Perkembangan ekowisata di Pulau Pramuka sudah semakin baik dan sudah banyak dikenal oleh banyak orang. Pulau yang merupakan salah satu gugusan Kepulauan Seribu termasuk ke dalam Kelurahan Pulau Panggang. Pulau ini dapat dicapai melalui perjalanan laut dengan perahu motor tradisional dari pelabuhan nelayan Muara Angke atau dengan perahu cepat dari dermaga kapal Marina Ancol. Di pulau ini terdapat saranan pelestarian penyu sisik, penanaman bakau, dan transplantasi terumbu karang. Selain itu juga pulau pramuka menyunguhkan jasa sewa alat selam dan snorkeling, bermain banana boots dan beberapa permainan lainnya.
Namun perkembangannya pun diikuti dengan perkembangan pariwisata di pulau lain yang ada di Kepulauan Seribu. Beberapa pulau diantaranya yang turut memiliki perkembangan akan potensi pariwisatanya yaitu Pulau Tidung dan Pulau Pari. Namun diantaranya yang paling diminati oleh para wisatawan adalah Pulau Tidung. Berdasarkan informasi dari Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu bahwa Pulau Tidung akhir-akhir ini kunjunganya meningkat tajam karena suasana pulau yang nyaman dan biaya yang cukup ekonomis. Air lautnya yang bening dan hamparan pasir putih di tepi pantainya sangat indah untuk dinikmati. Belum lagi pesona sunrise dan sunset yang indah setiap harinya. Maka tidak heran jika para wisatawan pulau ini menemukan surga baru atau new paradise bagi komunitas pencinta wisata di tanah air. Selain itu juga kegiatan berenang dan memancing di pulau ini sangat menyenangkan. Wisata yang paling khas di Pulau Tidung berada di sebelah timur pulau ini terdapat Pulau Tidung Kecil. Kini kedua pulau ini tersambung oleh jembatan kayu yang sangat indah yang lebih dikenal dengan “Jembatan Cinta”. Kita bisa menyusuri jembatan itu sambil melihat ke bawah laut yang bening dengan pemandangan karang-karang dan ikan yang beraneka warna. Di sekitar jembatan terdapat beberapa keramba ikan milik nelayan setempat.
“... Sayangnya gini mas, dulu itu akomodasi kapal dari muara angke jauh lebih banyak dimiliki masyarakat pulau pramuka, tapi mereka mengantarkan juga kepulau-pulau lainnya, yah sekarang hampir semuanya sudah memiliki fasilitas kapal jadi sudah banyak juga saingannya. Yah sekarang kalau dibandingkan dengan pulau tidung lebih peningkat pengembangan wisatanya dibandingkan pulau pramuka...” (SGN, 50th, 21 April 2013)
“... Mungkin agak sedikit kurangnya di pulau pramuka itu semua jenis usaha mereka ingin kelola sendiri tidak seperti di pulau tidung yang masing-masingnya sudah memiliki satu pintu dari jenis usahanya, yah barang kali masyarakat pulau pramuka berpikir lebih untung kelola sendiri...” (AMR, 46th, 20 April 2013)
Beberapa diantaranya pun terdapat di Pulau Pramuka seperti adanya taman miniatur ekosistem. Pada taman laut dangkal itu berisikan berbagai koleksi kekayaan akan ekosistem yang dimiliki di Pulau Pramuka. Ekosistem diantaranya seperti berbagai jenis terumbu karang, ikan, serta penyu sisik pun hadir di taman
miniatur ekosistem tersebut. Selain itu di Pulau Pramuka pun memiliki penangkaran penyu sisik khusus yang dikelola oleh taman nasional kepulauan seribu. Hal ini dikarenakan saat ini jumlah penyu sisik sudah semakin sedikit, maka wajib untuk dilindungi. Pulau Pramuka sudah melakukan penanaman bakau sebagai upaya perbaikan pertahanan pantai.
