• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.4.2 Manfaat Penelitian

Terdapat dua manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini, yaitu:

A. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan pembaca tentang teori gaya bahasa dan fungsi gaya bahasa dalam novel Harga Sebuah Percaya karya Tere Liye.

B. Manfaat Praktis

1) Hasil penelitian ini dapat membantu pembaca menemukan keindahan dalam novel Harga Sebuah Percaya karya Tere Liye.

2) Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi peneliti, yang ingin meneliti dari bidang-bidang lain seperti dalam bidang psikologi sastra, dll.

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Dalam karya ilmiah, diperlukan sebuah konsep guna mempermudah peneliti dan memberikan gambaran yang jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan penelitian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008:725) konsep merupakan gambaran mental dari objek, proses atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk menambah hal-hal lain. Jadi, konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

2.1.1 Novel

Novel adalah karangan prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang yang berada di sekelilingnya dan menonjolkan atak dan sifat setiap pelaku. H. B. Jassin (Suroto,1989:19) mengatakan sebagai berkut:

“novel ialah salah satu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita; pen.), luar biasa karena dari kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian yang meng-alihkan jurusan nasib mereka. Wujud novel adalah kosentrasi, pemusatan, kehidupan dalam suatu saat, dalam suatu krisis yang menentukan”.

Cerita dalam sebuah novel merupakan cerita fiktif hasil imajinasi pengarang yang menggambarkan kehidupan yang pernah dialami oleh pengarang yang kemudian dituang dalam bentuk karangan karya sastra, sehingga beberapa pembaca dapat mengambil hikmah dari cerita tersebut atau bahkan sekedar menikmati jalan ceritanya.

Novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajiner, yang dibagun melalui berbagai unsur instrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh (penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja, juga bersifat imajiner (Nurgiyantoro,1995:4).

2.1.2 Gaya Bahasa

Penggunaan bahasa-bahasa dalam tulisan meningkatkan nilai suatu cerita.

Gaya bahasa yang ditampil dari sang pengarang merupakan gambaran dari pemikiran atau ide melalui bahasa yang khas dalam tulisan. Aminuddin (1997:1) mengatakan bahwa gaya merupakan perwujudan penggunaan bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi penanggapannya sebagaimana cara yang digunakanya. Ia juga mengatakan bahwa gaya merupakan gaya relasional yang berhubungan dengan (a) rentetan kata, kalimat, dan berbagai kemungkinan manifestasikan, (b) dunia makna yang terpresentasikan, (c) motif serta inovasi penulis, (d) konteks sosial budaya yang melingkupi pribadi pemakainya, dan (e) efek penggunaan bahasa sebagaimana mestinya.

Gaya bahasa memiliki macam ragam, hal itu disebabkan oleh dasar penggolongan yang berbeda. Apabila gaya bahasa berdasarkan penuturnya tentu sangat tidak mungkin, dan apabila berdasarkan unsur kebahasaan akan mengakibatkan ketumpang tindihan. Karena tujuan gaya bahasa untuk menarik perhatian, maka akan lebih baik jika dasar yang digunakanya adalah cara untuk mencapai tujuan itu. Menurut Tarigan (2013) untuk menarik perhatian itu ada

beberapa cara, yakni dengan mengulang, membandingkan, mempertentangkan atau mempertautkan baik isi maupun kata-katanya. Oleh sebab itu, Tarigan (2013:5-6) mengelompokan macam-macam gaya bahasa menjadi, gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa pertentangan, gaya bahasa pertautan, dan gaya bahasa perulangan.

2.1.3 Fungsi Gaya Bahasa

Fungsi adalah sekelompok aktivitas yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifat atau pelaksanaanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008:400) fungsi dalam lingustik adalah peran sebuah unsur bahasa dalam satuan sintaksis yang lebih luas (seperti nomina berfungsi sebagai subjek).

