BAB I PENDAHULUAN
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi pembelajar bahasa dan kebudayaan Jepang diharapkan dapat mengetahui upacara kelahiran pada masyarakat Jepang.
2. Bagi masyarakat umum diharapkan dapat mengetahui upacara kelahiran pada masyarakat Minangkabau.
3. Bagi masyarakat umum juga diharapkan dapat menjadi sumber data bagi penelitian selanjutnya.
10 1.6 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengkategorikan sebagai metode deskriptif dimana metode deskriptif adalah metode untuk meneliti sebuah kelompok masyarakat, termasuk objek, kondisi, sistem pemikiran dan juga peristiwa yang sedang berlangsung. Selain itu metode deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi dan gambaran sebuah kasus atau peristiwa yang sedang diteliti secara sistematis, faktual dan akurat (Nazir, 2003:63).
Penelitian digolongkan dalam studi kepustakaan (library research) karena data-data dan bahan penelitian yang dikumpulkan berdasarkan buku-buku dan jurnal dari Perpustakaan dan situs internet.
11 patuh. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kepercayaan adalah anggapan atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar atau nyata. Dengan kata lain kepercayaan merupakan kebenaran. Dalam pengertian terminologis, kepercayaan diistilahkan keyakinan kepada Tuhan di luar agama atau tidak termasuk ke dalam agama. Kepercayaan ialah sifat dan sikap membenarkan sesuatu atau menganggap sesuatu sebagai kebenaran, yang diyakini, diaplikasi dalam bentuk kelakukan, pengalaman, yang memengaruhi sifat mental yang meyakininya. Dalam hal beragama, manusia memiliki kebebasannya masing-masing dalam mempercayai agama tertentu. Kebebasan ini bagian dari hak dasar manusia. Orang yang memiliki kepercayaan berbeda dari yang lainnya haruslah menghormati kepercayaan orang tersebut. Karena bagi orang tersebut kepercayaan yang mereka anut adalah kebenaran. Begitu pula dengan sebaliknya, orang tersebut juga harus menghormati kepercayaan yang kita terima, walaupun berbeda dengan kebenaran yang ia terima.
Sebagai makhluk hidup yang diberi akal dan budi oleh Sang Pencipta, manusia memiliki ketertarikan akan hal yang gaib dan supranatural. Akal dan budi menjadikan manusia meyakini bahwa adanya kekuatan yang melebihi kekuatan diatas manusia, yaitu hal yang tak dapat dilihat oleh mata manusia. Hal ini
12
mempengaruhi kehidupan manusia dalam kesehariannya. Bagaimana cara manusia berperilaku dan bersosialisasi terhadap sesama. Kepercayaan merupakan bagian dari sistem kepercayaan, dalam arti kepercayaan telah menarik perhatian manusia, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-harinya.
Kepercayaan berasal dari sebuah kepercayaan sekelompok orang yang dipelihara dan jadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia karena disampaikan secara turun temurun, dianut oleh mereka yang mempercayainya dan menjadi kebudayaan yang diteruskan secara turun temurun.
2.1.1 Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Jepang
Shinto pada masyarakat Jepang bukanlah Shinto yang seperti sekarang kita ketahui, melainkan kepercayaan alam yang merupakan perpaduan antara paham animisme dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam. Dengan kata lain, masyarakat Jepang kuno menganggap semua benda, baik benda yang hidup ataupun benda yang mati dianggap memiliki kekuatan ruh atau spirit.
Masyarakat Jepang kuno juga sudah mempunyai kebiasaan menyembah alam dan menyembah leluhur seperti Shizenshukyo (Agama Alam), Shomin Shinko (Kepercayaan Rakyat), Minkan Shinkou (Kepercayaan Penduduk).
Kemudian agama-agama yang berbentuk lembaga seperti Bukyou (Buddha), Doukyou/Jukyou (Konfusius) dan agama alam atau agama rakyat yang berkembang melembaga yang disebut dengan Shinto. Kemudian agama yang masuk dari luar Jepang dan agama yang masuk dari luar Jepang dan agama yang menyesuaikan dengan agama yang sudah ada disebut dengan Honchisuijakuron.
