Umur merupakan suatu variabel yang tidak bisa dimodifikasi, sesuatu yang harus diterima.

Pada kelompok umur berisiko tinggi memang dianjurkan untuk tidak hamil lagi, namun demikian apabila sudah hamil maka sebaiknya disarankan untuk lebih memperhatikan perawatan kehamilannya dan persiapan persalinan yang lebih baik.

Sehingga apabila terjadi komplikasi kehamilan maupun persalinan dapat diketahui lebih dini.

2. Pendidikan

Hubungan antara pendidikan dengan pola pikir, persepsi dan perilaku masyarakat memang sangat signifikan, dalam arti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin rasional dalam pengambilan keputusan. Peningkatan tingkat pendidikan akan mempengaruhi persepsi negatif terhadap nilai anak dan akan menekan adanya keluarga besar.

Pendidikan yang ditempuh oleh seseorang merupakan salah satu faktor demografi yang sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan individu maupun masyarakat. (Kusmawati, 2006)

Tingkat pendidikan mempengaruhi kesadaran terhadap pentingnya kesehatan sehingga mendorong seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Seseorang dengan pendidikan tinggi akan lebih senang menggunakan pelayanan kesehatan modern dari pada pelayanan tradisional, karena sudah mendapatkan informasi tentang keuntungan dan kerugiannya. (Widiawati, 2008)

3. Biaya Persalinan

Biaya sering diartikan sebagai nilai suatu pengorbanan untuk memperoleh suatu output tertentu. Pengorbanan itu dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu maupun kesempatan. Biaya persalinan sangat bervariasi, tergantung fasilitas yang diinginkan. Selain fasilitas, jenis persalinan juga membedakan tarif layanan bersalin di klinik maupun rumah sakit. Persalinan normal tentu lebih murah dibanding caesar,

tetapi bisa juga bertambah mahal jika disertai komplikasi yang butuh penanganan lebih lanjut.

Penelitian Damsir (2005) tentang perilaku ibu bersalin yang berhubungan dengan akses pencarian pelayanan kesehatan dikabupaten oku sumatra selatan menyimpulkan bahwa pendapatan, biaya persalinan dan dukungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan pencarian pelayanan kesehatan.

4. Pendapatan Keluarga

Keterbatasan dan ketidaktersediaan biaya menjadi salah satu kendala masyarakat untuk memperoleh akses ke pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Beberapa peneliti dalam Rini Susilowati (2001), menyatakan bahwa pendapatan keluarga merupakan salah satu faktor determinan terhadap akses pelayanan kesehatan. Kemampuan finansial keluarga mempengaruhi apakah keluarga tersebut dapat membayar pelayanan kesehatan seperti membeli obat, membayar biaya pelayanan, membayar biaya transportasi ke tempat pelayanan.

Menurut laporan Rikesdas persentase ibu melahirkan menurut tempat persalinan berdasarkan status ekonomi, makin tinggi status ekonomi lebih memilih tempat persalinan di fasilitas kesehatan, sebaliknya untuk persalinan di rumah makin rendah status ekonomi, persentase persalinan di rumah makin besar.

5. Kepercayaan terhadap Bidan

Kepercayaan yaitu sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian, tanpa menunjukkan sikap pro atau anti. Artinya, jika seseorang percaya bahwa

merokok dapat menyebabkan kanker paru, maka dianggapnya hal itu benar, terlepas dari apakah dia suka atau tidak suka merokok. Seringkali suatu kepercayaan tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dimana anggota-anggotanya mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama. Tidak jarang pula kepercayaan kelompok ini (group belief) ditumbuhkan oleh pihak yang berwenang atau pemimpin masyarakat yang disebar luaskan ke anggota masyarakat yang lain.

Pengalaman menunjukkan, lebih sulit untuk mengubah kepercayaan kelompok dari pada kepercayaan individu, karena kepercayaan individu sifatnya lebih subjektif dan relatif sedangkan kepercayaan kelompok memiliki intensitas yang lebih kuat karena di dukung oleh individu-individu lain yang besar jumlahnya, apalagi jika kepercayaan tersebut di dukung oleh tokoh-tokoh masyarakat. (Sarwono, 2012) 6. Akses Pelayanan

Keterjangkauan masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan memengaruhi pemilihan pelayanan kesehatan. Selain itu, jarak merupakan komponen kedua yang memungkinkan seseorang untuk memanfaatkan pelayanan pengobatan.

