• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.2 Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini dirampungkan, diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:

1. Sebagai masukan bagi penulis dalam menambah pengetahuan fungsi gandang tambua pada upacara adat baralek masyarakat Minangkabau di kecamatan Medan Sunggal,kabupaten Deli Serdang

2. Sebagai bahan informasi kepada masyarakat tentang gandang tambua.

3. Sebagai bahan referensi dan acuan bagi peneliti berikutnya yang memiliki keterkaitan dengan topik penelitian ini.

4. Sebagai salah satu persyaratan untuk mendapat gelar kesarjanaan di Program Studi Etnomusikologi.

I.4 Konsep dan Teori I.4.1 Konsep

Koentjaraningrat (1991:21), mengemukakan konsep sebenarnya adalahsecara singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Konsep merupakan defenisi dariapa yang kita amati, konsep menentukan antara variabel-variabel mana yang kitainginkan untuk menentukan hubungan empiris.

Fungsi dapat dikatakan sebagai manfaat atau kegunaan dari suatu hal.

Fungsi juga sebagai manfaat maupun kegunaan suatu hal dalam kehidupan masyarakat. Pola Ritem adalah pngulangan bunyi-bunyian menurut sebuah pola tertentu dalam lagu. Baralek istilah bahasa minangkabau yang artinya acara perkawinan.

Radcliffe-Brown kemudian menyarankan untuk memakai istilah

“fungsisosial” untuk menyatakan efek dari suatu keyakinan, adat atau pranata kepadasolidaritas sosial dalam masyarakat.Ia merumuskan bahwa “… the social functionof the ceremonial customs of the Andaman Islanders is to transmit from onegeneration to another the emotional dispositions on which the society (as itconstituted) depends for its existence.”Berbagai aspek perilaku sosial, bukanlah berkembang untuk memuaskan kebutuhan individual tapi justru timbul untuk mempertahakan struktur sosial masyarakat dan struktur sosial masyarakat adalah seluruh jaringan dari hubungan-hubungan sosial yang ada.”

Perkawinan dalam tulisan ini merupakan perkawinan yang ada pada masyarakat Minangkabau, adat yang dipakai dari minangkabau Bukittinggi.

Perkawinan disini melibatkan aspek agama atau religi yang disahkan secara adat maupun agama.

gandang tambua yaitu ensambel musik yang dimainkan dalam tahapan upacara bararak penganten (arak-arakan pengantin) yang terdiri dari dua alat musik yaitu tasa, dan gandang tambua.

I.4.2 Teori

Teori merupakan serangkaian bagian variabel, definisi, yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Teori mempunyai hubungan yang erat dengan penelitian dan juga dapat meningkatkan arti dari penemuan penelitian. Tanpa

teori, penemuan tersebut akan merupakan keterangan-keterangan empiris yang berpencar. (Moh. Nazir, 1983:22-25).

Deskripsi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:258) artinya mengambarkan apa adanya. Deskripsi atau deskriptif berasal dari bahasa Inggris yaitu descriptif, yang artinya bersifat menyatakan sesuatu dengan memberikan gambaran melalui kata-kata atau tulisan.Seeger (1958:184) menyebutkan bahwa deskriptif adalah penyampaian objek dengan menerangkan terhadap pembaca secara tulisan maupun lisan dengan sedetil-detilnya.Deskripsi yang penulis maksud adalah deskripsi upacara adat perkawinan masyarakat Minangkabau dengan adat Bukittinggi yang ada kecamatan Medan Sunggal.

Dalam penulisan ini penulis menggunakan landasan teori use and fungction yang dikemukakan oleh Allan P. Merriam , “...use then refers to the situation in which isemployed in human action:function concern the reason for its employment andparticulary the brodaderpurpose which is serves...” (1964:210).

Dari kalimat di atas, dapat diartikan bahwa use (penggunaan) menitik beratkan pada masalah situasi atau cara yang bagaimana musik itu digunakan, sedangkan function (fungsi) yang menitik beratkan pada alasan penggunaan atau menyangkut tujuan pemakain musik itu mampu memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri.yaitu (1) musik sebagai wahana ekspresi emosional, (2) sebagai kenikmatan estetik, (3) sebagai hiburan pada berbagai tingkat masyarakat,(4) sebagai fungsi komunikasi, (5) sebagai referensi simbolis, (6) sebagai alat respon fisikal, (7) sebagai penguat konformitas norma sosial, (8) sebagai kontribusi untuk kontinuitas dan stabilitas

kultural, (9) sebagai penopang integrasi sosial, dan (10) sebagai pengesahan upacara religi.

