BAB 1. PENDAHULUAN
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.2 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dengan mengembangkan teori kepuasan pernikahan khususnya pada bidang psikologi keluarga dan psikologi sosial. Kemudian, dengan adanya penelitian ini dapat menambahkan hasil-hasil penelitian kepuasan pernikahan.
2) Manfaat Praktis
Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat membantu masyarakat dalam masalah pernikahan khususnya dalam konseling pernikahan.
Sehingga setiap permasalahan yang terjadi dalam kehidupan pernikahan dapat diatasi tanpa adanya perceraian. Hal ini dapat mengurangi tingkat perceraian yang terjadi di Jakarta khususnya di Jakarta Utara.
10 BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Kepuasan Pernikahan
2.1.1 Definisi kepuasan pernikahan
Kepuasan pernikahan adalah perasaan yang bersifat subjektif dari pasangan suami istri mengenai perasaan bahagia, puas, dan menyenangkan terhadap pernikahannya secara menyeluruh (Olson et.al., 2010). Adapun berbagai aspek dalam rumah tangga yang diliputi kepuasan pernikahan yaitu komunikasi, aktifitas waktu luang, orientasi agama, pemecahan masalah, pengaturan keuangan, orientasi seksual, keluarga dan kerabat, peran menjadi orang tua, kepribadian pasangan serta peran dalam rumah tangga (Fowers& Olson, 1993).
Duvall dan Miller (1985) mendefinisikan kepuasan pernikahan sebagai perasaan subjektif dimana bagi suami berarti terpenuhinya perasaan dihargai, kesetiaan dan perjanjian terhadap masa depan dari hubungan tersebut, sedangkan bagi istri kepuasan pernikahan berarti terpenuhinya rasa aman secara emosional, komunikasi dan terbinanya kedekatan.
Berdasarkan dari beberapa definisi yang ada, maka penulis menggunakan definisi kepuasan pernikahan yang dikemukakan oleh Olson et.al. (2010) bahwa kepuasan pernikahan adalah perasaan yang bersifat subjektif dari pasangan suami istri mengenai perasaan bahagia, puas, dan menyenangkan terhadap pernikahannya secara menyeluruh.
2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pernikahan
Kepuasan pernikahan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktordi antaranya:
Self-disclosure (Rini & Retnaningsih, 2007)
Self-disclosure dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan, karena pasangan yang dapat lebih jujur dan terbuka mengenai dirinya dalam komunikasi dengan pasangan dapat membuat pasangan lebih memahami mengenai pernikahannya.
Religiusitas (Ahmadi et.al., 2008)
Dengan tingginya tingkat religiusitas, maka individu dapat merasakan kepuasan dalam pernikahan. Karena, religiusitas merupakan salah satu kunci utama dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga.
Seksualitas (Waring, Holden, & Wesley, 1998)
Seseorang yang mampu berbicara, mengungkapkan kepuasan, serta menyampaikan sebagian pemikirannya terkait dengan seksualitas akan mampu mempengaruhi kualitas dan kepuasan pernikahannya.
Tempat tinggal (Istiqomah, 2015)
Pasangan yang memiliki tempat tinggal yang relatif menetap dan tidak selalu berpindah-pindah merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan.
Pasangan bersifat independen dan dewasa (Olson et.al., 2010)
Semakin dewasa dan mandirinya pasangan, maka semakin mudah bagi mereka untuk mengembangkan hubungan dengan saling ketergantungan yang dapat memfasilitasi keintiman.
Pasangan tidak hanya mencintai satu sama lain tetapi juga mencintai diri mereka sendiri (Olson et.al., 2010)
Individu menikmati kesendirian maupun kebersamaan (Olson et.al.,
2010)
Untuk mengimbangi keterpisahan dan kebersamaan yang membutuhkan hubungan intim, pasangan harus menikmati kegiatan dan waktu ketika berpisah. Saat terpisah atau sedang jauh, dapat mengingatkan nilai hubungan pada pasangan dan meningkatkan pentingnya waktu kebersamaan. Terlalu banyak kebersamaan dapat menyebabkan perilaku negatif seperti mencoba untuk mengendalikan pasangan seseorang dan gagal untuk menghargai pasangan.
