BAB I PENDAHULUAN
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
2. Manfaat penelitian
Adapun beberapa manfaat yang akan didapat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Manfaat teoritis
Memberikan ilmu pengetahuan, informasi serta untuk menambah kajian-kajian teoritik mengenai bidang psikologi industri dan organisasi terkhusus mengenai variabel yang berpengaruh terhadap variabel work-life balance dan menambah referensi bagi penelitianselanjutnya yang berkaitan dengan variabel work-life balance, variabel dukungan keluarga, dan variabel kecerdasan emosi.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan bisa membantu untuk mengatasi masalah terkait work-life balance serta menjadi acuan bagi perusahaan dalam meningkatkan work-life balance karyawan dalam bentuk program atau kebijakan-kebijakan kerja yang memberi ruang bagi karyawan untuk mencapai work-life balance.
13 D. Keaslian Penelitian
Penelitian yang membahas mengenai variabel yang akan diteliti masih belum banyak dilakukan. Untuk menghindarkan terjadinya pengulangan hasil penelitian maka akan dijelaskan mengenai keterikatan variabel dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
Berdasarkan hasil penelusuran peneliti ditemukan beberapa penelitian yang memiliki kemiripan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan.
1. Penelitian yang dilakukan oleh Alia Elma Khusdiana pada tahun 2019 dengan judul
“Hubungan Antara Family Support Dengan Work-life Balance Pada Karyawan Wanita Yang Berumah Tangga Di Pt. Kareb Kabupaten Bojonegoro”. Sampel di dalam penelitian ini adalah karyawan yang berjumlah 35 dari jumlah keseluruhan populasi sebesar 100 karyawan. Hasil dari penelitian terdapat pengaruh yang signifikan family support terhadap work-life balance karyawan wanita, besaran pengaruh variabel family support sebesar 26% terhadap variabel work-life balance. Hal ini menunjukan ketika family support yang dimiki karyawan tinggi maka akan berdampak semakin tinggi pula ketercapaian work-life balance yang dimiliki.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Dewa Ayu Komang Triwijayanti Dan Dewi Puri Astiti pada tahun 2019 dengan judul “Peran Dukungan Sosial Keluarga Dan Efikasi Diri Terhadap Tingkat Work-Life Balance Pada Mahasiswa Yang Bekerja Di Denpasar”.
Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang bekerja di Denpasar bali sebanyak 160 orang. Hasil penelitian ini dukungan sosial keluarga dan efikasi diri berperan terhadap tingkat work-life balance pada mahasiswa sebesar 66%. Nilai signifikansi sebesar 0,000 (0<0,05) sehingga memiliki arti bahwa dukungan sosial keluarga dan efikasi diri secara bersama-sama simultan berperan dalam meningkatkan work-life balance pada mahasiswa yang bekerja di Denpasar bali.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Kadek Martadian Santyafatni pada tahun 2018 dengan judul “Peran Dukungan Sosial Dan Kecerdasan Emosi Terhadap Work-Life Balance Pada Pekerja Wanita”. Sampel dalam penelitian ini adalah pekerja wanita yang telah menikah. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa dukungan sosial dan kecerdasan emosi merupakan predictor dari work-life balance pada pekerja wanita. Pengaruh kedua prediktor adalah sebesar 42.3% terhadap peningkatan maupun penurunan work-life balance pada pekerja wanita.
14
4. Penelitian yang dilakukan oleh Illona Acintyajovita pada tahun 2020 dengan judul
“Peranan Kecerdasan Emosi Dan Problem-Focused Coping Terhadap Work-Life Balance Pada Mahasiswa Yang Bekerja”. Sampel dalam penelitian ini adalah 329 mahasiswa aktif jenjang D4/S1 suatu perguruan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosi dan problem-focused coping berperan secara simultan dalam memprediksi work-life balance pada mahasiswa yang bekerja. Namun, secara parsial, hanya kecerdasan emosi yangsignifikan berperan positif.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Monica Kishi Sefira pada tahun 2016 dengan judul
“Hubungan Antara Dukungan Sosial Dan Kecerdan Emosi Dengan Work-Life Balance Pada Karyawan Kanwil Djp Diy Yang Menjalani Commuter Marriage”. Sampel dalam penelitian ini adalah Karyawan Kanwil DJP DIY yang memiliki karakteristik sedang menjalani commuter marriage berjumlah 41 orang. Populasi dalam penelitian ini menggunakan seluruh populasi sebagai responden. Hasil dari penelitian adalah adanya hubungan kearah positif serta signifikan pada kecerdasan emosi dan dukungan sosial dengan work-life balance.
6. Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Azis Wicaksono pada tahun 2018 dengan judul
“Hubungan Antara Dukungan Atasan Dan Dukungan Suami Dengan Work-Life Balance Pada Ibu Yang Bekerja”. Responden ialah karyawan di PT. X memiliki karakteristik responden ibu yang bekerja dengan waktu full time yang memiliki usia 21 sampai dengan 40 tahun, memiliki anak, tinggal bersama pasangan dan telah menikah.
total respondennya sejumlah 40 orang. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan secara simultan atau bersama-sama antara variabel dukungan atasan dan dukungan suami dengan work-life balance karyawan.
Berdasarkan penelitian-penelitian diatas, terdapat beberapa variabel yang memiliki kesamaaan dengan penelitian yang akan dilakukan, tentunya penelitian-penelitian diatas memberikan sumbangsih sebagai kajian pustaka terhadap variabel penlitian dukungan keluarga, kecerdasan emosi dan Work-life Balance. Namun, penelitian yang akan diteliti mempunyai perbedaan-perbedaan dari penelitian terdahulu, yang menjadikan penelitian ini berbeda adalah penggunaan variabelnya, dimana dalam penelitian sebelumnya belum ada yang menggunakan ketiga variabel ini dalam satu judul penelitian. Perbedaan penelitian lainnya yakni terletak pada subjek penelitian, kriteria subjek penelitian yang akan
15
digunakan yaitu; karyawan wanita, telah menikah, dan berkerja di PT. Elegant Textile Industry, perusahaan yang bergerak dibidang textile dan garmen yang memiliki mayoritas pekerja wanita dalam perusahaan. Dengan demikian, saat ini belum ditemukanpenelitian yang memiliki kesamaan judul hingga konteks penelitian dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, sehingga penelitian yang akan diteliti ini memiliki kelayakan untuk diteliti karena adanya keunikan dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya.
16 BAB II
LANDASAN TEORI A. Work-Life Balance
1. Pengertian Work-life balance
Work-life balance adalah sebuah upaya yang dberikan individu dalam mewujudkan sebuah keseimbangan di dalam kehidupan pribadi dan pekerjaannya dengan cara memberikan kesetaraan kepentingan atau nilai pada kehidupan pribadi dan pekerjaannya (Aggarwal, 2015: 79). Greenhaus, Collins dan Shaw (2003: 513) mendefinisikam work-life balancesebagai tahap dimana individu dapat menyeimbangkan antara tanggung jawab pekerjaan dan tanggung jawab di dalam keluarga, serta individu tersebut mampu menyelaraskan keterlibatan peran serta kepuasan dalam kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaannya. Definisi senada dinyatakan oleh McDonald dan Bradley (2005: 3) mengungkapkan work-life balance adalah sebuah tingkatan dimana seseorang dapat merasakan kepuasan dalam menjalani setiap peran yang dijalani serta dapat telibat secara seimbang dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaanya.
Berdasarkan konsep work-life balance, individu yangmelakukan transisi antara dua setting berbeda yaitu pekerjaan dan keluarga akan menyesuaikan diri dengan tuntutan dari masing-masing peran (Clark, 2000: 748). Menurut Armstrong (2012: 232) work-life balance merupakan pencapaiankaryawan terhadap keseimbangan yang memuaskan dalam pekerjaan dan aktivitas lain di luar pekerjaan. Hal tersebut antara lain meliputi keseimbangan dalam tanggung jawab baik sebagai orangtua maupun aktivitas terhadap minat yang lain. Sirgy dan Lee (2018: 230) menyatakankonsep work-life balance sebagai tingkat interaksi dan keterlibatan yang tinggi serta konflik minimal antara peran dalam domain kehidupan kerja serta kehidupan di luar pekerjaan. Clark (2000: 751) juga menyatakan bahwa work-life balance merupakan kondisi tidak terjadinya work-life conflict. Istilah „seimbang‟ tersebut merujuk pada kepuasan serta fungsi yangbaik dalam pekerjaan dan keluarga dengan konflik peran yang minimal.
Lockwood (2003: 3) mendefinisikan work-life balance sebagai suatu keadaan individu yang di dalamnya terjadi sebuah keseimbangan antara tuntutan-tuntutan yang dimiliki dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Lockwood membagi work-life
17
balance menjadi dua, yakni dalam sudut pandangkaryawan dan organisasi. Dalam sudut pandang karyawan work-life balance merupakan tantangan bagi individu untuk dapat melaksanakan setiap tuntutan yang dimiliki dalam pekerjaan maupun keeluarga.