Untuk mengkaji struktur musik gandang tambua, dalam hal ini penulis menggunakan teori Nettl (1964:98) menyatakan bahwa transkripsi adalah proses penotasian bunyi yang merupakan suatu usaha mendeskripsikan musik yang memberikan dua pendekatan, yaitu: (1) menganalisa dan mendeskripsikan apa yang didengar, dan (2) mendeskripsikan apa yang dilihat dan menulisnya di atas kertas dengan suatu cara penulisan tertentu.

1.5 Metode Penelitian

Dalam suatu penelitian perlu dibuat metode yang bertujuan sebagai cara yang akan ditempuh peneliti sebelum ataupun saat berapa di lapangan penelitiannya. Untuk itu dalam penelitian ini, penulis juga memerlukan beberapa metode yang dapat mendukung pembuatan karya tulis ini.Dari berbagai metode yang dicetuskan oleh beberapa ahli, maka penulis mendapatkan beberapa ahli yang mencetuskan metode yang berhungan dengan penelitian ini.Dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif yang mengutamakan kualitas data.Data yang disajikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat dan datanya adalah data sekunder seperti dokumen dan dalam penelitian-penelitian yang menggunakan metode pengamatan terlibat atau participant observation (M. Sitorus, 2003).Menurut Nettl (1964:62-64) yaitu terdapat dua hal yang sangat esensial untuk melakukan aktivitas penelitian dalam disiplin ilmu Etnomusikologi yaitu kerja lapangan (field work) dan kerja laboratorium (desk

work). Kerja lapangan yang dimaksud yaitu meliputi pemilihan informan yang memiliki informasi cukup banyak tentang objek penelitian, pendekatan internal maupun eksternal dalam arti melakukan pendekatan dengan cara membaur dengan masyarakat pendukung dari objek penelitian, pengumpulan data baik melalui dokumentasi ataupun wawancara sedangkan kerja laboratorium adalah mengolah data yang didapat dari penelitian lapangan untuk dianalisa sehingga memperoleh hipotesa dan juga dapat menyimpulkan hasil penelitian.

1.5.1 Studi Kepustakaan

Penulis melakukan studi kepustakaan yaitu dengan membaca sejumlah buku tentang budaya Minangkabau.Selain itu penulis juga membaca artikel-ertikel tentang Minangkabau yang diperoleh dari beberapa penulis skripsi tentang Minangkabau terdahulu.Dari beberapa buku inilah penulis menggali informasi awal tentang masyarakat Minangkabau. Informasi tersebut akan menjadi awal pengetahuan penulis dalam mempelajari budaya tersebut, juga digunakan sebagai bahan referensi dalam penulisan skripsi.

1.5.2 Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan berarti dalam mengumpulkan data peneliti langsung mendatangi objek penelitian.Adapun macam-macam penelitian lapangan tersebut adalah sebagai berikut.

1.5.2.1 Observasi

Pengumpulan data dengan cara observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan. Metode observasi menggunakan kerja pancaindera mata sebagai

alat bantu utamanya selain pancaindera lainnya seperti telinga, penciuman, mulut dan kulit (Burhan Bungin, 2007: 115). Untuk itu lah penulis langsung mendatangi ke tempat tinggal narasumber dan melakukan interaksi kepada narasumber maupun masyarakat yang ada disana.

1.5.2.2 Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide atau panduan wawancara (Moh. Nazir, 1988: 234).

Wawancara merupakan suatu proses interaksi yang dilakukan dengan cara berdialog. Wawancara tidak dapat dilakukan hanya kepada 1 narasumber untuk itu penulis berinisiatif melakukan wawancara kepada narasumber untuk mengetahui informasi yang diperlukan penulis.Metode wawancara yang digunakan penulis adalah metode wawancara berstruktur, dan wawancara bebas. Sebelum melakukan wawancara penulis membuat “draft” pertanyaan. Pertanyaan inilah yang akan disampaikan penulis kepada narasumber. Saat memberikan pertanyaan ini, infoman menjawab segaligus menjelaskan secara detail pertanyaan yang penulis berikan.Alat yang dipakai adalah sebuah handphone.Alat ini berguna untuk meliput wawancara dan merekam kejadian pada saat penelitian yang dilakukan penulis.