Pada penelitian ini, penulis hanya menguji dua faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan, yaitu self-disclosure dan religiusitas dimana kedua faktor tersebut merupakan aspek internal individu yang dapat meningkatkan kepuasan pernikahan.
2.1.3 Dimensi kepuasan pernikahan
Terdapat 10 dimensi kepuasan pernikahan Fowers dan Olson (1993), yaitu:
1. Isu Kepribadian
Dimensi ini menilai persepsi individu terhadap karakter personal pasangannya.
2. Komunikasi
Dimensi ini berkaitan dengan perasaan dan sikap individu terhadap komunikasi dalam pernikahan.
3. Resolusi Konflik
Dimensi ini menilai persepsi pasangan terhadap keberadaan dan penyelesaian konflik dalam hubungan.
4. Pengaturan Keuangan
Dimensi ini berfokus pada sikap dan kekhawatiran tentang bagaimana masalah ekonomi dikelola dalam pernikahan.
5. Aktivitas Waktu Luang
Dimensi ini menilai preferensi untuk menghabiskan waktu luang. Item mencerminkan antara aktivitas sosial dengan pribadi, preferensi bersama dengan individu, dan harapan tentang menghabiskan waktu senggang dengan pasangan.
6. Hubungan Seksual
Dimensi ini mengacu pada perasaan pasangan tentang hubungan afektif dan seksual.
7. Anak dan Pengasuhan
Dimensi ini menilai sikap dan perasaan tentang memiliki dan membesarkan anak-anak.
8. Keluarga dan Teman
Dimensi ini mengacu pada persepsi individu terhadap hubungan dengan orang tua, mertua, dan teman pasangannya.
9. Kesetaraan Peran
Dimensi ini berfokus pada perasaan dan sikap individu tentang berbagi berbagai peran dalam rumah tangga.
10. Agama
Dimensi ini mengacu pada seberapa sering individu dan pasangan melakukan aktivitas beragama bersama.
2.1.4 Pengukuran kepuasan pernikahan
Terdapat dua alat ukur yang dapat mengukur kepuasan pernikahan, yaitu:
1) Enrich Marital Satisfaction Scale (EMS)
Instrumen ini diadptasi oleh Fowers dan Olson (1993) dengan reliabilitas 0,836 yang mengukur 10 aspek dalam kepuasan pernikahan di antaranya isu kepribadian, komunikasi, resolusi konflik, pengaturan keuangan, aktivitas waktu luang, hubungan seksual, anak dan pengasuhan, keluarga dan teman, kesetaraan peran, dan agama.
2) Revised Dyadic Adjustment Scale (RDAS)
Instrumen ini dikembangkan oleh Busby, Christensen, Crane dan Larson (1995) dengan validitas 0,294 – 0,589 dan reliabilitas sebesar 0,832. Terdapat tiga aspek yang diukur, yaitu mengukur emas dimensi, yaitu consensus (pengambilan keputusan), satisfaction (stabilitas, konflik), cohesion.
Berdasarkan beberapa alat ukur yang ada, maka peneliti menggunakan alat ukur Enrich Marital Satisfaction Scale (EMS) yang diadaptasi oleh Fowers dan Olson (1993). Sebab, alat ukur ini dapat mencangkup kriteria dari kepuasan pernikahan dan sesuai dengan teori yang ada.
2.2 Self-Disclosure
2.2.1 Definisi self-disclosure
Self-disclosure merupakan variabel yang signifikan terhadap intimasi, karena self-disclosure adalah suatu proses interaksi yang intim untuk membangun hubungan intim atau pernikahan (Waring & Chelune, 1983).