Sedangkan, dalam sudut pandang organisasi work-life balance merupakan tantangan untuk menciptakan kondisi lingkungan suportif sehingga karyawan dapat mencapai keseimbangan dan dapat berfokus kepada pencapaian di tempat kerja.
Berdasarkan definisi di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa work-life balance adalah keterlibatan yang seimbang antara tuntutan dan peran-peran individu dalam pekerjaan maupun kehidupanlainnya di luar pekerjaan sehingga individu merasa puas.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Work-life balance
Menurut Poulose dan Sudarsan (2014: 6) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi work- life balance, faktor-faktor tersebut terbagi menjadi beberapa sumber yaitu faktor individu, faktor organisasi, dan faktor lingkungan sosial. Penjelasan mengenai faktor tesebut sebagai berikut.
a. Individu
1) Kepribadian
Kepribadian merupakan akumulasi yang berasal dari berbagai macam cara individu bereaksi terhadap lingkungannya serta interaksi dengan orang lain. Kepribadian terdiri atas beberapa faktor utama yakni kesadaran/sifat mawas diri (kesungguhan serta motivasi dalam meraih tujuan), ekstraversi (tingkatan kesenangan terhadap hubungan), agreeableness (tingkatan kepatuhan terhadap orang lain), keterbukaan terhadap pengalaman, dan neurotisme (ketahanan terhadap stress).
Neurotisme berkorelasi positif dengan work family conflict, sebaliknya kesadaran/sifat mawas diri (kesungguhan serta motivasi dalam meraih tujuan), ekstraversi (tingkatan kesenangan terhadap hubungan), agreeableness (tingkatan kepatuhan terhadap orang lain), keterbukaan terhadap pengalaman berkorelasi negatif dengan work family conflict.
18 2) Kesejahteraan psikologis
Kesejahteraan psikologis memiliki korelasi kearah positif terhadap work life balance, yang berarti bahwa ketika individu memiliki Kesejahteraan psikologis yang tinggi, maka work- life balance yang dimiliki akan tinggi juga. Kesejahteraan psikologis individu mengarah pada sifat-sifat psikologis yang positif, seperti kepuasan, optimisme, penerimaan terhadap diri, serta harapan.
3) Kecerdasan emosi
Kecerdasan emosi berbanding lurus dan memiliki korelasi yang positif terhadap tingkat work-life balance seseorang, ketika seseorang memiliki kecerdasan emosi tinggi maka tingkat work-life balance yang dimiliki akan tinggi juga. Kecerdasan emosi adalah sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengekspresikan emosi, mengidentifikasi emosi, mengontrol emosi diri, mengenali emosi orang lain serta meregulasi emosi.
b. Organisasi 1) Pekerjaan
Pengaturan pekerjaan fleksibel mampu menunjang individu agar dapat menyelaraskan pekerjaan dengan kehidupan pribadi diuar pekerjaan, dapat dikatakan, dengan bentuk pengaturan pekerjaan tersebut bisa meminimalkan berbagai konflik yang terjadi dalam pekerjaan maupun kehidupan diuar pekerjaan serta dapat meningkatkan work-life balance.
2) Work-life balance policies
Perusahaan yang memiliki kebijakan dan program yang sesuai dapat menunjang karyawannya untuk mencapapai work-life balance. Bentuk kebijakan dapat berupa jam kerja, cuti, sarana pengasuhan anak, serta fleksibilitas pekerjaan karyawan.
3) Dukungan
Bentuk dukungan yang berasal dari teman kerja, organisasi serta atasan dapat mendukung individu dan memiliki hubungan kearah positif
19
terhadap tercapainya work-life balance. Dukungan tinggi yang diterima individu berbanding lurus dengan tingkat work-life balance yang dimiliki.
4) Stres kerja
Stress kerja memiliki hubungan negatif terhadap work-life balance dan kesehatan. Individu yang merasakan stress kerja dapat berdampak terhadap tidak tercapainya work-life balance. Stres kerja merupakan persepsi yang dimiliki individu pada pekerjaannya, merasa tidak nyaman dengan kawasan kerjanya dan menganggap sebagai sebuah ancaman.