Pada pemanfaatan pelayanan kesehatan salah satu pertimbangan yang menentukan sikap individu memilih sumber perawatan adalah jarak tempat tinggal ke tempat sumber perawatan. (Eryando, 2007)

Diketahui bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan yaitu merupakan keterjangkauan lokasi tempat pelayanan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia.

Aksesibilitas dapat dihitung dari waktu tempuh, jarak tempuh, jenis transportasi, dan

kondisi di pelayanan kesehatan, seperti jenis pelayanan, tenaga kesehatan yang tersedia dan jam praktek.

7. Rasa Takut terhadap Intervensi Medis

Pada model pengurangan rasa takut, agar pemberian informasi tentang suatu tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit dapat dipahami dengan baik, maka rasa takut si pasien perlu dikurangi dulu. Rasa takut tidak selamanya menimbulkan reaksi penolakan atas tindakan yang dianjurkan. Kadang-kadang rasa takut itu justru memacu individu untuk melakukan tindakan tersebut. Makin besar rasa takut itu, makin kuat pula keinginan untuk melakukan tindakan yang dianjurkan.

Menurut Janis (1967) dalam Sarwono 2012 membuktikan bahwa jika melampaui batas ambang tertentu, rasa takut itu justru akan menimbulkan reaksi penolakan. Hubungan antara rasa takut dan penerimaan tindakan itu, menurur Janis, membentuk seperti kurva. Bahwa sampai dengan tingkat tertentu dari rasa takut, individu cenderung menerima tindakan yang dianjurkan. Tetapi jika rasa takut itu sedikit sekali atau terlalu kuat, maka individu akan menolak anjuran tersebut.

Intervensi yang rutin atau tidak diperlukan dalam persalinan, dalam beberapa tahun terakhir, telah semakin dikenal sebagai salah satu area yang menyebabkan ketidakpuasan bagi banyak wanita. Intervensi meliputi intervensi medis, seperti ruptura membran buatan, infus oksitosin intravena, persalinan dengan menggunakan bantuan alat, episiotomi dan seksio sesaria. Kenyataannya, terkadang disadari bahwa terdapat beberapa intervensi tertentu yang dianggap sebagai rutinitas dan hanya

mendatangkan sedikit keuntungan, tidak efektif bahkan membahayakan. (Henderson, 2006)

8. Lingkungan Persalinan

Persalinan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan tempat persalinan berlangsung. Idealnya, setiap wanita yang bersalin dan tim yang mendukung serta memfasilitasi usahanya untuk melahirkan bekerja sama dalam suatu lingkungan yang paling nyaman dan aman bagi ibu yang melahirkan. Bagi banyak wanita, keluarga, dan pemberi perawatan, tempat yang aman untuk melahirkan adalah di rumah.

Menurut World Health Organization (WHO) seorang wanita hamil berisiko rendah harus melahirkan di tempat yang membuat wanita merasa aman. Tempat tersebut terdapat di rumah, di sebuah klinik maternitas kecil, atau di rumah bersalin di kota, atau mungkin di sebuah unit maternitas di rumah sakit yang lebih besar. Tempat tersebut harus merupakan sebuah tempat dimana semua perhatian dan perawatan di fokuskan pada kebutuhan dan keamanannya, sedekat mungkin dengan lingkungan yang dikenalnya. (Varney, 2008)

Rumah merupakan lingkungan yang sudah dikenal wanita sehingga ia dapat merasa nyaman dan rileks selama persalinan, tempat ia dapat mempertahankan privasi dan dikelilingi oleh orang-orang yang diinginkannya, yang akan memberi dukungan dan ketenangan pada dirinya.

9. Dukungan Suami/Keluarga

Dukungan sosial dan hubungan sosial yang baik akan memberikan

Dukungan sosial dan hubungan sosial yang baik akan memberikan

Dalam dokumen TESIS. Oleh ELIYA WARDAYANI /IKM (Halaman 30-123)

Dokumen terkait