Self-disclosure dapat dijadikan sarana untuk menceritakan keinginan-keinginan terdalam individu terkait dengan cita-cita pribadi dan berbagi tentang ekspektasi terkait pasangan ataupun permasalahan rumah tangga.
Dengan self-disclosure pasangan dapat lebih memahami dan memberikan dukungan terhadap dirinya.
Adapun definisi dari Jorgensen dan Gaudy (1980), bahwa self-disclosure adalah proses dimana pasangan suami istri mengungkapkan perasaan, persepsi, ketakutan dan keraguan diri sendiri kepada pasangannya mengenai hal pribadi yang seringkali muncul dalam hubungan pernikahan yang mungkin biasanya tidak dapat diungkapkan dalam interaksi sehari-hari.
Self-disclosure adalah keterbukaan pasangan dalam mengungkapkan sesuatu tentang diri sendiri baik pikiran maupun perasaan (Rini & Retnaningsih, 2007). Kemudian, Jourard (1971) mendefinisikan self-disclosure adalah proses dimana seseorang secara lisan mengungkapkan informasi tentang dirinya sendiri kepada orang lain.
mengungkapkan pikiran batin, perasaan, dan pengalaman masa lalu individu kepada orang lain. Selanjutnya, self-disclosure adalah proses mengungkapkan informasi pribadi kepada orang lain (Brehm et.al., 2002).
Berdasarkan beberapa definisi yang ada, maka penulis menggunakan definisi yang dikemukakan oleh Waring & Chelune (1983) bahwa self-disclosure adalah suatu proses interaksi yang intim untuk membangun hubungan pernikahan.
2.2.2 Dimensi self-disclosure
Terdapat empat dimensi dalam self-disclosure Waring, Holden, dan Wesley (1998), yaitu:
1. Relationship
Dimensi ini mengacu pada pengungkapan pemikiran dan perasaan seseorang secara langsung mengenai hubungan tersebut.
2. Sexuality
Dimensi ini mencerminkan pengungkapan pemikiran dan perasaan yang berkaitan dengan seksualitas.
3. Money
Dimensi ini berfokus pada pengungkapan informasi secara langsung mengenai masalah keuangan.
4. Balance
Dimensi ini membahas pengungkapan yang bersifat reciprocal, dimana individu merasa pasangannya memberikan pengungkapan yang seimbang terhadap dirinya.
2.2.3 Pengukuran self-disclosure
Terdapat tiga alat ukur yang dapat mengukur self-disclosure, yaitu:
1) Marital Self-Disclosure Questionnaire (MSDQ)
Instrumen ini diadaptasi oleh Waring et.al. (1998) yang mengukur empat aspek, yaitu relationship, sexuality, money dan balance dengan validitas 0,325 - 0,623 dan reliabilitas 0,892.
2) Self-disclosure Questionnaire (JSDQ)
Instrumen ini diadaptasi oleh Jourard (1971) dengan reliabilitas 0, 832.
Alat ukur ini mengukur sejauh mana subjek menanggapi pasangan mereka.
3) Skala Self-Disclosure
Instrumen ini diadaptasi oleh Pearson, 1983 (dalam Rini &
Retnaningsih, 2007) yang terdiri dari 28 item dengan validitas 0,344 sampai 0,698 dan reliabilitas 0.899 yang berarti alat ukur tersebut mendekati sempurna tingkat kepercayaanya.
Berdasarkan instrumen yang ada, maka penulis menggunakan instrumen skala self-disclosure berdasarkan Marital Self-Disclosure Questionnaire (MSDQ) yang diadaptasi oleh Waring et.al. (1998), karena alat ukur ini mencangkup kriteria yang dapat diukur dari self-disclosure dan sesuai dengan teori yang digunakan peneliti.