Penelitian yang dilakukan NHK pada tahun 1982 di Jepang menyatakan bahwa sebanyak 33% dari mereka mengaku memiliki agama , tetapi 65%
13
menjawab tidak memiliki agama (Tanaka, 1989 : 28). Pada tahun baru masyarakat Jepang pergi ke kuil Shinto untuk melaksanakan ritual (hatsumode), pada musim semi mereka akan pergi ke kuil Buddha dan pada musim gugur berziarah ke makam leluhur (higan). Masyarakat Jepang umumnya melakukan pernikahan di gereja ataupun di kuil Buddha dan kuil Shinto dan pada perayaan „’sichi go san’’
pergi ke kuil Shinto, dan melakukan ritual kematian dilakukan di kuil Buddha karena kuil Shinto tidak menerima penyelenggaraan kematian. Kepercayaan masyarakat Jepang merupakan yang paling kompleks di dunia karena keterbukaannya pada semua agama dimana mereka percaya pada agama Buddha dan agama Shinto.
Negara Jepang sendiri dikenal dengan negara yang menganut agama Shinto dimana Shin (Kami) diartikan Dewa dan To diartikan Jalan. Secara harfiah Shinto merupakan Jalan Tuhan. Tidak seperti agama Buddha, Kristen, dan Islam.
Shinto tidak memiliki penemu, seperti Gautama Sang Pencerah, Yesus Kristus Sang Penyelamat, dan Nabi Muhammad, dan juga tidak memiliki kitab suci, seperti Sutra dalam Buddha, Alkitab, dan Al Qur‟an (Ono, 1962 : 3).
Dalam literatur lain disebutkan bahwa Shinto berasal dari perubahan bunyi kata tien-tao yang berarti jalan langit. Dasar ini disamakan dengan nama aliran zen di Jepang yang berasal dari kata Chan di daerah asalnya (Joesoef S., 1996 : 208). Agama Shinto muncul pada zaman prasejarah, namun siapa pendirinya tak dapat dikenal secara pasti. Penyebarannya yang terbanyak adalah di Jepang (Ahmadi, 1991 : 67). Buku Kojiki dan Nihon Shoki dianggap sebagai buku keramat agama Shinto yang merupakan kompilasi atau kumpulan tradisi, mitos, serta upacara-upacara Shinto kuno. Buku yang ditulis pada tahun 712 dan 720
14
sesudah Masehi juga memuat sejarah, topografi, dan kesusastraan Jepang kuno.
Agama Shinto dianggap sebagai kepercayaan asli orang Jepang yang merupakan kelanjutan dari garis yang tidak terputus dari zaman prasejarah hingga saat ini (Kuroda, 1981 : 7). Menjelang akhir zaman Edo hingga Perang Dunia II, negara Jepang menjadi negara dengan sistem kekaisaran (Tennosei Kokka) hingga lahirlah agama Kokka Shinto (Shinto Negara) atau disebut juga Shinto yang melembaga.
Pada tahun 1889 dikeluarkan undang-undang Dainippon Teikoku Kenpou yang berisikan bahwa negara Jepang adalah negara kekaisaran, penyembahan juga diatur dalam Isejinggu yang menyembah nenek moyang kaisar menjadi dasar dan tertinggi. Kemudian Yasukuni Jinja sebagai tempat penyembahan para pahlawan, dan Kashihara Jinggu sebagai penyembahan keluarga bangsawan. Di tahun 1913, disusun Jinja Ichoushonisshajutsu yang berarti setiap daerah dan kota terdapat satu kuil. Hingga pengajaran Shinto negara semakin jelas dan menjangkau seluruh daerah Jepang. Berdasarkan Kementerian Pendidikan Jepang, jumlah penganut agama Shinto sekitar 107 juta orang, penganut agama Buddha sekitar 89 juta orang, penganut agama Kristen dan Katholik sekitar 3 juta orang, serta penganut agama-agama lain sekitar 10 juta orang dengan artian 290 juta penduduk Jepang memeluk agama. Hal ini menjadikan Shinto sebagai agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat Jepang. Dalam pasal 20 undang-undang negara Jepang, negara tidak berhak mengatur kehidupan beragama seseorang. Pada kehidupan beragama di negara Indonesia, semua orang bebas menganut agama dan kepercayaannya masing-masing. Namun semua orang harus menghormati agama lain. Agama sebagai pedoman hidup dalam bermasyarakat untuk mencapai
15
kebahagiaan dunia dan akhirat. Berbeda dengan negara Jepang, agama tidak lebih dari sekedar ritual-ritual duniawi semata, dan mempercayai bahwa hidup di dunia adalah hakikatnya untuk bekerja dan melakukan hal kebaikan. Masyarakat Jepang mempercayai bahwa bila melakukan kebaikan maka akan mendapatkan kebaikan.
