BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
B. Manfaat Penelitian
Secara teoritis penelitian ini dapat berguna dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu hukum hak asasi manusia didalam hidu bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara.
8 BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, peneliti berusaha mendekati rumusan masalah melalui beberapa hal, antara lain:
a. Menelaah buku-buku kepustakaan
b. Mengumpulkan informasi-informasi baik dari masyarakat, dosen-dosen hukum, maupun mahasiswa/i hukum.
B. Sifat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini bersifat gabungan, metode emperis dan metode normatif. Metode Emperis artinya turun ke lapangan langsung, mengamati bahkan menangani langsung kejadian Kekerasan Dalam Rumah Tangga, bahkan membantu menyelesaikannya. Dari sisi normatif, berusaha melihat norma-norma yang ada, baik berupa undang-undang, kebiasaan, maupun adat-istiadat.
C. Kasus KDRT Kasus Pertama:
a. Nama : Sukamti
Umur : 50 tahun
Alamat Asal : Banyuwangi
Status : Menikah
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Membuka Warung di Jalan Pulau Saelus no. X
Agama : Islam
Kemudian disebut sebagai Pihak pertama.
b. Nama : Sudarman
Umur : 55 tahun
Alamat Asal : Banyuwangi
Status : Menikah
Pekerjaan : Buruh Bangunan Pendidikan : SMP
9
Agama : Islam
Kemudian disebut sebagai Pihak Kedua.
c. Nama : Winarni
Umur : 43 tahun
Alamat Asal : Banyuwangi
Status : Janda
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Kemudian disebut sebagai Pihak Ketiga.
Dalam kasus ini, pihak kedua senang dengan pihak ketiga, dan dibawa ke rumahnya, di jalan Pulau Saelus. Pihak pertama mengetahui bahwa pihak ketiga ini adalah mantan istri adik dari pihak pertama. Kemudian, pihak pertama melarang pihak kedua berhubungan dengan pihak ketiga, karena dirasa masih memiliki ikatan saudara (ipar). Tetapi, karena pihak kedua terlanjur mencintai pihak ketiga, jadi tidak mau diingatkan oleh pihak pertama. Kemudian, sewaktu pihak kedua berangkat bekerja sebagai buruh bangunan, pihak ketiga diusir oleh pihak pertama. Pada sore harinya, saat pihak kedua pulang bekerja dan melihat pihak ketiga tidak ada dirumah, dan ternyata sudah pergi, kemarahannya ditumpahkan pada pihak pertama; yang berupa tindak kekerasan yang mengakibatkan luka lebam dan gigi lepas, setelahnya pihak pertama dikunci dalam kamar oleh pihak kedua selama kurang lebih satu minggu agar tidak bisa keluar rumah. Begitu ada kesempatan, pihak pertama melarikan diri dan ditampung oleh seorang ibu rumah tangga karena merasa kasihan yang selanjutnya dilaporkan ke polisi dan polisi menyelidiki tempat persembunyian pihak pertama kemudian disidik dan divisum oleh polisi dan hasilnya positif KDRT. Kemudian Polisi berusaha menangkap pihak kedua untuk ditahan di Polsek. Setelah delik aduan diterima oleh polisi yang berisi tuntutan hukuman yang seberat-beratnya dan tuntutan cerai oleh pihak pertama. Seiring berjalannya waktu, pihak pertama merasakan kerinduan dan bersama anaknya menengok pihak kedua yang ditahan di Polsek. Yang terjadi berikutnya adalah, pihak pertama dan anaknya menangis tidak tega melihat pihak kedua ditahan. Akhirnya
10 pihak pertama mengadu kepada yang melindungi dia, agar tuntutannya dicabut.
Kita yang tahu permasalahan hukum, semua tuntutan yang telah diterima aparat, tidak bisa dicabut begitu saja. Bahkan, disertai dengan membayar administrasi yang tidak sedikit. Tetapi pihak pertama tetap ngotot untuk membayar administrasi.
Kasus Kedua:
a. Nama : Ni Ketut Arini
Umur : 32 tahun
Alamat Asal : Singaraja
Status : Menikah
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Menjahit Baju
Agama : Hindu
Kemudian disebut sebagai Pihak pertama.
b. Nama : Dodi
Umur : 38 tahun
Alamat Asal : Denpasar
Status : Menikah
Pendidikan : SMP Pekerjaan : Cargo
Agama : Hindu
Kemudian disebut sebagai Pihak kedua.
Pihak kedua yang berstatus duda dengan dua anak, menikahi pihak pertama.
