1.4 Manfaat Penelitian. .1 Manfaat Teoritis
1.4.2 Manfaat praktis
a) Bermanfaat bagi masyarakat dan akademisi dan lembaga Eksekutif, Presiden, dan Parlemen Nasional dan lembaga terkait.
b) Membantu lembaga kedaulatan negara untuk memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat luas, Pemerintah, Parlemen Nasional dan akademisi terkait ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penyataan negara dalam keadaan darurat.
1.5. Orisinalitas.
Berdasarkan upaya pengamatan kepustakaan maupun penelusuran melalui media internet ditemukan belum banyak penelitian untuk memperoleh gelar akademik yang telah dilakukan. terutama mengenai kewenangan Presiden dalam menyatakan negara dalam keadaan darurat. Maka dalam sub bab ini dikemukakan mengenai beberapa penelitian yang memiliki kaitan tidak langsung dengan topik – topik tersebut di bawah:
Penelitian Disertasi A. Hamid S Attamimi, judul penelitian disertasi “Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara”15 dari hasil penelitian disertasi ini diperoleh kesimpulan, bahwa berdasarkan UUD 1945 kekuasaan perundang-undangan terkonsentrasi pada kekuasaan Presiden. Pada dasarnya peraturan perundang-undangan di Indonesia dapat digolongkan ke dalam dua bagian; pertama pembentukannya yang dilakukan oleh Presiden dengan persetujuan DPR, yang berwujud dalam undang-undang, dan kedua yang berwujud peraturan pemerintah dan keputusan presiden.
Penelitian Disertasi Margarito Kamis, judul penelitian “Gagasan Negara Hukum yang Demokratis di Indonesia (Studi Sosio Legal Tentang Pembatasan Kekuasaan Presiden oleh MPR 1999-2002)”16 hasil penelitian disertasi ini diperoleh kesimpulan kedudukan Presiden RI dari Tahun 1945 samapi 1960 yakni Presiden sangat kuat. Bung Karno dan Soeharto dengan cara yang berbeda
15 Hamid S. attamimi, Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan
Pemerintahan Negara, Disertasi, UI,1990
16 Margarito Kamis, Gagasan Negara Hukum yang Demokratis di Indonesia. Studi Sosio
Soeharto berhasil menguasai MPR dan DPR. Sedemikian kuat kedudukannya mengakibatkan “rule of law” tergantikan menjadi “elitokrasi”.
Penelitian Disertasi A. Muin Fahmal, judul penelitian “Peran asas-asas umum pemerintahan yang layak dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih” dari hasil penelitian disertasi ini diperoleh kesimpulan bahwa pelaksanaan wewenang pejabat administrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan belum sepenuhnya mencerminkan asas-asas umum pemerintahan yang layak. Hal ini disebabkan karena belum adanya pemahaman yang mendalam tentang makna penggunaan asas-asas umum pemerintahan yang layak dimana seharusnya mengkaji terlebih dahulu pedoman dalam merumuskan kebijakan, disamping ketentuan undang-undang yang dituangkan dalam bentuk hukum tertulis.
Penelitian Disertasi Julista Mustamu dai Universitas Hasanudin, judul penelitian “Tanggung Jawab Hukum Pejabat Pemerintah Terhadap Penggunaan Kewenangan Diskresi” dari hasil penelitian disetasi ini diperoleh kesimpulan bahwa: Tanggung jawab hukum pejabat pemerintah terhadap penggunaan wewenang diskresi, tidak dapat dibebankan oleh pejabat atau pemangku jabatan pemerintahan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan, karena penggunaan diskresi dilakukan dalam rangka melaksanakan kewenangan jabatan. Sesuai esensi dari wewenang diskresi yaitu untuk mendinamisir proses penyelenggaraan pemerintahan. Sedangkan pejabat atau pemangku jabatan pemerintah dapat dibebani tanggung jawab pribadi dalam hal terjadi penyimpangan terhadap wewenang diskresi yang diberikan.
Tidak ada kepastian hukum tentang penerapan konsep penyalahgunaan diskresi yang melahirkan tanggung jawab pidana sehingga pejabat atau pemangku jabatan pemerintahan yang menggunakan diskresi dan menyimpang dari tujuan penggunaan wewenang diskresi selalu berakhir dengan proses pidana. Padahal suatu kebijakan yang lahir dari wewenang diskresi tidak dapat diminta pertanggungjawaban pidana.
Tidak ada sinkronisasi antara UU Peratun dan UUAP. Sehingga hakim PTUN belum dapat menerapkan substansi-substansi yang bersifat hukum materiil dalam pengujian unsur penyalahgunaan diskresi pada PTUN dengan alasan belum ada petunjuk teknis pelaksanaan dari UUAP sebagai hukum materiil dari sistem peradilan TUN. Hal ini mengakibatkan konsep Perluasan kompetensi PTUN hanya sekedar wacana.
Penelitian Disertasi Kamaruddin dari Universitas Hasanudin, Judul Penelitian “Struktur Wewenang Pemberhentian Presiden Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia” dari penelitian tersebut dapt diperoleh hasilnya sebagai berikut:
Kompetensi DPR,MK dan MPR dalam wewenang pemberhentian Presiden dalam analisis konsep Wewenang dinilai cacat kompetensi. oleh karena teridentifikasi terjadi penyimpangan fungsi otoritatif kelembagaan.
Relasi wewenang DPR. MK, dan MPR dalam analisis konsep Relasi Wewenang diidentifikasi tidak membentuk interrelasi fungsional karena relasi berlangsung antara lembaga dengan fungsi yang tidak sejenis.
Desain alternatif konsep Struktur Wewenang Sistemik merumuskan kepastian Hukum pemberhentian Presiden dengan melakukan pemisahan pada
alasan dan proses pemberhentian Presiden atas pelanggaran Tindak Pidana dan Pelanggaran Konstitusional.
Membandingkan dengan keenam penelitian disertasi di atas, maka orisinalitas judul penelitian ini terletak pada aspek filosofis Negara, dasar yuridis (Konstitusi negara), dan teoritik keilmuan hukum, serta pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini terutama berkaitan dengan “Kewewenangan Presiden Dalam Menyatakan Negara Dalam Keadaan Darurat ataupun Negara Dalam Keadaan Perang Menurut Konstitusi negara RDTL”. Lebih khusus pada sistem pemerintahan semi presidensil di negara RDTL. Sehingga menemukan batasan-batasan kewenangan antara Presiden dan Perdana Menteri menurut Konstitusi, yang kebenarannya sesuai dengan teori konstitusi dalam sistem pemerintahan semi presidensiil di Timor Leste. Kemudian hal ini menjadi ciri orisinalitas penelitian ini.
1.6. Metode Penelitian. 1.6.1. Jenis Penelitian.
Berkaitan dengan penelitian hukum ini, jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau bahan hukum sekunder.17yang dititikberatkan pada norma-norma hukum dengan menggunakan teori kebenaran dan pragmatis yang ada pada dasarnya sebagai konsensus sejawat keahlian18
17Soekanto, Soerjono dan Sri Mamuji, 2006, Penelitian Hukum Normatif Suatub Tinjauan
Singkat, Rajawali Pres, Jakarta, Hal.13-14
18Philipus M. Hadjon dan Titiek Sri Djamiati, 2005, Argumentasi Hukum, UGM Press, Surabaya, hal 9
Peneliti melakukan penelitian terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dalam rangka untuk memperoleh pemahaman yuridis atas permasalahan yang dikaji, karena dalam sudut pandang penulis ada ketidakjelasan norma dalam hierarki peraturan perundang-undang Timor-Leste.