• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

2. Manfaat Praktis

Sebagai sarana untuk menerapkan beberapa teori yang telah diperoleh dengan kenyataan yang sebenarnya di Kelurahan Rumpia.

b. Bagi Buruh Gendong

Wacana dalam pengembangan kuantitas dan kualitas, serta apa saja faktor pendorong dan penghambat perkembangan buruh gendong di Kelurahan Rumpia, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo.

c. Bagi Masyarakat

Sebagai bahan masukan bagi semua pihak agar lebih mengetahui betapa pentingnya buruh gendong dalam membantu kelancaran proses jual-beli di Pasar Atapannge, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo.

d. Bagi Pemerintah

Sebagai bahan masukan bagi pemerintah setempat untuk dapat mengetahui lebih lanjut keadaan masyarakatnya.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka 1. Konsep Buruh

Buruh adalah orang yang bekerja pada orang lain atau suatu lembaga (perusahaan), untuk menghasilkan barang atau jasa dengan mendapat upah, Supomo (Toha & Pramono 1991:2).

Buruh berbeda dengan pekerja, pengertian pekerja lebih menunjuk pada proses dan bersifat mandiri. Bisa saja pekerja itu bekerja untuk dirinya dan menggaji dirinya sendiri pula. Contoh pekerja ini antara lain petani, nelayan, dokter yang dalam prosesnya pekerja memperoleh nilai tambah dari proses penciptaan nilai tambah yang mereka buat sendiri. Istilah tenaga kerja dipopulerkan oleh pemerintah orde baru, untuk mengganti kata buruh yang mereka anggap kekiri-kirian dan radikal.

Menurut Lenin, kelas sosial dianggap sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Marx bahwa kelas berakar dalam hubungan sosial produksi, bukan hubungan dalam distribusi dan konsumsi.

Menurut Marx, pelaku utama dalam perubahan sosial bukanlah individu, tetapi kelas-kelas sosial. Dalam setiap masyarakat terdapat kelas yang menguasai dan kelas yang dikuasai atau dengan kata lain terdapat kelas atas dan kelas bawah.

Marx membagi kelas sosial ke dalam tiga kelas, yang diantaranya adalah kelas

8

buruh (mereka hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba) dan para tuan tanah (hidup dari rente tanah) (Franz Magnis-Suseno:113), namun dalam masyarakat kapitalis, tuan tanah dimasukkan ke dalam kaum pemilik modal.

a. Pemilik modal (borjuis)

Kaum pemilik modal merupakan pemilik alat-alat produksi, membeli dan mengeksploitasi tenaga kerja serta menggunakan nilai surplus (nilai lebih) dari pekerja untuk mengakumulasi atau memperluas modal mereka.

b. Buruh (proletariat)

Kaum buruh merupakan tenaga kerja yang hanya memiliki kemampuan untuk bekerja dengan tangan dan pikiran mereka. Para pekerja ini harus mencari penghasilan kepada para pemilik modal.

Dengan adanya kelas-kelas itu terjadi adanya keterasingan pekerjaan karena orang-orang yang bekerja berbeda dalam kelas, yaitu kelas buruh dan kelas majikan. Kelas para majikan memiliki alat-alat produksi, pabrik, mesin dan tanah.

Sedangkan kaum buruh bekerja dan terpaksa menjual tenaganya mereka kepada para majikan karena tidak memiliki sarana dan prasarana. Oleh karena itu, hasil dari pekerjaan itu bukan lagi milik para pekerja tetapi juga milik para majikan.

Menurut Undang-Undang Nomor. 13 tahun 2003 buruh dapat dibedakan atas:

a. Buruh Halus, merupakan buruh atau pekerja yang bekerjanya pada tempat yang tidak tetap tetapi pekerjaannya sama dan tidak berat.

b. Buruh Kasar, pekerja yang bekerja pada tempat yang tidak tetap, hanya bekerja apabila ada orang yang membutuhkan tenaganya. Jenis

pekerjaannya bergantung pada orang yang mempekerjakannya, melaksanakan pekerjaannya yang secara fisik berat.

c. Buruh Atasan, buruh yang bekerja berdasarkan kesempatan antar kedua belah pihak antara majikan dan buruh yang telah disepakati yang mengepalai sejumlah buruh lain, baik buruh halus maupun buruh kasar sebagai bawahan.

d. Buruh bawahan, pekerja yang bekerja dengan standar penghasilan yang telah ditentukan oleh majikan yang menjadi atasan.