Begitu dengan sebaliknya, hal ini menjadikan negara Jepang sebagai negara yang damai tanpa konflik agama didalamnya.
2.1.2 Sistem Kepercayaan Pada Masyarakat Minangkabau
Kebudayaan dan kepercayaan adalah hal yang saling terkait satu sama lain.
Kepercayaan sendiri merupakan hak pribadi individu. Seseorang tidak dapat memaksakan kepercayaan atau agama yang dianutnya kepada individu lain. Hal ini juga terjamin dalam undang-undang negara kita.
Kehidupan manusia pada masa berburu dan meramu termasuk bagian dari zaman pra-sejarah. Di masa itu, manusia belum mengenal tulisan. Mereka yang berada di zaman pra-aksara itu dikenal sebagai manusia purba. Pada masa berburu dan meramu, manusia menggunakan tradisi lisan yang menjadi fondasi untuk kehidupan zaman sekarang. Keterampilan dan alat-alat yang digunakan pada masa itu juga masih dalam proses perkembangan dan penyempurnaan, pada masa ini manusia sudah mengenal sistem kepercayaan. Kepercayaan manusia berburu dan meramu adalah masih meyakini kemampuan mistis dari benda-benda dan alam yang dianggap memiliki kekuatan supranatural. Kepercayaan yang dianut masyarakat berburu meramu terdiri dari keyakinan animisme, dinamisme, dan totemisme. Kepercayaan animisme dan dinamisme cukup lama dianut oleh masyarakat Minangkabau dan mendapat pengaruh paham keagamaan dari luar.
Agama Hindu dan Buddha merupakan agama yang pertama kali dianut oleh
16
masyarakat yang ada di Sumatera. Agama Hindu masuk pada abad ke-5 Masehi mengikuti agama Buddha yang masuk pada abad ke-7 hingga 10 Masehi. Agama Hindu dan Buddha dibawa oleh pedagang Hindustan dan dibawa oleh kerajaan-kerajaan yang mengekspansi pulau Sumatera, kerajaan-kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Walaupun dimasuki agama Hindu dan Buddha, masyarakat Minangkabau tidak banyak terpengaruh oleh kedua agama ini karena kedua agama tersebut membawa misi penaklukkan wilayah sehingga kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat. Sebab lainnya karena kedua agama tersebut menggunakan sistem kasta yang dianggap berbeda dengan semangat demokrasi yang sudah lama dianut masyarakat Minangkabau. Di tahun 1347 Masehi, salah satu delegasi kerajaan Majapahit menjadi raja di Minangkabau. Namun, kekuasaannya dibatasi dan tidak dapat menjangkau kehidupan masyarakat Minangkabau terutama di wilayah Luhak Nan Tigo. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Aceh yang memasuki Minangkabau dengan semangat menyebarkan agama Islam hingga akhirnya agama Islam diterima dengan baik oleh masyarakat Minangkabau.
Masyarakat Minangkabau memiliki kepercayaan sendiri sebelum memiliki agama seperti di era ini yaitu aturan adat atau yang dikenal dengan falsafah alam Minangkabau dimana konsep adat berorientasi kepada alam. Hal ini tercermin dalam pepatah petitih serta pantun-pantun yang terdapat dalam Tambo Adat Alam Minangkabau seperti, Alam Takambang Jadi Guru (Dari Alam Dapat Diambil Pelajaran). Sebelumnya juga masyarakat Minangkabau menganut animisme dan dinamisme dengan bentuk mengultuskan suatu tempat yang dianggap keramat, meletakkan sesajian dengan harapan dan tujuan tertentu ditempat tersebut (T.
Kamal, 2005 : 55). Agama Islam sendiri diyakini masuk ke Minangkabau sekitar
17
akhir abad ke-7 terdapat suatu kelompok masyarakat Arab di Minangkabau (Hamka : 1984).