2.3 Religiusitas
2.3.1 Definisi religiusitas
Menurut Glock dan Stark (1975) religiusitas adalah tingkat pengetahuan seseorang terhadap agama yang dianutnya serta suatu tingkat pemahaman yang menyeluruh terhadap agama yang dianutnya. Kemudian, dalam teori intrinsik Allport bahwa religiusitas merupakan dasar yang dapat membangun hubungan pernikahan yang baik. Individu dengan agama yang lebih intrinsik atau dewasa dapat melihat dan melampaui kebutuhannya sendiri dan sadar akan pasangan pernikahannya, serta orang lain yang ada dalam ruang hidupnya.
Menurut Ancok dan Suroso (2008) religiusitas mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia dan diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Religiusitas merupakan skema yang memungkinkan individu menafsirkan rangsangan dari lingkungan, mengisi unsur atau celah yang hilang, dan menggunakan heuristik yang menyederhanakan dan mempermudah proses pemecahan masalah (Haseley, 2006).
Berdasarkan beberapa definisi yang ada, maka pada penelitian ini penulis menggunakan definisi yang dikemukakan oleh Glock dan Stark (1975) bahwa religiusitas adalah tingkat pengetahuan seseorang terhadap agama yang dianutnya serta suatu tingkat pemahaman yang menyeluruh terhadap agama yang dianutnya.
2.3.2 Dimensi religiusitas
Terdapat lima dimensi religiusitas dari teori Glok dan Stark (1975), yaitu:
1) Dimensi Keyakinan Agama
Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan, dimana orang yang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut.
2) Dimensi Praktik Agama
Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
3) Dimensi Pengalaman Agama
Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensai yang dialami atau didefinisikan oleh suatu kelompok keagamaan dengan Tuhan.
4) Dimensi Pengetahuan Agama
Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, kitab suci dan tradisi-tradisi.
5) Dimensi Konsekuensi Agama
Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.
2.3.3 Pengukuran religiusitas
1) Skala religiusitas berdasarkan teori Glock dan Stark (1975)
Instrumen ini mengukur dimensi-dimensi religiusitas, yaitu keyakinan agama, praktik agama, pengalaman agama, pengetahuan agama, dan konsekuensi agama.
2) Skala dasar religiusitas (King & Hunt, 1975)
Instrumen ini terdiri dari 18 item denga reliabilitas 0,833
Berdasarkan beberapa instrumen yang ada, maka peneliti menggunakan alat ukur religiusitas yang dimodifikasi berdasarkan alat ukur yang telah dibuat dan digunakan oleh Rifqi (2011) berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Glock dan Stark (1975).
2.4 Kerangka Berpikir
Kepuasan pernikahan merupakan perasaan yang bersifat subjektif dari pasangan suami istri mengenai perasaan bahagia, puas dan menyenangkan terhadap pernikahannya secara menyeluruh (Olson et.al., 2010). Olson dan Fowers (1993) mengemukakan bahwa kepuasan pernikahan meliputi berbagai aspek dalam rumah tangga yaitu komunikasi, aktifitas waktu luang, orientasi agama, pemecahan masalah, pengaturan keuangan,
orientasi seksual, keluarga dan kerabat, peran menjadi orang tua, kepribadi-an paskepribadi-angkepribadi-an serta perkepribadi-an dalam rumah tkepribadi-angga. Kepuaskepribadi-an pernikahkepribadi-an dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pendidikan, ekonomi, cinta, komitmen, komunikasi pernikahan, konflik, jenis kelamin, usia pernikahan, kehadiran anak-anak, hubungan seksual, pembagian peran (Mbam, Oginyi
& Onyishi, 2015), self-disclosure (Rini & Retnaningsih, 2007) dan religiusitas (Haseley, 2006).