Sesuai dengan jenis buruh, system pemberian upah kerja dalam suatu lembaga atau perusahaan disesuaikan atas golongan pekerjaannya, yaitu : a. Buruh Borongan, yaitu buruh yang belum memiliki banyak pengalaman

kerja serta rata-rata berpendapatan rendah. Besarnya upah yang diterima didasarkan pada jumlah hasil pekerjaan yang dapat dicapainya. Buruh borongan ada dua macam, yaitu tetap dan lepas. Buruh borongan tetap adalah mereka yang bekerja dalam suatu lembaga dengan status tetap.

Sedangkan buruh borongan lepas adalah buruh borongan yang tidak memiliki keterkaitan kerja dan dapat keluar tanpa ijin oleh majikan.

b. Buruh harian adalah buruh yang berasal dari buruh borongan tetap yang kerjanya sudah memadai. Besarnya upah yang diterima didasarkan pada jumlah hari kerja yang bervariasi, disesuaikan dengan bidang-bidang pekerjaannya.

c. Pekerja atau karyawan bulanan, yaitu pegawai tetap dalam suatu perusahaan dengan persyaratan-persyaratan tertentu seperti : tingkat

pendidikan, pengalaman kerja dan loyalitas terhadap perusahaan. Besarnya upah yang diterima tidak ditentukan baik jumlah pekerjaan yang dapat diselesaikannya, tetapi merupakan gaji yang diterima setiap bulannya.

Menurut Toha & Pramono (1991:3) buruh adalah seseorang yang bekerja pada orang lain (majikan atau juragan) dengan menerima upah sekaligus mengesampingkan persoalan antara pekerjaan bebas dan pekerjaan yang dilakukan dibawah pimpinan orang lain, serta mengesampingkan pula persoalan antara pekerja dan pekerja.

Menurut Toha & Pramono (1991:3) ada dua macam hubungan antara buruh dan majikan atau juragan adalah sebagai berikut :

a. Hubungan secara yuridis, buruh adalah bebas, oleh karena prinsip negara kita ialah bahwa tidak seorangpun boleh diperbudak dan diperhamba.

b. Hubungan secara sosiologis adalah tidak bebas, sebab tidak memiliki keahlian dan hanya mengandalkan tenaganya.

Menurut Pranaka (1996), konsep pemberdayaan perempuan merupakan sebuah konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat yang dapat dipandang sebagai bagian dari system modernisasi kemudian diaplikasikan kedalam dunia kekuasaan. Sedangkan kecenderungan kedua, merupakan kecenderungan (sekunder) yang menekankan pada proses stimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar memiliki, melatih, dan meningkatkan kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog, berupaya dan bekerja (Sugiarti, 2003:187).

2. Pasar Tradisional

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar (http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar).

Pasar tradisional merupakan pasar yang berperan penting dalam memajukan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan memiliki keunggulan bersaing secara alamiah. Keberadaan pasar tradisional ini sangat membantu, tidak hanya bagi pemerintah daerah ataupun pusat tetapi juga para masyarakat yang menggantungkan hidupnya dalam kegiatan berdagang, karena di dalam pasar tradisional terdapat banyak aktor yang memiliki arti penting dan berusaha untuk mensejahterakan kehidupannya baik itu pedagang, pembeli, buruh gendong dan sebagaimya.

3. Buruh Gendong

Pekerjaan dalam sektor informal menjadi alternatif pilihan pencari kerja, akan tetapi bagi yang tidak memiliki modal usaha dan keterbatasan memilih menjadi buruh. Salah satu contohnya buruh gendong di pasar Atapannge. Buruh sendiri adalah orang yang bekerja menggunakan tenaga dan ototnya untuk mendapatkan upah.