Setelah masuknya Islam, unsur-unsur yang terdapat dalam agama Islam berasimilasi ke dalam adat Minangkabau. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau mengenal peraturan adat merupakan manifestasi dari agama Islam, dikenal dengan Agamo mangato, adat memakai (Agama menyatakan, adat menerapkan). Agama Islam menjadi agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau meyakini bahwa agama Islam merupakan agama yang datang dari Allah Tuhan Semesta Alam, dan adat berasal dari masyarakat Minangkabau. Kini, adat sebagai pelaksana bagi ketentuan yang berkaitan dengan agama, hingga muncul ketetapan baru dengan pepatah,”Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Adat” (Antara adat dan agama saling bersandar dan melengkapi). Salah satu bentuk akulturasi adat dan agama Islam dalam masyarakat Minangkabau adalah balimau. Ketika akan memasuki bulan puasa sebagian masyarakat muslim membeli bunga yang dijual di pasar untuk mandi sebagai penyucian diri ketika akan memasuki bulan Ramadan. Tidak hanya pada masyarakat Minangkabau, sebagian masyarakat penganut agama Islam di Indonesia juga melakukan hal ini ketika hendak memasuki bulan puasa.
Masyarakat Minangkabau masih mempercayai hal-hal yang berkaitan dengan alam dan leluhur. Masyarakat memberi sesajen dan kemenyan untuk memberi makan roh nenek moyang disertai dengan doa-doa menyebut nama Tuhan dan Rasul-Nya (Iskandar Zakaria, 1984 : 17). Tidak hanya pada masyarakat Minangkabau, masyarakat di daerah Indonesia lainnya juga masih banyak mencampurkan kepercayaan animisme dan islamisme ini dengan
18
anggapan sudah dilakukan secara turun temurun. Hal ini dianggap sebagai kebiasaan adat yang bercampur dengan agama. Walaupun dalam agama Islam sendiri melarang kegiatan ini karena termasuk dalam syirik (kegiatan menyembah selain Allah), namun masih banyak umat Islam yang melakukannya karena sudah menjadi kebiasaan yang diturunkan kepada generasi selanjutnya.
2.2 Upacara Kelahiran
2.2.1 Upacara Kelahiran Masyarakat Jepang
Dalam masyarakat tradisional Jepang setelah wanita melahirkan terdapat kebiasaan menyimpan ari-ari (heso no o) sebagai bukti kelahiran. Ari-ari dibungkus kertas lalu diikat oleh dua tali, kemudian diberi nama dan tanggal kelahiran. Setelah itu akan diadakan persembahan Ubumeshi/sanhan (nasi kelahiran) kepada Ubugami dan orang-orang yang datang menjenguk bayi yang telah dilahirkan. Ubumeshi merupakan beras yang dimasak ketika bayi baru dilahirkan, yang memasaknya merupakan keluarga sang bayi. Nasi yang baru dimasak ini diletakkan bersama ubuishi (batu kecil jimat kelahiran) diatas nampan dan diletakkan di samping sang bayi. Kemudian diberikan kepada ibu dan sang bayi dalam satu mangkuk beserta sumpit. Nasi ini juga diberikan kepada dewa bumi (Ubugami) diletakkan pada Kamidana (rak tempat penyembahan dewa bagi orang Jepang) atau ke kuil dekat rumah sang bayi. Hal ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan karena telah lahir seorang anak. Sisa nasi diberikan kepada dukun beranak atau orang-orang yang telah membantu kelahiran dan orang yang berkunjung ke rumah wanita yang melahirkan. Semakin banyak yang memakan akan semakin baik bagi sang bayi. Para pria tidak
19
diwajibkan memakan nasi ini karena dianggap kontradiksi yang berkaitan dengan kelahiran yaitu aborsi. Agar roh bayi tidak dirasuki setan, maka di samping kaki atau bantalnya disimpan benda tajam. Jika wanita melahirkan di rumah sakit maka nasi ini dibagikan kepada orang-orang sekitar lingkungan rumah dan dibagikan kepada bidan dan dokter di rumah sakit. Namun hal ini sangat jarang dilakukan di era modern ini. Uang selamat yang diberikan kepada ibu yang baru melahirkan tergantung kepada pribadi masing-masing. Namun, biasanya jumlah sedikit yang diberikan berkisar lima ribu hingga sepuluh ribu yen kepada saudara yang melahirkan. Apabila teman sekantor yang melahirkan biasanya tiga ribu yen.
Setelah bayi lahir juga terdapat upacara Ubuyu (mandi air panas). Air panas yang dimaksud adalah air panas langsung melainkan air panas yang direndam pada hari ketiga setelah bayi lahir. Tujuan upacara ini adalah menghilangkan dan memurnikan kotoran yang dibawa dari dunia yang ada sebelum kelahiran juga harapan bahwa bayi dapat tumbuh sehat dan kuat. Setelah itu bayi akan menggunakan Ubugi (baju kelahiran). Ubugi merupakan kimono putih yang dikenakan sang bayi sebelum memasuki hari ketujuh. Setelah hari ketujuh bayi dapat mengenakan kimono berwarna.