1.5.3 Kerja Laboratorium

Setelah mendapatkan data dilapangan, maka penulis akan mengolah seluruh data tersebut dalam kerja laboratorium, dimana penulis akan mengubah data

rekaman suara menjadi data tulisan, untuk memudahkan si penulis menyelesaikan tulisan tersebut.

1.6 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang di pilih penulis adalah yang di daerah Jl.Binjai Km.12, Diski Kecamatan Sunggal Kabupaten Deliserdang, karena daerah ini merupakan salah satu wilayah di kota medan yang masih melastarikan kebudayaan adat-istiadat minangkabau khususnya pada adat perkawinan mangarak pengantin dengan iringan musik gandang tambua.

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN DAN MASYARAKAT MINANGKABAU DI KECAMATAN MEDAN SUNGGAL, KABUPATEN

DELI SERDANG

2.1 Asal Usul Masyarakat Minangkabau di Kota Medan

Merantau merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang Minangkabau sejak lama. Pada awalnya merantau didorong oleh kebutuhan perluasan wilayah karena tempat asal pedalaman Sumatera Barat tidak lagi memadai luasnya untuk menunjang kehidupan mereka. Kegiatan merantau etnis Minangkabau ini terus berlanjut bukan hanya ke wilayah Sumatera Barat tetapi menuju ke kota-kota besar terutama Batavia dan Sumatera, khususnya Jambi, Pekanbaru, Palembang, dan Medan (Niam, 1982 dalam Nasution, 2002).

Etnis Minangkabau datang ke kota Medan bertujuan untuk meningkatkan keadaan kehidupan mereka agar lebih baik dari yang sebelumnya. Seiring dengan berjalannya waktu mereka dapat memiliki lahan sebagai pertapakan rumah melalui proses jual beli dari etnis lain. Pada saat mereka membeli tanah tersebut dari etnis lain, keadaan tanah masih dalam keadaan kosong. Mereka membangun tempat tinggalnya berdasarkan pemikiran mereka, dengan tujuan sebagai tempat perlindungan diri sendiri beserta keluarga.Mereka membangun rumahnya dengan memilih letak sesuai dengan keinginannya, apakah disudut, dipinggir, atau ditengah kaplingan tanahnya. Adanya pertambahan penduduk baik secara alamiah maupun adanya pendatang baru (urbanisasi) yang terus menerus menyebabkan adanya penambahan bangunan dan sub devisi bangunan baru mengakibatkan permukiman yang semula masih renggang menjadi padat.

Penyebaran masyarakat minangkabau di kota Medan terus berkembang sampai diseluruh wilayah, salah satunya di kecamatan Medan Sunggal kawasan kota Medan.

2.2 Letak Lokasi Penelitian

Kecamatan Medan Sunggal adalah salah satu dari 21 kecamatan yang ada di kota medan, Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan Medan Sunggal berbatasan langsung dengan Kecamatan Medan Helvetia di sebelah utara, Kecamatan Medan Selayang di sebelahselatan, kabupaten Deli Serdang di sebelah barat dan Kecamatan Medan Baru dan Medan Petisah di sebelah timur. Kecamatan Medan Sunggal merupakan salah satu kecamatan di Kota Medan yang mempunyai luas

sekitar 13,90 km2. dengan ketinggian wilayah sekitar 17 meter sampai dengan 28 meter diatas permukaan laut, ketinggian terendah berada dikelurahan Lalang dan Ketinggian tertinggi berada dikelurahan Sunggal. Sedangkan Jarak kantor kecamatan ke kantor walikota Medan yaitusekitar ± 8 km.

2.3 Sistem Bahasa

Masyarakat Minang menggunakan bahasa Minangkabau dan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-harinya. Dialek bahasa Minangkabau sangat bervariasi, bahkan antar kampung yang dipisahkan oleh sungai sekalipun sudah mempunyai dialek yang berbeda.Perbedaan terbesar adalah dialek yang dituturkan di kawasan Pesisir Selatan dan dialek di wilayah Muko-muko, Bengkulu.