Sedangkan fungsi gaya bahasa; membuat suasana dalam cerita memiliki kesan yang artistik, menjadikan suatu kalimat menjadi lebih indah, serta menjadi penguat pesan suatu karya sastra.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Stilistika

Adapun landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori stilistika. Menurut Natawidjaja (1986:5) apresiasi stilistika tiada lain usaha memahami, menghayati, aplikasi dan mengambil tempat guna dalam mencapai retorika, agar melahirkan efek artistik. Objek stilistika berdasarkan ekspresi individual adalah: peribahasa, ungkapan, aspek kalimat, gaya bahasa, plastik bahasa, dan kalimat asosiatif.

Stilistika mengkaji wacana di satu pihak dan juga linguistik di lain pihak.

Sudjiman (1993:13-14) menguraikan pusat silistika adalah Style, yaitu cara yang digunakan pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana Style yang dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa.

Karya sastra menjadi sasaran kajian stilistika antara lain terwujud sebagai print-out ataupun tulisan. Print-out tersebut, dapat berupa kata-kata, tanda baca, gambar, serta bentuk tanda lain yang dapat dianalogikan sebagai kata-kata. Secara potensial print-out itu dapat membuahkan (i) gambaran obyek atau peristiwa , (ii) gagasan, (iii) satuan isi, (iv) dan ideologi (Aminuddin, 1997:66).

2.2.2 Gaya Bahasa

Ditinjau dari segi leksikal Aminuddin (1997:1) mengatakan, istilah gaya yang digunakan dalam pembahasan ini berpandanan dengan istilah style yang berasal dari bahasa Yunani stylos ataupun bahasa Latin stilus. Secara umum makna kata stilos adalah wujud sesuatu, misalnya bentuk arsitektur, yang memiliki ciri sesuai dengan karakteristik ruang dan waktu. Sementara kata stilus bermakna alat untuk menulis sesuai dengan cara yang digunakan penulisnya.

Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu pengunaan kataa-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan pembaca. Kata retorik berasal dari bahasa Yunani rhetor yang berarti orator atau ahli pidato. Secara singkat menurut Tarigan (2013:5) gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahsa).

Apabila dilihat dari arti katanya maka kata gaya berarti cara tampil atau cara menampilkan diri. Karena bahasa di sini berfungsi sebagai medianya, atau perantaranya, maka secara keseluruhan pengertian gaya bahasa adalah cara menampilkan diri dalam bahasa.

Macam-macam gaya bahasa tergantung pada penuturnya. Karena tujuan gaya bahasa untuk menarik perhatian, maka akan lebih baik jika dasar yang digunakanya adalah cara untuk mencapai tujuan itu. Penelitian ini menggunakan teori gaya bahasa dari Tarigan, yang menurutnya (2013) menarik perhatian dapat dilakukan dengan berbagai cara, yakni dengan mengulang, membandingkan, menpertentangkan atau mempertautkan baik isi ataupun kata-katanya.

2.2.2.1 Gaya Bahasa Perbandingan

Gaya bahasa perbandingan adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan membandingkannya pada sesuatu yang lain.

Gaya bahasa perbandingan digunakan karena adanya kemiripan sifat, bentuk dan lain-lain.

Ada sepuluh jenis gaya bahasa yang tergolong dalam gaya bahasa perbandingan menurut Tarigan (2013:8-34);

1) Perumpamaan atau Smile

Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan akan tetapi sengaja dianggap sama. Itulah sebabnya ada yang memberi istilah smile ini dengan persamaan. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti, ibarat, bak, penaka, sebagai, umpama, laksana,

2) Metafora

Metafora adalah jenis gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara implisit. Jika perbandingan itu dieksplisitkan biasanya ditandai dengan pemakaian kata adalah. Jadi analogi yang dibandingkan secara langsung dalam bentuk yang singkat. Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata : adalah, seperti , ibarat, bak, penaka, sebagai, umpama, laksana, serupa, dan sebagainya, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua.

Proses terjadinya sama dengan smile tetapi secara berangsur-angsur, seperti:

Aku adalah angin yang membara. Aku angin yang membara.

