Upah Minimum Provinsi Banten 2012- 2012-2015
4. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari hasil penelitian ini adalah: 1. Bagi pemerintah
Sebagai bahan informasi untuk pemerintah baik pusat maupun daerah untuk menentukan kebijakan yang tepat.
2. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai bahan referensi untuk peneliti selanjutnya, sehingga diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan inspirasi untuk mengembangkan penelitian yang lebih luas dan mendalam mengenai faktor-faktor penyerapan tenaga kerja.
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Teori Tentang Tenaga Kerja
Berdasarkan UU No. 13 tahun 2003, tenaga kerja adalah orang yang melakukan pekerjaan untuk menghasilkan output baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Pengertian tenaga kerja adalah semua orang yang siap bekerja baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya. Tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah sedang bekerja, sedang mencari pekerja atau yang melakukan pekerjaan lain (Sumarsono, 2003). Beberapa konsep temaga secara umum (Nainggolan, 2009):
1. Tenaga Kerja (manpower) atau penduduk usia kerja (UK),
Tenaga kerja adalah penduduk apabila telah memasuki usia kerja (berusia 15-64 ) atau jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga mereka, dan mereka berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
2. Angkatan Kerja (labor force)
Angkatan kerja merupaka bagian dari tenaga kerja yang sudah tergabung atau sedang berusaha untuk gabung, atau berusaha terlibat dalam kegiatan produksi barang dan jasa, maka yang merupakan angkatan kerja adalah penduduk yang sudah. Jadi angkatan kerja dapat difungsikan melalui persamaan sebagai berikut :
AK = K + MP.
Penjumlahan angka angka angkatan kerja dalam bahasa ekonomi disebut sebagai penawaran angkatan kerja (labour supply).Sedangkan penduduk yang berstatus sebagai pekerja atau tenaga kerja termasuk ke dalam sisi permintaan (labour demand).
13
1. Bukan Angkatan Kerja (unlabour force)
Bukan angkatan kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas.Apabila seseorang itu kegiatan utama nya sekoalah namun dalam seminggu tercatat melakukan pekerjaan minimal 1 jam, maka individual tersebut tetap masuk dalam kategori bukan angkatan kerja. Jadi usia kerja (UK) jika kita sebut dalam identitas tenaga kerja bisa di lihat sebagai berikut :
UK = AK + BAK
2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (labour force participation rate) Tingkat partisipasi angkatan kerja adalah gambaran dari tingkat angkatan kerja dalam suatu lapisan umur sebagai persentase penduduk dalam lapisan umur tersebut, yang bertujuan untuk membandingkan angkatan kerja dengan tenaga kerja.
3. Tingkat Pengangguran (unemployment rate)
Tingkat pengangguran adalah angka yang diperoleh dari jumlah yang menanggur dibagi angkatan kerja dikali 100 persen, yaitu membandingkan jumlah orang yang mencari pekerjaan dengan jumlah angkatan kerja.
Jumlah orang yang bekerja akan bergantung terhadap permintaan (demand) dan lapangan pekerjaan yang tersedia di dalam masyarakat. Permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh tingkat upah.Penempatan dipengaruhi oleh faktor kekuatan penyediaan dan permintaan tersebut, sedangkan besarnya penyediaan dan permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh tingkat upah (Nainggolan, 2009).