“...Dulu nih taman miniatur banyak banget ikannya, dan penggagas utamanya sendiri masyarakat dan semua hasil tangkap nelayan dimasukan ke dalamnya, maksudnya sih biar anak cucu kita tahu kekayaan sumberdaya alam yang kita miliki sebagai orrang pulau, namun sekarang sudah diambil alih sama pemerintah karena dilihat memiliki nilai jual, yah sekarang bisa liat sendiri kurang perawatannya dan dulu suka dipancingin dan nelayan pun jadi malas untuk menaruhkan hasil tangkapnya lagi...”(SGN, 50th, 21 April 2013)
“... Yah sekarang sudah tidak sedikit masyarakat yang peduli khsusunya pada penyu ini, mana mau ya merawat atau kerja di pelestarian penyu ini kalau tanpa imbalahnya, susah mas, dan sekarang pun penagkarannya dibatasi untuk setiap orang yang masuk, karena akan menganggu dalam pelestariannya penyunya juga...” (SLM, 51th, 4 April 2013)
Ketika adanya ekowisata atau bisa disebut sebuah pariwisata berbasiskan alam itu sangat bermanfaat bagi masyarakat di Pulau Pramuka. Namun kini, seiring dengan adanya pariwisata dimana masyarakat saling mencoba untuk memanfaatkan keberadaan potensi wisata ini dengan melakukan berbagai jenis usaha. Berbagai usaha yang dilakukan masyarakat relatif sama karena adanya tingkat kebutuhan dari adanya perkembangan pariwisata di wilayah tersebut. Akibat adanya persamaan jenis usaha yang dilakukan masyarakat pulau pramuka sebagai dapat saling bekerjasama namun tidak jarang pun yang saling mementingkan kebutuhan masing-masing. Keberadaan tersebut menciptakan berkurangnya rasa saling bekerjasama dan saling peduli antara sesama tanpa mengharapkan imbalan. Pulau Pramuka pun sebagai salah satu pulau yang termasuk kedalam zona pemanfaatan mungkin memang berbeda dengan pulau yang digunakan sebagai pariwisata lainnya. Pembangunan yang berada di Pulau Pramuka pun sudah semakin meningkat dan fasilitasnya pun sudah semakin memadai. Masyarakatnya pun sudah memanfaatkan pengembangan ekowisata dengan menjalankan berbagai usaha. Usaha yang dijalankan dianataranya seperti usaha jasa pemandu wisata, penyewaan alat selam dan snorkeling, penginapan atau homestay, katering, dagang warung atau jajanan kecil dan juga jasa travel
pariwisata, pengangkut/ gerobak dorong. Gerobak dorong itu merupakan salah satu pekerjaaan jasa angkut barang-barang, dan peningkatan pengembangan ekowisata pun membantu penambahan pemasukannya. Selain itu juga beberapa diantaranya ada yang menjadi kuli bangunan, dan dengan seiringnya pembangunan rumah sebagai penginapan semakin menambah juga pemasukan bagi para pekerja kulinya itu sendiri.
“... yah alhamdulillah mas, saya jadi bisa ada pemasukan tambahan selagi suami saya pergi bekerja, saya sambil nungguin penginapan yang masih satu family lah sama kita sekalian jagain warunganya juga, dari pada nganggur di rumah aja kan mas mending ada kegiatan positif yang bisa nambah bekal anak juga..” (Ibu RN, 35th, 23 April 2013)
“... Saya pun pernah hadir sewaktu ada panggilan dari pemerintah, dimana pemerintah melarang untuk pengambilan pasir laut untuk pembangunan, yah saya jawab aja kita sebagai masyarakat pulau memanfaatkan SDA yang ada, dekat, dan sesuai kantong seperti pasir laut , mungkin bisa dicontohkan juga kalau anda (pemerintah) sebagai masyarakat darat yang membangun rumah dengan memanfaatkan batu gunung, apakah itu tidak merusak keberadaan gunungnya itu sendiri?, tapi kalau memang pemerintah bisa sediakan itu semua sesuai dengan keberadaan masyarakat pulau ini kita pun dengan senang hati menanggapinya...” (SGN, 50th, 21 April 2013)
Pengembangan ekowisata yang berada di Pulau Pramuka sudah jelas bermanfaat dan sangat membantu peningkatkan perekonomian masayrakat pulaunya. Namun hal ini tidak sesuai dengan pelestarian dalam mengembangkan ekowisatanya itu sendiri. Pelestariannya masih dinilai kurang maksimal antara pengunaan dengan penanggulangannya. Pembangunan rumah atau bangunan lainnya lebih banyak menggunakan pasir laut, dimana hal ini dapat menyebabkan penurunan ketinggian pulaunya itu sendiri. Beberapa diantaranya seperti pemandu wisata yang bisa diakatakan kurang dalam pengarahannya kepada wisatawan untuk turut menjaga dan melestarikan lingkungannya.