Setelah memiliki satu anak berumur 4 tahun dari pihak pertama, suasana rumah tangga mulai goyah. Pihak pertama sering memarahi pihak pertama, dengan alasan yang tidak jelas. Karena pihak pertama tidak tahan terhadap perlakuan sang suami, pihak pertama kabur dari rumah beserta anak kandungnya. Karena kami tahu masalah hukumnya, kami menyarankan untuk mengajukan perceraian ke pengadilan negeri, agar sama-sama mempunyai status yang jelas. Disamping juga masa depan anak mereka yang tidak jelas. Faktor yang menonjol adalah, kedua pihak sama-sama diam, atau pisah tempat tinggal. Karena kenyataannya mereka
11 masih ada rasa cinta, belum ada keinginan dari kedua pihak untuk mengajukan cerai paling tidak sampai akhir November.
D. Kuisioner
Beberapa pertanyaan yang dipersiapkan untuk dibawa ke lapangan yaitu:
a. Apakah bapak / ibu / saudara mengetahui tindak kekerasan dalam rumah tangga?
b. Siapa saja yang dimaksud korban dalam kekerasan dalam rumah tangga?
c. Menurut bapak / ibu / saudara, apakah ada campur tangan pemerintah terhadap tindak kekerasan dalam rumah tangga yang kerap terjadi, baik yang dilaporkan maupun tidak.
d. Apakah masyarakat peduli terhadap tindak kekerasan dalam rumah tangga?
e. Apakah bapak / ibu / saudara menyadari bahwa jika ada yang mengetahui kejadian kekerasan dalam rumah tangga, tapi tidak melaporkan, orang tersebut dapat dikenakan sanksi sesuai hukum yang berlaku?
f. Apakah anggota keluarga dalam satu rumah tangga apabila terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga tidak malu melaporkan kepada yang berwajib?
g. Apakah seorang kepala rumah tangga berhak melakukan kekerasan terhadap anggota keluarga?
h. Menurut bapak / ibu / saudara, apakah anggota keluarga boleh melakukan kekerasan terhadap pembantu rumah tangga?
i. Siapa saja yang termasuk dalam anggota rumah tangga?
j. Apakah tuntutan yang diajukan korban kepada pihak berwajib bisa dicabut karena merasa iba terhadap pelaku?
E. Responden
Responden terdidi dari 10 dosen hukum, 27 Mahasiswa Fakultas Hukum, serta 18 orang masyarakat umum yang diambil secara acak di kota denpasar. Nama, tandatangan, dan identitas responden terlampir.
F. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data
Dari 10 pertaanyaan yang diberikan kepada para responden, hasilnya dikumpulkan dan diolah secara deskritif kualitatif. Artinya memberikan keterangan apa adanya, tidak ditambah dan dikurangi, dan berdasarkan kualitas jawaban tiap responden.
12 a. Dari mahasiswa kebanyakan mengetahui Undang-Undang no. 23 tahun 2004.
Tetapi mereka kebanyakan kurang merespon dalam kejadian kekerasan dalam rumah tangga, dengan alasan tidak mau terlibat proses hukum.
b. Dari para dosen hukum dapat disimpulkan bahwa mereka sangat memahami Undang-Undang no. 23 tahun 2004, tetapi mereka tidak mau langsung ambil bagian dalam kejadian kekerasan dalam rumah tangga, dengan alasan yang mirip, yaitu tidak mau terlibat proses hukum kejadian perkara.
c. Bagi masyarakat, ada dua polemik yang masih menyebabkan ketakutan tersendiri, yang mengakibatkan kurangnya inisiatif masyarakat dalam melaporkan tindak kekerasan dalam rumah tangga ke pihak berwajib. Tindak kekerasan dalam rumah tangga biasanya dilakukan oleh kepala rumah tangga, yang menanggung kehidupan seluruh anggota keluarga. Baik korban dan / atau anggota keluarga yang menyaksikan tindak kekerasan tersebut masih enggan melaporkan kejadian tersebut karena takut jika sang pelaku / kepala keluarga ditahan, akan mengganggu kelangsungan ekonomi keluarga.