2. Teori Tentang Upah
Pengertian upah menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 Bab I Pasal 30 Ayat 1 adalah hak pekerja atau buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja, atau peraturan perundang-undangan termasuk tunjangan bagi pekerja atau buruh dan keluarganya atas suatu
14
pekerjaan dan jasa yang akan dilakukan. Pemberian upah tenaga kerja dalam suatu kegiatan produksi pada dasarnya merupakan imbalan atau balas jasa dari para produsen kepada tenaga kerja atas prestasinya yang telah disumbangkan dalam kegiatan produksi. Upah yang diberikan tergantung (Sulistiawati, 2012):
1) Biaya keperluan hidup minimum pekerja
2) Peraturan Undang-undang yang mengikat tentang upah minimum pekerja
3) Produktivitas tenaga kerja
4) Tekanan yang dapat diberikan oleh serikat buruh dan serikat pengusaha
5) Perbedaan jenis pekerjaan. Upah yang diterima oleh pekerja dapat dibedakan menjadi dua (BPS) :
1. Upah Nominal adalah upah yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan
2. Upah Riil menggambarkan daya beli dari pendapatan atau upah yang diterima buruh. Upah riil dihitung dari besarnya upah nominal dibagi dengan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Sementara itu kajian tentang upah minimum yang dilakukan oleh Carl, Katz, dan Krueger (dalam Mankiw, 2000) menemukan bahwa peningkatan upah minimum ternyata meningkatkan jumlah tenaga kerja yang terserap. kajian ini dilakukan pada restoran di New Jersey dan Pennsylvania Amerika Serikat, dalam penelitian ini dijelaskan restoran-restoran cepat saji di New Jersey meningkatkan upah minimum, sedangkan restoran-restoran cepat di Pennsylvania tidak menaikkan upah minimum pada saat yang sama, menurut teori standar, seperti yang diungkapkan oleh Brown (Mankiw, 2000) bahwa ketika pemerintah mempertahankan upah agar tidak mencapai tingkat tengah, hal itu dapat menimbulkan kekakuan upah yang menyebabkan pengangguran, pengangguran ini terjadi ketika upah berada di atas tingkat yang menyeimbangkan penawaran dan permintaan, di mana jumlah tenaga
15
kerja yang ditawarkan melebihi jumlah permintaan tenaga kerja, oleh sebab itu peningkatan upah minimum mengurangi jumlah tenaga kerja yang diminta oleh perusahaan, terutama bagi tenaga kerja yang tidak terdidik dan kurang berpengalaman. namun kenyataannya dalam kasus kesempatan kerja di restoran-restoran New Jersey berlawanan dengan teori standar, di mana kesempatan kerja yang seharusnya menurun dibandingkan dengan kesempatan kerja di restoran-restoran Pennsylvania, ternyata dari data yang ada menunjukkan bahwa kesempatan kerjanya semakin meningkat.
1. Upah Minimum
Kebijakan upah minimum di Indonesia ditetapkan oleh pemerintah untuk menjamin kesejahteraan para pekerja.Para buruh yang memaksa pengusaha untuk menaikkan upah sedangkan pengusaha yang keberatan dengan naiknya upah, untuk itu pemerintah menerapakan kebijakan upah minumum. Penetapan upah minimum sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 1 tahun 1999 pasal 1 ayat 1 mendefinisikan upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap, berlaku untuk pekerja yang masa kerjanya kurang dari 1 tahun. Upah minimum terdiri dari 4 jenis (wikipedia) :
1. Upah minimum provinsi (UMP) yaitu upah Minimum yang berlaku untuk seluruh kabupaten/kota di satu provinsi.
2. Upah minimum kabupate/kota (UMK)yaitu upah minimum yang berlaku di wilayah kabupaten/kota.
3. Upah minimum sektoral provinsi (UMSP) yaitu upah minimum yang berlaku secara sektoral di satu provinsi.
4. Upah minimum sektoral kabupaten/kota (UMSK) adalah upah minimum yang berlaku secara sektoral di wilayah kabupaten/kota.
1. Upah Minimum Kabupaten/Kota
Penetapan Upah minimun di setiap provinsi berbeda beda besarnya, kerena tingkat kebutuhan hidup di setiap provinsi berbeda. Misalnya, di Provinsi Jawa Tengah penetapan upah minimum menggunakan sistem Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).Upah Minimum Kabupaten/Kota adalah
16
upah yang berlaku di daerah Kabupaten/Kota.Penetapan UMK dilakukan oleh Gubernur, yang penetapannya harus lebih besar dari Upah Minimum Provinsi.
Dalam perusahaan, tenaga kerja adalah faktor paling penting kedua karena melalui tenaga kerja dapat menghasilkan sumber daya alam yang awalnya bernilai kecil dapat berubah menjadi sebuah hasil produksi yang bernilai tingi, atas dedikasinya tehadap perusahaan tenaga kerja berhak menerima imbalan berupa gaji dari perusahaan.
2. Teori tentang Industri
Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1999, Industri adalah kegiatan ekonomi mengolah bahan mentah menjadi bahan baku, bahan setengah jadi atau barang jadi dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk rancang bangunan dengan rekayasa industri, industri mempunyai dua pengertian (Dumairy, 2001), Pertama; industri merupakan himpunan perusahaan-perusahaan penghasil kertas. Kedua; industri adalah sektor ekonomi yang di dalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Dalam istilah ekonomi, Industri juga mempunyai dua pengertian yaitu pengertian secara luas dan pengertian secara sempit, dalam pengertian secara luas,industri mencakup semua usaha dan kegiatan di bidang ekonomi yang bersifat produktif, sedangkan pengertian secara sempit, industri adalah suatu kegiatan yang mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau barang setengah jadi.
Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan memproses barang jadi dan barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih nilainya. Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa Industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi manusia yang sangat penting, melalui kegiatan industri akan dihasilkan berbagai kebutuhan manusia. Dengan kata lain, industri sudah dikenal sejak dahulu.Menurut istilah Kuznets Tambunan, (2001),
17
perubahan struktur ekonomi, umumnya disebut transformasi struktural dan dapat didefinisikan sebagai perubahan dalam jumlah permintaan, perdagangan luar negeri (ekspor dan impor), produksi dan penggunaan faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal.
3. Teori tentang Jumlah Industri
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), unit usaha adalah unit yang melakukan kegiatan yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan dan mempunyai kewenangan yang ditentukan berdasarkan kebenaran lokasi bangunan fisik, dan wilayah operasinya. Menurut (Matz dalam Putra 2012) bertambahnya jumlah perusahaan di suatu daerah yang memproduksi barang diperkirakan akan meningkatkan jumlah produksi sehingga nilai output suatu daerah akan mengalami peningkatan. Secara umum pertumbuhan jumlah industri pada suatu wilayahakan meningkatkan jumlah tenaga kerja. Jumlah industri memiliki pengaruh positif terhadap jumlah tenaga kerja artinya setiap jumlah industri bertambah maka jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh jumlah industri tersebut bertambah (squere,1992).
Para pengusaha akan meningkatkan kapasitas produksinya dengan sejumlah modal. Demikian juga dengan tenaga kerja, apabila jumlah tenaga kerja yang digunakan oleh perusahaan jumlahnya besar maka akan menghasilkan output yang besar pula, sehingga semakin banyak kemungkinan untuk terjadi penambahan output produksi atau tenaga kerja.
4. Teori tentang Lama Sekolah
Menurut UNDP (United Nations Development Program) pembangunan manusia merupakan proses untuk meingkatkan kualitas hidup dan menjadi pilihan yang ada di diri manusia, dimana dalam indeks pembangunan manusia ada tiga indikator yaitu lama hidup yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir, pendidikan yang diukur dengan rata-rata lama sekolah, angka melek huruf penduduk berusia 15 tahun keatas dan standar hidup yang dihitung dari daya beli masyarakat. Pengertian indeks
18
pembangunan munusia menurut UNDP (United Nations Development Program) merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan perkembangan manusia.
Pembangunan ekonomi sendiri memfokuskan pada pembangunan manusia seiring dengan adanya pertumbuhan ekonomi. Peningkatan kualiatas dari sumber daya manusia yang nantinya akan membuka peluang bagi penduduk untuk dapat berpatisipasi dalam proses pembangunan berkelanjutan terutama dalam peningkatan kesempatan kerja. Pembentukan modal manusia merupakan suatu proses untuk meningkatkan kualitas manusia dari sisi pendidikan, keterampilan, keahlian, dan pengalaman untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di suatu Negara. Tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan pula pertumbuhan ekonomi suatu negara (Sumarsono, 2009). Pendidikan terkait langsung dengan peningkatan produktifitas. Tingginya produktifitas output disuatu negara akan meningkatkan PDB sehingga merangsang peningkatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesempatan kerja dalam masyarakat.
Pendidikan sebagai persiapan bagi tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan mendidik peserta didik sehingga bertujuan untuk tenaga kerja memiliki modal dasar yang berupa pembentukan karakter, pengetahuan dan keterampilan.Kemudian, pada tingkat perguruan tinggi.(Trirahardja dan sulo dalam , Mankiw 2005) memiliki teori khusus mengenai tenaga kerja. Pendidikan membuat faktor produksi disebut sebagai ilmu pengetahuan dan kemudian digunakan oleh sektor perusahaan.Ketika perguruan tinggi, angkatan kerja dan perusahaan industri memiliki hubungan yang menguntungkan. Sehingga angkatan kerja yang menduduki perguruan tinggi, akan menghasilkan output yang bagus dan output yang meningkat akan mempengaruhi pada peningkatan penyerapan tenaga kerja.