Adapun salah satu cara untuk meningkatkan kepuasan pernikahan adalah dengan meningkatkan aspek dalam diri individu, yaitu dengan self-disclosure dan religiusitas. Self self-disclosure merupakan sebuah komponen penting dari hubungan interpersonal, relevansinya yaitu untuk memahami fungsi pernikahan dan untuk mengukur sifat dan tingkat pengungkapan antara pasangan (Waring et.al., 1998). Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Jorgensen dan Gaudy (1980) yang mengungkapkan bahwa self-disclosure mempunyai relasi atau hubungan dengan kepuasan pernikahan.
Setiap pasangan yang menjalani hubungan pernikahan tentunya menginginkan rumah tangga yang harmonis, bahagia, dan mencapai tujuan pernikahan yaitu terwujudnya kepuasan pernikahan. Hal yang harus diperhatikan dalam hubungan pernikahan adalah komunikasi. Komunikasi tersebut dapat dikatakan efektif apabila seseorang mampu atau berani mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara terbuka. Kemampuan seseorang untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara terbuka kepada orang lain disebut self disclosure (Jourad, 1971).
Terdapat empat aspek dalam self disclosure menurut Waring et.al.
(1998), yaitu aspek relationship dimana aspek ini mencerminkan pengungkapan pikiran dan perasaan seseorang mengenai keterlibatannya dalam suatu hubungan. Seseorang yang mengungkapkan segala perasannya terkait dengan hubungannya dengan pasangan akan meningkatkan kepuasan pernikahannya. Hal tersebut merupakan salah satu upaya meningkatkan hubungan dimulai dari sikap dan perilaku yang menunjukkan adanya kemauan dan kegigihan yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan mereka. Menurut penelitian Shafer, Jensen, dan Larson (2014) bahwa upaya untuk meningkatkan suatu hubungan akan berpengaruh terhadap kepuasan pernikahan yang dicapai.
Kemudian, ada aspek sexuality dimana aspek ini mencerminkan pengungkapan pikiran dan perasaan seseorang yang berkaitan dengan seksualitas. Seseorang yang mampu berbicara, mengungkapkan kepuasan, serta menyampaikan sebagian pemikirannya terkait dengan seksualitas akan mampu mempengaruhi kepuasan pernikahan. Menurut Duvall dan Miller (dalam Rini & Retnaningsih, 2007) sexuality juga merupakan hal yang dapat membuat kepuasan pernikahan tinggi dikarenakan seksualitas memiliki sifat yang menyenangkan, dimana hal tersebut termasuk dalam faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan seseorang.
Selanjutnya aspek money, aspek ini mencerminkan pengungkapan informasi secara langsung mengenai laporan keuangan. Menyampaikan hal-hal sederhana seperti, meyampaikan total pendapatan, kepada siapa
pasangan memberi hutang dan kepada siapa berhutang merupakan suatu bentuk pengungkapan diri atau bentuk informasi yang dibutuhkan oleh semua pasangan, hal tersebut juga akan memberi andil dalam kepuasan pernikahan seseorang. Hasil penelitian Papp, Cummings, dan Goeke (2009) menunjukkan bahwa uang merupakan sumber signifikansi konflik pernikahan atau masalah utama untuk beberapa hubungan yang juga dapat menjadi suatu tekanan pada sebuah pernikahan.
Adapun aspek balance, yaitu mencerminkan pengungkapan yang didominasi oleh pengungkapan seseorang kepada pasangannya, dimana individu tersebut dapat memberikan pengungkapan yang seimbang sesuai yang diharapkan pasangannya. Hal ini seperti memberikan respon positif terhadap keterbukaan pasangan mengenai suatu hal kepada dirinya. Dengan mengungkapkan hal tersebut akan membuat pasangan mengerti dan menyadari bahwa hal sekecil apapun perlu untuk diungkapkan, karena hal itu akan dapat mempengaruhi atau berdampak pada kepuasan suatu hubungan pernikahan. Menurut Gottman, rasio dari interaksi positif dan negatif menjelaskan tentang relatifnya keberhasilan pernikahan, artinya jika setiap pasangan berinteraksi lima kali dengan cara yang positif untuk mengganti atau menukar setiap satu interaksi yang negatif maka hal tersebut akan meningkatkan kepuasan pernikahan (Burpee & Langer, 2005).