Buruh gendong muncul karena ketimpangan pembangunan desa-kota.

Mereka memang berasal dari desa-desa miskin di sekitar Atapannge. Profesi itu dipilih karena tak banyak pilihan yang bisa diambil. Lahan pertanian, misalnya,

selain tidak memadai luasnya, juga tidak subur. Banyak buruh yang berasal dari keluarga yang tidak punya lahan pertanian.

Buruh dalam penelitian ini lebih di khususkan pada buruh yang bekerja sebagai buruh gendong di pasar Atapannge Kecamatan Majauleng, buruh perempuan yang nantinya akan di analisis dari segi gendernya.

4. Teori Nurture (Konflik/Pertentangan)

Landasan teori ini akan diberikan gambaran mengenai teori yang akan digunakan oleh penulis untuk menganalisis pekerja perempuan yang bekerja sebagai buruh gendong di pasar Atapannge Kecamatan Majauleng. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori yang sesuai untuk menganalisis yaitu teori Nurture. Teori nurture beranggapan bahwa perbedaan psikologis antara laki- laki dan perempuan disebabkan atau tercipta melalui proses belajar dari lingkungan (Budiman, 1985:2). Perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas berbeda.

Perbedaan itu membuat perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan kontribusinya dalam kehidupan berkeluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Konstruksi sosial menempatkan perempuan dan laki-laki dalam perbedaan kelas. Laki-laki diidentikkan dengan kelas borjuis dan perempuan sebagai kelas proletar.

Teori ini beranggapan perbedaan peran dan status antara laki-laki dan perempuan tercipta melalui pembelajaran dari lingkungan setempat sehingga tidak bisa berlaku universal tetapi tergantung kepada kondisi sosial budaya yang mempengaruhinya. Lokasi daerah yang berbeda begitu pula peran dan status

antara laki-laki dan perempuan. Karena tidak lagi mau tergantung pada laki-laki maka perempuan masa kini cenderung untuk mencari juga penghasilan sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan kata lain, perempuan berusaha untuk tidak menjadi subordinasi laki-laki, yang kemudian menjadi diri sendiri yang bebas dan mandiri.

Gebrakan kaum nurture telah merubah pola masyarakat. Begitu juga dengan kaum perempuan di Majauleng mereka tidak mau bergantung kepada laki-laki sehingga mencari penghasilan sendiri dengan menjadi buruh gendong di pasar Atapannge yang perlu menggunakan keterampilan khusus.

Adanya kenyataan bahwa tidak semua perempuan hidup dalam lingkungan rumah tangga dan adanya keraguan akan sifat-sifat perempuan yang emosional, pasif, dan berdasarkan teori nurture yang menyebutkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah akibat dan proses belajar dari lingkungan, maka Mill yang mewakili teori nurture mengungkapkan bahwa apa yang disebut sifat kewanitaan adalah hasil pemupukan masyarakat melalui suatu sistem pendidikan. Mill juga menyimpulkan apa yang disebut sebagai kodrat perempuan adalah hasil buatan, hasil dari kombinasi tekanan dan paksaan di satu pihak, dan rangsangan yang tidak wajar dan menyesatkan di lain pihak (Budiman 1985 : 4-5).

Mengacu pada perbedaan kebudayaan yang berakibat pada perbedaan peran laki-laki dan perempuan, dapat dikatakan bahwa pembagian tugas dan kerja tidak tergantung pada jenis kelamin tertentu tetapi peran merupakan khas setiap kebudayaan dan karenanya gender adalah juga khas setiap kebudayaan. Gender tidak hanya berbeda antar kebudayaan. Tetapi juga berbeda dari waktu ke waktu

dalam kebudayaan yang sama. Berkembangnya masyarakat, peran-peran yang dijalani oleh perempuan dan laki-laki tidak lain hanya ditentukan oleh kebudayaan, tetapi oleh ideology yang dominan pada suatu masa dan oleh faktor- faktor sosial, politik dan ekonomi (Sumbullah 2008 : 35-36).