19
B. Penelitian Terdahulu
1. (Agnes & I Wayan, 2017) ANALISIS PENGARUH MODAL, TINGKAT UPAH DAN TEKNOLOGI TERHADAP PENYERAPAN
TENAGA KERJA SERTA PRODUKSI PADA INDUSTRI
KERAJINAN BATAKO. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui 1) Pengaruh langsung modal, tingkat upah dan teknologi terhadap penyerapan tenaga kerja, 2) Pengaruh langsung modal, tingkat upah dan teknologi terhadap produksi, 3) Pengaruh langsung penyerapan tenaga kerja terhadap produksi, 4) Pengaruh tidak langsung modal, tingkat upah dan teknologi terhadap produksi melalui penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan hasil penelitian secara langsung diperoleh kesimpulan bahwa modal, tingkat upah dan teknologi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja industri kerajinan batako di Kecamatan Mengwi. Variabel modal, tingkat upah, teknologi dan penyerapan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi industri kerajinan batako di Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Sedangkan variabel tidak langsungnya dimana modal, tingkat upah dan teknologi tidak mempengaruhi produksi secara tidak langsung melalui penyerapan tenagakerja. Jadi penyerapan tenagakerja bukan sebagai variabel intervening yang memediasi variabel modal, tingkat upah dan teknologi terhadap produksi.
2. (Tri Kartika, 2017) DETERMINAN PENYERAPAN TENAGA KERJA DI INDONESIA. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh upah minimum provinsi, indeks pembangunan manusia, angkatan kerja, dan produk domestik regional bruto terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia tahun 2007-2016. Metode analisis yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan regresi panel data dengan metode estimasi Fixed Effect pada taraf nyata 5 persen. Data dalam penelitian ini diperoleh dari publikasi online BPS berbentuk data sekunder yang terdiri dari variabel terikat yaitu
20
penduduk berumur 15 tahun ke atas yang termasuk bekerja (Agustus) di Indonesia pada tahun 2007-2016, sedangkan variabel bebas yang digunakan yaitu upah minimum provinsi, indeks pembangunan manusia, angkatan kerja, dan produk domestik regional bruto di Indonesia pada tahun 2007-2016. Data diambil dari 33 provinsi di Indonesia. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu upah minimum provinsi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia, indeks pembangunan manusia berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia, sedangkan angkatan kerja dan produk domestik regional bruto berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
3. (Tanti, Yunastiti & Agustinus, 2016) ANALISIS PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI JAWA TENGAH. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pekerjaan di sektor industri provinsi Jawa Tengah. Melihat latar belakang bahwa aspek pekerjaan merupakan aspek fundamental dalam ekonomi. Perekonomian tumbuh melalui proses industrialisasi, harus mampu menyerap banyak tenaga kerja. Dengan semakin banyaknya pekerja yang terserap maka akan ada peningkatan kesejahteraan penduduk. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder berupa data runtun waktu tahun 2010-2014. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi dan upah minimum Kabupaten/Kota berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja, sedangkan jumlah serikat pekerja industri tidak berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja di sektor industri provinsi Jawa Tengah.
4. (Sidik,2012) Analisis Dampak Kebijakan Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri dan Perdagangan Hotel dan Restoran di Pulau Jawa pada Era Otonomi Daerah. Fokus tujuan
21
penelitian ini yaitu menganalisis secara deskriptif perkembangan kondisi penyerapan tenaga kerja di sektor industri dan perdagangan, hotel dan restoran dan mengetahui pengaruh dari kebijakan upah minimum, PDRB, Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor industri dan perdagangan, hotel dan restoran di Pulau Jawa. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi panel data dengan pendekatan fixed effect model dan metode GLS (Generalized Least Square). Data yang digunakan yaitu berupa data sekunder dengan unit analisis enam provinsi dari tahun 2001 hingga 2010. Hasil analisis deskriptif menyatakan bahwa penyerapan tenagakerja sektor perdagangan, hotel dan restoran menempati posisi kedua sedangkan sektor industri berada pada posisi ketiga. Penyerapan tenagakerja sektor perdagangan, hotel dan restoran relatif cenderung meningkat dibandingkan dengan tenaga kerja sektor industri. Penyerapan tenaga kerja sektor perdagangan, hotel dan restoran tersebut meningkat relatif lambat. Hasil analisis regresi panel data menunjukkan bahwa untuk kedua model yaitu model penyerapan tenaga kerja sektor industri dan model penyerapan tenagakerja sektor perdagangan, hotel dan restoran sudah dapat menggambarkan keragaman cukup baik yang ditunjukkan oleh nilai R2 sebesar 0,998412 dan 0,999587. Untuk model penyerapan tenagakerja sektor industri dari empat variabel bebas yang diduga, menunjukkan tiga variabel berpengaruh signifikan yaitu UMP riil sektor industri, PDRB riil sektor industri dan PMA sektor industri. Satu variabel yang tidak signifikan adalah PMDN dan tidak sesuai teori hal ini dikarenakan PMDN lebih besar dialokasikan pada investasi di subsektor industri yang lebih padat modal yaitu subsektor industri makanan. Pada model penyerapan tenagakerja sektor perdagangan, hotel dan restoran semua variabel memberikan pengaruh yang signifikan dan sesuai dengan teori. Kedua model penyerapan tenagakerja menunjukkan bahwa
22
provinsi Jawa Tengah memiliki nilai efek tetap yang paling besar. Hal ini mengartikan bahwa provinsi tersebut memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menyerap tenagakerja. Sedangkan provinsi DI Yogyakarta memiliki nilai efek tetap yang paling kecil.