Pada periode Edo, kimono bermotif rami banyak dikenakan karena beranggapan bahwa bayi dapat tumbuh seperti rami yang tumbuh kokoh tanpa serangga dan tumbuh dengan cepat, dan berharap kesehatan yang baik untuk sang bayi. Di Beberapa daerah lainnya mengenakan kimono berwarna kuning yang memiliki arti jimat untuk melindungi diri dari kejahatan. Warna merah bagi anak perempuan untuk jimat dan harapan akan memiliki jodoh yang baik, dan biru untuk laki-laki dengan harapan dapat melebihi orang tuanya.
20
2.2.2 Upacara Kelahiran Masyarakat Minangkabau
Setiap suku bangsa biasanya memiliki adat istiadat tersendiri dengan suku bangsa yang lain. Begitu pula di Indonesia yang terdapat banyak suku dan ras.
Berbeda kebudayaan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk dan menghargai perbedaan. Upacara kelahiran merupakan bagian dari adat. Adat yang dilakukan turun temurun menjadi tradisi bagi generasi penerus selanjutnya.
Dalam masyarakat Jepang kita mengenal Ubumeshi, Ubuyu, dan Ubugi.
Upacara yang berkaitan dengan kelahiran bayi. Dalam masyarakat Minangkabau juga terdapat upacara-upacara kelahiran yang berkaitan dengan kelahiran bayi.
Diantaranya Turun Mandi dan Aqiqah. Turun mandi sendiri merupakan adat yang berkaitan dengan falsafah alam Minangkabau. Sedangkan Aqiqah merupakan adat yang berkaitan dengan agama Islam. Upacara Turun Mandi bertujuan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai pengenalan lingkungan sekitar kepada bayi dan pemberitahuan kepada masyarakat sekitar bahwa telah lahir seorang anak dari rumah kami juga terdapat doa dan harapan-harapan terhadap bayi yang baru lahir. Begitu juga dengan Aqiqah yang juga merupakan upacara wujud syukur kepada Allah Swt. Bahwa telah lahir seorang anak dan penebusan atas kelahiran anak tersebut. Upacara ini berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Islam dalam agama Islam. Upacara Aqiqah merupakan adat istiadat Minangkabau berakulturasi dengan agama Islam. Upacara Aqiqah diatur dalam syariat Islam yang terdapat ketentuan-ketentuan didalamnya.
Bayi yang baru lahir dalam masyarakat Minangkabau akan diperdengarkan adzan pada telinga kanannya, dan diperdengarkan iqamah pada telinga kirinya.
Hal ini berkaitan dengan agama Islam yang men-sunnahkan (dilakukan mendapat
21
kebaikan, tidak dilakukan tidak mendapat keburukan). Tujuannya adalah agar anak tersebut terbiasa melaksanakan perintah Allah Swt. yaitu perintah salat yang dilakukan lima kali sehari. Seperti dalam pepatah Agamo mangato, adat memakai (Agama menyatakan, adat menerapkan). Mengadzankan bayi yang baru lahir menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan dalam masyarakat Minangkabau yang menganut agama Islam. Selain upacara Turun Mandi dan Aqiqah terdapat upacara Manyapi yang bermakna menyuapi anak yang dilakukan saat selesai upacara Turun Mandi. Terdapat juga Mengunjungi rumah bako dan Manjapuik Anak. Upacara-upacara ini dilakukan setelah anak dilahirkan.
22
BAB III
UPACARA SETELAH KELAHIRAN MASYARAKAT JEPANG DAN MASYARAKAT MINANGKABAU
3.1 Upacara Setelah Kelahiran Pada Masyarakat Jepang
Upacara dalam bahasa Jepang berasal dari kanji 式 (shiki), setelah kelahiran berasal dari kanji 出 (shutsu) dan 産 (san). Shussan (出産) yang berarti kelahiran. Sama halnya dengan orang tua pada umumnya yang bahagia atas kelahiran seorang anak, masyarakat Jepang juga mengadakan upacara kelahiran sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Upacara kelahiran pada masyarakat Jepang melibatkan keluarga dan orang sekitar yang tinggal dekat bayi yang baru lahir (tetangga). Beberapa masyarakat di zaman modern (generasi muda) sekarang ada yang tidak melaksanakan upacara kelahiran karena yang terpenting bagaimana bayi tersebut tumbuh dan berkembang. Namun banyak juga yang mengadakannya sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran sang bayi. Upacara kelahiran hanya dilakukan bersama keluarga saja. Tidak melibatkan orang disekitar rumahnya.