5) Teknologi
Teknologi tentunya dapat memberikan fasilitas pada karyawan dengan memberikan kemudahan dalam bekerja, sehingga karyawan dapat bekerja kapan saja serta dimana saja dalam pekerjaan tertentu. Namun hal tersebut dapat memiliki dampak secara positif maupun negatif terhadap work-life balance. Dalam satu sisi ini dapat membuat karyawan mudah dalam pekerjaan terkait lokasi dan jam kerja, namun jika karyawan tidak dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut maka dapat menyulitkan dirinya, sehingga akan berdampak terhadap keseimbangan kehidupan kerjanya.
6) Peran
Peran, jam kerja serta ambiguitas peran yang berlebihan mempunyai pengaruh besar terhadap timbulnya work-life conflict. Ketika karyawan memiliki kekacauan yang tinggi dalam menjalani perannya, maka semakin tidak mudah dalam mencapai work- life balance.
c. Lingkungan Sosial 1) Anak
Tanggung jawab terhadap pengasuhan anak serta jumlah anak memiliki hubungan dengan work-life balance. Ketika jumlah anak semakin banyak, hal itu akan memicu stres serta dapat menyebabkan konflik antara pekerjaan dan kehidupan rumah tangga.
2) Dukungan keluarga
Dukungan instrumental dan emosional yang diterima individu dari keluarga atau kerabat dapat membantunya untuk mencapai work-life
20
balance. Ekspektasi akan perhatian dan penerimaan serta pertengkaran dalam rumah tangga berhubungan dengan work-life balance.
3. Aspek-Aspek Work-life balance
Greenhaus, Collins dan Shaw (2003: 513) menyatakan beberapa aspek-aspek work-life balance sebagai berikut.
a. Keseimbangan waktu
Keseimbangan waktu merujuk kepada kesetaraan waktu yang diberikan individu terhadap pekerjaannya dengan waktu yang diberikan individu untuk keluarganya ataupun aspek-aspek kehidupan di luar pekerjan.
a. Keseimbangan keterlibatan
Keseimbangan keterlibatan berkaitan dengan keseimbangan individu secara psikologis dan komitmennya terhadap peran dalam pekerjaan maupun kehidupan di luar pekerjaanya.
b. Keseimbangan kepuasan
Keseimbangan kepuasan menekankan pada tingkat kepuasan individu yang seimbang dalam menjalankan perannya pada pekerjaan maupun kehidupan di luar pekerjaan.
4. Work-life balance dalam perspektif Islam
Dalam pandangan Islam keseimbangan kehidupan kerja diperlukan. Dengan menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, dapat membuat seseorang tidak merasa terbebani oleh tuntutan pekerjaannya sehingga pekerjaan akan terasa lebih ringan dan merasa lebih tenang dalam menjalaninya. Setiap manusia diperintahkan agar tidak hanya berfokus terhadap kebahagiaan di dunia saja, namun seharusnya juga memikirkan tentang urusan akhirat, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 134:
َبا َوَث ُدْي ِرُي َناَك ْنَم ࣖ ا ًرْي ِصَب ۢاًعْيِمَس ُ هاللّٰ َناَك َوۗ ِة َر ِخٰ ْلْاَو اَيْنُّدلا ُباَوَث ِ هاللّٰ َدْنِعَف اَيْنُّدلا
١٣٤
Yang memiliki arti sebagai berikut:
“Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.
Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
21
Tafsir dari kemenang (2019) mengenai ayat ini sebagai berikut, “ayat ini memberi peringatan kepada orang yang melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, agar menyadari bahwa tujuan hidup mencari kebahagian dunia saja adalah tujuan yang tidak benar dan hasil yang akan diperolehnya adalah rendah sekali, karena hidup di dunia tidak akan kekal.
Pahala yang diterima dari Allah adalah lebih tinggi, karena meliputi pahala dunia dan pahala akhirat. Karena itu seharusnyalah Muslimin berjuang untuk mencapai kedua pahala itu secara seimbang, tidak hanya tertarik pada kepentingan dunia saja, yang sifatnya sementara. Berusaha untuk memperoleh pahala dunia dan pahala akhirat, sebenarnya adalah tujuan yang mudah dilakukan, bukan tujuan yang berada di luar kesanggupan manusia”.