Teori diatas sesuai dengan penelitian ini bahwa perempuan gendong di Kelurahan Rumpia tidak lagi hanya menjalankan peran reproduktif yang selama ini diidentikkan dengan perempuan, akan tetapi perempuan yang bekerja sebagai buruh gendong juga bisa menjalankan peran produktif yang selama ini lebih diidentikkan dengan pekerjaan laki-laki. Selain itu adanya stereotipe pada perempuan yang bukan merupakan pencari nafkah utama dalam keluarga mengakibatkan perempuan buruh gendong mendapat upah minimum.

5. Teori Nature (Struktural Fungsional)

Manusia, baik perempuan maupun laki-laki, memiliki perbedaan kodrat sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dalam kehidupan sosial, ada pembagian tugas (division of labour), begitu pula dalam kehidupan keluarga karena tidaklah mungkin sebuah kapal dikomandani oleh dua nakhoda. Talcott Persons dan Bales (1979) berpendapat bahwa keluarga adalah sebagai unit sosial yang memberikan perbedaan peran suami dan isteri untuk saling melengkapi dan saling membantu satu sama lain.

Teori nature beranggapan bahwa pembangian kerja (perempuan:

domestik; laki-laki: publik) disebabkan oleh faktor-faktor biologis laki-laki dan perempuan. Faktor-faktor itu adalah anggapan secara psikologis bahwa perempuan itu emosional, pasif, dan submisif; sedangkan laki-laki lebih perkasa,

aktif dan agresif. Karena itu wajarlah perempuan tinggal dalam rumah, membesarkan anak-anak, memasak dan memberi perhatian kepada suaminya.

Sedangkan laki-laki, sesuai dengan struktur biologisnya itu, pergi ke luar rumah untuk mencari makanan/sumber penghidupan bagi keluarga. Jadi teori nature mengesahkan pandangan bahwa daerah perempuan adalah domestik dan daerah laki-laki adalah publik.

Dalam perkembangan sosiologi, ternyata dalil teori nurture bahwa pembagian kerja disebabkan karena faktor pembiasaan dari lingkungan sangat tepat. Citra seorang perempuan memang dibentuk oleh masyarakat dan bukan terberi secara alamiah. Maksudnya, banyak perempuan masa kini mulai merasa dirugikan oleh pembagian kerja itu dan mereka juga mulai mengkaji kembali

“kodrat” perempuan sebagaimana yang diberikan oleh teori nature.

Karena tidak lagi mau tergantung pada laki-laki, maka perempuan masa kini cenderung untuk mencari juga penghasilan sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan kata lain, perempuan berusaha untuk tidak menjadi subordinasi laki-laki, yang kemudian menjadi diri sendiri yang bebas dan mandiri. Gebrakan kaum nurture telah merubah pola masyarakat.

6. Teori Equilibrium (Sosiobiologis)

Hubungan antara faktor-faktor biologis dan sosio-kultural dalam proses pembentukan perbedaan seksual antara laki-laki dan perempuan mengakibatkan adanya pembagian kerja secara seksual. Peran yang didapatkan oleh perempuan dalam pembagian kerja secara seksual lebih tidak menyenangkan daripada peran yang diberikan kepada laki-laki. Peran yang diterima oleh laki-laki

memungkinkan bagi mereka untuk mengembangkan dirinya, sedangkan perempuan kehidupannya hanya berputar disekitar kehidupan rumah tangga, sehingga perempuan jadi tergantung kepada laki-laki secara ekonomis karena pekerjaan yang dilakukan di rumah tangga tidak menghasilkan gaji.

7. Perempuan Pekerja dan Ketimpangan Gender

Pekerjaan berasal dari kata “ Kerja", menurut (Anoraga, 2006:11). “Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia.Kebutuhan itu bisa bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya.

Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukan akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumya .

Dalam penelitian ini pekerjaan perempuan yang dimaksudkan adalah pekerjaan sebagai buruh gendong.Buruh gendong adalah pekerja yang menyediakan tenaga untuk menggendong barang-barang dipasar.