3) Personifikasi

Personifikasi atau penginsanan adalah jenis gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insan pada barang, atau benda yang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak. Personafikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia. Misalnya: Bunga mawar menjaga diri dengan durinya.

4) Depersonifikasi

Depersonifikasi yaitu majas yang melekatkan sifat-sifat benda tak bernyawa pada manusia atau insan. Gaya bahasa depersonifikasi merupakan kebalikan dari gaya bahasa personifikasi. Jadi di sini perbandingan dibalikan, tidak seperti personifikasi. Biasanya gaya bahasa ini terdapat dalam kalimat pengadaian yang memanfaatkan kata-kata: kalau, jikalau, bila, sekiranya,

misalkan, seandainya, seumpama. Seperti : Kalau kau jadi bunga, maka aku akan jadi tangkainya.

5) Alegori

Alegori adalah gaya bahasa cerita yang menggunakan lambang seperti fabel dan parable. Cerita tersebut mengandung kisahan yang nama-nama pelaku dalam cerita tersebut bersifat abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat.

Misalnya: Cerita Romeo dan Juliet

Parable adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh yang biasanya manusia, yang selalu mengandung nilai moral dan biasanya berhubungan dengan agama. Misalnya: Kisah Wali Songo.

Fable adalah metafora yang berbentuk cerita mengenai dunia binatang dimana binatang bertingkah laku seperti manusia. Misalnya: Dongeng Sang Kancil.

6) Antitesis

Antitesis adalah gaya bahasa yang gagasan-gagasanya bertentangan yang dinyatakan dengan kata-kata yang berlawanan. Misalnya: Dia akan senang melihatku menderita seperti ini.

7) Pleonasme dan Tautologi

Pleonasme yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata-kata mubazir, yang sebenarnya tidak perlu. Jadi semacam mengemukakan kembali hal yang sebenarnya sudah tercakup dalam kata atau frase terdahulu. Misalnya: Telah kuterima surat itu dengan tangan saya sendiri.

Sedangkan tautologi yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu. Oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai sinonim. Misalnya: Orang yang meninggal itu telah menutup matanya buat selama-lamanya.

8) Perifrasis

Perifrasis adalah gaya bahasa yang dalam pernyataanya sengaja menggunakan frase yang sebenarnya dapat diganti dengan sebuah kata saja.

Misalnya: Siska mampu merobohkan penantangnya pada ronde.(=menang) 9) Antisipasi atau Prolepsi

Antisipasi (prolepsi) gaya bahasa yang dalam pernyataanya menggunakan frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih dikerjakan. Jadi semacam gaya bahasa yang mempergunakan lebih dahulu kata-kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Misalnya: Lelaki malang itu mengalami luka memar ditubuhnya akibat tergelincir dari tangga rumahnya.

10) Koreksio atau Epanortosis

Koreksio (epanotosis) adalah gaya bahasa yang dalam pernyataanya mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memeriksa kembali dan memperbaiki yang salah. Misalnya: Kami sudah tiga kali pergi ke Medan, bukan, bahkan sudah lima kali kami kesana

2.2.2.2 Gaya Bahasa Pertentangan

Gaya bahasa pertentangan adalah gaya bahasa yang menyatakan pertentangan atau menggambarkan sesuatu yang berlawanan. Menurut Tarigan (2013:55-92) di dalam kelompok ini terdapat dua puluh gaya bahasa, yaitu:

1) Hiperbola

Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang melebih-lebihkan baik jumlah, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekankan, memperhebat, dan meningkatkan kesan. Misalnya: Aku tidak bisa hidup tanpamu, karena kamulah separuh nafasku.

2) Litotes

Litotes adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Sesuatu hal yang dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya atau pikiran dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya. Misalnya: Terima kasih karena telah menyempatkan diri mampir ke rumah kami yang buruk ini.

3) Ironi

Ironi adalah gaya bahasa yang berupa penyataan yang isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya . Hal ini dimaksudkan untuk menyindir atau mengolok-ngolok orang yang dituju secara halus. Misalnya: Bagus sekali tulisanmu sehingga tak seorangpun bisa membacanya.