Keempat aspek self disclosure memiliki pengaruh terhadap kepuasan pernikahan suami-istri. Hal ini dikarenakan keempat aspek tersebut berkaitan dengan pengungkapan pasangan yang berkaitan dengan
hubungan suami istri, seksualitas, finansial, serta keseimbangan di dalam berumah tangga. Waring dan Chelune (1983) mengungkapkan bahwa sangat penting untuk berbagi sikap pribadi, keyakinan dan ide-ide sebagai penentu utama kepuasan pernikahan, dan beberapa studi telah menemukan hubungan yang positif antara self disclosure dan kepuasan pernikahan.
Selain self-disclosure, faktor lain yang dapat meningkatkan kepuasan pernikahan adalah religiusitas. Menurut Glock dan Stark (1975) religiusitas merupakan tingkat pengetahuan dan pemahaman yang menyeluruh terhadap agama yang dianutnya. Dalam kehidupan pernikahan seringkali dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dan permasalahan, sikap dan keputusan dalam menyelesaikan permasalahan menjadi satu aspek yang mempengaruhi kepuasan pernikahan. Pasangan suami istri yang memiliki religiusitas yang tinggi cenderung akan menjalani kehidupan berdasarkan pada aturan yang telah digariskan Allah SWT.
Kehidupan rumah tangga yang penuh dengan tantangan diselesaikannya dengan objektivitas dan lapang dada berdasarkan pertimbangan-pertimbangan agama yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dudley, Kosinski, & Jr.
(1990) bahwa agama harus mendasari dan mewarnai setiap langkah kehidupannya sehingga membawa pengaruh positif bagi perilakunya yang pada akhirnya akan menciptakan pernikahan yang memuaskan.
Terdapat lima dimensi religiusitas yang dikemukakan oleh Glock dan Stark (1975), yaitu keyakinan agama, praktik agama, pengalaman
agama, pengetahuan agama dan konsekuensi agama. Pada dimensi keyakinan agama mengacu pada pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan dimana para penganut diharapkan akan taat.
Berdasarkan hasil penelitian Istiqomah (2015) diketahui bahwa semakin seseorang yakin akan ajaran dan berpegang teguh pada doktrin-doktrin agama yang dianutnya, maka pasangan tersebut akan merasakan kepuasan dalam pernikahannya. Karena keyakinan yang dianut akan membentuk karakter dan kualitas diri seseorang, memberikan batasan jelas akan nilai, norma dan dukungan sosial pemeluk agamanya. Agama juga mengajarkan bahwa pernikahan adalah hal yang sakral dan tidak dapat dihentikan begitu saja.
Kemudian ada dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Sesuai dengan penelitian Bahnasi (2008) bahwa dengan melakukan praktik keagamaan seperti, shalat dan mengikuti kegiatan keagamaan lainnya dapat memberikan ketentraman hati dan melatih diri menghadapi kesulitan. Perasaan tentram yang dicapai individu akan mempengaruhi bagaimana pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
Adapun dimensi pengalaman agama yang berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan
sensasi-sensasi yang dialami seseorang. Menurut penelitian Istiqomah (2015) bahwa dimensi pengalaman agama memberikan kontribusi paling besar terhadap kepuasan pernikahan jika dibandingkan dengan dimensi yang lain.
Menyangkut perasaan dekat kepada Allah, mengerjakan sholat dengan khusuk dan bersyukur kepada Allah.
Selanjutnya pada dimensi pengetahuan agama mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Pengetahuan yang mendalam tentang ajaran agama islam yang dimiliki oleh pasangan akan memberikan efek positif pada kepuasan pasangan dalam pernikahan mereka. Hal ini sesuai dengan pernyataan Iraqy (2002) bahwa pasangan akan lebih berhasil dalam pernikahan jika memahami ajaran agama islam dengan pemahaman yang sebenarnya.