Perempuan pekerja merupakan bagian dari lapisan generasi muda penduduk desa yang memiliki sejumlah ciri-ciri sosial dan budaya yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka itu, baik yang masih gadis ataupun yang sudah berumah tangga, umumnya telah memiliki bekal pendidikan dasar ke atas.

Mereka telah menyerap nilai-nilai baru baik lewat sekolah, mass-media, maupun dalam pergaulan selama bekerja diluar kelurahannya, yang nanti akan berpengaruh pula pada bentuk representasinya dalam keluarga dan masyarakat.

Mereka inilah yang berhasil mengakses pekerjaan diluar kelurahannya, terutama

bekerja di pabrik yang berada di dekat kelurahannya atau di kota (Warto dalam Abdullah, 1997: 167).

Untuk menerangkan kaitan wanita dengan kesempatan kerja dapat dilihat dari beberapa perspektif ;

a. Integrasi, Perspektif integrasi, yang beranggapan bahwa pembangunan dapat memberikan peluang kerja bagi wanita. Oleh karena itu jika wanita diberi kesempatan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, mereka dapat sejajar dengan kedudukan pria.

b. Eksploitasi, Perspektif eksploitasi, beranggapan bahwa eksploitasi adalah produk modernisasi yang menekankan akumulasi modal oleh para kapitalis. Hal ini menyebabkan upah rendah, kondisi kerja buruh serta jaminan sosial rendah bagi pekerja wanita. (Suratiyah dalam Abdullah, 1997: 221-222).

c. Marginalisasi, Perspektif marjinalisasi, mengacu pada paham bahwa pembangunan kapitalis akan menggusur wanita dari kegiatan inti ekonomi pinggiran, bahkan wanita dapat didepak keluar sama sekali dari hubungan produktif.

Murniati (2004:20) menjelaskan bahwa marginalisasi berarti menempatkan atau menggeser ke pinggiran. Marginalisasi merupakan proses pengabaian hak-hak yang seharusnya didapat oleh pihak yang termarginalkan.

Menurut Fakih (2008:14), proses marginalisasi sama saja dengan proses pemiskinan. Hal ini dikarenakan tidak diberinya kesempatan kepada pihak

yang termaginalkan untuk mengembangkan dirinya. Demikian juga yang dialami oleh perempuan saat proses marginalisasi ini terjadi pada jenis kelamin. Perempuan merupakan pihak yang dirugikan daripada laki-laki dalam hal ketidakadilan gender ini. Sebagai contoh dalam hal pekerjaan.

Perempuan yang bekerja dianggap hanya untuk memberikan nafkah tambahan bagi keluarga, maka perbedaan gaji pun diterapkan antara perempuan dan laki-laki. Kedudukan laki-laki yang dianggap lebih tinggi juga akan berimbas pada pendidikan yang rendah untuk perempuan.

d. Streotipe, Perspektif Stereotip masyarakat bahwa perempuan lebih cocok bekerja mengurus rumah daripada bekerja di luar, mengakibatkan kesempatannya untuk mengembangkan diri di luar terhambat. Perempuan yang sudah tidak bisa hidup mandiri karena keadaan, menjadikannya budak laki. Perempuan akan melakukan semua yang diinginkan laki-laki agar tetap bisa bertahan hidup. Hal tersebut dapat dicontohkan dalam kehidupan rumah tangga, jika yang bekerja adalah suami dan istri mengurus anak serta segala urusan rumah, istri akan menuruti semua keinginan suami agar tetap diberi nafkah (secara materi) untuk terus hidup.

Hal tersebut dikarenakan bila istri ditinggalkan suami, dia tidak akan memiliki uang untuk melanjutkan hidupnya termasuk untuk membiayai anakanaknya.

Pelabelan atau penandaan negatif terhadap kelompok atau jenis kelamin tertentu. Akibat dari streotip ini biasanya timbul diskriminasi dan berbagai

ketidak adilan. Salah satu bentuk streotip ini adalah yang bersumber dari pandangan gender.