4) Oksimoron

Oksimoron adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang didalamnya mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan

dalam frase atau kalimat yang sama. Misalnya: Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti.

5) Paronomasia

Paronomasia adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya akan tetapi berlalinan maknanya.

Misalnya: Ia makan apel saat Apel tadi pagi.

6) Paralipsis

Paralipsis adalah gaya bahasa yang merupakan suatu formula yang digunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak mengatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri. Misalnya: Tidak ada orang yang menyenangi kamu (maaf) yang saya maksud membenci kamu di desa ini.

7) Zeugma dan Silepsis

Zeugma dan silepsis adalah gaya bahasa mempergunakan dua rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata dalam satu kalimat yang pada hakikatnya hanya satu saja yang mempunyai hubungan.

Namun ada perbedaan diantara keduanya. Dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawakan kedua kata berikutnya sebenarnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya. Misalnya: Bukalah mata dan hatimu, lihatlah disekeliling kita banyak orang yang lebih sulit dari yang kita alami saat ini.

Sedangkan silepsis kata yang dipergunakanya itu secara gramatikal itu benar, tetapi kata tadi diterapkan pada kata lain yang sebenarnya mempunyai makna yang lain. Misalnya: Ia sudah kehilangan orang tua dan harapannya.

8) Satire

Satire adalah gaya bahasa yang berisi argumen/puisi/karangan yang berisi kritik sosial baik secara terang-terangan atau terselubung. Satire merupakan ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Misalnya: Katamu aku akan menjadi ratu di istanamu, nyatanya kau mencari selir baru dan meninggalkanku.

9) Inuendo

Inuendo adalah gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Majas ini menyatakan kritik secara tidak langsung biasanya ditandai dengan penggunaan kata: sedikit, agak, dan sejenisnya.

Misalnya: Ia menjadi agak gendut karna terlalu banyak makan.

10) Antifrasis

Antifrasis adalah gaya bahasa yang menggunakan sebuah kata dengan makna yang sebaliknya. Bedanya dengan ironi adalah antifrasis hanya sebuah kata saja yang mengungkapkan sindiran sedangkan ironi rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran. Misalnya: Inilah kawan kita yang paling jujur.

(pembohong)

11) Paradoks

Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Maksudnya bahwa pertentangan yang ada dalam kalimat itu memang benar dan bisa terjadi dalam kenyataan. Misalnya: Teman adalah musuh yang belum menyerang.

12) Klimaks

Klimaks adalah gaya bahasa yang merupakan susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekan atau makin mengandung kepentingannya dari gagasan atau ungkapkan sebelumnya. Misalnya: Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa, dan negara.

13) Antiklimaks

Antiklimaks adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari majas klimaks suatu pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga ketidak penting. Misalnya: Dia seorang pengusaha yang berhasil, seorang buruh dari harta kekayaanya bahkan seorang budak uang semata.

14) Apostrof

Apostrof adalah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir. Cara ini biasanya dipergunakan oleh orator klasik atau dukun tradisional. Misalnya: Wahai dewa yang agung, datanglah dan lepaskan kami dari cengkraman durjana.

15) Anastrof atau Inversi

Anastrof (inversi) adalah gaya bahasa retoris yang diperbolehkan dengan memperbalikan susunan kata dalam kalimat atau mengubah unsur-unsur urutan sintaksis. Misalnya: Pergilah ia meninggalkan kekasihnya sendiri di tengah hujan yang teramat deras.

16) Apofasis atau Preterasio

Apofasis (pretarasio) adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu akan tetapi justru menegaskannya. Jadi seolah-olah hendak merahasiakan sesuatu akan tetapi sebenarnya justru menjadi semakin jelas dengan adanya pernyataan tersebut. Misalnya: Sebenarnya saya tidak ingin mengatakan dalam rapat ini, bahwa anak anda telah ditahan polisi karena kasus narkoba.