3.1.1 Syukuran Kelahiran (Shussan Iwai/祝い)
Bayi yang telah lahir akan disambut dengan rasa syukur bagi orang tua sang bayi. Bayi akan diperkenalkan kepada keluarga, kerabat, kenalan, dan tetangga. Umumnya pada masyarakat Indonesia sebagai bentuk rasa syukur akan diadakan selamatan. Dalam masyarakat Jepang, selamatan juga ada namun dalam bentuk upacara kelahiran atau juga disebut Shussan Iwai. Shussan yang berarti
23
lahir atau kelahiran, Iwai yang berarti perayaan atau festival. Shussan Iwai sendiri merupakan perayaan yang pertama kali ditujukan pada bayi yang baru lahir.
Tradisi tetangga atau kerabat berkunjung melihat bayi yang baru lahir pada masyarakat Jepang setelah hari ketiga kelahiran disebut Mikka Iwai. Tetangga atau kerabat tersebut merupakan orang yang membantu proses kelahiran bayi. Di hari ketiga atau ketujuh setelah kelahiran bayi sebagian orang tua di Jepang biasanya akan mengadakan upacara pemberian nama pada sang bayi (Nazuke) di hari ketujuh setelah kelahiran. Bayi yang lahir juga akan dimandikan menggunakan air panas yang telah direndam selama tiga hari (Ubuyu). Upacara ini juga dikenal dengan Yuzome (Mandi Air Panas Pertama). Pada saat ini bayi akan diperkenalkan kepada dewa yang ada di kamar mandi. Setelah selesai memandikan bayi akan dilanjutkan dengan upacara Ubugi (pemakaian kimono pertama kali bagi bayi). Ubugi sendiri dilakukan setelah upacara Ubuyu. Bagi sebagian orang tua lainnya upacara pemberian nama dan upacara pemakaian baju sang bayi dilakukan pada hari ketujuh. Ubugi merupakan kimono putih yang dikenakan sang bayi sebelum memasuki hari ketujuh. Setelah lewat hari ketujuh bayi dapat mengenakan kimono berwarna.
Di zaman Edo, kimono bermotif rami banyak dikenakan karena beranggapan bahwa bayi dapat tumbuh seperti rami yang tumbuh kokoh tanpa serangga dan tumbuh dengan cepat, dan berharap kesehatan yang baik untuk sang bayi. Di Beberapa daerah lainnya mengenakan kimono berwarna kuning yang memiliki arti jimat untuk melindungi diri dari kejahatan. Warna merah bagi anak perempuan untuk jimat dan harapan akan memiliki jodoh yang baik, dan biru
24
untuk laki-laki dengan harapan dapat melebihi orang tuanya. Pemilihan warna kimono yang digunakan bergantung pada adat dan tradisi masing-masing daerah.
3.1.2 Pemberian Nama Kepada Bayi (Nazuke/名付け)
Pemberian nama ini pada masyarakat Jepang dilakukan pada hari ketiga atau hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Pemberian atau pemilihan nama bayi memiliki tujuan kelak bayi akan menjadi orang hebat dan tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Nama pada masyarakat Jepang terdiri atas dua struktur yakni nama berdasarkan nama depan dan nama belakang, nama depan merupakan marga keluarga (家族名/Kazoku-mei), nama belakang merupakan nama pemberian atau nama panggilan (個人名/Kojin-mei). Misalnya apabila pada nama pebulutangkis Watanabe Yuta. Watanabe merupakan marga keluarga dan Yuta merupakan nama asli. Pemberian atau pemilihan nama bayi juga berdasarkan hal-hal tertentu yang berkaitan dengan sang bayi,seperti :
1. Nama bayi berdasarkan nama orang yang terhormat contohnya nama pendeta Budha atau Shinto, atau nama orang yang dihormati di daerah
1. Nama bayi berdasarkan nama orang yang terhormat contohnya nama pendeta Budha atau Shinto, atau nama orang yang dihormati di daerah