5. (Oktaviana,2011) Analisis Penyerapan Tenaga Kerja di Kota Salatiga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyerapan tenaga kerja di Kota Salatiga. Variabel independen yang digunakan antara lain Upah Minimum Kota dan produktivitas tenaga kerja. Sedangkan variabel dependen yang digunakan adalah penyerapan tenaga kerja. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data angkatan kerja yang bekerja di Kota Salatiga, data produktivitas tenaga kerja dan data UMK Salatiga yang bersumber dari BPS Jawa Tengah, Disnakertrans Kota Salatiga dan SPN Kota salatiga. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda, yaitu analisis yang digunakan untuk mencari pengaruh sekumpulan variabel independen terhadap suatu variabel dependen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upah dan produktivitas tenaga kerja secara bersama-sama berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Salatiga. Secara parsial, upah memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Salatiga dan produktivitas tenaga kerja memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Salatiga. Besarnya pengaruh upah dan produktivitas tenaga kerja terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Salatiga sebesar 95,16% sedangkan sisanya 4,84% diterangkan oleh faktor lain.
6. (Fuad,2013) Analisis Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri Konveksi Kota Malang.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja pada industri konveksi di Kota Malang. Terdapat empat variabel yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di industri konveksi yakni: modal, volume penjualan, tingkat pendidikan, dan tingkat
23
upah.Teknik analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Teknik analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh modal, volume penjualan, tingkat pendidikan dan tingkat upah terhadap penyerapan tenaga kerja. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel tingkat pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat tinggi terhadap penyerapan tenaga kerja. Untuk variabel volume penjualan dan tingkat upah memiliki pengaruh yang tinggi terhadap penyerapan tenaga kerja.
7. (Desi,2018) Pengaruh Upah Minimum, Tingkat Pendidikan, Investasi dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia tahun 2016.Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis Upah Minimum, Tingkat Pendidikan, Investasi Dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Di Indonesia Tahun 2016. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bersumber atau diperoleh dari data Badan Pusat Statistika (BPS) untuk data upah minimum, pendidikan, pengeluaran pemerintah pada tahun 2016. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diambil dari melalui website resmi Badan Pusat Statistik (www.bps.go.id). Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa keempat variabel memiliki pengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada Tahun 2016. Dan koefisien determinasi menunjukkan daya ramal dari model statistik terpilih. Hasil estimasi menunjukkan nilai sebesar 0.972219 artinya 97,22% Sedangkan sisanya sebesar 2.78% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak disertakan dalam model.
8. (Risa,2007) Analisis Spasial Peneyrapan Tenaga Kerja Pada Industri Manufaktur Makanan di Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengindetifikansi konsetrasi spasial industri manufaktur besar dan sedang di Jawa Timur berdasarkan peneyerapan tenaga kerj. Data yang digunakan adalah data sekunder dan periode penelitian tahu 1999-2004. Alat analisis yang digunakan meliputi; Sistem Informasi
24
Geografis (SIG), regresi linier berganda dengan data panel menggunakan metode GLS (Random Effect).dalam penelitian ini dapat dikethaui bahwa penyerapan tenaga kerja industri manufaktur besar dan sedang di Jawa Timur tidak merata antar daerah. Di bebeapa kabupaten dan kota mengalami penyerapan tenaga kerja yang sangat tinggi sedangkan di bagian wilayah yang lain mengalami penyerapan tenaga kerja yang rendah. Dari hasil regresi yang dilakukan dengan menggunakan data panel bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur besar dan sedang di Jawa Timur prosentasi koefisien korelasi secara keseluruhan variabel sebesar 96,44% mempengaruhi penyerapan tenaga keja.
9. (Iza,2015) Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Di Provinsi Jawa Barat tahun 2010-2013. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan dan upah minimum kabupaten/kota terhadap penyerapan tenaga kerja serta untuk mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh. Metode yang digunakan adalah PLS. Hasil dri penelitian ini menunjukan bahwa variabel tingkat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 0.0098 dan variabel upah minimum kabupaten/kota berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 0.0123 terhadap penyerapan tenaga