17) Histeron Proteron

Histeron proteron adalah gaya bahasa yang isinya merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau wajar. Misalnya: Jika kau memenangkan pertandingan itu berarti kematian yang akan kau alami.

18) Hipalase

Hipalase adalah gaya bahasa yang berupa kata untuk menerangkan suatu kata yang sebenaranya kata tersebut seharusnya lebih tepat menerangkan kata yang lain. Jadi di sini penempatan keterangannya kurang tepat. Misalnya: Wanita itu terbaring pada sebuah kasur yang gelisah. (Yang gelisah adalah wanita tersebut bukan kasurnya.)

19) Sinisme

Sinisme adalah gaya bahasa yang berupa sindiran berupa kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau ketulusan hati. Seolah-olah menyanjung/memuji seseorang akan tetapi sebenarnya pujian itu hanya untuk menyindir atau menyangsikanya.

Misalnya: Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orang yang sangat bijaksana hingga mampu menghancurkan kebijaksanaan di dunia ini.

20) Sarkasme

Sarkasme adalah gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran yang pedas dan kasar. Kata-kata yang digunakan yaitu kata-kata yang kasar dan tidak enak didengar. Misalnya: Kau memang benar-benar bajingan!

Uraian di atas berisi tentang gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan yang akan digunakan sebagai landasan teori penelitian. Gaya bahasa ini memiliki fungsi yang berbeda-beda di setiap kalimat. Fungsi gaya bahasa tersebut dapat menjelaskan dan memeperkuat makna, menambah nilai keindahan atau estetik, menghidupkan objek mati, menimbulkan gelak tawa (hiburan), atau sekadar hiasan. Keseluruhan jenis gaya bahasa inilah yang akan diterapkan penggunaanya dalam penelitian ini.

2.2.3 Fungsi Gaya Bahasa

Hudaa (2019:377) mengatakan bahwa fungsi gaya bahasa itu sendiri untuk menghidupkan suatu kalimat dan menjadikan suatu kalimat lebih indah daripada gaya bahasa secara denotatif dan tidak meninggalkan nilai estetik suatu karya yang banyak mengandung makna di dalamnya.

Ditinjau dari fungsi ataupun efeknya bagi penanggap, bentuk simbolik dalam prosa naratif bisa (i) menampilkan gambaran peristiwa dan suasana secara lebih hidup dan menarik, (ii) menampilkan gambaran pelaku secara impresif, dan (iii) membangkitkan asosiasi pembaca pada wilayah yang sifatnya metafiksional.

Sementara pada fantastic literature, efek tersebut bisa merujuk pada (i)

pememperkayaan gambaran makna, (ii) penghadiran citraan secara alusif ataupun asosiatif, (iii) penggambaran berbagai kemungkinan gagasan secara tidak langsung, dan (iv) kesan terdapatnya irama/musikalitas dalam pembacaan (Aminuddin, 1997:19).

Susilo dkk (2019:34) mengatakan bahwa terdapat tujuh belas fungsi gaya bahasa yaitu, kalimat yang menggambarkan keputusasaan, keindahan, kebencian, kelemahan, kesedihan, penyesalan, kesendirian, kecemburuan, kemarahan, keharuan, kegembiraan, kesusahan, kegelisahan, kerakusan, kesombongan, kebohongan, dan kedustaan.

2.3 Tinjauan Pustaka

Novel Harga Sebuah Percaya karya Tere Liye merupakan novel yang terkenal yang banyak diminati oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan dari beberapa peneliti yang telah melakukan penelitiannya terhadap novel Harga Sebuah Percaya. Pertama, dilakukan oleh Baiq Inda Chairunnisa (seorang mahasiswa Universitas Mataram) pada tahun 2018 dalam jurnal skripsinya yang berjudul

“Struktur Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel Harga Sebuah Percaya karya Tere Liye Tinjauan Psikologi Sastra dan Relevansinya Dengan Pembelajaran Sastra di SMA”. Yang kedua, penelitian yang dilakukan oleh Linda, Kamidjan, dan Raras Hafiidha Sari (mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ ari) pada tahun 2019 dalam jurnal yang berjudul “Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Harga Sebuah Percaya karya Tere Liye (Pendekatan Psikologi Sastra)”.