Perempuan menjadi pekerja kelas dua karena anggapan-anggapan yang diberikan pada pekerja perempuan membuat posisi perempuan menjadi terbelakang dan akan terus menjadi pihak yang tergantung pada laki-laki (Yuarsi dalam Abdullah, 2006:244).

e. Subordinasi, Subordinasi timbul sebagai akibat pandangan gender terhadap kaum perempuan. Sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting muncul dari adanya anggapan bahwa perempuan itu emosional atau irasional sehingga perempuan tidak bisa. tampil memimpin merupakan bentuk dari Subordinasi yang dimaksud.

Proses subordinasi yang disebabkan karena gender terjadi dalam segala macam bentuk dan mekanisme yang berbeda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Dalam kehidupan di masyarakat, rumah tangga, dan ber-negara, banyak kebijakan yang dikeluarkan tanpa meng-anggap penting kaum perempuan. Misalnya, adanya peraturan yang dikeluarkan pemerintah yaitu jika suami akan pergi belajar (jauh dari keluarga) dapat mengambil ke-putusan sendiri sedangkan bagi istri harus dapat seizin suami. Dalam rumah tangga misalnya, dalam kondisi ke-uangan rumah tangga yang terbatas, masih sering ter-dengar adanya prioritas untuk bersekolah bagi laki-laki dibanding perempuan, karena ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, namun demikian pada

akhirnya nanti akan masuk ke dapur juga. Hal seperti ini sesungguhnya muncul dari kesadaran gender yang tidak adil.

f. Violence, Violence (kekerasan) merupakan assault (invasi) atau serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang yang dilakukan terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan sebagai akibat dari perbedaan gender. Bentuk dari kekerasan ini seperti pemerkosaan dan pemukulan hingga pada bentuk yang lebih halus lagi, seperti sexual harassment (pelecehan seksual) dan penciptaan ketergantungan. Violence terhadap perempuan banyak sekali terjadi karena stereotip gender. Pemerkosaan yang merupakan salah bentuk violence yang sering kali terjadi sebenarnya disebabkan bukan karena unsur kecantikan melainkan karena kekuasaan dan stereotip gender yang dilekatkan kepada kaum perempuan. Gender violence pada dasarnya disebabkan karena ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat.

Violence yang disebabkan oleh bias gender ini disebut gender-relate violence. Bentuk dan macam kejahatan yang masuk dalam kategori (Fakih, 1999;17).

g. Beban Ganda, Yuarsi dalam Abdullah (1997: 239) menyatakan bahwa tidak dapat dipungkiri lagi, dari tahun ke tahun makin banyak wanita yang berperan ganda. Sebagian wanita bekerja karena memang ekonomi rumah tangga menuntut agar mereka ikut berperan serta dalam mencukupi kebutuhan, sedangkan sebagian lain bekerja untuk kepentingan mereka sendiri, yaitu untuk kepuasan batin.

Pada dasarnya wanita yang memiliki peran ganda bukan hanya dalam rumah tangga dengan melayani suami, mengurus anak dan mengurus dapur tetapi sekarang sebagian wanita harus membantu suami dengan mencari nafkah sehingga wanita sekarang memiliki peran ganda .

Beban kerja, peran gender perempuan dalam anggapan masyarakat luas adalah mengelola rumah tangga sehingga banyak perempuan yang menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama dibanding kaum laki-laki. Kaum perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggungjawab kaum perempuan. Bahkan, bagi kalangan keluarga miskin, beban yang harus ditanggung oleh perempuan sangat berat apalagi jika si perempuan ini harus bekerja di luar sehingga harus memikul beban kerja yang ganda.

Bagi kelompok masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi yang cukup, beban kerja domestik sering kali dilimpahkan kepada pembantu rumah tangga (domestic workers). Dengan demikian sebenarnya kaum perempuan ini merupakan korban dari bias gender di masyarakat.

Beban kerja yang diakibatkan dari bias gender tersebut kerap kali diperkuat dan disebabkan oleh adanya keyakinan/pandangan di masyarakat bahwa pekerjaan yang di-anggap masyarakat sebagai jenis pekerjaan perempuan, seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, dan dikategorikan.

h. Teori Feminisme Liberal

Teori ini berasumsi bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara

Teori ini berasumsi bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara

Dokumen terkait