Suku Minagkabau menggunakan satu bahasa daerah yang sama, yang disebut bahasa Minangkabau. Sebuah bahasa yang erat hubungannya bahasa Melayu. Menurut penelitian ilmu bahasa, bahasa Minangkabau boleh merupakan bahasa tersendiri, tetapi boleh juga dianggap sebagai sebuah dialek saja dari bahasa Melayu. Secara umum dialek bahasa Minangkabau yang dikenal dapat disebut empat, yaitu:

1. Dialek Tanah Datar, 2. Dialek Agam,

3. Dialek Lima Puluh Koto, dan 4. Dialek Pesisir,

Penamaan tersebut didasarkan pada pembagian daerah Minangkabau yang terdiri dari 3 Luhak(Agam, Tanah Datar, dan Lima Puluh Koto) serta daerah rantau termasuk daerah pesisir.

Bahasa sehari – hari yang dipakai masyarakat minang yang ada di Sunggal adalah bahasa Indonesia karena masyarakat di Sunggal beragam suku, tetapi bahasa minang terkadang akan dipakai ketika didalam keluarga atau sesama anggota keluarga.

2.4 Agama dan Kepercayaan

Awal sebelum agama Islam masuk di Minangkabau, agama Hindu dan Budha telah muncul di Minangkabau, tetapi kedua agama ini hanya berkembang di sekitar istana saja. Diperkirakan sekitar abad ke-7 agama Islam masuk dibawa oleh para pedagang, akan tetapi mulai berkembang setelah abad ke-13. Hingga saat ini agama Islam satu-satunya agama yang berkembang di Minangkabau dan telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari identitas masyarakat Minangkabau. Pengaruh agama Islam kuat didalam adat Minangkabau, seperti yang tercatat dalam pepatah mereka, adat basandi syarak, syarak, basandi Kitabullah, yang artinya adat Minangkabau bersendi hukum Islam dan hukum Islam bersendi Al-Qur’an. Sehingga nyata bahwa adat Minangkabau dengan agama Islam memiliki suatu kesatuan yang saling menunjang dalam membina masyarakatnya.

Setiap orang yang menjalankan adat Minangkabau haruslah beragama Islam, karena adat mereka sejalan dengan agama Islam. Terdapat banyak persamaan diantara paham Islam dengan paham Minangkabau. Ciri-ciri Islambegitu mendalam dalam adat Minangkabau, sehingga mereka yang tidak mengamalkan agama Islam dianggap telah keluar dari masyarakat Minangkabau.Jika ada masyarakatnya keluar dari agama Islam, secara langsung

yang bersangkutan juga dianggap keluar dari masyarakat Minang, dalam istilahnya disebut "dibuang sepanjang adat".

2.5 Sistem Kesenian

Kesenian merupakan ekspresi manusia terhadap keindahan, dalam kebudayaan suku-suku bangsa yang pada mulanya bersifat deskriptif (Koenjaraningrat, 1982:395-397).Kesenian Minangkabau pada mulanya merupakan permainan rakyat yang bersifat terbuka dari rakyat untuk rakyat.Oleh karena sifatnya yang terbuka maka menjadi milik suatu komunitas yang mudah berubah.Pengertian berubah dalam hal ini yaitu dalam konteks sosial budaya Minangkabau yang dapat diartikan sebagai berkembang, memperkaya, dan memperbanyak aspek-aspeknya (Nerosti Adnan, 2008). Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam bentuk kesenian, yakni seni musik, seni tari, dan lain-lain

2.5.1 Seni Musik

Seni musik merupakan suatu bentuk karya seni yang dapat dinikmati manusia melalui pendengaran, seperti seni instrumental, seni vokal, dan seni sastra. Dimana seni instrumental terdiri dari :

1. Saluang Darek terbuatdari talang, kira-kira panjangnya 40-60 cm dan berdiameter 3 cm. Memiliki enam buah lubang, yang terdiri dari: empat buah lobang nada, satu lobang hembusan, dan satu lobang keluaran udara, 2. Bansi juga terbuat dari talang. Ukurannya lebih kecil dari bahan saluang.

Panjangnya sekitar 15-30cm. Diameternya sekitar 2-3cm memiliki tujuh

lubang nada. Ujung tanpa buku disumbat dengan kayu. Pada sumbatan itu dibuat celah untuk meniup sehingga menghasilkan bunyi,

3. Pupuik batang padi terbuat dari batang padi. Pada bagian dekat buku dibuat lidah. Lidah itu, jika ditiup akan menghasilkan celah, sehingga menimbulkan bunyi. Pada bagian ujungnya dililit dengan daun kelapa yang menyerupai terompet. Bunyinya melengking dan nada dihasilkan melalui permainan jari pada lilitan daun kelapa,

4. Sarunai terbuat dari dua potong bambu yang tidak sama besarnya.

Sepotong yang kecil dapat masuk ke potongan yang lebih besar.