Chairunnisa menyimpulkan bahwa novel Harga Sebuah Percaya karya Tere Liye, merupakan novel yang menggambarkan tentang pengambilan keputusan

yang dilakukan oleh tokoh utama. Menurutnya pengarang menghadirkan konflik yang tidak luput dari kenyataan bahwa keberadaannya merupakan bagian dari kehidupan manusia. Penelitiannya menghasilkan bahwa struktur kepribadian tokoh utama Jim dipengaruhi oleh id, ego, dan super ego.

Sedangkan menurut Linda,dkk menyimpulkan bahwa novel Harga Sebuah Percaya karya Tere Liye merupakan novel yang membahas tentang permasalahan hidup tokoh jim. Permasalahan tersebut berdampak pada perkembangan kejiwaanya. Hasil penelitian mereka menemukan bahwa pengarang menggambarkan tokoh utama jim, memiliki konflik batin yaitu, konflik angguk-angguk, konflik geleng-geleng, dan konflik geleng-angguk. Yang disebabkan oleh kehilangan, kognitif, ketidakberdayaan, dan perilaku yang digambarkan oleh pengarang.

Penggambaran kepribadian tokoh utama dan konflik batin tokoh utama dalam novel tersebut, tidak luput dari penggunaan gaya bahasa dalam penyampaianya sehingga didapati gambaran yang sesuai diingkan oleh pengarang.

Sampai atau tidaknya kepada pembaca tergantung pada gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam karyanya. Hal ini dipegaruhi oleh penggunaan yang biasa saja atau terlalu berlebihan dalam penyampaianya dapat bermakna lain kepada pembaca khususnya masyarakat baik masyarakat penikmat ataupun kritikus. Hal inilah yang menarik peneliti menjadikan novel Harga Sebuah Percaya karya Tere Liye sebagai objek penelitian.

Peneliti juga mengambil tiga sumber penelitian yang relevan mengenai penelitian gaya bahasa. Pertama penelitian yang dilakukan oleh Toga Muda

Sagala ( Mahasiswa Universitas Sumatera Utara) pada tahun 2015 dalam skripsi yang judul “Gaya Bahasa Dalam Novel Bulan Lebam Di Tepian Toba Karya Sihar Ramses Simatupang Kajian Stilistika”. Kedua penelitian yang dilakukan oleh Tri Suci Ramdani (Mahasiswa Universitas Sumatera Utara) pada tahun 2016 dalam skripsi yang berjudul “Analisis Gaya Bahasa Dalam Kumpulan Cerpen Filosofi Kopi Karya Dewi Lestari”. Ketiga penelitian yang dilakukan oleh Syihaabul Hudaa (Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta) pada tahun 2019 dalam jurnal yang berjudul “Gaya Bahasa pada Lirik Lagu Karya Iwan Fals dalam Album 50:50 2007”.

Penelitian yang dilakukan oleh Sagala (2015) menggunakan teori stilistika untuk mencapai tujuan penelitiannya yaitu mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa dalam novel Bulan Lebam di Tepian Toba karya Sihar Ramses Simatupang, serta menginterprestasikan gaya bahsa tersebut. Penelitianya menggunakan metode penelitian deskriptif, yakni dengan mendeskripsikan data-data yang diperoleh lewat membaca berulang-ulang objek kajian. Dari analisis penelitiannya ditemukan penggunaan gaya bahasa, diantaranya gaya bahasa alegori,simile, metafora, antonomasia, litotes, personafikasi, hiperbola, klimaks, tautologi, paradoks, sarkasme, serta gaya bahsa anastrof.

Penelitian yang dilakukan oleh Ramadani (2016) juga menggunakan teori

Penelitian yang dilakukan oleh Ramadani (2016) juga menggunakan teori

Dokumen terkait