13 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dua kasus kekerasan dalam rumah tangga diatas, ditambah dengan informasi dari responden yang berasal dari lapisan masyarakat yang bervariasi, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a. Kurangnya tanggapan pemerintah / pihak berwajib terhadap kekerasan dalam rumah tangga.
b. Kurangnya sosialisasi mengenai Undang-Undang no. 23 th 2004 terhadap masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah kebawah.
c. Pendidikan dan pelatihan sensitif gender masih belum maksimal.
d. Bagi mahasiswa, budaya acuh tak acuh terhadap kejadian kekerasan dalam rumah tangga perlu dicarikan jalan keluar.
e. Bagi para dosen ilmu hukum, belum secara aktif memberikan penyuluhan tindak kekerasan dalam rumah tangga.
f. Masyarakat kurang peduli terhadap tindak kekerasan dalam rumah tangga, walaupun melihat, mendengar, dan mengetahui adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga.
g. Bagi anggota keluarga, budaya malu apabila tindak kekerasan dalam rumah tangga yang dialami diketahui atau menyebar ke orang lain.
B. Saran-Saran
a. Pemerintah / pihak berwajib seharusnya lebih tanggap dalam hal tindak kekerasan dalam rumah tangga.
b. Perlunya meningkatkan sosialisai tentang Undang-Undang no. 23 th 2004 di masyarakat, terutama ke masyarakat tingkat menengah kebawah.
c. Perlunya meningkatkan pendidikan dan pelatihan sensitif gender di masyarakat, dan tidak terhenti di lapisan masyarakat tertentu saja.
d. Perlunya pendidikan dan penyuluhan mengenai proses hukum kekerasan dalam rumah tangga di kalangan mahasiswa, untuk membangkitkan kepedulian mahasiswa terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga.
14 e. Para dosen ilmu hukum hendaknya secara sukarela memberikan penyuluhan dan
pendidikan mengenai Undang-Undang no. 23 th 2004 di lingkungannya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga.
f. Baik pemerintah, lembaga hukum, dan atau segala instansi yang bertanggung jawab dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga mengadakan sosialisasi rutin mengenai Undang-Undang no. 23 th 2004 untuk meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga.
g. Perlunya Sosialisasi Undang-Undang no. 23 th 2004 dan kesadaran masyarakat sendiri agar, bukannya malu jika ada anggota keluarga yang dilaporkan terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga, namun sebaliknya merasa bangga karena turut berperan dalam penegakan hukum di Republik Indonesia.
15 DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadir Muhammad, 2001, Etika Profesi Hukum, PT Citra Aditya Bakti, Bandung
Biro Kepegawaian dan Hukum Departemen Sosial, 2003 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Jakarta
Hadi Setia Tunggal, 2006 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Th.
2004) Harvarindo
Koento Wibisono, 1983 Arti Perkembangan Menurut Fislsafat Positivisme Auguste Comte, Gadjah Mada University Press
Suhrawardi K. Lubis, 2002 Etika Profesi Hukum, Sinar Grafika Jakarta Pemerintah Propinsi Bali, 2003, Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak
Propinsi Bali
Wantjik K. Saleh, 1976 Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta Timur
16
CURICULLUM VITAE
I. KETERANGAN PERORANGAN
1. Nama lengkap : Drs, Yuwono SH, Msi
2. NIP : 195412191982031001
3. Tempat / Tanggal Lahir : Klaten, 19 Desember 1954
1. Sekolah Dasar SD Negeri Demangan Klaten 1968
2. Sekolah Menengah Pertama
SMP Negeri Karagdawa Klaten 1971 3. Sekolah Menengah
Atas
SMA Kristen Surakarta Surakarta 1974
4. Strata I Fak. Filsafat 6. Strata II Jurusan Sosiologi
Pedesaan, IPB
Bogor 1999
III. PENGALAMAN PENELITIAN YANG RELEVAN
1. Dampak Negatif Panti Pijat Tradisional di Desa Sesetan, tahun 1987
2. Pentingnya Akta Perkawinan Bagi Masyarakat yang sudah menikah di desa sesetan, tahun 1993
3. Perkembangan Pariwisata di desa Plaga, tahun 2011 IV. PUBLIKASI ILMIAH YANG RELEVAN
1. Eksistensi Pancasila di era Globalisasi, diterbitkan di majalah Wahana tahun 2007 2. Peranan Moral Etik dalam Kehidupan Masyarakat Kampus, diterbitkan oleh majalah
Wahana Universitas Udayana, tahun 2008
Denpasar, 14 Februari 2012
Drs, Yuwono SH, Msi
17 LAMPIRAN
Dengan ini dilampirkan data-data penelitian sebagai berikut:
a. Daftar nama dari responden yang berupa:
1. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana 2. Dosen-Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana 3. Masyarakat di Denpasar