Fungsinya sebagai penghasil nada. Alat ini memiliki empat lubang nada.

5. Pupuik Tanduak terbuat dari tanduk kerbau yang dibersihkan. Bagian ujungnya dipotongrata dan berfungsi sebagai tempat meniup. Bentuknya mengkilat dan hitam bersih. Fungsinya lebih pada alat komunikasi. Tidak berfungsi sebagai alat pengiring nyanyi atau tari. Dahulu digunakan untuk aba-aba pada masyarakat misalnya pemberitahuan saat subuh dan magrib atau ada pengumuman dari pemuka kampung,

6. Talempong terbuat dari bambu, kayu, dan logam. Cara memainkannya ada dua macam. Pertama, dengan cara menenteng atau memegang dua atau tiga talempong(Talempok Pacik). Kedua, meletakan talempong diatas standar (Talempong Duduak). Talempong dapat digunakan untuk mengiringi nyanyi atau dendang dan dapat dimainkan secara instrumental, 7. Gong dan Canang terbuat dari logam. Ukuran gong lebih besar dari

talempong, bentuknya sama dengan talempong. Canang lebih besar dari

talempong dan lebih kecil dari gong. Fungsinya lebih banyak sebagai alat komunikasi ketimbang alat musik. Canang biasanya dipukul keliling kampung sebagai imbauan kepada masyarakat jika ada acara baralek atau pernikahan dan sebagainya,

8. Tambua, Rebana, Indang dan Adok terbuat dari kayu atau ruyung dan dipalut dengan kulit kambing. Gunanya untuk pelengkap talempong, juga dapat dimanfaatkan secara tunggal. Misalnya untuk arak-arakan pada acara Tabut, Khatam Quran dan arak-arakan lainnya,

9. Rabab (rebab) terbuat dari tempurung kelapa yang paling besar.

Tempurung tersebut ditutup dengan kulit kambing. Batangnya dibuat dari bambu. Pada ujungnya dibuat alat perenggang tali dari kayu. Antara ujung (perenggang tali) dengan pangkalnya direntang dua tali melalui permukaan kulit. Diatas kulit itu dipasang kuda-kuda,sehingga tali yang direntang itu menjadi tegang. Penggeseknya seperti bow pada biola. Adakalanya dibuat dari ekor kuda dan adakalanya dari benang nilon. Pengesek dipasang pada sebatang rotan yang dibengkokkan. Untuk mengatur nadanya digunakan tangan pemain Rebab. Rebab digunakan untuk mengiringi dendang.

Kadang-kadang dikombinansikan dengan saluang.

10. Tasa alat musik perkusi yang dipukul dengan duah buah stik yang terbuat dari bambu, dan permukaan tasa terbuat dari fiber

Seni vokal yang berkembang pada masyarakat Minangkabau, yaitu berupa dendang (nyanyian), indang, dan dikie (zikir).Seni sastra terutama sastra lisan,

yaitu berupa pantun yang berisikan nasihat dan syair yang paling banyak dikuasai masyarakat Minangkabau.

Dalam kesenian minang yang ada di Medan Sunggal tetap melestarikan musik minangkabau terkhusus gandang tambua dan talempong duduk

2.5.2 Seni Tari

Tari tradisi bersifat klasik yang berasal dari Sumatera Barat yang ditarikan oleh kaum pria dan wanita umumnya memiliki gerakan aktif dinamis namun tetap berada dalam alur dan tatanan yang khas. Kekhasan ini terletak pada prinsip tari Minangkabau yang belajar kepada alam, oleh karena itu dinamisme gerakan tari-tari tradisi Minang selalu merupakan perlambang dari unsur alam. Pengaruh agama Islam,keunikan adat matrilineal dan kebiasan merantau masyarakatnya juga memberi pengaruh besar dalam jiwa sebuah tari tradisi Minangkabau. Seni tari yang berasal dari Minangkabau, antara lain :

1. Tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja sampai,

2. Tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dan saluang, 3. Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional

khas suku ini yang sudah berkembang sejak lama,

4. Tari Payung merupakan tari tradisi Minangkabau yang saat ini telah banyak perubahan dan dikembangkan oleh senian-seniman tari terutama di