Kebahagiaan di dunia perlu kita cari, akan tetapi tidak hanya dunia kita perlu juga memikirkan urusan akhirat sesuai denga napa yang telah disampaikan oleh Rasulullah
“Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati esok” sehingga akan memunculkan di dalam diri seseorang semangat bekerja serta sungguh-sungguh dalam beribadah. Zainal, (dalam Syam, 2019). Ayat tersebut menerangkan bahwasanya manusia dalam menjalankan kedidupannya jangan hanya berfokus untuk mengejar urusan duniawi saja tanpa memedulikan urusan akhirat, kita mestinya harus dapat menyeimbangkan antara kehidupan akhirat dengan kehidupan duniawi supaya kita senantiasa mendapatkan Ridho-Nya.
B. Dukungan Keluarga
1. Pengertian Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga merupakan salah satu bagian dalam dukungan sosial, dukungan keluarga merujuk pada dukungan sosial yang dirasakan dan diberikan oleh anggota keluarga dan dapat diakses atau dapat diterima jika membutuhkan. Dukungan sosial keluarga dapat datang dari keluarga extended yang meliputi dalam jaringan sosial keluarga inti maupun dari luar keluarga inti yang meliputi nenek, kakek, keponakan, saudara, sepupu, paman dan bibi (Nadirawati, 2018: 29). Dukungan sosial menurut Sarafino &
Smith (2011: 81) adalah dukungan perhatian, kenyamanan, pertolongan, penerimaan, dan penghargaan yang diberikan kepada seseorang yang membuat individu merasa dicintai.
22
Dukungan dapat datang dari banyak sumber seperti pasangan atau kekasih, keluarga, teman, organisasi, dan komunitas.
Sarason (dalam Kumalasari & Ahyan, 2012) mengungkapkan bahwa dukungan sosial itu selalu mencakup dua hal yakni jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia, merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan dan tingkatan kepuasan akan dukungan sosial yang diterima, berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi. Sarafino & Smith (2011: 82) mengungkapkan bahwa bentuk dukungan yang mengacu pada sebuah tindakan nyata yang telah diberikan seseorang maka disebut dengan received support. Selain itu, bentuk dukungan dari seseorang dapat mengacu terhadap persepsi individu terhadap adanya kepedulian, bantuan, dan kenyamanan yang diberikan pada saat dibutuhkan, hal ini dapat disebut sebagai perceived support. Persepsi individu terhadap adanya kepedulian, bantuan, dan kenyamanan yang diberikan oleh keluarga dapat disebut sebagai perceived family support.
Menurut Friedman (dalam Yurawanti, 2016) Dukungan keluarga adalah sebuah tindakan, sikap, dan penerimaan dari keluarga terhadap anggota keluarga. Dukungan keluarga bersifat mendukung dan selalu siap memberikan bantuan dan pertolongan ketika diperlukan. Individu yang menerima dukungan keluarga akan memahami bahwa ada orang yang mencintai, menghargai, dan memperhatikannya. Sedangkan Taylor (2018: 236) menyatakan bahwa dukungankeluarga merupakan bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga, sehingga dapatmemberikan kenyamanan baik fisik maupun psikologis kepada individu gunamembantu mengatasi stres yang dimiliki dan meningkatkan kesehatan.
Berdasarkan definisi di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa dukungan keluarga adalah persepsi individu terhadap adanya perhatian, penghargaan, penerimaan dan bantuan yang diterima individu dalam bentuk sikap dan tindakan yang diberikan oleh keluarga inti maupun anggota keluarga di luar keluarga inti.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dukungan keluarga
Cohen dan Syme (dalam Kurniawati, 2012) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas dukungan sosial keluarga sebagai berikut.
a. Pemberi dukungan
23
Dukungan yang diterima melalui sumber pemberi dukungan yang sama akan lebih memiliki arti daripada yang berasal dari sumber yang berbeda.
Pemberian dukungan dipengaruhi oleh adanya norma, tugas, dan keadilan.
b. Jenis dukungan
Jenis dukungan yang diterima akan memiliki arti bila dukungan itu bermanfaat, sesuai serta tepat dengan situasi yang sedang dialami.
c. Penerima dukungan
Proses yang terjadi dalam dukungan itu dipengaruhi oleh kemampuan penerima dukungan untuk memberi dan mempertahankan dukungan.
Karakteristik atau ciri-ciri penerima dukungan akan menemukan keefektifan dukungan yang diberikan. Karakteristik itu seperti kepribadian, kebiasaan, dan peran sosial.
d. Permasalahan yang dihadapi
Dukungan yang tepat dipengaruhi oleh kesesuaian antar jenis dukungan yang diberikan dan masalah yang ada. Misalnya konflik yang terjadi dalam pernikahan dan pengangguran akan berbeda dalam hal pemberian dukungan yang akan diberikan.