Kemudian yang terakhir dimensi konsekuensi agama, dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Istiqomah (2015) bahwa dengan berperilaku sesuai yang diperintahkan Allah SWT akan dapat mewujudkan kepuasan di dalam pernikahan. Beberapa peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara religiusitas terhadap pernikahan.
Self-disclosure
Gambar 2.1
Bagan Kerangka Berpikir
2.5 Hipotesis
Religiusitas
Kepuasan Pernikahan
Keyakinan Agama Praktik Agama
Pengalaman Agama Pengetahuan
Agama Konsekuensi
Agama Relationship
Sexuality
Money
Balance
Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat apakah tinggi rendahnya independent variable yang ditetapkan pada penelitian ini, yaitu self-disclosure dan religiusitas dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kepuasan pernikahan yang merupakan dependent variable pada penelitian ini.
Hipotesis mayor
Ha: Ada pengaruh yang signifikan self-disclosure (relationship, sexuality, money dan balance) dan religiusitas ( keyakinan agama, praktik agama, pengalaman agama, pengetahuan agama dan konsekuensi agama) terhadap kepuasan pernikahan
Hipotesis minor
Ha1: Ada pengaruh yang signifikan relationship pada self-disclosure terhadap kepuasan pernikahan
Ha2: Ada pengaruh yang signifikan sexuality pada self-disclosure terhadap kepuasan pernikahan
Ha3: Ada pengaruh yang signifikan money pada self-disclosure terhadap kepuasan pernikahan
Ha4: Ada pengaruh yang signifikan balance pada self-disclosure terhadap kepuasan pernikahan
Ha5: Ada pengaruh yang signifikan keyakinan agama pada religiusitas terhadap kepuasan pernikahan
Ha6: Ada pengaruh yang signifikan praktik agama pada religiusitas terhadap kepuasan pernikahan
Ha7: Ada pengaruh yang signifikan pengalaman agama pada religiusitas terhadap kepuasan pernikahan
Ha8: Ada pengaruh yang signifikan pengetahuan agama pada religiusitas terhadap kepuasan pernikahan
Ha9: Ada pengaruh yang signifikan konsekuensi agama pada religiusitas terhadap kepuasan pernikahan
Selanjutnya, hipotesis tersebut diubah menjadi hipotesis nihil dikarenakan pengujian hipotesis di atas dilakukan dengan analisis statistik, sehingga hipotesis nihilnya, “tidak ada pengaruh yang signifikan self-disclosure dan religiusitas terhadap kepuasan pernikahan suami-istri dengan status sosial ekonomi rendah di Jakarta Utara”. Dengan demikian hipotesis nihil inilah yang akan diujikan apakah ditolak atau diterima secara statistik/
signifikan.
30 BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Pada penelitian ini yang dijadikan populasi adalah suami atau istri dengan status sosial ekonomi rendah atau yang berpenghasilan di bawah UMP (Upah Minimum Provinsi), yaitu kurang dari Rp.3.300.000,- yang berdomisili di Jakarta Utara.
Selanjutnya peneliti menyebarkan 205 kuesioner penelitian kepada 205 orang responden, namun yang sesuai dengan kriteria subjek penelitian hanya 200 sampel. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik untuk menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih resepresentatif (Sugiyono, 2010). Dengan kriteria-kriteria tertentu, di antaranya penghasilan keluarga tiap bulannya kurang dari Rp. 3.300.000,-
3.2 Variabel Penelitian
Adapun variabel penelitian yang akan diteliti pada penelitian ini yang terdiri dari dependent variable dan independent variable. Dependent variable pada
Adapun variabel penelitian yang akan diteliti pada penelitian ini yang terdiri dari dependent variable dan independent variable. Dependent variable pada