Sumatra Barat. Awalnya tari ini memiliki makna tentang kegembiraan muda mudi (penciptaan) yang memperlihatkan bagaimana perhatian seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Payung menjadi icon (ciri khas) bahwa keduanya menuju satu tujuan yaitu membina rumah tangga yang baik. Keberagaman Tari Payung tidak membunuh tari payung yang ada sebagai alat ungkap budaya Minangkabau,

5. Tari Indang merupakan tarian yang mengajarkan untuk saling kerjasama dengan orang lain, yang sejarahnya tarian ini dibuat untuk menyebarkan dakwah agama Islam

2.6 Sistem Kekerabatan Minangkabau

Sistem kekerabatan Minangkabau adalah matrineal, yaitu suatu sistem yang mengikuti dari garis keturunan ibu.Suatu sistem yang langka di dunia ini, sehingga menarik perhatian untuk para peneliti untuk diteliti.

Sistem matrineal menurut ahli antropologi merupakan suatu sistem sosial masyarakat tertua yang telah lahir sebelum lahirnya sistem patrineal yang berkembang sekarang. Sistem ini akan tetap kuat dan berlaku dalam masyarakat Minangkabau sampai sekarang, sistem ini tidak akan mengalami evolusi sehingga menjadi sistem patrineal. Sistem ini menjadi langgeng dan mapan karena sistem ini memang sejiwa dengan adat Minangkabau yang universal, yang meliputi seluruh kegiatan manusia, baik kehidupan secara individu, maupun secara kehidupan bermasyarakat

Hubungan kekerabatan dalam sistem matrilineal minangkabau dapat diklasifikasikan pada empat bentuk (Navis, 1984), yaitu:

1. Hubungan kerabat mamak-kemenakan, yaitu hubungan antara anak-anak dengan saudara laki-laki ibunya; atau hubungan anak laki-laki dengan anak saudara perempuannya.

2. Hubungan kerabat suku-sako, yaitu hubungan kerabat yang berdasarkan pada system geneologis matrineal. Dalam kehidupan sosial mulai dari rumah sampai nagari disebut suku.

3. Hubungan induak bako-anak pisang, yaitu hubungan kekerabatan antaraanak dengan saudara-saudara perempuan bapaknya atau antara seorang perempuan dengan anak saudara laki-lakinya. Artinya seorang perempuan merupakan induak bako dari anak saudara laki-lakinya dan sekaligus merupakan anak pisang dari saudara perempuan bapaknya. Secara sosial hubungan ini lebih mencerminkan peran perempuan di tengah kerabatnya. Seorang perempuan disamping merupakan kemenakan saudara laki-laki ibunya, ia juga merupakan anak pisang dan induak bako. Dengan demikian perempuan dalam hal ini memerankan dua fungsi, fungsi intern dimana ia adalah anak-anaknya, dan fungsi eksteren sebagai bako dari anak-anak

saudara laki-lakinya.

4. Hubungan kerabat andan-pasumandan, yaitu hubungan antara satu rumah dengan rumah, kampung dengan rumah atau kampung yang lain yangdisebabkan oleh hubungan perkawinan salah satu anggotanya. Hubungan kerabat ini bersifat horizontal, kedua belah pihak mempunyai status yang sama. Hubungan ini mempunyai konsekuensi sosial yang berbeda antar sesamanya, terutama dalam peristiwa kelahiran, perkawinan dan kematian yang dialami oleh ahli rumah

masing-masing. Tali kerabat pasumandan member konsekuensi dalam bentuk moral dan material sedangkan tali kerabat andan memiliki konsekuensi dalam hal moral saja. Dukungan moral dan material sebagai konsekuensi hubungan kerabat akan lebih terfokus pada keturunan atau anak-anak yang dari hubungan perkawinan itu.Empat bentuk hubungan kekerabatan matrilineal Minangkabau inilah yang menjadi pengikat masin-masing individu dalam jaringan yang kompleks.

Masyarakat Minangkabau memiliki kelompok kekerabatan, dimana ikatan kekerabatan tersebut terbentuk berdasarkan paruik, kampuing, dan suku. Paruik adalah kelompok kerabat seketurunan menurut garis keturunan ibu yang

Masyarakat Minangkabau memiliki kelompok kekerabatan, dimana ikatan kekerabatan tersebut terbentuk berdasarkan paruik, kampuing, dan suku. Paruik adalah kelompok kerabat seketurunan menurut garis keturunan ibu yang

Dokumen terkait