3. Aspek-aspek Dukungan Keluarga
Sarafino dan Smith (2011: 82) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa aspek di dalam dukungan keluarga yaitu dukungan instrumental, dukungan emosional, dukungan informasi, dan dukungan penghargaan.
a. Dukungan Instrumental
Dukungan Instrumental adalah sebuah bentuk dukungan yang diberikan secara nyata atau langsung, bentuk dukungan ini seperti bantuan finansial, bantuan berupa barang maupun jasa dari kerabat atau keluarga untuk membantu mengerjakan tugas-tugas tertentu pada saat individu sedang merasa kesulitan.
Karyawan wanita yang sedang mengalami kesulitan ketika melaksanakan tugasnya akan merasa terbantu dengan adanya keluarga ataupun kerabat yang dapat membantu, sehingga dampaknya karyawan wanita tidak merasa tertekan
24
dengan peran-peran yang dijalaninya serta dapat menikmati perannya sebagai pekerja sekaligus ibu rumah tangga.
b. Dukungan Emosional
Dukungan emosional adalah sebuah bentuk dukungan yang diberikan kepada individu dalam wujud kepedulian, perhatian, dorongan, empati serta penerimaan. Bentuk dukungan tersebut dapat membuat individu merasa diperhatikan dan dicintai serta dapat meringankan beban yang dirasakan ketika sedang merasakan tekanan dalam hidupnya. Karyawan wanita ketika mendapatkan dukungan emosional yang baik dari keluarga maupun kerabat akan dapat meningkatkan kesejahtraan psikologis pada dirinya.
c. Dukungan Informasi
Dukungan informasi adalah sebuah bentuk dukungan yang diberikan kepada individu dalam wujud arahan, saran, feedback, dan nasehat yang dapat membantu individu ketika mengalami kesulitan atau permasalahan sehingga individu merasa terbantu dalam mengambil keputusan maupun membantu individu atas kebimbangan dalam mementingkan antara keluarga atau pekerjaannya pada saat yang mungkin bersamaan. Seorang individu tentunya membutuhkan nasihat yang berasal dari lingkungan terdekat khususnya keluarga agar bisa memberi suatu keputusan dengan bijaksana serta mendapatkan jalan keluar dari permasalahan yang dialami.
d. Dukungan Penghargaan
Dukungan penghargaan adalah sebuah bentuk dukungan yang diberikan dalam wujud pujian ataupun hadiah terhadap individu atas apa yang sudah dikerjakan atau dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dukungan penghargaan individu dapat merasa dihargai atas apa yang telah dikerjakan serta membangun rasa kebersamaan di dalam keluarga.
4. Dukungan keluarga dalam perspektif Islam
Islam mengajarkan kepada kita untuk saling peduli terhadap sesama manusia.
Islam menyerukan kepada manusia agar harus saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain, seperti yang tertulis di dalam Al-Qur’an surat Al-Balad ayat 17.
25
ا ْوَصا َوَت َو ا ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا َنِم َناَك َّمُث ِۗةَمَح ْرَمْلاِب ا ْوَصا َوَت َو ِرْبَّصلاِب
١٧
Yang memiliki arti sebagai berikut:
“Kemudian, dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk berkasih sayang.”.
Tafsir dari kemenang (2019) mengenai ayat ini sebagai berikut, “Kemudian, bila dia mau menempuh jalan yang mendaki dan sukar itu maka dia termasuk orang-orang yang beriman dengan kukuh dan saling berpesan untuk bersabar dalam berbuat baik, menjauhi maksiat, serta menghadapi kesusahan hidup, dan saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk. Pekerjaan berat lainnya adalah beriman dan saling menasihati untuk sabar dan menyayangi antara sesama Muslim. Juga yang berat melaksanakannya adalah menyayangi orang lain seperti menyayangi diri sendiri atau keluarga sendiri”.
Tafsir dari kemenang (2019) mengenai ayat ini sebagai berikut, “Kemudian, bila dia mau menempuh jalan yang mendaki dan sukar itu maka dia termasuk orang-orang yang beriman dengan kukuh dan saling berpesan untuk bersabar dalam berbuat baik, menjauhi maksiat, serta menghadapi kesusahan hidup, dan saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk. Pekerjaan berat lainnya adalah beriman dan saling menasihati untuk sabar dan menyayangi antara sesama Muslim. Juga yang berat melaksanakannya adalah menyayangi orang lain seperti menyayangi diri sendiri atau keluarga sendiri”.